• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

4.4 Bentuk-bentuk Sumberdaya Hutan dan Pertanian Masyarakat

Lahan yang ada di masyarakat Kasepuhan merupakan bagian dari hutan lindung, karena seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa sebagian besar wilayahnya merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Dalam penentuan luas lahan di desa ini tidak ada ukuran yang universal, karena masyarakat setempat memiliki ukuran tersendiri untuk mengukur luasan lahan, baik untuk sawah, huma, kebun, maupun pekarangan. Luasan lahan diukur dengan ukuran patok yang setara dengan 400 meter persegi. Pola kepemilikan lahan biasanya bersifat warisan dan karena adanya hubungan pernikahan. Ketika anaknya menikah, setiap orangtua sudah menyiapkan lahan untuk anaknya untuk dimanfaatkan. Pola penggunaan lahan umumnya digunakan untuk sawah, pekarangan dan kebun. Untuk lahan pertanian biasanya digarap sendiri oleh pemiliknya, namun tidak menutup kemungkinan juga lahan tersebut digarap oleh orang lain yang tidak memiliki lahan sendiri (buruh tani atau penggarap). Sistem pengelolaan dalam penggarapan lahan tersebut antara lain maro, ngepak, dan gade (gadai).

Maro adalah sistem pembagian hasil dengan membagi dua hasil panen

bagi pemilik dan penggarap lahan setelah dipotong modal. Ngepak menggunakan sistem pembagian 4:1, yang artinya dari hasil lima ikat padi dibagi empat ikat untuk pemilik lahan dan satu ikat untuk penggarap. Untuk sistem ngepak ini, pemilik lahan menjadi penyedia input produksi pertanian mulai dari lahan itu sendiri, benih, pupuk, alat, dan lainnya. Sedangkan penggarap hanya menyediakan tenaga saja untuk bekerja. Sistem pengelolaan lainnya yaitu gade atau gadai, yaitu penggarap membayar jaminan (sewa) sesuai dengan kesepakatan antara penggarap dengan pemilik lahan. Lahan yang digadai dapat diambil kembali oleh pemilik lahan setelah jaminan tersebut telah dikembalikan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam sistem ini penggarap ‗meminjam‘ lahan dari pemilik lahan untuk digarap.

Penggunaan lahan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Kasepuhan dapat dilihat dalam gambar berikut.

Gambar 5. Tata Guna Lahan Versi Masyarakat Kasepuhan

Dari gambar tersebut dapat dijabarkan bahwa tataguna lahan yang ada di Kasepuhan terbagi menjadi dua, yaitu lahan basah yang digunakan untuk lahan sawah, dan lahan kering. Keduanya merupakan lahan yang sengaja dibuka oleh

Lahan

Lahan basah Lahan kering

Sawah Hutan Huma

Hutan tutupan Hutan

garapan/talun

Hutan titipan

masyarakat dari hutan sampalan atau hutan garapan. Lahan dibuka ketika masyarakat akan membuka huma. Namun apabila sumber air dirasa cukup banyak untuk mengairi lahan mereka, biasanya masyarakat akan membuka sawah. Sawah yang banyak ditemukan di Kasepuhan adalah sawah tadah hujan.

4.4.1 Huma

Huma merupakan salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya pertanian di

masyarakat Kasepuhan. Di dalam hal huma, masyarakat menggunakan lahan kering atau ladang untuk budidaya padi dan dicampur dengan tanaman palawija atau sayuran (tumpangsari) dan tanaman kayu-kayuan yang dilakukan secara bergilir dalam jangka waktu tertentu. Bagi masyarakat Kasepuhan kegiatan

ngahuma ini merupakan suatu hal yang penting dalam perjuangan hidup mereka

sebagai suatu kelompok sosial. Selain itu, ngahuma juga merupakan suatu tradisi untuk melanjutkan tatali paranti karuhun.

Umumnya huma dikelola untuk jangka waktu satu sampai tiga tahun. Setelah jangka waktu tersebut, biasanya petani membuka huma baru atau membuka kembali huma yang telah lama ditinggalkan selama beberapa tahun sebelumnya (ICRAF 2003). Siklus ngahuma melibatkan beberapa bentuk penggunaan ladang, yaitu huma, jami, reuma, kebun atau talun, dan masa istirahat atau kosong (Suharjito dan Saputro 2008). Siklus tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.

