Banyaknya program yang sudah dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa-desa pesisir, dan banyaknya dana yang sudah dikeluarkan untuk itu, seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih baik. Meskipun demikian, ke-nyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini sebagian besar masyarakat pesisir masih hidup dalam kemiskin-an.
Melihat program-program pemberdayaan ma-syarakat pesisir yang ada, baik yang berupa program langsung maupun program pendukung untuk program lainnya, tampak ada beberapa hal yang perlu dicermati, yaitu berkaitan dengan sistem kredit bergulir, pelatihan dan pendampingan, dan aspek pemasaran. Pember-dayaan masyarakat melalui pemberian modal dengan cara kredit bergulir memang diperlukan, karena per-modalan merupakan permasalahan krusial dalam ke-hidupan masyarakat pesisir. Akan tetapi, persyaratan bahwa peminjam harus memiliki agunan mengaki-batkan yang bisa memiliki akses pinjaman hanya me-reka yang memiliki barang yang bisa diagunkan. Jika demikian, maka sulit mengharapkan para buruh
ne-layan untuk bisa meningkatkan kapasitasnya menjadi nelayan, karena umumnya mereka tidak memiliki harta yang bisa dijadikan agunan. Jika demikian, maka yang bisa diberdayakan bukan kelompok yang paling lemah yang ada di komunitas nelayan, melainkan kelompok yang relatif sudah mapan.
Permasalahan lain terkait kredit yang bergulir adalah sistem pengembalian pinjaman, yang umum-nya bersifat fl at bulanan. Perlu diakui bahwa penen-tuan bunga yang rendah, yang kadang ditentukan me-lalui kesepakatan oleh masyarakat itu sendiri, dapat meringankan beban masyarakat dalam mengangsur. Namun, permasalahan menjadi lain ketika melihat re-alitas kehidupan nelayan, yang pendapatannya sangat fl uktuatif, dipengaruhi oleh banyaknya hasil tangkapan ikan. Apalagi pada musim paceklik, yang umumnya mereka tidak bisa melaut karena ombak yang cukup besar sehingga mereka tidak memiliki penghasilan. Dalam kondisi demikian, jika diharuskan membayar angsuran dengan jumlah yang tetap setiap bulannya, dipastikan akan mengalami kesulitan.
Untuk mengatasi hal tersebut, pengembalian pin-jaman melalui kredit bergulir perlu disesuaikan de-ngan matapencaharian nelayan. Oleh karena besarnya
pendapatan nelayan sangat dipengaruhi oleh musim, pembayaran angsuran mestinya hanya dilakukan pada saat musim ikan, sedangkan pada musim paceklik ne-layan tidak perlu mengangsur. Menyesuaikan dengan kondisi itu, jika musim paceklik berlangsung selama tiga bulan misalnya, maka pembayaran angsuran ha-nya dilakukan selama sembilan bulan. Jadi besarha-nya pembayaran angsuran per bulannya adalah jumlah pembayaran yang seharusnya dibayarkan dalam
seta-hun, dibagi sembilan.2
Permasalahan lain terkait dengan pemberdaya-an masyarakat pesisir adalah ypemberdaya-ang berkaitpemberdaya-an dengpemberdaya-an pelatihan. Dalam hal-hal tertentu pelatihan itu men-jadi penting, terutama jika bantuan diberikan kepada kelompok. Jika masyarakat tidak terbiasa dengan pe-kerjaan yang bersifat kelompok, maka bekerja dalam kelompok bukan merupakan hal yang mudah, karena diperlukan manajemen kelompok dan manajemen keuangannya. Untuk itu pelatihan manajemen kelom-pok sangat diperlukan.
Begitu pula pelatihan keterampilan yang bersifat perorangan juga perlu diberikan. Pengenalan teknologi tepat guna untuk pengolahan produk hasil perikanan misalnya, diperlukan pelatihan yang terus-menerus
agar masyarakat bisa memiliki ketrampilan yang me-madai untuk melakukan pengolahan, dan meningkat-kan kualitas produk olahan.
