• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-Bentuk Dakwah

Dalam dokumen Retorika dakwah KH. Ahmad Damanhuri di Depok (Halaman 51-114)

B. Ruang Lingkup Dakwah

3. Bentuk-Bentuk Dakwah

a. Dakwah bi al-Lisan

Dakwah ini dilakukan dengan menggunakan lisan antara lain,

Qaulun ma‟rufun, dengan bebicara dalam pergaulan sehari-hari yang

disertai dengan misi agama yaitu agama Islam.

b. Dakwah bi al-Hal

Yaitu dakwah yang dilakukan melalui berbagai kegiatan yang langsung menyentuh kepada masyarakat sebagai objek dakwah atau berdakwah melalui perbuatan, mulai dari tutur kata, tingkah laku, sampai pada kerja bentuk nyata seperti mendirikan panti asuhan, fakir miskin, sekolah-sekolah, rumah ibadah dll.56

c. Dakwah bi al-Qalam

Berbicara dakwah tentang dakwah bi al-Qalam tidak terlepas dengan memahami makna tulisan. Dalam konteks ini, tulisan memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai alat komunikasi atau komunikasi ide yang produknya berupa ilmu pengetahuan. Kedua, sebagai alat komunikasi ekspresi yang produknya berupa karya seni (jurnalistik).57

C. Hubungan Retorika dengan Dakwah

Untuk tersebar luasnya agama Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam, kepada seluruh umat manusia, maka para da’i atau muballigh

semenjak dari dulu hingga sekarang, dalam setiap kesempatan khutbah atau

56 Rafi’uddin, dan Maman Abdul Dj

aliel, Prinsip dan Strategi Dakwah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hal. 24.

57

ceramah, tidaklah hanya bicara demi bicara. Akan tetapi bagaimana agar pembicaraan tersebut dapat merangsang mereka yang mendengarkan (mad‟u) untuk berbuat sesuatu yang nyata dalam kehidupannya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits.

Menurut Efendi M Siregar retorika adalah ”Sebuah seni (sistem) berpidato menggunakan bahasa lisan, agar dapat menghasilkan kesan terutama para pendengar. Retorika termasuk seni yang paling tua dalam komunikasi massa. Karena itu berpidato termasuk salah satu cara dari sekian banyak cara berkomunikasi yaitu antara si pembicara (komunikator) dengan sejumlah orang (komunikan/audiense). Jadi berpidato termasuk untuk menyampaikan isi hati, pesan (message), ide (butiran pikiran, program, perasaan dan sebagainya oleh seseorang kepada sejumlah orang. Dengan kata lain pidato merupakan salah satu sarana informasi dan komunikasi yang sangat penting. Karena melalui pidato orang akan dapat menyebarluaskan idenya, data menanamkan pengaruhnya bahan dapat memberikan arah berfikir yang baik dan sistemasis, bukan ”omong kosong” dan berteriak-riak tidak karuan, melainkan dengan moral, dan harus didukung oleh rithme, volume, penyajian dan penampilan yang sempurna”.58

Dakwah dengan menggunakan retorika adalah memaparkan sesuatu masalah agama dan kemudian orang merasa begitu concern (terlibat) dengan masalah yang dipaparkan tersebut, sama halnya apabila seorang orator menyampaikan suatu persoalan kemudian merasa terdorong untuk mencari

58

Efendi M Siregar, Teknik Berpidato dan Menguasai Massa (Jakarta: Yayasan Mari Belajar, 1992). Cet. Ke-2, hlm. 29

sebab deviasi (penyimpangan) dan kemudian membuat keputusan tertentu untuk mencari pemecahannya.

