Argumen ini menjawab pertanyaan dari zaman dahulu: Mengapa ada sesuatu daripada tidak sama sekali—saat ini? Dengan kata lain, apa yang menyebabkan alam semesta ada saat ini? Argumennya dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Cara klasiknya adalah:20
(1) Setiap makhluk yang bergantung (dependen) memiliki sebab saat ini.
(2) Seluruh alam semesta fisik bergantung (dependen) saat ini.
(3) Oleh karena itu, seluruh alam semesta fisik memiliki sebuah Sebab saat ini.
Premis pertama adalah bentuk lain dari prinsip kausalitas. Sebab apa pun yang bergantung (dependen) tidak menyebabkan keberadaannya sendiri. Mengapa? Karena ia bergantung dalam keberadaannya, dan apa pun yang bergantung dalam keberadaannya bergantung pada hal yang lain untuk keberadaannya. Dengan kata lain, apa pun yang bergantung dalam keberadaannya bisa jadi tidak ada. Artinya, ia memiliki potensi untuk tidak ada. Namun, apa pun yang ada, tetapi bisa jadi tidak ada, tidak menjelaskan mengapa ia ada daripada tidak ada. Akan tetapi seluruh alam semesta mungkin bisa saja tidak ada.
Ketidakberadaanya mungkin terjadi.21 Oleh karena itu, seluruh alam semesta membutuhkan sebab untuk keberadaannya—saat ini. Akan tetapi, penyebab sebuah makhluk yang bergantung tidak mungkin sebuah makhluk yang bergantung lainnya, karena ia juga akan membutuhkan sebuah sebab. Oleh karena itu, Penyebab seluruh dunia yang bergantung haruslah makhluk yang tidak bergantung, yaitu Pribadi yang Diperlukan (a Necessary Being) (Allah).
Cara lain untuk mengajukan argumen ini dipandang dari segi bagian-bagian dan keseluruhannya:
(1) Setiap bagian dari alam semesta membutuhkan sebuah sebab.
(2) Bagian yang utuh adalah jumlah dari seluruh bagiannya.
20 . Lihat Thomas Aquinas, Summa Theologica 1.2.3 (“Third Way”).
21 . Yakni, tidak ada yang bertentangan tentang tidak adanya segala sesuatu. Keadaan kehampaan total adalah sebuah keadaan yang memungkinkan.
30
(3) Oleh karena itu, seluruh alam semesta membutuhkan sebuah Penyebab (Allah).
Tidak ada bagian dari alam sesmesta yang menopang dirinya sendiri. Setiap bagian bergantung pada sesuatu yang lain untuk keberadaannya. Tidak ada bagian yang tidak disebabkan, tidak peduli apa yang dimaksud dengan "bagian" itu (molekul, atom, energi fisik, atau apa pun). Setiap bagian dari alam semesta bergantung pada sesuatu yang melampauinya untuk keberadaannya. Dalam istilah yang lebih ilmiah, tidak ada bagian yang terdiri dari energi tanpa batas, energi yang tidak berkurang. Menurut Hukum Kedua Termodinamika (di atas), semua materi di alam semesta mulai kehabisan energi yang bisa digunakan. Jadi, setiap bagian dari alam semesta tergantung atau disebabkan. Akan tetapi bagian yang utuh setara dengan jumlah seluruh bagiannya. Oleh karena itu, jika setiap bagian disebabkan, maka seluruh alam semesta juga disebabkan.
Para oposisi kadang menentang hal ini sebagai fallacy of composition, yang berpendapat bahwa keseluruhan tidak selalu memiliki karakteristik yang sama dengan bagian-bagiannya. Misalnya, sebuah persegi dapat dibuat dari dua segitiga. Setiap bagian adalah segitiga, dan keseluruhannya adalah sebuah persegi.
Menanggapi hal ini, para teis menunjukkan bahwa jika kedua bagian adalah bangun geometri, maka pada dasarnya keseluruhannya adalah bangun geometri. Dan jika setiap ubin di lantai berwarna coklat, maka seluruh lantai berwarna coklat. Tidak esensial, tetapi merupakan sebuah kebetulan, bahwa menambahkan segitiga-segitiga tidak selalu membentuk sebuah segitiga. Akan tetapi, penting bagi sifat sebuah bagian yang bergantung bahwa menambahkan seluruh tumpukan mereka tidak sama dengan Pribadi yang Diperlukan (a Necessary Being). Tidak peduli berapa banyak bagian yang bergantung yang ada di keseluruhan, jumlah keseluruhannya masih bergantung.
