dalam Pembelajaran Kimia
Beberapa strategi pembelajaran Kimia yang akan dijelaskan berikut ini adalah strategi pembelajaran yang telah dikembangkan dan diuji keefektifannya melalui hasil penelitian. Strategi pembelajaran tersebut terdiri atas strategi kolaboratif Pola Kelompok 2 siklus, Strategi Kolaboratif Pola Individual-kelompok 3 siklus, dan Strategi pembelajaran yang menerapkan Colaborative Problem Solving Berbasis Multiple Intelligences.
Perbedaan strategi kolaboratif pola individual 2 siklus dan 3 siklus terletak pada pola berulangnya kegiatan kolaborasi dari kegiatan kelompok ke kegiatan individu. Pola strategi kolaboratif 2 siklus polanya adalah kelompok (heterogen) 1-individual 1-kelompok (heterogen) 2-individual 2-kelompok (homogen) 3. Adapun pola strategi kolaboratif 3 siklus adalah individual 1-kelompok (homogen) 1-Individual 2-kelompok (homogen) 2-individual 3- kelompok (heterogen) 3-individual 4. Adapun pada strategi colaborative problem solving berbasis multiple intelligences, fokusnya diutamakan pada melatih skill pemecahan masalah siswa melalui kegiatan pembelajaran berbasis multiple intelligences.
1. Pembelajaran Kimia menerapkan strategi kolaboratif berbasis Pola Individual-Kelompok 2 siklus.
Pada contoh ini materi yang diajarkan adalah tentang asam dan basa dengan waktu pelaksanaan 2x45 menit.
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
122
a. Pendahuluan (10 menit)
Pada pembelajaran ini, strategi kolaboratif sudah dimulai sejak membuka pelajaran. Guru membuka pelajaran dengan apersepsi dan motivasi menarik yang dikemas dalam strategi kolaboratif untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal dan linguistik. Aktivitas yang digunakan adalah game tebak kata.
Tabel 5.2 Aktivitas Guru
b. Kegiatan Inti (75 menit)
Kegiatan inti dilakukan secara bervariasi. Kegiatan per tama bi sa me nggu nakan lagu y ang be r tu j uan mengembangkan kecerdasan musikal, interpersonal, dan linguistik. Adapun kegiatan kedua dapat berisi permainan te b ak k onse p y a ng b e r tu j u an me n ge mb angk an kecerdasan kinestetik, interpersonal, dan linguistik.
Pola kolaboratif yang digunakan adalah kelompok (praktikum)-individu-kelompok
heterogen-individu-123
BELAJAR CERDAS KIMIA
kelompok homogen. Kegiatan kelompok yang pertama adalah kegiatan penemuan konsep yang dilakukan dengan strategi penemuan menggunakan kegiatan praktikum.
Kegiatan kelompok yang kedua adalah menyelesaikan tugas dan permasalahan yang diberikan guru dalam kelompok heterogen. Adapun kegiatan kelompok yang ke ti ga ada lah me mb antu ke s u li t an s i swa dal am menyelesaikan permasalahan individual yang diberikan guru dalam sebuah kelompok heterogen.
Tabel 5.3 Aktivitas Guru
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
124
c. Penutup (5 menit)
Pada kegiatan penutup, siswa dengan bimbingan guru bersama-sama menyimpulkan konsep-konsep penting yang dipelajari dalam pembelajaran untuk menguatkan kemampuan inferensi yang merupakan bagian dari kecerdasan logika matematika.
125
BELAJAR CERDAS KIMIA
Tabel 5.4 Aktivitas Guru
Listyarini & Winarti, 2017
2. Pembelajaran Kimia menerapkan Strategi Kolaboratif Pola Individual-Kelompok 4 siklus
Pada contoh ini materi yang diajarkan adalah tentang K e lar u tan dan Hasi l K ali K e laru tan dengan waktu pelaksanaan 2x45 menit.
a. Pendahuluan
Pembelajaran dibuka dengan menggunakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan meningkatkan kecerdasan logika matematika. Cara paling menarik bagi siswa adalah dengan menggunakan teka-teki, seperti disajikan pada tabel berikut.
