ANALISIS TEMATIK
3. Lingkungan yang Mendukung
7.2. PENANGANAN STUNTING OLEH PEMERINTAH 1. Belanja K/L dalam APBN
7.2.3. Belanja APBD
Penanganan stunting oleh Pemerintah Daerah (Pemda) di Sulawesi Tenggara dikoordinasi oleh Badan Perencanaan Pembagungan Daerah (BAPPEDA). Penanganan stunting melalui intervensi gizi spesifik oleh Dinas Kesehatan Prov. Sulawesi Tenggara telah meningkatkan cakupan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil mencapai 87,87%, cakupan distribusi PMT pada Balita mencapai Secara keseluruhan Pemda di wilayah Sulawesi Tenggara telah merealisasikan belanja untuk penanganan
Tabel 7. 5 Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Dalam Penanganan Stunting
DAK Fisik Dana Desa Total
Rumah 18.426.820.000 - 18.426.820.000 Sanitasi 45.083.599.380 52.649.958.385 97.733.557.765 Air Minum 55.670.990.670 54.482.268.419 110.153.259.089 Kesehatan 304.367.658.411 37.854.589.208 342.222.247.619 Pendidikan 51.845.295.064 43.194.678.405 95.039.973.469 Total 475.394.363.525 188.181.494.417 663.575.857.942
Sumber: Online Monitoring SPAN
Tabel 7. 6 Realiasi APBD Untuk Penanganan Stunting
Kegiatan Realisasi Anggaran
Intervensi Gizi Spesifik 293.459.607.279 Intervensi Gizi Sensitif 426.239.752.119 Kegiatan Lain 65,801,900,272 Total 785.501.079.670 Sumber : SIKD, 2019
stunting sebesar Rp785,5 miliar. Kegiatan intervensi gizi sensitif mendapatkan alokasi terbesar dalam penanganan stunting dengan total anggaran sebesar Rp426,4 miliar. Realisasi anggaran untuk kegiatan terkait intervensi gizi spesifik pada tahun 2019 sebesar Rp284 miliar dan realisasi kegiatan lainnya direalisasikan sebesar Rp65 miliar.
Pemda Bombana pada tahun 2019 telah merealisasikan anggaran penanganan
stunting sebesar Rp93 miliar yang didominasi kegiatan intervensi gizi sensitif sebesar
Rp69,2 miliar yang digunakan untuk program pengembangan perumahan dan program keluarga berencana. Sementara itu dua kabupaten yang menjadi prioritas intervensi
stunting di Sulawesi Tenggara yakni Kabupaten Buton dan Kabupaten Kolaka pada
tahun 2019 telah merealisasikan total anggaran sebesar Rp84,2 miliar.
Angka prevalensi stunting di Sulawesi Tenggara pada tahun 2018 sebesar 28,7% melampaui target RPJM tahun 2019 yang ditetapkan sebesar 35,4%. Namun Pemda di Sulawesi Tenggara masih memiliki tantangan untuk mencapai target WHO diangka 20, 2%. Untuk mencapai target ini, Provinsi Sulawesi Tenggara tengah merancang inovasi penurunan stunting dengan melibatkan masyarakat (RT/RW) yang bernama Rumah Cegah Stunting (RCS). Keberhasilan RCS ditentukan oleh adanya Satgas cegah
stunting yang melakukan screening dari rumah ke rumah untuk mencari dan mendata
Ibu hamil dengan KEK dan anak yang diindikasikan stunting. Apabila ditemukan adanya anak dengan indikasi stunting, Satgas cegah stunting akan melaporkan kepada unit pelayanan cegah stunting terpadu di Puskemas untuk dilakukan tindakan kuratif lanjutan. Selain melakukan upaya pendataan, RCS juga mengedepankan upaya preventif. Upaya preventif kasus stunting dilakukan dengan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri dan pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal pada ibu hamil dengan KEK dan Baduta kurang gizi.
