• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Perubahan Sosial

3. Bentuk- Bentuk Perubahan Sosial

Perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat dibedakan atas beberapa bentuk, yaitu perubahan evolusi dan perubahan revolusi, perubahan tak berencana dan perubahan berencana.

a. Perubahan Evolusi Dan Perubahan Revolusi

Perubahan evolusi adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam proses yang lambat, dalam waktu yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan.

Perubahan-perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Dengan kata lain, bahwa perubahan sosial itu terjadi karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu.

Berbeda halnya dengan perubahan yang bersifat revolusi, dimana perubahan berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan sebelumnya.Secara sosiologis perubahan revolusi dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat.Perubahan-perubahan tersebut dapat terjadi karena sudah ada perencanaan sebelumnya.Perubahan revolusi sering kali diawali oleh ketegangan-ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat yang bersangkutan.Ketegangan-ketegangan ini sulit untuk dihindari, bahkan banyak yang tidak bisa dikendalikan sehingga kemudian menjelma menjadi tindakan revolusi.

b. Perubahan Yang Direncanakan Dan Perubahan Yang Tidak Direncanakan

Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan yang didasarkan pada perencanaan yang matang oleh pihak-pihak yang menghendakin perubahan tersebut.Pihak-pihak yang menghendaki suatu perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Suatu perubahan yang direncanakan, selalu berada dibawah pengendalian atau pengwasan agent of change tersebut. Pelaksanaan rencana perubahan tidak hanya terbatas pada lembaga-lembaga kemasyarakatan tertentu, melainkan bisa juga diarahkan pada perubahan-perubahan bagi lembaga-lembaga kemasyarakatan yang lain dan dalam tubuh masyarakat yang lain.

Perubahan yang direncanakan paling baik dilakukan pada masyarakat yang memang sebelumnya sudah mempunyai keinginan untuk mengadakan perubahan, tetapi tidak mampu melakukannya.

Dalam kondisi demikian, masyarakat akan menerima perubahan yang dilakukan oleh para agent of change yang dirasakan sesuai dengan kehendak masyarakat yang bersangkutan. Akan lebih baik lagi apabila sebelum perencanaan dilaksanakan, agent of change terlebih dahulu melakukan pengamatan terhadap masyarakat sasaran

perubahan untuk mengetahui kehendak dan harapan mereka, baru kemudian disesuaikan dengan perencanaan yang sudah ada.Perubahan yang direncanakan dengan terlebih dahulu mengetahui kehendak dan harapan masyarakat terhadap perubahan selanjutnya, dapat pula merupakan rencana perubahan terhadap hasil-hasil perubahan sebelumnya yang tidak menguntungkan pihak masyarakat.

Sementara itu perubahan yang tidak direncanakan merupakan perubahan-perubahan yang berlangsung di luar kehendak dan pengawasan masyarakat.Perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki ini biasanya lebih banyak menimbulkan pertentangan-pertentangan yang merugikan kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

Dalam kondisi demikian anggota masyarakat pada umumnya lebih sulit diarahkan untuk melakukan perubahan-perubahan karena kekecewaan yang mendalam.Mungkin karena pengalaman buruk mereka terhadap akibat-akibat perubahan yang terjadi sebelumnya yang tidak membuahkan kesejahteraan dan kepuasan atau karena masyarakat masih mempunyai kepercayaan yang sangat kuat terhadap kesucian dan keampuhan lembaga-lembaga sosial atau tradisi-tradisi sosial yang hidup dalam masyarakat yang bersangkutan.18

18 Abdulsyaini, Sosiologi Sistematika, Teori, Dan Terapan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), Hal.162-171

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah menggunakan kualitatif deskriptif dengan metode “filed research” yaitu dilakukan secara langsung kelapangan untuk menemukan dan melakukan observasi, sehingga dapat menghayati langsung keadaan yang sebenarnya sehingga dapat pula memberi makna dalam konteks yang sebenarnya.19

Metode kualitatif lebih berdasarkan pada sifat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan.Penelitian yang menggunakan penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami objek yang diteliti secara mendalam.

