• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Kekerasan

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 31-51)

Kekerasan Fisik Kekerasan Psikologis Kekerasan Seksual Kekerasan Finansial Kekerasan Ganda 30%

35%

2% 12%

21%

commit to user

komunikasi untuk disabilitas juga menjadi masalah dalam menyampaikan informasi pada mereka.

3) Mobilitas

Hambatan ini banyak dirasakan oleh disabilitas daksa khususnya pengguna kursi roda, walaupun tidak terkecuali disabilitas yang lain misalnya disabilitas netra.

Banyak disabilitas daksa yang mobilitas bergantung pada keluarganya, tidak bisa pergi kemana-mana, sehingga hanya dipendam sendiri. Banyak perempuan disabilitas yang hanya di rumah saja dan jarang keluar, sehingga pelaku kekerasan banyak dari orang-orang terdekat/keluarga. Untuk melapor lingkungan sekitar kurang akses, jarak ke tempat layanan kesehatan dan kantor polisi jauh, layanan angkutan umum dan bangunan kurang ramah disabilitas.

4) Layanan

Sering perempuan disabilitas korban kekerasan tidak dilayani dengan ramah di tempat layanan kesehatan atau di kantor polisi petugas masih kurang berempati terhadap korban karena perspektif disabilitas masih sedikit.

5) Partisipasi

Masyarakat masih jarang terlihat melibatkan partisipasi perempuan disabilitas, baik dalam keluarga, ataupun lingkungan sekitar. Kondisi tersebut semakin menguatkan posisinya sebagai korban, mereka tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan ikut berpartisipasi dalam aktifitas atau kegiatan (Nurul Saadah Andriani, dkk, 2015 : 51-52).

Melihat dari beberapa pengalaman lembaga pendamping, terlihat bahwa banyak faktor yang menjadi penghambat kasus-kasus yang tidak sampai pada putusan pengadilan, beberapa temuan berdasarkan pengalaman lembaga pendampingan diantaranya (Nurul Saadah Andriani, dkk, 2015 : 68-69) :

1) Pelaku kekerasan adalah orang terdekat korban yang mengetahui kondisi ketidakberdayaan korban, misalnya orang tua, pasangan, saudara dan tetangga sekitar.

2) Kejadian tidak hanya satu kali namun cenderung berulang, lagi-lagi hal ini diakibatkan ketidakberdayaan korban.

commit to user

3) Keluarga korban atau bahkan korban sendiri (untuk beberapa jenis disabilitas misal daksa dan netra) mencabut laporan, apakah laporan tersebut delik biasa ataupun aduan, dengan alasan keterbatasan akses korban atau ketakutan jika keterangan korban tidak dipercaya aparat penegak hukum.

4) Pelaku yakin bahwa dengan keterbatasan korban, korban dan keluarga tidak akan melaporkan kekerasan yang terjadi.

5) Kasus tidak dapat dilanjutkan karena kurangnya alat bukti dan dalam beberapa kasus korban dianggap tidak cakap hukum sehingga menimbulkan kesulitan jika tidak ada ahli yang dapat membantu menjelaskan kepada aparat penegak hukum.

6) Kondisi lingkungan korban yang tidak mendukung untuk penyelesaian kasus di ranah hukum dengan alasan untuk menjaga kenyamanan lingkungan, bukan berpihak kepada korban.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap Lembaga Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) kendala dalam pemberian perlidungan hukum terhadap penyandang disabilitas sebagai korban dalam proses peradilan dapat diketahui sebagai berikut:

Tabel 2. Kendala Pemberian Perlindungan Hukum terhadap Penyandang Disabilitas sebagai Korban Tindak Pidana

No. Faktor Bentuk Kendala

1. Peraturan Perundang-Undangan

- Belum jelasnya peraturan yang mengatur perlindungan hukum terhadap korban terutama dalam proses persidangan. Hal ini seperti dilihat dalam UU No. 13 Tahun 2006 jo. UU No. 31 Taahun 2014.

