Bab V Penjelasan Pos-Pos Laporan Keuangan
5.1.5. Kewajiban
5.1.7. Komponen-komponen laporan arus kas Bab VI Informasi Non Keuangan
6.1. Informasi Umum 6.2. Letak Geografis
6.3. Visi, Misi, dan Prioritas Pembangunan Daerah Bab VII Penutup
BAB II
EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN, DAN PENCAPAIAN TARGET KINERJA APBD
2.1. Ekonomi Makro
Kondisi ekonomi makro merupakan salah satu unsur penting dalam mengukur kemajuan yang dicapai suatu daerah. Salah satu indikator yang yang digunakan pada umumnya menggunakan pendekatan analisa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yaitu indikator yang digunakan untuk mengukur nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktifitas ekonomi dalam suatu daerah. Data PDRB menggambarkan kemampuan daerah mengelola sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang dimiliki untuk menghasilkan suatu produk melalui proses produksi.
Oleh karena itu besaran PDRB sangat tergantung kepada ketersediaan faktor-faktor produksi pada suatu daerah.
Produk Domestik Regional Bruto terdiri dari sembilan sektor, yang secara garis besar terbagi menjadi tiga kategori yaitu Primer, Sekunder dan Tersier. Sektor Primer mencakup dua sektor, yaitu sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan serta sektor pertambangan dan penggalian. Sektor sekunder meliputi tiga sektor yaitu sektor industri, sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor bangunan. Sedangkan sisanya merupakan sektor tersier yang meliputi perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa.
Besaran nilai PDRB yang terbentuk dari nilai tambah yang diciptakan oleh masing-masing sektor menggambarkan ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi masing-masing sektor. Dari ketiga kategori di atas, pada tahun 2005 hingga 2009 sektor primer yaitu sektor pertanian merupakan pemegang kontribusi yang dominan di Kabupaten Sumbawa dengan share rata-rata diatas 40 persen, walaupun terlihat adanya penurunan sebagaimana tampak pada tabel berikut :
Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sumbawa Menurut Lapangan Usaha
Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005 – 2009
Lapangan Usaha Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Pertanian
Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan
Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Bank, Usaha Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa
PDRB Kabupaten 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : KUAPBD Tahun Anggaran 2011
Secara umum struktur ekonomi Kabupaten Sumbawa belum mengalami pergeseran yang berarti dari empat tahun sebelumnya, hal ini disebabkan karena belum terjadinya perubahan jenis kegiatan ekonomi utama masyarakat yang masih berorientasi pada sektor primer pertanian. Namun demikian, proses transformasi struktur ekonomi Kabupaten Sumbawa terus berlangsung menuju pada sektor-sektor non pertanian. Tiga sektor utama yakni sektor bangunan, perdagangan, hotel dan restaurant serta sektor jasa semakin menguat menyaingi pangsa sektor pertanian.
Harapannya dengan transformasi tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang menandakan semakin terbukanya kesempatan kerja, berkurangnya pengangguran dan kemiskinan dan yang paling penting sebagai penanda telah meningkatnya kesejahteraan agregatif masyarakat Kabupaten Sumbawa.
Kondisi-kondisi tersebut yang mendasari penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2011.
APBD Kabupaten Sumbawa Tahun Anggaran 2011 disahkan melalui Perda Nomor 1 tahun 2011 serta perubahan APBD Tahun Anggaran 2011 disahkan melalui Perda Nomor 3 tahun 2011. Beberapa hal utama yang terkait dengan perubahan anggaran tersebut sebagai berikut:
1) Anggaran Pendapatan
Anggaran pendapatan mengalami peningkatan sebesar Rp.142.990.757.714,70 dari anggaran semula Rp.696.725.946.345,00 menjadi Rp.839.716.704.059,70 atau meningkat sebesar 20,52 %. Peningkatan anggaran pendapatan tersebut berasal dari Pendapatan Asli Daerah dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Perubahan anggaran pendapatan tersebut terinci sebagai berikut:
a) Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah mengalami peningkatan sebesar Rp.53.271.194.885,05 dari anggaran semula Rp.43.965.702.035,00 menjadi Rp.97.236.896.920,05 atau bertambah sebesar 121,17%.
