BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Teoritis
2.1.5 Bentuk Ragam Bahasa Pria Jepang (danseigo)
Danseigo adalah bahasa yang kuat kecenderungannya dipakai oleh penutur pria. Ragam bahasa pria dalam bahasa Jepang modern ditandai dengan beberapa aspek di antaranya dengan pemakaian shuujoshi atau bunmatsu hyoogen (ekspresi akhir kalimat), dengan aspek leksikal seperti pemakaian pronomina persona pertama dan pemakaian interjeksi, dan ditandai juga dengan pemakaian ragam bahasa futsuu. Kata-kata yang termasuk danseigo di dalam bahasa Jepang antara lain ore, oyaji, ofukuro, partikel- partikel yang biasa dipakai pada bagian akhir kalimat (shuujoshi) seperti zo, ze, daso, ka dan sebagainya. Bentuk penggunaan kata-kata tersebut dapat menunjukkan bentuk kemaskulinan dan ketegasan penutur dalam penyampaian informasi terhadap lawan tutur dalam komunikasi bahasa Jepang. (Putri dkk, 2016:64 )
Danseigo dipakai pada situasi tidak formal, sedangkan pada situasi formal hampir tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam pemakaian bahasa (Takamizawa dalam Sudjianto, 2004:204). Oleh karena itu, pada situasi formal
antara pria dan wanita cenderung menggunakan bahasa yang netral, sopan, tanpa ada bentuk penegasan penggunaan ragam bahasa gender di dalamnya. Sehingga dalam situasi formal tidak dapat dibedakan bentuk tuturan yang menyatakan gender wanita ataupun gender pria.
Sebagian besar bahasa yang digunakan oleh pria tidak memiliki pembatas penggunaan bahasa tertentu seperti layaknya wanita. Pria dapat dengan bebas mengutarakan pendapat sesuai dengan perasaan hatinya pada saat itu tanpa harus memilih penggunaan bahasa yang dianggap tabu bila di gunakan oleh penutur wanita. Dapat diamati apabila seorang pria berbicara baik secara intonasi dan pemilihan bahasanya juga dapat dikatakan lebih keras, tegas, dan terkesan memiliki wibawa dan maskulin. Untuk pria Jepang juga memiliki karakteristik penggunaan dan pemilihan bahasa yang tidak hanya tentang perbadaan intonasi pengucapan saja tetapi secara gramatika juga memiliki karakter tersendiri. Seperti pronomina personanya atau ninshou daimeishi, partikel pada akhir kalimat atau shuujoshi, interjeksi atau kandoushi, kata benda atau meishi, kata sifat atau keiyoushi dan kata kerja atau doushi. (Putri dkk, 2016)
2.1.5.1 Ninshou daimeishi
Di dalam bahasa Jepang pemakaian kata ganti penunjuk orang disebut dengan ninshi daimeishi (pronomina persona). Menurut Iwabuchi (1989:143) ninshi daimeishi (pronomina persona) yaitu kata yang digunakan untuk menunjukkan orang sekaligus menggantikan nama orang itu.
Bentuk ninshi daimeishi (pronomina persona) yang digunakan di dalam hubungan akrab pada suasana tidak resmi antara pria dan wanita. Berikut bentuk pronomina dalam ragam bahasa pria dalam bahasa Jepang.
Tabel 2.1. Pronomina Persona yang digunakan Pria dalam Bahasa Jepang dari
Singular Plural Singular Plural Singular Plural
Dekat
Sumber: Risako (2008: 190); Tomisaka (1997 : 49; Kodama ( 2016:37); Solihah (2016)
Pada tabel 2.1 pronomina persona diurut berdasarkan tingkatan formal menuju informal. Seperti halnya pendapat Sudjianto (2004), penggunaan ninshou daimeishi terdiri dari pronomina persona orang pertama (jishou), pronomina persona orang kedua (taishou) dan pronomina persona orang ketiga (tashou).
Pronomina persona tidak hanya mengacu ke satu jumlah saja tetapi ada yang mengacu ke beberapa jumlah. Bentuk jamak pronomina persona bahasa Jepang biasanya menambahkan sufiks –kata atau –gata, -tachi, -ra, dan –domo. Dalam Kamus Bahasa Jepang Nasional (kokugo jiten) (Kyousuke, 1997), -kata/-gata dipakai untuk menunjukkan rasa hormat penutur terhadap mitra tutur. Sufiks – tachi dulunya dipakai untuk kehormatan kepada Tuhan dan bangsawan.
