• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS ANALISIS

B. Bentuk Resistensi GSBI Dalam Sistem Outsourcing

dikeluarkan pemerintah dimana kebijakan ini hanya melihat keuntunga yang akan didapatkan oleh pengusaha atau perusahaan.

mengingatkan kepada perusahaan agar tidak memakai sistem kerja kontrak ini.

Seperti dalam wawancara dengan bung Budi Pranoto sebagai ketua PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Buruh Indonesia. Beliau mengatakan demikian :

“...Kalau hal untuk meolak sistem outsourcing ini, GSBI sudah dari awal menolaknya hal ini terbukti di dalam program kerja GSBI dituliskan untuk menolak diterapkannya kerja kontrak tersebut. Namun, ada 5 hal yang memang bisa dikontrakan ya seperti cleaning service, supir, security sama satu lagi catering. Kalau ini kita tidak mungkin mengangkangi perusahaan untuk tidak memakai buruh kontrak kerena kan ini tidak langsung berkaitan dengan produksi jadi boleh-boleh saja...”63

Dari wawancara ini bentuk perlawanan atas penolakan GSBI telah ada sejak berdirinya serikat buruh tersebut. Hal ini terbukti telah diaturnya di dalam program perjuangan lapangan GSBI di bidang politik pada butir keenam yang menyatakan menuntut kepastian kerja dan menolak serta menuntut dihapuskannya system kerja kontrak jangka pendek (PKWT) dan outsourcing.64

“...Kita kemaren itu seiring berjalannya waktu kita juga dalam memperjuangkannya ya kita ajak dulu dengan sistem komunukasi yang Sebagai serikat buruh yang sudah sah di Kemetrian Ketenagakerjaan, Gabunga Serikat Buruh Indonesia tidak hanya terpaku dalam tulisan di kertas yang menyatakan perlawanan terhadap sistem outsourcing. Namun, aksi yang nyata di lapangan juga harus dilakaukan agar tamapk bahwa GSBI benar-banar melakukan penolakan. Dalam wawancara dengan bung Eben sebagai Tim Advokasi GSBI,beliau mengatakan demikian :

63 Wawancara dengan Budi Pranoto (ketua PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Buruh Indonesia) Medan, pada 15 Mei 2017.

64 Dikutip dari program perjuangan di lapangan politik GSBI.

baik, namun setelah adanya delegasi yang masuk untuk membicarakan masalah ini toh juga pihak perusahaan tidak menghiraukan, nah ini kita adakan perlawanan seperti berdemo hingga mogok kerja. Nah disini piahak perusahaan harus berpikir karena yang dipekerjakan itu memang layak dijadiakan buruh tetap atau karyawan tetap di PT.DAMAI ABADI...”65

65

Perlawanan kaum buruh terhadap perusahaan dalam permasalahan sistem kerja kontrakdilakuakan dengan aksi mogok kerja yang ditujukan agar perusahaan memikirkan kembali memakai sistem kerjakontrak dan menjadikan buruh kontrak menjadi buruh tetap atau permanen.

Sebagai pihak yang menentang sistem outsourcing ini, GSBI merasa bahwa harus melakukan aksi-aksi yang dapat membuat pihak perusahaan berpikir ulang untuk menerapkan sistem outsourcing. Beberapa aksi seperti demonstrasi hingga mogok kerja adalah bentuk dari resistensi pihak buruh sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh James Scoot tentang bentuk-bentuk dari resitensi adalah salah satunya resistensi terbuka yang merupakan bentuk resistensi yang terorganisasi, sistematis dan berprinsip. Manifestasi yang digunakan dalam resistensi adalah cara-cara kekerasan (violent) seperti pemberontakan. Dalam melakukan aksi demonstrasi dan mogok kerja dapat dipastikan adanya pihak-pihak yang mengatur semuanya dengan sistematis dan mengorganisasikan setiap demonstrasi agar sesuai dengan tujuan utamanya yaitu mrngingatkan kepada perusahaan bahwa sistem outsourcing merugikan kaum buruh.

