BAB II: KAJIAN PUSTAKA
6. Bentuk-Bentuk Campur Kode
Berdasarkan unsur-unsur kebahasaanyang terlibat di dalamnya campur kode dapat dibedakan menjadi penyisipanunsur-unsur yang berwujud kata, penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa,dan penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa.Campur kode merupakanpenggunaan satuan bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain untuk memperluasgaya bahasa atau ragam bahasa, termasuk di dalamya pemakaian kata, klausa,idiom, dan sapaan. Pengklasifikasikancampur kode berdasarkan tingkat kebahasaan yaitu campur kode pada tataranklausa, campur kode pada tataran frasa, dan campur kode pada tataran kata.
Suwito mengungkapkan “terdapat dua campur kode yang melatar belakangi penutur melakukan campur kode, yaitu latar belakang sikap (attitude) dan tipe campur kode kebahasaan (linguistik)”. Peran penutur dalam melakukan campur kode sangat ditentukan sikap penutur saat komunikasi. Identifikasi peranan penutur dapat diukur dengan melihat keadaan sosial, registral dan edukasional saat bertutur.
Sosial penutur saat komunikasi terjadi akan menentukan jenis variasi bahasa yang digunakan disesuaikan dengan situasi dan pendidikan dari lawan tutur.26
26 Op.cit
Pendapat di atas menjelaskan bahwa campur kode biasanya digunakan pada situasi santai atau tidak formal, kalaupun dipakai dalam situasi formal dikarenakan tidak ada padanan kata atau ungkapan yang tepat dalam bahasa Indonesia.
Pemakaian campur kode ini disebabkan oleh penutur ingin menunjukkan tingkat pendidikan dan kedudukannya dalam lingkungan tersebut.
Identifikasi ragam bahasa penutur juga akan menentukan proses melakukan campur kode. Dalam hal ini penutur akan menempatkan diri ke dalam status sosial tertentu. Penutur akan menentukan sikap untuk menandai hubungan terhadap orang lain. Sikap penutur saat berinteraksi dalam komunikasi merupakan deskripsi penjelasan maksud dan tujuan penutur. Dari sikap yang ditunjukan penutur terhadap lawan tutur akan mengandung suatu maksud permasalahan dan penafsiran.
Misalnya, sikap mengakrabkan, persahabatan, dan kekeluargaan.
7. Persamaan dan Perbedaan Alih Kode dan Campur Kode
Peristiwa pergantian bahasa yang digunakan pada masyarakat dwibahasawan dalam komunikasi akan dipengaruhi oleh topik pembicaraan, situasi, perbedaan latar belakang, status penutur, tempat penutur, ragam bahasa dan banyak faktor terjadinya alih kode bahasa tutur seseorang. Perubahan pemakaian alih kode bahasa dan campur kode bahasa sebagai akibat situasi dalam masyarakat bilingual bagi pemakai bahasa menimbulkan rasa suka atau tidak suka, menerima atau menolak merupakan kontribusi tersendiri terhadap pemahaman bahasa tertentu, baik bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing.
Alih kode bahasa dan campur kode bahasa akan berhubungan dengan status bahasa dalam masyarakat. Penggunaan bahasa yang berstatus tinggi dianggap menimbulkan prestise, sebaliknya penggunaan bahasa yang berstatus rendah dianggap menimbulkan kendala bahkan kesulitan dalam pemahaman makna dalam berbagai situasi. Pengguna bahasa diasosiasikan dengan kehidupan masyarakat tertentu, di samping bahasa sebagai alat komunikasi juga merupakan identitas sosial.
Persamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazimterjadi dalam masyarakat bilingual atau multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih.Akan tetapi, terdapat perbedaan yang cukup nyata, yaitu alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing,dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu, sedangkancampur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memilikifungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaanbahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomisebagai sebuah kode.27Unsur bahasa lain hanya disisipkan padakode utama atau kode dasar.