Dengan kata lain, di dalam proses retorika merupakan usaha untuk melibatkan emosi dan rasio dari pihak khalayak agar merasa terlibat dengan masalah atau persoalan yang disajikan merupakan inti dari pemaparan retorika sebagai sarana menuju tujuan akhir yaitu suatu tindakan yang sesuai dengan harapan komunikator. Sementara tujuan yang ingin dicapai dakwah antara lain, agar manusia mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejahatan, serta memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Hubungan retorika dengan dakwah menurut T.A Latief Rosydi dalam bukunya Dasar-dasar Retorika Komunikasi dan Informasi adalah ”Kemampuan dalam kemahiran menggunakan bahasa untuk melahirkan pikiran dan perasaan itulah sebenarnya hakikat retorika. Dan kemahiran serta kesenian menggunakan bahasa adalah masalah pokok dalam menyampaikan dakwah. Karena itu antara dakwah dengan retorika tidak dapat dipisahkan. Dimana ada dakwah disitu ada retorika”.59

Kesuksesan para da’i atau muballigh dalam khutbah lebih banyak ditunjang dan ditentukan oleh kemampuan retorika yang dimiliki oleh da’i tersebut. Dan kalaulah dakwah belum berhasil menurut yang dicata-citakan dan menurut garis yang telah ditetapkan semula, mungkin karena cara persuasi (retorika) tidak menjadi perhatian dan tidak terpenuhi oleh para da’i.

59

Dan dalam hal ini diungkapkan oleh T.A Latief Rosydi dalam dalam bukunya Dasar-dasar Retorika Komunikasi dan Informasi tentang faktor penyebab kegagalan dalam berdakwah adalah karena kurangnya keberhasilan kita, baik dalam menanamkan pengertian dan keyakinan, apa lagi dalam menggunakan massa rakyat untuk membuat, berjuang dan berkorban (sesuai dengan ajaran Islam), salah satu dari penyebabnya adalah karena kelemahan kita dalam memanfaatkan retorika dakwah dalam penyampaiyannya.60

Komunikasi dan retorika memliki kesamaan, terutama dalam hal media yang dipergunakan. Apakah medium yang digunakan medium lisan, tulisan dan sebagainya, yang terutama dalam hal ini adalah unsur bahasa yang memegang peranan yang sangat penting dan sangat menentukan yaitu gaya bahasa yang digunakan oleh seorang da’i dalam menyampaikan dakwahnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dakwah dan retorika sangat berhubungan erat, dakwah bertujuan untuk meningkatkan kehidupan umat manusia kepada keadaan yang lebih baik sesuai dengan tuntutan al- Qur’an dan Hadits. Sedangkan retorika adalah cara bagaimana kita mempengaruhi orang lain untuk mengikuti apa kemauan kita, yang intinya adalah sama-sama untuk saling mempengaruhi orang lain.

60

45

A. Riwayat Hidup KH. Ahmad Damanhuri

KH. Ahmad Damanhuri dilahirkan pada tanggal 27 April 1959 di Sawangan-Depok, yang bertepatan dengan ulang tahun Kota Depok. Beliau berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) yang sederhana. Ayah beliau bernama H. „Abdul Karim bin H. Zainal „Abidin bin H. Maksum, ayah beliau berpendidikan di Pesantren serta bekerja sebagai pegawai KUA dan guru ngaji. Ibu beliau bernama Hjh. Maryam sebagai guru ngaji.

KH. Ahmad Damanhuri tergolong anak yang sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Beliau merupakan anak pertama dari lima bersaudara yaitu KH. Ahmad Damanhuri, MA, Ustdzh. Hjh. Suharti, Hjh. Sumidah, H. Badruddin AK, S.Pdi, dan H. Fu’ad El-Halimi, S. Pdi. Sejak kecil mereka semua dididik dalam keluarga yang taat pada Agama. Mereka berada di lingkungan pendidikan Agama yang sangat kuat dan patuh dalam menjalankan Syari’at Allah. Oleh sebab itu ayah beliau selalu menekankan agar kelak dewasa nanti menjadi anak yang berilmu dan mampu meneruskan perjuangan ayahnya.