RCS memiliki kelebihan dibanding kegiatan serupa (Posyandu), pertama karena kegiatannya bersifat khusus sehingga dapat lebih fokus untuk mengurangi stunting.
Grafik 7. 2 Realiasi APBD 2019 Untuk Penanganan Stunting Sumber: SIKD, 2019 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00
Intervensi Gizi Spesifik Intervensi Gizi Sensitif Kegiatan Lain
Gambar 7. 4 Konsep Rumah Cegah Stunting
Sumber: Dinas Kesehatan Prov. Sulawesi Tenggara, 2019
Tim Satuan Tugas Cegah Stunting
Screening Ibu Hamil Yang Mengalami KEK
Pemberian Makanan Tambahan Unit Pelayanan Cegah Stunting Terpadu Pemberian Tablet tambah Darah Pada
Kedua, potensi tingkat keberhasilan RCS lebih tinggi dibandingkan Posyandu karena sistem jemput bola yang dilakukan satgas cegah stunting. Sistem ini dapat berhasil karena pelibatan RT/RW/warga setempat sehingga sangat memahami kondisi lingkungan dan warganya. Namun demikian, upaya ini perlu disinkronkan dengan upaya penyuluhan mengenai keluarga berencana dan pola asuh yang menjadi fungsi BKKBN.
BAB VIII
PENUTUP
8.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan analisis yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Rencana pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah disusun dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2018-2023 telah mempedomani RPJPD Provinsi Sulawesi Tenggara dan memperhatihan RPJMN, demikian pula dengan rencana pembangunan dalam RKPD Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2019 merupakan penjabaran dari RPJMD Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2018-2023 sudah mengacu dan harmonis dengan RKP;
2. Tantangan-tantangan yang dianggap memiliki nilai prioritas oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara telah menjadi fokus program pembangunan baik dalam RPJMD maupun dalam RKPD dan dialokasikan dalam pagu indikatif;
3. Perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2019 dapat tumbuh dengan signifikan di tengah tensi perang da dunia dan ketidakpastian ekonomi. Hal ini tercermin dari kinerja ekonomi yang mampu tumbuh pada level 6,51% dengan inflasi yang terkendali pada level 3,22%, suku bunga yang turun dari level 6% ke level 5% serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika sebesar Rp 14.000,- per dolar; 4. Pada tahun 2019, tingkat kesejahteraan di Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami
sedikit perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 11,04% namun distribusi pendapatan tidak merata yang menyebabkan rasio gini meningkat menjadi 0,393 disertai peningkatan angka pengangguran sebesar 3,59%;
5. Terdapat kecenderungan pergeseran basis perekonomian Sulawesi Tenggara yang ditandai perlambatan pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan bersamaan dengan peningkatan pertumbuhan industri pengolahan dan pertambangan. Disisi tenaga kerja, pertumbuhan industri pengolahan dan pertambangan tidak sejalan dengan peningkatan serapan tenaga kerja. Kedua hal ini dapat menyebabkan bertambahnya ketimpangan;
6. Target pendapatan pada APBN lingkup Sulawesi Tenggara tahun 2019 sebesar Rp3.066,71 miliar (target tertinggi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir). Di sisi belanja, pagu belanja tahun 2019 sebesar Rp25.329,49 miliar meningkat 10,01% dibandingkan tahun 2018. Sementara itu, realisasi pendapatan APBN di Provinsi
Sulawesi Tenggara tahun 2019 mencapai 122,90% sedangkan realisasi belanja APBN mencapai 96,50%;
7. Realisasi pendapatan perpajakan APBN pada tahun 2019 meningkat sebesar 38,58% menjadi Rp3.150,93 miliar dibanding tahun 2018 atau meningkat sebesar 91,019% dibanding tahun 2017. Sama halnya dengan realisasi perpajakan APBN, realisasi pendapatan bukan pajak juga mengalami peningkatan sebesar 3,58% menjadi Rp618,01 miliar pada tahun 2019 atau meningkat sebesar 18,85% dari tahun 2017;