b) Dana Perimbangan
Dana Perimbangan mengalami penurunan sebesar Rp.5.603.717.829,00, dari anggaran semula Rp.604.301.441.848,00 menjadi Rp.598.697.724.019,00 atau menurun sebesar 0,93%.
c) Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah
Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah mengalami peningkatan sebesar Rp.95.323.280.658,65 dari anggaran semula Rp.48.458.802.462 menjadi Rp.143.782.083.120,65 atau meningkat sebesar 196,71%.
2) Anggaran Belanja
Anggaran belanja mengalami peningkatan sebesar Rp.136.753.821.893,65 dari anggaran semula Rp.743.919.927.485,71 menjadi Rp.880.673.749.379,36 atau mengalami peningkatan sekitar 18,38%.
Dalam konteks penganggaran berdasar Permendagri 13 Tahun 2006, belanja tersebut terinci atas:
- Belanja Tidak Langsung, belanja yang tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, mengalami peningkatan dari anggaran semula Rp.444.199.486.784,97 menjadi Rp.485.497.187.056,55, meningkat sebesar Rp.41.297.700.271,58 atau sebesar 9,30%.
- Belanja Langsung, belanja yang terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, mengalami peningkatan dari anggaran semula Rp.299.720.440.700,74 menjadi Rp.395.176.562.322,81, meningkat sebesar Rp.95.456.121.622,07 atau sebesar 31,85%.
Ketersediaan dana untuk membiayai kegiatan menjadi faktor pembatas dalam mewujudkan kinerja kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini yang menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan anggaran belanja, yaitu terbatasnya alokasi dan akumulasi dana yang dikelola Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebagai akibat masih relatif rendahnya PAD dan proporsinya terhadap APBD. Sehingga sebagian besar sumber dana untuk membiayai pengeluaran/belanja berasal dari Dana Perimbangan, terutama Dana Alokasi Umum dan dana perimbangan lainnya yang dialokasikan oleh Pemerintah Pusat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dalam setiap penganggaran program dan kegiatan diperlukan tolok ukur dan target kinerja serta dilaksanakan secara efisien dan efektif.
3) Anggaran Pembiayaan
Anggaran pembiayaan terdiri atas penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan, dengan rincian sebagai berikut:
- Penerimaan Pembiayaan Daerah mengalami peningkatan dari anggaran semula Rp.52.693.981.140,71, menjadi Rp.53.440.768.193,66, meningkat sebesar Rp.746.787.052,95 atau sebesar 1,42%.
- Pengeluaran Pembiayaan Daerah mengalami peningkatan dari anggaran semula Rp.5.500.000.000,00 menjadi Rp.12.483.722.874,00 meningkat sebesar Rp.6.983.722.874,00 atau sebesar 126,98%.
2.2. Kebijakan Keuangan
Dalam penyusunan Rancangan APBD dan Rancangan Perubahan APBD tahun anggaran 2011, beberapa arah dan kebijakan keuangan yang ditempuh antara lain:
1) Arah dan kebijakan umum bagian pendapatan
Sebagai komitmen taat azas dalam pengelolaan keuangan daerah, Pemerintah Kabupaten Sumbawa menetapkan kebijakan terkait pendapatan daerah sebagai berikut:
1.1) Pendapatan Asli Daerah.
a. Kebijakan dasar penetapan target PAD dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, realisasi penerimaan tahun lalu, potensi dan asumsi pertumbuhan ekonomi yang dapat mempengaruhi penerimaan pemerintah daerah.
b. Dalam konteks penetapan target PAD Tahun Anggaran 2011, pencapaian realisasi PAD Tahun Anggaran 2010 telah menjadi pijakan utama mengingat ketentuan peraturan perundang-undangan, potensi PAD dan
asumsi pertumbuhan ekonomi masih belum banyak memberikan pengaruh terhadap peningkatan/penurunan target PAD.