Kemudian KH. Ahmad Damanhuri menikah dengan keluarga dari Muhammadiyah yang bernama Hjh. Prawati Ningsih, beliau mempunyai dua anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Pertama, Sayyidah Rifqoh, S.Sos, yang sudah mempunyai dua anak perempuan yang bernama Naswah dan

Kedua, Sayyidah Qonita, S. Pdi, yang sudah mempunyai satu anak yang bernama Mulaiki Bilqis. Ketiga, Muhammad Fathi, yang sedang semester 2 di UIN dan semester 4 di STAISKA). Keempat, Muhammad Nabil Bahnesi, yang baru lulus MA) dan anak yang Kelima adalah Muhammad Nahdo, yang baru lulus SD.1

KH. Ahmad Damanhuri adalah seorang Muballigh yang mempunyai Pondok Pesantren Al-Karimiyah, MTS, MA, STAISKA, KBIH dan Majlis Ta’lim yang berlokasi di Jl. H. Maksum No 23 Sawangan Baru Kota Depok 16511 Tlp/Fax. 0251 8617335. Latar belakang didirikannya Pondok Pesantren Al-Karimiyah adalah: Pertama, ingin mencetak santri-santri yang unggul, berakhlak mulia dan berpengetahuan agama yang luas. Kedua, ingin mencetak santri yang memiliki kemampuan orasi atau ahli dalam berpidato sehingga dapat berdakwah dan mengembangkan syi’ar Islam. Ketiga, untuk mencari keridhaan Allah SWT. Keempat, untuk menyebarkan dakwah Islamiyah,

Kelima, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT dan yang terakhir turut serta membantu program pemerintah untuk mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang bertaqwa, sehat jasmani dan rohani dengan memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi, serta bertanggung jawab terhadap umat manusia dan bangsa untuk saat ini dan masa

1

Hasil Wawancara Pribadi dengan KH. Ahmad Damanhuri yang berlokasi di Jl. H. Maksum No 23 Sawangan Baru Kota Depok 16511 Tlp/Fax. 0251 8617335 (Kediaman Rumah

KH. Ahmad Damanhuri) pada hari Jum’at, 29 April 2011 dan Rabu, 04 Mei 2011, jam19.30 WIB

lainnya.2

Sosok yang senantiasa menyeru ke jalan Allah serta mengamalkan sunnah-sunnah Nabi, akhlaknya yang mulia menjadi panutan bagi keluarga dan masyarakat.

KH. Ahmad Damanhuri merupakan salah satu kyai yang disegani di mata masyarakat, karena ilmu dan wibawanya yang menjadi figure seorang ulama. Beliau dikenal di masyarakat sebagai panutan bagi para ustad-ustad atau para kyai, khususnya yang berada di daerah Sawangan Baru Kota Depok dan sekitarnya. Karena kegigihan beliau dalam berdakwah, beliau berhasil mendirikan Yayasan Pesantren Al-Karimiyah.

KH. Ahmad Damanhuri merupakan figure seorang bapak yang sholeh. Beliau dikenal dimasyarakat sebagai orang baik dan tekun melaksanakan ibadah, yang semangat berjuang mensyiarkan ajaran Islam dengan segala kemampuannya. Beliau ingin apabila mempunyai seorang anak, ingin menjadikan anak-anaknya yang sholeh dan sholehah, dengan memberikan sebuah pendidikan agama mengirimkannya ke Pondok Pesantren. Yang akhirnya berhasil meneruskan perjuangan dakwah beliau sebagai seorang da’i yang menyiarkan dan menanamkan nilai-nilai keislaman di masyarakat serta pesantren yang beliau sudah kembangkan sampai saat ini.

