BAB II. LANDASAN TEORI
D. Belajar sebagai Proses Perubahan Perilaku
a. Definisi Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata belajar memiliki arti usaha yang dilakukan untuk memperoleh ilmu atau kepandaian (Tim Penyusun KBBI, 2011). Beberapa ahli juga menyampaiakan pendapat mereka tentang definisi dari belajar. Dahar, (2011) mengatakan bahwa belajar merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungan, yang di dalam prosesnya terdapat
hubungan antara respon – respon dan stimulus - stimulus. Hal ini sejalan dengan pendapat Djamarah, (2011) bahwa belajar merupakan usaha sadar dari individu secara jiwa maupun raga untuk memperoleh suatu kesan dari apa yang dilakukan sebagai interaksi dengan lingkungannya. Di samping itu, belajar juga merupakan interaksi atau pengalaman dengan lingkungan yang menyebabkan adanya perubahan pengetahuan maupun perilaku secara permanen (Woolfolk, 2013). Woolfolk menambahkan bahwa belajar tidak hanya dilakukan di sekolah, melainkan dapat dilakukan di manapun sepanjang rentang kehidupan.
Perubahan pengetahuan dan perilaku pada individu dapat diukur berdasarkan pengamatan yang dilakukan. Hasil dari belajar dapat diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku (Hergenhahn & Olson, 2008). Hasil dari belajar tersebut dapat dilihat atau diterjemahkan dalam perilaku atau tindakan yang dapat diamati (Woolfolk, 2013). Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang bersifat kualitatif, atau perubahan yang berkaitan dengan mutu (Djamarah, 2011). Pendapat tersebut memberikan kesimpulan bahwa perubahan yang terjadi secara fisik akibat kecelakaan, obat-obatan, dsb bukanlah hasil dari belajar. Begitu pula dengan berubahnya keadaan fisik individu karena kelelahan bukanlah suatu perubahan akibat belajar.
Hasil dari belajar tidak semuanya dapat diukur hanya dengan pengamatan dari perilaku semata. Perlu diingat bahwa belajar bukan hanya mengubah perilaku, akan tetapi juga dapat mengubah pengetahuan (ranah kognitif). Hasil dari belajar juga dapat merupakan perubahan cara berpikir, kemampuan mengingat, dan pemecahan masalah (Schwartz, Wasserman, & Robbins, 2002; dalam Woolfolk, 2013). Hal ini memberikan penjelasan bahwa pengamatan terhadap perilaku individu, bukanlah satu-satunya cara dalam mengukur hasil belajar.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan usaha dari individu dalam interaksinya dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan–perubahan pengetahuan maupun perilaku karena adanya kesan–kesan baru. Hasil dari belajar dapat diukur, salah satunya dengan mengamati perilaku yang muncul pada individu.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Proses belajar tidak semata-mata berlangsung dengan lancar. Beberapa faktor dapat mempengaruhi proses belajar. Faktor-faktor tersebut digolongkan menjadi dua, antara lain faktor yang muncul dari diri sendiri (faktor internal) maupun dari luar (faktor eksternal).
1. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi proses belajar dan berasal dari diri sendiri. Faktor internal dibagi menjadi dua, faktor jasmaniah dan faktor psikologis. Faktor jasmaniah seperti kesehatan dan cacat tubuh akan menjadi pengaruh dalam proses penerimaan stumulus, begitu pula dalam meresponnya. Salah satu contohnya adalah kesehatan tubuh yang lemah akan mempengaruhi kualitas kognitif (ranah cipta), sehingga hal-hal yang dipelajari tidak akan maksimal (Syah, 2003).
Selain itu, faktor psikologis, meliputi motivasi, inteligensi, perhatian, minat, bakat, kematangan, dan kelelahan. Dalam segi motivasi, misalnya. Motivasi merupakan suatu perubahan energi yang terjadi pada diri seseorang yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu (Djamarah, 2012). Dalam hal ini, Hamalik (1992) menambahkan bahwa perubahan energi tersebut tampak pada tindakan seseorang yang berupaya sekuat tenaga untuk mencapai apa yang dia inginkan. Dengan demikian, motivasi merupakan salah satu faktor yang akan memberikan pengaruh terhadap berhasil atau tidaknya proses belajar.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang bersal dari luar diri. Faktor-faktor tersebut dibagi dalam tiga bagian, yaitu faktor keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat (Slameto, 2010).