c. Dalam upaya penciptaan iklim usaha yang kondusif, Pemerintah Daerah dapat memberikan insentif dan kemudahan berusaha bagi pelaku ekonomi dan tidak membuat kebijakan yang memberatkan dunia usahadan masyarakat.
d. Dalam upaya pengelolaan PAD, Pemerintah Daerah menetapkan reward and punishment. Reward (penghargaan) berupa insentif diberikan kepada unit kerja pemungut/pengelola PAD yang dapat mencapai atau melampaui target, demikian pula sebalik nya punishment (hukuman) diberikan kepada unit kerja yang tidak dapat memenuhi target PAD yang telah ditetapkan.
e. Dalam rangka peningkatan kinerja pengelolaan PAD, terus ditempuh perbaikan tata kelola seperti penyederhanaan sistem dan dan prosedur administrasi pemungutan pajak dan retribusi daerah, rasionalisasi pajak daerah dan retribusi daerah, serta meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas pemungutan PAD, sehingga tercipta efektivitas dan efisiensi yang dibarengi dengan peningkatan kualitas, kemudahan, ketepatan dan kecepatan pelayanan dengan biaya murah.
f. Dalam hal jenis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, penetapan target pendapatan pada Tahun Anggaran 2011 sesuai ketentuan pada pasal 180 Undang-Undang dimaksud, masih mengacu pada Peraturan Daerah yang ada.
g. Pemerintah Daerah konsisten untuk tidak melaksanakan pemugutan terhadap perda yang terkait dengan pajak dan retribusi daerah yang telah dibatalkan pemerintah.
h. Penerimaan bunga pinjaman dari dana bergulir, dianggarkan dalam APBD pada akun pendapatan, kelompok pendapatan asli daerah, jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, sesuai dengan obyek berkenaan.
i. Dalam rangka pemungutan pajak daerah, dapat diberikan biaya pemungutan paling tinggi sebesar 5% (lima persen) dari realisasi penerimaan pajak daerah yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana diamanatkan peraturan perundang-undangan.
j. Upaya peningkatan penerimaan bagian laba/dividen atas penyertaan modal atau investasi daerah lainnya yang dapat ditempuh melalui inventarisasi
dan menata serta mengevaluasi nilai kekayaan daerah yang dipisahkan baik dalam bentuk uang maupun barang sebagai penyertaan modal (investasi daerah). Dalam upaya peningkatan PAD, pemerintah daerah mendayagunakan kekayaan daerah yang belum dipisahkan dan belum dimanfaatkan (masih idle) untuk dikelola dengan pihak ketiga sehingga menghasilkan pendapatan.
k. Komisi, rabat, potongan atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat dari penjualan,tukar menukar, hibah, asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan bunga, jasa giro atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta penerimaan dari hasil penggunaan kekayaan daerah merupakan pendapatan daerah.
l. Pemerintah daerah tidak menetapkan target pendapatan yang berasal dari setoran laba bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) karena cakupan pelayanannya belum mencapai 80% dari jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa. Hal ini sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 690/477/SJ tanggal 18 Pebruari 2009 perihal percepatan terhadap program penambahan 10 juta sambungan rumah air minum tahun 2009 s/d 2013. Bagian laba yang diperoleh PDAM tersebut untuk diinvestasikan dalam rangka meningkatkan kualitas jangkauan pelayanan.
1.2) Dana Perimbangan.
a. Dana perimbangan yang diterima Pemerintah Kabupaten Sumbawa TA 2011 berupa Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, serta diupayakan untuk memperoleh Dana Penyesuaian Bidang Infrastruktur. Secara keseluruhan, terus diupayakan peningkatan dana perimbangan terutama melalui DAK dan dana bagi hasil.
b. Terhadap perencanaan alokasi dana bagi hasil, pemerintah daerah menggunakan pagu definitive TA 2010. Selanjutnya bila alokasi dana bagi hasil tersebut tidak sesuai dari perkiraan maka akan dilakukan penyesuaian dalam Perubahan APBD TA 2011.
c. Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau yang dialokasikan ke Kabupaten Sumbawa disesuaikan dengan Keputusan Gubernur NTB dan penggunaannya sesuai dengan pedoman yang berlaku.