2

berarti:

































“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya

meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang

baik dan benar”. (An-Nisa: 9)

Dalam satu hadits Rasul dikatakan yang artinya sebagai berikut:

“Jika Anak Adam Meninggal Maka Terputuslah Amal Ibadahnya Kecuali

Tiga. Yang Pertama. Shodaqoh Jariyah. Kedua. Ilmu Yang Bermanfaat Dan Ketiga Anak Yang Selalu Mendoakan Kedua Orangtuanya”.3

B. Pendidikan dan Organisasi KH. Ahmad Damanhuri

1. Pendidikan KH. Ahmad Damanhuri

Sebagaimana umumnya orang-orang yang pintar dan berhasil itu diawali dengan sebuah perjalanan hidupnya dalam menuntut ilmu. Berikut ini perjalanan pendidikan KH. Ahmad Damanhuri:

1. Tahun 1965-1973 Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Atfal Sawangan- Baru Kota-Depok.

2. Tahun 1973-1976 Madrasah Tsanawiyah dan Pesantren Salafiyah Al-Mashad di bawah asuhan Al-Habib Hamid Bin Hud Bin Alwi Al-„Athos Cijurai Sukabumi.

3

Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani, Shahih At-Targib Wa At Tarhih, (Hadits- Hadits Sahih Tentang Anjuran Dan Janji Pahala, Ancaman & Dosa, (Jakarta. PT. Tim Pustaka Sahifa, 2007). Hal. 180

Rahman Kebayoran Baru Jakarta di bawah pimpinan KH. Syukron Ma’mun.

4. Tahun 1979-1980 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah (tidak sampai selesai).

5. Tahun 1980-1983. Madinah University Saudi Arabia KSA Jurusan Lenguistik Bahasa Arab (Diploma 1 dan 2).

6. Tahun 1983-1988 Madinah University Saudi Arabia KSA Fakultas Syari’ah (S1).

7. Tahun 2006-2009 Pascasarjana UNISMA 45 Bekasi Fakultas Syari ’ah (S2) Magister.

8. Tahun 2009 s/d Sekarang Pascasarjana Universitas IBNU KHOLDUN BOGOR (S3) Doctoral.4

2. Organisasi KH. Ahmad Damanhuri

Organisasi merupakan kumpulan kepentingan individu yang memiliki tujuan yang sama. Berikut ini data organisasi KH. Ahmad Damanhuri tentang pengalaman dalam bidang organisasi dari tahun 1990- 2011.

1. Tahun 1990 s/d Sekarang mendirikan dan menjadi Pimpinan Yayasan Pesantren Al-karimiyah yang menaungi Pondok Pesantren Modern, MTS, MA, STAISKA, Kegiatan Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIH), Koprasi dan Majlis Ta’lim yang berlokasi di

4

0251 8617335.

2. Tahun 1998-2009 bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). KH. Ahmad Damanhuri bergabung dengan PKB sejak berdiri PKB yang di Deklarasikan pada tahun 1988, karena dalam pemikiran KH. Ahmad Damanhuri orang NU yang termarjinalkan di Daerah Sawangan-Baru Kota-Depok dan pilihan pada waktu itu bagi beliau untuk berada di PKB dan didorong juga oleh tokoh- tokoh masyarakat.

KH. Ahmad Damahuri tertarik dengan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid “Gusdur” (Almarhum), walaupun pemikiran Gusdur banyak kontraversial di masyarakat, akan tetapi menurut KH. Ahmad Damanhuri bahwa pemikiran Gusdur kalau diamati ada kebenaran yang ditemukan dalam pemikiran Gusdur.

3. Tahun 2004-2009 menjadi Anggotan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok (DPRD). KH. Ahmad Damahuri menjadi Anggota DPRD Kota Depok merupakan kemauan masyarakat untuk mengangkat beliau menjadi anggota DPRD Kota Depok dan masuk ke dalam dunia pemerintahan, istilah yang beliau sampaikan kepada penulis “kalau abi ga mau jadi Anggota DPR, nanti mengecewakan masyarakat”.

