BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Berdasarkan Distribusi Unsurnya
Menurut Ramlan (2005: 142) frasa endosentris adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua maupun salah satu unsurnya. Frasa dua orang mahasiswa dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca
buku baru di perpustakaan mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya,
baik dengan unsur dua orang, maupun dengan unsur mahasiswa. Berikut adalah jajaran persamaan distribusi itu.
dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan dua orang ———— sedang membaca buku baru di perpustakaan ———— mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan
dua orang mahasiswa ——— membaca buku baru di perpustakaan dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan dua orang mahasiswa sedang membaca buku —— di perpustakaan
Begitu pula frasa sedang membaca yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, yaitu unsur membaca. Selain itu, frasa buku baru mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya, yaitu buku. Jadi, dapat dikatakan bahwa unsur yang menjadi pusat tidak dapat dihilangkan, tetapi unsur yang menjadi penjelas dapat dihilangkan.
Abdul Chaer (2012: 226) memberi batasan mengenai frasa endosentris sebagai frasa yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Dengan kata lain, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.
Contoh:
(1) Sonya sedang menulis artikel di kamar (2) Sonya menulis artikel di kamar
Pada contoh (1), komponen keduanya adalah menulis dapat menggantikan kedudukan frasa tersebut, sehingga menjadi contoh (2).
Abdul Chaer (2012: 227) juga menambahkan bahwa frasa endosentris lazim disebut frasa modifikatif karena komponen keduanya, yaitu komponen yang bukan inti atau hulu mengubah atau membatasi makna komponen inti atau hulunya. Misalnya, kata membaca dibatasi maknanya oleh kata sedang sehingga maknanya itu menjadi ‗perbuatan membaca itu tengah berlangsung‘. Begitu pula kata sekali dalam frasa mahal sekali membatasi makna kata mahal yang masih umum akan tingkat kemahalannya menjadi tertentu. Jadi, komponen kedua dari
frasa itu memodifikasi makna komponen intinya. Di samping itu, perlu diketahui bahwa letak komponen inti bisa pada posisi depan, seperti pada frasa mahal
sekali, merah jambu, dan gadis cantik, tetapi dapat juga pada posisi belakang
seperti sedang membaca, sangat lincah, dan seekor kucing.
Ramlan (2005: 142-144) membedakan frasa endosentris menjadi tiga macam, yaitu frasa endosentis yang koordinatif, frasa endosentris yang atributif, dan frasa endosentris yang apositif. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai tiga macam frasa endosentris tersebut.
a. Frasa Endosentris yang Koordinatif
Menurut Ramlan (2005: 142) frasa ini terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung atau konjungsi dan atau
atau.
Contoh:
(3) sawah ladang (4) kakak adik (5) satu dua (hari) (6) paman bibi
(7) pembelajaran dan pelatihan (8) penelitian dan penyelidikan (9) makan atau minum
Frasa ini juga biasa disebut frasa berinduk jamak karena mempunyai unsur pusat (UP) yang lebih dari satu. Misalnya, pada contoh (7)
pembelajaran dan pelatihan, kedua kata itu merupakan unsur pusat (UP).
b. Frasa Endosentris yang Atributif
Ramlan (2005: 143) menyatakan bahwa berbeda dengan frasa endosentris yang koordinatif, frasa endosentris yang atributif terdiri dari
unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung atau konjungsi dan atau atau.
Contoh:
(10) penelitian satu bulan (11) kampus swasta (12) sepatu baru (13) halaman sempit (14) anak itu (15) siang ini (16) sedang menulis (17) sangat cemas
Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa di atas merupakan unsur pusat (UP), yaitu unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frasa dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atribut (Atr). Frasa ini juga biasa disebut frasa berinduk tunggal karena hanya memiliki satu unsur pusat (UP). Misalnya, pada contoh (12) sepatu baru, yang menjadi unsur pusat (UP) hanya kata sepatu.
Parera (2009: 56-57) memaparkan bahwa konstruksi frasa endosentris atributif secara umum mempunyai empat variasi atau corak. Parera memberi simbol (X) untuk pusat dan (A) untuk atribut. Berikut keempat variasi konstruksi frasa endosentris atributif itu.
(i) Atribut mendahului pusat Pola frasa AX.
