BAB II : BENTUK PRAKTEK MONEY LAUNDERING PADA
C. Bentuk Praktek Money Laundering Pada Asuransi
Kejahatan pencucian uang (money laundering) belakangan ini makin mendapat perhatian dari berbagai kalangan, hal ini disebabkan karena kejahatan money laundering ini mempengaruhi sistem perekonomian. Asuransi sebagai salah satu lembaga keuangan non Bank sering kali digunakan sebagai kendaraan untuk melakukan tindak pidana pencucian uang hal ini berkaitan dengan berkembangnya produk–produk asuransi dengan investasi.
Dalam praktik pencucian uang sebagian besar mengandalkan sarana lembaga keuangan, terutama perbankan dengan memanfaatkan ketentuan rahasia bank.72 Pencucian uang sebagian besar mengandalkan sarana lembaga keuangan, terutama perbankan dengan memanfaatkan ketentuan rahasia bank. Bila dipahami semua tindak pidana ekonomi (kejahatan keuangan) akan bermuara pada perbuatan pencucian uang, maka seharusnya penerapan undang-undang tindak pidana pencucian uang terhadap perkara kejahatan ekonomi juga banyak. Tetapi pada kenyataannya putusan pengadilan terhadap kejahatan keuangan yang dikaitkan dengan Undang-Undang TPPU ada 20 (dua puluh) putusan.73
Tindak pidana pencucian uang dapat terjadi setelah dilakukannya kejahatan awal atau asal (predicate offence), misalnya korupsi, penyuapan, narkotika, psikotropika, penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan migran, perdagangan orang, perdagangan senjata gelap, terorisme, penculikan, pencurian, penggelapan, penipuan, pemalsuan uang, dan perjudian. Setelah itu, proses pencucian uang tersebut terjadi ketika uang tersebut dipergunakan untuk kepentingan sendiri atau bersama yang dapat dilakukan melalui beberapa bidang, diantaranya adalah lembaga keuangan non-bank yaitu asuransi
Lembaga keuangan non depositori atau sering juga disebut lembaga keuangan non bank. Lembaga keuangan yang kegiatan usahanya bersifat kontraktual
72Nurmalawaty, Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) dan Upaya Pencegahannya, Jurnal Equality, (Volume 11 Nomor 1 Februari 2006). Hlm 18
73Yenti Garnasih, “Kebijakan Kriminalisasi dalam Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, MIMBAR Hukum”, Vol. 19, (Yogyakarta: 2007), hal. 166
(contractual institutions) bertugas menarik dana dari masyarakat dengan menawarkan kontrak untuk memproteksi penabung terhadap resiko ketidakpastian misalnya polis asuransi. Kelompok lembaga keuangan kontraktual salah satunya dapat disebut perusahaan asuransi. Fungsi dari lembaga ini nyaris sama seperti yang diperankan oleh lembaga perbankan.74
Lembaga keuangan seperti asuransi merupakan lembaga keuangan non bank sangat rentan terhadap pencucian uang dan salah satu penyalur utama penyimpanan uang, maka akan cukup sulit bagi suatu lembaga/perusahaan asuransi untuk dapat mendeteksi apakah lembaga tersebut terlibat dalam suatu proses kegiatan pencucian uang (money laundering) atau tidak. Pelaku kejahatan pencucian uang pada perusahaan asuransi biasanya menggunakan modus-modus yang canggih agar sulit ditelursuri. Pada dasarnya kejahataan pencucian uang pada perusahaan asuransi bisa dilakukan oleh orang dalam perusahaan maupun orang luar atau tertanggung.