Sedangkan sekarang, -tachi tidak lebih sopan dari –kata/-gata tetapi lebih sopan dari –ra dan –domo yang terkesan merendahkan mitra tutur. Sufiks –ra dan –
domo tidak dipakai untuk orang yang lebih tinggi derajatnya karena kedua sufiks ini terkesan membandingkan penutur dengan mitra tutur, sehingga penutur merendahkan mitra tutur.
Menurut Djajasudarma (1993:43) sistem pronomina persona meliputi sistem tutur sapa (term of addresse) dan sistem tutur acuan (term of reference).
Sistem tutur sapa hanya berkaitan dengan pronomina persona kedua sebagai kata sapaan atau panggilan. Sistem tutur acuan dapat berkaitan dengan pronomina persona I, pronomina persona II, dan pronomina persona III yang berfungsi untuk mengacu pada nomina. Selanjutnya menurut Lyons (1977:179) nama–nama gelar kehormatan yang tadinya digunakan sebagai deskripsi tertentu, kemudian berkembang menjadi pronomina persona. Hal itu terjadi karena pengaruh budaya dan adat–istiadat, dalam tuturan sehari–hari penutur bahasa tertentu sering menghindari pemakaian pronomina persona. Oleh karena itu sebagai penggantinya, penutur cenderung menggunakan nama lain seperti nama diri, pangkat, dan leksem kekerabatan jika hendak memulai percakapan atau jika hendak meminta perhatian lawan bicara.
1. Jishou
Jishou ( 自 称 ) adalah pronomina persona orang pertama. Penutur pria umumnya menggunanakan pronomina persona pertama seperti watakushi, uchi dan watashi sebagai ragam sopan dan netral. Namun pada pronomina persona pertama seperti washi, wai, jibun, ware, boku, ore dan oi, umumnya hanya dipakai oleh penutur pria.
2. Taishou,
Taishou (対象) adalah pronomina yang dipergunakan untuk menunjukkan orang yang diajak bicara. Pronomina persona ke dua anata, anta dan kimi adalah bentuk sopan dan netral. Sementara pronomina persona omae, kisama dan temee umumnya digunakan oleh penutur pria saja.
2. Tashou,
Tashou ( 他 称 ) ialah pronomina persona yang dipergunakan untuk menunjukkan orang yang menjadi pokok pembicaraan selain persona kesatu dan kedua. Di dalam bahasa Jepang, pronomina persona ketiga dibagi menjadi tiga bagian yaitu, kinshoo atau kelompok pronomina persona ketiga yang dipakai untuk menunjukkan orang, benda, tempat, atau arah yang dekat dengan pronomina persona pertama, chuushoo atau kelompok pronomina persona ketiga yang dipakai untuk menunjukkan orang, benda, tempat, atau arah yang dekat dengan pronomina persona kedua, dan enshoo atau kelompok pronomina persona ketiga yang dipakai untuk menunjukkan orang, benda, tepat, atau arah yang jauh baik pronomina persona pertama maupun kedua atau menunjukkan seseuatu yang tidak ada saat terjadinya pembicaraan.
Selain itu ada juga futeishoo atau pronomina tidak tentu atau tidak pasti, digunakan untuk menanyakan benda, orang, tempat, atau arah yang ingin diketahui si pembicara. (Oya dalam Syahrial, 2019: 94)
Berdasarkan teori Sudjianto (2004), contoh pronomina persona seperti kono kata merupakan kata yang lebih halus penggunaannya daripada kata koitsu. kata
tersebut digunakan karena persamaan usia yang dimiliki untuk lebih menegaskan bentuk tuturannya tersebut. Karenanya usia penutur dan mitra tutur dalam hal ini sangat penting dalam penggunaan ragam bahasa.
2.1.5.2 Shuujoshi
Shuujoshi 「 終 助 詞 」 adalah partikel akhir Kalimat. Selain itu, pada Shuujoshi (kata akhiran) terdapat akhiran no, noyo, wayo, kana, nee, yone, wayo pada penutur wanita Sedangkan shuujoshi yang sering digunakan oleh penutur pria di antaranya adalah zo, ze dan saa e.