- Diratifikasinya CPRD juga harus commit to user

diikuti dengan adanya peraturan yang mengadopsi aturan dalam Konvensi tersebut terutama dalam hal perlindungan hukum terhadap korban.

UU No. 4 Tahun 1997 harus segera diamandemen, harus ada kesesuaian dengan CPRD. Begitu pun terhadap undang-undang lain yang terkait dengan penyandang disabilitas, harus disamakan persepsi dan pengaturannya sesuai CPRD.

- Ketidaksesuaian umur korban secara fisik dan psikologi menyebabkan dilema dalam menggunakan peraturan perundang-undangan yang tepat. Hal ini berkaitan dengan UU No. 23 Tahun 2002 jo. UU No. 35 Tahun 2014, karena seringkali korban secara psikologis masih berusia anak namun dalam catatan sipil bukan termasuk anak. Hal ini menyulitkan penyidik menentukan pasal yang didakwakan pada terdakwa.

- Dalam UU No. 13 Tahun 2006 jo. UU No. 31 Tahun 2014, belum diaturnya secara tegas kedudukan pendamping atau penerjemah bagi korban yang merupakan penyandang disabilitas dalam proses peradilan pidana.

2. Penyandang Disabilitas - Seringkali dalam penyusunan BAP (Berita Acara Pemeriksaan), korban commit to user

tidak konsisten dalam memberikan keterangan, hal ini dikarenakan secara psikologis korban yang berbeda dari orang normal.

- Pelaku biasanya merupakan orang terdekat dari korban.

- Korban sendiri belum sadar bahwa dirinya menjadi korban tindak pidana.

- Keluarga korban akan memilih untuk tidak melaporkan perkara atau melanjutkan perkara karena merasa malu.

- Keluarga dan penyandang disabilitas belum mengetahui hak yang dimiliki baik hak mereka sebagai penyandang disabilitas maupun hak mereka sebagai korban.

- Kurangnya informasi mengenai proses peradilan sehingga banyak kasus yang tidak terungkap.

- Penyandang disabilitas sendiri kadang menutup-nutupi adanya kekerasan karena pelaku biasanya adalah suami korban sendiri.

- Korban sering mengalah karena sadar akan keadaan korban yang memiliki keterbatasan.

- Umur korban yang tidak sesuai dengan psikologis korban. Usia korban biasanya sudah bukan tergolong usia anak, namun secara psikologis masih commit to user

berusia anak. Hal ini menjadi kendala dalam penerapan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar perlindungan terhadap korban.

3. Aparat Penegak Hukum (APH)

- Aparat Penegak Hukum (APH) memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi dengan korban yang merupakan penyandang disabilitas, sehingga dalam proses peradilan sering menemui kesulitan. Termasuk dalam proses penyusunan BAP, seringkali penyidik mengalami kesulitan. Selain kesulitan dalam berkomunikasi juga terhadap keterangan korban yang berubah-ubah.

- Dalam hal pembuktian, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga sulit menemukan bukti yang memperkuat terjadinya tindak pidana. Ini sering terjadi pada kejahatan terhadap kesusilaan.

- Proses peradilan tidak jarang berhenti di tengah jalan karena proses BAP yang sulit, penyidik juga kesulitan mendapatkan keterangan dari korban karena korban terkadang sulit mengingat kejadian yang telah dialaminya.

commit to user

c. Perlindungan Hukum bagi Penyandang Disabilitas dalam Sistem Hukum di Indonesia

Dilihat dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sendiri belum mengakomodir perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana. KUHP yang selama ini menjadi salah satu dasar hukum pidana yang berlaku di Indonesia belum mengarah pada perlindungan terhadap korban (victim oriented) melainkan menitikberatkan pada pelaku saja. Hukum pidana digunakan sebagai pembalasan terhadap pelaku tindak pidana dan mengacu pada tindak pidana yang dilakukan.

