BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
2. Belajar dan Hasil Belajar
Belajar merupakan suatu konsep yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bagi seorang pelajar. Belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses perubahan, baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Kegiatan belajar merupakan peristiwa dimana seseorang mempelajari sesuatu dan menyadari perubahan itu melalui kegiatan belajar, dimana kegiatan belajar diarahkan pada aspek positif.
Ada beberapa pandangan tentang belajar diantaranya menurut Slameto (2009: 6) berpendapat bahwa:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar.
Adapun definisi belajar menurut Sanjaya (2009: 112) yaitu:
“Belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan”.
Menurut definisi di atas, seseorang mengalami proses belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan.
Belajar disini merupakan "suatu proses" dimana guru melihat apa yang terjadi
selama siswa menjalani pengalaman edukatif untuk mencapai suatu tujuan. Yang harus diperhatikan dari siswa adalah pola perubahan pada pengetahuan selama pengalaman belajar itu berlangsung. Perubahan tersebut dapat berupa sesuatu yang sama sekali baru atau penyempurnaan/peningkatan dari hasil belajar yang telah diperoleh sebelumnya.
Belajar sosiologi adalah belajar yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan terencana yang dalam perencanaannya dibutuhkan suatu proses belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti pengetahuan, sikap dan tingkah laku, kecakapan serta perubahan-perubahan aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Agar proses belajar mengajar sosiologi berjalan sebagaimana mestinya, maka siswa harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar sebagai materi prasyarat sedangkan guru harus memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang keadaan siswa, pengelolaan kelas, penggunaan model pembelajaran yang tepat, dan keterampilan mengadakan variasi serta teknik penilaian, balk penilaian proses maupun penilaian hasil belajar.
Berdasarkan uraian di atas, maka belajar sosiologi pada hakikatnya adalah aktifitas mental yang tinggi untuk memahami arti dari struktur-struktur, hubungan-hubungan, sosial kemudian menerapkan konsep-konsep yang dihasilkan ke situasi yang nyata dalam kehidupan di masyarakat sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku.
Hasil belajar merupakan rangkaian dari dua kata yaitu "hasil" dan
"belajar". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hasil berarti sesuatu yang
diadakan oleh suatu usaha. Sedangkan kata belajar mempunyai banyak pengertian, menurut pengertian secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
Belajar merupakan proses dari seseorang, hasil belajar dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan anak tentang materi yang dipelajarinya. Hasil belajar siswa dapat diukur dengan menggunakan alat evaluasi yang biasanya disebut tes hasil belajar.
Menurut Hudoyo (Arif Tirtana, 2009: 6) mengemukakan bahwa:
"Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan". Hasil belajar dalam hal ini meliputi aspek kognitif (penguasaan intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai), dan psikomotorik (kemampuan atau keterampilan siswa).
Pendapat lain tentang hasil belajar dikemukakan oleh Dimyati dan Mudjiono (2003: 6) bahwa “hasil belajar merupakan hal yang dapat dIPSndang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Sejalan dengan itu, Suprijono (2009: 5) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap apresiasi dan keterampilan.
Berdasarkan uraian di atas, maka yang dimaksud dengan hasil belajar sosiologi adalah gambaran tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam proses belajar mengajar sosiologi yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil
belajar sosiologi. Hasil yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran proses belajar mengajar.
3. Teori-teori Belajar
Secara Pragmatis,teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas dasar sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan peristiwa belajar. Diantara sekian banyak teori yang berdasarkan hasil eksperimen terdafat tiga macam yang sangat menonjol, yakni:
a. Connectionism (Koneksionisme)
Teori koneksionisme (connectionism) Edward L. Thorndike dalam Muhibbin Syah (2010 : 93) adalah hubungan antara stimulus dan respons.
b. Classical Conditioning (Pembiasaan klasik)
Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) Ivan Pavlov dalam Muhibbin Syah (2010 : 95) adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatankan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
c. Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respons)
Teori pembiasaan perilaku respons (operant conditioning) Burrhus Frederic Skinner dalam Muhibbin Syah (2010 : 98) adalah tingka laku itu terbentuk oleh konsekuensi- konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri.
