BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bencana Alam Longsoran
Longsoran atau gerakan massa erat kaitannya dengan proses-proses yang terjadi secara ilmiah pada suatu bentang alam. Bentang alam merupakan suatu bentukan alam pada permukaan bumi misalnya bukit, perbukitan, gunung, pegunungan, dataran dan cekungan (Dwikorita, 2005; Pratiwi dan Nugraha, 2016).
Tanah Longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda daerah tropis basah. Kerusakan yang ditimbulkan oleh gerakan massa tidak hanya kerusakan secara langsung seperti rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, ataupun adanya korban manusia, akan tetapi juga kerusakan secara tidak langsung yang melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya (Hardiyatmo, 2006; Bokko, 2019).
Pengertian Tanah Longsor Tanah longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah (Wahyono, dkk., 2011). Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan faktor-faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut (Faizana, dkk., 2015).
Penyebab Terjadinya Tanah Longsor Banyak faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng yang megakibatkan terjadinya longsoran. Faktor-faktor tersebut semacam kondisi-kondisi geologi dan hidrografi, topografi, iklim dan perubahan cuaca (Bokko, 2019). Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong
15 pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan (Hungr, 2014; Ulfa, dkk., 2016).
Menurut Varnes (1978) jenis tanah longsor di Indonesia diantaranya:
a) SLIDE: terdiri dari Rotational Slide, Translational Slide dan Block Slide.
1) Rotational Slide adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung ke atas, dan pergerakan longsornya secara umum berputar pada satu sumbu yang sejajar dengan permukaan tanah.
2) Translational Slide adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata dengan sedikit rotasi atau miring ke belakang.
3) Block Slide adalah pergerakan batuan yang hampir sama dengan Translational Slide, tetapi massa yang bergerak terdiri dari blok-blok yang koheren.
Gambar 2.1. Rotational Slide, Translational Slide dan Block Slide.
b) FALL: adalah gerakan secara tiba-tiba dari bongkahan batu yang jatuh dari lereng yang curam atau tebing. Pemisahan terjadi di sepanjang kekar dan perlapisan batuan. Gerakan ini dicirikan dengan terjun bebas, mental dan menggelinding. Sangat dipengaruhi oleh gravitasi, pelapukan mekanik, dan keberadaan air pada batuan.
16
Gambar 2.2. Tipe/Jenis longsoran Fall.
c) TOPPLES: gerakan ini dicirikan dengan robohnya unit batuan dengan cara berputar kedepan pada satu titik sumbu (bagian dari unit batuan yang lebih rendah) yang disebabkan oleh gravitasi dan kandungan air pada rekahan batuan.
Gambar 2.3. Tipe/Jenis longsoran Topples.
d) FLOWS: gerakan ini terdiri dari 5 ketegori yang mendasar.
1) Debris Flow adalah bentuk gerakan massa yang cepat di mana campuran tanah yang gembur, batu, bahan organik, udara, dan air bergerak seperti bubur yang mengalir pada suatu lereng. Debris flow biasanya disebabkan oleh aliran permukaan air yang intens, karena hujan lebat atau pencairan salju yang cepat, yang mengikis dan memobilisasi tanah gembur atau batuan pada lereng yang curam.
2) Debris Avalance adalah longsoran es pada lereng yang terjal. Jenis ini adalah merupakan jenis aliran debris yang pergerakannya terjadi sangat cepat.
17 3) Earthflow berbentuk seperti "jam pasir". Pergerakan memanjang dari material halus atau batuan yang mengandung mineral lempung di lereng moderat dan dalam kondisi jenuh air, membentuk mangkuk atau suatu depresi di bagian atasnya.
4) Mudflow adalah sebuah luapan lumpur (hampir sama seperti Earthflow) terdiri dari bahan yang cukup basah, mengalir cepat dan terdiri dari setidaknya 50% pasir, lanau, dan partikel berukuran tanah liat.