Sedangkan korban dalam hal ini bukan menjadi fokus pada penyelesaiannya. Korban hanya menjadi saksi yang dimintakan keterangannya guna mendukung terungkapnya fakta hukum yang terjadi. Tidak jarang hak korban justru terabaikan oleh aparat penegak hukum dan pihak-pihak terkait.

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang merupakan hukum pidana formil masih pula belum sepenuhnya memberikan perlindungan terhadap korban. Padahal perlindungan terhadap pelaku diberikan mulai dilakukannya penangkapan hingga selesainya proses persidangan serta eksekusi putusan hakim. Bahkan KUHAP juga mengatur dalam proses persidangan dimana terdakwa atau saksi merupakan penyandang disabilitas. Ketentuan dalam Pasal 178 KUHAP tersebut memperlihatkan adanya pengakuan hak terhadap penyandang disabilitas meskipun dalam kedudukannya sebagai terdakwa atau saksi. Dalam Pasal 178 KUHAP menyatakan bahwa,

(1) Jika terdakwa atau saksi bisu dan atau tuli serta tidak dapat menulis, hakim ketua sidang mengangkat sebagai penerjemah orang yang pandai bergaul dengan terdakwa atau saksi itu.

(2) Jika terdakwa atau saksi bisu dan atau tuli tetapi dapat menulis, hakim ketua sidang menyampaikan semua pertanyaan atau teguran kepadanya secara tertulis dan kepada terdakwa atau saksi tersebut diperintahkan untuk menulis jawabannya dan selanjutnya semua pertanyaan serta jawaban harus dibacakan. commit to user

Perlindungan terhadap penyandang disabilitas dalam sistem hukum di Indonesia pada intinya dapat dilihat dari beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai perlindungan hukum terhadap penyandang disabilitas sebagai korban antara lain sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

2. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 jo. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Peraturan perundang-undangan di atas merupakan sebagian aturan yang menjadi payung hukum terhadap perlindungan hukum bagi penyandang disabilitas pada khususnya yang menjadi korban dari tindak pidana. Adanya peraturan hukum yang merupakan produk lama dan belum dilakukannya perubahan menjadi salah satu kelemahan dalam perlindungan terhadap penyandang disabilitas sebagai korban.

Munculnya peraturan perundang-undangan baru diharapkan akan lebih memberikan ruang khusus dalam pemenuhan keadilan bagi penyandang disabilitas. Untuk dapat melihat lebih jelas mengenai perlindungan hukum terhadap penyandang disabilitas sebagai korban tindak pidana, maka dari keempat peraturan perundang-undangan di atas pada intinya dapat dibandingkan dalam tabel sebagai berikut:

commit to user

Tabel 3. Perbandingan Peraturan Perundang-Undangan mengenai Perlindungan Hukum terhadap Penyandang Disabilitas

No. Pembeda

sebagai

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat merupakan undang-undang yang telah lama dibentuk oleh pemerintah sebagai upaya pemenuhan hak-hak penyandang cacat pada saat itu. Materi muatan yang diatur dalam undang-undang tersebut yakni mengenai hak dan kewajiban, kesamaan kesempatan, upaya perlindungan, pembinaan dan peran serta masyarakat, sanksi administratif, serta ketentuan pidana. Mengenai istilah dan pengertian, undang-undang tersebut masih menggunakan istilah penyandang cacat bukan penyandang disabilitas. Ini dikarenakan istilah penyandang disabilitas sendiri baru digunakan setelah adanya Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Pengertian mengenai penyandang cacat tercantum dalam Pasal 1 angka 1 yang menyatakan bahwa, commit to user

Penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari:

a. Penyandang cacat fisik, b. Penyandang cacat mental,

c. Penyandang cacat fisik dan mental.