Aksi-aksi penolakan GSBI dilapangan sudah dilakukan dengan alasan adanya kerugian yang ditimbulkan sitem kontrak ini dan adanya keinginan perusahaan untuk memanfaatkan buruh murah agar mendapatkan keuntungan yang banyak. Dalam wawancara dengan bung M.Faisal Nasution ( Sekretaris PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Buruh Indonesia) beliau mengatakan demikian :

“...Kalau kita dan perusahaan tidak mendapatkan kata sepakat, kami ujung-ujungnya ya melakukan aksi. Pokoknya kitaharus ikuti dulu jalurnya, kan gak mungkin gitu ada masalah langsung aksi. Pertama kita jumpai personalianya, kita omongkan. Tapi nampaknya belum pernah sekalipun kita bicara atau komunikasi langsung bisa deal...”66

Pergerakan-pergerakan atas perlakuan sistem kerja kontrak yang diterima para kaum buruh kontrak seperti melakukan mogok kerja hingga adanya demonstrasi terhadap pihak perusahaan menjadaikan resistensi ini dapat di kategorikan ke dalam bentuk resistensi semi terbuka. Resistensi semi terbuka yang dimaksud oleh James Scoot adalah seperti protes sosial dan demontrasi mengajukan klaim kepada pihak yang berwenang. Bentuk resistensi ini diwujudkan untuk menghindari kerugian yang lebih besar yang dapat menimpa dirinya.67

Dalam melakukan perlawanan oleh GSBI terhadap pihak perusahaan untuk menuntuk penghapusan sistem kerja kontrak/outsourcing, cara yang dilakukan oleh GSBI cukup baik dengan selalu mengikuti aturan yang ada dengan

66 Wawancara dengan M.Faisal Nasution (Sekretaris PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Buruh Indonesia) Medan, 15 Mei 2017.

67 Bayu Febrianto, Faktor Resistensi Buruh Terhadap Sistem outsourcing, Jurnal Program Studi Psikologi, Universitas Brawijaya Malang.

duduk bersama pihak perusahaan membahas semua kemungkinan yang bisa terjadi. Ketika usaha yang dilakukan oleh pihak GSBI untuk membujuk pihak perusahaan agar tidak menerapkan sistem kerja konrak ini, maka dilakukan langkah selanjutnya dengan cara bersama-sama dalam suatu demonstrasi. Sebauh aksi demonstrasi adalah suatu yang cukup wajar dikarenakan belum tercapainya harapan dari pihak yang merasa dirugikan dalam hal ini adalah pihak buruh di dalam serikat GSBI. Seperti wawancara dengan bung Budi Pranoto sebagai Ketua PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Indonesia, beliau mengatakan demikian :

“...Ya kita sebagai pengurus harian init tidak bosan-bosanlah untuk mengajak para anggota itu supaya mengadakan pendidikan dasar tentang apa itu buruh dan apa itu pengusaha dan memahami AD/ART GSBI sendiri supaya anggota itu paham apa arti perjuangan kaum buruh itu tadi. Dipendidikan dasar ini diberitahu hak-hak buruh itu apa, kewajiban buruh itu apa terutama apa itu outsourcing dan kerugian yang dihasilkan...”68

68 Wawancara dengan Budi Pranoto (Ketua PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Buruh Indonesia) Medan, 15 Mei 2017.

Sebagai bentuk dari penolakan GSBI terhadap sistem kerja kontrak ini juga dilakukan bukan hanya dilapangan. Namun penolakan yang sangat mendasar dilaksanakan dengan memberi pendidikan dasar kepada setiap anggota yang tergabung dalam serikat buruh GSBI. Ini termasuk cara yang paling baik karena memberi pengetahuan mendasar agar niat yang kuat tertanam di benak seluruh anggota GSBI untuk menolak outsourcing, dimana cara persuasif ini dapat mempengaruhi semua perilaku anggota GSBI sendiri.