Meskipun perusahaan asuransi telah menjalankan sistem pelaporan dan pengawasan intern yang baik serta mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditentukan, namun kecurigaan terhadap suatu transaksi yang mestinya merupakan tidak pidana sering kali terlewatkan, dikarenakan si pelaku pada umumnya melakukan transaksi khususnya kegiatan money laundering secara tersembunyi bahkan terkoordinasi dengan baik. Oleh karena itu untuk mencegah hal ini maka perusahaan asuransi harus menerapkan suatu pencegahan atau perlindungan terhadap uang yang disalurkan melalui perusahaannya tersebut dengan memberlakukan
74Thomas Suyatno. Dkk. 2003. Kelembagaan Bank. (Gramedia. Jakarta). hlm. 13
Penerapan Mengenal Nasabah (Customers Due Delligence) untuk menanggulangi tindak pidana pencucian uang.75
Pada dasarnya kejahatan money laundering asuransi bisa dilakukan oleh orang dalam perusahan maupun orang luar atau tertanggung. Kejahatan pencucian uang yang terjadi pada perusahaan asuransi antara lain dilakukan dengan melakukan pembayaran polis yang nilainya jauh di atas kemampuan keuangan yang wajar, penggelapan premi asuransi, dan tindakan lain yang dapat dikategorikan sebagai transaksi yang mencurigakan pada asuransi.
Terkadang kejahatan asuransi ini juga dipelopori oleh pihak perantara yaitu agen maupun broker pada perusahaan asuransi. Kejahatan pencucian uang yang terjadi pada perusahaan asuransi antara lain dilakukan dengan melakukan pembayaran polis yang nilainya jauh diatas kemampuan yang wajar, investasi dalam bentuk proteksi asset, penggelapan premi asuransi, dan investasi dalam jumlah besar melalui produk –produk yang likuid terutama yang bernilai besar.76
Indikasi adanya pencucian uang pada perusahaan asuransi patut diwaspadai pada nasabah dengan uang pertanggungan besar, namun jangka waktunya sangat singkat. Besarnya premi pada suatu perusahaan asuransi berjangka waktu pendek dapat dimanfaatkan tertanggung atau pemodal untuk memasukkan uang hasil kejahatan pada mekanisme perbankan yang legal. Perusahaan bermodal kecil juga dapat digunakan sebagai pemilik polis asuransi yang berpremi besar untuk menutupi
75 Adrian Sutedi, Op. Cit, hlm.69.
76 Aulia Fahmi., Op.,Cit
identitas asli pelaku pencucian uang77. Contohnya adalah Pemilik dana biasanya membeli produk asuransi jiwa misalnya untuk 10 tahun. Ketika itu si pembeli mengatakan akan mencicil asuransi dengan membayar premi tiap bulan misalnya Rp 10 juta. Kemudian pihak asuransi menghitung santunannya misalnya Rp 5 miliar.
Namun tak berapa lama, pemegang asuransi mengatakan akan melunasi premi sekaligus, sehingga tidak mencicil premi lagi. Selang beberapa bulan si pembeli asuransi menarik dananya lagi walaupun dikenai denda, dengan alasan untuk keperluan seperti membeli properti. begitu dia keluar dari asuransi tersebut, dia masuk ke bank dan menyetor dana yang sudah pernah mengendap di asuransi. Ketika pihak bank bertanya dari mana asal uang tersebut?, pihak penyetor mengatakan baru mencairkan dana dari asuransi.78
Produk asuransi seperti single premium insurance bond (asuransi premi tunggal). Asuransi ini adalah jenis asuransi unit link dengan masa pembayaran premi 1 kali di awal, disamping menawarkan hasil investasi yang optimal, asuransi jenis ini ini juga memberikan perlindungan yang komprehensif terhadap resiko kematian atau resiko cacat total dan tetap79. Asuransi ini sangat popular, disinyalir banyak dibeli oleh para pencuci uang untuk dijual kembali dengan harga diskon, sehingga sisa
77 http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol16002/hatihati-10-modusoperandi-pencucian-uang. diakses, 27 April 2018. Pukul 23:19 WIB
78 https://finance.detik.com/moneter/d-566970/asuransi-jiwa-paling-rawan-disusupi-money-laundering
79 https://id.linkedin.com/pulse/mengenal-asuransi-premi-tunggal-prudential-mas-gion.
Diakses, 26 April 2018. Pukul 12:26 WIB
nilainya dapat mereka peroleh dalam bentuk cek yang bersih (sanitized check) dari suatu perusahaan asuransi.