Tabel 5.5 Aktivitas Guru
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
126
b. Kegiatan Inti (70 menit)
Kegiatan inti dilakukan dalam pola: individual 1-kelompok kolabor atif 1-I ndiv idual 2-kelompok kolaborati f 2-individual 3- kelompok kolaboratif 3-individual 4. Aktivitas mempelajari LKPD pada awalnya dilakukan siswa secara individual (Langkah Individual 1), kemudian siswa membentuk kelompok kolaboratif yang anggotanya terdiri atas siswa yang memiliki kecerdasan homogen (langkah kelompok kolaboratif 1). Dalam kelompok kolaboratif 1 ini siswa mendiskusikan penyelesaian masalah yang terdapat di LKPD. Selanjutnya kegiatan menyelesaikan LKPD dilakukan siswa kembali secara individual berdasarkan hasil diskusi kelompok (Langkah individual 2).
Langkah berikutnya siswa kemudian kembali kepada kelompoknya dan mempresentasikan hasil pekerjaannya masing-masing dalam kelompok tersebut (Langkah kelompok kolaboratif 2). Selanjutnya, siswa diberikan soal latihan yang harus dikerjakan secara individual (Langkah individual 3). Untuk membantu menyelesaikan tugas tersebut, siswa kemudian membentuk kelompok yang baru, yaitu kelompok heterogen yang terdiri atas siswa dengan kecerdasan dominan berbeda (kelompok kolaboratif 3).Terakhir, siswa kembali bekerja secara individual untuk menyelesaikan tugasnya berdasarkan masu kan te man-te man dari ke lompok he ter oge n (Langkah individual 4).
Semua kegiatan tersebut direncanakan dengan baik dan dilakukan dengan tujuan meningkatkan jenis kecerdasan tertentu seperti intrapersonal dan logika matematika pada tahap individual 1, kecerdasan interpersonal pada tahap kelompok 1, kecerdasan intrapersonal pada tahap indi-vidual 2, dan seterusnya sesuai jenis aktivitas yang dilakukan siswa.
127
BELAJAR CERDAS KIMIA
c. Penutup (5 menit)
Tahap penutup berlangsung seperti biasa. Siswa diminta menyimpulkan kemudian diberikan tugas membaca materi pelajaran di rumah. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan logika matematika dan linguistik.
Hal yang istimewa pada tahap ini adalah karena memang di-setting untuk kecerdasan logika matematika dan linguistik, guru membimbing siswa menyimpulkan pelajaran dengan dipandu pertanyaan-pertanyaan: apa yang telah kita pelajari; konsep-konsep penting apa yang anda pelajari; permasalahan apa yang bisa anda identifikasi dari pelajaran tadi; apa penyebabnya, atau bagaimana cara mengatasinya.
Tabel 5.6 Aktivitas Guru
Pertiwi & Winarti, 2017
3. Pembelajaran Kimia menerapkan Colaborative Problem Solving berbasis Multiple Intelligences
Pada contoh ini materi yang diajarkan adalah tentang Larutan Pe nyangga dengan waktu pe laksanaan 3x 45 meni t.
Karakteristik pembelajaran ini adalah strategi kolaborasinya dilakukan dalam setting pemecahan masalah.
a. Pendahuluan
Pada pembelajaran ini, apersepsi dilakukan dengan tujuan utama meningkatkan kecerdasan intrapersonal. Kegiatan yang dipilih adalah refleksi diri, yaitu melakukan permainan “siapa saya” dengan cara meminta siswa
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
128
menceritakan siapa dirinya yang dianalogikan dengan alat-alat laboratorium. Siswa yang lain diminta menebak nama alat laboratorium tersebut, yang dianalogikan bisa sifat-sifat maupun penampilan fisik.