5) Creep adalah perpindahan tanah atau batuan pada suatu lereng secara lambat dan stabil.
Gambar 2.4. Tipe/Jenis longsoran Flows; Debris Flow, Debris Avalance, Earthflow, Mudflow, dan Creep.
e) LATERAL SPREADS: umumnya terjadi pada lereng yang landai atau medan datar. Gerakan utamanya adalah ekstensi lateral yang disertai dengan kekar geser atau kekar tarik. Ini disebabkan oleh likuifaksi, suatu proses dimana tanah menjadi jenuh terhadap air, loose, kohesi sedimen (biasanya pasir dan lanau) perubahan dari padat ke keadaan cair.
Gambar 2.5. Tipe/Jenis longsoran Lateral Spreads
18 2.2. Pemodelan Spasial Longsoran
Model dapat diartikan sebagai suatu representasi terhadap realitas ruang dilakukan oleh seorang pemodel. Dengan kata lain, model merupakan suatu penghubung antara dunia nyata (real world) dengan dunia berpikir (thinking) yang dilakukan dengan tujuan untuk menyelesaikan suat permasalahan. Proses penjabaran atau representasi suatu model disebut sebagai modelling atau pemodelan. Pemodelan merupakan suatu proses berpikir melalui sekuen yang logis.
Pemodelan juga dapat dijelaskan sebagai suatu proses menerima, memformulasikan, memproses, dan menampilkan kembali persepsi dunia nyata (Marfai. 2015).
Bonham-Carter (1994) menjelaskan bahwa suatu proses dalam mendefinisikan dan mengorganisasi suatu data atau informasi tentang dunia nyata menjadi suatu dataset digital yang konsisten dan yang berguna serta mengandung informasi disebut dengan pemodelan data. Sedangkan kumpulan dari berbagai konsep yang berfungsi untuk menjelaskan suatu data, hubungan antardata, maupun batasan-batasan dalam suatu data yang terintegrasi dalam suatu organisasi disebut dengan model data (Mardia, dkk., 2021).
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam suatu proses pemodelan data.
Pertama, data atau informasi dari dunia nyata harus dideskripsikan sebagai suatru model data. Kedua, pemilihan struktur data dilakukan untuk merepresentasikan model data tersebut sehingga akan menentukan dan mempengaruhi pemilihan format file yang sesuai dengan struktur data tersebut (Marfai. 2015).
19 Dalam suatu pemodelan, terdapat istilah “there is no such thing as one to one mapping” (Fauzi dan Anna, 2005), yang berarti tidak ada peta satu banding satu. Istilah tersebut dapat berarti bahwa pemodelan tidak dapat secara utuh menggambarkan apa yang ada/terjadi di dunia nyata. Dunia nyata mempunyai berbagai macam komponen yang saling terkait dan saling mempengaruhi.
Keseluruhan komponen tersebut tidak dapat direpresentasikan secara simbolis dalam model (Arif, 2017).
Kumpulan dari berbagai macam data atau informasi yang saling terkait dan segala hal yang diperlukan untuk mengolah dan menggunakan data tersebut disebut dengan database (Berlage, 1989) dalam Bonham-Carter (1994) disebutkan bahwa suatu sistem manajemen database merupakan suatu kumpulan dari berbagai perangkat lunak yang digunakan untuk menyimpan, mengedit, dan menyalurkan data dalam suatu database.
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem (berbasiskan komputer) yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis (Irwansyah, 2013; Adil & Kom, 2017). SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis obyek-obyek dan fenomena dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang memiliki empat kemampuan berikut dalam menangani data yang bersifat rutgeografi: (a) masukan, (b) manajemen data (penyimpanan dan pengambilan data), (c) analisis dan manipulasi data, (d) keluaran (Aronoff, 1989).