Para pencuci uang tertarik untuk membeli produk asuransi dimaksud adalah karena single premium insurance bond dapat pula digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan. Salah satu permasalahan pokok pada industri asuransi adalah bahwa produk-produk asuransi dalam persentase yang cukup signifikan dijual melalui lembaga intermediasi, sehingga para pialang (brokers) seringkali merupakan satu-satunya penghubung (personal contact) dengan nasabah. Terkadang kejahatan asuransi ini juga diinisiasi oleh pihak perantara yaitu agen maupun broker asuransi. Hal-hal yang demikianlah yang mengakibatkan bahwa perusahaan asuransi sebagai salah satu pemicu dilakukannya tindak pidana pencucian uang.80
Adapun dalam Putusan Nomor 740/Pid.Sus/2014/PT.MDN, Perkara atas nama Maria Rina Chrsissanty Sinaga. Modus digunakan pelaku adalah dengan membuat surat palsu atas nama nasabahnya di perusahaan asuransi. Surat tersebut digunakan untuk bukti dari sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar.
Terdakwa Maria Rina Chrsissanty Sinaga telah menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
80 Fahmi Aulia, Op.,Cit. hlm 49
merupakan hasil tindak pidana pemalsuan surat dan mentarsfer hasil pemalsuan surat tersebut ke rekening nasabahnya tanpa sepengetahuan nasabah tersebut untuk menyembunyikan dan menyamarkan hasil dari tindak pidana tersebut.
BAB III
PROSES PEMBUKTIAN DALAM TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG PADA ASURANSI
A. Pengertian Sistem Pembuktian
Pembuktian merupakan salah satu rangkaian dalam peradilan yang memegang peranan penting. Hal ini disebabkan pada pembuktian di tentukan bersalah atau tidaknya seseorang. Apabila bukti yang disampaikan di pengadilan tidak mencukupi atau tidak sesuai dengan yang disyaratkan maka tersangka akan dibebaskan. Namun apabila bukti yang disampaikan mencukupi maka tersangka dapat dinyatakan bersalah. Karenanya proses pembuktian merupakan proses yang penting agar jangan sampai orang yang bersalah dibebaskan karena bukti yang tidak cukup. Atau bahkan orang yang tidak bersalah justru dinyatakan bersalah.
Pengertian “pembuktian” secara umum adalah ketentuan-ketentuan yang yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang dalam membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang yang boleh dipergunakan oleh hakim guna membuktikan kesalahan yang didakwakan.
Sistem pembuktian dari satu negara ke negara lainnya tentunya berbeda. Hal tersebut biasanya disesuaikan dengan budaya atau paham yang dianut negara tersebut. Pada umumnya sistem pembuktian di suatu negara dibedakan berdasarkan
negara yang menganut paham civil law dan negara yang menganut common law.
Selain itu juga didasarkan pada beberapa teori sistem pembuktian. Dalam teorinya, sistem pembuktian dapat dibagi menjadi empat teori yaitu sistem teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif, berdasarkan keyakinan hakim saja, berdasarkan keyakinan hakim yang didukung oleh alasan yang logis, dan berdasarkan undang-undang negatif.81
Tidak hanya sistem pembuktian saja yang berbeda, beban pembuktian pun berbeda-beda yang bergantung kepada sistem pembuktian tersebut. Selain berdasarkan sistem pembuktian, beban pembuktian yang digunakan juga dapat ditentukan dari jenis tindak pidana seperti tindak pidana korupsi di Indonesia. Beban pembuktian dalam perspektif hukum pidana dapat dibagi menjadi tiga, yaitu beban pembuktian umum/konvensional, beban pembuktian terbalik dan beban pembuktian berimbang.
Sistem atau teori-teori pembuktian Indonesia sama dengan Belanda dan negara- negara eropa kontinental yang lain, yaitu menganut bahwa hakimlah yang menilai alat bukti yang diajukan dengan keyakinannya sendiri bukan juri, seperti di Amerika Serikat dan negara-negara anglo saxon, juri umumnya terdiri dari orang awam. Juri-juri tersebutlah yang menentukan salah atau tidaknya guilty or not guilty
81Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia (edisi revisi), cet.1 (Jakarta: Sinar Grafika.