Shuujoshi adalah joshi yang dilekatkan pada fukushi 「 副 詞 」 dan juga menyertai kata atau kata benda dan atau kata yang berpredikat yang berdiri pada predikat serta menambahkan jenis-jenis perasaan. Shuujoshi menunjukkan arti suatu masalah dan atau sindiran dan atau persetujuan dan atau permohonan dan atau perintah dan atau rasa haru, dan lain-lain.
Partikel yang termasuk shuujoshi adalah ka, kashira, zo, ze, wa, ya, as, tomo, na, ne (か、かしら、ぞ、ぜ、わ、や、さ、とも、な、ね) dan lain-lain pada bahasa lisan. Kemudian ka, ya, zo, mo, wa, so, na, na, ga, namu, yo, kashi, wo (か、や、ぞ、も、は、そ、な、ね、が、なむ、よ、かし、を)、
dan lain-lain pada bahasa tulisan. Shuujoshi dipakai pada akhir kalimat atau pada akhir bagian kalimat (bunsetsu) untuk menyatakan perasaan pembicara seperti rasa haru, larangan, dan sebagainya (Tadasu, 1989:143-144).
Shuujoshi adalah partikel-partikel yang dipakai pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan pertanyaan, rasa heran, keragu-raguan, harapan, atau rasa haru
Sudjianto, 1978:29). Partikel pada akhir kalimat tertentu hanya mutlak dipakai oleh laki-laki (contohnya dalam penggunaan shuujoshi ~yo, ~sa, ~ze, ~zo) dan mutlak dipakai oleh perempuan (contohnya dalam penggunaan shuujoshi ~ne,
~kashira, ~wa). Shuujoshi digunakan dalam suatu percakapan dengan dilihat tentang bagaimana keadaan perasaan pembicara kepada lawan bicara dan tingkah laku pembicara sebagaimana kemaskulinan dan kefeminimannya.
Tabel 2.2. Contoh Perbedaan Danseigo dan Joseigo Takao (pria) dan Hiroko (wanita)
Kyoo wa ii tenki desu ne.
Ragam
Bahasa Takao (Pria)
Ragam Bahasa Hiroko (Wanita) Kyoo wa ii tenki da ne. Kyoo wa ii tenki desu wa ne.
Kyoo wa ii tenki da yo ne. Kyoo wa ii tenki desu no ne.
Kyoo wa ii tenki da na. Kyoo wa ii tenki da wa ne.
„hari ini cuaca bagus ya‟
Kyoo wa ii tenki ne.
„hari ini cuaca bagus ya‟
Otoko kotoba onna kotoba kihonteki gaido (Motohashi, 1986 : 13)
Dari tabel 2.2 terlihat shuujoshi sebagai penanda ragam bahasa pria.
Shuujoshi yang digunakan oleh Takao sebagai penutur pria yaitu da ne, da yone dan da na. Berbeda dengan Hiroko penutur wanita yang menggunakan shuujoshi desu wa ne, desu no ne, da wa ne dan ne. Dengan demikian melalui Shuujoshi yang digunakan pada kalimat percakapan dalam komik, pengidentifikasian ragam bahasa pria akan lebih mudah dilakukan dalam penelitian ini.
2.1.5.3 Interjeksi (Kandoushi)
Interjeksi (kandoushi) adalah jenis kata yang muncul akibat suatu situasi dari perasaan penutur atau akibat jawaban dari lawan tutur, berupa sebuah kata (Prasetya, 2014:41). Interjeksi (kandoushi) adalah bentuk yang tidak dapat diberi
dan dipakai untuk mengungkapkan perasaan; misalnya kata ah dalam bahasa Indonesia (Sudjianto, 2004:109). Dalam bahasa Jepang terdapat ara dan iyaa yang biasanya digunakan oleh wanita. Sedangkan untuk maa, hora, are dapat digunakan oleh penutur pria dan wanita. Kemudian untuk hoo, yai, dan ooi biasanya digunakan oleh penutur pria.