Menurut Thelander dalam Suwito pembedaan alih kode dan campur kode dengan apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain disebut sebagai alih kode. Akan tetapi, apabila dalam suatu periswa tutur klausa atau frasa yang digunakan terdiri atas kalusa atau frasa
27 Aritonang, bahasa Indonesia, daerah, dan asing….(2017)
campuran (hybrid cluases/hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsinya sendiri disebut sebagai campur kode.28
Merujuk pendapat tersebut, ada kemungkinan terjadinya perkembangan dari campur ke alih kode. Perkembangan akan terbukti, jika para penutur mempunyai kemampuan untuk mengurangi klausa-klausa dan frase-frase campuran yang digunakan serta memberi fungsi-fungsi tertentu sesuai dengan keotonomian bahasa masing-masing saat komunikasi berlangsung.
B. Kalimantan Utara dan Daerah Perbatasan
Kalimantan Utara atau yang disebut sebagai Kaltara merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan.
Provinsi ini berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia, yaitu Negara Bagian Sabah dan Sarawak. Pusat pemerintahan Kalimantan Utara saat ini berada di kota Tanjung Selor, bersama dengan pusat pemerintahan Kabupaten Bulungan.Hampir 30% penduduk Kalimantan Utara adalah Suku Jawa melalui program transmigrasi yang merupakan kelompok terbesar, disusul penduduk asal Sulawesi Selatan. Selebihnya merupakan penduduk asli Kalimantan yaitu Suku Dayak (Lun Bawang/Lun Dayeh, Kenyah, Murut), Suku Banjar, Suku Bulungan, Suku Tidung dan Suku Kutai.29
Kabupaten Nunukan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Kabupaten ini merupakan wilayah paling utara dari Provinsi
28 Op.cit
29 Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Utara diakses pada tanggal 12 Agustus 2019
Kalimantan Utara. Ibu kota kabupaten terletak di kota Nunukan. Kabupaten yang memiliki luas wilayah 14.493 km² dan berpenduduk sebanyak 140.842 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) ini mempunyai motto "Penekindidebaya"
yang artinya "Membangun Daerah" yang berasal dari bahasa Tidung. Kabupaten Nunukan sebelah Barat berbatasan dengan Malaysia Timur Sabah, sebelah timur berbatasan Selat Makassar dan Laut Sulawesi, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bulungan dan Malinau dan sebelah barat berbatasan dengan Malaysia Timur Serawak. Nunukan juga adalah nama sebuah kecamatan di kabupaten ini.Pelabuhan Nunukan merupakan pelabuhan lintas dengan kotaTawau, Malaysia.
Bagi penduduk kota Nunukan yang hendak pergi ke Tawau diperlukan dokumen PLB (Pas Lintas Batas). Setiap hari rata-rata sekitar 8 unit kapal cepat dengan kapasitas kurang lebih 100 orang mondar-mandir antar Nunukan dengan Tawau, Malaysia.30
Dengan demikian, berdasarkan letak geografisnya, Kabupaten Nunukan terletak di wilayah paling Utara Kalimantan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia. Berbicara soal perbatasan, patok-patok perbatasan yang dimaknai oleh masyarakat Nunukan sudah mulai tergeser. Bukan terkait tanah Indonesia yang diambil oleh Malaysia melainkan hal lainnya. Hal ini dikarenakan dalam segi perekonomian sebagian besar masyarakat menggantungkan pada produk-produk Malaysia. Dalam hal mata uang pun sudah tergeser karena aktivitas ekonomi banyak menggunakan ringgit Malaysia banyak masyarakat Nunukan.
30 Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Nunukan diakses pada tanggal 12 Agustus 2019
Terkait dengan penggunaan bahasa, bahasa Indonesia memiliki peran utama dalam bidang komunikasi masyarakat di daerah perbatasan. Dalam interaksi masyarakat beragam suku yang didominasi oleh suku Bugis, bahasa Indonesia menjadi penengah. Penggunaan bahasa Indonesia secara perlahan namun pasti mulai disisipi oleh bahasa Malaysia.
C. Penelitian Yang Relevan
Kajian tentang alih kode dan campur kode sudah banyak diteliti oleh parapeneliti sebelumnya. Namun sejauh yang peneliti ketahui belum ada yang melakukan penelitian tentang penggunaan alih kode di daerah perbatasan Kalimantan Utara-Malaysia. Adapun penelitian sejenis yang pernah diteliti antara lain:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Miji Lestari (2003) yang berjudul“
Penggunaan Bahasa Jawa dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta” yang mengkaji masalah bentuk dan fungsi alih kode, campur kode dalam tuturan anggota BEM di Universitas Sebelas MaretSurakarta.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Suwarsi (2008), yang berjudul
“PemakaianBahasa Jawa oleh Masyarakat Petani di Kec. Kunduran Kab.