Penelitian kualitatif dipilih karena kemantapan peneltian berdasarkan pengalaman dan metode kualitatif dapat memberikan rincian yang lebih kompleks tentang fenomena yang sulit diungkapkan oleh metode kuantitatif.20 B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di Nagari Koto Laweh Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya khususnya petani kelapa sawit.Pemilihan lokasi ini didasarkan kepada kepentingan peneliti.Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan mengenai perilaku konsumsi

19 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta:Prenadamedia Group, 2015), Hal. 334-338

20Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015),Cetakan Ketiga, Hal.80

petani kelapa sawit di Nagari Koto Laweh Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian di lakukan pada tanggal 15April 2019 sampai penelitian ini selesai.

C. Jenis Dan Sumber Data

Adapun jenis dan sumber data yang penulis gunakan ada 2 data yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti untuk tujuan khusus memecahkan permasalahan yang sedang terjadi.21Dalam penelitian ini data primer yang digunakan berupa informasi yang di peroleh melalui wawancaradengan beberapa petani kelapa sawit di Nagari Koto Laweh.

2. Data Skunder

Data skunder merupakan data atau informasi yang diperoleh secara tidak langsung dari obyek penelitian yang bersifat publik, yang terdiri atas struktur organisasi data kearsipan, dokumen, laporan-laporan serta buku-buku dan lain sebagainya yang berkenaan dengan penelitian ini. Data skunder dapat diperoleh dari studi kepustakaan barupa data dan dokumentasi.22 Dari penelitian ini data skundernya adalah data yang diperoleh dari pihak wali nagari berupa profil nagari (jumlah penduduk,

21Achmad Sani Supriyanto dan Vivin Maharani, Metodologi Penelitian Manajemen Sumberdaya Manusia Teori, Kuesioner, Dan Analisis Data, (Malang: UIN-Maliki Press, 2013), Hal.51

22Wahyu Purhantara, Metode Penelitian Kualitatif Untuk Bisnis, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), Hal.79

jenis pekerjaan, dan lain sebagainya), serta dari studi kepustakaan baik berupa bahan-bahan bacaan maupun data angka yang memungkinkan, dan membaca berbagai buku literatur yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini.

D. Informan Penelitian

Informan atau aktor kunci dalam penelitian merupakan anggota yang dihubungi peneliti dan yang menjelaska atau menginformasikan tentang lapangan.Para informa adalah individu-individu yang memiliki pengetahuan khusus yang berkenaan untuk membagi pengetahuan dan memiliki akses pada perpektif serta observasi yang meniadakan penelitian.

Informan yang baik adalah informan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang peneliti perlukan, pandai mengeluarkan pikiran (pandai berbicara), memiliki waktu diwawancarai berkenaan untuk berpartisipasi dalam studi.23

Cara memilih sampel sebagai informan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, sebagai berikut:

1. Mencari informan untuk diwawancarai atau diobservasi.

2. Menentukan informan untuk diteliti atau dimintai keterangan sesuai dengan masalah yang diteliti.

3. Menghentikan mencari informan jika informasi yang diperoleh sudah cukup dan tidak diperlukan informasi baru lagi.24

23 Ruslan Ahmadi, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Ar-Ruiz Media, 2014), Hal.92-93

24Jonathan Sarwono, Metodologi Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif, (Yogyakarta:

Graha Ilmu, 2006), Cetakan Pertama, Hal. 206

Informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani kelapa sawit yang berada di Nagari Koto Laweh

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Dalam bentuknya yang paling sederhana wawancara terdiri atas sejumlah pertanyaan yang dipersiapkan oleh peneliti dan diajukan kepada seseorang mengenai topik penelitian secara tatap muka, dan peneliti merekam jawaban-jawabannya.Wawancara dapat didefinisikan sebagai interaksi bahasa yang berlangsung antara dua orang atau dua orang dalam satu situasi saling behadapan salah seorang, yaitu yang melakukan wawancara meminta informasi.25

2. Observasi

Teknik ini menuntut adanya pengamatan dari si peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian.Instrumen yang dipakai dapat berupa lembar pengamatan, panduan pengamatan dan lainnya.26 Observasi atau pengamatan bisa diartikan sebagai perhatian yang fokus terhadap kejadian, gejala dan sesuatu kejadian yang sedang terjadi. Observasi juga dapat dibedakan berdasarkan peran peneliti yaitu:

25Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Hal.49-50

26Husein Umar, Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), Hal.51

a. Observasi Partisipan

Merupakan observasi yang dilakukan oleh peneliti yang berperan serta sebagai anggota dalam kehidupan masyarakat topik penelitian, dan peneliti ikut berpartisipasi didalamnya.

b. Observasi Non-Partisipan

Merupakan observasi yang menjadikan panel inti sebagai penonton atau penyaksi terhadap gejala atau kejadian yang menjadi topik penelitian.Dalam observasi ini peneliti melihat atau mendengarkan pada situasi sosial tanpa partisipasi aktif di dalamnya.

3. Dokumentasi

Dokumentasi dapat dikategorikan sebagai dokumen pribadi, dokumen resmi dan dokumen budaya popular. Kadang-kadang dokumen ini digunakan dalam hubungannya atau mendukung wawancara dan observasi. Dokumen yang di tulis langsung oleh informan atau tulisan mereka seperti foto, dokumen pribadi, arsip-arsip dan buku harian.27

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana

27Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Hal.37-49

yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendir dan orang lain.28

Untuk penelitian kualitatif analisa data dilakukan sejak awal penelitian dan selama proses penelitian dilaksanakan dengan menggunakan proses berfikir. Dalam analisa data kualitatif bertitik tolak dari data yang terkumpul melalui observasi dan data wawancara kemudian dikumpulkan dengan cara sistematis. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses penyeleksian, penyederhanaan, pengabstrakan dan pemudah data mentah yang diperoleh dari matrik catatan lapangan sebagai wahana perangkum data. Data yang telah terkumpul dari lokasi penelitian di edit, di rangkum, di sederhanakan dan dipilah-pilah hal yang pokok yang sesuai dengan fokus penelitian penulis.

2. Penyajian Data

Penyajian data dimaksudkan agar lebih mempermudah peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari data penelitian.

3. Verifikasi Data / Penarikan Kesimpulan

Pada penelitian kualitatif, verifikasi data dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian dilkukan sampai mendapat data yang pasti sehingga dapat diambil kesimpulan akhir yang didukung oleh bukti-bukti yang valid.

28Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2018), Hal.244

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Nagari Koto Laweh 1. Sejarah Nagari Koto Laweh

Tahun 1980an Nagari Bukit Gading adalah wilayah pemukiman transmigrasi yang berasal dari berbagai wilayah baik pecahan KK dari sitiung I maupun pecahan KK dari sitiung II, ditambah lagi dengan penduduk asal Sumatera Barat lainnya yang ikut dalam pemukiman ini.Kondisi Nagari saat itu sangat memperhatinkan yang ada hanya semangat kerja dan pemenuhan kebutuhan pokok yang lebih dikenal bidang garapan disektor ekonomi.Pemukiman ini berasal dari tanah ulayat Nagari Koto Besar Kecamatan Perwakilan Sungai Rumbai. Nama pemukiman ini dulunya dikenal dengan nama Blok A Sitiung IV.

Blok A Sitiung IV adalah nama sebutan wilayah transmigrasi yang sering disebut dalam pemerintahannya adalah Nagari Bukit Gading.

Nagari Bukit Gading terdiri dari lima kejorongan yaitu Jorong Suka Maju, Jorong Suka Jadi, Jorong Ajang Karya, Jorong Bukit Barisan dan Jorong Gunung Sari. Secara umum dan menyeluruh jumlah KK yang ada di Bukit Gading ini pada awalnya yaitu 500 KK dan mendapatkan fasilitas dari dirjen transmigrasi yaitu tanah pekarangan seluas 2.500 M2 ,tanah lahan usaha I seluas 10.000 M2 dan tanah lahan usaha II seluas 12.500 M2.