Beberapa contoh faktor keluarga adalah gaya pengasuhan dari orang tua dan relasi dengan anggota keluarga. Para ahli mengatakan bahwa keluarga merupakan tempat pertama dalam proses sosialisasi (termasuk belajar) dari suatu individu. Seorang anak merapkan apa yang ia dapat dari keluarga ke dalam lingkungan sosial yang lebih luas, termasuk dalam proses belajar. Selain itu, relasi dengan anggota keluarga akan memberikan dukungan maupun hambatan kepada individu.
Selanjutnya adalah faktor sekolah. Faktor ini dapat disebut juga sebagai lingkungan tempat belajar (karena belajar tidak selalu di sekolah). Dalam lingkungan tersebut, juga terdapat hal-hal yang harus diperhatikan agar mendukung dan bukan menjadi hambatan dalam proses belajar. Hal-hal yang dimaksud antara lain: kondisi fisik lingkungan, cara mengajar, relasi pengajar dan pelajar, fasilitas/alat pelajaran, dan lain sebagainya.
Faktor eksternal yang terakhir adalah faktor lingkungan masyarakat atau dapat disebut juga lingkungan di mana pelajar tinggal. Sebagai contoh adalah teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat (Slameto, 2010). Interaksi yang dibangun oleh seseorang dengan lingkungan akan memberikan berbagai pengaruh tertentu. Hal ini tentu akan memberikan pengaruh pula terhadap proses belajar yang sedang dijalani.
2. Perubahan Perilaku
Pada hakikatnya, belajar merupakan suatu perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pada unsur kejiwaan yang mempengaruhi perilaku. Individu yang perilakunya berubah akibat adanya kesan atau pengalaman baru karena interaksinya dengan lingkungan merupakan individu yang sudah belajar (Djamarah, 2011). Dalam hal ini, hasil pembelajaran yang dicapai dapat disesuaikan dengan perubahan yang dikehendaki, antara lain:
a. Perubahan Terjadi Secara Sadar
Perubahan ini berarti bahwa individu merasakan adanya perubahan setelah melakukan pembelajaran. Misalnya, seseorang merasa pengetahuannya bertambah setelah setelah mengikuti kursus.
b. Perubahan dalam Belajar Bersifat Fungsional
Perubahan ini merupakan perubahan dari hasil belajar yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan lainnya. Sebagai contoh, seseorang yang belajar bicara. Setelah pandai, ia akan belajar untuk bercerita bahkan berpidato.
c. Perubahan dalam Belajar Bersifat Positif dan Aktif
Perubahan ini merupakan perubahan yang diusahakan untuk memperoleh sesuatu yang baik dari sebelumnya. Dengan demikian, semakin banyak usaha untuk belajar, maka semakin meningkatlah perubahan yang diharapkan.
d. Perubahan dalam Belajar Bertujuan dan Terarah
Hal ini berarti bahwa dalam melakukan usaha belajar, seseorang sudah menghendaki perubahan yang terjadi ke depannya. Perubahan tersebut sudah terarah dan disadari oleh individu yang melakukan proses belajar.
e. Perubahan Mencakup Seluruh Aspek Tingkah Laku
Perubahan ini merupakan perubahan yang meliputi seluruh aspek individu. Artinya, dalam belajar sesuatu, maka seseorang tidak hanya mengalami perubahan ada satu hal, akan tetapi hal-hal lain yang berkaitan dengan apa yang dipelajari. Misalnya, seseorang yang belajar mengendarai motor. Dengan mempelajari hal itu, maka ia juga dapat
mengerti tentang cara kerja motor, peraturan lalu lintas, cara merawat motor, dan lain sebagainya.
Dalam perubahan perilaku, penting untuk mempertimbangkan teori-teori yang digunakan di dalamnya. Teori merupakan serangkaian prinsip yang secara ilmiah dapat diterima dan ditawarkan untuk menjelaskan suatu fenomena (Schunk, 2012). Dalam program ini, teori yang digunakan adalah Teori Kognitif Sosial Bandura. Menurut Schunk, teori ini beranggapan bahwa pembelajaran manusia terjadi dalam lingkungan social. Schunk juga menambahkan bahwa teori ini memberikan kesimpulan bahwa seseorang dapat belajar hal-hal baru dari pengamatannya terhadap orang lain. Dengan menjadi pengamat, seseorang dapat memperoleh pengetahuan, aturan-aturan, strategi-strategi, keterampilan, sikap, dan lain-lain. Dalam proses tersebut, seseorang nantinya dapat mempelajari perilaku-perilaku yang dimodelkan, untuk kemudian diterapkan sesuai dengan keyakinan dan hasil yang diharapkan dari peristiwa serupa.
E. Efektivitas Program Anti Bullying dalam Mengurangi Perilaku Bullying