2.1.5.4 Verba (doushi), Nomina (meishi) dan Adjektiva (keiyoushi &
keiyoudoushi)
Verba, nomina dan adjektiva yang menjadi pembeda ragam bahasa pria terdapat pada bentuk-bentuknya yang digunakan dalam ragam bahasa sopan (keigo) dan standar (futsuu). Menurut Tomisaka (1997: 51) bentuk kalimat pada ragam bahasa pria (danseigo) dan ragam bahasa wanita (joseigo) mempunyai perbedaan yaitu bahasa wanita (joseigo) lebih sering menggunakan bentuk nomina dan verba keigo dibanding dengan ragam bahasa pria (danseigo). Keigo digunakan untuk menyatakan rasa hormat pembicara kepada lawan bicara atau orang yang menjadi topik pembicaraan. Menurut Tomisaka (1997: 54) ada tiga faktor yang harus diperhatikan dalam pemakaian keigo, yaitu untuk menunjukkan rasa hormat pembicara yang usia dan status sosialnya lebih rendah kepada orang yang status sosialnya lebih tinggi, menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara waktu pembicara belum akrab dengan lawan bicara, seperti saat pertama kali bertemu dan digunakan dengan memperhatikan hubungan uchi dan soto.
Oleh karena keigo tidak digunakan sebagai penanda ragam bahasa pria, maka pria cenderung menggunakan bentuk-bentuk ragam biasa (futsuukei) dalam berkomunikasi. Bentuk-bentuk futsuukei dapat dilihat dalam bentuk kata kerja,
kata sifat dan kata benda dalam bahasa Jepang. Kata kerja, kata sifat dan kata benda dalam futsuukei dibagi dalam perubahan bentuk negatif, lampau dan negatif lampau. Contohnya sebagai berikut.
1. Verba (doushi)
Doushi adalah kata kerja yang berfungsi menjadi predikat dalam suatu kalimat, mengalami perubahan bentuk (katsuyo) dan bisa berdiri sendiri (Sutedi, 2003:42). Verba dalam bahasa Jepang digolongkan ke dalam tiga kelompok berdasarkan pada bentuk konjugasinya. Dalam perubahan verba ke bentuk keigo ke futsuu, secara sederhana dilakukan dengan mengganti akhiran ~masu menjadi ~u, ~mashita menjadi ~tta dan
~masen menjadi ~nai seperti dicontohkan berikut ini sesuai penggolongan bentuk konjugasinya.
a. Godan-doushi (五段動詞), yaitu kelompok verba mengalami perubahan dalam lima derertan bunyi bahasa jepang yaitu a-i-u-e-o ( あ、
い、う、え、お ), cirinya yaitu verba yang berakhiran (gobi) huruf u-tsu-ru-bu-nu-mu-ku- su-gu-su (う、つ、る、ぶ、ぬ、む、く、す、ぐ、す).
Berikut adalah contoh perubahan verba godan-doushi ke bentuk futsuu.
Tabel 2.3. Perubahan futsuukei godan doushi
Verba teinei Perubahan Futsuukei
Sekarang/
akan datang
Lampau Negatif Negatif Lampau
Aimasu
„berdiri‟ Tatsu Tachimashita
tatta Tachimasen
tatanai Tachimasendeshita
tatanakatta Torimasu
„mengambil‟ Toru Torimashita
totta Torimasen
toranai Torimasendeshita
toranakatta Tobimasu
„terbang‟ Tobu Tobimashita
tonnda Tobimasen
tobanai Tobimasendeshita
tobanakatta Yomimasu
„membaca‟ Yomu Yomimashita
yonda Yomimasen
yomanai Yomimasendeshita
yomanakatta
„mati‟ shinda shinanai shinanakatta Kakimasu
„menulis‟ Kaku Kakimashita
kaita Kakimasen
kakanai Kakimasendeshita
kakanakatta Oyogimasu
„berenang‟ Oyogu Oyogimashita
oyoida Oyogimasen
oyoganai Oyogimasendeshita
oyoganakatta Hanashimasu
„bercerita‟ Hanasu Hanashimashita
hanashita Hanashimasen
hanasanai Hanashimasendeshita
hanasanakatta
b. ichidan- doushi (一段動詞), yaitu verba dengan perubahan hanya pada satu deretan bunyi saja. Ciri utama dari verba ini adalah yang berakhiran suara e-ru disebut kami ichidan doushi atau yang berakhiran i-e-ru disebut shimo ichidan-doushi.
