METODE PENELITIAN
A. Bentuk Enklitik Persona Tunggal
Yang dimaksud dengan bentuk enklitik persona tunggal adalah bentuk enklitik persona yang mengacu kepada satu orang saja. Bentuk enklitik persona ini juga dibedakan atas tiga macam, yaitu bentuk enklitik persona pertama, kedua dan ketiga tunggal. Ketiga bentuk tersebut satu per satu akan dibahas berikut ini.
a. Bentuk Enklitik Persona Pertama Tunggal
Bentuk enklitik persona pertama tunggal merupakan bentuk enklitik yang mengacu kepada orang pertama yang bersifat tunggal. Untuk mengetahui bentuk enklitik tersebut, terlebih dahulu akan disajikan beberapa data sebagai deskripsi. Data yang dimaksud adalah sebagi berikut.
(17) Lalongkjok balen beruq leguq ye nadeq to. [laloɳk jok balen bɘruq lɘguq yɘ nadeq to]
„Saya pergi ke rumahnya tadi tapi dia tidak ada di sana‟ (18) Ye bedah ban montor no, lampaqkntan jerin.
[yɘ bɘdah ban mↄntↄr no, lampaqk ɘntan jɘrin] „Ban motor itu pecah tadi, jalan kaki saya jadinya.‟ (19) Side suruq eku nganjeng, nganjengksenoq.
[sidɘ suruq ɘku ɳanjɘɳ, ɳanjɘɳk sɘnↄq]
„Anda yang menyuruh saya duduk, ya saya duduk‟
(20) Petengk kemu jok sekolaham oneq leguq kemu nadeq to.
[petɘɳk kɘmu jok sɘkↄlaham ↄneq lɘguq kɘmu nadeq to]
„Saya cari kamu ke sekolahmu tadi tapi kamu tidak ada di sana‟
(21) Melengklalo lemun upaqk. [meleɳk lalo lɘmun upaqk]
„Saya mau pergi kalau dia mengupahku.‟ (22) Bangketk saq eleq dayen balem no.
[baɳkɘtk saq eleq dayɘn balem no]
„Sawah saya yang berada di sebelah utara rumahmu itu.‟ (23) Sakit matengkngoneq laloq tanggaq Tv.
[sakit matɘɳk ɳↄnEq laloq taɳgaq tivi]
„Sakit mata saya kalau terlalu lama menonton Tv.‟
Terlihat pada data (18) kata lampaqk „jalan kaki saya‟ adalah berbentuk dasar verba lampaq „jalan kaki‟ yang kemudian dilekati enklitik –k. Sedangkan pada data (17) kata lalongk „pergi saya‟, dan data
(20) petengk „saya cari‟ adalah sama-sama berbentuk dasar verba yaitu
lalo „pergi‟ dan pete „cari‟ yang telah dilekati enklitik orang pertama tunggal yaitu –k. Pertanyaannya, dari mana huruf ng atau fonem {ɳ} pada kata-kata tersebut timbul? Jawabannya adalah karena kata dasar yang dilekati enklitik tersebut berakhir dengan fonem vokal, itulah yang menimbulkan penambahan fonem {ɳ} pada akhir kata dasar tersebut. Begitu juga pada data (21), kata melengk „saya mau/ingin‟ adalah berbentuk dasar ajektifa mele „mau/ingin‟ yang telah dilekati enklitik –k
dan kerena kata dasar tersebut berakhir dengan fonem vokal, maka akan tersisipkan fonem {ɳ} di antara kata dasar dan enklitik tersebut sehingga menjadi melengk „saya mau‟. Kemudian pada data (23), kata matengk
„mata saya‟ adalah berbentuk dasar nomina mate „mata‟, yang kemudian dilekati enklitik untuk orang pertama tunggal dan menimbulkan fonem {ɳ} di antara kata dasar dan enklitik tersebut sehingga menjadi matengk. Inilah salah satu keunikan bahasa Sasak dialek meno-mene di Desa Babussalam Kecamatan Gerung.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk enklitik orang pertama tunggal adalah –k, dan akan terjadi penambahan fonem {ɳ} di antara kata dasar dan enklitik tersebut apabila kata dasar yang dilekati enklitik tersebut berakhir dengan fonem vokal.
Bentuk enklitik persona kedua tunggal adalah bentuk enklitik yang
mengacu kepada orang kedua yang bersifat tunggal. Untuk
mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk enklitik ini terlebih dahulu akan disajikan beberapa data yang telah dikumpulkan dalam penelitian mengenai enklitik tersebut. Data tersebut adalah sebagai berikut.
(24) Atongm oleq dengan saq kepusaq no oneq? [atoɳm oleq dɘɳan saq kɘpusaq no ↄnEq]
„Kamu antar pulang orang yang tersesat itu tadi?‟
(25) Ingetddengan saq liwat tie? [iɳɘtd dɘɳan saq liwat tiɘ]
„Anda ingat orang yang lewat itu?‟ (26) Lalond meken robin?