Semua penolakan oleh pihak GSBI dilakukan hanya pada pihak perusahaan yaitu pihak PT.DAMAI ABADI yang menerapkan sistem kerja kontrak ini. Perlawanan kepada pihak pemerintah belum sampai dilakukan karena walaupun pemerintah yang mengeluarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan namun yang melaksanakannya adalah pihak perusahaan. Kedua pihak ini terikat dalam suatu hubungan kerja, hal ini terjadi setelah adanya perjanjian kerja antara buruh dan majikan taitu suatu perjanjian dimana pihak kesatu,buruh, mengikatkan diri utuk bekerja dengan menerimaupah pada pihak lainnya. Majikan yang mengikatkan diri untuk mempekerjakan buruh itu dengan membayar upah pada pihak lainnya. Seperi dalam wawancara dengan M.Faisal Naution sebagai sekretaris PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Buruh Indonesia. Beliau mengatakan demikian :

“... kalau berhadapan langsung dengan pihak pemerintahan terutama dengan dinas ketenagakerjaan kita gak sampai kesanalah aksinya cukup di perusahaan aja...”69

Dari setiap perlawanan yang dilakukan oleh GSBI akan selalu menerima suatu timbal balik yang diharapkan atau tidak diharapkan. Resiko yang harus diterima memang sudah dipikirkan terlebih dahulu sebagai aksi yang dilakukan.

Pihak perusahaan adalah pihakyang paling punya hak untuk memberikanya karena telah adanya hubungan kerja atau kontrak kerja yang dilkukan sebelumnya dengan sebuah perjanjian tertulis. Seperti dalam wawancara dengan bung Eben

69 Wawancara dengan M.Faisal Nasution (sekretaris PTP.DAMAI ABADI Gabungan Serikat Buruh Indonesia) Medan,15 Mei 2017.

sebagai Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Indonesia. Beliau mengatakan demikian :

“...kalau menurut sejarahnya berdiri GSBI dulu ya ketua pertama sendiri lah yang mengalami PHK,waktu itu masih bung Ridwan, jadi ketika itu dengan hanya masalah sepele dengan menyebarkan selebaran bahwa GSBI telah disahkan oleh dinas ketenagakerjaan...”70

Hampir setiap individu dapat dikatakan memiliki hubungan dengan perorangan atau lembaga. Hubungan kerja termasuk adalah hal yang harus ada antara perusahaan dan pekerja/buruh untuk mengikat kedua belah pihak dengan tertulis. Tujuan hubungan ini termasuk didalamnya adalah untuk meningkatkan suatu produksi. Namun ketika adanya permasalahan yang terjadi antara kedua pihak maka harus diselesaikan sesuai dengan apa yang telah disepakati. Ketika perusahaan melakukan kesalahan maka pihak buruh dapat menuntut hak-haknya tetapi ketika buruhyang melakukan kesalahan dan dianggap mengganggu jalannya perusahaan maka sanksi PHK adalah sebuah kewajaran. Hal ini telah terjadi

Dari semua perlawanan yang di lakukan GSBI untuk menolak diterapkannya sistem outsourcing dapat disimpulkan bahwa pihak buruh telah berangsung-angsur mengalami kerugian besar dalam pengalamannya bekerja di suatu pabrik atau perusahaan. Seperti yang di jelaskan oleh James Scoot bahwa ada beberapa alasan mengapa seseorang atau kelompok melakukan tindakan perlawanan/resistensi yaitu karena terdiri dari peristiwa lokal dan kondisi perasaan serta pengalaman dari masing-masing individu.

70

kepada ketua pertama GSBI yang mengalami pemecatan akibat dari timbulnya anggapan perusahaan akan adanya sebuah perlawanan yang akan selalu dilakukan yaitu telah terlahirnya serikat buruh yang sah dimana serikat buruh ini memiliki tujuan untuk melakuakan sebuah perlawanan dengan mengatasnamakan serikat buruh yang sah di mata hukum.