Sering kali pelatihan dan bantuan yang diberikan juga tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan ma-syarakat. Bantuan alat tangkap ke kelompok nelayan misalnya, kadang berbeda dengan yang diinginkan masyarakat. Hal itu karena program-program ban-tuan itu tidak dibarengi dengan analisis kebutuhan (needs assessment) masyarakat, sehingga bantuan yang diberikan masih kurang memperhatikan kondisi riil kebutuhan masyarakatnya. Adanya pelatihan dan bantuan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan warga menunjukkan bahwa program itu belum bersi-fat bottom up. Akibatnya, karena yang diperbantukan itu tidak sesuai dengan yang diharapkan warga, maka bantuan yang sebetulnya merupakan bantuan bergulir itu akhirnya macet karena warga tidak mau membayar angsuran untuk digulirkan.
Satu hal lain yang penting dalam pemberdaya-an adalah masalah pendampingpemberdaya-an. Bpemberdaya-anyak kasus pendampingan yang hanya terbatas pada periode ter-tentu, biasanya sekitar empat bulan, dan tidak diikuti dengan monitoring terhadap hasil pendampingan. Hal
ini tentu saja menimbulkan masalah, terutama jika ter-dapat permasalahan dalam kegiatan selanjutnya, maka tidak dapat segera terdeteksi oleh pendamping. Pada-hal masa-masa sesudah pelatihan itulah biasanya masa yang kritis untuk mencapai keberhasilan sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu dalam setiap pemberdaya-an perlu ada perencpemberdaya-anapemberdaya-an tentpemberdaya-ang exit strategy ypemberdaya-ang perlu dilakukan.
Permasalahan lain terkait dengan program pem-berdayaan adalah masalah pemasaran, yang seringkali luput dari perhatian Akibatnya walaupun masyarakat sudah diberi pelatihan dan memiliki ketrampilan, na-mun tetap saja mereka tidak mampu memasarkan produk yang dihasilkan. Padahal, tidak ada gunanya suatu produk dibuat, tetapi masyarakat tidak bisa me-masarkannya. Tanpa ada pasar yang siap menampung produk itu, walaupun sudah mendapatkan pelatihan dan masyarakat sudah terampil membuatnya, namun sebuah produk olahan misalnya, tetap saja tidak bisa dijual dalam jumlah yang banyak sehingga efek ter-hadap peningkatan pendapatan masyarakat tidak bisa seperti yang diharapkan.
Dalam kaitannya dengan pemberdayaan Pokmas-was, permasalahan yang muncul adalah terbatasnya
sarana untuk melakukan pengawasan, seperti kapasitas perahu yang kecil, serta peralatan lainnya yang terba-tas. Selain itu juga tidak ada bantuan dana dari peme-rintah, sehingga kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat tidak optimal. Selain itu, tidak semua laporan selalu direspons dengan cepat oleh aparat ter-kait, sehingga semakin lama memunculkan keenggan-an masyarakat untuk melapor jika terjadi pelkeenggan-anggarkeenggan-an. Terkait dengan itu maka pemberian bantuan peralatan untuk pengawasan mutlak perlu diberikan sehingga masyarakat mampu melakukan pengawasan secara mandiri.
Prinsip-prinsip pemberdayaan tersebut adalah prinsip-prisip umum yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan. Meskipun demikian, teknis pelaks-anaannya perlu disesuaikan dengan kondisi lokal se-hingga bentuk dan cara pemberdayaan yang dilakukan di sesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang ada di masyarakat yang akan diberdayakan. Dengan de-mikian dalam pemberdayaan teknis pelaksanaannya sangat bersifat local specifi c, sehingga dalam masyara-kat yang berbeda, perlu dilakukan treatment yang ber-beda. Karena itu sebelum pemberdayaan dilakukan, pengenalan terhadap kondisi sosial budaya setempat
perlu dilakukan. Untuk pengenalan kondisi tersebut maka tahap awal yang perlu dilakukan adalah mela-kukan assesment, yaitu mengidentifi kasi kebutuhan masyarakat, potensi sumber daya yang dimiliki, dan potensi sosial budayanya.
