BAB IV. HASIL PENELITIAN
1. Bentuk-bentuk Pendidikan Agama Islam Di Lingkungan
Desa Permanu merupakan desa yang masyarakatnya terkenal
agamis. Terdapat berbagai macam kegiatan yang agamis di desa tersebut.
Bentuk pelaksanaan pendidikan agama Islam yang terdapat dalam
lingkungan masyarakat petani desa Permanu kecamatan Pakisaji
kabupaten Malang adalah sebagai berikut:
TABEL XII
Bentuk-Bentuk Pendidikan Agama Yang Terdapat Di Desa Permanu
No Dusun Kegiatan Keterangan
1 Blau Yasin (ibu-ibu)
Yasin (bapak-bapak) Manaqib (ibu-ibu) Manaqib (bapak-bapak) Tahlil (ibu-ibu) Tahlil (bapak-bapak) Istighasah (ibu-ibu) Istighasah (bapak-bapak) Tahtimul Qur’an (ibu-
ibu)
Tahtimul Qur’an (bapak- bapak)
Diba’ (ibu-ibu) Diba’(bapak-bapak) Hadrah
Setiap malam selasa -
-
Sebulan sekali, tiap tanggal 11
Setiap hari jum’at Setiap malam jum’at Setiap hari sabtu -
Satu bulan sekali, pada Minggu pertama Satu bulan sekali, pada minggu terakhir
Setiap malam jum’at -
Dua jam’iyah
TPQ
Remaja masjid
Tombo Ati) 3 buah Kurang aktif 2 Tunggul Yasin (ibu-ibu)
Yasin (bapak-bapak) Manaqib (ibu-ibu) Manaqib (bapak-bapak) Tahlil (ibu-ibu) Tahlil (bapak-bapak) Istighasah (ibu-ibu) Istighasah (bapak-bapak) Tahtimul Qur’an (ibu-
ibu)
Tahtimul Qur’an (bapak- bapak) Diba’ (ibu-ibu) Diba’(bapak-bapak) Hadrah TPQ Remaja masjid
Setiap malam kamis -
-
Sebulan Sekali, Tiap Tanggal 11
Setiap Hari Jum’at Setiap malam Jum’at -
-
Sebulan Sekali
Sebulan Sekali
Setiap Hari Minggu -
- 3 buah Kurang aktif 3 Permanu Yasin (ibu-ibu)
Yasin (bapak-bapak) Manaqib (ibu-ibu) Manaqib (bapak-bapak) Tahlil (ibu-ibu) Tahlil (bapak-bapak) Istighasah (ibu-ibu) Istighasah (bapak-bapak) Tahtimul Qur’an (ibu-
Setiap malam Selasa Setiap malam Sabtu -
- -
Setiap malam Jum’at Satu bulan sekali Setiap malam Minggu Satu bulan sekali
ibu)
Tahtimul Qur’an (bapak- bapak) Diba’ (ibu-ibu) Diba’(bapak-bapak) Hadrah TPQ Remaja masjid - - - - Empat buah Kurang aktif
4 Lowok Yasin (ibu-ibu)
Yasin (bapak-bapak) Manaqib (ibu-ibu) Manaqib (bapak-bapak) Tahlil (ibu-ibu) Tahlil (bapak-bapak) Istighasah (ibu-ibu) Istighasah (bapak-bapak) Tahtimul Qur’an (ibu-
ibu)
Tahtimul Qur’an (bapak- bapak) Diba’ (ibu-ibu) Diba’(bapak-bapak) Hadrah TPQ Remaja masjid Malam Selasa - - -
Setiap hari kamis Setiap malam jum’at Setiap malam jum’at legi
- -
Satu bulan sekali
Malam Senin -
Seminggu sekali Dua buah
Kurang aktif
Sumber; wawancara dengan Kamituwo masing-masing dukuh, 15 maret 2009
Bentuk pendidikan agama Islam di desa Permanu terbagi menjadi
tiga kelompok besar, yaitu; kelompok anak-anak, kelompok remaja,
kelompok dewasa.
a kelompok anak-anak
Pendidikan agama luar sekolah di desa Permanu, bagi kalangan
anak-anak diwujudkan dalam bentuk taman pendidikan Qur’an (TPQ).