Blora”.Masalah yang dikaji adalah bentuk dan tingkat tutur masyarakat petani,bentuk alih kode, campur kode yang digunakan oleh masyarakat petani diKec. Kunduran Kab. Blora.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Setiyorini (2010) yang berjudul
“PenggunaanBahasa Jawa Di Transmigrasi Unit Blok B Desa Mekar Sari
MakmurKecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi”.Yangmengkaji tentang bentuk dan fungsi campur kode, alih kode, interferensitingkat tutur dan faktor yang melatarbelakangi pemakaian bahasa Jawa olehpenduduk transmigrasi di desa mekar sari makmur Kecamatan sungai bahar,Jambi.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah pada fokus penelitian yaitu penggunaan alih kode pada tuturan masyarakat. Namun, perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini lebih menspesifikasikan pada alih kode dan hanya pada tuturan masyarakat perbatasan Kalimantan Utara-Malaysia sedangkan penelitian terdahulu pada tuturan masyarakat Jawa.
37 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif.
Kartono dan Kartini mengatakan bahwa penelitian lapangan (field research) merupakan penelitian yang dilakukan dalam kondisi sebenarnya31. Artinya, peneliti dalam jenis penelitian ini turun langsung ke lapangan untuk menggali suatu permasalahan yang diteliti32. Oleh karena itu, sumber data dan proses penelitiannya berada di kancah atau lokasi tertentu33. Pada umumnya dilakukan di lingkungan masyarakat, lembaga, organisasi kemasyarakatan dan lembaga pemerintahan.
Penelitian kualitatif adalah merupakan prosedur penelitian untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian secara holistic untuk memperoleh data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan dari subjek penelitian dan perilaku yang diamati34. Sementara itu, penelitian deskriptif menggambarkan suatu variable, gejala atau keadaan sesuai dengan apa adanya35.
Dalam konteks penelitian ini difokuskan pada kelompok masyarakat yang menggunakan alih kode dalam komunikasi yang tinggal di daerah perbatasan (Nunukan dan Malinau), dimana kelompok masyarakatnya menggunakan dua
31 Kartono dan Kartini, Pengantar metodelogy riset sosial, (Bandung: Mandar Maju, 1996), h.32.
32 Nur Indriantoro dan Bambang Suomo, Metodologi penelitian bisnis untuk akuntansi dan manajeme, (Jakarta: BPFE, 2002), h.92.
33 Musfiqon, Panduan lengkap metodologi penelitian pendidikan, (Jakarta: Prestasi Public Publisher, 2012), h.56.
34 Lexy J. Moleong, Metodologi penelitian kualitatif – edisi revisi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), h.6.
35 Suharsimi Arikunto, Manajemen penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009), h.234.
bahasa atau lebih dalam komunikasinya sehari-hari yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa daerah sebagai bahasa leluhur dan Bahasa Melayu - Malaysia akibat dari dekatnya pemukinan warga dengan negara Malaysia.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara yang merupakan daerah perbatasan antara Negara Indonesia dan Negara Malaysia. Di Kabupaten Nunukan, Desa Bukit Aruh Indah Kecamatan Sebatik dan Desa Tanjung Harapan Kecamatan Sebatik Timur, dipilih sebagai titik lokasi penelitian. Sementara di Kabupaten Malinau, peneliti melakukan penelitiannya di Kelurahan Malinau Kota, Kecamatan Malinau Kota.
Ketiga lokasi desa/kelurahan dengan dua kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara dipilih karena kelompok masyarakatnya memiliki fenomena kebahasaan yang menarik dan dari latar belakang suku, sosial budya, status sosial, pekerjaan, dan tingkat pendidikan serta menggunakan ragam bahasa yang berbeda-beda dalam berkomunikasi dan berinteraksinya dalam kehidupan sehari-hari. Secara spesifik, titik pengambilan data dilakukan di lingkungan keluarga, di lingkungan perkumpulan masyarakat, di lingkungan kerja kebun kelapa sawit, di tempat tongkrongan kedai kopi, dan di pasar tradisional.