1.3) Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah.
a. Hibah yang diterima baik berupa uang harus dianggarkan dalam APBD dan didasarkan atas naskah perjanjian hibah antara pemerintah daerah dan pemberi hibah.
b. Dana bagi hasil pajak dari provinsi yang diterima pemerintah kabupaten merupakan lain-lain penerimaan yang sah.
c. Perkiraan pendapatan bagi hasil yang diterima dari provinsi pada TA 2011 menggunakan pagu APBD TA 2010, sedangkan bagian Kabupaten Sumbawa yang belum direalisasikan oleh pemerintah provinsi akibat pelampauan target TA 2010 akan ditampung dalam perubahan APBD TA 2011.
d. Dana darurat, dana bencana alam dan sumbangan pihak ketiga yang diterima oleh pemerintah daerah bilamana belum dapat diperkirakan dan dipastikan pada saat penyusunan APBD TA 2011 akan dianggarkan pada perubahan APBD TA 2011.
e. Dana penyesuaian dan otonomi khusus dianggarkan pada lain-lain pendapatan daerah yang sah.
2) Arah dan kebijakan umum bagian belanja
Belanja daerah diprioritaskan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
Belanja daerah disusun berdasarkan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan secara adil dan merata, agar semakin dapat dinikmati oleh masyarakat, khususnya dalam bentuk pemberian pelayanan umum. Oleh karena itu dalam penyusunan APBD TA 2011, pemerintah daerah menetapkan target capaian baik dalam kontek daerah, satuan kerja, dan kegiatan sejalan dengan urusan yang menjadi kewenangannya.
Untuk merencanakan alokasi belanja dalam APBD agar lebih mengutamakan keberpihakan untuk kepentingan publik daripada kepentingan aparatur.
Dalam penyusunan anggaran belanja untuk setiap kegiatan, agar mempedomani/mempertimbangkan Analisis Standar Belanja dan/atau standar harga yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
3) Arah dan kebijakan umum bagian pembiayaan
Kebijakan umum bagian pembiayaan terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Kebijakan dalam penerimaan pembiayaan antara lain penganggaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA) agar dihitung berdasarkan perkiraan yang rasional dan pemerintah daerah dalam rangka menutup defisit dapat melakukan pinjaman daerah berupa pinjaman jangka menengah/panjang dan prosesnya mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.
Kebijakan dalam pengeluaran pembiayaan antara lain pemerintah daerah dapat menambah modal yang disetor dan/atau melakukan penambahan penyertaan modal pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk memperkuat struktur permodalan sehingga BUMD dapat berkompetisi, tumbuh dan berkembang. Khusus untuk BUMD sektor perbankan, guna memenuhi Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagaimana dipersyaratkan oleh Bank Indonesia.
Selain itu adalah dengan meningkatkan pendapatan daerah dengan melaksanakan intensifikasi, sehingga diharapkan realisasi pendapatan pada akhir tahun anggaran dapat melampaui target. Sedangkan untuk belanja daerah diupayakan melalui efisiensi, sehingga diharapkan adanya peningkatan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang dananya dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
2.3. Indikator Pencapaian Target Kinerja APBD
Indikator pencapaian target kinerja APBD, sesuai dengan konteks Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, tercermin dari penyerapan anggaran Belanja Langsung pada masing-masing SKPD yang ada di Kabupaten Sumbawa.