Sesuai yang tercantum dalam Pasal 5, setiap penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Kemudian Pasal 6 menjelaskan mengenai beberapa hak yang diperoleh oleh penyandang cacat, yaitu sebagai berikut:

1. Pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan,

2. Pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan dan kemampuannya,

3. Perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya,

4. Aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya,

5. Rehabilitasi, bantuan sosial dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial, dan

6. Hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Mengenai perlindungan khususnya perlindungan hukum terhadap penyandang disabilitas atau penyandang cacat itu sendiri dijelaskan dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997, bahwa :

Hingga saat ini sarana dan upaya untuk memberikan perlindungan hukum terhadap kedudukan, hak, kewajiban, dan peran penyandang cacat telah dilakukan melalui berbagai peraturan perundang-undangan, yaitu yang mengatur masalah ketenagakerjaan, pendidikan nasional, kesehatan, kesejahteraan sosial, lalu lintas dan angkutan jalan, perkeretaapian, pelayaran, penerbangan, dan kepabeanan.

Berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 ini masih terdapat kelemahan dalam pelaksanaannya. Pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas masih belum terpenuhi. Masih banyak kasus-kasus yang terjadi commit to user

mengenai perlakuan diskriminasi terhadap penyandang cacat. Hal ini dikarenakan belum diaturnya secara lebih menyeluruh mengenai hak-hak yang diperoleh penyandang cacat, terutama kedudukan mereka sebagai korban kejahatan.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 dinilai sudah tidak relevan dalam memberikan perlindungan terhadap penyandang disabilitas. Hal tersebut dikarenakan berkembangnya tuntutan, tantangan dan kebutuhan penyandang disabilitas di Indonesia saat ini. Perlu dilakukan penyesuaian antara peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penyandang disabilitas dengan aturan yang ada dalam Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CPRD). Penyesuaian yang dimaksud seperti persamaan terminologi dari penyandang cacat menjadi penyandang disabilitas, serta penyesuaian hak yang dalam konvensi tersebut diatur lebih luas dan lebih jelas, termasuk peran pemerintah atau negara dalam pemenuhan hak-hak penyadang disabilitas.

Selain tercantum jelas dalam konstitusi kita, Indonesia telah meratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CPRD) atau Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas pada 30 Maret 2007. Telah disahkan melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas). Diratifikasinya konvensi tersebut sudah seharusnya peraturan perundang-undangan yang sudah ada atau yang belum ada disesuaikan dengan pengaturan dalam konvensi tersebut sebagai bentuk kewajiban atau konsekuensi pemerintah meratifikasi dan mengakui konvensi tersebut. Hal ini sebagai salah satu upaya penghormatan terhadap penyandang disabilitas serta pemenuhan dan perlindungan terhadap hak-hak mereka sebagai warga negara.

Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas telah menggunakan istilah baru yakni “penyandang disabilitas” untuk menggambarkan seseorang yang memiliki keterbatasan. Definisi penyandang disabilitas tercantum dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 19 Tahun commit to user

2011, bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak.

Hak yang dimiliki oleh penyandang disabilitas dijelaskan dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 bahwa,

Setiap penyandang disabilitas harus bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan martabat manusia, bebas dari eksploitasi, kekerasan dan perlakuan semena-mena, serta memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisiknya berdasarkan kesamaan dengan orang lain. Termasuk didalamnya hak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan sosial dalam rangka kemandirian, serta dalam keadaan darurat.

Perlakuan yang nondiskriminasi terhadap penyandang disabilitas merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap penyandang disabilitas.

Persamaan dan nondiskriminasi ini diatur dalam Pasal 5 Konvensi menyatakan bahwa:

(1) Negara-Negara Pihak mengakui bahwa semua manusia adalah setara di hadapan dan di bawah hukum dan berhak, tanpa diskriminasi, untuk mendapatkan perlindungan dan manfaat hukum yang setara.

(2) Negara-Negara Pihak harus melarang semua diskriminasi yang didasari oleh disabilitas serta menjamin perlindungan hukum yang setara dan efektif bagi penyandang disabilitas terhadap diskriminasi yang didasari oleh alasan apapun.

