BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.3. Belanja Modal
Selain melaksanakan hak-haknya, pemerintah daerah selaku
steward juga memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya
pelayanan kebutuhan dan kepentingan publik. Kewajiban tersebut dapat berupa pembangunan berbagai fasilitas publik dan peningkatan kualitas pelayanan kepada publik. Untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut diperlukan pengeluaran-pengeluaran daerah.
Menurut Musgrave and Musgrave (1993) peranan pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian, terutama untuk melaksanakan fungsinya dalam meningkatkan standar kehidupan masyarakat yang layak sehingga mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi. Fungsi tersebut diantaranya adalah:
1. Fungsi Alokasi
Penyediaan barang publik dan bagaimana komposisi barang publik tersebut digunakan.
2. Fungsi Distribusi
Penyesuaian terhadap distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan
3. Fungsi Stabilisasi
Penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja, stabilitas ekonmi, dan laju pertumbuhan ekonomi dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran.
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) Nomor 02 paragraf 34 menyatakan bahwa belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja), organisasi dan fungsi. Rincian tersebut
merupakan persyaratan minimal yang harus disajikan oleh entitas pelaporan. Selanjutnya dicontohkan pada Paragraf 39 PSAP 02 klasifikasi belanja menurut ekonomi (jenis belanja) yang dikelompokkan lagi menjadi belanja operasi, belanja modal dan belanja lain-lain/tak terduga.
Berdasarkan jenisnya, anggaran sektor publik dibagi menjadi dua (Mardiasmo, 2002) yaitu:
1. Anggaran operasional yang digunakan untuk merencanakan kebutuhan sehari-hari dalam pemerintahan, sepeti belanja umum, operasi dan belanja pemeliharaan yang selalu ada dalam setiap tahun.
2. Anggaran modal yang menunjukkan rencana jangka panjang dan pembelanjaan atas aktiva tetap
Belanja menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara ataupun Bendahara Umum Daerah yang akan mengurangi Saldo Anggaran pada periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 mengklasifikasikan belanja berdasarkan kelompoknya terdiri atas:
1. Belanja tidak langsung yaitu belanja yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh ada tidaknya program dan kegiatan SKPD, seperti belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan belanja tak terduga
2. Belanja langsung yaitu belanja yang dipengaruhi secara langsung oleh adanya program dan kegiatan SKPD, seperti belanja pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja modal.
Belanja modal dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 didefinisikan sebagai pengeluaran anggaran pemerintah untuk mendapatkan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari 1 periode akuntansi. Sementara itu, menurut Mardiasmo (2002) Belanja modal adalah pengeluaran yang manfaatnya cenderung melebihi 1 (satu) tahun dan akan menambah aset atau kekayaan pemerintah yang selanjutnya akan menambah anggaran rutin untuk biaya operasional dan pemeliharaan.
Belanja modal tersebut digunakan untuk memperoleh aset tetap seperti tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan mesin, serta aset tak berwujud. Sehingga dengan adanya belanja tersebut diharapkan adanya
multiplier efek bagi perekonomian nasional khususnya daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 terkait Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dalam pasal 52 menyebutkan bahwa belanja modal merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah dalam kaitannya dengan pengadaan aset tetap berwujud yang memiliki umur manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan yang akan dipakai dalam kegiatan pemerintahan.
Dalam SAP, belanja modal dapat dikatagorikan ke dalam 5 (lima) kategori utama, yaitu :
1. Belanja Modal Tanah
Belanja modal tanah adalah pengeluaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan atau pembelian atau pembebasan, penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan, pengurangan, peralatan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat, dan pengeluaran lainnya sehubung dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai.
2. Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja modal peralatan dan mesin adalah pengeluaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan atau penambahan atau penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin, serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan, dan sampai peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai.
3. Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Belanja modal gedung dan bangunan adalah pengeluaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan atau penambahan atau penggantian atau peningkatan dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
4. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja modal jalan, irigasi dan Jaringan adalah pengeluaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan atau penambahan atau penggantian atau peningkatan pembangunan atau pembutan serta perawatan, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan irigasi dan jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan irigasi dan jaringan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
5. Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja modal fisik lainnya adalah pengeluaran atau biaya yang digunakan untuk pengadaan atau penambahan atau penggantian atau peningkatan pembangunan atau pembuatan serta perawatan terhadap fisik lainnya yang tidak dapat dikatagorikan ke dalam kriteria belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan irigasi dan jaringan. Termasuk dalam belanja ini adalah belanja modal kontrak sewa beli, pembelian barang-barang kesenian, barang purbakala dan barang untuk museum, hewan ternak dan tanaman, buku-buku, dan jurnal ilmiah
Mardiasmo (2002) mengemukakan bahwa beberapa alasan anggaran sektor publik memiliki peranan yang sangat penting sekali karena:
1. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan sosial-ekonomi, menjamin kesinambungan, pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
2. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yang tidak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas. Anggaran diperlukan karena adanya masalah keterbatasan sumberdaya (scarcity of resources), pilihan (choice), dan trade offs.
3. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab terhadap rakyat. Dalam hal ini anggaran publik merupakan instrumen pelaksanaan akuntabilitas publik oleh lembaga-lembaga publik yang ada.
Dengan demikian, Pemerintah Daerah harus mampu mengalokasikan anggaran belanja modal dengan baik karena belanja modal merupakan salah satu langkah bagi Pemerintah Daerah untuk memberikan pelayanan kepada publik. Namun demikian terdapat beberapa permasalahan dalam kegiatan belanja modal baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan hingga penatausahaan.