Dalam pendidikan ini anak memperoleh berbagai materi dasar agama
yang dapat dikembangkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Di desa Permanu terdapat dua belas Taman pendidikan qur’an
(TPQ) yang tersebar dalam empat dukuh. Sebagaimana di jelaskan
dalam tabel dibawah ini:
Table XIII
Nama-nama TPQ yang terdapat di desa Permanu
No Nama TPQ Alamat Pengasuh
1 Ummy syukron Rt. 01/Rw. 01 Dk Lowok Desa permanu − Ngateno 2 Al-Yusri Rt. 02/Rw. 01 Dk Lowok Desa Permanu − Iskandar − Mu’in 3 Al-Ikhlas Rt. 01/Rw. 02 Desa Permanu − Ummi hanik masruroh S.Ag − Asroful 4 Nur Hidayat Rt. 05/Rw. 02 Desa
Permanu
− Abdul mutholib
− Lukman fauzi
− Makinudin
− Muh.subhan
− Cicik isnaini asih 5 Al-Falah Rt. 03/Rw. 03 desa Permanu − Habib Mustafa − Jamilah − Dodik hermawan
− Ani dwi wahyuni
− Yautik − Rita sugiarti 6 Roudlatul Jannah Rt. 04/Rw. 03 desa Permanu − Yahdi 7 Darussalam Rt. 02/Rw. 04 Dk Tunggul Desa Permanu − Mustofa 8 Jainul Ikhsan Rt. 02/Rw. 04 Dk Tunggul Desa Permanu − Abdul latif 9 Al-Ikhlas Rt. 03/ Rw. 04 Dk Tunggul Desa Permanu − Jainal abidin − Sarofah 10 Al-Hikmah RT. 03/RW. 05 DK Blau Desa Permanu − Kholis − Juwariyah − Warsiyah − Dewi maskurun 11 Baitul Muntaha Rt. 06/Rw. 06 Dk Blau Desa Permanu − Basuki − Misbah − Chusnul yakin − Sobirin 12 Darussalam Rt. 01/Rw. 07 Dk Blau Desa Permanu − Narim − Warno Sumber: dokumentasi data desa Permanu 2008
Dalam pelaksaannya antara TPQ yang satu dengan yang
lainnya tidak dilakukan secara serentak, tergantung pada daerah
diharapkan dari TPQ sesuai dengan yang dikatakan oleh ustadzah
Dewi Maskurun adalah “ dengan adanya TPQ diharapkan anak bisa
belajar baca tulis Al-Qur’an, selain tentang pelajaran Al-Qur’an santri
juga diberi ilmu tambahan lain seperti pengenalan tentang nama-nama
tuhan, tentang sholat hal ini dimaksudkan agar santri mengetahui ilmu
agama dasar”.82
b Kelompok remaja
Masyarakat remaja desa Permanu berjumlah 792 jiwa. Jumlah
remaja ini di dasarkan pada penduduk desa yang berusia antara 11-20
tahun. Hal ini dikarenakan, anak umur 11-20 tahun adalah anak mulai
memasuki usia sekolah menengah pertama dan rata-rata belum menikah.
Pendidikan agama bagi kelompok remaja masyarakat petani di
desa Permanu diwujudkan dalam bentuk remaja masjid dan hadrahan.
Dalam hal ini yang akan menjadi pembahasan utama adalah jam’iyah
hadrah, karena remaja masjid yang terdapat di desa Permanu kurang
eksis. Sebagaimana dikatakan oleh Imam ketua remaja masjid Baitul
Muntaha dusun Blau
kegiatan-kegiatan remaja masjid yang sudah dibentuk dan disetujui sekarang kurang eksis, hal ini dikarenakan para remaja yang didusun ini banyak yang sudah menikah, sibuk dengan rumah tangganya dan juga ada bekerja diluar kota, pulangnya satu minggu sekali.83
82
Wawancara dengan salah seorang ustadah dari TPQ Al-Hikmah dusun Blau, 10 Maret 2009
83
Jam’iyah hadrah yang terdapat di desa Permanu terdapat tiga
buah, yaitu satu jam’iyah hadrah oleh bapak-bapak yang terdapat di
dukuh Lowok, dua jami’yah hadrah oleh remaja (putra-putri) yang
terdapat di dukuh Blau yaitu Hubbul wathon dan Tombo ati. Dalam
pelaksanaannya yang terlihat aktif adalah jam’iyah hadrah Hubbul
wathon dan Tombo ati.
1) Sejarah berdirinya jam’iyah hadrah Hubbul wathon
Jam’iyah hadrah Hubbul wathon berdiri pada tahun 2000.
Alasan yang mendasari berdirinya jam’iyah hadrah ini selain usaha
untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui membaca sholawat
kepada Nabi Muhammad adalah karena prihatin melihat banyaknya remaja yang semakin jauh dari ajaran agama. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya pemuda yang bermain-main (cangkruan) di pos
kamling pada waktu sholat maghrib, serta banyak pemuda yang
lebih condong terhadap lagu-lagu (seperti musik dangdut dan pop)
dari pada musik-musik yang bernadakan sholawat, karena selama
ini sholawat kepada nabi hanya dinyanyikan tanpa alunan musik.
Melihat kenyataan seperti itu bapak Shohih ketua hadrah Hubbul
wathon mengajak para pemuda untuk bermain musik yang lagu-
lagunya bernada sholawat kepada nabi Muhammad SAW.
Nama Hubbul wathon secara filosofis mempunyai arti yang
semua orang khususnya pemuda yang ada di daerah tersebut dapat
mencintai rosulnya dan dapat mencintai Negara.
Pertama berdiri tidak banyak pemuda yang tertarik terhadap
jam’iyah ini, karena belum terdapat peralatan yang lengkap,
peralatan yang ada hanyalah berupa terbang dan jidor. Namun hal
ini tidak menyurutkan keinginan pendiri untuk mengajak para
pemuda menuju kebaikan. Usaha yang dilakukan untuk
melengkapi peralatan seperti piano, gitar dan drum adalah kerja
lembur dengan memboking pekerjaan di sawah yang dilakukan
oleh semua anggota yang ada.
2) Pelaksanaan jam’iyah hadrah Hubbul wathon
Anggota jam’iyah hadrah Hubbul wathon sebanyak 30
orang (4 perempuan dan 26 laki-laki). Latihan rutin jam’iyah
hadrah Hubbul wathon dilakukan setiap malam Minggu.
Dalam pelaksanaanya selain membaca sholat kepada nabi
juga disertai dengan ceramah agama, setiap pergantian lagu diberi
ceramah sesuai dengan isi lagu yang dibawakan, serta hal-hal yang
dianggap penting untuk membangun keimanan anggota Jam’iyah
hadrah Hubbul wathon berupa keharusan menjalankan sholat lima
waktu, siksa kubur, janji Allah tentang nikmat dan siksa yang
3) Nilai yang terkandung dalam jam’iyah hadrah Hubbul wathon
Pada akhirnya masyarakat mempunyai penilaian yang
positif dengan lahirnya jam’iyah ini, bisa dibuktikan dengan
undangan, snack bahkan kue yang diberikan pada waktu latihan
rutinan. Latihannya dilakukan tidak menetap pada satu tempat.
Kadang-kadang dilakukan di musholla dan dilakukan dirumah
warga.
Nilai yang terkandung adalah nasehat-nasehat yang
diberikan oleh pemimbingnya sebelum dan sesudah latihan.
Terutama sebelum pentas padasaat undangan materi yang diberikan
biasanya antara masalah-masalah agama. Tetapi nilai pendidikan yang ersifat keluar, dalam artian kepada mustami’in biasa diisi
dengan ajakan tauhid dan gemar membaca sholawat karena dengan
beriman dan, kehidupan manusia akan lebih berarti khususnya
untuk kehidupan akan datang.
c kelompok dewasa
Pendidikan agama Islam bagi kelompok dewasa di desa
Permanu diwujudkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan rutin, misalnya;
tahlil, yasinan, manaqib, diba’, khotmil qur’an, istighasah, jam’iyah
tariqot dan sebagainya. Dari beberapa kegiatan diatas peneliti akan
menggambarkan pelaksanaan tahlil, yasinan, manaqib, diba’, secara
Pengambilan keempat kegiatan keagamaan tersebut karena
kegiatan tersebut mempunyai pengaruh positif yang besar bagi
masyrakat desa Permanu, Selain itu kegiatan tersebut berstruktur rapi
dan berjalan lancar. Berstruktur rapi maksudnya kegiatan tersebut
mempunyai pemimpin-pemimpin yang konsisten, baik dalam tanggung
jawab maupun dalam perjuangannya demi berlangsungnya jama’ah ini.
Sedangkan maksud dari berjalan lancar adalah kegiatan tersebut tidak
pernah libur kecuali pada bulan Ramadlan.
1) Jam’iyah tahlil
Jama’ah tahlil di desa Permanu khususnya untuk bapak-
bapak dilaksanakan serentak pada malam jum’at setelah sholat Isya’ dan berakhir pukul 21.00 BBWI. Pengambilan waktu pada
malam Jum’at sesuai yang dikatakan oleh bapak ketua jama’ah
tahlil bapak Abdul Syukur
masyarakat menganggap malam Jum’at merupakan malam keramat yakni malam yang paling utama, penuh berkah dan ampunan. Maka dari itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Jika digunakan dengan perbuatan yang tidak bermanfaat, maka si pelaku akan celaka. Tahlil yang dilaksanakan pada malam jum’at ini adalah bentuk taqorrub ila Allah. 84
Anggota jama’ah tahlil adalah semua penduduk. Bagi
mereka yang bukan anggota, maka jika sewaktu ingin
mengirimkan do’a bagi keluarga yang sudah meninggal, maka
penduduk tersebut mengundang jama’ah tahlil.
84
Jama’ah tahlil dilakukan di setiap rumah di setiap anggota
dengan sistem bergilir. Artinya semua anggota akan kebagian
untuk menjadi tuan rumah (shohibul bait). Namun juga tak jarang
diantara para anggota meminta jatah menjadi tuan rumah terlebih
dahulu. Misalnya seorang anggota jama’ah tahlil mempunyai acara
tasyakuran, maka ia boleh mengajukan permintaan untuk segera
menjadi tuan rumah dengan catatan anggota yang akan menjadi
tuan rumah mengjinkan.
2) Jam’iyah yasin
Jama’ah yasin yang terdapat di desa Permanu tidak
dilaksanakan serentak diseluruh desa Permanu, melainkan di setiap dusun. Dusun Permanu misalnya, kegiatan jama’ah yasin untuk
ibu-ibu dilakukan setiap malam Selasa. Sedangkan di dusun
Tunggul untuk jama’ah yasin ibu-ibu dilakukan pada malam
Kamis.
Jenis bacaan yasin yang dibaca antara satu tempat dengan
tempat lain berbeda. Hal ini dibuktikan dengan jenis bacaan yasin
yang terdapat di dusun Tunggul dan Permanu adalah yasin fadlilah
(yang mana dalam bacaannya terdapat tambahan berupa do’a dan
ada lafadz yang diulang-ulang sampai tujuh kali), sedangkan
bacaan yasin yang terdapat di dukuh Blau dan Lowok adalah
Kegiatan yasin bagi bu-ibu ini biasanya dibarengi dengan
arisan. Baik itu arisan berupa uang atau barang (beras). Dalam
setiap pertemuan jama’ah yasinan diberikan himbauan untuk
menyisihkan uang sebesar Rp. 1000,00 sampai Rp. 2000,00
sebagai amal jariyah. Dan dana yang diperoleh dipergunakan untuk
kas, baik itu nantinya akan dibelikan barang berupa buku yasin
atau yang lainnya.
3) Jam’iyah manaqib
Pelaksanaan jama’ah manaqib yang terdapat di desa
Permanu sebagaimana hasil wawancara dengan kamituwo (15
Maret 2009) tiap-tiap dukuh serentak dilakukan setiap sebulan sekali pada malam tanggal sebelas.
Isi dari bacaan manaqib adalah cerita tentang perjalanan
Syaih Abdul Qodir Jaelani mengenai riwayat hidupnya dan
perjuanggannya dalam menjalankan syari’at agaa Islam, dengan
membaca manaqib diharapkan akan dapat mengambil hikmah, bisa
mengikuti perjuangan, serta mampu meneladani kisah yang
dilakukan oleh Syaih Abdul Qodir Jaelani.85
4) Jam’iyah diba’
Pelaksaan Jam’iyah diba’ Baik dalam bacannya maupun
waktunya. Dari semua daerah tersebut tidak murni dilakukan ibu-
ibu yang berusia dewasa (25 tahun keatas) terdapat juga golongan
85
remaja yang mengikuti kegiatan diba’. Hal ini dapat dilihat dari
pelaksanaan jam’iyah diba’ rutin yang terdapat di dusun Blau yang
dilaksanakan pada hari malam Minggu dan yang mengikuti tidak
murni dari golongan dewasa. Diba’ menggunakan kitab Majmu’ah
Maulid Wadiyyah . 86
Bentuk pelaksanaan pendidikan agama Islam yang terdapat di
desa Permanu selain tersebut diatas, juga terdapat kegiatan keagamaan
seperti sholat Jum’at, peringatan hari besar Islam (PHBI) yang diikuti
oleh semua masayarakat petani desa permanu.
1) Jum’atan
Dari hasil observasi, Jum’atan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh masyarakat petani desa Permanu. Jum’atan
dilakukan di masjid yang terbagi menjadi delapan bagian. Dalam
pelaksanaannya diikuti oleh seluruh warga masyarakat, baik orang
laki-laki maupun perempuan. Masyarakat sudah sadar bahwa
Jum’atan itu diwajibkan bagi laki-laki dan disunnahkan bagi
perempuan, sehingga yang mendominasi adalah para lelaki.
Materi keagamaan yang dapat diserap oleh masyarakat
adalah dengan melalui khutbah Jum'at, dimaa isinya sarat dengan
ajakan untuk mengingat Allah dimaapun berada. Hal ini senada
dengan pernyataan bapak Basuki, bahwa khutbah jum’at materi
yang digunakan adalah tentang dakwah agar lebih mendekatkan
86
diri kepada Allah SWT, metode yang digunakan adalah metode
ceramah.87
2) Peringatan hari besar Islam
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, masyarakat
petani desa Permanu setiap datang hari besar islam seperti maulid
nabi, isro’ mi’roj dan lain sebagainya selalu memperingati.
Sebagaimana dikatakan oleh bapak Karmain seorang tokoh agama
Memperingati hari besar Islam itu selalu dilakukan, karena semua itu adalah sebuah bentuk penghormatan. Adapun dalam memperingati hari besar islam itu bisa dilakukan secara sederhana atau secara besar-besaran, jika dalam bentuk sederhana biasanya masyarakat membawa makanan yang berupa nasi atau makanan ringan yang ditaruh di ember dibawa ke musholla atau masjid. Kemudian seorang ustadz memberikan siraman rohani dilanjutkan dengan membaca do’a dan makanan tersebut saling ditukar untuk dimakan bersama dan sisanya dibawa pulang. Hal ini dilakukan setelah solat isya’. Sedangkan peringatan hari besar islam yang dilakukan secara besar-besaran yaitu dengan mendatangkan seorang penceramah dari luar kota. Secara umum kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan silaturrahmi diantara para warga dan dengan maksud untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dengan kisah-kisah besarnya.88
Pendidikan agama Islam yang terdapat di desa pemanu selain di
laksanakan di Masjid dan Musholla, juga terdapat dua pondok pesantren sebagai tempat untuk menuntut ilmu pengetahuan agama, santri yang datang
tidak hanya dari daerah desa permanu saja. Ada santri yang datang dari daerah
Kepanjen, Blimbing, dan lain sebagainya. Dua pesantren tersebut diantaranya
adalah pondok pesantren Al-Falah terletak di dusun Permanu dan pondok
pesantren Miftahul Ulum terletak di dusun Blau.
87
wawancara dengan takmir masjid Baitul Muntaha, 16 Maret 2009)
88
1) Sejarah PONPES Al-Falah
Sebelum Pondok Pesantren Al-Falah ini berdiri, pada awalnya
merupakan sebuah wadah mengaji "Pendalaman Al - Qur'an" yang
terbentuk atas motor inisiatif pemuda-pemudi di sekitar desa, dengan
Pengasuh Ust. Habib Musthofa, S.Ag, Dengan semakin bertambahnya
waktu, jumlah santri yang mengikuti kegiatan mengaji "Pendalaman Al-
Qur'an" ini semakin menunjukkan perkembangan kuantitas. Sehingga
dengan tujuan agar proses kegiatan mengaji ini dapat berjalan secara
terorganisir, disamping itu juga agar mutu/kualitas proses belajar-mengajar
dapat ditingkatkan dengan menyesuaikan jumlah santri yang semakin
bertambah, maka terbentuklah sebuah wadah yang lebih besar yaitu Madrasah.
Madrasah yang terbentuk ini pertama didirikan pada tanggal 1 Juni
2002 dengan nama Madrasah Islamiyah Salafiyah Baitul 'Alam. Pendirian
madrasah ini juga memiliki beberapa tujuan yaitu untuk mempermudah
pengontrolan kegiatan belajar-mengajar dan memperlancar
pengadministrasian. Madrasah yang telah terbentuk tidak hanya memiliki
satu kegiatan yaitu mengaji "Pendalaman Al-Qur'an" saja, akan tetapi juga
kegiatan "Pendalaman Kitab-kitab Diniyah".
Setelah kurang lebih 1 tahun Madrasah ini berdiri, terjadi
penggantian nama yaitu dari Madrasah Islamiyah Salafiyah Ba'itul 'Alam
Pondok Pesantren “Al-Falah” merupakan pondok pesantren
pertama yang didirikan di Desa Permanu Kecamatan Pakisaji Kabupaten
Malang. Alasan utama berdirinya Pondok ini selain beberapa alasan
tersebut di atas adalah karena apabila bentuk wadah mengaji hanya
berbentuk Madrasah, maka gerak Pengasuh dalam kegiatan belajar-
mengajar sangatlah sempit, sehingga dibentuklah Pondok yang dimotori
oleh Pengurus Yayasan dan juga Pengurus Madrasah.
2) Visi, Misi dan Motto PONPES Al-Falah
motto yang disandang Pondok Pesantren “Al-Falah” adalah
"Jadilah santri yang intelek dan jadilah orang intelek yang bersantri".
Maksudnya adalah dalam Pondok Pesantren “Al-Falah” ditekankan bahwa setiap insan santri harus mampu menggali ilmu di dunia ini yaitu berupa
ilmu umum dan sekaligus ilmu agama sehingga didapatkan keseimbangan
dalam menjalani hakekat hidup sekaligus sebagai bekal di akhirat nanti.
Sebagaimana yang telah diilustrasikan oleh Rosulullah SAW dalam
haditsnya "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup
selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati
besok".
3) Lokasi PONPES Al-Falah
PONPES “Al-Falah” berdiri di atas lahan seluas 50 x 15 (m2) dan
berlokasi di Jl. Mbah Sindu No. 06 Permanu Pakisaji Malang tepatnya di
dekat Masjid Roudhotul Jannah Permanu, dengan bentuk bangunan fisik berupa :
1) Tempat tinggal Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah
2) Tempat tinggal Santriwan dan Santriwati
3) Pendopo
4) Kantor Administrasi Pondok Pesantren Al-Falah
Yang keseluruhan bangunan dan lahan tersebut merupakan
sumbangan jasa peminjaman dari salah seorang warga desa Permanu yang
bernama Bapak Sanusi.
4) Ruang Lingkup PONPES Al-Falah
Pengasuh Pondok Pesantren “Al-Falah” adalah Ust. Habib
Musthofa, S.Ag yang berasal dari Desa Babadan (Kecamatan Ngajum),
sedangkan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren “Al-Falah” berasal dari Desa Babadan (Kecamatan Ngajum), Ngajum (Kabupaten Malang), Desa
Permanu (Kecamatan Pakisaji) serta dari Blimbing (Kota Malang).
Sedangkan yang bergerak sebagai Pengajar berasal dari Desa
Kedungmonggo (Kecamatan Pakisaji), Desa Permanu (Kecamatan
Pakisaji) dan dari Pakisaji sendiri.
Jumlah santri sampai tahun ajaran 2004/2005 sebanyak + 100
santri yang berasal dari Desa Permanu (Kecamatan Pakisaji), Desa
Kedungmonggo (Kecamatan Pakisaji) dan Pakisaji sendiri.
Kegiatan belajar-mengajar dalam PONPES “Al-Falah” terbagi
dalam dua bentuk kegiatan, yaitu :
a) Kegiatan Intrakurikuler :
pendidikan selama 4 tahun dan memiliki lingkup kegiatan antara
lain :
(a) Pendalaman Al-Qur'an
(b) Hafalan Surat-surat Pendek
(c) Praktek Ibadah, dan
(d) Hafalan do'a-do'a
2) Madrasah Islamiyah Salafiyah Riyadlotul Uqul yang terbagi dalam
2 tingkat yaitu :
1) Madrasah Ibtidaiyah dengan masa pendidikan selama 3 tahun
2) Madrasah Tsanawiyah dengan masa pendidikan selama 4 tahun
3) Jama'ah Sepuh dengan lingkup kegiatan : (a) Pendalaman Al-Qur'an
(b) Pengajian rutin, dan
(c) Jama'ah Yasin Fadhillah tiap hari kamis/malam
b) Kegiatan Ekstrakurikuler :
1) Sholat malam dan Istighosah rutin diikuti oleh Jama'ah
santriwan/santriwati Madrasah dan masyarakat umum.
2) Jama'ah Manaqib
3) Jama'ah Diba'iyah
4) Ekstrakurikuler Olah raga, Bahasa Inggris dan Komputer selain itu
santriwan/santriwati Pondok Pesantren juga dibekali ketrampilan
2. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Lingkungan