Misalnya:
“Saya tidak mudah percaya dalam menerima informasi sebelum saya buktikan dulu kebenarannya. Tugas saya adalah memfilter informasi sehingga hanya informasi yang benar saja yang mempu melewati saya, informasi yang tidak benar akan tertinggal jadi residu. Siapakah saya?”
Siswa lain akan menjawab:
“Kertas saring”.
Tabel 5.7 Aktivitas Guru
b. Kegiatan Inti
Pada ke gi atan i nti, aktiv itas u tama siswa adalah memecahkan masalah yang berhubungan dengan materi pelajaran. Ini bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan secara berkelompok, bergantung pada materi pelajarannya. Misalnya kegiatan praktikum jika materi pelajaran memang memerlukan eksperimen (kinestetik, logika matematika) atau kegiatan lain seperti telaah sumber belajar dari internet (linguistik), wawancara dengan narasumber (linguistik, interpersonal), atau penelitian ke lingkungan sekitar (naturalis) dan lain-lain.
Aktivitas ini dilakukan secara berkelompok dalam kelompok homogen, yaitu kelompok yang terdiri atas siswa dengan jenis kecerdasan dominan yang sama.
129
BELAJAR CERDAS KIMIA
Selanjutnya, siswa belajar secara individu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru.
Berikutnya siswa berkelompok dalam kelompok heterogen, yaitu kelompok yang terdiri atas siswa dengan kecerdasan dominan berbeda. Tujuan kelompok heterogen ini adalah untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam penyelesaian tugas individu. Dinamika kegiatan kelompok homogen-individu-kelompok heterogen ini adalah aktivitas kolabratif yang diterapkan dalam pembelajaran.
Tabel 5.8 Aktivitas Guru/Siswa
Hijriyanti & Winarti, 2017
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
130
c. Kegiatan Akhir
Tabel 5.9 Aktivitas Guru/Siswa
Kegiatan menutup pelajaran dilakukan seperti biasa, siswa menyimpulkan materi pelajaran dengan bimbingan guru.
Selanjutnya, guru memberikan tugas membaca materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya dan terakhir salam penutup.
Dalam strategi pembelajaran ketiga ini, problem harus direncanakan dengan seksama oleh pengajar. Lebih disukai jika problem yang dipecahkan bukan problem rutin seperti yang terdapat di LKPD, melainkan problem aktual yang berhubungan dengan materi pelajaran dan sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui strategi ini diharapkan siswa dapat mengembangkan kecerdasan dominannya. Kecerdasan dominan tersebut akan mereka gunakan untuk memecahkan permasalahan yang diberikan. Hal ini selaras dengan teori Gardner bahwa cara seseorang dalam memecahkan masalah akan sangat tergantung pada jenis kecerdasan dominan yang dimilikinya.
131
BELAJAR CERDAS KIMIA
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
132
Aktivitas kognitif adalah aktivitas-aktivitas mental tingkat tinggi seperti pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan cara berpikir yang melibatkan pengolahan informasi.
Dampak instruksional adalah hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan para pelajar pada tujuan yang diharapkan.
Dampak pengiring adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses belajar mengajar, sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para pelajar tanpa arahan langsung dari guru.
Inteligensi adalah kemampuan memecahkan masalah secara rasional dan mampu beradaptasi melalui pengalaman hidup sehari-hari.
Kecerdasan majemuk adalah delapan jenis kecerdasan yang dimiliki manusia yaitu kecerdasan linguistik, logika matematika, visual-spasial, kinestetik, musical, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan berpikir dalam bentuk kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks.
Kecerdasan logika matematika adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, kemampuan mencerna pola-pola logis atau numeris, kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang serta menyelesaikan operasi-operasi matematis.
Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan membayangkan dan mengimajinasi sesuatu.
Kecerdasan kinestetik kemampuan menggunakan kecekatan tubuh untuk mengatasi masalah, menghasilkan produk, menggerakkan objek dan keterampilan fisik yang halus.
Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk mengekspresikan diri lewat lagu, serta mengerti dan memahami musik.