Model Analisis Kerawanan Longsor Nilai bobot dan skor dari penilaian AHP (Analytical Hierarchy Process) diperingkatkan dari yang paling tinggi sampai
20 yang paling rendah sebanding dengan bahaya yang tanah longsor (Mustafa, dkk., 2019). Semakin tinggi bobot dan skor, maka semakin tinggi pula potensi tanah longsor yang akan terjadi.
21 BAB III. METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode survey. Survei adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan sejumlah besar data berupa variabel, unit, atau individu dalam waktu yang bersamaan (Prajitno, 2013).
Data dikumpulkan melalui individu atau sampel fisik tertentu dengan tujuan agar dapat menggeneralisasikan terhadap apa yang akan diteliti.
3.2. Alat dan Bahan Penelitian
a. Alat yang digunakan dalam penelitian digunakan antara lain:
1. Seperangkat komputer dan software yang digunakan untuk mengolah data, mulai dari input, proses dan output setiap variabel data spasial.
2. Kamera yang digunakan untuk mendokumetasikan setiap kondisi yang terjadi di lapangan
3. GPS (global posistioning system) yang digunakan untuk mengambil data terkait lokasi setiap variabel data spasial
4. Abney level dan clinometer yang digunakan untuk mengambil data kemiringan lereng
5. Alat tulis lainnya yang digunakan untuk melengkapi dan membantu dalam pengambilan data.
6. Kamera digunakan untuk dokumentasi data lapangan.
b. Bahan yang digunakan dalam penelitian antara lain:
1. Peta RBI digital skala 1:50.000
22 2. Peta curah hujan BMKG Kabupaten Tanggamus tahun 2019
3. Peta Geologi Kabupaten Tanggamus (BPN) tahun 2013 4. Peta Jenis Tanah Kabupaten Tanggamus (BPN) tahun 2013
5. Peta Penggunaa Lahan Kabupaten Tanggamus (BAPPEDA) tahun 2019 6. Peta Kemiringan Lereng Kabupaten Tanggamus (BAPPEDA) tahun 2019
3.3. Subjek dan Objek Penelitian a. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah individu, benda, atau organisme yang dijadikan sumber informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian (Sugiyono, 2010). Subjek dalam penelitian ini adalah longsor di Kecamatan Limau Kabupaten Tanggamus.
b. Objek Penelitian
Objek penelitian merupakan bagian dari populasi. Sugiyono (2010) mendefinisikan populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Objek dalam penelitian ini adalah longsor di Kecamatan Limau Kabupaten Tanggamus.
3.4. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel a. Variabel Penelitian
Variabel dapat didefinisikan sebagai atribut dari seseorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek
23 yang lain (Ridha, 2017).Variabel dalam penelitian ini adalah: curah hujan, geologi, jenis tanah, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan
b. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel adalah mendefinisikan variabel secara operasional dan berdasarkan karakteristik yang diamati sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek penelitian (Siyoto, dan Sodik, 2015). Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Curah Hujan
Pengaruh curah hujan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gerakan tanah sehingga daerah yang mempunyai curah hujan yang tinggi relatif akan memberikan bahaya gerakan tanah yang lebih tinggi (Adi, 2013). Klasifikasi intensitas curah hujan disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Klasifikasi Intensitas Curah Hujan
No. Intensitas hujan (mm/tahun) Parameter Skor
1 > 3.000 Sangat basah 5
2 2.500 – 3.000 Basah 3
3 2.000 – 2.500 Sedang/lembab 1
Sumber: Puslitanak (2004); Yananto dan Sibarani, 2016).