Sumber: Suharjito dan Saputro 2008

Gambar 6. Rangkaian Bentuk Pemanfaatan Lahan dalam Siklus Ngahuma Kebun atau talun (5-8 tahun) Pembukaan kebun untuk huma Reuma (sekitar dua tahun) Istirahat selama satu tahun untuk

membusukkan kayu Jami (sekitar 1-2 tahun) Huma

Hutan atau semak yang ditebang dan dibersihkan untuk dijadikan huma atau ladang. Huma tersebut ditanami padi varietas lokal dan juga jenis tanaman lain yang ditumpangsarikan dengan jagung, singkong, ubi jalar, dan kacang-kacangan. Padi dipanen satu tahun sekali sedangkan sayur-sayuran dipanen sekitar 3-4 kali setahun. Setelah panen, masyarakat memutuskan untuk berladang kembali atau tidak dengan melihat kondisi tanah dan air yang ada. Apabila air mencukupi, maka masyarakat akan mengubah lahan tersebut menjadi sawah. Namun, apabila air tidak mencukupi, maka lahan akan diubah menjadi jami untuk satu atau dua tahun dengan menanam tanaman tahunan.

Setelah digunakan sebagai jami, ada dua alternatif yang dipakai, pertama dengan membiarkan lahan tidak dipotong dan dibersihkan sehingga semak dibiarkan tumbuh. Semak belukar yang dibiarkan selam 3-4 tahun disebut dengan

reuma ngora, sedangkan semak yang dibiarkan lebih dari 4 tahun disebut reuma kolot (hutan sekunder). Lahan akan tertutup secara alami sebagai hutan sekunder

dengan pepohonan tinggi.

Alternatif yang kedua yaitu dengan menggunakan lahan untuk kebun setelah jami dipanen. Di kebun ini tanaman tahunan ditanam untuk kebutuhan sehari-hari, seperti buah-buahan dan pohon-pohon yang pertumbuhannya cepat seperti bambu dan rotan. Setelah lahan digunakan untuk berkebun selama beberapa tahun, maka pohon-pohon yang ditanam semakin tinggi. Pada lapisan bawah dari talun terus ditanami tanaman tahunan sehingga dengan adanya pohon-pohon tersebut, kanopi pohon-pohon menjadi tertutup dan keadaan ini disebut dengan

talun. Masyarakat biasanya menanam buah-buahan seperti pisang, durian, juga

menyadap air nira dari pohon aren. Pengambilan air nira ini tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga untuk dijual ke pasar.

4.4.2 Hutan

Bagi masyarakat Kasepuhan, pemanfaatan hutan diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu leuweung tutupan atau leuweung kolot, leuweung titipan dan

leuweung sampalan (Adimihardja 1992 dalam ICRAF 2003). Leuweung tutupan

atau leuweung kolot adalah hutan tua yang biasa dicirikan oleh hutan yang masih lebat dengan berbagai jenis pohon besar dan kecil yang tumbuh secara alami dan rimbun. Leuweung tutupan merupakan kawasan yang berada pada dataran paling

tinggi dan memiliki lereng yang cukup curam. Kawasan ini juga berfungsi sebagai daerah resapan air serta merupakan penyedia air bagi masyarakat Kasepuhan.

Leuweung titipan merupakan hutan yang dianggap keramat oleh

masyarakat Kasepuhan. Masyarakat tidak boleh memungut hasilnya dan memanfaatkannya kecuali atas izin sesepuh girang yang sebelumnya telah mendapatkan wangsit atau ilapat dari nenek moyang atau karuhun. Pemanfaatan hutan ini dapat dibuka untuk dicadangkan menjadi pemukiman atau lahan garapan3. Bagi masyarakat Kasepuhan, leuweung titipan ini merupakan titipan dari para nenek moyang atau karuhun yang harus dijaga kelestarian dan keasliannya. Di dalam leuweung titipan biasanya terdapat tempat keramat.

Leuweung sampalan adalah hutan yang dapat dipungut hasilnya dan

dimanfaatkan oleh masyarakat, namun tetap dalam batas-batas aturan adat. Masyarakat dapat membuka lahan untuk huma, sawah, kebun atau talun, menggembala ternak, atau mengambil kayu bakar. Biasanya hutan ini letaknya tidak jauh dari pemukiman penduduk.

