kekayaan mereka ke bisnis yang mungkin bisa cepat menghasilkan kekayaan yang cepat tetapi yang juga bisa cepat menghasilkan kegagalan total, sedangkan kaum peranakan lebih hati-hati, dan lebih suka bermain aman. Mereka tidak terlalu berani
menginvestasikan seluruh harta mereka ke dalam satu bisnis.”
Berhubungan dengan hidup hemat orang Tionghoa, Andreas Lee
Tan (2008:50) berkata, “Kesederhanaan dan keprihatinan orang
Cina bukan karena mereka tidak mempunyai uang atau tidak bisa berfoya-foya, tapi memang mereka menggunakan uang mereka begitu sangat disiplin dan perhitungan. Orientasi mereka bukan
untuk sesaat tetapi berpikir panjang dan jauh.” Semua nilai-nilai Tionghoa di atas sepertinya telah terkikis dalam kehidupan banyak Tionghoa Benteng. Perilaku pemalas, cepat putus asa, tidak berani mengambil resiko telah menjadi stereotip yang dilekatkan terutama kepada orang-orang Tionghoa Benteng miskin. Gaya hidup boros, misalnya dalam hal pesta kawin, mereka berusaha untuk mengadakan pesta semeriah mungkin, paling tidak selama 2 hari dan 2 malam. Demi mengadakan pesta tidak sedikit yang menjual tanah mereka sebagai modal pesta. Contoh kehidupan boros lain dapat dilihat dari kehadiran para penari Cokek dalam setiap pesta
kawin. Sebagaimana dituliskan dalam majalah Gaharu, Edisi 56,
2008,“Menolak ajakan ngigel (berjoget) berarti menoreh aib ke diri
sendiri, karena dianggap tak mampu memberikan uang saweran pada si penari. Dalam tradisi China menolak ajakan berarti jatuh gengsi. Tarian ini menjadi pemandangan biasa di rumah kawin saat warga keturunan Tionghoa menjalani ritual upacara pernikahan
atau dikenal dengan Chiou Thoau. Tari yang sangat digemari
masyarakat ini dinamakan Cokek. Biasanya acara menari bersama ini berlangsung dua hari dua malam. Di dekat meja-meja para penari Cokek tampak tersedia minuman yang beralkohol jenis Bir…. Biasanya disela-sela istirahat panjang… tidak jarang penari
Cokek di-booking oleh lawan tarinya, meski tidak semuanya bisa
366
Gaya hidup orang-orang Tionghoa Benteng yang
digambarkan majalah Gaharu tersebut sangat bertolak dengan gaya
hidup orang-orang Tionghoa Totok seperti yang digambarkan di
atas. Akulturasi budaya dan asimilasi Tionghoa Benteng dengan budaya dan nilai-nilai lingkungan lokalnya menyebabkan distorsi budaya dan nilai-nilai asli Tionghoa mereka. Kaitan antara dua konsep tersebut membentuk proposisi 41: semakin kuat distorsi budaya, maka semakin kuat pula perubahan gaya hidup.
Kaitan Antara Distorsi Budaya dengan Tingkat Perselingkuhan Salah satu ciri dari adanya kebudayaan kemiskinan menurut seorang ahli teori kebudayaan kemiskinan, Oscar Lewis (1993:11) adalah banyaknya orang miskin yang mengembangkan citra diri
yang jelek. Oscar Lewis (1993:11) berkata, “Mereka yang rendah
tingkat pendapatannya dan menganggur, lebih sering
mengembangkan citra diri yang jelek, tidak bertanggung jawab, menelantarkan istri dan anak-anaknya, dan hidup atau mengadakan hubungan-hubungan gelap dengan wanita-wanita lain, dibanding
dengan mereka yang memiliki pendapatan tinggi dan bekerja tetap.”
Dalam Kisah Lin Wha dalam buku Jalan Berliku Menjadi
Orang Indonesia, Rebeka Harsono (2008:53-53) mengisahkan tentang kehidupan Oey Eng Wha, kakek dari Lin Wha. Konon Eng Wha adalah anak seorang tuan tanah di Tegal Alur. Ia jatuh miskin
karena “hidup dalam gemerlap pesta. Pesta judi dan pesta Cokek, wanita penghibur. Dua pesta itu biasanya berlangsung dalam acara
pernikahan keluarga Cina Benteng.” Sebagaimana dikisahkan oleh
Lin Wha (dalam Harsono, 2008:54), “Harta benda Eng Wha
terkuras karena sering main perempuan. Selama itu ada beberapa perempuan yang hidup bersamanya. Tapi ia mengawini secara resmi seorang Cokek, yaitu Oh Cih. Emak Oh Cih, begitu Lin Wha
367
memanggil…. Dari perkawinan itu Eng Wha memperoleh Sembilan
anak. Kekayaan yang tersisa dibagikan kepada Sembilan anak itu.”