2. Keadaan Geologi
Jenis batuan yang menyusun suatu daerah mempunyai bahaya yang berbeda satu sama lain. Berdasarkan besar butirnya, batuan yang berbutir halus pada umumnya mempunyai bahaya terhadap gerakan tanah yang lebih tinggi, sedangkan bila dilihat dari kekompakannya maka batuan yang kompak dan masif lebih kecil
24 kemungkinan terkena gerakan tanah (Sulistyo, 2016). Klasifikasi jenis batuan disajikan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Klasifikasi Jenis Batuan
No. Jenis batuan Skor
1 Bahan Volkanik-2 (Qvsb, Qvst, Qvb, Qvt) dan bahan Sediment-2 (Tmb, Tmbl, Tmtb)
5
2 Bahan Sediment-1 (Tmn, Tmj) 4
3 Bahan Volkanik-1 (Qvsl, Qvu, Qvcp, Qvl, Qvpo, Qvk, Qvba) 3
4 Bahan Aluvial (Qav, Qa, a) 1
Sumber: Puslitanak (2004; Paratiningtyas, 2015).
3. Jenis Tanah
Jenis tanah yang memiliki potensi untuk terjadinya longsor terutama bila terjadi hujan adalah jenis tanah yang kurang padat dalam hal ini adalah tanah yang mempunyai tekstur pasir dan tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m (Kodoatie, 2021). Klasifikasi jenis tanah disajikan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Klasifikasi Jenis Tanah Terhadap Kepekaan Longsor
No. Jenis Tanah Kepekaan Tanah Skor
1 Aluvial, Gleisol, Planosol, Hidromorf kelabu, Laterik air tanah
Tidak peka 5
2 Latosol Agak peka 4
3 Brown forest soil, Non calcik brown, Mideteranian Agak peka 3 4 Andosol, Laterik, Grumosol, Podsol, Podsolik Peka 2
5 Regosol, Litosol, Renzina Sangat Peka 1
Sumber: Faizana, dkk., 2015.
4. Kemiringan Lereng
Tanah longsor umumnya dapat terjadi pada wilayah berlereng. Makin tinggi kemiringan lahannya akan semakin besar potensi longsornya (Arsyad, dkk., 2018).
Klasifikasi kemiringan lereng tersebut dapat dilihat pada tabel 3.4.
25 Tabel 3.4. Klasifikasi Kemiringan Lereng
No Kelas (%) Bentuk lereng Skor
Sumber: Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (1986; Nafi dan Rizky, 2017).
5. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan seperti persawahan maupun tegalan dan semak belukar, terutama pada daerah-daerah yang mempunyai kemiringan lahan terjal umumnya sering terjadi tanah longsor (Hardianto, dkk., 2020). Klasifikasi penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel 3.5.
Tabel 3.5. Kelas Penggunaan Lahan.
No Penggunaan Lahan Skor
1 Lahan-lahan kosong 5
2 Kawasan industri dan permukiman / perkampungan 4
3 Perkebunan dan sawah irigasi 3
4 Kebun campuran/semak belukar 2
5 Hutan/vegetasi lebat dan badan-badan air 1
Sumber: Puslitanak (2004; Maullana, dan Darmawan, 2014).
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, ada tiga teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu:
Dokumentasi, Observasi, dan Wawancara.
3.6. Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2010), analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis
26 data berupa: Analisis Tumpang Susun (Map Overlay), dan Pengharkatan (Scoring) dengan formula:
K = 𝑠𝑡−𝑠𝑟
∑𝑖𝑘
Keterangan:
st = total skor tertinggi sr = total skor terendah
∑ik = jumlah interval kelas Sebagai contoh:
K = 25−5
3
K = 20
3
K = 6,66 = 7 (hasil pembulatan)
Dengan demikian interval kerawanan longsor adalah:
a. Dikatakan sangat rawan apabila mempunyai skor = ≥ 14 b. Dikatakan rawan apabila mempunyai skor = 6-13 c. Dikatakan tidak rawan apabila mempunyai skor = ≤ 5
27 3.7. Alur Penelitian
Gambar 3.1. Alur Penelitian Analisis Daerah Rawan Longsor di Kecamataan Limau Kabupaten Tanggamus Tahun 2021.