Keadan penduduk dan situasi yang masih baru mengharuskan penduduk dan warga Nagari Bukit Gading untuk bekerja keras dalam kehidupan sehari - hari. Kebiasaan masyarakat saat itu adalah pencari emas atau dulang tradisional dan bercocok tanam padi gogo, juga ditambah dengan tanaman yang lain seperti palawija.Sistem pemerintahan saat itu masih kental dengan pola orde baru yang cenderung program datang dari atas ke bawah.Sehingga masyarakat hanya banyak menunggu program-program dari atas untuk dilanjutkan.Azas dan pola musyawarah masih sangat jarang dilakukan.

Perjalanan selanjutnya pada tahun 1995, tanah lahan usaha tersebut di garap oleh salah satu perusahaan swasta yang ada di Sumatera Barat dengan pola bapak angkat untuk dijadikan wilayah perkebunan kepala sawit, sehingga dalam tempo yang singkat lebih kurang lima sampai enam tahun keadaan perekonomian semakin meningkat.Sampai saat ini dari 500 KK awal sekarang telah mencapai 937 KK, dan kini telah sulit dicari rumah asli transmigransi masa dulu.Rumah yang dulunya papan sekarang telah berubah menjadi bangunan yang megah dan mewah.Bidang usaha dan keadaan masyarakatnya telah mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan sosial, ekonomi dan budaya.

Adanya Undang-Undang Pemerintah Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah dan undang-undang kembali ke nagari. Desa Bukit Gading berubah menjadi Nagari Koto Gadang.Nagari Koto Gadang ini digabungkan dari dua nagari yaitu Nagari Bukit Gading dan

NagariMayang Taurai.Pada tahun 2003 resmilah nagari Koto Gadang menjadi nagari gabungan dua nagari dan berakhir pada tahun 2009.

Nagari Koto Laweh merupakan Nagari pemekaran dari Nagari Koto Gadang pada tahun 2009 dan definitif pada tahun 2010. Dengan dilantiknya Wali Nagari Koto Laweh pada tanggal 25 Agustus 2010 maka kewenangan pengaturan rumah tangga Nagari Koto Laweh secara langsung telah definitif baik secara defacto maupun dejure.

Nama pemimpin Lurah/Wali Nagari/Wali Nagari dari masa awal transmigrasi sampai kembali kenagari adalah sebagai berikut:

a. Warno Widodo Jabatan Kepala Desa Bukit Gading Tahun 1980 - 1997 b. Timin Jabatan Kepala Desa Bukit Gading Tahun 1997 – 2003

c. M. Dani Dt. Rajo Malano Wali Nagari Koto Gadang Tahun 2003 - 2008

d. Imam Mahfuri, SE Pj. Wali Nagari Koto Gadang Tahun 2008 - 2009 e. Munawar Pj. Wali Nagari Koto Laweh Tahun 2009 - 2010

f. Rahman, S. Fil.I Wali Nagari Koto Laweh Tahun 2010 - 2016 g. Syafril Pj. Wali Nagari Koto Laweh 26 Agustus - 08 Desember 2016 h. Rahman, S. FiL. I Wali Nagari Koto Laweh Periode 2017 – 2022

( Sekarang )

Dalam rangka pembenahan awal dan proses pembangunan nagari ke depan tentunya Nagari Koto Laweh dibentangkan dengan persoalan yang sangat kompleks di berbagai bidang dan semua setor. Maka dari itu kunci dari keberhasilannya adalah dengan kebersamaan pembangunan

nagari dilakukan baik pihak pusat, daerah maupun pihak swasta.Semua dituntut untuk berperan aktif dalam pembangunan disegala bidang tersebut.Partisipasi aktif ini tentunya merupakan wujud kebersamaan dalam mensukseskan program-program pembangunan.

2. Visi Dan Misi Nagari Koto Laweh a. Visi

Mewujudkan Nagari Koto Laweh yang maju, mandiri, agamis dan berbudaya sesuai adat bersandi syara‟, syara‟ bersandi kitabullah.

b. Misi

1) Reformasi Birokrasi Bebas KKN

a) Menyusun sistem Kerja dan Perangkat Nagari sesuai Undang Undang No.6 Tahun 2014 tentang pemerintahan Desa. Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme Keluarga.

b) Menyusun Birokrasi pemerintahan Nagari secara baik dan tepat guna sebagai dasar pembangunan 6 tahun kedepan.

c) Melaksanakan apel pagi setiap senin bulan baru secara kontiniu selama 6 tahun dan dilanjutkan Rakor (Rapat Koordinasi dilingkungan Nagari).