NO SKPD ANGGARAN REALISASI % 1 Dinas Pendidikan Nasional 106,314,827,692.00 77.241.896.559,00 72,65 2 Kantor Arpusda 1,205,199,711.00 1,163,378,596.00 96.53 3 Dinas Kesehatan 27,577,008,232.00 25.539.611.291,00 92,61 4 Rumah Sakit Umum Daerah 33,563,862,663.00 23,698,108,252.00 70.61 5 Dinas Pekerjaan Umum 80,481,988,859.28 72,717,531,046.00 90.35
6 BAPPEDA 4,340,606,735.00 3.846.457.448,00 88,62
7 Dishubkominfo 3,051,441,450.00 2,749,764,059.00 90.11 8 BPM dan Lingkungan Hidup 5,855,568,411.00 5,767,831,473.00 98.50 9 Dinas Dukcapil 1,763,388,596.00 1,717,290,757.00 97.39 10 Badan Keluarga Berencana & PP 3,141,987,619.00 3.028.800.654,00 96,39 11 Dinas Sosial 1,451,924,005.00 1,437,522,257.00 99.01 12 Dinas Nakertrans 2,975,850,711.00 2,338,558,495.00 78.58 13 Dinas Koperindag 6,822,451,023.45 6,664,292,883.00 97.68 14 Badan KESBANGPOLLINMAS 2,689,146,192.00 2.617.557.959,00 97,33 15 Kantor Satpol PP 2,171,040,178.00 2.105.376.383,00 96,98 16 Badan Penanggulangan Bencana Daerah 706,671,605.00 504,959,651.00 71.46 17 Sekretariat Daerah 16,376,222,851.00 14,198.155.863,00 86.70 18 Sekretariat DPRD 16,996,505,094.00 15.068.909.219,00 88,66
19 D P K A 20,608,065,333.00 17,124.847.288,00 83,09
20 Inspektorat Daerah 1,429,839,235.00 1,379,996,226.00 96.51 21 Badan Kepegawaian & Diklat 7,709,833,587.00 6,572.703.490,00 85,25
22 KPPT 694,536,056.00 632,284,766.00 91.04
23 Kantor Camat Sumbawa 1,090,778,516.00 1,044,007,172.00 95.71 24 Kantor Camat Moyo Hilir 366,012,055.00 306,530,033.00 83.75 25 Kantor Camat Moyo Utara 346,625,345.00 337,983,610.00 97.51 26 Kantor Camat Lopok 269,644,700.00 253,973,590.00 94.19 27 Kantor Camat Lape 297,796,280.00 240.421.935,00 80,73 28 Kantor Camat Maronge 289,584,825.00 284,578,385.00 98.27 29 Kantor Camat Plampang 355,061,470.00 301,342,412.00 84.87 30 Kantor Camat Labangka 272,645,200.00 262.282.030,00 96,19 31 Kantor Camat Empang 359,972,100.00 305,652,487.00 84.91 32 Kantor Camat Tarano 302,087,436.00 299,157,356.00 99.03 33 Kantor Camat Moyo Hulu 322,408,640.00 277,261,320.00 86.00 34 Kantor Camat Lunyuk 326,300,960.00 287,305,525.00 88.05 35 Kantor Camat Orong Telu 346,499,930.04 337,975,730.00 97.54 36 Kantor Camat Batulanteh 355,750,880.00 345,888,400.00 97.23
37 Kantor Camat Unter Iwis 325,936,580.00 273,860,010.00 84.02 38 Kantor Camat Labuhan Badas 322,246,780.00 308,109,963.00 95.61 39 Kantor Camat Rhee 353,059,500.00 304,573,025.00 86.27 40 Kantor Camat Utan 332,456,300.00 285,780,869.00 85.96 41 Kantor Camat Buer 290,156,200.00 250,776,445.00 86.43 42 Kantor Camat Alas 354,390,500.00 308,453,673.00 87.04 43 Kantor Camat Alas Barat 307,645,900.00 258,117,845.00 83.90 44 Kantor Camat Ropang 339,721,990.04 334,182,020.00 98.37 45 Kantor Camat Lenangguar 292,950,480.00 220,661,583.00 75.32 46 Kantor Camat Lantung 258,713,640.00 248,442,085.00 96.03 47 Kantor Ketahanan Pangan 1,041,754,876.00 961,176,003.00 92.27 48 BPM dan Pemdes 3,662,926,430.00 3,194,825,726.00 87.22 49 Dinas Pertanian Tanaman Pangan 7,417,672,510.00 7,286,650,174.00 98.23 50 Dinas Peternakan 5,345,832,820.00 5,234,056,177.00 97.91