28 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian a. Curah Hujan
Curah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor. Infiltrasi air hujan ke dalam lapisan tanah akan menjenuhi tanah dan melemahkan material pembentuk lereng sehingga memicu terjadinya longsor (Yasirwan, 2016). Hujan dengan curahan dan intensitas yang tinggi akan memberikan bahaya gerakan tanah yang lebih tinggi. Berikut disajikan tabel 4.1 dan gambar 4.1. sebaran spasial curah hujan di Kecamatan Limau.
Tabel 4.1. Luasan Curah Hujan di Kecamatan Limau Tahun 2020
No. Curah Hujan Luas (km2) Persen
1 2000-2500 mm 99,15 47,37
2 2500-3000 mm 110,14 52,63
Total 209,29 100,00
Sumber: Hasil Pengolahan Data, Tahun 2020.
Gambar 4.1. Peta Curah Hujan Kecamatan Limau
29 Berdasarkan tabel peta di atas, dapat diketahui bahwa curah hujan di Kecamatan Limau terbagi menjadi dua jenis yakni 2000-2500 mm dan 2500-3000 mm. Curah hujan dengan intensitas 2500-3000 mm merupakan curah hujan yang mendominasi daerah Kecamatan Limau yakni dengan luasan sebesar 110,4 km2 (52,63%) dari keseluruhan luas Kecamatan Limau. Sedangkan untuk daerah curah hujan dengan intensitas hujan 2000-2500 merupakan curah hujan yang paling kecil dengan luasan sebesar 99,15 km2 atau 47,37% dari total luas keseluruhan Kecamatan Limau. Sebaran spasial mengenai curah hujan di Kecamatan Limau dengan intensitas 2500-3000 mm terjadi pada hampir seluruh Desa Antarberak dan Desa Siom. Sementara untuk curah hujan dengan intensitas 2000-2500 mm tersebar di seluruh desa di Kecamatan Limau, seperti Desa Ketapang, Pariaman, Padang Ratu, Ampai, Banjar Agung, Tegineneng, Kuripan, dan Badak. Indikator dari iklim adalah curah hujan, dimana curah hujan yang dapat memicu terjadinya longsor, hal ini sangat erat kaitannya dengan faktor pemicu terjadinya longsor (Efendi; Hermon, 2012). Dengan curah hujan yang tinggi maka akan menyebabkan kondisi tanah menjadi gembur dan daya ikat tanah menjadi lemah sehingga kekuatan tanah dalam mejaga kestabilan menjadi hilang dan mudah terjadi erosi, pengikisan tanah dan longsor lahan. Longsor mudah terjadi setiap awal musim (Sriyono, 2012).
b. Kemiringan Lereng
Unsur topografi yang paling besar pengaruhnya terhadap bencana longsor adalah kemiringan lereng (Arifin, dkk., 2010; Indrawati & Priyono, 2016). Semakin curam lerengnya maka semakin besar dan semakin cepat longsor terjadi. Berikut disajikan tabel sebaran spasial kemiringan lereng di Kecamatan Limau.
30 Tabel 4.2. Luasan Kemiringan Lereng di Kecamatan Limau Tahun 2020
No Kemirngan Lereng Deskripsi Luas (km2) Persen
1 Kemiringan 25-45 % Curam 30,02 14,34
2 Kemiringan 15 - 25 % AgakCuram 179,27 85,66
Total 209,29 100,00
Sumber: Hasil Pengolahan, Tahun 2020.
Gambar 4.2. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Limau
Berdasarkan tabel dan peta di atas dapat diketahui bahwa di Kecamatan Limau memiliki dua kriteria kemiringan lereng yang curam dan agak curam dengan kemiringan sebesar 25-45% memiliki total luas wilayah sebesar 30,02 km2 atau 14,34% dari total luas wilayah Kecamatan Limau. Sedangkan untuk kemiringan lereng sebesar 15-25% merupakan kemiringan lereng yang mendominasi di wilayah Kecamatan Limau dengan luas sebesar 79,27 km2 atau 85,66% dari total keseluruhan wilayah Kecamatan Limau. Gambar berikut menunjukkan kondisi existing di lapangan yang terletak pada koordinat 5º33’40,86’’LS 104º52’24,5’’
31 dan 5º31’44,71’’LS, 104º50’3,66’’ BT. Data diambil pada saat survey tanggal 22 Agustus 2020 pukul 07.13 WIB.