Contoh:
tiap-tiap hari, saban bulan, pelbagai ragam, sebuah buku, sepatah
kata, hampir terbenam, tidak datang, tidak baik, amat bagus, sering menangis, asyik bercakap-cakap, sudah habis (Parera, 2009: 56-57).
(ii) Pusat di depan, atribut di belakang Pola frasa XA.
Contoh:
baik sekali, gunung berapi, kewajiban kita, uang pembayaran utang, pabrik pupuk Cilacap, tempat berhenti, guru besar luar biasa, kain
batik buatan koperasi batik Mataram, kemampuan mengurus rumah-tangganya sendiri, bangsa-bangsa Asia Afrika (Parera, 2009: 57). (iii) Pola atribut terpisah atau terbagi
Pola frasa AXA. Contoh:
sebuah mangga yang masak, tiga orang mahasiswa Indonesia, sangat baik sekali (Parera, 2009: 57).
(iv) Pola atribut dengan pusat terpisah Pola frasa XAX
Berdasarkan pemaparan Parera (2009) pola ini belum dijumpai dalam bahasa Indonesia.
c. Frasa Endosentris yang Apositif
Menurut Ramlan (2005: 144) frasa ini memiliki sifat yang berbeda dengan frasa endosentris yang koordinatif dan frasa endosentris yang atributif. Misalnya, pada frasa Ahmad, anak Pak Sastro unsur-unsurnya tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung atau konjungsi dan atau atau dan secara semantik unsur yang satu, yakni unsur anak Pak
Sastro, sama dengan unsur lainnya, yaitu sama dengan unsur Ahmad.
Berdasarkan kesamaan itu, maka anak Pak Sastro dapat menggantikan unsur Ahmad. Berikut disajikan penjabarannya.
Ahmad, anak Pak Sastro, sedang belajar Ahmad –—————— sedang belajar
——— anak Pak Sastro sedang belajar
Unsur Ahmad merupakan UP, sedangkan unsur anak Pak Sastro merupakan aposisi (Ap). Berikut beberapa contoh lain frasa endosentris yang apositif.
Contoh:
(18) Bogor, kota hujan (19) Indonesia, bangsaku (20) Bapak Jokowi, Presiden RI (21) Anisa, sahabat sejatiku
2. Frasa Eksosentris
Menurut Ramlan (2005: 142) frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Misalnya, frasa eksosentris dalam klausa dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di
perpustakaan ialah unsur di perpustakaan. Berikut adalah jajaran ketidaksamaan
distribusi itu.
dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di ————— dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru — perpustakaan
Senada dengan Ramlan, Chaer (2012: 225) memaparkan bahwa frasa eksosentris adalah frasa yang komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, frasa di pasar, yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar. Secara keseluruhan atau secara utuh frasa ini dapat mengisi fungsi keterangan.
Contoh:
(22) dia berdagang di pasar (22a) *dia berdagang di
(22b) *dia berdagang pasar (Chaer, 2012: 225).
Komponen di maupun komponen pasar tidak dapat menduduki fungsi keterangan dalam contoh (22), sebab jika dijajarkan seperti pada contoh (22a) dan (22b), konstruksi itu tidak gramatikal atau tidak berterima.
Chaer (2012: 225) menambahkan bahwa frasa eksosentris biasanya dibedakan atas frasa eksosentris yang direktif dan frasa eksosentris yang nondirektif. Frasa eksosentris yang direktif komponen pertamanya berupa preposisi, seperti di, ke, dan dari, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nomina. Karena komponen pertamanya berupa preposisi, frasa eksosentris yang direktif lazim juga disebut frasa preposisional. Berikut contoh frasa eksosentris direktif.
Contoh: (23) di kantor
(24) dari tepung terigu (25) demi kesejahteraan (26) dengan pisau (27) oleh bahaya longsor
Frasa eksosentris nondirektif komponen pertamanya berupa artikulus, seperti
si dan sang atau kata lain seperti yang, para, dan kaum, sedangkan komponen
keduanya berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, adjektifa, atau verba. Berikut contoh frasa eksosentris nondirektif.
Contoh: (28) si kaya (29) sang kakak
(30) yang rambutnya panjang
(31) para mahasiswa Sanata Dharma (32) kaum cerdas humanis
B. Berdasarkan Kategorinya