Oleh karena itu beliau terpilih menjadi Anggota DPRD Kota Depok periode 2004-2009. Dan setelah selesai menjabat

lagi menjadi anggota DPRD, bahkan beliau pada tahun 2009 akan dicalonkan menjadi Wakil Walikota Depok, akan tetapi beliau tidak mau, karena tekat beliau sudah bulat untuk keluar pada tahun 2009 dari PKB dan Pemerintahan untuk memfokuskan diri kepada Yayasan Pesantren Al-Karimyah dan Lingkungan Masyarakat di Sawangan Baru Kota Depok.

Selain itu, alasan beliau untuk keluar dari partai dan pemerintahan adalah karena melihat situasi dan kondisi PKB yang sudah tidak kondusif. Oleh karena itu beliau tidak mau dipartai lagi. Pengalaman beliau selama menjadi Anggota DPRD Kota Depok adalah menimba Ilmu politik dan pemerintahan untuk menjadi wasilah dakwah Islam, sehingga kalau beliau diminta untuk berbicara tentang politik dan pemerintahan, beliau mampu, karena didukung dengan pengalaman praktek dalam dunia politik dan pemerintahan.

4. Tahun 1973-1978 yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), GP ANSOR (Gerakan Pemuda ANSOR), KNPI (Komite Pemuda Nasional Indonesia), AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Madinah), PPI (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Madinah),

Nahdlatul Ulama DKI Jakarta).

6. Tahun 1998-2001 mendirikan FPI (From Pembela Islam) dan sekaligus menjadi wakil ketua FPI.

7. Tahun 2005 s/d saat ini sebagai wakil ketua DPP (Dewan Pimpinan Pusat) Forum Ulama dan Habaib Betawi.5

C. Aktifitas Dakwah KH. Ahmad Damanhuri

KH. Ahmad Damanhuri sebagai pengasuh Yayasan Pesantren Al- Karimiyah yang menanungi (pondok pesantern, MTS, MA, STAISKA, KBIH dan Majlis Ta’lim). Beliau juga masih aktif menghadiri undangan ceramah atau dakwah mimbariyah di masjid, mushalla, kantor, lembaga dan rumah ke berbagai daerah di Indonesia, diantaranya: Sawangan-Depok, Jabotabek, Jawa-Barat, Jawa-Tengah, Jawa-Timur, Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Beliau berdakwah dalam acara peringatan hari besar Islam dan sosial seperti: Maulid Nabi, Isra‟ Mi‟raj, Muharram, Nuzulul Qur‟an, „Idul Fitri, Pernikahan, Sunatan, Syukuran, dan lain sebagainya.

KH. Ahmad Damanhuri membina pengajian kaum pemuda/i pada hari Minggu Pukul 19.30 WIB di kediaman beliau/di masjid Al-Aula yang diberi nama Majlis Sahabat sebanyak 350 remaja putra-putri. Beliau juga membina Majlis Ta’lim kaum ibuUmmahatul Aula yang terdiri dari 20 majlis ta’lim se- Kecamatan Sawangan bertempat di Masjid Al-Aula. Jama’ah tersebut

5

sekali Pukul 08.30 WIB. Selain itu Beliau juga membina pengajian kaum bapak pada malam Jum’at untuk lingkungan Sawangan-Baru Kota Depok di Masjid Al-Aula. Semua pengajian tersebut berada di bawah naungan Pesantren Al-Karimiyah.6

Dengan cara penyampaiannya yang bagus dan mudah dicerna oleh masyarakat serta memadukan materi ceramah dengan humor yang dapat menyegarkan suasana mad’u. KH. Ahmad Damanhuri mampu merekrut jama’ah dari berbagai kalangan, bahkan banyak jama’ah yang menginginkan majlis ta’limya diajar oleh beliau. Beliau juga sebagai dosen di Sekolah Tinggi Swasta Al-Karimyah (STAISKA), beliau juga mempunyai usaha tanaman hias, madu lebah dan usaha-usaha lain yang halal dan baik menurut Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Lembaga yang beliau asuh menjadi tempat kegiatan dakwah yang di lakukan oleh KH. Ahmad Damanhuri di Pondok Pesantren Al-Karimiyah dan Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta Al-Karimyah (STAISKA), melalui Peringatan Hari Besar Islam, Pengajian Wali Santri, Pengajian Santri dan Seminar Pendidikan.