4. Perilaku Menyimpang
a. Pengertian Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang adalah perilaku dari warga masyarakat yang di anggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku.
Beberapa pendapat tentang pengertian perilaku menyimpang:
James Vander Zenden (dalam J. Murdiyatmoko, 2007: 119) Penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
Robert M.Z. Lawang (dalam J. Murdiyatmoko, 2007: 119 )
Penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu.
Bruce J. Cohen (dalam Titi Priono,2006 : 129) Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
b. Ciri-ciri Perilaku Menyimpang
Menurut Paul B Horton penyimpangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Penyimpangan harus dapat didefinisikan, artinya penilaian menyimpang tidaknya suatu perilaku harus berdasar kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak.
Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak, artinya perbedaannya ditentukan oleh frekuensi dan kadar penyimpangan.
Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal, artinya budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan.
Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka.
Penyimpangan sosial bersifat adaptif, artinya perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.
c. Sifat-sifat Penyimpangan
Penyimpangan sebenarnya tidak selalu berarti negatif, melainkan ada yang positif. Dengan demikian, penyimpangan sosial dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyimpangan positif dan penyimpangan negatif.
Penyimpangan positif merupakan penyimpangan yang terarah pada nilai-nilai sosial yang didambakan, meskipun cara yang dilakukan menyimpang dari norma yang berlaku. Contoh seorang ibu yang menjadi tukang ojek untuk menambah penghasilan keluarga.
Penyimpangan negatif merupakan tindakan yang dipandang rendah, melanggar nilai-nilai sosial, dicela dan pelakunya tidak dapat ditolerir masyarakat. Contoh pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dan sebagainya.
d. Jenis-jenis Perilaku Menyimpang
Menurut Lemert dalam Narwoko (1951: 102) Penyimpangan dibagi menjadi dua bentuk yaitu penyimpangan primer dan sekunder. Penyimpangan yang dilakukan seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer atau sementara, tidak dilakukan secara berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat.
Contohnya: pengemudi yang sesekali melanggar lalu lintas.
Penyimpangan yang dilakukan secara terus menerus sehingga para pelakunya dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Misalnya orang yang mabuk terus menerus. Contoh seorang yang sering melakukan pencurian, penodongan, pemerkosaan dan sebagainya.
Fenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat memang menarik untuk dibicarakan. Sisi yang menarik bukan saja karena pemberitaan berbagai perilaku manusia yang ganjil untuk dapat mendongkrak oplah media massa dan rating dari suatu mata acara di stasiun televisi, tetapi juga karena tindakan-tindakan menyimpang dianggap dapat mengganggu ketertibaan masyarakat.kasus-kasus pelanggaran norma susila dan berbagai tindakan kriminal yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi, atau gosip-gosip gaya hidup selebritis yang terkesan jauh berbeda dengan kehidupan nyata masyarakat, meskipun dicari penontonnya karena dapat memenuhi hasrat ingin tahu mereka, juga sering kali dicaci karena perilaku yang dianggap tak layak.
Perilaku menyimpang kemudian menyiratkan kesan, meskipun tidak ada masyarakat yang seluruh warganya dapat menaati dengan patuh seluruh aturan norma sosial yang berlaku tetapi apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh
seseorang, maka hal itu telah dianggap telah mencoreng aib diri sendiri, keluarga maupun komunitas besarnya. Sebagai akibatnya masyarakat bertindak dengan cara mengefektifkan kontrol sosial, misalnya dengan bergunjing atau rarasan.
Media massa sebagai kepanjangan tangan kontrol masyarakat sering kali juga menampilkan berita yang memojokkan seseorang atau sekelompok orang yang dianggap menyimpang. Kontrol itu sebetulnya juga adalah reaksi masyarakat terhadap tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial.
Sumbangan sosiologi sendiri cukup signifikan dalam memetakan berbagai bentuk penyimpangan perilaku dan reaksi masyarakat yang ditimbulkannya.