Tabel 2.4. Perubahan futsuukei ichidan doushi
Verba teinei Perubahan Futsuukei
Sekarang/
akan datang
Lampau Negatif Negatif Lampau
mimasu
c. Henkaku doushi (変格動詞), yaitu verba yang perubahannya tidak beraturan. Verba ini terdiri dari suru „melakukan‟ dan kuru „datang.‟
Tabel 2.5. Perubahan futsuukei henkaku doushi
Verba teinei Perubahan Futsuukei
Sekarang/
akan datang
Lampau Negatif Negatif Lampau
Shimasu
„melakukan‟ suru shimashita
shita shimasen
2. Adjektiva (keiyoushi & keiyoudoushi)
Adjektiva adalah kata-kata yang mengutarakan perasaan, keadaan, sifat sesuatu yang berkaitan dengan orang, benda atau suatu hal. Dalam bahasa Jepang terdapat dua jenis Adjektiva, yaitu adjektiva dengan akhiran
dengan keiyoudoushi. Secara morfologis adjektiva-na berbeda dengan adjektiva-i ketika ia berfungsi sebagai rentaikei „prenomina‟ seperti contoh berikut genki na hito „orang yang sehat‟, rippa na yama „ gunung yang megah‟. Sedangkan dalam bentuk shuushikei „bentuk akhir‟ diikuti kopula da, desu, atau de gozaimasu. (Dahidi, 2012)
Tabel 2.6. Perubahan futsuukei keiyoushi dan keiyoudoushi Keiyoushi
Teineikei futsuukei
Ookii desu „besar‟ Ookii
Negatif Lampau Negatif lampau Negatif Lampau Negatif lampau
Ookikunai desu
Ookikatta desu Ookikunakatta desu Ookikunai Ookik atta
Ookikunakatt a
Keiyoudoushi
Teineikei futsuukei
kirei desu „cantik‟ Kirei da
Negatif Lampau Negatif lampau Negatif Lampau Negatif lampau
Kirei iya dirasakan, atau dilihat dengan jelas/nyata seperti kata-kata heiwa
„kedamaian‟, kekkon „pernikahan‟, nyuugaku „matrikulasi‟, kangae
„pemikiran‟, dan sebagainya. (Dahidi, 2012:6)
Tabel 2.7. Perubahan futsuukei meishi
Teineikei futsuukei
Ame desu „hujan‟ Ame da
Negatif Lampau Negatif lampau Negatif Lampau Negatif lampau
Ame jya Ame deshita Ame jya Ame Ame Ame
arimasen arimasendeshita jyanai datta jyanakatta Sumber : Minna no nihongo (2008:166) Selanjutnya ragam bahasa pria berbeda dengan bentuk-bentuk leksikal ragam bahasa wanita yang dibentuk dengan cara menambahkan kata o atau go di depan kata benda, kata sifat, dan kata keterangan bentuk sonkeigo. Ragam bahasa pria tidak menggunakan awalan o atau go.
Contoh kata yang berawalan o sebagai berikut:
(K. benda) okuni kuni „negara‟
onamae namae „nama‟,
osushi sushi „sushi (makanan Jepang)‟
(K. sifat –na) ogenki genki „sehat‟, ojouzu jouzu „pintar‟, ohima hima „senggang‟
(K. sifat –i) oisogashii isogashii „sibuk‟, owakai wakai „muda‟
Contoh kata yang berawalan go:
(K. benda) gokazoku kazoku „keluarga‟, goiken iken „pendapat‟, goryokou ryokou „perjalanan‟
(K. sifat –na) gonesshin nesshin „tekun‟,
Goshinsetsu shinsetsu „ramah‟, (K. keterangan) gojiyuu ni jiyuu ni „bebas‟
Melalui uraian di atas, dipahami perbedaan bentuk ragam bahasa hormat dengan ragam bahasa biasa dalam bahasa Jepang. Sehingga dapat dipahami bentuk ragam bahasa pria Jepang (danseigo) yang dapat dibedakan melalui pengggunaan ragam bahasa biasa (futsuu).