• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENCANA ALAM

Dalam dokumen BUKU LAPORAN SLHD 2011 (Halaman 90-94)

Kualitas Udara Parameter Debu Kota Balikpapan

F. BENCANA ALAM

Kota Balikpapan termasuk dalam kepulauan Kalimantan yang secara geologis merupakan daerah relative stabil karena pada posisi cekungan belakang (back arc basin). Batuan penyusun yang mempunyai daya kohesif rendah dengan topografi 85% berbukit sangat rentan terhadap bahaya gerakan tanah baik itu longsoran, amblesan maupun nendatan. Gerakan tanah ini biasanya berasosiasi dengan patahan atau sesar. Sesar di Kota Balikpapan dijumpai di sekitar Jln. Mayjen Sutoyo dan di Kampung Damai. Kondisi ini menyebabkan beberapa wilayah Kota Balikpapan rentan terhadap bahaya longsor dan amblesan. Selain mitigasi dan penanganan bencana yang disebabkan oleh alam (natural disaster) harus dilakukan, bencana yang disebabkan non alam (man-made disaster) juga harus diantisipasi melalui langkah- langkah strategis untuk melindungi setiap warga dengan melakukan manajemen bencana. Bencana non alam terutama kebakaran masih sering terjadi di Kota Balikpapan akibat kelalaian manusia.

Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana.

Secara umum kegiatan manajemen bencana dapat dibagi kedalam tiga kegiatan utama, yaitu:

1. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, serta peringatan dini;

2. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan Search and Rescue (SAR), bantuan darurat dan pengungsian;

3. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Manajemen bencana ini bertujuan untuk : (1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan manusia; (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.

Selama ini, di dalam praktek penanggulangan bencana masih ditekankan pada saat serta pasca

terjadinya bencana. Sementara itu, pada tahap pra bencana masih terbatas pada tahapan pencegahan. Kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. Kegiatan pada tahap sebelum terjadinya bencana, dikenal dengan istilah Mitigasi atau penjinakan/peredaman.

Menurut Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, pasal 1, ayat (9),

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana”.

LAPORAN STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2011 II. 66

Secara umum, dalam prakteknya mitigasi dapat dikelompokkan ke dalam mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural berhubungan dengan usaha-usaha pembangunan konstruksi fisik, sementara mitigasi non struktural antara lain meliputi perencanaan tata guna lahan disesuaikan dengan kerentanan wilayahnya dan memberlakukan peraturan (law enforcement) pembangunan.

Upaya mitigasi dan tindakan-tindakan antisipasinya adalah syarat mutlak untuk dapat hidup berdampingan dengan bencana yang sering terjadi di Kota Bandung seperti Bencana Alam (Natural disaster), Bencana Non-Alam (Man-made disaster), dan Wabah Penyakit Menular.

Dengan upaya mitigasi terhadap bencana-bencana tersebut dapat mengurangi resiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang.

Data dan Informasi kejadian bencana di Kota Balikpapan pada tahun 2006 - 2009 adalah sebagai berikut:

1. Bencana Alam

a. Banjir

Bencana Banjir terjadi pada tahun 2006 sebanyak 5 kali akibat curah hujan sangat tinggi, kondisi air pasang dan drainase yang berfungsi tidak optimal. Tidak ada bencana banjir pada tahun 2007-2009. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran, selama periode Januari – Juli 2011 telah terjadi 5 kali banjir. Banjir terjadi pada kawasan yang memang saat curah hujan tinggi selalu terjadi banjir . Kerugian dihitung sebesar Rp. 35.000.000,- dengan dengan kerugian terbesar dihitung terjadi pada tanggal 20 April 2011. Selama periode tersebut luas kawasan banjir mencapai 25,85 Ha. Kawasan banjir terluas terjadi pada tanggal 28 Juni 2011 mencapai 5 Ha terjadi Kelurahan Gunung Sari Ulu, Kelurahan Damai, Kelurahan Gunung Bahagia dan Kelurahan Klandasan Ilir. Banjir di kawasan tersebut disebabkan karena belum optimalnya fungsi drainase Sungai Ampal yang saat ini masih dalam proses pelebaran dan normalisasi. Tidak lancarnya proses pelebaran dan normalisasi karena masih adanya masyarakat yang belum bersedia membebaskan lahan yang dibutuhkan.

LAPORAN STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2011 II. 67

Gambar 2.61 Grafik Sebaran Luasan Banjir Januari – Juli 2011

Pada bulan September 2011 juga terjadi beberapa kali banjir akibat curah hujan yang cukup tinggi, yaitu :

 28 Juni 2011 terjadi banjir di Jalan MT. Haryono, Jalan Kawasan Gunung Malang, Gunung Guntur dan Gunung Sari Ilir. Selain karena curah hujan yang tinggi terjadinya banjir juga disebabkan tidak optimalnya fungsi draianase sepanjang jalan. Pada bencana ini terjadi kerusakan pagar beton salah satu supermarket di jalan kawasan Gunung Malang.

 5 September 2011 terjadi banjir di Jalan Al Makmur RT.39 dan RT .40 dengan ketinggian genangan mencapai 1,5 meter dan merendam 91 rumah.

b. Angin Puting Beliung

Angin putting beliung terjadi pada tahun 2006 dan hingga tahun 2011 tidak terjadi angin puting beliung.

c. Longsor

Pada periode bulan Januari sampai Juli 2011 terjadi 4 (empat) kali bencana longsor. Kerusakan terbesar terjadi pada tanggal 18 Mei 2011 yang mengakibatkan 5 unit rumah rusak dengan nilai kerugian mencapai 350.000.000,-. Kerugian terendah adalah Rp. 10.000.000,- terjadi di Kelurahan Gunung Sari Ilir dan Kelurahan Prapatan.

LAPORAN STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2011 II. 68

Kebakaran merupakan bencana non alam yang sering terjadi. Volume kejadian kebakaran sebanyak 38 kali. Terjadi kenaikan kejadian kebakaran dari tahun 2006 – 2009. Pada tahun 2006 terjadi 6 kali kebakaran, meningkat menjadi 8 kali pada tahun 2007, dan pada tahun 2008 dan 2009 terjadi 12 kali kebakaran.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran, selama periode Januari – Juli 2011 telah terjadi

Sampai September 2011 menurut Badan Penanggulangan Bencana Kebakaran (BPBK) tercatat terjadi 31 kasus kebakaran dengan rincian kebakaran lahan akibat musim kemarau sebanyak 22 kasus dan kebakaran di permukiman sebanyak 7 kasus. Dibandingkan pada tahun 2010, kasus kebakaran pada tahun 2011 meningkat meskipun skala lebih kecil.

Lokasi kebakaran lahan adalah sebagai berikut:

1. Hutan Kota Bukit Radar Gunung Guntur seluas kurang lebih 5 Ha 2. Lahan di Bukit Cinta seluas kurang lebih 3 Ha

3. Kelurahan Karang Joang Km.18 dan Km.19 seluas 18 Ha 4. Kawasan Hutan Kota Kelurahan Kariangau seluas 5 Ha 5. Lahan di sekitar DAS Manggar seluas 1, 5 Ha

6. Lahan di sekitar DAS Manggar seluas 2,5 Ha.

Hampir semua kasus kebakaran lahan disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar yang dilakukan oleh masyarakat pemilik lahan.

BAB III

TEKANAN TERHADAP

Dalam dokumen BUKU LAPORAN SLHD 2011 (Halaman 90-94)