a b
Gambar 4.3. Kemiringan Lereng Curam (a dan b) di Pekon Tanjung Siom I
c. Jenis Tanah
Faktor tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap longsor yang berbeda-beda. Kepekaan longsor tanah yaitu mudah atau tidaknya tanah longsor sebagai fungsi berbagai sifat fisik tanah dan kimia tanah (Harjowigeno, 1993). Berikut disajikan tabel dan sebaran spasial jenis tanah di Kecamatan Limau Tahun 2020.
Tabel 4.3. Luasan Jenis Tanah di Kecamatan Limau Tahun 2020
No. Jenis Tanah Luas (km2) Persen
1 Alluvial 6,79 3,24
2 Andosol 10,37 4,95
3 Latosol 192,13 91,80
Grand Total 209,29 100,00
Sumber: Hasil Pengolahan, Tahun 2020.
Pada tabel dan peta di atas menujukkan bahwa luas jenis tanah di Kecamatan Limau coba diketahui bahwa Kecamatan Limau memiliki tiga jenis tanah aluvial andosol, dan latosol. jenis tanah yang mendominasi di wilayah Kecamatan Limo adalah jenis tanah latosol dengan luas sebesar 192,3 km2 atau 91,82% dari total keseluruhan wilayah Kecamatan Limau. jenis tanah Andosol memiliki luasan sebesar 10,307 km2 atau 4,95% dari total keseluruhan wilayah
32 Kecamatan Limau sedangkan jenis tanah aluvial merupakan jenis tanah dengan luasan terkecil Yakni dengan luas sebesar 6,79 km2 atau 3,24% dari total keseluruhan wilayah Kecamatan Limau. Untuk melihat sebaran spasial mengenali jenis tanah di Kecamatan Limau berikut disajikan mengenai peta jenis tanah.
Gambar 4.4. Peta Jenis Tanah Kecamatan Limau d. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan sala satu penentu terjadinya longsor. Hal ini dikarenalan banyaknya perubahan penggunaan lahan yang telah terjadi, salah satu contohnya yakni lahan vegetasi (sebagai tutupan lahan) dari areal tegakan hutan atau vegetasi lebat menjadi kebun campuran, semak belukar, pemukiman, atau menjadi lahan kosong akan sangat berpengaruh besar terhadap kestabilan lereng terutama pada area hutan yang diubah menjadi lahan pertanian (Malingreau, 1977).
Berikut disajikan tabel dan peta sebaran spasial penggunaan lahan di Kecamatan Limau.
33 Tabel 4.4. Luasan Penggunaan Lahan di Kecamatan Limau Tahun 2020
No. Penggunaan Lahan Luas (km2) Persen
1 Hutan Lahan Kering Sekunder 9,12 4,36
2 Pemukiman 2,45 1,17
3 Perkebunan 15,42 7,37
4 Pertanian Lahan Kering campur Semak 176,88 84,51
5 Savanna 0,42 0,20
6 Semak/Belukar 4,93 2,36
7 Sungai 0,08 0,04
Total 209,29 100,00
Sumber: Hasil Rekapitulasi Data Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Limau Tahun 2020.
Gambar 4.5. Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Limau
Pada tabel dan peta di atas jenis penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Limau terbagi menjadi 7 jenis yakni hutan lahan kering, permukiman, perkebunan, pertanian lahan kering campur semak, Savana, semak belukar dan sungai atau badan air. Untuk luasan jenis penggunaan lahan yang mendominasi adalah pertanian lahan kering campur semak dengan total luas 176,88 km2 atau 8 4,51%
dari luas total wilayah Kecamatan Limau. Penggunaan lahan dengan luasan terkecil
34 yakni pada penggunaan jenis lahan Savana dengan luas 0,42 km2 atau 0,2% dan sungai dengan luasan sebesar 0,08 km2 atau 0,04%.
