BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Karakteristik Sampel
4.2.6 Berdasarkan Pengalaman
Tingkat pengalaman petani kopi arabika adalah waktu yang sudah dijalani petani dalam melakukan kegiatan pengelolaan usahatani kopi arabika. Pengalaman berusahatani juga merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengembangan usahatani. Semakin lama petani menekuni usahataninya, maka akan semakin banyak pengalaman yang dimilikinya. Petani yang memiliki pengalaman yang cukup lama cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik. Pengalaman petani dalam usahatani kopi arabika dapat dilihat dalam Tabel sebagai berikut:
Tabel 4.9 Karakteristik Petani Kopi Arabika Berdasarkan Pengalaman Bertani
No. Pengalaman Bertani (Tahun)
Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. < 5 - -
2. 5-10 12 31,58
3. 11-20 14 36,84
4. 21-30 10 26,32
5. > 31 2 5,26
Jumlah 38 100,00
Sumber : Lampiran 2, 2021
Pada Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa pengalaman bertani sampel petani kopi yang paling banyak adalah pada rentang 11-20 tahun yaitu sebanyak 14 orang (36,84%).
40 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Peran Penyuluh Pertanian Terhadap Produktivitas Petani Kopi Arabika 5.1.1 Peran Penyuluh Sebagai Dinamisator
Sebelum dilakukan pembahasan mengenai tolak ukur setiap pertanyaan dari kuesioner, maka harus diuji terlebih dahulu dengan uji validitas dan realibilitas menggunakan SPSS 21. Uji validitas dan realibilitas berfungsi untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dan sejauh mana pengukuran tersebut tidak terdapat kesalahan.
Tabel 5.1 Uji Validitas Penyuluh Sebagai Dinamisator (X1)
Item Pernyataan r Hitung r Tabel Keterangan
X1.1 Penyuluh memberikan bimbingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas Kopi Arabika
0,615 0,320 Valid
X1.2 Penyuluh melakukan kerjasama/
pertemuan antar kelompok tani kopi Arabika dalam kegiatan penyuluhan
0,544 0,320 Valid
X1.3 Penyuluh melakukan pengamatan langsung ke lapangan setelah memberikan informasi mengenai peningkatan produktivitas Kopi Arabika
0,599 0,320 Valid
X1.4 Penyuluh menyampaikan informasi mengenai peningkatan produktivitas Kopi Arabika
0,674 0,320 Valid
X1.5 Penyuluh mengaktifkan peran
pengurus dan anggota kelompok tani
0,736 0,320 Valid
Sumber: Data Primer (diolah)
Tabel 5.1 di atas menunjukkan bahwa nilai r hitung pada setiap item lebih besar dibandingkan dengan r Tabel (0,320) maka dapat disimpulkan bahwa semua item yang diuji dengan menggunakan uji Pearson Product Moment dinyatakan valid,
sehingga tingkat kesahihan alat ukur yang digunakan pada penelitian ini dapat diterima atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur.
Tabel 5.2 Uji Realibilitas Penyuluh Sebagai Dinamisator (X1)
Sumber: Data Primer (diolah)
Tabel 5.2 di atas menunjukkan bahwa nilai Alpha (Cronbach) > 0.60 yaitu 0.626, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh dari kuesioner merupakan data yang konsisten dan memiliki tingkat konsistensi.
Dari penelitian yang dilakukan dilapangan dengan beberapa item pertanyaan yang telah diuji didapat bahwa jawaban dari sampel yang beragam. Untuk distribusi jawaban dari setiap item pertanyaan dengan penyuluh sebagai dinamisator (X1) dapat dilihat pada Tabel 5.3
Tabel 5.3 Distribusi Jawaban Sampel dari Penyuluh Sebagai Dinamisator (X1)
Item STS TS N S SS Total Rata-rata
Keterangan
X1.1 0 0 0 24 14 166 4,37 Sangat Penting
X1.2 0 0 1 29 8 159 4,18 Penting
X1.3 0 0 2 21 15 165 4,34 Sangat Penting
X1.4 0 0 3 25 10 159 4,18 Penting
X1.5 0 0 7 28 3 148 3,90 Penting
Rata-rata keseluruhan
4,13 Penting
Sumber: Data Primer (diolah)
42
Dari Tabel 5.3 dapat dilihat bahwa distribusi jawaban dari sampel sebagai berikut:
1. Penyuluh memberikan bimbingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika (X1.1)
Dari item X1.1 sebanyak 24 sampel menjawab setuju dan sebanyak 14 sampel menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,37 sehingga penyuluh berperan sangat penting dalam memberikan bimbingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika. Dalam hal ini petani sudah mengerti mengenai produktivitas kopi arabika sehingga untuk mengoptimalkan produktivitas kopi arabika penyuluh sangat diperlukan untuk membimbing para petani. Bimbingan yang dilakukan antara lain mengenai cara penggunaan pupuk yang baik dan benar, pemangkasan daun tanaman kopi dan pengendalian hama dan penyakit.
