• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3 Bencana Gempa dan Tsunami di Aceh

Istilah gempa bumi sesungguhnya bermacam-macam tergantung dari penyebabnya, misalnya gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan dan gempa buatan. Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke permukaan, gempa runtuhan banyak terjadi di pengunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar dam (penahan air) dikarenakan fluktuasi air dam (penahan air) dan gempa buatan adalah gempa yang dibuat oleh manusia seperti ledakan nuklir atau ledakan untuk mencari bahan mineral. Sedangkan gempa yang disebabkan oleh tabrakan/ tumbukan antar lempeng. Skala gempa tektonik jauh lebih besar di bandingkan dengan jenis gempa lainnya sehingga dampaknya lebih besar terhadap bangunan (Ella dan Usman, 2008).

Teori tentang gempa dikatakan bahwa lapisan kulit bumi dengan ketebalan 100 Km mempunyai temperatur relatif jauh lebih rendah di bandingkan dengan lapisan dalamnya (mantel dan inti bumi) sehingga terjadi aliran konveksi dimana massa dengan temperatur tinggi mengalir kedaerah temperatur rendah atau sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama berkembang untuk menerangkan

pergeseran lempeng tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi tektonik atau lebih dikenal dengan gempa bumi (Ella dan Usman, 2008).

Teori yang terbaru menerangkan bahwa gempa tektonik berasal dari dekade 1960-an. Menurut teori ini kerak bumi terdiri dari 14 lempeng tektonik besar dan puluhan lempeng kecil yang selalu bergerak. Lempengan ini terus bergerak karena bagian dalam bumi bentuknya adalah cairan pekat. Cairan-cairan tersebut selalu mengalir, walaupun rata-rata pergerakannya hanya beberapa sentimeter pertahun (Ella dan Usman, 2008).

Menurut Ella dan Usman (2008), bentuk lempengan yang tidak rata sering terjadi gesekan dalam pergerakan ini. Energi yang disebabkan oleh gesekan ini sebagian besar lepas dalam bentuk panas ke dalam bumi dan sebagian kecil saja yang terasa oleh kita sebagai goncangan atau di kenal sebagai energi seismik. Selain terjadi pergeseran lempeng bisa juga terjadi perekahan di dalam lempeng itu sendiri. Jika ada gaya yang bekerja cukup besar, maka lempeng kerak bumi akan retak dan mengakibatkan goncangan. Goncangan tersebut akan menyebabkan timbulnya patahan pada permukaan bumi.

Secara umum terdapat tiga tipe patahan, yaitu patahan normal, patahan balik dan patahan mendatar. Jika kekuatan gempa saling berlawanan arah maka akan terjadi saling tarik menarik sehingga menimbulkan patahan normal yang saling menjauh dan terjadi bidang naik turun, namun jika kekuatan gempa searah maka akan terjadi tumbukan sehingga menimbulkan patahan balik ada kedua bidang akan naik

turun, sedangkan jika arah kekuatan gempa bergeser ke kiri atau ke kanan maka patahan terjadi secara mendatar (Ella dan Usman, 2008).

Gempa bumi atau letusan gunung berapi yang terjadi di bawah laut mengakibatkan terjadinya kerak bumi keatas dan kebawah dan kemudian menyebabkan dasar laut naik dan turun secara tiba-tiba. Pergerakan naik dan turun dasar laut ini seterusnya menggerakkan air laut, menciptakan pergerakan gelombang yang kuat dan ketika gelombang ini sampai di pantai atau daratan, kecepatannya melambat dan tumbuh menjadi tembok air yang tinggi (Ella dan Usman, 2008).

Menurut Ella dan Usman (2008), laut yang dalam ukuran gelombang tsunami agak rendah, gelombang tampak seperti ombak biasa, tingginya hanya sekitar satu meter dan lewat tanpa disadari oleh kebanyakan nelayan, namun ketika mencapai laut dangkal gelombang tsunami tumbuh hingga tiga puluh meter. Dalam laut yang gelombang tsunami dapat bergerak hingga 900 km/jam, tapi ketika mencapai laut dangkal dekat daratan gelombang tersebut melambat. Pada kedalaman 15 meter kecepatannya bisa menjadi 45 km/jam, kecepatan ini masih terlalu sukar bagi orang-orang di pantai untuk dapat lari menyelamatkan diri.

