JEJAK ARKEOLOGI S DI PULAU RUPAT, KABUPATEN BENGKALI S, PROVI NSI RI AU
7 4 Melalui berbagai tinggalan arkeologis yang terdapat di wilayah Pulau Rupat diketahui
bahwa telah ada jalinan hubungan dengan masyarakat lain di luar pulau ini dengan membawa pengaruh agama dan budayanya. Indikasi tertua tentang kemungkinan tersebut diketahui melalui fragmen keramik Cina yang secara relatif berasal dari abad ke- 13--14, 15--16 di sekitar bekas rumah Penghulu Muhammad, dari abad ke- 15--16 di tepian pantai belakang Mesjid Al Mujaahidiin, kompleks makam Keramat Batu Panjang, dan Dermaga Batu Panjang. Namun mengingat konteks temuan dengan fragmen keramik lain seperti Cina, Vietnam, Burma, dan Eropa pada abad ke- 17--18, 18--19, dan 19--20 di situs-situs tersebut, maka tidak menutup kemungkinan bahwa keramik lama merupakan salah satu komoditi perdagangan yang dibawa ke daerah tersebut pada masa itu.
Kemudian melalui peninggalan yang mencirikan budaya etnis Cina dengan agama Buddha diketahui melalui makam-makam Cina/Bong. Makam-makam Cina terdapat di Batu Panjang, di belakang rumah-rumah Cina di Kelurahan Kampung Tengah, dan Dusun Simpang Makmur, Desa Makeruh, serta Desa Titi Akar dan Desa Kador. Terdapat perbedaan bentuk bong di Batu Panjang dan Titi Akar. Di Batu Panjang bagian belakangnya berbentuk menggunduk ditutup dengan bata dan semen, sedangkan Titi Akar bagian belakang yang menggunduk dibiarkan terbuka. Bentuk yang terbuka juga dikaitkan dengan Hong Sui, dengan kepercayaan ahli warisnya rejekinya akan lancar. Ciri lainnya adalah bagian depan terdapat nisan dan altarnya. Unsur budaya etnis Cina di Pulau Rupat tidak hanya terlihat pada makam-makamnya, namun juga pada kelenteng sebagai tempat ibadah sekaligus menandai pemukiman masyarakat Cina. Kelenteng yang cukup tua terdapat di Desa Titi Akar, yang didirikan 123 tahun yang lalu (tahun 1883). Sekalipun bentuk bangunannya kini sudah mengalami renovasi, namun kelenteng tersebut mempunyai sejarah pendirian yang cukup lama. Berdasarkan tinggalan arkeologis itu diperkirakan masyarakat Cina telah lama tinggal di Pulau Rupat pada sekitar abad ke-19--20. Masyarakat Cina umumnya menggeluti bidang perdagangan dan pembuatan kapal kayu. Pembuatan kapal-kapal kayu terutama dilakukan oleh masyarakat Cina yang tinggal di daerah pesisir selatan Pulau Rupat. Untuk mendukung bidang usaha itu masyarakat Cina mendirikan permukiman di sekitar pantai. Kondisi tersebut masih dapat dijumpai hingga kini melalui keberadaan rumah-rumah lama masyarakat Cina di sekitar pantai (berdiri sekitar tahun 1920).
75
Jejak Arkeologis Di Pulau Rupat,…..
Catatan historis menyebutkan sejak dibukanya Singapura (abad ke-19) oleh Raffles terjadi gelombang imigran Cina yang diupayakan Inggris untuk dipekerjakan di perusahaan timah dan karet. Tahun 1914 banyak didatangkan orang Cina sebagai kuli kontrak, tetapi juga ada yang datang atas inisiatif sendiri (Rohana, 2000: 182). Kedatangan masyarakat Cina ke pulau Rupat kemungkinan seiring dengan dibukanya Singapura bagi imigran Cina tersebut. Posisi Pulau Rupat yang berhadapan dengan perairan selat Malaka merupakan salah satu faktor pendukungnya.
Budaya Islam yang masuk ke wilayah ini diketahui melalui bentuk-bentuk nisan yang terdapat di kompleks makam Batu Panjang, makam Putri, serta makam-makam di sekitar Mesjid Al Mujaahidiin. Makam-makam tersebut menggunakan nisan-nisan berukir yang dapat dimasukkan dalam jenis nisan bersayap, nisan gada, dan nisan pipih. Melalui nisan-nisannya menggambarkan adanya pengaruh Bugis-Makassar dan Aceh melalui Johor. Melalui ciri-ciri nisan serta pembandingnya di tempat lain seperti Lingga dan Tanjungpinang (Soedewo, 2006: 29--30), secara relatif diketahui bahwa jenis nisan yang terdapat di kompleks itu umum digunakan sekitar abad ke- 17--18 dan abad ke- 18--19. Sedangkan kronologi relatif yang diketahui melalui temuan fragmen keramik menggambarkan adanya aktivitas di sekitar kompleks telah berlangsung pada abad yang sama.
Kemudian mengenai aktivitas pemerintahan kolonial di pesisir selatan Pulau Rupat diperkirakan berlangsung sekitar abad ke-18--20. Rentang waktu yang sama dengan aktivitas Belanda ketika berusaha mengambil alih kekuasaan VOC di Indonesia yang ketika itu menguasai pusat perdagangan di Malaka, kemudian menekan kekuasaan raja-raja Melayu-Riau waktu itu hingga diturunkannya kekuasaan Kesultanan Riau pada awal abad ke- 20 (Gafnesia,1997:311--312). Diperkirakan Pulau Rupat pernah menjadi bagian dari pemerintahan kolonial Belanda pada rentang waktu tersebut. Hal ini juga didukung oleh posisinya yang berbatasan dengan Selat Malaka, serta keberadaan sisa bangunan kolonial seperti yang terdapat di Batu Panjang, dan meriam di Desa Tanjung Kapal.
7 6
4.
Penutup
4.1. Kesimpulan
Perkembangan budaya di Pulau Rupat tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kebudayaan yang ada di daerah sekitarnya, baik yang berada di daerah Riau daratan, Riau Kepulauan, maupun Semenanjung Melayu. Keberadaan masyarakat Akit yang sebagian masih menganut kepercayaan animisme yang biasa dikenal dalam religi prasejarah menggambarkan adanya keterkaitan dengan budaya lama. Demikian juga dengan peralatan berburu dan mencari ikan tradisionalnya yang memiliki kemiripan dengan peralatan milik suku-suku pedalaman di wilayah lain. Peralatan tradisional itu juga berakar dari budaya prasejarah. Adanya kontak dengan kebudayaan di luar wilayah Pulau Rupat juga terlihat pada beberapa peninggalan pada masa sejarah. Kronologi relatif yang diperoleh melalui berbagai temuan fragmen keramik maupun temuan lainnya, setidaknya memberi gambaran aktivitas manusia maupun kontak dengan bangsa lain telah ada sejak lama di wilayah ini.
4.2. Rekomendasi
Beberapa data arkeologis yang didapat selama penelitian di wilayah Pulau Rupat kondisinya sebagian telah mengalami kerusakan karena lokasinya kini berada di tepian pantai yang makin tergerus akibat abrasi. Diantaranya adalah sisa kompleks makam Batu Panjang yang menjadi tonggak sejarah awal penyebutan kota Kecamatan Rupat, yaitu Batu Panjang, dan makam-makam Cina yang menjadi saksi keberadaan komunitas ini di masa lalu dengan berbagai aktivitas perekonomiannya waktu itu di pesisir selatan Pulau Rupat. Demikian juga bangunan sisa peninggalan kolonial yang telah mengalami kerusakan. Data tersebut amat berarti tidak saja bagi ilmu pengetahuan, namun lebih dari itu merupakan bukti nyata perjalanan sejarah dan kebudayaan bangsa ini. Sudah sepatutnya penelitian yang lebih intensif terhadap objek dimaksud perlu dilakukan, agar gambaran perjalanan dan perkembangan kebudayaan daerah ini di masa lalu dapat menjadi lebih jelas. Pelestarian atas tinggalan tersebut juga perlu dilakukan agar sisa budaya lama dapat dipertahankan keberadaannya.
Kepustakaan
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo- Malaysia. Jakarta: Balai Pustaka
Gafnesia, Dahsyat. 1997. “Pemilihan dan Pengungkapan Fakta Sejarah: Sumbangan Sejarah Lokal Daerah Riau terhadap Materi Pendidikan Sejarah Nasional”, dalam
77
Jejak Arkeologis Di Pulau Rupat,…..
Balai Kajian Jarahnitra Tanjungpinang No. 13. Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, hal. 301--336
Guillaud, Dominique (ed). 2006. Menyelusuri Sungai, Merunut Waktu, Penelitian Arkeologi di Sumatera Selatan. Jakarta: IRD-Enrique Indonesia
Mc. Kinnon, E. Edwards. 1996. Buku Panduan Keramik. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Perret, Daniel & Kamarudin AB. Razak. 1999. Batu Aceh Warisan Sejarah Johor. Johor Bahru: Efeo, Yayasan Warisan Johor
Rohana, Sita. 2000. “Interaksi Antar Sukubangsa di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis”, dalam
Pasar Tradisional: Akau dan perkembangannya No. 16(T. Dibyo Harsono, ed.). Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, hal. 157--190
Soedewo, Ery. 2006. “Ragam Bentuk Nisan dan Jirat di Tanjungpinang: Refleksi Sosial, Politik, dan Budaya di Kawasan Selat Malaka Pada Abad XVI—XIX”, dalam Berkala Arkeologi Sangkhakala No. 15. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 11--35 Sugono, Dendy, dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat.
7 8