• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Pengertian Kias

Dalam dokumen Penemuan Hukum oleh Hakim Melalui Kias (Halaman 111-116)

BAB III KIAS DALAM HUKUM ISLAM

1. Beberapa Pengertian Kias

Kias mempunyai beberapa makna. Secara umum keseluruhan makna tersebut dapat dikembalikan kepada makna dasarnya yaitu mengukur. Sebuah ungkapan Arabﺎﻤﺣر ﺲﻗ berarti mengukur tombak atau lembing. Kias mempunyai dua akar kata yaitu س ي ق dan سو ق yang memiliki arti yang sama. Timbangan kias adalah ﺎﺳ ﺎﯿﻗ ﺲﯿﻘﯾ س ﺎﻗ . Ungkapan Arab qistu al-syai’a bighairih berarti saya mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain yang serupa.1Kesamaan jumlah dan kwalitas adalah dua hal yang mendasari pengukuran.

Kata kias digunakan oleh orang Arab untuk mengukur kedalaman luka di kepala. Sebuah ungkapan Arab ﺔﺠﺴﻟا ﺐﯿﺒﻄﻟا سﺎﻗ yang berarti dokter mengukur luka di kepala atauﺔﺣاﺮﺠﻟا سﺎﻗ yang berarti mengukur kedalaman luka.2

Sedangkan ungkapanﺎﺴﯿﻗ ﺎﻄﺨﺗ ﺔﯾرﺎﺠﻟا dapat berarti gadis itu melangkah dengan teratur.3

Ketika berjalan ia melangkah dengan langkah-langkah yang terukur dan seimbang. Langkah-langkahnya nyaris sama. Dari sini diturunkan makna menyamakan sesuatu.

Kias, yang menggambarkan pengertian ukuran dan persamaan, dalam arti kiasan dapat berarti ketetapan atau cara yang telah ditentukan. Dari sini diturunkan makna lain dari Kias yaitu menentukan (taqdir). Misalnya seseorang mengatakan, سﺎﯿﻘﻟا ﻰﻠﻋاﺰھ, yang berarti menurut ketetapan yang telah ditentukan. Demikian juga ungkapan اﺰﻛ سﺎﯿﻘﻟا ﻰﻠﻋ yang berarti menurut cara begini.4

Istilah

1

Al-Jauhari, al-S}ihah, Kairo: (Da>r al-Kutub al-‘Arabi, 1977), h. 200.

2Jamaluddin Muhamad ibn Mukarram ibn Manzur, Lisa>n al-‘Arab, Juz I (Beirut: Da>r al-Fikr), h. 81.

3Jamaluddin Muhamad ibn Mukarram ibn Manzur, Lisa>n al- ‘Arab, Juz III, h.59, Juz IV, h.26.

4Ahmad Hasan, The Early Development of Islamic Jurisprudence (Islamabad: Islamic Research Institute, 1970), h. 140-141.

ini sering dipergunakan oleh para ahli hukum awal dalam pengertian “prinsip umum” atau hukum yang telah ditentukan, seperti banyak ditemukan dalam literatur hukum.

Berbagai makna kias dapat diringkas menjadi pengukuran, perbandingan, kesamaan, hukum yang telah ditentukan, menetapkan dan prinsip umum. Dalam pemakaiannya secara teknis makna ini hanya dipakai dalam pengertian membandingkan antara dua kasus yang sama dan menyelesaikan kasus baru berdasarkan ketetapan hukum yang telah diterapkan sebelumnya.

Berdasarkan analisa kebahasaan ini, al-Amidi menyimpulkan bahwa kias mensyaratkan dua hal yang masing-masing dihubungkan satu dengan yang lainnya oleh kesamaan yang menjadi titik temu hubungan tersebut5Jika dikatakan bahwa si A dibandingkan dengan si B, ini dapat berarti A sebanding dengan B karena keduanya mempunyai kesamaan tertentu.

Makna literal kias ini berpengaruh pada makna teknisnya. Dalam bidang fiqh misalnya, para ahli fiqh berpendapat bahwa kata kias mengandung tiga makna. Pertama, mengukur atau mengevaluasi, yakni memastikan tingkat atau ukuran sesuatu dengan cara membandingkan dengan objek lainnya yang pas dan setara dan diketahui ukurannya. Seperti mengukur kain dengan meteran. Ini merupakan pengukuran nilai sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kedua, Kiasberarti kesamaan. Seperti contoh di atas.