Kaitan antara dua konsep tersebut membentuk proposisi 42: semakin kuat distorsi budaya (budaya kemiskinan), maka semakin tinggi tingkat perselingkuhan.
Kaitan Antara Distorsi Budaya dengan Perjudian
Distorsi budaya dan perjudian memiliki hubungan erat.
Sebagaimana dikatakan oleh Johanes Papu,“Bagi masyarakat dengan
status sosial dan ekonomi yang rendah perjudian seringkali dianggap sebagai suatu sarana untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Tidaklah mengherankan jika pada masa undian SDSB di Indonesia zaman orde baru yang lalu, peminatnya justru lebih banyak dari kalangan masyarakat ekonomi rendah seperti tukang becak, buruh, atau pedagang kaki lima. Dengan modal yang sangat kecil mereka berharap mendapatkan keuntungan yang sebesar- besarnya atau menjadi kaya dalam sekejab tanpa usaha yang besar. Selain itu kondisi sosial masyarakat yang menerima perilaku berjudi juga berperan besar terhadap tumbuhnya perilaku tersebut dalam
komunitas.”15 Johanes Papu juga menjelaskan bahwa “apa yang pernah dipelajari dan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan akan terus tersimpan dalam pikiran seseorang dan sewaktu-waktu ingin diulangi lagi. Inilah yang dalam teori belajar disebut sebagai Reinforcement Theory yang mengatakan bahwa perilaku tertentu akan cenderung diperkuat/diulangi bilamana diikuti oleh
pemberian hadiah/sesuatu yang menyenangkan.”16
Andreas Lee Tan (2008:49-66) mendaftarkan norma dan etika orang Tionghoa, yaitu kesederhanaan, pekerja keras dan
15
http://www.e-psikologi.com, download tanggal 14 April 2011. 16
368
cerdas, fleksibel, tahan banting, berani mengambil resiko, politik dagang, dan tradisi judi. Dengan mengutip sebuah artikel, Andreas
Lee Tan (2008:65-66) menjelaskan bahwa “Konfusius menyatakan
bahwa orang tidak boleh berjudi karena judi buruk secara moral. Tapi pada kesempatan lain Konfusius mengatakan bahwa berjudi masih lebih baik dari pada bermalas-malasan atau tidak melakukan apa-apa. Hal ini merupakan semacam relativitas moral yang
membuat judi menjadi paradoks dalam kehidupan orang Tionghoa.”
Kaitan dua konsep tersebut membentuk proposisi 43: semakin kuat distorsi budaya, maka semakin marak perjudian.
Kaitan Antara Gaya Hidup dengan Kemiskinan
Kisah Eng Wha dalam buku Jalan Berliku Menjadi Orang
Indonesia (Harsono, 2008:53-54) adalah contoh nyata bagaimana gaya hidup boros, misalnya suka pesta pora, menghambur- hamburkan uang atau harta dengan para wanita penghibur dan di meja judi menyebabkan para lelaki ini jatuh miskin. Dalam buku tersebut bukan hanya kisah Eng Wha, kakek Lin Wha atau orang tua papa Lin Wha yang jatuh miskin karena gaya hidup boros itu, namun kakek Lin Wha dari ibunya juga mengalami hal yang sama, bahkan juga suami Lin Wha sendiri.
Sebagaimana dituturkan dalam buku tersebut bahwa mama Lin Wha juga keturunan tuan tanah. Lin Wha (dalam Harsono,
2008:55) mengisahkannya demikian, “Kakek dari mama saya
seorang singkek yang kaya raya. Namanya Tjun Keh Lim. Tapi ia
juga hidup miskin dan sekolahnya terhenti di jalan. Cina Benteng itu suka menghamburkan harta. Ada duit untuk banyakin istri, bukan sebaliknya untuk istri dan (sekolah) anak mereka. Maka sekarang anak-anak Cina Benteng tak bisa sekolah. Banyak berhenti
di jalan karena didera kemiskinan.” Gaya hidup boros, atau