[lalond mɘkɘn robin]
„Anda pergi ke pasar kemarin?‟ (27) Siq ingesmediq.
[siq iɳɘsm ɘdiq]
„Kamu sangat cantik adik.‟
(28) Melemmilu begawean? [melem milu bɘgawean] „Kamu mau ikut bekerja?‟ (29) Mentelah juluq aneh, lelahdtie.
„Silahkan istirahat dulu, anda capek itu.‟ (30) Kerengmsaq warne ijo no?
[kereɳm saq warnɘ ijo no]
„Sarungmu yang berwarna hijau itu?‟ (31) Ye poteq wah bulund tie.
[yɘ poteq wah bulund tiɘ] „Rambut anda sudah putih itu.‟ (32) Kebeleq tokondjerin nane.
[kɘbɘleq tokond jɘrin nanE]
„Toko anda lebih besar jadinya sekarang.‟
Pada data (24), (28), dan (30) kata atongm „kamu hantar‟, melem
„kamu ingin‟, dan kerengm „sarungmu‟ adalah kata yang berdasar atong, mele, dan kereng yang kemudian dilekati enklitik orang kedua tunggal yakni –m. Kemudian pada data (25), kata ingetd „anda ingat‟, dan data (29) lelahd „anda lelah‟ adalah kata yang berdasar inget „ingat‟ dan lelah
„capek‟ yang kemudian dilekati enklitik orang kedua tunggal yaitu –d
(biasanya digunakan untuk orang yang dituakan/dihormati). Lain halnya pada data (26), (31), dan (32), kata lalond, „pergi anda‟ bulund, „rambut anda‟ dan tokond „toko anda‟ adalah berdasar lalo „pergi‟, bulu „rambut‟ dan took „toko/kios‟ yang juga telah dilekati enklitik –d, namun karena kata-kata tersebut berakhiran dengan fonem vokal, maka terjadi penambahan fonem pada akhir kata dasar tersebut atau di antara kata dasar dan enklitik tersebut yaitu {n}.
Jadi, bentuk enklitik untuk orang kedua tunggal adalah –m dan –d. Kemudian akan terjadi penambahan fonem [n] pada akhir kata dasar yang telah dilekati enklitik –d atau di antara kata dasar dan enklitik tersebut apabila kata dasar yang dilekati itu berakhiran dengan fonem vokal.
c. Bentuk Enklitik Persona Ketiga Tunggal
Bentuk enklitik persona ketiga tunggal adalah bentuk enklitik yang mengacu kepada orang ketiga yang bersifat tunggal. Akan disajikan beberapa data dalam bentuk kalimat mengenai bentuk enklitik ini untuk mendeskripsikannya. Berikut adalah datanya.
(33) Lalonsekolah anakm? [lalon sɘkↄlah anakm] „Dia pergi sekolah anakmu?‟
(34) Paleqn maling saq sekelem no isiq amaqm? [palEqn maliɳ saq sɘkɘlɘm no isiq amaqm]
„Dia kejar pencuri yang tadi malam itu oleh ayahmu?‟ (35) Tamen kuliah Susi beruq?
[tamɘn kuliah susi bɘruq] „Dia masuk kuliah Susi tadi?‟ (36) Taeknbejumat amaqm Ovan?
[taken bɘjumat amaqm Ovan] „Dia pergi jum‟atan ayahmu Ovan?‟ (37) Tidemn?
[tidɘmn] „Dia tidur?‟
(38) Datengn pegawe bank no nageh? [datɘɳn pɘgawe bank no nageh]
„Dia datang menagih pegawai bank itu?‟ (39) Sogulnjeloq pade no siq Tuaq Nursan inaq?
[soguln jɘloq pade no siq tuaq nursan inaq]
„Dia pergi jemur padi itu sama Paman Nursan ibu?‟
Terlihat jelas bahwa pada data (33) sampai dengan data (39), bentuk enklitik untuk orang ketiga tunggal yang melekat pada suatu kata adalah –n dan tidak mengalami perubahan bentuk walaupun fonem akhir pada kata yang dilekati adalah fonem vokal. Hal ini terlihat pada data (33) dan (35). Pada data (33) adalah kata berdasar verba lalo „pergi‟ kemudian dilekati enklitik –n (untuk orang ketiga tunggal) menjadi bentuk lalon
„dia pergi‟. Begitu juga pada data (36), kata tamen „dia masuk‟ adalah berdasar verba tame „masuk‟ yang kemudian dilekati oleh enklitik –n.
Jadi dengan begitu, bentuk enklitik untuk orang ketiga tunggal adalah –n.