Jenis penggunaan lahan juga mempengaruhi terjadi longsro lahan.
penggunaan lahan non sawah, tanah longsor baru mulai terjadi pada wilayah dengan kemiringan lahan >8%. Namun pada lereng >25% penggunaan lahan sawah dan non sawah cenderung mempunyai longsor yang sama yakni menengah sampai tinggi. Lahan non sawah yang mengalami longsor umumnya terjadi pada penggunaan lahan semak belukar dan tegalan. Hal ini karena perakaran yang ada belum sanggup mengikat tanah.
a b
Gambar 4.6. Penggunaan Lahan Permukiman (a) di Pekon Tanjung Siom, lokasi Koordinat 5º33’38’’LS 104º44’31’’BT dan Gambar b Penggunaan Lahan
Savanna di Pekon Kuripan Kordinat 5º33’13’’LS 104º43’46’BT e. Geologi
Geologi merupakan salah satu pendorong terjadinya bencana longsor selain dari curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan dan jenis tanah. Geologi iendtik dengan proses pembetukan batuan itu sendiri (Ichsan, 2015). Untuk lebih jelas mengenai sebaran spasial tentang luasan geologi di Kecamatan Limau, dapat dilihat pada tabel dan peta berikut.
35 Tabel 4.5. Luasan Geologi di Kecamatan Limau Tahun 2020
No. Geologi Luas (km2) Persen
1 Sediment-1 190,34 90,95
2 Volkanik-1 18,95 9,05
Total 209,29 100,00
Sumber: Hasil Rekapitulasi Data Peta Geologi Kecamatan Limau Tahun 2020.
Gambar 4.7. Peta Geologi Kecamatan Limau
Tabel dan peta di atas dapat diketahui bahwa geologi di Kecamatan yang mau dibagi menjadi dua yakni sedimen dan vulkanik. luasan geologi berupa sedimen di Kecamatan Limau merupakan luasan yang mendominasi atau yang paling besar dengan luas yakni 190,34 km2 atau 90,95 % seluruh Kecamatan Limau.
sedangkan geologi dengan jenis vulkanik memiliki luasan sebesar 18,95 km2 atau 9,05 % dari total keseluruhan wilayah Kecamatan Limau.
Batuan sedimen terbentuk dari batuan-batuan yang telah ada yang mengalami pelapukan, dorongan oleh air, pengikisan-pengikisan oleh angin serta proses, diagnesa, transportasi dan litifikasi.Batuan ini terendapkan di tempattempat yang relatif lebih rendah letaknya dari batuan asalnya, misalnya di laut, samudera,
36 ataupun danau-danau. Mula-mula batuan sediment merupakan batuan-batuan yang lunak, akan tetapi karean proses diagenesa maka batuan-batuan lunak tadi berubah menjadi keras. Batuan sedimen yang terbentuk secara kimia ataupun organik mempunyai satu kesamaan yaitu terbentuk oleh akumulasi larutan-larutan.
Disamping batuan sedimen di atas, adapula sejenis batuan sejenis batuan sedimen yang sebagian besar mengandung bahan-bahan tidak larut, misalnya endapan puing pada lereng pegunungan sebagai hasil penghancuran batuan-batuan yang mengalami pelapukan, penyinaran matahari, ataupun kikisan angin.
Sedangkan Batuan beku adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan bumi yang dikenal sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan bumi yang dikenal sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Vulkanisme adalah kegiatan yang berkaitan dengan gerakan magma. Magma sebagai masa
Sedangkan Batuan beku adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan bumi yang dikenal sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan bumi yang dikenal sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Vulkanisme adalah kegiatan yang berkaitan dengan gerakan magma. Magma sebagai masa