Negara-Negara Pihak mengakui bahwa semua manusia adalah sama dihadapan hukum dan berhak mendapatkan perlindungan dan manfaat hukum yang sama, serta menjamin perlindungan hukum yang sama bagi setiap penyandang disabilitas tanpa diskriminasi. Mengenai persamaan kedudukan atau kesetaraan pengakuan di hadapan hukum diatur dalam Pasal 12 Konvensi tersebut, yang menyatakan bahwa:

(1) Negara-Negara Pihak menegaskan kembali bahwa penyandang disabilitas memiliki hak atas pengakuan sebagai individu di hadapan hukum dimana pun berada. commit to user

(2) Negara-Negara Pihak harus mengakui bahwa penyandang disabilitas merupakan subyek hukum yang setara dengan lainnya di semua aspek kehidupan.

(3) Negara-Negara Pihak harus mengambil kebijakan yang sesuai untuk menyediakan akses oleh penyandang disabilitas dalam bentuk dukungan yang mungkin diperlukan oleh mereka dalam melaksanakan kewenangan mereka sebagai subjek hukum.

Bunyi Pasal 12 tersebut sudah jelas bahwa penyandang disabilitas ketika berhadapan dengan hukum memiliki kedudukan yang sama dengan subjek hukum yang lainnya. Hak-hak yang melekat pada mereka juga harus dihormati sebagai hak individu dan memiliki kesetaraan yang sama dengan lainnya. Pasal 12 mengakui bahwa pengakuan di depan hukum harus dilaksanakan tanpa pengecualian atau pembatasan, penyandang disabilitas menikmati kapasitas hukum atas dasar kesetaraan dengan orang lain dalam semua aspek kehidupan (Penelope Weller, Laws Journal, 2016 : 5). Menurut Terjemahan Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CPRD), dalam Pasal 15 dan 16 menjelaskan bahwa negara pihak harus menjamin adanya perlindungan dengan cara mengambil kebijakan terhadap penyandang disabilitas yang menjadi korban dari suatu tindak pidana seperti penyiksaan, eksploitasi, pelecehan seksual dan lainnya.

Selain pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011, perlindungan hukum terhadap saksi dan korban dalam proses peradilan pidana sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 jo.

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Setiap orang yang menjadi saksi dan korban dilindungi oleh undang-undang tersebut, dengan tidak menjelaskan adanya perbedaan keadaan, seperti saksi dan korban yang merupakan penyandang disabilitas. Tidak ada penjelasan khusus mengenai korban yang memiliki keterbatasan (penyandang disabilitas). Pasal 1 angka 8 menjelaskan bahwa, perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan undang-undang tersebut. commit to user

Saksi dan korban yang berhadapan dengan hukum, Pasal 2 menyatakan bahwa, “Undang-Undang ini memberikan perlindungan pada saksi dan korban dalam semua tahap proses peradilan pidana dalam lingkungan peradilan.”

Tanpa membedakan keadaan saksi dan korban, perlindungan terhadap mereka pada saat proses peradilan pidana yakni sama. Dalam undang-undang tersebut tidak menjelaskan perlindungan khusus yang diperoleh oleh penyandang disabilitas.

Keadaan penyandang disabilitas yang menjadi korban tindak pidana, secara umum hak-hak mereka sebagai korban dapat dilihat dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 jo. Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Dalam Pasal 5 ayat (1) dicantumkan saksi dan korban memiliki hak yang antara lain sebagai berikut:

a. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;

b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan;

c. Memberikan keterangan tanpa tekanan;

d. Mendapat penerjemah;

e. Bebas dari pertanyaan yang menjerat;

f. Mendapat informasi mengenai perkembangan kasus;

g. Mendapat informasi mengenai putusan pengadilan;

h. Mendapat informasi dalam hal terpidana dibebaskan;

i. Dirahasiakan identitasnya;

j. Mendapat identitas baru;

k. Mendapat tempat kediaman sementara;

l. Mendapat tempat kediaman baru;

m. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan;

n. Mendapat nasihat hukum;

o. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan berakhir; dan/atau

p. Mendapat pendampingan.

Hak-hak saksi dan korban diatur Pasal 5, dimana pada ayat (1) huruf d menyatakan bahwa saksi dan korban berhak mendapat penerjemah.