2001). Hal. 245.
seorang terdakwa, sedangkan hakim hanya memimpin sidang dan menjatuhkan pidana (sentencing).82
Proses pembuktian atau membuktikan mengandung maksud dan usaha untuk menyatakan kebenaran atas sesuatu peristiwa, sehingga dapat diterima akal terhadap kebenaran peristiwa tersebut.83
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana tidak memberikan penjelasan mengenai pengertian pembuktian. KUHAP hanya memuat peran pembuktian dalam Pasal 183 bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Jenis-jenis alat bukti yang sah menurut hukum, yang tertuang dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP yaitu;
1.keterangan saksi 2.Keterangan ahli 3.Surat
4.Petunjuk; dan
5.Keterangan terdakwa.
82 Ibid.,
83Martiman Prodjohamidjojo, 1984, Komentar atas KUHAP: Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, (Jakarta: Pradnya Paramitha), hlm 11
B. Teori Sistem Pembuktian di dalam Hukum Pidana
Hukum acara pidana mengenal beberapa macam teori pembuktian yang menjadi pegangan bagi hakim dalam melakukan pemeriksaan terhadap di sidang pengadilan. Sejalan dengan perkembangan waktu, teori atau sistem pembuktian mengalami perkembangan dan perubahan. Demikian pula penerapan sistem pembuktian di suatu negara dengan negara lain dapat berbeda. Beberapa teori hukum pembuktian antara lain:
a) Sistem Atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Semata (Conviction In Time)
Sistem ini menganut ajaran bahwa bersalah tidaknya-tidaknya terhadap perbuatan yang didakwakan, sepenuhnya tergantung pada penilaian "keyakinan" hakim semata-mata. Jadi bersalah tidaknya terdakwa atau dipidana tidaknya terdakwa sepenuhnya tergantung pada keyakinan hakim. Keyakinan hakim tidak harus timbul atau didasarkan pada alat bukti yang ada. Sekalipun alat bukti sudah cukup kalau hakim tidak yakin, hakim tidak boleh menjatuhkan pidana, sebaliknya meskipun alat bukti tidak ada tapi kalau hakim sudah yakin, maka terdakwa dapat dinyatakan bersalah.
Akibatnya dalam memutuskan perkara hakim menjadi subyektif sekali.
Kelemahan pada sistem ini terletak pada terlalu banyak memberikan kepercayaan kepada hakim, kepada ken-kesan perseorangan sehingga sulit untuk melakukan
pengawasan. Hal ini terjadi di praktik Peradilan Prancis yang membuat pertimbangan berdasarkan metode ini, dan banyak mengakibatkan putusan bebas yang aneh.84 b) Sistem atau Teori Pembuktian Berdasar Keyakinan Hakim Atas Alasan
yang Log is (Conviction In Raisone)
Sistem pembuktian Conviction In Ralsone masih juga mengutamakan penilaian keyakinan hakim sebagai dasar satu-satunya alasan untuk menghukum terdakwa, akan tetapi keyakinan hakim disini harus disertai pertimbangan hakim yang nyata dan logis, diterima oleh akal pikiran yang sehat. Keyakinan hakim tidak perlu didukung alat bukti sah karena memang tidak diisyaratkan, Meskipun alat-alat bukti telah ditetapkan oleh undang-undang tetapi hakim bisa menggunakan alat-alat bukti di luar ketentuan undang-undang. Yang perlu mendapat penjelasan adalah bahwa keyakinan hakim tersebut harus dapat dijelaskan dengan alasan yang logis.
Keyakinan hakim dalam sistem pembuktian convition in raisone harus dilandasi oleh "reasoning" atau alasan-alasan dan alasan itu sendiri harus 'reasonable" yakni berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima oleh akal dan nalar, tidak semata-mata berdasarkan keyakinan yang tanpa batas. Sistem pembuktian ini sering disebut dengan sistem pembuktian bebas.85
84Andi Hamzah, 1985, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Ghana Indonesia), hlm 241
85Munir Fuady, 2006, Teori Hukum Pembuktian: Pidana dan Perdata, (Citra Aditya, Bandung), hlm 56
c) Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Positif (Positif Wettwlijks theode).
