JANTAN LEPAS SAPIH
BERBEDA PADA DOMBA LOKAL JANTAN LEPAS SAPIH
Oleh
ARDYA ARDITANIA SUCI D24070262
Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan Komisi Ujian lisan pada tanggal 24 Oktober 2011
Menyetujui,
Pembimbing Utama Pembimbing Anggota
(Prof. Dr. Ir. Komang G. Wiryawan) (Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr) NIP. 19610914 198703 1 002 NIP. 19630917 198803 2 001
6 Judul : Analisis Kecernaan Pakan Dengan Sumber Energi Berbeda Pada
Domba Lokal Jantan Lepas Sapih Nama : Ardya Arditania Suci
NIM : D24070262
Menyetujui,
Pembimbing Utama Pembimbing Anggota
(Prof. Dr. Ir. Komang G. Wiryawan) (Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr.) NIP. 19610914 198703 1 002 NIP. 19630917 198803 2 001
Mengetahui: Ketua Departemen,
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
(Dr. Ir. Idat G. Permana, MSc.Agr.) NIP. 19670506 199103 1 001
7 RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 19 April 1989 sebagai anak pertama dari dua bersaudara, dari Pasangan Bapak Suparman dan Ibu Diana Makuntari.
Pada tahun 1993, penulis masuk Taman Kanak-Kanak Kemuning Bogor dan lulus tahun 1995. Penulis melanjutkan sekolah dasar di SDN Semplak 2 Bogor dan lulus tahun 2001, melanjutkan ke sekolah menengah pertama di SMP Negeri 6 Bogor dan lulus tahun 2004, dan penulis melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Negeri 2 Bogor dan lulus tahun 2007.
Pada tahun 2007 penulis diterima sebagai mahasiswi Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswi Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam organisasi internal kampus. Organisasi internal aktif sebagai anggota BEM-Dragon, HIMASITER, dan Manajer Basket Fakultas Peternakan. Terakhir penulis selama menjadi mahasiswa pernah menjadi ketua pelaksana dalam acara Bina Desa Situ Gede. Selain organisasi internal kampus adapun kegiatan lain yang dilakukan penulis yaitu Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (2009) dan Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (2011) yang dilaksanakan oleh Dikti.
8 KATA PENGANTAR
Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis memperoleh kemampuan untuk menyelesaikan penelitian dan skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Skripsi ini berjudul ”Analisis Kecernaan Pakan Dengan Sumber Energi Berbeda Pada Domba Lokal Jantan Lepas Sapih”. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Institut Pertanian Bogor dari bulan November 2010 sampai dengan Maret 2011. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kecernaan pakan dengan sumber energi berbeda (jagung, onggok, dan campuran jagung onggok) pada domba lokal jantan lepas sapih fase pertumbuhan.
Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kelemahan meskipun demikian Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi semua pihak.
Bogor, Oktober 2011
9 DAFTAR ISI
Halaman RINGKASAN……….. i ABSTRACT………. ii
LEMBAR PERN↔ATAAN………. iii
LEMBAR PENGESAHAN………. iv
RIWA↔AT HIDUP………. vi KATA PENGANTAR………. vii DAFTAR ISI………..………. viii DAFTAR TABEL.………. .. x
DAFTAR GAMBAR………... xi
DAFTAR LAMPIRAN………... xii PENDAHULUAN……..……..….………….. 1
Latar Belakang………..….……….. 1 Tujuan………..………..………... 2 TINJAUAN PUSTAKA….…………..………... 3
Domba Lokal Jantan.………….……….……. 3
Jagung…….………...………….……….. 4
Onggok………. 5
Bungkil Kelapa………. 6 Konsentrat……….…….………….………... 8
Kecernaan Pakan………...………….……….. 9
Kebutuhan Energi Ternak Domba……….... 10 MATERI DAN METODE………….……….………. 12
Waktu dan Lokasi………..……….………. 12
