• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KETENTUAN TENTANG HAK DAN KEWAJIBAN

B. Ketentuan Atas Hak Dan Kewajiban Pengangkut

2. Bentuk Perjanjian Pengangkutan BBM Industri

Pada umumnya perjanjian tidak terikat terhadap suatu bentuk tertentu, dapat dibuat secara lisan dan andaikata dibuat secara tertulis maka ini bersifat sebagai alat bukti apabila terjadi perselisihan.53

53

Untuk beberapa perjanjian tertentu undang-undang menentukan suatu bentuk tertentu, sehingga apabila bentuk itu tidak dituruti maka perjanjian itu tidak sah. Dengan demikian bentuk tertulis tadi tidaklah hanya semata-mata merupakan alat pembuktian saja, tetapi merupakan syarat untuk adanya (bestaarwaarde) itu.54

Selanjutnya, perjanjian dapat dibedakan menurut berbagai cara, di antaranya perjanjian bernama (benoemd) dan perjanjian tidak bernama (onbenoemde overeenkomst). Perjanjian bernama atau perjanjian khusus adalah perjanjian yang mempunyai nama sendiri. Maksudnya ialah bahwa perjanjian-perjanjian tersebut diatur dan diberi nama oleh pembentuk undang-undang berdasrkan tipe yang paling banyak terjadi sehari-hari. Perjanjian khusus terdapat dalam Bab V sampai dengan Bab XVIII KUHPerdata. Kemudian di luar perjanjian bernama, tumbuh pula perjanjian tidak bernama, yaitu perjanjian-perjanjian yang tidak diatur secara khusus di dalam KUHPerdata, tetapi terdapat di dalam masyarakat. Jumlah perjanjian ini tidak berbatas dengan nama yang disesuaikan dengan kebutuhan pihak-pihak yang mengadakannya, seperti perjanjian kerjasama. Lahirnya perjanjian ini di dalam praktek adalah berdasarkan asas kebebasan berkontrak, mengadakan perjanjian atau partij otonom.55

Pasal 1319 KUHPerdata menegaskan semua perjanjian, baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama

54

Ibid., hal. 65-66.

tertentu, tunduk pada peraturan-peraturan umum yang termuat dalam KUHPerdata. Ketentuan yang mengatur mengenai perjanjian terdapat di dalam Buku III KUH Perdata, yang memiliki sifat terbuka artinya ketentuan-ketentuannya dapat dikesampingkan, sehingga hanya berfungsi mengatur saja.

Sifat terbuka dari KUH Perdata ini tercermin dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang mengandung asas kebebasan berkontrak, maksudnya setiap orang bebas untuk menentukan bentuk, macam dan isi perjanjian asalkan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kesusilaan dan ketertiban umum, serta selalu memperhatikan syarat sahnya perjanjian sebagaimana termuat di dalam Pasal 1320 KUH Perdata.

Suatu perjanjian pada dasarnya harus memuat beberapa unsur perjanjian yaitu:56

1) Unsur essentialia, sebagai unsur pokok yang wajib ada dalam perjanjian, seperti identitas para pihak yang harus dicantumkan di dalam suatu perjanjian;

2) Unsur naturalia, merupakan unsur yang dianggap ada dalam perjanjian, walaupun tidak dituangkan secara tegas dalam perjanjian, seperti itikad baik dari masing-masing pihak dalam perjanjian;

3) Unsur accidentialia, yaitu unsur tambahan yang diberikan oleh para pihak dalam perjanjian.