Gelombang tersebut mendorong ke depan dengan berat lautan di belakangnya, ketika itu rumah dan bangunan roboh, jalan hilang, kapal terlempar, jembatan putus, manusia dan hewan terhempas dan tertarik ke laut serta semua yang tidak tertanam kuat di dalam tanah akan tercabut oleh tsunami (Ella dan Usman, 2008).

Gempa dengan 9.1 skala richter dan menyebabkan tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 merupakan salah satu bencana alam terbesar di dunia yang menimpa Indonesia. Setelah 45 menit terjadi gempa, gelombang tsunami menyapu bersih pesisir pantai NAD sepanjang 800 km hanya dalam beberapa menit. Gempa susulan yang terjadi pada tanggal 28 Maret 2005 menambah jumlah korban, termasuk di Nias, Simeulue dan Aceh Bagian Selatan (LIPI- UNESCO/ISDR, 2006).

Berdasarkan laporan bersama BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi) dan mitra internasional (Desember, 2005), dinyatakan bahwa bencana tersebut telah menyebabkan 167.900 orang meninggal atau hilang, 500.000 orang kehilangan rumah di Aceh, 13.500 orang kehilangan rumah di Nias. Laporan Media Center Aceh menyebutkan bahwa bencana tersebut telah menyebabkan 192.000 orang mengungsi, 120.000 rumah rusak/hancur serta sebagian besar infrastruktur ekonomi dan sosial juga rusak. Bagi semua korban yang tertimpa bencana, peristiwa tersebut telah meninggalkan beragam trauma yang mendalam. Korban jiwa yang begitu besar secara langsung mempengaruhi ketersediaan SDM di Aceh, maupun kemampuan kelembagaan pemerintah dan non pemerintah untuk merekonstruksi, merehabilitasi dan me-recovery wilayah yang rusak dan masyarakat yang tingkat ekonominya rentan dan miskin (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006).

Aceh dalam peta geologi termasuk wilayah yang rawan gempa, sehingga gempa dalam berbagai skala sering terjadi. Data seratus tahun terakhir menunjukkan

bahwa gempa yang menimbulkan bencana di Aceh terjadi pada tahun 1936 (9 orang meninggal), 1983 (100 orang luka-luka), 2004 (menimbulkan tsunami dan kurang lebih 230.000 orang meninggal). Hingga saat ini gempa skala kecil sering terjadi di NAD (Badan Arsip NAD, 2005).

Dalam seratus tahun terakhir, tsunami terjadi di Aceh sebanyak 2 kali (tahun 1907 dan 2004). Korban jiwa pada tsunami tahun 1907 mencapai 400 orang, sedangkan pada tahun 2004 mencapai kurang lebih 230.000 orang dengan kerusakan yang sangat parah pada berbagai infrastruktur dasar (Badan Arsip NAD, 2005).

Secara teoritis, tsunami lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan gempa. Adanya tenggang waktu antara terjadinya gempa dan tibanya tsunami di pantai memungkinkan untuk dapat menganalisa karakteristik gempa. Informasi tersebut kemudian dapat segera disampaikan ke masyarakat sebelum gelombang tsunami menerjang pantai. Ide inilah yang mendasari didirikannya pusat system peringatan dini tsunami (Tsunami Warning System) dibeberapa Negara Pasifik (Hilman, 2007).

Persoalan di Indonesia adalah tenggang waktu tersebut hanya berkisar antara 10-50 menit saja, karena jarak antara pusat gempa dan garis pantai tidak lebih dari 200 km. Hal ini berbeda dengan di negara-negara pasifik yang tenggang waktunya dapat mencapai satu sampai tiga jam. Akibat terbatasnya waktu untuk menyampaikan informasi dan fasilitas komunikasi yang belum memadai, sangat mungkin terjadi informasi belum sampai sementara gelombang tsunami telah menyapu pantai (Hilman, 2007).

Dokumen terkait