Jumlah II 143 554,08 III Baturaja Timur
NPV No. Komoditas
3. Berdasarkan hasil analisis finansial beberapa komoditas yang memiliki nilai manfaat paling besar berturut-turut adalah komoditas karet dengan
nilai manfaat sebesar 6,55; komoditas kelapa sawit dengan nilai manfaat sebesar 6,37; komoditas kelapa dengan nilai manfaat sebesar 5,87; dan komoditas kopi dengan nilai manfaat sebesar 2,56.
4. Hasil analisis marjin tataniaga terhadap empat komoditas perkebunan memperlihatkan bahwa komoditas kelapa memiliki proporsi harga yang diterima petani paling tinggi karena harga yang diterima petani mencapai 72,00%; disusul kopi sebesar 66,67%; karet sebesar 65,54%; dan kelapa sawit sebesar 55,00%.
5. Hasil analisis skalogram dimana jenis fasilitas, jumlah unit fasilitas dan jumlah penduduk digunakan sebagai variabel penentu hirarki terlihat bahwa Kecamatan Baturaja Timur dan Kecamatan Lubuk Raja dapat dipilih sebagai agropolis di kawasan Agropolitan Batumarta Kabupaten OKU.
6. Arahan pengembangan komoditas unggulan di kawasan agropolitan Batumarta Kabupaten OKU disarankan untuk memilih komoditas karet sebagai komoditas unggulan di kawasan agropolitan Batumarta Kabupaten OKU. Komoditas kelapa sawit dan kelapa dapat dijadikan komoditas alternatif sebagai penunjang komoditas karet.
6.2. Saran
1. Kajian lebih lanjut untuk pengembangan komoditas unggulan disarankan perlu dilakukan pada model pengembangan komoditas karet hingga dapat meningkatkan taraf hidup petani dan meningkatkan pendapatan daerah dalam jangka waktu tertentu.
2. Perlu segera dilakukan pembangunan infrastruktur penunjang sistem agribisnis dan permukiman dalam menunjang peningkatan produksi. 3. Perlu dipersiapkan sarana prasarana yang terkait dengan peningkatan
produksi seperti pusat pelatihan, pusat penelitian, institusi penyuluhan, lembaga perkreditan dan sebagainya yang didasarkan pada kebutuhan petani dan memperhatikan dinamika sosial ekonomi masyarakat setempat.
Andri, K.B. 2006. Perspektif Pembangunan Wilayah Pedesaan. Inovasi (XVIII): 1-8.
Anwar, A dan E. Rustiadi. 1999. Desentralisasi Spasial Melalui Pembangunan Agropolitan, dengan Mereplikasi Kota-Kota Menengah-Kecil di Wilayah Perdesaan. Makalah Lokakarya Pendayagunaan Sumberdaya Pembangunan Wilayah di Propinsi Riau, Pekanbaru. Hal. 1-57.
Badan Perencana Pembangunan Daerah. 2005. Kabupaten OKU dalam Angka. Kabupaten OKU. 385 Hal.
Badan Perencana Pembangunan Daerah. 2005. Laporan Pendahuluan Rintisan Kawasan Agropolitan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Kabupaten OKU. Hal. I1-V7.
Badan Pusat Statistik. 2006. Data Potensi Desa. BPS. Jakarta.
Daryanto, A. 2004. Keunggulan Daya Saing dan Teknik Identifikasi Komoditas Unggulan dalam Mengembangkan Potensi Ekonomi Regional. Agrimedia 9(2): 51-62.
Ertur, OS. 1984. A Growth –centre Approach to Agropolitan Development. Iowa State University. USA. HABITAT INTL. Vol 8, No.2, p. 61 and 72. Friedmann, J. dan Douglass, S. 1976. Pengembangan Agropolitan: Menuju
Siasat Baru Perencanaan Regional di Asia. Makalah Seminar Industrialization Strategies and the Growth Pole Approach to Regional Planning and Development. The Asian Experience. Nagoya, Japan 4-13 November 1985.
Hardjowigeno, S. dan Widiatmaka. 2001. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Tanah. Departemen Ilmu Tanah dan Manajemen Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 380 Hal. Harun, UR. 2004. Perencanaan Pengembangan Kawasan Agropolitan dalan
Sistem Perkotaan Regional di Indonesia. Dalam Rustiadi et al. 2006. Kawasan Agropolitan Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang. Crespent Press. Bogor. Hal. 32-48.
Hastuti, H.I. 2001. Model Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Agropolitan. [Thesis]. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Hal. 1-261.
Hendayani, R. 2003. Aplikasi Metode Location Quotient (LQ) dalam Penentuan Komoditas Unggulan Nasional. Informatika Pertanian 12:1-21.
Kadariah, L. Karlina dan C. Gray. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Universitas Indonesia. 181 Hal.
Mulyani, S. 2007. Kajian terhadap Pendapatan Petani dan Harga Tanah di Kawasan Agropolitan. [Thesis]. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Hal. 1-90.
Pribadi, DO. 2005. Pembangunan Kawasan Agropolitan Melalui Pembangunan Kota-Kota Kecil Menengah, Peningkatan Efisiensi Pasar Perdesaan dan Penguatan Akses Masyarakat Terhadap Lahan. [Thesis]. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Hal. 1-215.
Rustiadi, E., S. Hadi, dan W.M. Ahmad. 2006. Konsepsi dan Pengelolaan Agropolitan. Makalah disampaikan pada Rapat Koordinasi Pengembangan Agropolitan di Provinsi Lampung, 13 Juni 2006. Hal. 1-39. Rustiadi, E. dan S. Hadi. 2006. Pengembangan Agropolitan Sebagai Strategi
Pembangunan Perdesaan dan Pembangunan Berimbang. Dalam Rustiadi, E., S. Hadi, dan W.M. Ahmad. 2006. Kawasan Agropolitan Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang. Crespent Press. Bogor. Hal. 1-31. Rustiadi, Ernan, S. Saefulhakim. dan D.R. Panuju. 2006. Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 231 Hal.
Sitorus, S.R.P. 2004. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Penerbit Tarsito. Bandung. 186 Hal.
Sitorus, S.R.P. 2006. Konsep Pengembangan Kawasan Agropolitan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor. 20 Hal.
Wibowo, R., 1997, Strategi Industrialisasi Pertanian dan Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pengkajian Sistem Usahatani Spesifik Lokasi Dengan Pendekatan Teknologi Terapan Adaptif, BPPFP Ciawi-Bogor, 14 Maret -12 April 1997.
Lampiran 1 Daftar pertanyaan untuk petani
DAFTAR PERTANYAAN
Nama Responden : _______________________________________
Kelompok Tani : _______________________________________
Desa : _______________________________________
Kecamatan : _______________________________________
Tanggal wawancara : _______________________________________
Suku/ Daerah : _______________________________________
I. Karakteristik Keluarga
A. Anggota rumah tangga.
Pekerjaan Menurut Curahan Waktu No Hubungan dengan Kepala Keluarga Jenis Kelamin Umur (tahun) Pendidikan