56

KUHPerdata memberikan kebebasan bagi para pihak untuk melakukan perjanjian, namun demikian KUHPerdata juga membedakan jenis dari pada perjanjian tertulis (akta) tersebut secara otentik dan akta dibawah tangan yang dilakukan para pihak sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1874 ayat 1 KUH Perdata57 akta dibawah tangan adalah:

1) tulisan atau akta yang ditandatangani dibawah tangan;

2) tidak dibuat dan ditandatangani dihadapan pejabat yang berwenang (pejabat umum), tetapi dibuat sendiri oleh seseorang atau para pihak;

3) secara umum terdiri dari segala jenis tulisan yang tidak dibuat oleh atau di hadapan pejabat, meliputi surat-surat, register-register, surat-surat urusan rumah tangga, lain-lain tulisan yang dibuat tanpa pejabat umum

Singkat kata, segala bentuk tulisan atau akta yang bukan Akta Otentik disebut Akta Dibawah Tangan atau dengan kata lain, segala jenis kata yang tidak dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum, termasuk rumpun Akta Dibawah Tangan.58 Sedangkan yang dimaksudkan dengan akta otentik dapat dilihat dari bunyi Pasal 1868 KUHPerdata yang menyatakan, suatu akta otentik adalah suatu akta yang dalam bentuk ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan

57

Pasal 1874 ayat 1 KUH Perdata berbunyi : Yang dianggap sebagai tulisan di bawah tangan adalah akta yang ditandatangani di bawah tangan, surat, daftar, surat urusan rumah tangga dan tulisan tulisan lain yang dibuat tanpa perantaraan seorang pejabat umum.

58

pejabat umum yang berkuasa untuk itu di tempat akta itu dibuat (misalnya Notaris yang diberikan kewenangan oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris).

Perjanjian pengangkutan BBM Industri yang dilakukan perusahaan industri PT. Pulp Lestari Tbk dengan perusahaan angkutan BBM (mobil tangki) PT. Yunita Permai Budiman yang dijadikan objek penelitian merupakan perjanjian tertulis yang dibuat secara dibawah tangan. Hal ini terlihat dari perjanjian tersebut hanya ditandatangani kedua belah pihak yang berperjanjian, dalam hal ini diwakili Direktur masing-masing perusahaan (badan hukum) tersebut. Perjanjian tersebut tidak dibuat oleh atau dihadapan Notaris sebagai pejabat yang berwenang untuk itu.

Perjanjian dibawah tangan merupakan perjanjian yang hanya ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan saja. Perjanjian itu hanya mengikat para pihak dalam perjanjian, tetapi tidak mempunyai kekuatan mengikat pihak ketiga. Akibatnya, jika perjanjian tersebut disangkal pihak ketiga maka para pihak atau salah satu pihak dari perjanjian itu berkewajiban mengajukan bukti-bukti yang diperlukan untuk membuktikan bahwa keberatan pihak ketiga dimaksud tidak berdasar dan tidak dapat dibenarkan. Sedangkan perjanjian yang dibuat dan oleh Notaris dalam bentuk akta notariel. Akta notariel adalah akta yang dibuat di hadapan dan di muka Notaris. Jenis dokumen

ini merupakan alat bukti yang sempurna bagi para pihak yang bersangkutan maupun pihak ketiga.59

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa perjanjian pengangkutan BBM Industri yang dijadikan objek penelitian dilakukan secara dibawah tangan. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa perjanjian pengangkutan BBM Industri itu tidak memiliki kekuatan hukum atau tidak sah. Perjanjian pengangkutan BBM itu adalah sah karena para pihak mengakui keberadaan dari isi perjanjian tersebut, tetapi perjanjian itu hanya mengikat para pihak yang berperjanjian saja. Akibatnya perjanjian yang dibuat secara dibawah tangan itu harus diotentikkan ulang (penetapan pengadilan) oleh para pihak apabila hendak dijadikan alat bukti bersengketa di pengadilan. Oleh karena itu menurut penulis sebaiknya para pihak dalam melakukan perjanjian pengangkutan BBM industri dilakukan secara Notaril atau dihadapan Notaris sebagai pejabat yang berwenang membuat akta perjanjian oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, sehingga perjanjian itu menjadi suatu akta otentik sehingga tidak hanya mengikat para pihak yang berperjanjian tetapi juga mengikat pihak ketiga serta memiliki kekuatan pembuktian sempurna apabila bersengketa di hadapan Pengadilan.

59

Salim H.S., Hukum Kontrak, Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika Jakarta, 2005, hal. 43.

3. Kekuatan Hukum Para Pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan BBM

Dokumen terkait