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain secara efektif
Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan menganalisa diri sendiri, menggunakan perasaannya untuk membuat perencanaan dan tujuan.
133
BELAJAR CERDAS KIMIA
Kecerdasan naturalis adalah kecerdasan yang berkaitan dengan kepekaan dalam mengapresiasi alam dan lingkungan sekitar Neuro p siko l o gi ad al ah bi dang psi kolo gi kli n i s d an eksperimental yang berupaya mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi otak dengan proses dan perilaku psikologis.
Pem b el aj aran ko l ab o ratif ad alah pe m be la j ar a n y a ng menempatkan individu siswa sebagai unit utama pembelajaran dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam bekerja sama dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan bersama.
Pembelajaran kooperatif adalah strategi pengajaran yang berfokus pada kesatuan dalam kelompok dan dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa.
Penilain authentic adalah pengukuran yang didasarkan pada perkembangan dan pencapaian pembelajaran melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai siswa.
Prinsip reaksi adalah pola kegiatan yang menggambarkan respons guru yang wajar terhadap siswa, baik secara individu dan kelompok, maupun secara keseluruhan
Sintaks model adalah fase (tahap kegiatan) dalam suatu pembelajaran yang mengindikasikan dengan jelas aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa.
Sistem sosial adalah kondisi/situasi/aturan yang berlaku dalam suatu model pembelajaran atau pola hubungan/komunikasi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.
Sistem pendukung dari model pembelajaran adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh siswa untuk dapat menggali informasi yang sesuai guna mencapai tujuan pembelajaran.
Zone of proximal development adalah celah antara actual development dan potential development yaitu kemampuan seseorang yang berada di antara mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain dan mampu melakukan sesuatu dengan arahan atau kerja sama dengan orang lain atau teman sebaya.
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
134
135
BELAJAR CERDAS KIMIA
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
136
Armstrong, T. 2004. Multiple Intelligences in the classroom 2nd Edition. Dialihbahasakan oleh Yudhi Murtanto. Virginia:
Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD).
Barkley, E.E., Cross, K.P & Major, C.H. 2012. Collaborative Le ar ning Technique s: Teknik-teknik Pe mbelaj ar an Kolaboratif. Penerjemah: Narulita Yusron. Bandung:
Penerbit Nusa Media.
Bowles, T. 2008. “Self-rated Estimates of Multiple Intelligences Based on Approaches to Learning”. Australian Journal of Educational & Developmental Psychology. Vol 8. pp. 15–26.
Campbell, L., and Campbell, B. 1992. Teaching and Learning Through Multiple Intelligences. Seattle, WA: New Horizons for Learning.
Campbell, L., and Campbell, B. 1999. Multiple Intelligences and Student Achievement Success Stories from Six Schools.
ASCD, USA.
Carin, A.A. 1993. Teaching Science Through Discovery. New York: Macmillan Publishing Company.
Caulfield, J., Kidd, S., and Kocher, T. 2000. “Brain-based Instruction in Action”. Educational Leadership, Vol 58 No. 33. pp. 62–65.
Connel, J.D. 2009. “The Global Aspects of Brain-Based Learning”.
Educational Horizons. Fall 2009. pp. 28–39.
Echols, J.M., dan Shadily, H. 1989. An Indonesian-English Dictionary 3rd Ed. New York: Cornell University Press.
Gagne, R. M. 1977. The Conditions of Learning Third Edition.
New York: Holt Saunders International Editions.
Gardner, H. 1983. Frames of mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
Gardner, H. 1993. Multiple Intelligences. New York: Basic Books Hons of Learning Harper Collins Publ. Inc.
Giles, E. Pitre, S., and Womack, S. 2008. Multiple Intelligences in the Classroom. Department of Educational Psychology and Instructional Technology, University of Georgia. http:/
137
BELAJAR CERDAS KIMIA
/projects.coe.uga.edu/epltt/index.php ?title=Multiple_
Intelligences_ and_Learning_Styles. Diakses pada 23 November 2010.
