• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN POKOK PERUSAHAAN

20. Benturan Kepentingan (Conflict of Interest)

Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) didefinisikan sebagai situasi atau kondisi dimana Insan Jasa Marga yang karena jabatan/posisinya, memiliki kewenangan yang berpotensi dapat disalahgunakan baik sengaja maupun tidak sengaja untuk kepentingan lain sehingga dapat mempengaruhi kualitas keputusannya serta kinerja hasil keputusan tersebut bagi Perusahaan. Insan Jasa Marga yang dirinya berpotensi dan atau telah berada dalam situasi Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) dilarang untuk meneruskan kegiatan/melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang terkait dengan situasi tersebut. Untuk selanjutnya yang bersangkutan dapat mengundurkan diri dari tugas yang berpotensi terdapat Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) tersebut atau memutuskan untuk tidak terlibat dalam proses pengambilan Keputusan terkait dengan kegiatan yang terdapat Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) sebagaimana dimaksud, kecuali apabila dengan pertimbangan tertentu yang semata-mata untuk kepentingan Perusahaan, maka Direksi dapat meminta yang bersangkutan untuk tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam kegiatan tersebut.

Untuk menghindari terjadinya Benturan Kepentingan (Conflict of Interest), maka:

a. Pemegang Saham tidak diperkenankan mencampuri kegiatan operasional Perusahaan yang menjadi tanggungjawab Direksi sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perusahaan dan peraturan yang berlaku.

b. Para anggota Dewan Komisaris dilarang memangku rangkap jabatan sebagai:

1) Anggota Direksi pada Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Miilik Daerah/Badan Usaha Milik Swasta;

2) Pengurus partai politik dan atau calon/ anggota legislatif; dan atau 3) Jabatan lain yang dapat menimbulkan Benturan Kepentingan (Conflict of

Interest).

c. Anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi harus mengungkapkan kepemilikan saham di Perusahaan atau di perusahaan lain dalam daftar khusus sebagaimana dipersyaratkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

d. Para anggota Direksi Perusahaan dilarang memangku jabatan rangkap sebagai:

1) Anggota Direksi pada Badan Usaha Milik Negara lainnya/Badan Usaha Milik Daerah/dan Badan Usaha Milik Swasta;

2) Jabatan Struktural dan fungsional lainnya dalam instansi/lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah;

3) Pengurus partai politik dan atau calon / anggota legistatif;

4) Jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan

Perundang- Perundangan; dan atau

5) Jabatan lainnya yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.

e. Direksi dilarang melakukan transaksi yang mempunyai Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) dan mengambil keuntungan pribadi dari kegiatan Perusahaan selain gaji dan fasilitas sebagai anggota Direksi, yang ditentukan oleh RUPS.

f. Direksi dalam melaksanakan pengadaan barang dan jasa menganut prinsip-prinsip kompetisi dan transparansi serta mengutamakan asas manfaat bagi Perusahaan.

g. Setiap individu Insan Jasa Marga dilarang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi atau untuk kepentingan orang lain atau pihak lain yang merugikan kepentingan Perusahaan.

h. Setiap individu Insan Jasa Marga dilarang menggunakan informasi penting dan rahasia bagi kepentingan pribadi atau untuk kepentingan orang lain atau pihak lain yang merugikan kepentingan Perusahaan.

i. Setiap individu Insan Jasa Marga sebaiknya menghindari kepentingan ekonomi dalam Perusahaan yang dapat menimbulkan benturan kepentingan ekonomi.

Pengaturan mengenai Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) diatur lebih lanjut dalam Kebijakan Benturan Kepentingan (Conflict of Interest) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari COCG ini.

21. Gratifikasi

Gratifikasi adalah kegiatan pemberian dan atau penerimaan Hadiah/ Cinderamata dan Hiburan, baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri, dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Apabila mencermati pengertian Gratifikasi tersebut di atas, maka pada dasarnya, pengertian Gratifikasi adalah bersifat netral, artinya tidak ada makna negatif dan tercela dalam kata Gratifikasi. Namun suatu Gratifikasi juga dapat menjadi tindak pidana suap/Gratifikasi ilegal yang merupakan salah satu tindakan Korupsi yang dapat memberikan dampak hukum bagi pemberi maupun penerima, sekaligus pencitraan negatif bagi Perusahaan.

Suatu Gratifikasi akan berubah menjadi tindak pidana suap/Gratifikasi ilegal apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

a. Gratifikasi tersebut berhubungan dengan wewenang/jabatan Insan Jasa Marga di Perusahaan, sehingga dapat menimbulkan benturan kepentingan yang mempengaruhi independensi, objektivitas, maupun profesionalisme Insan Jasa Marga.

b. Gratifikasi tersebut tidak dilaporkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak tanggal penerimaan Gratifikasi.

Prinsip Dasar Penanganan Gratifikasi : a. Penolakan Gratifikasi

Insan Jasa Marga apabila ditawarkan/diberikan Gratifikasi yang tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pedoman ini, wajib MELAKUKAN

PENOLAKAN dengan cara santun terhadap tawaran/pemberian dimaksud,

dengan memberikan penjelasan terhadap kebijakan dan aturan ini kepada pihak pemberi. WAJIB MELAPORKAN Penolakan tersebut kepada Unit Pengendalian Gratifikasi Perusahaan atau langsung kepada Komisi Pemberantasan Korupsi

Insan Jasa Marga yang bersangkutan juga dapat meminta kepada Unit Pengendali Gratifikasi untuk membantu menjelaskan mengenai Pedoman ini sebagai bentuk sosialisasi kepada pihak yang menawarkan/ memberikan Gratifikasi.

b. Pemberian Gratifikasi

Semua Insan Jasa Marga DILARANG baik secara langsung atau tidak langsung menjanjikan memberi dan/atau memberikan Gratifikasi kepada setiap pihak yang memiliki hubungan bisnis atau pesaing Jasa Marga yang bertujuan untuk mendapatkan informasi, atau sesuatu hal yang tidak dibenarkan oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku, atau untuk mempengaruhi pihak dimaksud untuk melakukan dan/atau tidak melakukan suatu hal berkaitan dengan kedudukan/jabatannya.

c. Penerimaan Gratifikasi

Semua Insan Jasa Marga yang karena jabatannya dan/atau anggota keluarganya (keluarga inti), DILARANG untuk menerima atau meminta baik secara langsung atau tidak langsung Gratifikasi dari setiap pihak yang memiliki hubungan bisnis atau pesaing Jasa Marga, yang bertujuan untuk

mendapatkan informasi, atau sesuatu hal yang tidak dibenarkan oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku, atau untuk mempengaruhi Insan Jasa Marga untuk melakukan dan/atau tidak melakukan suatu hal berkaitan dengan kedudukan/jabatannya, serta menerima apapun dari pihak lain yang bersifat menyimpang dari ketentuan peraturan Undang-Undang dan Peraturan Perusahaan yang berlaku.

Dokumen terkait