C. Data dan Sumber Data
Data pada penelitian ini adalah penggunaan alih kode dan faktor-faktor penyebabnya yang bersumber pada kelompok masyarakat Kalimantan Utara yang tinggal di daerah perbatasan (Nunukan dan Malinau) Indonesia - Malaysia. Peneliti mengkategorikan data penelitian ke dalam dua kategori, yaitu data primer dan data sekuder.
Data primer berasal dari ujaran atau tuturan oleh penutur dari peristiwa tutur di berbagai titik lokasi penelitian. Sementara data sekunder berasal keterangan atau informasi latar belakang sosial budaya dan bahasa sebagai hasil pengamatan dan hasil wawancara.
D. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah kelompok masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan Provinsi Kalimantan Utara (Nunukan dan Malinau). Ada 20 orang informan yang terlibat dalam penelitian ini sebagai sumber perolehan data.
Peneliti menggunakan beberapa criteria dalam menentukan sampel penelitian yaitu berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, berdomisili di daerah perbatasan/lokasi penelitian, memiliki kejelasan artikulasi/ sehat produksi organ bicara, mampu menggunakan dua bahasa atau lebih dan bersedia menjadi informan dalam penelitian ini.
E. Teknik Pengumpulan Data
Penyediaan data mengacu pada apa yang dikemukakan Sudaryanto yakni dilakukan dengan menggunakan metode simak, metode simak dalam hal ini dilakukan pada saat membaca dan melakukan pengamatan terhadap penggunaan suatu bahasa kemudian teknik catat yakni pencatatan yang dilakukan pada kartu data36. Teknik catat dimaksudkan memberikan gambaran yang berkaitan dengan fonetik artikulatoris. Penelitian diperbolehkan tidak menggunakan teknik rekam apabila peneliti sudah yakin dengan teknik catat, namun tidak berlaku sebaliknya37. Dalampenelitian ini teknik simak dan catat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Teknik simak
Menyimak dan mendengarkan pembicaraan antara masyarakat yang hidup dan tinggal di wilayah perbatasan. Teknik simak akan didukung dengan teknik rekam yang juga melibatkan peneliti dalam komunikasi dengan masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan.
Alat rekam yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah recorder berupa handphone.
2. Teknik catat
Teknik catat digunakan ketika data yang relevan dan sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian telah terkumpul. Data yang terkumpul akan dicatat pada kartu data yang telah disiapkan oleh peneliti untuk dikelompokkan berdasarkan bentuk dan fungsinya.
F. Teknik Analisis Data
36Sudaryanto, metode dan aneka teknik analisis bahasa…()
37ibid
Setelah semua data yang dibutuhkan dan relevan terkumpul secara lengkap, tahap selanjutnya adalah analisis data. Metode yang digunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode padan. Padan merupakan kata yang bersinonim dengan kata banding dan sesuatu yang dibandingkan mengandung makna adanya keterhubungan, sehingga padan dapat diartikan sebagai hal yang menghubungbandingkan.
Analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Semua tuturan yang mengandung alih kode dalam komunikasi masyarakat di wilayah perbatasan (Nunukan dan Malinau) diidentifikasi dan diklasifikasikan ke dalam kartu data
2. Data dianalisis dengan cara memilih dan memilah bentuk dan fungsi alih kode dalam komunikasi masyarakat di wilayah perbatasan (Nunukan dan Malinau).
3. Setelah dianalisis dan diklasifikasikan, data dideskripsikan dan dijabarkan untuk mengetahui bentuk dan fungsi terjadinya alih dalam komunikasi masyarakat
G. Validitas Data
Terkait data maka validitas data menjadi hal penting karena terkait dengan kesahihan atau keabsahan suatu data sehingga data tersebut benar-benar dapat menjadi acuan. Untuk validitas data dapat menggunakan teknik triangulasi data dengan data yang diperoleh bersumber dari dokumen-dokumen yang relevan dan mendukung selanjutnya data juga perlu dikaitkan dengan teori yang relevan dan
berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan kebahasaan yang memadai.
