1. Penghuni G-25
Penghuni rumah nomor G-25 adalah bernama Eli Aster Sitompul dengan jumlah penghuninya adalah 4 orang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 anak perempuan. Dari segi religi dan suku, penghuni menganut agama Kristen dan suku Batak. Penghuni sudah tinggal di rumah ini selama 1 tahun. Perubahan yang terjadi pada rumah ini terletak pada area luar dan dalam seperti yang terlihat pada denah berikut:
Gambar 5.16. denah awal Gambar 5.17. denah akhir Sumber: dokumentasi pribadi Sumber: dokumentasi pribadi
Penghuni G-25 memiliki hobi untuk memelihara ikan sehingga proses adaptasi yang terjadi dalam hal ini adalah dengan cara reaksi dengan menambah kolam ikan yang sudah permanen di area depan teras. Penghuni mengatakan penambahan kolam ikan tidak memakan banyak waktu sehingga penghuni
melakukan penambahan tersebut meskipun baru saja tinggal di rumah tersebut selama 1 tahun. Proses adaptasi penghuni dapat dilihat dalam skema berikut:
.
Gambar 5.18. Skema Proses Adaptasi Sumber: Dokumentasi Pribadi
Gambar 5.19. Denah Proses Adaptasi Berlangsung Sumber: Dokumentasi Pribadi
Coping behaviour
Adaptasi dengan cara reaksi Menambah kolam ikan
permanen di depan rumah Transformasi Fisik Penambahan Perumahan Penghuni Persepsi: Penghuni bisa menyalurkan hobi memelihara ikan di rumah Di luar batas optimal Stres s
Gambar 5.20 Foto Suasana Sumber: Dokumentasi Pribadi
2. Penghuni K-90
Penghuni rumah nomor K-90 adalah bernama Eko Sugianto dengan jumlah penghuninya adalah 5 orang terdiri dari ayah, ibu, nenek, 1 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan. Dari segi religi dan suku, penghuni menganut agama Islam dan suku Jawa. Penghuni sudah tinggal di rumah ini selama 5 tahun. Perubahan yang terjadi pada rumah ini terletak pada area luar dan dalam seperti yang terlihat pada denah berikut:
Gambar 5.21. denah awal Gambar 5.22. denah akhir Sumber: dokumentasi pribadi Sumber: dokumentasi pribadi
Pada rumah K-90, penghuni yang sudah tinggal di rumah tersebut selama 5 tahun, melakukan adaptasi dengan cara reaksi dengan menambah taman kecil di area depan teras. Alasan penambahan ini dilakukan adalah karena penghuni mempunyai hobi menanam bunga. Di area taman ini penghuni juga meletakkan ayunan sebagai tempat duduk pengganti teras jika ada tamu yang berkunjung. Proses adaptasi penghuni dapat dilihat dalam skema berikut:
Gambar 5.23. Skema Proses Adaptasi Sumber: Dokumentasi Pribadi
Gambar 5.24. Denah Proses Adaptasi Berlangsung Sumber: Dokumentasi Pribadi
Coping behaviour
Adaptasi dengan cara reaksi 1. Menambah taman kecil
di area depan teras 2. Meletakkan ayunan
sebagai tempat duduk pengganti teras Transformasi Fisik Penambahan Perumahan Penghuni Persepsi: Penghuni bisa menyalurkan hobi menanam bunga di rumah Di luar batas optimal Stres s
Gambar 5.25. Foto Suasana Sumber: Dokumentasi Pribadi
5.2.2. Proses Adaptasi pada Denah Rumah
Ditinjau dari faktor sosial penghuni, yaitu berupa jumlah anggota keluarga serta kebutuhan-kebutuhan akan ruang, maka didapat hasil analisa proses adaptasi penghuni sebagai berikut:
1. Penghuni G-25
RUANG PROSES ADAPTASI PENYEBAB
Kamar Reaksi Mengurangi/merobohkan
tembok 2 kamar yang bersebelahan untuk mendapatkan 1 ruang kamar dengan ukuran besar.
Penghuni ingin mendapatkan luas kamar yang besar sehingga kedua anaknya yang masih berumur 5 dan 7 tahun dapat tidur di kamar tersebut juga.
Gudang Penyesuaian Memanfaatkan satu kamar lagi yang tidak terpakai.
Kamar lama yang tidak terpakai dialihfungsi menjadi gudang untuk menyimpan barang-barang.