A. Aktivitas Dakwah KH. Ahmad Damanhuri Melalui Peringatan

Hari-hari Besar Islam

Peringatan hari-hari besar Islam dilaksanakan secara terbuka tidak hanya di hadiri oleh para Mahasiswa, Santriawan dan Santriawati, tetapi

6

peringatan hari-hari besar islam tersebut. Acara ini diisi dengan ceramah atau nasihat keagamaan yang dilakukan oleh KH. Ahmad Damanhuri dan para Muballigh lainya.

B. Aktivitas Dakwah KH. Ahmad Damanhuri Melalui Pengajian

Wali Santri

Pengajian Wali Santri yang di bawah naungan pengasuh Pondok Pesantren Al–Karimiyah Sawangan-Depok yang di laksanakan sebulan sekali pada hari minggu pagi pukul 08.00-12.30 WIB. Materi yang di berikan dalam pengajian ini adalah tentang aqidah, akhlak, fiqih dan lain- lain. Adapun metode yang di gunakan oleh KH. Ahmad Damanhuri adalah dengan metode ceramah dan tanya jawab. Metode ceramah ini adalah suatu tehnik atau metode dakwah yang banyak di warnai oleh ciri karakteristik berbicara seorang da’i atau mubaligh pada suatu aktifitas dakwah. Sedangkan metode tanya jawab adalah penyampaian materi dengan cara mendorong sasarannya untuk mengatakan suatu masalah yang di rasa belum mengerti dan muballigh atau da’i sebagai penjawabnya.

C. Aktivitas Dakwah KH. Ahmad Damanhuri Melalui Pengajian

Santri

Pelaksanaan penyuluhan agama ini di laksanakan dalam bentuk Shalat Tasbih, Shalat Dhuha dan Pengajian. Khusus bagi para santri putra maupun santri putri secara keseluruhan, tetapi acara tersebut di laksanakan

Pukul 08.00-10.00 WIB yang dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Damanhuri dengan penyampaian pelajaran agama dan tanya jawab, baik yang bersifat organisasi maupun yang bersifat keilmuan.

D. Aktivitas Dakwah KH. Ahmad Damanhuri Melalui Seminar

Pendidikan di STAISKA

Acara ini diadakan oleh mahasiswa untuk membahas tentang masalah yang dibutuhkan dan menjadi perbincangan dimasyarakat, namun peserta yang hadir tidak hanya mahasiswa melainkan, strukutural Pesantren, Dosen, santri, masyarakat, pejabat pemerintah dan organisasi yang bersifat umum dengan membahas tema seperti: Terorisme, Faham Radikalisme, Ahmadiyah dan Pendidikan. Dalam hal ini KH. Ahmad Damanhuri menjadi pembicara tentang hukum tersebut dalam Islam.

D. Karya-Karya KH. Ahmad Damanhuri

1. “Sikap Yahudi Terhadap Islam” dan Keutamaan Jihad di Jalan Allah (Abdul Aziz Abdullah Bin Baz) Terjemahan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Penerjemah KH. Ahamad Damanhuri, Editor Drs. KH. Hasan Anshori, MA, Desain Cover M. Hidayatullah di terbitkan olehYayasan Pesantren Al-Karimiyah Sawangan-Baru Kota-Depok 021-91272 996, 1813 8000 5543 dan Di cetak oleh CV. Kreasi Gemilang Percetakan, Advertising, sablon dan Perijinan Depok, 021. 77883770.