Penerjemah atau juru bicara dalam hal ini dimaksudkan untuk membantu saksi dan korban dalam proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan commit to user

pemeriksaan di persidangan. Namun, dalam Penjelasan Undang-Undang ini penerjemah dimaksudkan untuk mereka yang tidak menguasai bahasa Indonesia. Penerjemah ini tidak ditujukan pada penyandang disabilitas.

Kenyataannya penyandang disabilitas adalah mereka yang sebagian besar mengalami keterbatasan dalam komunikasi. Tentu sangat diperlukan penerjamah atau juru bicara yang sudah paham cara berkomunikasi dengan penyandang disabilitas. Dalam Pasal 5 ayat (1) huruf p, saksi dan korban berhak mendapat pendampingan. Namun, lagi-lagi tidak ada penjelasan mengenai pendampingan yang dimaksud adalah pendampingan seperti apa atau ditujukan pada saksi dan korban seperti apa.

Berdasarkan beberapa kasus dimana penyandang disabilitas sebagai korban kekerasan atau tindak pidana, pihak yang rentan yakni perempuan dan anak. Bahkan dalam Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CPRD) mengakui bahwa penyandang disabilitas perempuan dan anak perempuan seringkali mempunyai resiko yang lebih besar terhadap kekerasan, cedera atau pelecehan, perlakuan yang menelantarkan atau mengabaikan, perlakuan buruk atau eksploitasi, baik di dalam maupun di luar rumah. Terkait perlindungan terhadap anak, Indonesia sudah memiliki peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, yakni Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Undang-undang tersebut setidaknya telah mengacu aturan dalam CPRD dalam hal perlindungan terhadap anak penyandang disabilitas.

Pasal 1 angka 2 Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa, “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.” Bunyi pasal tersebut tentu dapat disimpulkan bahwa setiap anak harus dilindungi, hal tersebut dilakukan tanpa melihat kondisi si anak, termasuk anak penyandang disabilitas berarti juga harus tetap dilindungi. commit to user

Pasal 1 angka 7 menjelaskan apa yang dimaksud anak penyandang disabilitas, yaitu anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.

Perlindungan terhadap anak penyandang disabilitas dikategorikan sebagai perlindungan khusus, yang dijelaskan dalam Pasal 1 angka 15 yang dimaksud perlindungan khsusus adalah suatu bentuk perlindungan yang diterima oleh anak dalam situasi dan kondisi tertentu untuk mendapatkan jaminan rasa aman terhadap ancaman yang membahayakan diri dan jiwa dalam tumbuh kembangnya. Hal ini dipertegas kembali dalam Pasal 59 bahwa anak penyandang disabilitas berhak mendapat perlindungan khusus. Perlindungan khusus bagi anak penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum juga diatur dalam Pasal 64. Dalam Pasal 64 huruf m menyatakan bahwa bagi anak penyandang disabilitas perlindungan khusus dilakukan melalui pemberian aksesibilitas. Hal tersebut dipertegas dalam Pasal 70, bahwa perlindungan

Perlindungan terhadap anak penyandang disabilitas dikategorikan sebagai perlindungan khusus, yang dijelaskan dalam Pasal 1 angka 15 yang dimaksud perlindungan khsusus adalah suatu bentuk perlindungan yang diterima oleh anak dalam situasi dan kondisi tertentu untuk mendapatkan jaminan rasa aman terhadap ancaman yang membahayakan diri dan jiwa dalam tumbuh kembangnya. Hal ini dipertegas kembali dalam Pasal 59 bahwa anak penyandang disabilitas berhak mendapat perlindungan khusus. Perlindungan khusus bagi anak penyandang disabilitas yang berhadapan dengan hukum juga diatur dalam Pasal 64. Dalam Pasal 64 huruf m menyatakan bahwa bagi anak penyandang disabilitas perlindungan khusus dilakukan melalui pemberian aksesibilitas. Hal tersebut dipertegas dalam Pasal 70, bahwa perlindungan

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 31-51)

Dokumen terkait