Selain itu, menurut Moleong terdapat tujuh teknik pemeriksaan pada kriteria derajat kepercayaan, yaitu perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, kecukupan referensial, kajian kasus negatif, pengecekan sejawat, pengecekan anggota dan triangulasi. Teknik perpanjangan keikutsertaan, pengecekan sejawat, dan triangulasi, merupakan teknik yang digunakan untuk memeriksa keabsahan data yang diperoleh dalam penelitian ini.38
38 Moleong, metodologi penelitian kualitatif…(324, 2005)
43 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini meluputi wujud alih kode dan faktor – faktor penyebab munculnya alih kode dalam ujaran kelompok masyarakat perbatasan di Nunukan dan Malinau yang menggunakan dua bahasa atau lebih dalam komunikasinya sehari-hari yakni Bahasa Indoneisa sebagai bahasa persatuan, bahasa daerah sebagai bahasa warisan leluhur dan Bahasa Melayu – Malaysia akibat dari dekatnya pemukiman warga dengan Negara Malaysia. Namun sebelum menyajikan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti terlebih dahulu mendeskripsikan daerah atau lokasi penelitian.
1. Deskripsi Umum Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara.
a. Deskripsi Umum Kabupaten Nunukan
Berdasarkan informasi yang diakses di https://nunukankab.go.id/sejarah/, Kabupaten Nunukan adalah salah satu kabupaten di Propinsi Kalimantan Utara yang terletak di ujung utara Pulau Kalimantan, yang berbatasan langsung dengan Malaysia khususnya Negara Bagian Serawak dan Sabah. Pembentukan Kabupaten Nunukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 tahun 1999 dan memiliki 5 kecamatan meliputi Nunukan, Sebatik, Sembakung, Lumbis dan Krayan.
Kabupaten Nunukan terletak antara 1150 33’ 00’’ sampai dengan 1180 03’
55’’ bujur timur dan antara 30 15’ 00” sampai dengan 40 24’ 55” Lintang Utara yang merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Utara. Kabupaten ini dikenal sebagai kawasan perdagangan dan jasa serta sebagai wilayah perbatasan dan menjadi tempat transit dan keluar masuknya warga negara Indonesia – Malaysia.
Batas wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari; sebelah barat berbatasan dengan Serawak (Malaysia Timur), sebelah utara berbatasan dengan Sabah (Malaysia Timur), sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi; dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau.
b. Deskripsi Umum Kabupaten Malinau
Berdasarkan informasi yang diakses di https://malinau.go.id/post/sejarah-malinau/615, Kabupaten Malinau merupakan salah satu daerah hasil pemekaran wilayah Kabupaten Bulungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999.
Pada awalnya Malinau adalah sebuah kawasan pemukiman yang dihuni oleh Suku Tidung dan Suku Abai. Kabupaten ini memiliki beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Malinau Kota, Kecamatan Malinau Barat, Kecamatan Malinau Utara dan Kecamatan Mentarang.
Secara geografis, wilayah Kabupaten Malinau berada di daerah tropis dengan posisi geografis 10 21’ 36” – 40 10’ 55” Lintang Utara dan 1140 35’ 22” – 1160 50’ 55” Bujur Timur. Batas wilayah Kabupaten Malianu terdiri dari; sebelah
utara berbatasan dengan Kabupaten Nunukan, sebelah timur berbatasan dengan Tana Tidung, Bulungan, Berau, dan Kutai Timur, sebelah selatan berbatasan dengan Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, dan sebelah barat berbatasan dengan Negara Malaysia Timur – Serawak.
Dalam melakukan pengambilan data, penelitian ini dilakukan di 3 desa/kelurahan dan 2 kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu di Desa Bukit Aru Indah Kecamatan Sebatik, di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan dan di Kelurahan Malinau Kota Kecamatan Malinau Kota Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara. Pengambilan data dilakukan di lingkungan keluarga, lingkungan kerja perkebunan kelapa sawit, tempat tongkrongan kedai kopi dan pasar tradisional.