4.4.3 Kebun atau Talun

Talun adalah bekas kawasan ladang atau huma, yang kemudian digarap

dengan ditanami berbagai tanaman keras, buah-buahan dan palawija. Tanaman pada kebun talun biasanya diwariskan secara turun temurun sehingga tanaman yang dikembangkan merupakan tanaman tahunan. Pohon buah-buahan seperti manggis, nangka, rambutan, pisang, kelapa, jengkol, petai dan aren banyak dijumpai di kebun talun. Selain itu masyarakat juga biasa menanam tanaman kayu. Kayu yang biasanya ditanam antara lain jengjeng/sengon (Albazia

falcataria), manglid/cempaka (Elmerrillia spp.), mani’i/surian (Toona sureni

Merr.), tisuk (Hibiscus macrophyllus), pasang (Quercus spp.), dan lain-lain. Selain digunakan sebagai bahan baku membuat rumah, kayu biasanya dijual oleh warga. Kayu dapat dipanen setelah empat sampai enam tahun, dan dijual per satuan meter kubik dengan harga Rp 400.000,00 sampai Rp 600.000,00 atau Rp 40.000,00 per pohon. Luasan kebun dan talun yang digunakan untuk lahan pohon

3 Kuswanda, 1999 dalam ICRAF, 2003 menyatakan konsep yang membedakan hutan titipan menjadi dua, yaitu hutan titipan yang berhubungan dengan hal-hal keramat sehingga perlu dipertahankan dan hutan awisan yang digunakan sebagai hutan cadangan.

aren relatif kecil (0,59%) bila dibandingkan dengan tata guna lahan lainnya (RMI 2003).

4.4.4 Sawah

Lahan sawah yang ada di wilayah Kasepuhan merupakan pengembangan dari pemanfaatan lahan ladang atau huma yang telah dilakukan sebelumnya oleh masyarakat. Biasanya lahan ladang yang dikembangkan menjadi lahan sawah ini adalah bekas ladang yang dianggap memiliki pengairan yang cukup sehingga cocok bila dijadikan lahan sawah.

Meskipun begitu, menurut Asep (2000) dalam ICRAF (2003), sistem pertanian sawah bukan merupakan pola tradisional masyarakat Kasepuhan, melainkan hanya merupakan proses adaptasi terhadap tekanan populasi yang semakin kuat dan berkurangnya lahan garapan. Walaupun tidak dianjurkan oleh

karuhun, sistem pertanian ini dapat memenuhi jaminan subsistensi masyarakat

Kasepuhan, bahkan secara ekonomis hasil panen sawah lebih menguntungkan daripada hasil huma. Uniknya, penanaman padi yang dilakukan masyarakat Kasepuhan baik di sawah maupun di huma hanya dilakukan satu kali dalam setahun, sesuai dengan anjuran karuhun mereka. Kegiatan bertani di sawah umumnya dipandu oleh pembacaan terhadap kedudukan konstelasi bintang kidang dan karti dengan dasar perhitungan yang menggunakan bulan Islam (RMI 2000). Dasar perhitungan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Tanggal kereti turun beusi, tanggal kidang turun kujang, tilem kidang turun

kungkang, yang bermakna warga Kasepuhan harus sudah mempersiapkan alat-alat untuk bertani.

b. Kidang ngarangsang ti wetan, kerti ngarangsang ti kulon/kidang kerti

pahareup-hareup yang merupakan tanda musim kemarau yang lama, ini

dijadikan tanda saat membakar ranting dan daun di huma.

c. Kerti mudun, kidang matang mencrang di tengah langit yang berarti tiba saat menanam padi di huma (ngaseuk).

d. Kidang medang turun kungkang artinya bintang kidang dan kerti mulai hilang dari pandangan, yang biasanya menandakan akan datang kungkang (hama padi).

e. Kerti kidang ka kulon, konstelasi ini menjadi tanda datangnya musim hujan. Panen biasanya dilakukan mulai dari bulan April. Setelah dipanen, padi

dipocong atau diikat lalu dijemur dengan menggunakan bambu atau disebut

dengan dilantay. Dari dua ikat padi basah menjadi satu ikat padi kering. Setelah kering, padi dimasukkan ke dalam leuit atau lumbung padi. Hasil padi yang diperoleh masyarakat disisihkan untuk dimasukkan ke dalam Leuit Kasepuhan atau leuit girang. Untuk per 50 ikat padi, biasanya warga memasukkan 1 ikat ke dalam leuit girang.

Ada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat Kasepuhan bahwa siapa yang menggarap lahan pertanian dan bermatapencaharian sebagai petani, tentu hidupnya tidak akan kekurangan. Kebutuhan untuk makan setiap hari akan dapat dicukupi dari hasil taninya. Kalaupun tidak cukup dapat meminjam padi kepada

leuit girang (Rahmawati et al 2008). Namun kebanyakan warga merasa bahwa

kebutuhan makan mereka sudah tercukupi untuk setahun dari hasil panen bahkan lebih sehingga masih ada sisa padi di leuit rumahtangga masing-masing. Oleh karena itu mereka tidak perlu lagi meminjam padi ke leuit girang.

4.5 Karakteristik Rumahtangga Pemanfaat Aren di Masyarakat

Dokumen terkait