Kajian tentang perilaku menyimpang dipelajari oleh sosiologi karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural yang telah ditegakkan oleh masyarakat. Selain itu, melalui teori dan hasil-hasil penelitian yang dikembangkannya, sosiologi membantu masyarakat untuk dapat menggali akar-akar penyebab terjadinya tindakan menyimpang. Upaya untuk menghentikan atau paling tidak menahan bertambahnya penyimpangan perilaku dapat dipelajari pula melalui kajian tentang lembaga kontrol sosial dan efektifitasnya dalam mencegah terjadinya tindakan tersebut.
Perilaku menyimpang adalah perilaku dari warga masyarakat yang di anggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku.
Secara sederhana kita memang dapat menyatakan, bahwa seseorang berperilaku menyimpang apabila menurut anggapan sebagian besar masyarakat (minimal di suatu kelompok atau komunitas tertentu) perilaku atau tindakan tersebut di luar kebiasaan, adat istiadat, aturan, nilai-nilai, atau norma sosial yang berlaku.
Secara umum, yang digolongkan dalam (Dwi Narwoko, 2010:101) sebagai perilaku menyimpang, antara lain adalah:
1. Tindakan yang nonconform, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada. Misalanya, memakai sandal butut ke kampus atau ke tempat-tempat formal.
2. Tindakan yang anti sosial atau asosial, yaitu tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum. Bentuk tindakan asosial itu antara lain, menarik diri dari pergaulan, tidak mau berteman, keinginan untuk bunuh diri, minum-minuman keras, menggunakan narkotika atau obat-obat berbahaya, terlibat di dunia prostitusi atau pelacuran, penyimpangan seksual,dan sebagainya.
3. Tindakan-tindakan kriminal, yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan-aturan hukum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain. Tindakan kriminal yang sering kita temui itu misalnya: pencurian, perampokan, pembunuhan, korupsi, pemerkosaan, dan berbagai bentuk tindak kejahatan lainnya, baik yang tercatat di kepolisian maupun yang tidak larena tidak dilaporkan oleh masyarakat, tetapi nyata-nyata mengancam ketentraman masyarakat.
Pemahaman tentang bagaimana seseorang atau sekelompok orang dapat berperilaku menyimpang dapat dipelajari dari berbagai perspektif teoritis. Paling tidak ada dua perspektif yang bisa digunakan untuk memahami sebab-sebab dan latar belakang seseorang atau sekelompok orang berperilaku menyimpang. Yang
pertama adalah perspektif individualistik dan yang kedua adalah teori-teori sosiologi.
Teori-teori individualistik berusaha mencari penjelasan tentang munculnya tindakan menyimpang melalui kondisi yang secara unik memengaruhi individu.
Warisan genetis- biologis atau pengalaman-pengalaman awal dari kehidupan seseorang di dalam keluarganya, adalah beberapa sebab yang diduga yang melatar belakangi perilaku menyimpang pada diri seseorang. Teori-teori individualistik sebagian besar didasarkan pada proses-proses yang sifatnya individual dan mengabaikan proses sosialisasi atau belajar tentang norma-norma sosial yang menyimpang.
5. Gate Keeper
Membantu para penjahat untuk mengumpulkan harta (koruptor). Dalam situasi sekarang ini dimana godaan materi sangat besar, maka notaris sangat berpeluang terjebak dalam masah hukum,termasuk pencucian uang.
Selain notaris, untuk menjadi gate keeper dalam pencucian uang adalah porofesi advocat, akuntan puplic dan pengacara. Profese-profesi inilah para oknumnya bisa terlibat dalam kegiatan kejahatan.
6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Listening Team
a. Pengertian metode pembelajaran kooperatif tipe listening team
Metode pembelajaran kooperatif tipe listening team. Ada beberapa istilah untuk menyebut pembelajaran berbasis sosial yaitu pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) dan pembelajaran kolaboratif. Panitz membedakan kedua hal tersebut.