51 BP4K 1,900,677,296.00 1.779.495.408,00 93,62
52 Dinas Kehutanan 5,729,751,341.00 5,434,437,606.00 94.85 53 Dinas Pertambangan & Energi 1,148,072,121.00 1.025.054.752,00 89,28 54 Dinas Pemuda, OR, dan Budpar 2,523,288,363.00 2,427,660,791.00 96.21 55 Dinas Kelautan dan Perikanan 10,000,174,520.00 9,346,198,187.00 93.46
BAB III
IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJA KEUANGAN
3.1. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Target Kinerja Keuangan
Pencapaian kinerja keuangan tergambar pada pencapaian/realisasi anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan. Berikut disajikan gambaran realisasi APBD tahun anggaran 2011 dan perbandingan dengan realisasi tahun anggaran 2010.
Tahun 2011 Tahun 2010 Realisasi Kenaikan A. PENDAPATAN
1 Pendapatan Asli Daerah 97,236,896,920.05 89,055,715,571.60 35,809,035,049.00 91.59 148.70 2 Pendapatan Transfer 742,479,807,139.65 748,024,867,990.65 624,619,342,946.30 100.75 19.76
3 Lain-lain Pendapatan Yang Sah - - - -
-Jumlah Pendapatan 839,716,704,059.70 837,080,583,562.25 660,428,377,995.30 99.69 26.75 B. BELANJA
1 Belanja Operasi 670,026,116,000.06 626,195,685,243.55 569,607,828,732.88 93.46 9.93 2 Belanja Modal 208,794,645,691.80 171,627,492,281.00 96,916,124,581.00 82.20 77.09
3 Belanja Tak Terduga 1,523,287,687.50 419,908,900.00 - 27.57
-4 Transfer-Bagi Hasil Retribusi 329,700,000.00 329,600,000.00 317,100,000.00 99.97 3.94 Jumlah Belanja 880,673,749,379.36 798,572,686,424.55 666,841,053,313.88 90.68 19.75 Surplus/Defisit (40,957,045,319.66) 38,507,897,137.70 (6,412,675,318.58) 94.02 (700.5) D. PEMBIAYAAN
1 Penerimaan Pembiayaan 53,440,768,193.66 53,115,278,926.66 66,534,676,680.24 99.39 (20.17) 2 Pengeluaran Pembiayan 12,483,722,874.00 9,983,722,874.00 6,936,110,695.00 79.97 43.94
Jumlah Pembiayaan Netto 40,957,045,319.66 43,131,556,052.66 59,598,565,985.24 105.31 (27.63)
SiLPA - 81,639,453,190.36 53,185,890,666.66 53.50
No Uraian Anggaran setelah %
Perubahan
Realisasi (Rp)
Pada bagian pendapatan, terjadi kurang realisasi pendapatan sebesar Rp.2.636.120.497,45 yaitu dari anggaran setelah perubahan sebesar Rp.839.716.704.059,70 terealisasi sebesar Rp837.080.583.562,25 atau 99,69%.
Sementara itu dari sisi belanja, terdapat efisiensi pengeluaran sebesar Rp.82.101.062.954,81 yaitu dari anggaran setelah perubahan sebesar Rp.880.673.749.379,36 terealisasi sebesar Rp.798.572.686.424,55 atau 90,68%.