Materi………..………. 12 Alat……….……….. 12 Bahan……… 12 Ternak Percobaan…….………... 12 Pakan………...………. 13 Metode………....………..………... 14 Prosedur……… 14 Pemeliharaan………. 14 Pengukuran Kecernaan Nutrien……… 14 Analisa Proksimat………. 14 Rancangan Percobaan……….……….. 15 Peubah yang Diamati……….... 16 Analisis Data………..…………..………. 16 HASIL DAN PEMBAHASAN………..…………. 17
10
Konsumsi Bahan Kering…….………... 17
Konsumsi Protein Kasar………. 18
Konsumsi Serat Kasar……… 19
Konsumsi Lemak Kasar………. 20
Kecernaan Nutrien………. 21
Kecernaan Bahan Kering……….……….. 21
Kecernaan Protein Kasar….………... 22 Kecernaan Serat Kasar…….………...………... 23
Kecernaan Lemak Kasar….………... 24
KESIMPULAN DAN SARAN………. 26
Kesimpulan…….……… 26 Saran………..……….…….………... 26
UCAPAN TERIMA KASIH………. 27
DAFTAR PUSTAKA……….... 28 LAMPIRAN………... 32
11 DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Kandungan Zat Makanan Jagung Berdasarkan Bahan Kering.. 4 2. Komposisi Kimia Jagung………... 4 3. Kandungan Zat Makanan Onggok Berdasarkan Bahan Kering 5 4. Komposisi Kimia Onggok………. 5 5. Kandungan Zat Makanan Bungkil Kelapa Berdasarkan Bahan
Kering……… 7 6. Komposisi Kimia Bungkil Kelapa………. 8 7. Komposisi Bahan Pakan didalam Ransum Penelitian……….. 13 8. Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian (Hijauan + Kons-
sentrat)………... 13
9. Rataan konsumsi bahan kering, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar pada domba lokal jantan yang mendapat ransum-
sumber energi berbeda(g/e/h)………. 17 10.Rataan kecernaan bahan kering, protein kasar, lemak kasar,
dan serat kasar pada domba lokal jantan yang mendapat-
12 DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Skema Pembuatan onggok dari ubi kayu hingga menghasilkan tepung tapioka……….. 6 2. Skema Proses Pembuatan bungkil kelapa………. 7 3. Bentuk Kandang Individu Domba yang Dipakai dalam Pen-
elitian……… 12 4. Penjemuran Feses Domba Harian……… 15 5. Pengumpulan Feses Domba Komposit……… 15
13 DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Bahan Kering. ……… 33 2. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Protein Kasar..……… 33 3. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Serat Kasar…. ……….... 33 4. Hasil Sidik Ragam Konsumsi Lemak Kasar……….. 33 5. Hasil Sidik Ragam Kecernaan Bahan Kering……… 34 6. Hasil Sidik Ragam Kecernaan Protein Kasar………. 34 7. Hasil Sidik Ragam Kecernaan Serat Kasar……… 34 8. Hasil Sidik Ragam Kecernaan Lemak Kasar………. 35
14 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Domba merupakan salah satu jenis ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia terutama masyarakat di Pulau Jawa, karena pemeliharaan yang relatif mudah, cepat menghasilkan manfaat, dan dapat digunakan sebagai tabungan. Menurut data statistik pertanian (2010), populasi domba dan kambing saat ini mencapai 27.753.000 ekor; terdiri atas domba sebanyak 10.932.000 ekor dan kambing 16.821.000 ekor.
Ternak membutuhkan asupan nutrien yang seimbang untuk menunjang kebutuhan hidup pokok dan produksi selama fase pertumbuhan, sama halnya dengan domba lokal jantan lepas sapih. Pakan sumber karbohidrat dan protein tinggi sangat diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan domba yang sesuai. Pakan sumber karbohidrat seperti jagung dan onggok memiliki kandungan energi tinggi serta serat kasar rendah (FAO, 2005), sedangkan bungkil kelapa merupakan hasil ekstraksi dari proses pengolahan tepung tapioka memiliki kandungan protein kasar 18% (SNI, 1996) dapat dipergunakan sebagai sumber N untuk meningkatan kecernaan nutrien dan dapat dimanfaatkan secara baik oleh induk semang.