Simpulan
Kemiskinan yang dialami nelayan sebetulnya ti-dak perlu terjadi, karena Indonesia memiliki wilayah laut yang cukup luas dengan berbagai potensi sumber daya ikan yang ada di dalamnya. Meski demikian, iro-ni itu merupakan hal nyata saat iiro-ni sehingga jika kita berbicara tentang nelayan. Dengan demikian, hal yang terbayang di mata kita adalah kehidupan mereka yang serba kekurangan sehingga nelayan identik dengan ke-miskinan.
Untuk meniadakan gambaran suram tentang ke-hidupan nelayan itu, beberapa program pemberdayaan sudah dilakukan pemerintah, baik pemberdayaan se-cara langsung yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maupun program pember-dayaan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan lainnya seperti yang terdapat dalam program Co-Fish, MCRMP, PLBPM dan Coremap. Selain itu juga terdapat
program pemberdayaan yang bersifat non-ekonomi, seperti program Pokwasmas, yang dimaksudkan untuk pengawasan lingkungan laut.
Walaupun program-program pemberdayaan sudah dilakukan pemerintah, ternyata hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, pemerintah perlu mengkaji ulang cara-cara pemberdayaan yang su-dah dilakukan. Cara usang yang bersifat top down per-lu ditinggalkan, dan diganti dengan pendekatan partisi-patif. Melalui pendekatan ini, masyarakat perlu diajak untuk merumuskan kebutuhan mereka, dan bersama-sama mencari solusinya. Dengan demikian masyarakat tidak lagi dijadikan obyek pemberdayaan yang pasif, tetapi sebagai pelaku pemberdayaan yang aktif. Untuk itu, jenis dan program pemberdayaan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi sosial-bu-daya masyarakatnya.
Selain itu, pemberdayaan mestinya diprioritaskan pada nelayan kecil, yaitu nelayan yang menggunakan motor tempel dan nelayan tanpa motor serta nelayan yang menggunakan kapal berkapasitas 5 GT ke ba-wah. Hal itu didasarkan pada jumlah nelayan kecil di Indonesia yang merupakan mayoritas, yaitu sekitar
90% dari jumlah seluruh nelayan. Data menunjukkan bahwa dari jumlah kapal perikanan sebanyak 590.352 unit, sebanyak 193.798 unit merupakan perahu tanpa motor, dan 236.632 unit menggunakan motor tempel. Adapun yang menggunakan motor dalam (inboard mo-tor), sebanyak 32.214 memiliki kapasitas antara 5-10 GT, dan sebanyak 105.121 unit memiliki kapasitas <5 GT (Kelautan dan Perikanan dalam Angka Tahun 2010). Dengan jumlah yang begitu besar, maka keber-hasilan pemerintah dalam memberdayakan nelayan kecil akan menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan nelayan.
Daftar Pustaka
Acheson, J. M. 1981. “Anthropology of Fishing” dalam Annual Review of Anthropology, pp. 275-307 Adriyanto, Luky, dkk, 2011, Konstruksi Lokal
Pengelo-laan Sumber daya Perikanan di Indonesia. Bo-gor, IPB Press.
Bandiyono, Suko, dkk, 2008, Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi Coremap II. Kasus Kabupa-ten Selayar. Jakarta, Pusat Penelitian Kependudu-kan LIPI.
Bauer, P.T, 1973, Dissent on Development. Delhi, Vi-kas Publishing House Pvt. Ltd.
Brandt, Willy, 1980, Utara Selatan. Program untuk Ke-langsungan Hidup. Jakarta, Leppenas.
