• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Bentuk Penyajian Tari Dagung

Tari Dagung diciptakan oleh nenek moyang terdahulu, yang penciptanya sendiri sudah wafat sejak 1 abad yang lalu. Sehingga jejak pendirinya yang asli tidak dapat ditemukan lagi. Tarian Dagung ini sudah turun temurun ke anak cucu dan sampai sekarang masih tetap dilestarikan. Gerak Tari Dagung pada masa dahulu hingga sekarang tidak pernah mengalami perubahan, gerakan pada Tari Dagung merupakan gerak bebas dan sederhana. Akan tetapi ada beberapa gerak khas yang ada pada Tari Dagung ini. Tari Dagung tidak memiliki aturan dalam menarikannya, karena melihat dari latar belakang masyarakat Asli Liong yang tidak mengenal bangku sekolah atau pendidikan maka mereka menari hanya mengikuti ketukan atau tempo musik saja. Sedangkan untuk hitungan dan pola lantai mereka sama sekali tidak tahu. Sehingga geraknya terkadang asal saja dan terlihat monoton, pola lantainya juga terkadang tidak berubah.

Namun Tari Dagung ini memiliki keunikan, yaitu hanya boleh ditarikan oleh para gadis yang belum menikah saja dan jumlah penarinya harus genap karena tari ini adalah termasuk tari pergaulan, Jadi tidak menutup kemungkinan dalam Tari Dagung ini Laki-laki tidak boleh ikut menari, karena pada saat para gadis sudah menari para penari laki-laki boleh masuk akan tetapi hanya sekedar Menyawer atau disebut juga dengan Ngebeng.

Selain itu keunikan lainnya dalam Tari Dagung ini adalah pada geraknya, gerak Tari Dagung ini berbeda-beda karena mengikuti lagu dan tempo musik yang dibawakan.

Adapun bentuk penyajian tari Dagung di Kehidupan Masyarakat

Asli Liong Desa Bantan Tengah, Kecamatan Bantan, Kabupaten

Bengkalis, Provinsi Riau ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu: gerak, pola lantai, musik iringan, tata rias dan busana dan tempat pertunjukan.

a) Gerak

Gerak Tari Dagung dari masa ke masa belum pernah mengalami perubahan. Tari Dagung ini termasuk tarian yang masih primitif, gerakannya tidak banyak dan tidak rumit karena orang-orang suku Asli zaman duhulu belum banyak mengenal gerak tari sehingga mereka hanya gerak-gerak bebas dan sederhana saja. Banyak gerakan yang diulang-ulang, oleh karena itu tarian ini terlihat monoton. Gerakan Tari Dagung juga menyesuaikan lagu dan tempo yang dibawakan, sehingga geraknya bisa berubah-ubah.

Berdasarkan hasil observasi tanggal 15 Maret 2015, Gerak yang terdapat dalam Tari Dagung pada Masyarakat Asli Liong iniadalah gerakan-gerakan yang dilakukan secara bebas, gerak-gerak tersebut adalah gerak kaki, tangan, kepala dan pinggul. Pada saat awal penari masuk, penari gerak

sembah dengan berbaris kemudian berhadap-hadapan. Dalam gerak pembukaan ada gerakan bebas yaitu hanya maju-mundur kemudian berputar. Selanjutnya ada yang dinamakan dengan gerakan Mereneh” yaitu bergerak turun kebawah dengan posisi badan ditempat dan level rendah sambil mengayunkan kedua belah tangan, kemudian terdapat juga gerakan “Jengkel Jolok” yaitu gerakan tangan. Gerak Mereneh itu sendiri merupakan Ciri khas dari gerak Tari Dagung. Adapun ragam-ragam bentuk penyajian Tari Dagung ini yaitu:

1) Gerak Sembah pembuka

Gambar III: Gerak Sembah Pembuka Sumber: (Foto: Eny, 2015)

Gerak ini adalah gerakan pembuka dengan posisi kedua tangan disatukan di depan dada mengarah ke atas, dan kedua kaki sejajar.

2) Gerak lenggang maju

Gambar IV: Gerak Lenggang Maju Sumber: (Foto: Eny, 2015)

Gerak lenggang maju yaitu posisi kaki kanan di depan dan kaki kiri di belakang seperti gerak mau maju, kemudian kedua tangan diayun melenggang mengikuti kaki.

3) Gerak Lenggang Mundur

Gambar V: Gerak Lenggang Mundur

Gerak lenggang mundur ini untuk gerak kakinya kebalikan dari gerak lenggang maju, sedangkan gerak tangan juga sama yaitu melenggang mengikuti kaki.

4) Gerak Berputar

Gambar VI: Gerak berputar Sumber: (Foto: Eny, 2015)

Gerak ini merupakan gerakan berputar dengan bertukar tempat sama pasangan dan gerakan tangan tetap melenggang.