Sistem ini ditempatkan berhadap-hadapan dengan sistem pembuktian conviction in time, karena sistem ini menganut ajaran bahwa bersalah tidaknya terdakwa didasarkan kepada ada tiadanya alat-alat bukti sah menurut undang-undang yang dapat dipakai membuktikan kesalahan terdakwa. Teori positif wetteljik sangat mengabaikan dan sama sekali tidak mempertimbangkan keyakinan hakim. Jadi sekalipun hakim yakin akan kesalahan yang dilakukan terdakwa, akan tetapi dalam pemeriksaan di persidangan pengadilan perbuatan terdakwa tidak didukung alat bukti yang sah menurut undang-undang maka terdakwa harus dibebaskan. Umumnya bila seorang terdakwa sudah memenuhi cara-cara pembuktian dan alat bukti yang sah menurut undang-undang Maka terdakwa tersebut bisa dinyatakan bersalah dan harus dipidana.
Kebaikan sistem pembuktian ini, yakni hakim akan berusaha membuktikan kesalahan terdakwa tanpa dipengaruhi oleh nuraninya sehingga benar-benar obyektif karena menurut cara-cara dan alat bukti yang di tentukan oleh undang-undang kelemahannya terletak bahwa dalam sistem ini tidak memberikan kepercayaan kepada ketetapan kesan-kesan perseorangan hakim yang bertentangan dengan prinsip hukum acara pidana.
Sistem pembuktian positif yang dicari adalah kebenaran format, oleh karena itu sistem pembuktian ini digunakan dalam hukum acara perdata. Positief wettelijk
bewijstheori systeem di benua Eropa dipakai pada waktu berlakunya Hukum Acara Pidana yang bersifat Inquisitor. Peraturan itu menganggap terdakwa sebagai objek pemeriksaan belaka; dalam hal ini hakim hanya merupakan alat perlengkapan saja.86
d) Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Negatif (negative wettelijk).
Menurut teori ini hakim hanya boleh menjatuhkan pidana apabila sedikit-dikitnya alat-alat bukti yang telah di tentukan undang-undang itu ada, ditambah dengan keyakinan hakim yang didapat dari adanya alat-alat bukti itu. Dalam pasal 183 KUHAP menyatakan sebagai berikut : " hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah Ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya".
Atas dasar ketentuan Pasar 183 KUHAP ini, maka dapat disimpulkan bahwa KUHAP memakai sistem pembuktian menurut undang-undang yang negatif. Ini berarti bahwa dalam hal pembuktian harus dilakukan penelitian, apakah terdakwa cukup alasan yang didukung oleh alat pembuktian yang ditentukan oleh undang-undang (minimal dua alat bukti) dan kalau ia cukup, maka baru dipersoalkan tentang ada atau tidaknya keyakinan hakim akan kesalahan terdakwa.
86Darwan Prinst, 1998, Hukum Acara Pidana Dalam Praktik, (Jakarta: Djambatan D.
Soedjono, Pemeriksaan Pendahuluan menurut K.U.H.A.P. Pen. Alumni Bandung). Hlm 65
Teori pembuktian menurut undang-undang negative tersebut dapat disebut dengan negative wettelijk istilah ini berarti : wettelijk berdasarkan undang-undang sedangkan negative, maksudnya adalah bahwa walaupun dalam suatu perkara terdapat cukup bukti sesuai dengan undang-undang, maka hakim belum boleh menjatuhkan hukuman sebelum memperoleh keyakinan tentang kesalahan terdakwa.87
Dalam sistem pembuktian yang negatif alat-alat bukti limitatief di tentukan dalam undang-undang dan bagaimana cara mempergunakannya hakim juga terikat pada ketentuan undang-undang. Dalam sistem menurut undang-undang secara terbatas atau disebut juga dengan system undang-undang secara negative sebagai intinya yang dirumuskan dalam Pasal 183, dapat disimpulkan sebagai berikut :
a) Tujuan akhir pembuktian untuk memutus perkara pidana, yang jika memenuhi syarat pembuktian dapat menjatuhkan pidana;
b) Standar tentang hasil pembuktian untuk menjatuhkan pidana.