8. Pada tahun 2019, alokasi Dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa se- Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan sebesar 10,21% dari tahun 2018 menjadi Rp17.672 miliar atau meningkat sebesar 10,79% dari tahun 2017. Sedangkan realisasi Dana Transfer ke Daerah pada tahun 2019 mencapai Rp17.189 miliar, meningkat sebesar 8,07% dari tahun 2018 atau 12,40% dari tahun 2017; 9. Persentase realisasi Dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa terhadap alokasi
pada tahun 2019 sebesar 97,27% menurun jika dibanding tahun 2018 yang sebesar 99,19% namun sebaliknya meningkat jika dibanding dengan tahun 2017 yang sebear 95,88%;
10. Ruang fiskal Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2019 mencapai Rp 5.245,98 miliar atau 26,86 % dari total pendapatan Provinsi Sulawesi Tenggara, sedangkan Rasio PAD Provinsi Sulawesi Tenggara hanya sebesar 9,63% dan rasio dana transfer sebesar 87,99%. Sementara itu, realisasi TKDD lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara berpengaruh positif terhadap beberapa capaian indikator makroekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara;
11. Sampai dengan akhir tahun 2019, jumlah penyaluran KUR dan UMi di Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar Rp1,94 triliun yang disalurkan kepada 56.740 debitur. Daerah penyaluran KUR terbesar adalah Kota Kendari sebesar Rp373,46 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 7.418 debitur. Sementara itu sektor yang mendominasi penyaluran KUR di Provinsi Sulawesi Tenggara adalah sektor perdagangan besar dan eceran dengan nilai mencapai Rp1,1 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 28.774 debitur;
12. Berdasarkan analisis yang dilakukan, Kredit Program (KUR dan UMi) memberikan pengaruh positif kepada peningkatan pendapatan (daya beli) masyarakat, PDRB, dan penurunan tingkat kemiskinan;
13. Alokasi belanja wajib, sektor pendidikan di Sultra pada tahun 2019 sebesar Rp1,57 triliun atau 20,53% sedangkan alokasi belanja sektor kesehatan sebesar Rp173,78 miliar atau 2,27% dari total belanja;
14. Target pendapatan APBD dari tahun 2017 hingga tahun 2019 mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2019, pendapatan daerah ditargetkan
sebesar Rp20.855 miliar meningkat sebesar 10,39% dari tahun 2018, dan meningkat sebesar 20,41% dari tahun 2017. Demikian pula anggaran belanja, mengalami peningkatan pada tahun 2019 menjadi Rp22.026 miliar dari Rp19.072 miliar pada tahun 2018 dan Rp20.714 miliar pada tahun 2017;
15. Total realisasi pendapatan APBD seluruh pemerintah daerah se- Sultra mencapai Rp19.534 miliar meningkat sebesar 5,98% dari tahun 2018 atau meningkat sebesar 17,00% dari tahun 2017. Di sisi lain, realisasi belanja juga mengalami kenaikan pada tahun 2019 sebesar 7,27% dari tahun 2018 menjadi Rp19.413,6 miliar atau naik sebesar 13,79% dari tahun 2017;
16. Realisasi pendapatan APBD seluruh pemerintah daerah se- Sultra pada tahun 2019 didominasi oleh pendapatan dana transfer sebesar 87,52% dari total pendapatan daerah;
17. Berdasarkan hasil analisis dari penggabungan Analisis location quotient, analisis Shift-Share, Analisis Tipologi Klassen diperoleh bahwa sektor unggulan di Sultra adalah sektor pertambangan dan penggalian; pertanian, kehutanan dan perikanan; jasa pendidikan dan konstruksi;
18. Angka prevalensi stunting di Sulawesi Tenggara mengalami penurunan. Penurunan ini melebihi target yang ditetapkan dalam RPJMD Prov. Sulawesi Tenggara. Alokasi belanja, baik anggaran kementerian/lembaga, DAK Fisik dan Dana Desa maupun APBD telah memadai untuk penanganan stunting. Capaian output kegiatan penanganan stunting sudah cukup baik, namun pada beberapa kegiatan mengalami kendala teknis;