Pembelajaran kolaboratif didefinisikan sebagai falsafah mengenai tanggun jawab peribadi dan sikap menghormati sesama. Peserta didik bertanggun jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi utuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan kepada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak mengarahkan kelompok ke arah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Bentuk-bentuk asesment oleh sesama peserta didik digunakan untuk melihat hasil prosesnya.
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelejaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mna guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan sertah menyediaakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang utuk membantu peserta didik menyelasaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
Pandangan dikonomi tersebut di atas dianggap sebagai pernyataan yang berlebihan. Sebab, dalam praktiknya antara pembelajaran kolabotatif dan koopratif merupakan dua hal yang kontinum. Istilah kooperatif digunakan dalam tulisan ini karena kata “kooperatif” memilih makna lebih luas, yaitu menggambarkan keseluruhan proses sosial dalam belajar dan mencakup pula pengertian kolaboratif.Dukungan teori konstruktivisme sosial Vygotsky telah meletakkan arti penting model pembelajaran
kooperatif. Konsruktivisme sosial Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Peserta didik berada dalam konteks sosiohistoris. Keterlibatan dengan orang lain membuat kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman. Dengan cara ini, pengalaman dengan konteks sosial memberikan mekanisme penting untuk perkembangan pemikran peserta didik.
Dari Piaget ke Vygotsky ada pergeseran konseptual dari individual ke kooperatif, interaksi sosial, dan aktivitas sosiokultural. Dalam pendekatan konstruktivis Piaget, peserta didik mengonstruksi pengetahuan dengan mentransformasikan, mengorganisasikan, mereorganisasikan pengetahuan dan informasi sebelumnya. Vygotsky menekankan peserta didik mengonstruksi pengetahuan melalui interasi sosial dengan orang lain. Isi pengetahuan dipengaruhi oleh kultur dimana peserta didik tinggal. Kultur itu meluputi bahasa, keyakinan, keahlian/keterampilan.
Dukungan teori Vygotsky terhadap model pembelajaran kooperatif adalah penekanan belejar sebagai proses dialog interktif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berbasis sosial. Menurut Anita Lie, model pembelajaran ini didasarkan pada falsafat homo homini socius. Berlawanan dengan teori Darwin, falsafah menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Dialog interaktif ( interaksi sosial) adalah kunci dari semua kehidupan sosial. Tampa interaksi sosial, tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Dengan kata lain, kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup.
Tamapa kerja sama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, dan kehidupan
bersama lainnya. Secara umum tanpa interaksi sosial tidak akan ada pengatahuan yang disebut piaget sebagai pengatahuan sosial.
Dukungan lain dari teori Vygotsky terhadap model pembelajaran kooperatif adalah arti penting belajar kelompok. Diantara para pakar terhadap beberapa pendapat tentang pengertian kelompok. Chaplin mendefinisikan kelompok sebagai “a collection of individuals who have some characterictic in common or who are pursuing a common goal. Two or more persons who interact in any way constitute a group. It is not necessary, howefer, for the members of a group to interact directly or in face to face manner”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa kelompok itu dapat terdiri dari dua orang saja, tetapi juga dapat terdiri dari banyak orang.
Chaplin juga mengemukakan bahwa anggota kelompok tidak harus berinteraksi secara langsung yaitu face to face.
Seorang ahli dinamika kelompok bernama shaw membeikan pengertian kelompok “as two or more people who interact with and influence one another”.Menurut shaw satu ciri yang dipunyai oleh semua kelompok yaitu anggotatanya saling berinteraksi, saling memengaruhi antara satu dengan yang lain.
Pemblajaran dengan metode listening team diawali dengan pemaparan materi pembelajaran oleh guru. Selanjutnya guru membagi kelompok-kelompok.
Setiap kelompok mempunyai peran masing-masing. Misal, 40 orang dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok penanya, kelompok kedua dan kelompok ketiga adalah kelompok penjawab.