Pada pembiayaan netto, terjadi pelampauan realisasi pembiayaan netto sebesar Rp.2.174.510.733,00 yaitu dari anggaran setelah perubahan sebesar Rp.40.957.045.319,66 terealisasi sebesar Rp.43.131.556.052,66 atau 105,31%.
Dari pelampauan anggaran pendapatan, efisiensi belanja serta defisit pembiayaan netto menghasilkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) tahun anggaran 2011 sebesar Rp.81.639.453.190,36. Saldo SILPA ini akan memberikan fleksibilitas pengelolaan APBD untuk tahun mendatang.
Capaian bagian pendapatan sebesar Rp.837.080.583.562,25 atau 99,69% dari anggaran terinci untuk masing-masing komponen pendapatan sebagai berikut:
a. Pendapatan Asli Daerah, target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.97.236.896.920,05 terealisasi sebesar Rp.89.055.715.571,60 atau 91,59%.
b. Pendapatan Transfer, target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.742.479.807.139,65 terealisasi sebesar Rp.748.024.867.990,65 atau 100,75%.
c. Lain-lain Pendapatan yang Sah, target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.0,00, terealisasi sebesar Rp. 0,00 atau 0,00%.
Capaian bagian belanja sebesar Rp.798.572.686.424,55 atau 90,68% dari anggaran sebesar Rp.880.673.749.379,36 terinci untuk masing-masing komponen belanja sebagai berikut:
a. Belanja Operasi, target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.670.026.116.000,06 terealisasi sebesar Rp.626.195.685.243,55 atau 93,46%.
b. Belanja Modal, target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.208.794.645.691,80 terealisasi sebesar Rp.171.627.492.281,00 atau 82,20%.
c. Belanja Tak Terduga, target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.1.523.287.687,50 terealisasi sebesar Rp.419.908.900,00 atau 27,57%.
d. Transfer-Bagi Hasil Retribusi, target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.329.700.000,00 terealisasi sebesar Rp.329.600.000,00 atau 99,97%.
Capaian bagian pembiayaan netto sebesar Rp.43.131.556.052,66 atau 105,31% dari anggaran sebesar Rp.40.957.045.319,66 terinci untuk penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan sebagai berikut:
a. Jumlah penerimaan pembiayaan dengan target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.53.440.768.193,66 terealisasi sebesar Rp.53.115.278.926,66 atau 99,39%.
b. Jumlah pengeluaran pembiayaan dengan target anggaran setelah perubahan sebesar Rp.12.483.722.874,00 terealisasi sebesar Rp.9.983.722.874,00 atau 79,97%.
Dibandingkan dengan realisasi APBD tahun 2010, realisasi pendapatan 2011 mengalami kenaikan sebesar Rp.176.652.205.566,95 atau 26,75%, yaitu dari Rp.660.428.377.995,30 pada tahun 2010 menjadi Rp.837.080.583.562,25 pada tahun 2011. Dari sisi belanja, terjadi kenaikan realisasi sebesar Rp.131.731.633.110,67 atau 19,75%, yaitu dari Rp.666.841.053.313,88 pada tahun 2010 menjadi
Rp.798.572.686.424,55 pada tahun 2011. Dari sisi pembiayaan, terjadi penurunan realisasi pembiayaan netto sebesar Rp.16.467.009.932,58 atau 27,63%, yaitu dari Rp.59.598.565.985,24 di tahun 2010 menjadi Rp.43.131.556.052,66 pada tahun 2011.
Sedangkan dari sisi SiLPA terjadi kenaikan sebesar Rp.28.453.562.523,70 atau 53,50% yaitu Rp.53.185.890.666,66 di tahun 2010 menjadi Rp.81.639.453.190,36 di tahun 2011.
3.2. Derajat Kemandirian
Berdasarkan realisasi APBD dapat diukur tingkat kemandirian Pemerintah Kabupaten Sumbawa dengan menggunakan ukuran beberapa rasio atau perbandingan sebagai berikut:
1) PAD terhadap Belanja
Perbandingan PAD terhadap jumlah Belanja adalah sebagai berikut : PAD
= 89.055.715.571,60
X 100 = 11,16%
Belanja 798.572.686.424,55
Capaian tersebut menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumbawa hanya mampu mendanai belanja daerah sebesar 11,16%, sedangkan sisanya dibiayai dari dana perimbangan yang diperoleh dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi.