Ginnis, P. 2007. Teacher’s Toolkit raise Classroom Achievement with Strategies for Every Learner. Dialihbahasakan oleh Wasi Dewanto. Jakarta: Indeks.
Griggs, L., Barney, S., Brown-Sederberg, J., Collins, E., Keith, S., and Iannacci, L. 2009. “Varying Pedagogy to Address Student Multiple Intelligences”. Human Architecture, Vol. 7 No. 1. pp. 55–60.
Jacobsen, D. A. Eggen, P. & Kauchak, D. 2009. Metode-metode Pengajaran. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Hanafin, J. 2014. “Multiple Intelligences Theory, Action Research, and Teacher Professional Development: The Irish MI Project”. Australian Journal of Teacher Education. Vol 39 No. 4. pp. 126–142.
Hijriyanti, M. & Winarti, A. 2017. “Keefektifan Model Pembelajaran Collaborative Problem Solving (Cops) Terintegrasi Kecerdasan Majemuk untuk Mengembangkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Kecerdasan Majemuk Siswa Kelas XI IPA Pada Materi Larutan Penyangga SMA Negeri 1 Banjarmasin”. Skripsi tidak dipblikasikan.
Universitas Lambung Mangkurat.
Hergenhahn, B. R. and Olson, M.H. 2009. Theories of Learning (Teori Belajar). Dialihbahasakan oleh Tri Wibowo. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Jensen, E. 2007. Brain Based Learning The New Science of Teaching & Training. California: A Sage Publication Company.
Joyce, B. and Weill, M. 2004. Models of Teaching. Boston:
Pearson Education.
__________. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Depdiknas. Diakses di http://bahasa.kemdiknas.go.id/
kbbi/ index.php.
Krathwohl, D. R. 2002. “A Revision of Bloom’s Taxonomy:
An Overview”. Theory into Practice. Vol 41 No. 4, Autumn.
College of Education, The Ohio State University.
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
138
Lickona, T. 1992. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bhantam Books.
Linn, R, L. and Gronlund, N. E. 2009. Measurement and Assessment in Teaching. Ohio: Prentice Hall.
Listyarini, dan Winarti, A. 2017. “Implementasi Strategi Pembelajaran Kolaboratif Terintegrasi Multiple Intelligence dan Hubungannya terhadap Perkembangan Kecerdasan Interpersonal Serta Pemahaman Konsep Pada Materi Hidrolisis Garam Siswa Kelas Xi IPA SMA Negeri 11 Banjarmasin”. Skripsi tidak dipblikasikan. Universitas Lambung Mangkurat.
Machali, I. 2014. “Dimensi Kecerdasan Majemuk dalam Kurikulum 2013”. Insania. Vol. 19, No. 1, Januari–Juni 2014.
McClellan, J. A. & Conti, G. J. 2008. “Identifying the Multiple Intelligences of Your Students”. Journal of Adult Education. v37, n1, p 13–31
Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk. Membangun Bangsa. Jakarta: BPMIGAS.
Megawangi, R. 2009. Pendidikan Karakter. Edisi Ke-3. Jakarta (ID): Gapprint.
Motley, L. P. 2006. The Intelligence Theories of Charles Spearman and Howard Gardner. http://www.associatedcontent.
co m/ ar ti c le /2 44 96/ th e _ i nt e l li ge n ce _t h e or i e s _o f _ charles.html.
Murphy, M. and Donovan. 1988. The Physical and Phsycological Effect of Meditation. San Rafael, CA: Isalen Institute.
Pertiwi, H., & Winarti, A. 2017. “Implementasi Strategi Pembelajar an Kolaboratif Te ri nte grasi K ece rdasan Majemuk dan Hubungannya dengan Kecerdasan Logika Mate mati ka dan Pe mah aman Konsep pada Mater i Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan”. Skripsi tidak dipublikasikan. Universitas Lambung Mangkurat.
Poerwanti, E. 2011. Klusterisasi Nilai-nilai Moral Pancasila sebagai Landasan Pengembangan Karakter. Diges Pendidik Universiti Sains Malaysia & UPI Bandung jilid 11, Bil 1/2011.