2) Manajemen Sistem Kinerja Nagari Berbasis Informatika Dan Teknologi

a) Melengkapi sarana nagari berbasis teknologi sehingga pelayanan dapat diakses dengan mudah dan terbuka, melatih

dan membekali seluruh perangkat Nagari dan managemen Nagari berbasisi Informatika dan Teknologi.

b) Membuat depo arsip dan pustaka nagari sebagai bank arsip masa depan.

3) Peningkatan Kesejahteraan Berbasis Kemandirian

Mengupayakan secara kongret kesejahteraan perangkat nagari standar UMR (Upah minimum Regional) Sumatera Barat dengan kemampuan yang memadai baik dana pemerintah, dan upaya dana berbasis kemandirian.

4) Peningkatan Pelayanan Prima Masyarakat

a) Mengoptimalkan fungsi kantor Wali Nagari sebagai sarana pelayanan masyarakat, kegiatan administrasi nagari, kegiatan PKK Nagari dengan tujuan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh mayarakat.

b) Melayani urusan berbasis, cepat, tepat dan akurat.

c) Menghilangkan diskriminasi pelayanan publik.

d) Pelayanan satu pintu yang terukur berbasis moral dan etika, sesuai dengan nilai-nilai agama serta pendidikan dalam pelaksanaan dan menjalankan roda pemerintahan.

3. Struktur Organisasi Pemrintahan Nagari Koto Laweh

Struktur Organisasi Nagari Koto Laweh Kecamatan Koto Besar menganut system kelembagaan pemerintah nagari dengan pola minimal, selengkapnya disajikan dengan gambar sebagai berikut:

Skema Struktur Organisasi Pemerintahan Nagari Koto Laweh Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya Tahun 2017 – 2022

---

---

Struktur Organisasi Pemerintahan Nagari Koto Laweh

4. Letak Geografis Nagari Koto Laweh

Secara administrasi, Nagari Koto Laweh termasuk dalam wilayah Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya yang memiliki wilayah seluas 13,97 km2. Ketinggian dari permukaan laut antara 100-500 MDPL

Wali Nagari

dengan suhu rata- rata berkisar antara 25-33 dengan batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara : Nagari Koto Ranah Sebelah Selatan : Nagari Koto Gadang Sebelah Barat : Nagari Koto Besar Sebelah Timur : Nagari Koto Tinggi

Dengan luas wilayah 13,97 km2 Nagari Koto Laweh terbagi menjadi lima wilayah kejorongan yaitu Jorong Bukit Gading, Jorong Bukit Makmur, Jorong Koto Tangah, Jorong Koto Panjang dan Jorong Durian Gadang sebagaimana dapat dilihat pada gambaran peta berikut:

Gambar 4.1

Peta Kejorongan Nagari Koto Laweh

Gambar 4.1 Peta Kejorongan di Nagari Koto Laweh 5. Jumlah Penduduk

Penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.Jumlah penduduk Nagari Koto Laweh

berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data oleh Tim Informasi Nagari adalah 3216jiwa sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk Nagari Koto Laweh Berdasarkan Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2018

Sumber : Data Kenagarian Koto Laweh

Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa masyarakat di Nagari Koto Laweh berjumlah 3.216 orang, dengan kelompok umur <14 berjumlah 29,75%, umur 15-64 berjumlah 58,80%, umur >65 berjumlah 11,44%, dan dengan jumlah laki-laki sebanyak 48,91% serta jumlah perempuan 51,09%, jumlah penduduk ini akan terus meningkat setiap tahunya.

6. Aktivitas Perekonomian

Nagari Koto Laweh dalam bidang perekonomian dapat dikatakan relatif maju karena didukung oleh beberapa faktor yang menunjang perekonomian masyarakat.Diantaranya yaitu faktor alam (sumber daya alam), serta faktor manusia (sumber daya manusia), serta faktor lingkungan sosial masyarakat.