5) Gerak Jekel Jolok

Gambar VII: Gerak jekel jolok Sumber: (Foto: Eny, 2015)

Gerak jengkel jolok ini adalah sebutan pada gerak tangan yaitu dengan menekuk kedua tangan di samping kemudian diayunkan mengikuti jalannya kaki, sedangkan posisi kaki adalah jalan silang dua kali ke samping kanan kemudian berhenti dengan kaki kiri jinjit, mengikuti ketukan musik, lalu jalan dua kali ke samping kiri lagi kemudian berhenti dengan posisi kebalikan dari gerak ke samping kanan.

6) Gerak Mereneh

Gambar VIII: Gerak Mereneh Sumber: (Foto: Eny, 2015)

Gerak mereneh merupakan gerak dengan level rendah yaitu kedua kaki ditekuk ke bawah sampai seperti duduk, sehingga ketika turun dan naik ada efek gerak pinggul, kemudian kedua tangan ditekuk di samping diayun melenggang di samping

7) Gerak sembah penutup

Gambar IX: Gerak Sembah Penutup Sumber: (Foto: Eny, 2015)

Gerak sembah penutup ini sama dengan gerak sembah pembuka yaitu posisi kedua tangan disatukan di depan dada mengarah ke atas, dan kedua kaki sejajar rapat.

b) Pola Lantai

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ana Rabu 18 Maret 2015 sebagai penari, beliau mengatakan Tari Dagung pada masa dahulu tidak memiliki pola lantai yang khusus, dan mereka sebagai penari juga tidak mengenal apa itu pola lantai. Sehingga penari hanya membentuk garis sejajar lurus, maju mundur, berputar dan kembali sejajar. Tari Dagung ini hanya memiliki dua pola lantai, yaitu sejajar lurus dan sejajar saling berhadapan, yang membedakan hanya pada geraknya saja. karena dalam Tari Dagung juga ada gerak Berpasangan saling berhadapan, sehingga pola lantai itu sendiri dibuat sangat sederhana.

Adapun pola lantai Tari Dagung tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 8: Keterangan Simbol

No. Simbol Keterangan

1. Panggung/Tempat Pentas 2. Penari 3. Gerak Maju 4. Gerak Mundur 5. Berputar kekiri 6. Berputar Kekanan 7. Arah Hadap Pola Lantai 1

Pola Lantai 2

Gambar XII: Posisi Pola Lantai sejajar saling berhadapan dengan gerak maju mundur

Pola Lantai 3

Gambar XIII: Posisi Pola Lantai sejajar saling berhadapan dengan gerak berputar

c) Musik Iringan

Musik pengiring Tari Dagung juga dari masa ke masa tidak pernah mengalami perubahan. Musik Tari Dagung ini diambil dari beberapa lagu yaitu Lagu pembuka, Mak Inang Lenggang, Serampang Laut, Anak Kala, Tanjung Katung, Jekel Jolok, dan Lagu Penutup.

Hasil wawancara pada 15 Maret 2015 dengan Kabet (74 tahun) sebagai pemain musik, mengatakan:

“Dalam Tari Tradisi Dagung terdapat beberapa alat musik yang digunakan sebagai pengiring tari saat pertunjukan tari berlangsung, musik yang digunakan pada Tari Tradisi Dagung adalah biola, gong, dan kompang atau bebana (sebutan dari suku asli), yang dimainkan oleh tiga orang pemusik sebagai pengiring Tari Dagung tersebut. Biola di mainkan pada awal tarian lalu setelah itu diikuti dengan memainkan kompang dan gong”. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis pada 18 Maret 2015, penulis mengamati ketiga alat musik yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan Tari Dagung yaitu biola, bebana, dan gong. Biola yang dipakai untuk mengiringi Tari Dagung ini adalah biola peninggalan dari sesepuh terdahulu yang usianya sudah puluhan tahun tetapi masih dirawat dan terus dilestarikan oleh generasi penerusnya. Di bawah berikut adalah hasil dokumentasi ketiga alat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Dagung.