Ketiga, kias dapat berarti gabungan dari kedua makna di atas, yaitu makna evaluasi dan kesamaan. Makna ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membuktikan kesamaan dua hal, dan terbukti keduanya sama. Dengan demikian, pengukuran dan evaluasi mengandaikan adanya kesamaan dalam pengertian kias secara literal. Karena itu al-Bazdawi dan al-Nasafi tidak menambahkan apapun kepada makna literal kias. Keduanya berpendapat bahwa kias menurut makna

5Saifuddin al-Amidi>, Al-Ihka>m fî Us}ul al-Ahka>m (Beirut: Da>r al-Fikr, 2003), h. 125.

asalnya berarti menentukan atau memastikan kualitas atau nilai sesuatu, atau menjadikan ukuran dua hal yang sama dalam kwantitasnya, baik keduanya terkait berdasarkan persepsi indra maupun berdasarkan persepsi akal.6Pandangan yang sama tentang makna kias ini dikemukakan pula oleh para ahli nahw.7 Namun kata-kata kias tidak pernah dipakai dalam al-Qur’ân. Tetapi kata-kata yang memiliki gagasan atau makna yang sama dengan kias dapat ditemukan didalamnya, contohnya seperti kata i’tibar dan nazhar.8

Kata kias juga tidak muncul dalam literatur hadits. Akan tetapi terdapat ungkapan Nabi yang memiliki gagasan yang kurang lebih setara dengan makna kias dalam bahasa Arab. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi apakah ia boleh menunaikan ibadah haji atas nama orang tuanya yang telah meninggal. Nabi memberikan jawaban dengan membandingkan pada kebolehan membayarkan hutang atas nama orang tua. Jawaban tersebut memperlihatkan penggunaan makna kias dalam penalaran yang bersifat alamiah meskipun tidak terdapat materi kata kias dalam hadits.9

Pengertian kias secara terminologi terdapat beberapa definisi yang dikemukakan para pakar ushul fikih, sekalipun redaksinya berbeda, tetapi mengandung pengertian yang sama. Di antaranya dikemukakan Shadr asy-Syari'ah (w. 747 H/1346 M, tokoh ushul fikih Hanafi). Yakni memberlakukan hukum asal kepada hukum furu’ disebabkan kesatuan ‘illah yang tidak dapat dicapai melalui hanya dengan pendekatan bahasa.10Maksudnya, 'illah yang ada pada satu nas sama dengan 'illah yang ada pada kasus yang sedang dihadapi

6Kamal ibn Humam, Al-Tahrir (Kairo: Da>r al Kutub, 1951), h. 263-264

7Mahmud Ahmad Nahlah, Us}ul al-Nahw al-‘Arabi (Iskandariyah: Da>r Ma’rifah

al-Jami’iyyah, 2002), h. 99

8 Abdul Hamid, “Kias Usuli dan Kias Nahwi dalam Persfektif Historis dan Epistemologis”, “Tesis”, UIN Syarif Hidayatullah, 2009, h. 49.

9 Abdul Hamid, “Kias Usuli dan Kias Nahwi dalam Persfektif Historis dan Epistemologis”, h. 49.

10Ubaidillah ibnu Mas’ud al Bukha>ry Sadr Asy Syari’ah, Tanqih al Us}ul, jilid II

seorang pakar, dan karena kesatuan 'illah ini, maka hukum dari kasus yang sedang dihadapi disamakan dengan hukum yang ditentukan oleh nas tersebut.

Imam Syafi’i mendefinisikan kias sebagai upaya pencarian (ketetapan hukum) dengan berdasarkan dalil-dalil terhadap sesuatu yang pernah diinformasikan dalam al-Qur’an dan hadist. 11

Mayoritas ulama Syafi'iyyah mendefinisikan kias dengan : Membawa (hukum) yang (belum) diketahui kepada (hukum) yang diketahui dalam rangka menetapkan hukum bagi keduanya, atau meniadakan hukum bagi keduanya, disebabkan sesuatu yang menyatukan keduanya, baik hukum maupun sifat.12

Saifuddin al-Amidi mendefinisikan kias yakni

ﻄﺒﻨﺘﺴﻤﻟا ﺔﻠﻌﻟا ﻲﻓ ﻞﺻﻻا و ع ﺮﻔﻟا ﻦﯿﺑ ءاﻮﺘﺳءﻻا ﻦﻋ ةر ﺎﺒﻋ

ﻞﺻ ﻻا ﻢﻜﺣ ﻦﻣ

13

mempersamakan ‘illah yang ada pada furu’dengan ‘illah yang ada pada ashal yang diistinbatkan dari hukum ashal.

Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan kias yakni

ﻛاﺮﺘﺷءﻻ ﻢﻜﺣ ﻲﻠﻋ صﻮﺼﻨﻣﺮﻣءﺎﺑ ﻲﻋ ﺮﺸﻟا ﻢﻜﺣ ﻲﻠﻋ صﻮﺼﻨﻣ ﺮﯿﻏ ﺮﻣا ق ﺎﺤﻟا

ﻲﻓ ﺎﻤ

ﻢﻜﺤﻟا ﺔﻠﻋ

14

menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nas dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nas, disebabkan kesatuan ‘illah hukum antara keduanya.

Dalam peristilahan ulama Ushul Fiqh, kias diartikan mencari persamaan diantara dua peristiwa dengan mengunakan cara deduksi ( analogical deduction ), yaitu menciptakan/menarik suatu garis hukum baru dari garis hukum yang lama, dengan maksud memakai garis hukum baru itu pada suatu keadaan, karena garis

11Ahmad Nahrawi Abdussalam Al Indunisi, Ensiklopedi Imam Syafi;i (Jakarta Selatan: PT Mizan Publika, 2008), h.342.

12Abu Hamid Al-Ghazali, al-Mustasfa fi ‘Ilm Us}ul, Jilid II (Beirut: Da>r Kutb

al-‘Ilmiyah, 1983), h. 54

13

Saifuddin al-Amidi>, Al-Ihka>m fî Us}ul al-Ahka>m, Jil.III, h. 170

hukum baru itu ada persamaan ‘illat-nya dengan garis hukum yang lama.15 Atau dengan pengertian lain, kiasadalah hasil pemikiran secara “analogi deduktif”.

Sekalipun terdapat perbedaan redaksi dalam beberapa definisi yang dikemukakan para pakar ushul fikih klasik dan kontemporer di atas tentang kias, tetapi mereka sepakat menyatakan bahwa proses penetapan hukum melalui metode kias bukanlah menetapkan hukum dari awal (itsbat al-hukm

waInsya’uhu), melainkan hanya menyingkapkan dan menjelaskan hukum (al-kasyf wa al-izhhar li al-hukm ) yang ada pada suatu kasus yang belum jelas hukumnya.16

Dalam hal di atas kita melakukan kias, yaitu menarik kesimpulan dengan cara analogis. Alasan hukum semacam ini adalah bersifat rasional, sehingga banyak peristiwa (kasus) yang dapat di-kias-kan kepada kasus-kasus lain, apabila alasan yang rasional itu sudah cukup jelas. Kias mendorong umat Islam untuk berpikir secara logis dalam memperbandingkan (mempersamakan) bermacam kasus, di tinjau dari alasan dan akibatnya. Dengan demikian, maka ruang lingkup dari hukum Islam menjadi luas, tidak terbatas ( tidak terikat pada makna leterleknya ayat al-Qur’an dan Sunnah saja ). Ayat al-Qur’an dan Sunnah dalam memberikan ketentuan hukum banyak yang bersifat garis besar pada umumnya. Begitu pula kejadian/peristiwa di tengah masyarakat berjalan terus, berkembang dan bertambah. Seandainya tidak memakai kias, bagaimana menetapkan hukum agama dalam persoalan yang baru yang belum ada kepastian hukumnya. Dengan memakai kias, maka Mujtahid dapat menetapkan hukum, yaitu dengan memperbadingkan peristiwa-peristiwa baru dengan hal-hal yang telah ditetapkan hukumnya dengan nash.

15

Abdul Wahhab Khalla>f, Ilmu Us}u>l Fiqh (Cairo, t.tp.1956), h.52. lihat pula Abdullah Siddik, Asas-Asas Hukum Islam (Jakarta: Wijaaya, 1982), h. 22.

Penyingkapan dan penjelasan ini dilakukan melalui pembahasan mendalam dan teliti terhadap ‘illah dari suatu kasus yang sedang dihadapi. Apabila ‘illah -nya sama dengan ‘illah hukum yang disebutkan dalam nas , maka hukum terhadap kasus yang dihadapi itu adalah hukum yang telah ditentukan nas tersebut.

Metode kias hanya digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak ditemukan sumber hukumnya, sehingga dalam ijtihad ini memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Ijtihad hanya dilakukan untuk memecahkan suatu persoalan, dan biasanya persoalan itu belum ditemukan dalil yang pasti dari sumber hukum utama, sehingga perlu diadakan upaya persamaan (analogi).

Dalam dokumen Penemuan Hukum oleh Hakim Melalui Kias (Halaman 111-116)

Dokumen terkait