Damanhuri MA, Imfaq cetak H. Adi Sunaryo, Editor Drs. H. Hasan Anshori, MA, Setting “CINTA ILMU”, Layout Abu Sab’ah Desain Cover M. Hidayatullah, Cetakan Pertama Agustus 2008 dan Penerbit Yayasan Pesantren Al-Karimiyah Sawangan-Baru Kota-Depok.

3. 35 Penyebab di Ampuni Dosa (Tulisan Sendiri). 4. Kunci Memperoleh Rizki. (Tulisan Sendiri) 5. Rahasia Terkabulnya Do’a. (Tulisan Sendiri)

57 DEPOK

A. Konsep Retorika KH. Ahmad Damanhuri

Retorika menurut KH. Ahmad Damanhuri adalah bagian dari dakwah, yaitu cara untuk mempengaruhi orang lain agar tertarik kepada kebaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW dan sebagai alat utama yang sangat berperan penting bagi seorang da’i dalam berdakwah untuk menentukan gaya bahasa, penampilan dan tehnik berbicara yang memiliki daya sentuh kepada hati nurani mad’u agar khusu’ mendengarkan dan meresapi pesan dakwah yang disampaikan oleh da’i.1

Langkah-langkah yang beliau lakukan adalah pertama, menyesuaikan materi dakwah dengan topik yang sedang menjadi perbincangan di masyarakat atau dengan kata lain materi dakwah harus sesuai dengan acara yang diperingati. Kedua, mencari dalil atau argument yang sesuai dengan materi, baik berupa dalil al-Qur’an, hadits, ijma’, qiyas maupun pendapat pribadi yang memiliki daya rasionalitas dan emosional sehingga dapat menyentuh hati jama’ah. Ketiga, menyisipkan pengalaman pribadi yang dapat membangkitkan semangat audiens. Keempat, menyusun materi dakwah yaitu mana yang lebih dahulu untuk disampaikan dan mana yang diakhirkan untuk disampaikan,

1

Hasil Wawancara Pribadi dengan KH. Ahmad Damanhuri yang berlokasi di Jl. H. Maksum No 23 Sawangan Baru Kota Depok 16511 Tlp/Fax. 0251 8617335 (Kediaman Rumah

KH. Ahmad Damanhuri) pada hari Jum’at, 29 April 2011 dan Rabu, 04 Mei 2011, jam19.30 WIB

humor dari setiap materi dengan bahasa sehari-hari. Yang kelima, menguasai dan memahami materi untuk disampaikan kepada jama’ah.2

Retorika merupakan seni atau gaya dalam penyampaian materi, berarti materi yang disampaikan dikemas dengan cara yang menarik, sebagaimana tujuan dari retorika dalam berdakwah adalah mengutarakan pesan dakwah lewat bahasa lisan dengan menganjurkan jama’ah mengikuti ajaran Islam, agar jama’ah lebih paham dan tertarik untuk mengikuti apa yang disampaikan.

Dalam ilmu retorika seorang orator disaat berbicara harus melakukan persiapan-persiapan, seperti, penguasaan materi, pemilihan topik dan penyampaian pesan dengan gaya bahasa yang baik, karena itu semua menjadi syarat dalam mencapai keberhasilan dakwah, karena persiapan adalah setengah dari kesuksesan.

KH. Ahmad Damanhuri ketika berdakwah menggunakan bahasa sehari-hari dalam pergaulan di masyarakat dan menggunakan suara yang keras, berapi-api dan ketegasan dalam memberikan hukum Islam terhadap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat. Seperti status hukum jama’ah Ahmadiyah dan Mensiasati Pengaruh Faham Radikalisme dan Terorisme. Ciri khas pesan retorika KH. Ahmad Damanhuri adalah bahasa

Dalam dokumen Retorika dakwah KH. Ahmad Damanhuri di Depok (Halaman 51-114)

Dokumen terkait