139
BELAJAR CERDAS KIMIA
Pociask, A. and Settles, J. S. 2007. “Increasing Student Achievement Through Brain Based Studies”, Master Thesis in Teaching and Leadership saint Xavier University Chicago, Illinois.
Rakhmat, J. 2010. Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak.
Bandung: Mizan Media Utama.
Santrock. 2004. Educational Psychologi 2nd Edition. Dallas: Mc Graw Hill Co.
Sato. M. 2013. Mereformasi Sekolah; Konsep dan Praktik Komunitas Belajar. Dialihbahasakan oleh Fatmawati Djapri. Tokyo: International Development Center of Japan.
Setiawati, R. 2008. Peranan Orang Tua dalam Mengembangkan Multiple Intelligences Anak. Skripsi online Universitas Guna Dharma, Jakarta.Solso, R.L. Maclin, O.H and Maclin, M.K. 2008. Cognitive Psychology. Boston:
Pearson Education.
Slavin, R. E. 2006. Educational Psycology: Theory and Practice.
Boston: Allyn and Bacon Pearson Education.
Solso, R.L. Maclin, O.H and Maclin, M.K. 2008. Cognitive Psychology. Boston: Pearson Education.
Sousa, D. A. 1998. “The Ramification of Brain Research”. The School Administrator, Vol 44. pp. 22–25.
Sparks, W. 2007. Theories of Human Intelligence. http://
www.associatedcontent.com/article/390189/theories_of_
human_intelligence_pg4.html?cat=5. Diakses pada 10 Maret 2011.
Standford, P. 2003. “Multiple Intelligence for Every Classroom”.
Intervention in School and Clinic. Vol 39 No. 2. pp. 80-85.
__________. 2011. Stanford Binet Intelligence Test. http://
www. ki ds-i q-te sts. com/stanford-binet-i ntelli ge nce-scale.htm.
Vygotsky. L. 1978. Mind in Society. Cambridge: Harvard University Press.
Wadsworth, B. J. 2003. Piaget’s Theory of Cognitive and Affective Development: Foundations of Constructivism, 5th ed. Upper Saddle River, NJ: Allyn & Bacon.
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
140
Willis, J. 2010. Research Based Strategies to Ignite Student L e ar n ing. D ialih bah as akan o le h A kmal Hadr i an.
Yogyakarta: Mitra Media
__________ 2011. Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS).
h t t p : / / w i l d e r d o m . c o m / p e r s o n a l i t y / i n t e l l i g e n c e WAISWISC.html
Winarti, A. dan Kamalia, N. 2012. “Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Bermuatan Multiple Intelligences pada Mater i Hidrolisis Gar am dalam Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal dan Hasil Belajar Siswa”. Laporan Penelitian Tidak Dipublikasikan, Banjarmasin: Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat.
Winarti, A., Yuanita, L., Nur, M. 2015. “Pengembangan Model Pembelajar an “CERDAS” Ber basi s Teor i Mu lti ple Inteligences pada Pembelajaran IPA”. Jurnal Kependidikan, Vol 45 No. 1, Mei 2015.
Zei dle r, D. L. 2003. The Role of Mor al Re asoning of Socioscientific Issues and Discourse in Science Education.
Doordrecht Netherlands: Kluwer Academic Publishers.
Zins, J. E. et al. 2004. Building Academic Success on Social and Emotional Learning: What does research say?. New York: Teachers College Press.
141
BELAJAR CERDAS KIMIA
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
142
Dr. Atiek Winarti, M.Pd., M.Sc. adalah dosen pada Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Lambung Mangkurat.
Penulis meraih gelar Sarjana Pendidikan Kimia dari Universitas Lambung Mangkurat pada 1992; Pada 1999 berhasil meraih gelar Magister Pendidikan (M.Pd) dari Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang; Pada 2008 melalui beasiswa StuNed melanjutkan pendidikan S2 kembali di University of Groningen, Groningen Belanda pada jurusan Educational Effectiveness and Instructional Design, dan berhasil meraih gelar Master of Science (M.Sc) pada 2009. Sejak 2010 Penulis menempuh Pendidikan S3 pada Program Studi Pendidikan Sains Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa) lulus pada 2015.
Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP ULM tahun 2020–
2023 sekaligus pengurus DPW Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Wilayah Kalsel tahun 2020–2024, dan Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) Wilayah Kalselteng tahun 2020–2024 ini telah menerbitkan menulis sejumlah artikel yang sebagian besar berhubungan dengan Multiple Intelligences dan telah Ia presentasikan dalam berbagai Seminar nasional dan internasional baik di dalam maupun di luar negeri. Artikel-artikel tersebut juga telah dipublikasikan pada sejumlah jurnal nasional dan internasional di antaranya Jurnal Kependidikan (LPPM UNY), Jurnal Quantum, International Journal of Learning and Advanced Education (IJOLAE), Journal of Technology and Science Education (JOTSE), European Journal of Educational Research (EuJER) dan International Journal of Psychosocial Rehabilitation.
Adapun buku-buku karya Penulis meliputi (1) Inovasi Pembelajaran Kimia berbasis Ethnosains (buku ajar tahun 2018), (2) Strategi Belajar Mengajar (buku ajar tahun 2017), dan (3) Tajuk Bunga (Kumpulan Puisi tahun 2006).
143
BELAJAR CERDAS KIMIA
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES
144
Moh. Yamin merupakan dosen tetap di FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin. Penulis menuntaskan program strata 1 dan program pascasarjana di Universitas Islam Malang (Unisma).
Di tengah kesibukannya, Editor telah su kse s me ner jemahkan buku “Tumbal Modernitas (The Consequences of Modernity)”
karya Anthony Giddens diterbitkan IRCISoD Yogyakarta pada 2001 dan “Sosiologi Agama (Sociology of Religion)” karya Max Weber diterbitkan IRCISoD pada 2002.
Beliau juga telah menulis buku “Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara”
(Ar-Ruzz Media Yogyakarta, 2009) dan “Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan” (Divapress Yogyakarta, 2009). Beliau juga merupakan kontributor buku “Nahdlatul Ulama: Dinamika Ideologi dan Politik Kebangsaan” (Penerbit Buku Kompas, 2010).
Sepanjang 2015–2021 Beliau menulis buku “Teori dan Metode Pembelajaran: Konsepsi, Strategi, dan Praktik Belajar yang Membangun Karakter” (Madani Malang, 2015); “Pendidikan Antikorupsi” (PT Remaja Rosdakarya Bandung, 2016);
kontributor buku “Aku, Buku, dan Peradaban” (CV Istana Agency Yogyakarta, 2018); dan menjadi editor buku “Strategi Penanganan Konflik Perebutan Tanah: Gerakan Membangun Tanah Berdaulat di Kalimantan Selatan (Inteligensia Media, 2016); “Menggali Kearifan Lokal Banua untuk Bangsa: Strategi Penguatan Ketahanan Budaya Lokal Pembentuk Muatan Karakter (Inteligensia Media, 2017); “Pendidikan Berkearifan Lokal: Teori dan Praktik Pendidikan Berkarakter” (Inteligensia Me di a, 2019); “Pendi di kan Pe mbelaj ar an Matematika:
Pengelolaan Penilaian yang Holistik” (Inteligensia Media, 2020);
dan menulis buku “Strategi Membangun Literasi Sekolah:
Penguatan Budaya Ilmiah Berbasis Lingkungan yang Mengasuh”
(Madani Media, 2021).
145
BELAJAR CERDAS KIMIA
Yamin juga tercatat sebagai penyunting pelaksana Jurnal Vidya Karya FKIP ULM; tim Pusat Pengelolaan Jurnal dan Penerbitan (PPJP) ULM, Lambung Mangkurat University (LMU) Press; Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) Wilayah Kalimantan; dan editor bahasa pada Journal of Wetlands Enviromental Management.
BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES