• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: KAJIAN TEORI

B. Penyakit Hati

3. Bentuk-bentuk Penyakit hati

1) Pengertian dengki

Dengki adalah perasaan yang senang atas lenyapnya nikmat dari orang yang ia dengki dengan berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan nikmat tersebut dengan berbagai cara. Sehingga, perlu meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya, perlu meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan dan untuk meruntuhkan tipu dayanya. Penyebar-penyebar penyakit „ain juga termasuk orang yang dengki karena tidaklah penyakit „ain muncul kecuali dari seorang pendaki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. (As-Sa'di, 2017: 605).

Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." (Al-Falaq ayat 5)



Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (Qs An-Nisa‟ ayat 54)

Allah Swt. pernah memerintahkan Rasulullah Saw. berlindung dari kejahatan dengki, sebagaimana ia berlindung dari kejahatan Syeitan.

Dalam hal ini, kita dapat mengetahui bahwa sifat dengki sangat membahayakan diri manusia. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, marilah kita bersama-sama menjauhkan diri dari sifat dengki.

Sebab, dengki hanya akan merusak diri dan amal kebaikan seseorang (Effendi, 2019: 81)













Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki. (Qs Al-Falaq ayat 5)

2) Penyebab Dengki

Ada banyak celah yang menjadi peluang masuknya kedengkian dalam diri, diantaranya sebagai berikut (Yamani, 2012: 221-225 )

a) Permusuhan dan kebencian. Kedua hal ini merupakan pintu kedengkian yang paling besar dan paling banyak terjadi. Kerena, tiap orang yang direndahkan seseorang dengan alasan apapun tentu hatinya akan membenci. Dia akan membenci dan permusuhan semakin mengakar. Apabila orang yang dibenci ini tidak mampu melampiaskan kebenciannya, minimal dia aakan senang melihat setiap musibah yang menimpa orang yang dibencinya itu. Apabila bencana menimpa musuhnya, dia merasa senang. Bahkan dia akan mengira bahwa bencana itu merupakan pemenuhan kebencian dari Allah, bahwa bencana itu menimpa musuhnya karena dia.

Sementara bila ada nikmat di dapat oleh musuhnya, nikmat itu membuat dirinya susah, simpulnya, kedengkian memestikan adanya kebencian dan permusuhan dari si pendengki terhadap orang yang di dengkinya.

b) Merasa diri mulia

Seseorang pendengki akan merasa berat bila ada orabg lain lebih tinggi darinya. Apabila orang-orang yang menjadi sasaran kedengkian itu mendapat kekuasaan atau jabatan kehormatan misalnya, atau mendapat ilmu dan harta, dia takut orang itu akan sombong kepadanya dan dia tidak kuat menerima kesombongannya, nafsuya tidak rela orang itu lebih luhur dan lebih terhormat daripada dirinya. Menjadi mulianya orang yang menjadi sasaran kedengkian menjadi faktor penyebab munculnya kedengkian dari orang lain terhadap dirinya.

c) Bersumber dari tabiat si pendengki

Si pendendengki memiliki watak yang angkuh dan merasa lebih besar daripada oranga yang didengkinya. Dia menganggapnya kecil, menyepelekannya, menjadikannya sebagai bawahan (pembantu), selalu ingin mengatur dan mengendalikannya. Apabila sasaran kedengkiannya ini memperoleh nikmat dan kedudukannya menjadi tinggi, dia takut keadaannya berbalik, menjadi lebih mulia dari dirinya dan tidak bisa lagi dikendalikan. Atau barangkali dia yang tadiya lebih rendah itu menjadi sederajat dengan dirinya.

Jelas hal ini menjadi faktor pemicu kedengkiannya.

d) Dedengki muncul karena faktor keserupaan dan kesejajaran.

Kedengkian muncul karena faktor keserupaan dan kesejajaran.

Seperti yang terjadi pada umat-umat terdahulu, sebagaimana dikabarkan oleh Allah di dalam Al-Quran ihwal bagaimana mereka membohongkan dan menolak para Nabi

e) Dengki muncul karena khawatir tidak kebagian atau kehilangan hal yang diinginkan, dan demi khusus bagi orang yang berebut mendapatkan maksud yang hanya satu. Masing-masing akan mendengki lawannya dalam setiap nikmat yang akan membuatnya menjadi satu-satunya peraih hal yang dimaksud.

f) kecintaan untuk menjadi pemimpin, gila pangkat dan jabatan, namun bukan untuk memperoleh harta benda. Isalnya seseorang yang ingin menjadi sosok yang tiada bandingannya di dalam suatu keahlian, karena dia sudah gila pujian, semakin merasa gembira mendengar sanjungan dari lisan orang-orang yang menyatakkan bahwa dia satu-satunya dia satu-satunya orang yang ahli dalam suatu bidang. Atau orang yang aling ahli di masanya, tidak ada bandingannya. Apabila bila dia mendengar ada orang yang sebanding dengan dirinya, kenyataan itu membuatnya susah, dan dia tentu menginginkan orang itu mati, atau nikmat yang ada padanya dan membuatnya sebanding itu lenyap, entah dalam hal

keberanian atau ilmu, beribadah, keahlian teknis, kecantikan, kekayaan atau sebagainya yang membuat dia menjadi orang satu-satunya dan tiada tanding serta merasa gembira dengan keistimewaanya itu. Bukti akan kedengkian model ini adalah kedengkian yang dialami para ulama Yahudi, mereka mengingkari kenabian Nabi Muhammad Saw. dan tidak mengimaninya karena takut kepemimpinan yang tengah mereka nikmati menjadi batal hingga tidak lagi punya pengikut. Karena apabila kitab mereka di-nasakh, selesailah kepemimpinan mereka.

g) kebusukan dan kekikiran jiwa terhadap hamba-hamba Allah.

Engkau bisa mendapati seseorang yang tidak disibukkan oleh kepemimpinan dan tidak pula oleh kesombongan, bahkan tidak pula disibukkan dengan mencari harta namun, dia merasa sempit ketika dihadapannya disebu-sebut baiknya keadaan salah seorang hamba Allah yang dikaruniai nikmat. Lalu apabila di hadapannya diceritakan betapa semerewutnya kondisi orang-orang, bagaimana keberagamaan mereka merosot, bagaimana mereka gagal, tidak bisa mencapai tujuan dan hidup mereka tidak bahagia, dia merasa gembira dan puas. Dia selalu ingin orang lain mundur dan merosot, dan dia bakhil akan nikat Allah atas hamba-hambanya, seakan-akan mereka mengambil semua nikmat itu dari harta miliknya, dari simpanan kekayaannya. Sungguh si bakhil adalah orang yang bakhil dengan harta dirinya, dan si kikir adalah orang yang kikir dengan harta orang lain. Sementara bakhil dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepada hamba-hamba Allah yang tidak ada memiliki permusuhan dengan dirinya, bahkan tidak ada hubungan sama sekali dengan dirinya

3) Tingkatan dengki

Dengki memiliki beberapa tingkatan yang mesti kita ketahui.

Berikut tingkatan yang dimaksud (Effendi, 2019: 84-85):

a) Seseorang yang memiliki sifat dengki akan selalu berusaha untuk menghilangkan kenikmatan/kebahagiaan orang lain dengan berbagai cara. Tujuannya, agar nikmat tersebut dimilikinya.

b) Sifat dengki yang dimiliki oleh seseorang tidak akan tampak melalui ucapan maupun perbuatannya. Ia menyimpan sifat buruk tersebut di hatinya sehingga tidak diketahui orang lain. Namun, ketika ia ingin menghancurkan kenikmatan orang lain, maka ia akan berbuat jahat sesuka hatinya. Maka ia akan berbuat jahat sesuka hatinya. Oleh karena itu, segera hilangkan sifat dengki yang tertanam di hati agar tidak merugikan orang lain.

c) Seseorang yang merasa dengki melihat kenikmatan orang lain, tetapi ia tidak berkeinginan untuk menghancurkannya. Ia justru ingin memiliki kenikmatan tersebut tanpa harus merugikan orang lain. Dalam hal ini, jika nikmat itu bersifat duniawi, maka tidak ada nilai kebaikan naginya. Akan tetapi, jika nikmat tersebut bersifat ukhrawi, maka ia akan mendapat pahala kebaikan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah.

4) Akibat Sifat Dengki

Setelah mengetahui tingkatan dengki, kita juga mesti memahami akibat dari sifat dengki, yakni sebagai berikut (Effendi, 2019: 85-87):

a) Dengki dapat merugikan orang lain maupun diri sendiri. Sifat dengki merupakan sifat yang dapat merusak hubungan baik antar sesama manusia. Jika seorang hamba beriman kepada Allah Swt.

maka seorang berusaha menghilangkan sifat dengki. Sebab Allah Swt. telah menyiapkan rezeki bagi setiap hambanya, terlebih bagi hamba yang termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur terhadap karunianya.

b) Dengki dapat menghilangkan amal kebaikan. Dengki ibarat virus ganas yang bisa membunuh penderitanya, baik dalam waktu sekejap maupun bertahap. Dalam hal ini, amal kebaikan dapat hilang karena dengki yang merugikan orang lain. Terlebih, jika

dengki itu disertai ucapan dan perbuatan yang mengarah pada keburukan. Selain itu, dengki juga termasuk sifat yang tidak disukai Allah Swt. dan bernilai dosa besar.

c) Seseorang yang memiliki sifat dengki akan mendapat ancaman berupa siksaan di akhirat. Allah Swt. berfirman:



yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri. (Qs. Al-Ankabut 29: 40).

b. Sombong

1) Pengertian Sombong

Sombong adalah meras tinggi atas manusia lainnya dan meremehkan mereka. Ia adalah satu emosi yang dibenci dan merupakan satu prilaku buruk yang dicela oleh Allah (Az-Zahrani, 2005: 214). Allah melarang hambanya untuk bersifat sombong, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran:



Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

(Qs An-Nahl ayat 22)



Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (Qs An-Nahl ayat 23)

Sombong merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, dan sering kali tidak disadari oleh manusia. Banyak orang beranggapan bahwa sikap sombong hanya terdapat pada diri orang-orang kaya.

Padahal tidak demikian, sikap sombong dapat mendera siapa saja (Effendi, 2019: 99).

Pada umumnya, sikap sombong ditunjukan untuk sesama manusia. Namun, kini semakin banyak manusia yang berlaku sombong terhadap Allah Swt. bahkan, secara terbuka, mereka menyatakan diri menolak kebenaran yang ada pada diri mereka, seperti melanggar kodrat (fisik dan nasib) maupun perintah Allah Swt.

Sombong adalah penyakit yang dibawa oleh iblis. Disuruh sujud oleh Allah Ta‟ala kepada Adam, ia menolak bahkan angkuh menanggap dirinya lebih mulia. Ana khairun minhu “aku lebih baik dari dia” itulah ucapan iblis untuk menunjukkan ketakabburannya.

„aku dicitakan dari api, sedang dia dari tanah. Akhirnya iblis diusir dari syurga akibat sombong.

Menurut Al-Ghazali ujub (kagum pada diri) mendorong seseorang untuk takabur atau menyombongkan dirinya. Orang yang takabbur menganggap hebat dirinya, menganggap besar perbuatan amalnya. Ketika mengatakan sesuatu ia banyak membanggakan diri, kalau bukan karena saya maka tidak selesai pekerjaan ini, kalau bukan karena saya maka lembaga ini tidak ada yang mengurusi, dan lupa pada kekuasaan Allah Swt (Riwan, 2018: 336).

2) Hal-hal yang Dijadikan Alat Kesombongan

Seseorang akan sombong bila dia menganggap dirinya besar, dan dia hanya akan menganggap dirinya besar bila dia menyakini bahwa di dalam dirinya ada sifat yang menunjukkan kesempurnaan.

Kelengkapan semua itu kembali pada kesempurnaan agama dan duniawi. Ada tujuh hal yang dijadikan alat kesombongan diantaranya sebagai berikut :261-265 (al-Yamani, 2012: 261-265)

a) Ilmu

Betapa cepat kesombongan menyerang orang yang berilmu.

Oleh karena itu Rasulullah bersabda “bahaya ilmu adalah khuyala‟

(kesombongan)”. Seorang berilmu biasanya amat cepat merasa mulia dengan kemuliaan ilmu dan merasa di dalam dirinya ada keindahan dan kesempurnaan ilmu, lalu dia memandang besar dirinya dan menghinakan orang-orang. Kesombongan orang-orang berilmu bisa jadi berkaitan dengan urusan-urusan duniawi dan bisa juga berkaitan dengan urusan-urusan ukhrawi.

Kesombongan berkaitan dengan hal-hal duniawi. Orang berilmu sering kali memandang orang lain seperti dia menganggap bodoh, dan menghinakan keadaan mereka. Dia enggan menjadi orang yang duluan menyapa kepada orang lain. Lalu bila seseorang menyapanya duluan dengan salam. Atau berdiri untuk menghormatinya, atau memenuhi panggilan dan permintaannya, dia memandang semua itu sebagai keutamaan. Dia beranggapan dan menyakini bahwa dirinya adalah orang paling mulia di antara mereka, sehingga dia pun memperlakukan mereka tidak dengan layak. Dan sebagainya dari urusan duniawi yang dengannya dia bersikap angkuh sombong terhadap mereka.

Kesombongan berkaitan dengan urusan ukhrawi adalah memandang diri sendiri sebagai orang yang berkedudukan tinggi dan utama dalam pandangan Allah. Dia lebih mengkhawatirkan siksa akan menimpa orang-orang daripada mengkhawatirkan siksa

akan menimpa dirinya (menganggap orang lain layak mendapat siksa dan memandang diri sendiri tidak akan mendapat siksa).

Tetapi, dia mengaharap untuk dirinya lebih daripada harapannya bagi mereka. Orang yang keadaan begini, dia lebih layak disebut si bodoh, dan ini lebih baik dariapada dia disebut seorang yang alim.

Karena, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dengannya manusia lebih mengenal diri sendiri.

b) Amal dan Ibadah

Kondisi orang yang terlibat dalam amal dan ibadah tidak selalu bebas dari hina kesombongan dan keangkuhan, demikian hati para zahid dan ahli ibadah dirasukinya. Kesombongan mengakar dari mereka dalam agama dan dunia. Mereka sombong dalam hal duniawi karena mereka menyakini bahwa dengan peribadatan mereka dan kezuhudan mereka, mereka memiliki haka atas makhluk. Mereka mengharapkan orang lain memenuhi hajat mereka, mengagungkan mereka, menghormati mereka di majelis-majelis, menyebut-nyebut mereka sebagai orang yang bertakwa, lebih mengutamakan mereka daripada yang lain.

Adapun kesombongan mereka di dalam agama berupa anggapan diri mereka bhwa orang lain adalah orang-orang yang akan binasa, seraya menganggap diri sendiri berada di puncak keselamatan, padahal mereka sendirilah yang celaka dan binasa karena berpandangan dan berkeyakinan seperti itu, Rasulullah Saw.

bersabda, “apabila kalian mendengar seseorang berkata, orang-orang celaka dan binasa, dialah yang paling celaka diantara mereka.” Rasulullah bersabda demikian karena ucapan itu menunjukkan penistaan terhadap makhluk Allah sambil tertipu oleh Allah, merasa aman dari makarnya, tidak takut terhadap kekuasaan Allah. Bagaimana dia tidak celaka dan binasa, padahal susah cukup baginya sebagai kejahatan bila dia memandang hina orang lain.

Rasulullah Saw. bersabda, “cukuplah bagi seseorang sebagai kejahatan bila dia menghinakan saudaranya sesama muslim.

c) Nasab dan Keturunan

Orang yang berasal dari keturunan ningrat sering menganggap rendah orang lain yang bukan dari keturunan ningrat, meskipun amal dan ilmunya lebih tinggi. Saking sombongnya, sebagian sampai memandang orang lain sebagai budak, lalu menghindar dan tidak mau bergaul dengan mereka, apalagi duduk bersama mereka.

Akibatnya adalah membanggakan keturunan.

Penyakit ini terkubur di dalam batin. Orang dari keturunan terhormat dan ningrat tidak terpisah darinya, meski dia saleh dan berakal. Hanya saja, dia kadang tidak berpaling pada keningratannya saat kondisinya tentram, marahnya reda, dan tempramennya tenang. Namun saat marahnya muncul atau tempramennya tenang. Namun saat marahnya muncul atau tempramennya memanas, kondisi itu biasanya memadamkan cahaya matahatinya dan meluap akal sehatnya.

d) Kecantikan

Sombong dengan kecantikan ini umumnya berlaku pada kebanyakan perempuan. Dintaranya seperti yang diriwayatkan dari Aisyah ra “Suatu hari seorang perempuan datang menemui Rasulullah, lalu aku berkata melalui gerak tanganku, yakni perempuan itu tidak cantik. Maka Nabi berkata, „engkau telah menggunjinggnya

e) Harta

Sombong dengan harta banyak terjadi di hampir semua lapisan masyarakat. para penguasa (raja) saling menyombongkan diri dengan harta simpanan. Para saudagar saling menyombongkan diri dengan tanahnya. Para model sering menyombongkan diri dengan pakaiannya, kuda dan kendraan-kenraan mereka. Si kaya menghina si fakir dan bersikap sombong terhadapnya. Dia berkata misalnya,

“engkau sungguh sederhana, miskin dan fakir. Sedangkan aku, kalau mau orang sepertimu bisa aku beli, bahkan orang lebih darimu juga bisa kujadikan pembantu. Siapa engkau, apa milikmu, perkakas rumahku bahkan terlalu mahal untuk bisa kau beli dengan seluruh hartamu. Dalam satu hari aku bisa memberi nafkah sebanyak yang bisa kau makan selama satu tahun”. Semua itu karena dia menganggap besar kekayaan dan menghinakan kefakiran. Dan ini sungguh merupakan kebodohan. Dia tidak tahu bahaya kaya dan fakir.



Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri[875], lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran".

3) Tingkatan Sombong

Sombong memiliki beberapa tingkatan sebagai berikut (Az-Zahrani, 2005: 218-219):

a) Sombong Kepada Manusia sekitarnya dengan harta dan kedudukannya di masyarakat. Semua ini tidak layak dilakukan oleh orang yang mendapatkan rezekinya hanya dari Allah semata.

b) Sombong dengan hartanya yang berlimpa, yang semua ini justru menunjukkan suatu kebodohan pemiliknya. Contoh yang mewakili tingkatan ini ada pada Qarun yang Allah sebutkan kisahnya pada akhir Surah Al-Qashash.

c) Sombong dengan kekuatan dan kesehatannya. Orang ini lupa bahwa kekuatan bukanlah ukuran bagi adanya kemuliaan diantara

manusia. Sesungguhnya yang memberinya kekuatan mampu mengambil kembali kekuatan tersebut dengan hanya sekejap mata.

d) Sombong dengan ilmunya. Orang inilah yang lebih pantas disebut sebagai orang yang bodoh. Karena ilmu yang tidak membuat pemiliknya makin rendah hati dan menambah ketakutankepada Allah, maka ilmu tersebut bukanlah ilmu yang bermanfaaat. Suatu ilmu pada lisan akan menjadi bukti keberadaan Allah melalui penciptaannya, dan ilmu pada hati akan menumbuhkan ketakutan kepadanya

e) Sombong dengan kecantikan/ketampanan wajahnya dan keindahan bentuk tubuhnya. Hal ini umumnya dilakukan oleh para wanita.

Karenanya, waspadalah akan hal ini walau tidak jarang, banyak pula kaum pria yang sombong karena hal ini.

4) Tanda-tanda Kesombongan

a) Menolak kebenaran ketika orang lain memberitahukan kesalahannya dan tidak akan kembali kepada kebenaranataupun menerimanya (Az-Zahrani, 2005: 219)

b) Meremehkan manusia lainnya dan menghinanya serta merasa bahwa ia lebih tinggi dari mereka semua. Kesombongan tidak akan mungkin dilepaskan dari diri seseorang kecuali dengan rendah hati.

Diriwaytakan oleh Muslimah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda “Tidak ada seorangpun yang merasa rendah hati karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya di sisinya (Az-Zahrani, 2005: 219).

5) Balasan Bagi Orang-Orang yang Sombongan

Allah Swt. akan memberi balasan bagi orang-orang yang sombong, antara lain sebagai berikut (Effendi, 2019: 100-102):

a) Kehinaan di Dunia

Allah Swt. Menghukum hambanya yang sombong dengan cara menjadikannya sebagai seorang hamba yang paling hina di dunia.

Maksudnya, Allah Swt. akan menghalangi orang itu dari

pemahaman tentang hujjah dan dalil yang menunjukan keagunga, syari‟at, dan hukum-hukumnya. Selain itu, sombong juga termasuk kebodohan yang merugikan diri sendiri. Terkait hal itu Allah

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku)[569], mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (QS Al-A‟raf: 146).

b) Kehinaan di Akhirat

Seorang yang berlaku sombong akan mendapat hinaan dari Allah Swt. di akhirat dan menjadi kecil seperti semut.

c) Tidak akan Masuk Syurga

Seorang yang di hatinya dipenuhi kesombongan tidak akan masuk syurga. Terkait hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Sebagai orang yang beriman, marilah kita berlindung kepada Allah Swt. dari sikap sombong. Sehingga, kita tidak termasuk golongan orang yang sombong. Sebab, orang sombong akan mengalami kerugian di dunia maupun akhirat.

Adapun ciri-ciri orang yang sombong ialah sebagai berikut (Effendi, 2019: 102-103):

1) Memandang rendah orang lain.

2) Mengannggap diri sendiri lebih tinggi dari orang lain.

3) Menolak kebenaran yang datang dari Allah Swt.

4) Mengucapkan kata-kata yang tidak beradap.

5) Memiliki amal ibadah yang sedikit

6) Mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi daripada akhirat 7) Mencari kesalahan orang laintelah menjadi kebiasaannya 8) Membanggakan diri sendiri menjadi sifat utama.

c. Riya’

1) Pengertian Riya’

Riya‟ merupakan suatu perbuatan yang memamerkan atau menampakkan sesuatu yang ada pada dirinya, dengan tujuan agar mendapat pujian atau sanjungan dari orang lain. Bila seseorang beramal dan berbuat baik kepada orang lain lalu ia memamerkan atau menyebut-nyebut pemeberian itu di hadapan orang lain, maka apa yang telah diperbuatnya menjadi sia-sia belaka, tidak mendapat pahala dari Allah Swt (Fadlun, 2012: 134-135). Allah melarang hambanya untuk bersifat riya‟, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Qs An-Nisa‟ Ayat 38

Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, Maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.









Orang-orang yang berbuat riya‟ (Al-Ma‟un ayat 6).

Kata riya‟ adalah turunan dari kata ru‟yah. Pada dasarnya riya‟

berarti mencari kedudukan di dalam hati manusia dengan memperlihatkan perbuatan baik kepada mereka. Yang dimaksud dengan riya‟ banyak sekali. Namun dapat dikelompokkan menjadi lima macam yang merupakan kumpulan dari hal-hal yang digunakan oleh seseorang untuk menghias dirinya untuk orang lain. Yaitu: badan, pakaian, ucapan, perbuatan, pengikut dan hal-hal lain di luar itu (Farid, 2016: 201).

Riya‟ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Riya‟ atau pamer, semisal melakukan ibadah, sedekah atau amal shalih lainnya

Riya‟ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Riya‟ atau pamer, semisal melakukan ibadah, sedekah atau amal shalih lainnya

Dokumen terkait