1) Biola

Gambar X: Alat Musik Biola Sumber: (Foto: Eny, 2015) 2) Kompang (Bebana)

Gambar XI: Alat Musik Bebana (Kompang) Sumber: (Foto: Eny, 2015)

3) Gong

Gambar XII: Alat Musik Gong Sumber: (Foto: Eny, 2015) d) Tata Rias dan Busana

Tata rias dan busana Tari Dagung pada masa dahulu sangat sederhana, bahkan penari-penari terdahulu tidak mengenal adanya rias sehingga wajah mereka benar-benar natural tidak ada polesan make up sama sekali. Akan tetapi penari-penari yang sekarang sudah menggunakan make up walaupun hanya sederhana dan tidak tebal, yaitu lipstik, blush on, dan eye shadow. Begitu juga dengan busananya, busana pada Tari Dagung ini juga sangat sederhana hanya memakai Kebaya dengan motif bunga-bunga warna merah muda dan bawahan dengan menggunakan kain jarik lepas serta selendang polos warna cream yang diselempangkan di

atas bahu sebagai variasi agar kebaya tidak terlihat polos. Warna merah muda pada kebaya ini menggambarkan perasaan sukacita. Karena setiap warna baju yang dipakai mempunyai arti sendiri. Berikut ini adalah hasil dokumentasi tata rias dan busana pada Tari Dagung.

1.1Tata Rias

Gambar XIII: Tata Rias pada Tari Dagung Sumber: (Foto: Eny, 2015)

1.2Tata Busana

Gambar XIV: Selendang

Sumber (Foto: Eny, 2015)

Gambar XV: Baju Kebaya Sumber: (Foto: Eny, 2015)

Gambar XVI: Kain Jarik Sumber: (Foto: Eny, 2015)

e) Tempat Pertunjukan

Tempat pertunjukan Tari Dagung ini tidak bersifat sakral, sehingga bisa ditarikan dimana saja menyesuaikan tempat dan fungsi pertunjukan. Apabila Tari Dagung ditampilkan untuk upacara perkawinan dan hiburan maka tempat pertunjukannya bisa dirumah pengantin atau di balai tempat upacara perkawinan berlangsung dan bisa juga di ruang terbuka atau lapangan. Sedangkan untuk upacara pengobatan biasanya tari Dagung ini ditarikan di rumah orang yang ingin melakukan pengobatan.

68 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Tari Dagung merupakan salah satu tarian yang muncul dan berkembang dimasyarakat Asli Liong sekitar tahun 1838 atau 1 abad yang lalu, tari Dagung awalnya dipentaskan dalam upacara perkawinan sebagai hiburan, kematian dan pengobatan. Namun sekarang hanya pada upacara perkawinan dan pengobatan saja. Tari Dagung adalah tarian yang diiringi dengan alat musik, yaitu perpaduan antara alat musik gendang dan gong, sehingga masyarakat Asli Liong mengucapnya dengan Dag Gung-Dag Gung , oleh karena itu masyarakat Asli Liong memberi nama tarian ini dengan nama tari Dagung. Para penari tari Dagung juga harus perempuan yang berusia muda atau yang belum menikah.

Pada saat sekarang ini tari Dagung sudah mengalami kemunduran atau sudah hampir punah, dikarenakan penari yang membawakan tari

Dagung sudah banyak yang menikah di usia muda. Namun meskipun

demikian generasi penerus tari dagung masih tetap menjaga dan melestarikan kesenian ini.

Tari Dagung berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat Asli Liong dalam upacara perkawinan, selain sebagai hiburan tari Dagung juga berfungsi sebagai upacara pengobatan. Di dalam tari Dagung juga terdapat proses ngebeng atau nyawer dimana penari laki-laki bisa masuk dan ikut menari, sehingga jenis tari Dagung ini merupakan tari pergaulan.

Dalam bentuk penyajiannya tari Dagung memiliki beberapa unsur-unsur tari yaitu gerak, musik, desain lantai, tata busana, tata rias dan tempat pertunjukan. Alat musik yang digunakan sebagai pengiring tari Dagung yaitu biola, gong, dan kompang (bebana), sedangkan kostum yang digunakan adalah baju kebaya, selendang dan kain jarik.

Ragam gerak tari Dagung terdiri dari gerak sembah pembuka, gerak lenggang maju, gerak lenggang mundur, gerak berputar, gerak jekel jolok, gerak mereneh, dan gerak sembah penutup. Desain lantai pada tari Dagung sangat sederhana, dan tempat pertunjukan tari dagung sendiri tidak bersifat sakral karena bisa menyesuaikan.

B. Saran

1. Bagi Dinas Kebudayaan Kabupaten Bengkalis diharapkan adanya kerja sama yang baik antara pemerintah daerah setempat dan masyarakat yang berada di Desa Bantan Tengah dalam melestarikan hasanah budaya salah satunya Tari Dagung.

2. Bagi pemerintah Kabupaten Bengkalis agar dapat menambah buku-buku referensi yang mempunyai kaitan mengenai berbagai macam kesenian sehingga kesenian yang ada di daerah Kabupaten Bengkalis juga dapat dikenal oleh masyarakat umum dan dikembangkan serta dilestarikan oleh pecinta seni lainnya.

3. Bagi seluruh mahasiswa Pendidikan Seni Tari Fakultas bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta agar dapat mengapresiasi Tari Dagung.

Dokumen terkait