No Jorong Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah

<14 15-64 >65 LK PR

1 Bukit Gading 215 301 68 292 292 584

2 Bukit Makmur 221 396 88 374 331 705

3 Koto Tangah 197 463 104 377 387 764

4 Koto Panjang 203 419 62 286 398 684

5 Durian Gadang 121 312 46 244 235 479

Jumlah Total 957 1891 368 1573 1643 3216

Ketiga faktor tersebut memberikan peluang yang cukup besar untuk dikembangkan sehingga memberikan keuntungan bagi masyarakat dari segi ekonomi.Pemanfaatan sumber daya yang ada, seperti sumber daya alam haruslah sesuai dengan konsep pembangunan berwawasan lingkungan.Berikut berbagai potensi ekonomi yang ada di Nagari Koto Laweh.

a. Sektor Pertanian

Secara geografis Nagari Koto Laweh memiliki potensi alam yang cukup potensial untuk dikembangkan terutama di bidang pertanian kelapa sawit, karet dan kakao.Khusus untuk pertanian kelapa sawit yang merupakan sumber mata pencarian utama bagi sebagian besar masyarakat di Nagari Koto Laweh. Harga kelapa sawit yang cukup mahal dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat petani kelapa sawit, sehingga para petani dapat hidup sejahtera, hal ini juga didukung oleh posisi Nagari yang cukup strategis dan sesuai dengan kondisi alam Nagari memungkinkan sebagian masyarakat untuk menanam karet dan kakao sebagai sumber mata pencaharian masyarakat.

b. Sektor Perdagangan

Sektor perdagangan juga merupakan salah satu sektor yang dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian di Nagari Koto Laweh.Kegiatan dari sektor perdagangan yang dilakukan oleh

masyarakat Nagari Koto Laweh diantaranya yaitu membuka warung sembako, warung makanan dan minuman, dan industri.

c. Sektor Jasa

Sektor jasa merupakan sektor selanjutnya yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian masyarakat di Nagari Koto Lawh.Adapun beberapa sektor jasa yang dikembangkan oleh masyarakat Nagari Koto Laweh diantaranya yaitu usaha photo copy, salon, bengkel, angkutan, depot air minum, jasa jahitan, pencucian mobil dan sepeda motor.29

B. Gambaran Umum Petani Kelapa Sawit Di Nagari Koto Laweh

Nagari Koto Laweh merupakan salah satu nagari di Kabupaten Dharmasraya yang memiliki potensi alam yang cukup baik, potensi alam yang ada di manfaatkan masyarakat yang berada di Nagari Koto Laweh dalam bidang pertanian, dimana sebagian besar masyarakat memanfaatkannya untuk pertanian kelapa sawit.

Didukung oleh cuaca dan kondisi udara yang baik membuat tanaman kelapa sawit tumbuh dengan subur serta harga kelapa sawit yang cukup menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian membuat masayarakt yang awalnya seorang pedagang, petani karet maupun kakao beralih ke pertanian kelapa sawit, karena menurut mereka dengan beralih ke pertanian kelapa sawit akan membuat hidup mereka menjadi makmur. Dari persepsi

29Profil Nagari Koto Laweh

masyarakat yang demikian, maka semakin banyak yang menjadi petani kelapa sawit di Nagari Koto Laweh.

Selain cuaca dan kondisi udara serta harga kelapa sawit, ada faktor lainnya yang di pertimbangkan masyarakat untuk menjadi petani kelapa sawit di antaranya adalah perawatan kelapa sawit yang relatif mudah, dimana pemupukan dan pemanenan dilakukan sesuai dengan waktu yang ditentukan.Pemupukan di lakukan setiap empat bulan sekali atau paling lama

Selain cuaca dan kondisi udara serta harga kelapa sawit, ada faktor lainnya yang di pertimbangkan masyarakat untuk menjadi petani kelapa sawit di antaranya adalah perawatan kelapa sawit yang relatif mudah, dimana pemupukan dan pemanenan dilakukan sesuai dengan waktu yang ditentukan.Pemupukan di lakukan setiap empat bulan sekali atau paling lama

Dokumen terkait