Salah satu cara untuk memahami ini adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: jika semua bagian alam semesta diambil, apakah akan ada yang tersisa? Jika tidak, maka seluruh alam semesta sama dengan jumlah semua bagiannya dan, karena itu, seluruh alam semesta disebabkan. Jika mereka berkata, ya ada sesuatu yang tersisa ketika semua bagian hilang, maka sesuatu itu pasti lebih dari alam semesta yang bergantung, temporal, atau alam semesta yang disebabkan. Hal itu haruslah sebuah Pribadi yang transenden, diperlukan, abadi, dan tidak disebabkan, yang menjadi sandaran setiap bagian dari alam semesta untuk keberadaannya! Akan tetapi, inilah yang dimaksud oleh para teis dengan "Allah" yang teistik.
Jadi, bagaimanapun juga (apakah bagian-bagiannya sama dengan keseluruhan atau tidak),
31
setiap bagian di alam semesta membutuhkan penyebab (Allah) dan demikian pula seluruh alam semesta.
Beberapa teis telah mengajukan argumen singkat lain tentang Allah. Bunyinya:
(1) Sesuatu ada (mis., saya ada).
(2) Akan tetapi, ketiadaan tidak dapat menyebabkan sesuatu.
(3) Oleh karena itu, ada Pribadi yang abadi dan diperlukan (Allah).
Pribadi itu pasti abadi karena jika ketiadaan pernah ada, maka akan selalu ada ketiadaan karena ketiadaan tidak bisa menyebabkan sesuatu. Pribadi itu haruslah diperlukan karena semua makhluk tidak mungkin bergantung (dependen). Harus ada Pribadi yang diperlukan di mana mereka bergantung untuk keberadaan mereka. Oleh sebab itu, karena tidak dapat disangkal bahwa saya ada, maka harus ada Pribadi kekal yang diperlukan sebagai dasar untuk keberadaan saya (dan apa pun yang mungkin ada).22
ARGUMEN-ARGUMEN TELEOLOGIS UNTUK KEBERADAAN ALLAH
Kata Yunani "telos" berarti akhir, tujuan, atau desain. Penalaran dari desain disebut Argumen Teleologis untuk Allah. Argumen ini memiliki banyak bentuk, tetapi bukti ilmiah terbaru berasal dari dua sumber utama.
PRINSIP ANTROPIK
Salah satu penemuan ilmiah terpenting di zaman modern adalah Prinsip Antropik (Dari kata Yunani anthropos, yang berarti manusia). Menurut prinsip ini, sejak permulaan, alam semesta telah disesuaikan dengan baik untuk kemunculan kehidupan manusia.23 Ada lebih dari seratus faktor24 yang harus berada dalam keseimbangan sempurna agar kehidupan manusia dapat terjadi. Contoh dari faktor-faktor tersebut adalah:
22 . Beberapa orang telah mengemukakan sebuah isu, mengklaim bahwa argumen ini tidak menyanggah panteisme. Singkatnya, hal itu hanya membuktikan bahwa saya ada dan sebuah Pribadi kekal yang diperlukan ada. Mungkin saya adalah Allah. "Lubang" ini dapat disumbat secara cepat dengan menunjukkan bahwa (1) saya berubah, (2) Allah tidak berubah, dan (3) oleh karena itu, saya bukan Allah. Seorang panteis mengakui bahwa ia berubah karena ia tidak selalu berpikir aku adalah Allah. [Apakah Anda ingin mengatakan "aku"?]
Akan tetapi, Allah selalu berpikir bahwa Ia adalah Allah. Oleh karena itu, panteis bukan Allah.
23 . Lihat J.D. Barrow, The Anthropic Cosmological Principle, untuk deskripsi yang paling detail.