2. Wujud Alih Kode dan Faktor Penyebabnya
Berdasarkan analisis data, temuan wujud alih kode pada tuturan kelompok masyarakat perbatasan (Nunukan dan Malinau) dibagi menjadi empat yaitu; (1) alih kode dari Bahasa Bugis ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya, (2) alih kode dari Bahasa Tidung ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya, (3) alih kode dari Bahasa Banjar ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya, dan (4) alih kode Bahasa Indonesia ke Bahasa Melayu – Malaysia dan sebaliknya.
a. Alih Kode Bahasa Bugis ke Bahasa Indonesia dan Sebaliknya
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, alih kode Bahasa Bugis ke Bahasa Indonesia ditemukan pada peristiwa tutur oleh sekelompok masyarakat perbatasan
di Nunukan. Terjadinya alih kode tersebut dapat dilihat dari peristiwa tutur sebagai berikut:
Data 01
Ibu : Pe ko jokka? Ko jokka ko pasae ellingeng ka’ oba’ ko apotik’e.
(Kemana kamu mahu pergi? Kalau ke pasar singgah di apotek belikan obat mama.)
Anak : Mak, tita ga dompe’ku?
(Mama, Tidak melihat dompetku?)
Ibu : Dikamarmu di lemari laci paling bawah. Mutaro we’na dompe’mu sembarangang. Jaji u soroi andrimu taroi kero.
(Di kamarmu di lemari laci paling bawah. Kamu taruh sembarangan dompetmu. Jadi saya suruh adikmu simpan disitu.) Anak : Iyye u runtu’ni.
(Iya ini sudah ada.)
Konteks peristiwa tutur diatas terjadi di dalam ruang rumah suatu keluarga yang melibatkan seorang ibu dan seorang anak dengan topik pembicaraan mengenai dompet milik seorang anak. Peristiwa tutur diawali dengan penggunaan Bahasa Bugis ketika seorang ibu menanyakan kepergian dan meminta kepada anaknya untuk membelikan obat di apotek. Seorang anakpun merespon ujaran ibunya dengan menanyakan dompetnya dengan menggunakan Bahasa Bugis. Atas pertanyaan anaknya, seorang ibu menjawabnya dengan beralih kode ke Bahasa Indonesia, “Dikamarmu di lemari laci paling bawah. Mutaro we’na dompe’mu sembarangang. Jaji u soroi andrimu taroi kero”, Kemudian kembali beralih kode ke Bahasa Bugis seperti awal tuturan. Hal ini menunjukan terjadinya alih kode dari Bahasa Bugis ke Bahasa Indonesia yang diucapkan oleh seorang ibu dengan tujuan memberikan kemudahan dalam mendeskripsikan letak benda yang dicari.
Selanjutnya didalam melakukan alih kode Bahasa Bugis ke Bahasa Indonesia, peneliti menemukan adanya campur kode Bahasa Inggris dalam Bahasa Bugis, seperti tercantum dibawah ini:
Data 02
Pekerja 1 : Uppanna ne labe’ corona e? Disuroi nana’e magguru online ko bola e. Ko witai maccule hand phone tuttu’i. De wissengngi magguru tongeng ga ato maccule online game.
(Kapan selesainya ini Corona? Anak-anak disuruh belajar online di rumah. Kulihat anakku itu main hand phone terus.
Gak tahu itu benar belajar atau main online game.)
Pekerja 2 : Berita ko TV e mega ladde ni mate. Jaji di lock down ki de dulle jokka-jokka.
(Beritanya itu di TV sudah banyak yang meninggal. Jadi di lock down tidak bisa kemana-mana.)
Pekerja 1 : Pak Rudy, kau dicari sama Pak Bos. Kau menghadap dulu.
Pekerja 3 : Iya, Pak. Saya juga ditelpon ini untuk menemui beliau.
Konteks peristiwa tutur diatas terjadi di lingkungan kerja kebun kelapa sawit yang melibatkan 3 orang pekerja. Peristiwa tutur dimulai oleh Pekerja 1 kepada Pekerja 2 dengan menggunakan Bahasa Bugis yang membahas tentang
Konteks peristiwa tutur diatas terjadi di lingkungan kerja kebun kelapa sawit yang melibatkan 3 orang pekerja. Peristiwa tutur dimulai oleh Pekerja 1 kepada Pekerja 2 dengan menggunakan Bahasa Bugis yang membahas tentang