8.2. Rekomendasi
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan di atas, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan, yaitu:
1. Perkembangan pertumbuhan sektor-sektor di Sultra dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan gejala pergeseran basis ekonomi dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan ke sektor industri pengolahan atau manufaktur sehingga pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara perlu menyiapkan SDM yang dibekali dengan skill yang dibutuhkan di industri pengolahan;
2. Saat ini, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh dengan cukup imppresif, namun pertumbuhan tersebut sangat bergantung pada cadangan sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu pemerintah diharapkan dapat mencari sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi di masa mendatang yang lebih sustaine untuk mengantisipasi habisnya cadangan sumber daya alam;
3. Inflasi Sultra dalam tiga tahun terakhir cenderung membentuk pola dimana inflasi tertinggi terjadi pada bulan Juni diikuti deflasi pada bulan agustus . Dengan pola ini,
seluruh stakeholder yang berperan dalam pengendalian inflasi dapat mengambil langkah untuk mengantisipasi gejolak inflasi melalui penyediaan pasokan yang memadai bersamaan dengan edukasi pola konsumsi masyarakat serta perubahan pola tanam;
4. Mengingat sebaran penduduk miskin terbanyak berada di pedesaan dengan tingkat keparahan lebih dalam dibandingkan perkotaan maka diperlukan kebijakan untuk menjaga harga produk pertanian serta sarana yang dibutuhkan dalam bidang pertanian. Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa dana yang di peruntukkan bagi masyarakat miskin di pedesaan telah tepat sasaran serta pekerjaan yang dibiayai oleh dana desa dilaksanakan dengan metode cash for work sehingga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan; 5. Dengan ruang fiskal yang sempit ditambah dengan tingkat kemandirian Sultra yang
rendah, pemerintah perlu menggali sumber-sumber pendapatan asli daerah mengingat perekonomian Sultra masih mengalami pertumbuhan serta harus efektif dan efisien dalam menggunakan anggaran
6. Pemerintah perlu mengoptimalkan penerimaan dari pendapatan negara bukan pajak mengingat Sultra memiliki potensi penerimaan dari sektor pertambangan dan penggalian dan industri pengolahan yang terus mengalami pertumbuhan;
7. Pemerintah daerah perlu meningkatkan lagi perannya dalam penyaluran KUR dan UMi sehingga dapat lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sosialisasi dan pendataan wirausahawan baru perlu dilakukan secara massif agar tidak terkendala dengan modal usaha. Kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan sektor produktif dalam penyaluran KUR dan UMi perlu ditindaklanjuti oleh pihak penyalur khususnya di daerah perdesaan untuk menumbuhkan wirausahawan baru dan mengurangi kemiskinan;
8. Berdasarkan analisis potensi Sulawesi Tenggara, pemerintah perlu mendorong iklim investasi, kemudahan perizinan, kebijakan fiskal (tax holiday, tax allowance) pada bidang-bidang tersebut sehingga potensi pertumbuhan dapat lebih optimal. Pemerintah perlu mencari sumber pertumbuhan baru yang lebih sustain mengingat sumber pertumbuhan yang ada sekarang berasal dari nonrenewable resources. Kebijakan agraria (RTRW) perlu dirancang agar tidak terjadi alih fungsi lahan dibarengi dengan kebijakan modernisasi sarana prasarana pertanian. Pemerintah perlu mendorong hadirnya pusat-pusat ilmu/pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar tercipta kreasi dan inovasi baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi (knowledge spillover/technology spillover)