Perumahan
Penghuni
Kebutuhan akan ruang: 1. Kamar
2. Gudang 3. Jemuran (area servis)
Diluar batas optimal
Stress Coping behaviour Kebutuhan akan ruang:
1.Dapur 2. Ruang makan 3. Kamar mandi 4. Ruang keluarga Di dalam batas optimal Homeostatis
Area servis Penyesuaian Menambah di area depan rumah
Penghuni merasa area depan rumah sudah cukup untuk dimanfaatkan sebagai area menjemur.
Gambar 5.26. Skema Proses Adaptasi Sumber: dokumentasi pribadi
Tidak terdapat banyak proses adaptasi yang terjadi pada rumah penghuni G-25. Proses adaptasi yang sedikit dikarenakan penghuni masih tinggal di rumah tersebut selama 1 tahun. Selain itu, penghuni sebelumnya juga sudah melakukan modifikasi sehingga rumah dengan denah yang sekarang dianggap sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga.
Ditinjau dari peraturan yang berlaku, perubahan yang dilakukan penghuni sudah taat aturan. Penghuni sudah mendapatkan izin tertulis untuk melakukan perubahan pada rumahnya dan perubahan yang dilakukan tidak menutupi bentuk bangunan semula.
2. Penghuni K-90
RUANG PROSES ADAPTASI PENYEBAB
Kamar Penyesuaian Menyatukan anak perempuan dengan neneknya
menggunakan satu kamar.
Penghuni merasa sudah cukup jika nenek dan anak perempuan menggunakan satu kamar saja tanpa terpisah. Ruang Makan Penyesuaian Memanfaatkan ruang keluarga
yang berada di area belakang
Penghuni merasa dapur awal terlalu sempit untuk memasak.
Area servis Penyesuaian Menambahkan di area belakang rumah
Penghuni membutuhkan area untuk menjemur pakaian. Perumahan
Penghuni
Kebutuhan akan ruang: 1. Kamar 2. Ruang makan
3. Jemuran (area servis) 4. Parkir kendaraan
Diluar batas optimal
Stress Coping behaviour Kebutuhan akan ruang:
1.Kamar mandi
2. Dapur Di dalam batas
optimal
Parkir kendaraan Penyesuaian Menambahkan di area depan rumah
Penghuni membutuhkan area untuk memarkirkan kendaraan mobilnya.
Gambar 5.27. Skema Proses Adaptasi Sumber: dokumentasi pribadi
Terdapat banyak proses adaptasi yang terjadi pada rumah penghuni K-90. Selain karena penghuni sudah 5 tahun tinggal di rumah tersebut, proses adaptasi yang banyak juga terjadi karena jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut cukup banyak, yaitu sebanyak 5 orang sehingga kebutuhan akan ruang juga lebih kompleks jika dibandingkan dengan penghuni yang lain. Selain itu, penghuni sebelumnya juga sudah melakukan modifikasi sehingga rumah dengan denah yang sekarang dianggap sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga.
Ditinjau dari peraturan yang berlaku, perubahan yang dilakukan penghuni sudah taat aturan. Penghuni sudah mendapatkan izin tertulis untuk melakukan perubahan pada rumahnya dan perubahan yang dilakukan tidak menutupi bentuk bangunan semula.
5.2.3. Kesimpulan Proses Adaptasi
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil wawancara yang telah diuraikan di atas, maka didapatkan hasil kesimpulan bahwa proses adaptasi yang paling banyak terjadi berdasarkan hobi adalah adaptasi seluruhnya dengan melakukan reaksi dengan cara menambah. Penghuni cenderung melakukan penambahan tersebut di area depan rumah mereka. Alasannya adalah karena lahan yang masih dapat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas hobi adalah lahan depan rumah, sedangkan lahan belakang rumah sudah dimanfaatkan untuk area penambahan ruangan yang lain. Ditinjau dari lama menghuni, penghuni yang melakukan proses adaptasi ini seluruhnya adalah penghuni baru. Ditinjau dari peraturan perumahan yang tidak memperbolehkan penghuni untuk melakukan perubahan permanen yang bisa menutupi bentuk asli rumah, penghuni sudah menaatinya. Keterangan frekuensi proses adaptasi penghuni berdasarkan hobi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.2. Jumlah Frekuensi Proses Adaptasi Penghuni
Ruangan Jumlah penghuni Adaptasi secara reaksi
Adaptasi secara penyesuaian