24 . Lihat Hugh Ross, The Creator and the Cosmos, 111—121. Bukti ini telah disatukan dengan indah dalam buku (dan DVD) berjudul The Privileged Planet oleh Guillermo Gonzalez. Jumlah fitur desain di planet kita,
32
21% oksigen di udara pas untuk kehidupan (bila terlalu banyak kita akan terbakar, dan bila terlalu sedikit kita akan mati lemas);
matahari terletak pada jarak yang tepat dari bumi (bila terlalu dekat kita akan terbakar, dan bila terlalu jauh kita akan membeku);
kemiringan bumi tepat untuk kehidupan (jika tidak maka akan menjadi terlalu dingin di malam hari dan terlalu panas di siang hari);
gaya gravitasi tepat untuk memungkinkan pergerakan (tetapi dapat mencegah kita terbang ke luar angkasa);
posisi Yupiter tepat untuk melindungi bumi dari benda-benda kosmis yang dapat menghancurkan kita;
gaya nuklir yang tepat untuk menyatukan atom-atom
Astronom Robert Jastrow menyimpulkan situasi ini dengan baik ketika ia menulis,
"Prinsip antropik adalah hal yang paling menarik di samping bukti penciptaan, dan bahkan lebih menarik karena prinsip ini tampaknya mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri telah membuktikan, sebagai fakta yang tak dapat dipungkiri, bahwa alam semesta ini dibuat, dirancang, agar manusia dapat hidup di dalamnya. Ini adalah hasil yang sangat teistik.”25
Mengapa ini adalah hasil yang teistik? Karena itu menunjuk pada Allah yang teistik melampaui seluruh alam semesta yang merencanakan kemunculan kehidupan manusia sebelum terjadinya alam semesta dan mengaturnya sedemikian rupa sejak awal untuk memungkinkan kehidupan manusia. Bentuk argumennya dapat dipaparkan sebagai berikut:
(1) Perencanaan yang canggih adalah tanda sebuah penyebab yang cerdas.
(2) Seluruh alam semesta menunjukkan bukti perencanaan yang canggih.
(3) Oleh karena itu, seluruh alam semesta dirancang oleh Penyebab yang Cerdas (Allah).26
Ketika merenungkan sifat hukum fisika alam semesta saja, Albert Einstein yang agung berkata, "Keharmonisan hukum alam ... mengungkapkan kecerdasan yang begitu tata surya, galaksi, dan alam semesta terlalu banyak untuk dibuatkan daftarnya. Sebuah upaya menakjubkan dilakukan pada tahun 2009 untuk mendaftar lebih dari seribu di antaranya di http://reasons.org/fine-tuning.
25 . Robert Jastrow, “A Scientist Caught between Two Faiths: An Interview with Robert Jastrow,” di Christianity Today 26 (13):15 (1982).
26 . Ateis terkadang menanggapi prinsip antropik dengan berargumen: fakta bahwa alam semesta ada di sini adalah bukti bahwa itu terjadi begitu saja, kalau tidak, ia tidak akan ada di sini. Akan tetapi, ini seperti berargumen bahwa sebuah lukisan tidak perlu seorang pelukis karena itu tidak akan terlihat seperti sebuah lukisan jika semua warna dan pigmen tidak terjadi begitu saja.
33
superior sehingga, jika dibandingkan dengan hal itu, semua pemikiran dan tindakan sistematis manusia adalah refleksi yang sama sekali tidak signifikan.”27 Demikian juga, mantan ateis dan astronom Alan Sandage berkata, "Seperti yang saya katakan sebelumnya, dunia ini terlalu rumit di semua bagiannya untuk dapat terjadi secara kebetulan saja. Saya yakin bahwa keberadaan kehidupan dengan segala keteraturannya di masing-masing organisme disatukan dengan sangat baik… Semakin seseorang mempelajari biokimia, semakin tidak dapat dipercaya hal itu bisa terjadi kecuali jika ada semacam prinsip pengorganisasian—seorangarsitek untuk orang percaya…”28
Ilmuwan Michael Behe merangkum buktinya dengan baik. Apa yang kita miliki adalah "sebuah planet di wilayah yang tepat dari sistem tata surya, di wilayah yang tepat dari galaksi, di alam semesta dengan segala jenis hukum yang tepat untuk menghasilkan bahan kimia dengan jenis sifat yang tepat—Ini semua diperperlukan untuk kehidupan, tetapi masih sangat jauh dari cukup. Planet itu sendiri harus tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dengan air yang cukup tetapi tidak terlalu banyak, jenis mineral yang tepat di tempat yang tepat…Semuanya sangat penting. Jika salah satu dari mereka hilang, kehidupan yang cerdas akan terhalang.”29 Akan tetapi, pengaturan awal yang kritis dari begitu banyak bagian yang semuanya berkonspirasi bersama untuk mencapai tujuan akhir yang sama selalu merupakan tanda dari rancangan yang cerdas (intelligent design). Kita tidak pernah melihat hukum alam melakukan hal semacam itu.