Kelebihan sistem pembuktian negatif (negative wettelijk) adalah dalam hal membuktikan kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, hakim tidak sepenuhnya mengandalkan alat-alat bukti serta dengan cara-cara yang ditentukan oleh undang-undang, tetapi harus disertai pula keyakinan bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana. Keyakinan yang dibentuk ini harus berdasarkan atas fakta-fakta yang diperoleh dari gat bukti yang ditentukan dalam
87 M. Yahya Harahap. 2006. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali: Edisi Kedua, (Jakarta:
Sinar Grafika), hlm 319
undang-undang. Sehingga dalam pembuktian benar-benar mencari kebenaran yang hakiki, jadi sangat sedikit kemungkinan terjadinya salah putusan atau penerapan hukum yang digunakan.88
Kekurangan teori ini hakim hanya boleh menjatuhkan pidana apabila sedikit-dikitnya alat-alat bukti yang telah di tentukan undang-undang itu ada, ditambah dengan keyakinan hakim yang didapat dari adanya alat-alat bukti itu sehingga akan memperlambat waktu dalam membuktikan bahkan memutuskan suatu perkara, karena di lain pihak pembuktian harus melalui penelitian. Tetapi dengan mencari kebenaran melalui penelitian tersebut, maka kebenaran yang terungkap benar-benar dapat dipertanggung jawabkan, dan merupakan kebenaran yang hakiki.
C. Jenis Alat Bukti 1. Pengertian Alat Bukti
Menurut Hari Sasangka dan Lily Rosita89:
“Alat Bukti adalah segala sesuatu perbuatan, dimana dengan alatalat bukti tersebut, dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang terlah dilakukan terdakwa.”
Darwan Prinst mengatakan bahwa90:
“Sedangkan definisi alat-alat bukti yang sah adalah alat-alat yang ada hubungannya dengan suatu tindak pidana, dimana alat-alat tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian, guna menimbulkan keyakinan bagi
88Supriyadi Widodo Eddyono, Catatan Kritis Terhadap Undang-Undang No 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban , (Elsam, Jakarta.) Hlm 3
89Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, (Mandar Maju, Bandung), 2003, hlm 11
90 Darwan Prinst, Op.cit, hlm.135.
hakim, atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa.”
2. Macam-Macam Alat Bukti
Setelah pada bagian sebelumya dijelaskan mengenai bagaimana tentang sistem atau teori dari suatu pembuktian dan apa saja system pembuktian yang diatur oleh KUHAP, maka pada bagian ini akan dipaparkan bagaimana pengaturan alat bukti yang diatur dalam KUHAP.
Sebagaimana yang diuraikan terdahulu, Pasal 184 ayat (1) KUHAP telah menentukan secara limintatif alat bukti yang sah menurut Undangundang. Di luar alat bukti itu, tidak dibenarkan dipergunakan untuk membuktikan kesalahan terdakwa.
ketua sidang, penuntut umum, terdakwa atau penasehat hukum. Terikat dan terbatas hanya diperbolehkan mempergunakan alat-alat bukti itu saja. Mereka tidak leluasa mempergunakan alat bukti yang dikehendakinya di luar alat bukti yang ditentukan.
Dalam hal ini adapun yang menjadi alat-alat bukti sebagaimana yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP , adalah sebagai berikut:
a) Keterangan saksi b) Keterangan ahli c) Surat
d) Petunjuk
e) Keterangan terdakwa91
91 Kitab Undang-Undang Hukum A cara Pidana
Sesuai dengan ketentuan Pasal 184 ayat (1), Undang-undang menentukan lima jenis alat bukti yang sah. Di luar ini, tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah. Jika ketentuan Pasal 183 dihubungkan dengan jenis alat bukti itu terdakwa baru dapat dijatuhi hukuman pidana, apabila kesalahan dapat dibuktikan paling sedikit dengan dua (2) jenis alat bukti yang disebut dalam Pasal 184 ayat (1).
a. Keterangan Saksi
Perihal batasan keterangan saksi secara eksplisit Pasal 1 angka 27 KUHAP menentukan, bahwa: “Keterangan saksi adalah salah satu bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia liat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu” Sedangkan menurut Pasal 185 ayat (1) KUHAP, memberi batasan pengertian keterangan saksi dalam kapasitasnya sebagai alat bukti, bahwa :
“Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan”
b. Keterangan ahli
Keterangan ahli atau verklaringen van een deskundige/expect testimony adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan (Pasal 1 angka 28 KUHAP).
Keterangan ahli atau verklaringen van een deskundige/expect testimony adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan (Pasal 1 angka 28 KUHAP).