Imron, Masyhuri (ed), 2001, Pemberdayaan Masyara-kat Nelayan. Yogyakarta, Media Pressindo Imron, Masyhuri, 2003, Kemiskinan dalam Masyarakat
Nelayan, dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol V No. 1/2003
Imron, Masyhuri, 2009. Potret Kesejahteraan Masyara-kat di Dua Desa Pesisir. Jakarta, LIPI Press. Imron, Masyhuri, 2011. Nelayan dan Kemiskinan,
da-lam Jurnal ”Masyarakat dan Budaya” edisi khu-sus.
Imron, Masyhuri, Azzam Manan, M., Antariksa, IGP, 2009, Strategi Nelayan dalam Meningkatkan Ke-sejahteraan: Alternatif, Kendala dan Dukungan Kebijakan. Jakarta, LIPI Press
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor Kep. 45/Men/2011 tentang Estimasi Potensi Sumber daya Ikan di Wilayah Pengelo-laan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2010. Kelautan dan Perikanan dalam Angka Tahun 2010. Kusnadi, 2002, Konfl ik Sosial Nelayan . Kemiskinan
dan Perebutan Sumber daya Perikanan. Yogya-karta, LKiS.
Kusnadi dkk, 2006, Enam Tahun Program PEMP. Se-buah Refl eksi. Jakarta, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Ke-lautan dan Perikanan
Loekman Soetrisno, 1995, Substansi Permasalahan Ke-miskinan dan Kesenjangan, dalam Awan Setya Dewanta, dkk, (ed): Kemiskinan dan Kesenjang-an di Indonesia. Yogyakarta, Aditya Media. Masyhuri, 1999, Ekonomi Nelayan dan Kemiskinan
Struktural, dalam Masyhuri (ed) Pemberdayaan Nelayan Tertinggal dalam Mengatasi Krisis Eko-nomi. Telaahan terhadap Sebuah Pendekatan. Jakarta, Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan - LIPI
Mikkelsen, Britha, 2001, Metode Penelitian Partisipa-toris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan. Sebuah
Buku Pegangan bagi Para Praktisi Lapangan. Ja-karta, Yayasan Obor Indonesia.
Moeljarto T., 1986, Alternatif Perencanaan Sosial Budaya, dalam Maslaah Sosial Budaya Tahun 2000. Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta, Tiara Wacana.
Mubyarto dkk, 1984, Nelayan dan Kemiskinan. Studi Ekonomi Antropologi di DPraktisi esa Pantai. Ja-karta, Rajawali
Payne, Malcolm, 1997, Modern Social Work Theory. London, Macmillan Press Ltd.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.58/Men/2001 tentang Cara Pelaksanaan Sistem Pengawasan Masyarakat dalam Pengelo-laan dan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
Rukminto Adi, Isbandi, 2003, Pemberdayaan, Pengem-bangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas. Jakarta, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Shardlow, Steven, 1998, Values, Ethics and Social Work, dalam Adams, R. Et al (eds). Social Work:
Themes, Issues and Critical Debates. London, Macmillan Press Ltd.
Wahyono, Ary, dkk., 2001, Pemberdayaan Masyarakat Nelayan. Yogyakarta, Media Pressindo.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Keten-tuan Pokok Kesejahteraan Sosial
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Pe-rubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
1 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Peruba-han atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yang termasuk dalam kategori nelayan kecil adalah nelayan yang meng-gunakan kapal perikanan berukuran paling besar lima gross ton (GT) (Pasal 1 angka 11).
2 Sebagai contoh, jika nelayan memiliki kewajiban membayar angsuran dalam satu tahun sebanyak Rp 12.000.000,-, maka angsuran yang ha-rus dibayarkan setiap bulan bukan Rp 1.000.000,- tetapi sebanyak Rp 1.333.350,- (12.000.000 : 9).