Faktor yang berpengaruh terhadap nilai kecernaan antara lain pakan, ternak, dan lingkungan (McDonald et al., 2002). Ditinjau dari segi pakan, kecernaan dipengaruhi oleh jenis, jumlah, komposisi, dan gerak laju ransum yang diberikan pada ternak. Hasil penelitian Pangestu (2005), kecernaan bahan kering onggok dan bungkil kelapa yaitu 47,16% dan 44,88%, hasil tersebut lebih rendah dari penelitian Prayitno et al., (2010), kecernaan energi ransum komplit onggok (63,07%) lebih tinggi dibanding ransum komplit berbahan jagung (57,70%). Hasil kecernaan diatas menunjukkan bahwa sumber energi (jagung dan onggok) serta sumber protein bungkil kelapa dapat digunakan untuk ternak domba dengan hasil kecernaan yang berbeda.
Penggunaan sumber energi jagung dan onggok, serta sumber protein bungkil kelapa di masyarakat masih rendah digunakan sebagai pakan ternak ruminansia. Hal tersebut dapat disebabkan masih bersaingnya harga dan kualitas nutrien pakan dengan bahan pakan lainnya. Kandungan BETN jagung dan onggok yang tinggi dapat digunakan untuk memacu pertumbuhan mikroorganisma rumen dan akan
15 meningkatkan kecernaan domba lokal jantan lepas sapih, hal yang sama pada bungkil kelapa dengan kandungan protein yang tinggi dapat digunakan sebagai sumber N ternak ruminansia.
Nilai nutrisi suatu bahan pakan, selain ditentukan oleh kandungan zat-zat nutriennya juga sangat ditentukan oleh kemampuan degradasi dan adaptasi mikroba rumen yang berpengaruh terhadap kecernaan pakan. Pada penelitian ini pemberian pakan sumber energi tinggi seperti jagung, onggok, serta kombinasi jagung dan onggok diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kecernaan bahan kering, serat kasar, protein kasar, dan lemak kasar domba lokal jantan lepas sapih fase pertumbuhan.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kecernaan pakan dengan sumber energi berbeda (jagung, onggok, dan campuran jagung onggok) pada domba lokal jantan lepas sapih fase pertumbuhan.
16 TINJAUAN PUSTAKA
Domba Lokal Jantan
Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang masih tergolong kerabat kambing, sapi dan kerbau (Mulyono, 2005). Domba dapat diklasifikasikan pada sub famili caprinae dan semua domba domestik termasuk genus ovis aries. Ada empat spesies domba liar yaitu: domba moufflon ( ovis musimon) terdapat di Eropa dan Asia Barat, domba urial (ovis orentalis; ovis vignei) terdapat di Afganistan hingga Asia Barat, domba argali terdapat di Asia Utara dan Amerika Utara.
Domba memiliki ciri-ciri yaitu mempunyai kelenjar di bawah mata yang menghasilkan sekresi seperti air mata, di celah antara kedua bilah kuku keluar sekresi yang berbau khas saat berjalan, tanduk berpenampang segitiga dan tumbuh melilit, bulu sangat baik digunakan sebagai bahan wol, dan domba jantan tidak berbau prengus. Jenis-jenis domba yang banyak dikenal di Indonesia adalah domba asli Indonesia yang disebut domba lokal. Memiliki ciri-ciri : ukuran tubuh kecil sehingga dagingnya tidak terlalu banyak, memiliki warna bulu yang bermacam-macam, domba jantan memiliki tanduk sedangkan yang betina tidak memiliki tanduk, dan bobot domba jantan 30-50 kg sedangkan bobot domba betina 20-25 kg (Mulyono, 2005).
Domba ekor tipis berasal dari Bangladesh atau India. Domba ini telah beradaptasi di Jawa sehingga dianggap sebagai ternak asli Indonesia. Di setiap daerah, DEK memiliki nama yang berbeda-beda sesuai dengan banyaknya sub populasi yang berkembang. DEK Jawa juga disebut domba kampung; domba negeri; domba lokal atau domba kacang. Bobot domba jantan dewasa antara 20- 30kg, sedangkan domba betina dewasa 15-20 kg (Mulyono, 2005).
Domba priangan atau domba garut berasal dari Priangan, Kota Garut, Jawa Barat. Memiliki ciri-ciri sebagai berikut : badan besar dan lebar, memiliki leher yang kuat sehingga digunakan sebagai domba aduan dan penghasil daging, domba jantan bertanduk besar, kokoh, dan kuat, melengkung ke belakang berbentuk spiral, pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu, betina tidak memiliki tanduk, bulu badan lebih panjang dan halus, dan bobot domba jantan adalah 60-80 kg, sedangkan bobot domba betina adalah 30-40 kg (Mulyono, 2005).
17 Jagung
Produksi jagung di Indonesia selama 5 tahun terakhir terus meningkat, pada tahun 2006 mencapai sekitar 12 juta ton dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 13,6 juta ton. Jagung digunakan untuk bahan baku industri makanan, konsumsi langsung manusia dan terbesar untuk bahan baku industri pakan ternak. Kandungan zat makanan jagung dan komposisi kimia jagung dapat dilihat dalam Tabel 1 dan 2. Tabel 1. Kandungan Zat Makanan Jagung Berdasarkan Bahan Kering
Zat Makanan Kandungan
Bahan Kering (%) 90 Protein Kasar (%) 8,4 Serat Kasar (%) 2.2 Lemak kasar (%) 3.6 Abu (%) 1 BETN (%) 75
Sumber: Suarni dan Widowati (2007) Tabel 2. Komposisi Kimia Jagung
Komposisi Kimia Jagung
Selulosa(%) -
Hemiselulosa(%) 41-46
Lignin(%) -
Amilosa(%) 25-30
Amilopektin(%) 70-75
Asam Lemak Jenuh(%) Palmintat (15,71), Stearat (3,12)
Asam Lemak Tak Jenuh(%) Oleat (36,45), Linoleat (43,83), dan Linolenat (0,42)
Albumin(%) 1-8
Globulin(%) 2-9
Glutelin(%) 30-45
Prolamin(%) 50-55
Sumber: Selulosa, Lignin, Asam Lemak Jenuh, Asam Lemak Tidak Jenuh (Suarni danWidowati, 2007), Hemiselulosa (Gliksman, 1969), Albumin, Globulin, Glutelin, Prolamin (Kent, 1983).
18 Kebutuhan jagung untuk pakan mencapai 3,48 juta ton/tahun, meningkat menjadi 4,07 juta ton/tahun pada tahun 2008 (Dirjen Peternakan, 2009). Jagung merupakan bahan pakan sumber energi dalam komponen penyusun ransum ternak. Selain itu jagung mempunyai tingkat adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang panas dan kering sehingga dapat tumbuh pada area geografis yang lebih luas dibandingkan dengan serealia yang lain. Menurut Mahaputra et al. (2003), penggunaan complete feed seperti jagung, onggok, bungkil kelapa, dan limbah hasil pertanian lainnya pada domba lokal jantan hasilnya lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian pakan hijauan saja.
Onggok
Onggok adalah limbah dari pabrik tapioka yang kering, padat dan keras. Kandungan zat makanan onggok dan komposisi kimia onggok dapat dilihat dalam Tabel 3 dan 4.
Tabel 3. Kandungan Zat Makanan Onggok Berdasarkan Bahan Kering
Zat Makanan Kandungan
Bahan Kering (%) 86,00 Protein Kasar (%) 1,77 Lemak Kasar (%) 1,48 BETN (%) 89,20 Serat Kasar (%) 6,67 Abu (%) 0,89 Sumber : Irawan (2002)
Tabel 4. Komposisi Kimia Onggok
Komposisi Kimia Onggok
Selulosa(%) 13,93
Hemiselulosa(%) 14,26
Lignin(%) 5,37
Amilosa(%) 15-30
Amilopektin(%) 70-75
Sumber: Selulosa, Hemiselulosa dan Lignin (Rokhmani, 2005), Amilosa dan Amilopektin (Suarni dan Widowati, 2007).
19 Onggok sebagai hasil sampingan pembuatan tepung tapioka selain harganya murah, tersedia cukup, mudah didapat, dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Menurut Supriyati (2003), ketersediaan onggok terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi tapioka dan semakin meluasnya areal penanaman dan produksi ubi kayu. Dari proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka, dihasilkan limbah sekitar 2/3 bagian atau sekitar 75% dari bahan mentahnya.
Pembuatan onggok dari ubi kayu hingga menghasilkan tepung tapioka dapat dilihat dalam Skema 1.
Ubi Kayu Pengupasan Kulit Air Pencucian Air Buangan
Pemarutan
Air Pemerasan Ampas/Onggok Pemisahan Pati
Pengeringan Penggilingan Tepung Tapioka
Skema 1. Proses Pembuatan Onggok dan Tepung Tapioka (Sumber: Purwanti, 2009) Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa merupakan hasil samping dari buah kelapa dengan produksi melimpah di Indonesia. Berdasarkan SNI 01-2904-1996/Rev.1996, yang dimaksud dengan bungkil kelapa adalah hasil ikutan yang didapat dari ekstraksi daging buah kelapa segar/kering. Dikarenakan hasil ekstraksi minyak kelapa dengan menggunakan cara kering paling tinggi, kebanyakan industri menggunakan cara ini untuk menghasilkan minyak kelapa. Pembuatan bungkil kelapa terdapat dalam skema 2.
20 Daging buah kelapa kering(kopra)
Dihaluskan Serbuk kelapa
Dipanaskan Dipress
Minyak bungkil kelapa
Skema 2. Proses Pembuatan Bungkil Kelapa (Sumber : Bank Indonesia, 2007) Bungkil kelapa ditemukan sebagian besar di negara-negara tropis dan tersedia dengan harga yang kompetitif. Pada tahun 2002, sebanyak 65% produksi bungkil kelapa di dunia dihasilkan dari Indonesia dan Filiphina (Sundu dan Dingle, 2005). Ekspor bungkil kelapa merupakan urutan kedua ekspor hasil turunan buah kelapa, yaitu sekitar 56.884 ton (APCC, 2005). Kandungan zat makanan bungkil kelapa dan komposisi kimia bungkil kelapa dapat dilihat dalam Tabel 5 dan 6.
Tabel 5. Kandungan Zat Makanan Bungkil Kelapa Berdasarkan Bahan Kering
Komposisi Mutu 1 Mutu 2
Air (%) 12 12 Protein Kasar (%) 18 16 Serat Kasar(%) 14 16 Abu(%) 7 9 Lemak Kasar(%) 12 15 BETN(%) 37 32 Sumber: SNI (1996)
21 Tabel 6. Komposisi Kimia Bungkil Kelapa
Komposisi Kimia Bungkil Kelapa
Albumin(%) 6,64
Globulin(%) 39,25
Glutelin(%) 15,27
Prolamin(%) 38,84
Asam Lemak Jenuh(%) Laurat (46-50), Palmintat (8-10), dan Stearat (2-3) Asam Lemak Tak Jenuh(%) Oleat (5-7), Linoleat (1-2,5)
Selulosa 20,10
Hemiselulosa 25,77
Lignin 5,94
Sumber: Albumin, Globulin, Glutelin, Prolamin (Wibowo, 2010), Asam Lemak Jenuh, Asam Lemak Tak Jenuh (Novarianto, 1994), Hemiselulosa, Selulosa, Lignin (Pangestu, 2005)
Konsentrat
Konsentrat merupakan bahan pakan tambahan yang diberikan untuk melengkapi kekurangan nutrien yang didapat dari bahan pakan utama yaitu hijauan. Konsentrat mempunyai kandungan energi, protein dan lemak yang relatif tinggi dengan kandungan serat kasar yang rendah dibanding hijauan yang diberikan. Pemberian ransum berupa kombinasi kedua bahan itu akan memberi peluang terpenuhinya nutrien yang dibutuhkan. Konsentrat untuk domba umumnya disebut pakan penguat atau bahan baku pakan yang memiliki kandungan serat kasar kurang dari 18% dan mudah dicerna.
Bahan pakan penguat merupakan bahan pakan yang mempunyai kandungan zat makanan tertentu dengan kandungan energi relatif tinggi. Serat kasar rendah dan daya cerna relatif baik, mempunyai palatabilitas (rasa enak), dan aseptabilitas (kemampuan ternak mengkonsumsi) yang lebih tinggi. Menurut Mulyono (2005), tinggi rendahnya konsumsi pakan ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri), yang meliputi suhu lingkungan, palatabilitas, selera, status fisiologis (umur, jenis kelamin, kondisi tubuh), konsentrasi nutrisi, bentuk pakan, bobot badan dan produksi. Bahan pembuat konsentrat dapat dari dedak, bekatul, bungkil dan biji-bijian yang digiling halus
22 (seperti jagung). Bahan pakan tersebut umumnya memiliki kandungan serat kasar rendah sehingga mudah dicerna( Mulyono, 2005). Pakan dengan serat kasar rendah mempunyai daya cerna bahan kering yang tinggi (Tillman et al., 1989). Kandungan serat kasar yang tinggi pada suatu bahan pakan akan sukar dimanfaatkan oleh ternak. Kecernaan nutrien pakan pada ternak ruminansia ditentukan oleh kecernaan serat kasar pakan (faktor eksternal) dan aktifitas mikroba rumen (faktor internal), terutama bakteri dan interaksi kedua faktor tersebut.
Teknik pemberian konsentrat disarankan jangan bersamaan dengan hijauan karena pakan ini mempunyai daya cerna dan kandungan nutrisi yang berbeda dengan hijauan (Mulyono, 2005). Apabila diberikan bersama-sama maka efektifitas nutrisinya akan kurang. Menurut Febrina dan Liana (2008), penggunaan konsentrat di daerah pedesaan masih 20% dari total pakan yang diberikan, kebanyakan peternak masih menggunakan pakan hijauan sebagai pakan utamannya.
Kecernaan Pakan
Secara definisi daya cerna (digestibility) adalah bagian nutrien pakan yang tidak diekskresikan dalam feses. Daya cerna didasarkan atas suatu asumsi bahwa nutrien yang tidak terdapat di dalam feses adalah habis dicerna dan diabsorpsi. Biasanya daya cerna dinyatakan dalam bahan kering dan apabila dinyatakan dalam persentase disebut koefisien cerna. Suatu percobaan pencernaan dikerjakan dengan mencatat jumlah pakan yang dikonsumsi dan feses yang dikeluarkan dalam suatu hari (Tillman et al., 1989). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah komposisi pakan, faktor hewan, serta laju perjalanan melalui alat pencernaan.
Pencernaan pakan merupakan suatu rangkaian proses yang terjadi pada pakan selama berada didalam saluran pencernaan sampai memungkinkan terjadinya suatu penyerapan (Parakasi, 1999). Untuk penentuan kecernaan dari suatu pakan maka harus diketahui terlebih dahulu dua hal yang penting yaitu; jumlah nutrien yang terdapat dalam pakan dan jumlah nutrien yang dapat dicerna dan dapat diketahui bila pakan telah mengalami proses pencernaan (Tillman et al., 1989).
Cheeke (2005) menyatakan bahwa pengukuran kecernaan atau nilai cerna suatu bahan pakan adalah usaha menentukan jumlah nutrisi dari suatu bahan pakan yang didegradasi dan diserap dalam saluran pencernaan. Daya cerna juga merupakan
23 presentasi nutrien yang diserap dalam saluran pencernaan yang hasilnya akan diketahui dengan melihat selisih antara jumlah nutrisi yang dimakan dan jumlah nutrien yang dikeluarkan dalam feses. Nutrien yang tidak terdapat dalam feses inilah yang diasumsikan sebagai nilai yang dicerna dan diserap.
Penentuan kecernaan suatu pakan maka harus diketahui jumlah nutrien yang terdapat di dalam pakan dan jumlah nutrien yang dicerna. Jumlah nutrien yang terdapat di dalam pakan dapat dicari dengan analisis kimia, sedangkan jumlah nutrien yang dicerna dapat dicari bila pakan telah mengalami proses pencernaan. Untuk mengetahuinya, terlebih dahulu dilakukan analisis secara biologis yang kemudian diikuti dengan analisis kimia untuk mengetahui nutrien yang terdapat di dalam feses. Diketahuinya jumlah nutrien di dalam pakan dan jumlah nutrien di dalam feses maka dapat diketahui jumlah nutrien tercerna dari pakan tersebut (Tillman et al., 1989). Pakan yang mudah dicerna akan meningkatkan laju aliran pakan, sehingga terjadi pengosongan perut yang menyebabkan ternak cepat lapar dan konsumsi meningkat. Parakkasi (1999), menambahkan bahwa kecernaan yang meningkat akan diiringi dengan peningkatan konsumsi.
Menurut Arora (1989), bahwa jenis pakan mempengaruhi degradasi protein dalam rumen. Pakan yang mengandung protein yang cukup dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisma rumen yang akhirnya dapat meningkatkan laju degradasi pakan tersebut. Kecernaan dapat dipengaruhi pula oleh tingkat pemberian pakan, spesies hewan, kandungan lignin bahan pakan, defisiensi zat makanan, pengolahan bahan pakan, pengaruh gabungan bahan pakan, dan gangguan saluran pencernaan (Parakasi, 1999).
Kebutuhan Energi Ternak Domba
Energi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melalukan kerja dan berbagai bentuk kegiatan (kimia, elektrik, radiasi, dan termal) dan dapat diubah-ubah. Hewan yang sedang tumbuh membutuhkan energi untuk pemeliharaan tumbuh (hidup pokok), memenuhi kebutuhan akan energi mekanik untuk gerak otot dan sintesa jaringan-jaringan baru (Tillman et al .,1989). Kebutuhan energi ini tergantung dari proses fisiologis ternak. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa kekurangan energi merupakan masalah defisiensi nutrisi yang umum terjadi pada domba, yang dapat
24 disebabkan oleh kekurangan pakan atau karena pengkonsumsian pakan dengan kualitas rendah.
Secara umum nutrisi yang paling membatasi dalam nutrisi ternak domba adalah energi. Sumber utama energi adalah dari pastura (hijauan makanan ternak, hutan, dan rumput atau tunas-tunas), hay, silase, pakan dari produk sampingan (byproduct) dan biji-bijian. Pastura, hay, silase atau pakan dari produk sampingan (byproduct) yang berkualitas bagus dapat digunakan sebagai makanan yang dapat memenuhi kebutuhan energi ternak secara ekonomis. kebutuhan energi domba sebagian besar dipenuhi oleh konsumsi dan pencernaan dari hijauan pasture, hay, dan silase. Sumber energi menurut Parakkasi (1999) adalah karbohidrat, protein, dan lemak.
Pada dasarnya kebutuhan energi ternak ialah kebutuhan energi untuk hidup pokok dan untuk produksi. Menurut NRC (1985), kebutuhan energi ternak untuk hidup pokok adalah jumlah energi dalam pakan yang harus dikonsumsi setiap hari bukan untuk mendapat ataupun kehilangan energi tubuh, energi tersebut digunakan untuk memelihara kelestarian hidup dan mempertahankan keutuhan alat-alat tubuh. Kebutuhan untuk produksi adalah energi diatas kebutuhan hidup pokok yang dimanfaatkan untuk proses-proses produksi yang antara lain meliputi pertumbuhan.
Defisiensi energi pada ternak yang sedang dalam fase pertumbuhan akan menyebabkan penurunan laju peningkatan bobot badan, yang akhirnya akan menghentikan pertumbuhan, bobot badan semakin menurun dan yang paling buruk adalah dapat menyebabkan kematian (NRC, 1985). Ternak yang kekurangan energi dalam pakannya akan mengurangi fungsi rumen dan menurunkan efisiensi penggunaan protein serta menghambat pertumbuhan ternak (Esminger dan Parker, 1986 dikutip Martawidjaja et al., 1999). Pada penelitian yang dilakukan Prayitno et al.,(2010) Kecernaan energi complete feed berbahan sorgum (63,03%) dan onggok (63,07%) lebih tinggi dibanding complete feed berbahan dedak dan jagung (51,96 dan 57,70%). Perbandingan energi tinggi tersebut diberikan pada domba lokal jantan lepas sapih. Hasil di atas lebih tinggi dari penelitian Pangestu (2005), kecernaan bahan kering onggok dan bungkil kelapa yaitu 47,16% dan 44,88%, hasil tersebut disebabkan karena pada penelitian ini menggunakan pakan tunggal.
25 MATERI DAN METODE
Waktu dan Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di Kandang B, Laboratorium Biologi Hewan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Laboratorium Terpadu Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Pemeliharaan ternak percobaan dilakukan pada bulan November 2010 sampai Februari 2011, selama pemeliharaan pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pagi pada pukul 8.00 dan siang pada pukul 15.00 dan analisa kecernaan feses dan pakan penelitian dilakukan pada bulan Maret 2011.
Materi Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain kandang domba individu, tempat pakan dan minum, timbangan digital, timbangan pegas, ember, plastik penampung feses, alumunium foil, dan alas penampung feses.