2) PAD terhadap Belanja Operasi
Perbandingan PAD terhadap jumlah belanja operasi adalah sebagai berikut : PAD
= 89.055.715.571,60
X 100 = 14,22%
Blj Operasi 626.195.685.243,55
Capaian tersebut menunjukkan bahwa PAD Kabupaten Sumbawa hanya mampu mendanai belanja operasi sebesar 14,22%, sedangkan sisanya dibiayai dari dana perimbangan dan pendapatan lainnya.
3) PAD dan Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak terhadap Belanja
Perbandingan PAD dan Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak terhadap jumlah Belanja adalah sebagai berikut :
PAD + BHP+BHBP
=
156.137.698.882,25
X 100 = 19,55%
Belanja 798.572.686.424,55
Capaian tersebut menunjukkan bahwa PAD Kab. Sumbawa ditambah dengan Pendapatan Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak dari Pemerintah Pusat dan Provinsi baru mampu menutup belanja sebesar 19,55%, sedangkan sisanya dibiayai dari dana perimbangan dan pendapatan lainnya.
4) PAD dan Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak terhadap Belanja Operasi
Perbandingan PAD dan Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak terhadap jumlah Belanja Operasi adalah sebagai berikut :
PAD +
BHP+BHBP = 156.137.698.882,25
X 100 = 24,93%
Belanja Operasi 626.195.685.243,55
Capaian tersebut menunjukkan bahwa bahwa Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sumbawa ditambah dengan Pendapatan Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi hanya mampu menutup belanja operasi sebesar 24,93%, sedangkan sisanya dibiayai dari dana bantuan keuangan/perimbangan dan pendapatan lainnya.
BAB IV
KEBIJAKAN AKUNTANSI
4.1. Entitas Pelaporan Keuangan Daerah
Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Unit Organisasi Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa sebagai entitas akuntansi terdiri dari 57 Satker. Sedangkan selaku entitas pelaporan Keuangan Daerah adalah Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang berada pada Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset. SKPD selaku entitas akuntansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumbawa terdiri dari :
No Uraian Jumlah
1 Sekretariat 2
2 Kepala Daerah & Wakil 1
3 DPRD 1
4 Dinas 15
5 Badan 8
6 Kantor 4
7 Inspektorat 1
8 RSUD 1
9 Kecamatan 24
Jumlah 57
4.2. Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
Basis akuntansi yang digunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan Kabupaten Sumbawa tahun 2011 adalah sebagai berikut:
Basis Kas (cash basis) untuk penyusunan Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas
Pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Daerah dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Daerah.
Basis Akrual (accrual basis) untuk penyusunan Neraca
Aset, kewajiban dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.
4.3. Basis Pengukuran yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Pengukuran pos-pos dalam laporan keuangan menggunakan nilai perolehan historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara
kas atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut. Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal.
Dengan pengukuran aset dan kewajiban dapat ditentukan pengukuran aset kewajiban dapat ditentukan pengukuran untuk ekuitas karena ekuitas diperoleh dengan cara mengurangkan kewajiban dan aset.
4.4. Penerapan Kebijakan Akuntansi Berkaitan dengan Ketentuan yang Ada dalam Standar Akuntansi Pemerintah
Berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang SAP, penerapan SAP dalam Laporan keuangan pemerintah diberlakukan efektif untuk pelaporan keuangan sejak tahun anggaran 2005. Secara rinci, kebijakan akuntansi yang diterapkan terkait dengan penyusunan Laporan Keuangan tahun 2011 adalah sebagai berikut:
A. NERACA
Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal pelaporan. Neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas dana (net asset).
Neraca merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal pelaporan. Neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas dana (net asset).