Kelompok kedua merupakan kumpulan orang menjawab berdasarkan prespektip tertentu, sementara kelompok ketiga adalah kumpulan orang yang menjawab dengan prespektif yang berbeda dengan kelompok kedua. Perbedaan ini memunculkan diskusi yang aktif yang ditandai dengan adanya peroses dialektika berpikir, sehingga mereka dapat menemukan pengetahuaan struktural. Kelompok keempat adalah kelompok yang bertugas mereview dan membuat kesimpulan dari hasil diskusi.
Pembelajaran diakhiri dengan penyampaian berbagai kata kunci atau konsep yang telah dikembangkan oleh peserta didik dalam berdiskusi
B. Kerangka Pikir
Pencapaian kompetensi merupakan pencerminan dari hasil yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya kompetensi siswa, salah satunya adalah faktor sekolah. Komponen yang termasuk dalam faktor sekolah adalah guru, kurikulum, proses pembelajaran dan siswa. Kurikulum sebagai rencana tertulis mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan harus dapat mencerminkan kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Aktivitas belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Lappariaja kabupaten bone masih tergolong rendah dikarenakan dalam pelaksanaan pembelajaran guru belum menerapkan metode pembelajaran yang memberikan peluang yang lebih luas kepada siswa untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Hal ini berakibat pada rendahnya prestasi hasil belajar siswa.
Proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe lestening team diduga dapat meningkatkan peran serta siswa, sebab dalam pelaksanaannya siswa dilibatkan secara langsung, mulai dari perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara mempelajarinya melalui latihan.
Model pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, dalam proses latihan maupun mempresentasekan atau mengutarakan hasil pikirannya. Dengan demikian siswa selalu aktif dan selalu dilibatkan dalam proses pembelajaran sehingga tercipta belajar bermakna dan siswa termotivasi untuk belajar, yang kemudian akan dapat meningkatkan kompetensi siswa.
Dari uraian di atas bahwa bagi guru yang menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe listening team dalam proses belajar sosiologi dapat memberikan dorongan bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar sehingga berpengaruh dalam proses pembelajaran dan mempunyai peranan penting dalam menunjang hasil belajar sosiologi.
Bagan Karangka Pikir
C. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Jika diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe listening team, maka hasil belajar sosiologi pada pokok bahasan perilaku menyimpang (gate keeper) siswa kelas X SMA Negeri 1 Lappariaja Kabupaten Bone dapat meningkat”.
28
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dibagi dalam dua siklus dengan 4 tahapan, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi yang dilakukan secara berulang. Arikunto (2010: 3) penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan terhitung mulai bulan Desember 2013 sampai Februari 2014, pada semester ganjil tahun pelajaran 2013-2014.
2. Tempat Penelitian.
Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Lappariaja Kabupaten Bone.
C. Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Lappariaja Kabupaten Bone, dengan jumlah siswa 44 orang, yang terdiri atas perempuan 18 orang dan laki-laki 26 orang, dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe listening team.
29
1. Faktor siswa, yaitu dengan melihat bagaimana aktivitas belajar siswa dalam mengajukan pertanyaan, masalah dan menyelesaikan sendiri serta melihat bagaimana pelaksanaan pembelajaran sosiologi dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe lestening team.
2. Faktor proses yaitu terjadinya interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa agar kegiatan belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien.
3. Faktor hasil, yaitu hasil belajar sosiologi siswa yang diperoleh pada setiap akhir siklus setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe lestening team.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai rancangan siklus yang ingin dicapai. Kedua siklus merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan artinya pelaksanaan siklus II merupakan rangkaian kelanjutan dan perbaikan dari siklus I.
setiap siklus dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan.
Dengan berdasarkan rencana pembelajaran di atas, maka dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan prosedur: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, dan evaluasi serta (4) refleksi.
Untuk lebih jelasnya, secara skematif keterkaitan antara tiap komponen dengan komponen lainnya dalam satu siklus dan antara siklus yang satu dengan siklus lainnya dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:
Skema Penelitian ( Arikunto. 2010: 16 )
Siklus I
1. Tahap Perencanaan
1. Tahap Perencanaan