2. Penyuluh melakukan kerjasama/pertemuan antar kelompok tani kopi arabika (X1.2)
Dari item X1.2 sebanyak 1 petani menjawab netral, 29 petani menjawab setuju dan 8 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,18 sehingga penyuluh berperan penting dalam hal melakukan kerjasama atau pertemuan antar kelompok tani kopi arabika. Penyuluh harus bekerja sama dan mengadakan pertemuan seminggu dua kali dengan petani guna memberi arahan terkait peningkatan produktivitas kopi arabika.
3. Penyuluh melakukan pengamatan langsung ke lapangan setelah memberikan informasi mengenai peningkatan produktivitas kopi arabika (X1.3)
Dari item X1.3 sebanyak 2 petani menjawab netral, 21 petani menjawab setuju dan 15 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,34 sehingga penyuluh berperan sangat penting melakukan pengamatan langsung ke lapangan.
Hasil dari kegiatan petani dalam hal budidaya kopi arabika selalu mendapat arahan dan penilaian dari penyuluh guna mengetahui kekurangan yang terdapat dalam perkembangan budidaya kopi arabika sehingga penyuluh melakukan pengamatan langsung ke lapangan.
4. Penyuluh menyampaikan informasi mengenai peningkatan produktivitas kopi arabika (X1.4)
Dari item X1.4 sebanyak 3 petani menjawab netral, 25 petani menjawab setuju dan 10 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,18 sehingga penyuluh berperan penting dalam menyampaikan beberapa informasi mengenai peningkatan produktivitas kopi arabika yang meliputi penggunaan bibit unggul, perawatan yang harus dilakukan secara intensif serta penanganan pasca panen.
5. Penyuluh mengaktifkan peran pengurus kelompok tani dan anggota kelompok tani (X1.5)
Dari item X1.5 sebanyak 7 petani menjawab netral, 28 petani menjawab setuju dan 3 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 3,90 sehingga penyuluh berperan penting guna mengaktifkan peran pengurus kelompok tani dan anggota kelompok tani. Program maupun kegiatan yang diadakan penyuluh untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika disambut baik oleh para petani yang mengikuti penyuluhan sehingga kelompok tani dapat terlibat langsung dalam kegiatan yang diadakan oleh penyuluh dan meningkatkan peran pengurus kelompok tani maupun anggota kelompok tani.
Hasil penelitian ini menyetujui penelitian yang dilakukan oleh Sidauruk, dkk., tahun 2016 bahwa penyuluh pertanian berperan penting sebagai dinamisator.
44
5.1.2 Peran Penyuluh Sebagai Fasilitator
Sebelum dilakukan pembahasan mengenai tolak ukur setiap pertanyaan dari kuesioner, maka harus diuji terlebih dahulu dengan uji validitas dan realibilitas menggunakan SPSS 21. Uji validitas dan realibilitas berfungsi untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dan sejauh mana pengukuran tersebut tidak terdapat kesalahan.
Tabel 5.4 Uji Validitas Penyuluh Sebagai Fasilitator (X2)
Item Pernyataan r Hitung r Tabel Keterangan
X2.1 Penyuluh pertanian membantu petani untuk mendapatkan saprodi (sarana produksi) yang baik untuk tanaman kopi Arabika
0,605 0,320 Valid
X2.2 Penyuluh membantu petani untuk mendapatkan modal
0,692 0,320 Valid X2.3 Penyuluh membantu petani untuk
mendirikan dan mengembangkan kelompok tani
0,380 0,320 Valid
X2.4 Penyuluh membantu petani untuk memasarkan hasil produksi kopi Arabika
0,676 0,320 Valid
X2.5 Penyuluh membantu petani untuk bekerja sama dengan kelompok tani lain
0,550 0,320 Valid
X2.6 Penyuluh membantu petani untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh lembaga pemerintah atau swasta untuk pengembangan tanaman kopi Arabika
0,653 0,320 Valid
X2.7 Penyuluh membantu kelompok tani melakukan kerjasama dengan dibandingkan dengan r Tabel (0,320) maka dapat disimpulkan bahwa semua item yang diuji dengan menggunakan uji Pearson Product Moment dinyatakan valid,
sehingga tingkat kesahihan alat ukur yang digunakan pada penelitian ini dapat diterima atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur.
Tabel 5.5 Uji Realibilitas Penyuluh Sebagai Fasilitator (X2)
Sumber: Data Primer (diolah)
Tabel 5.5 di atas menunjukkan bahwa nilai Alpha (Cronbach) > 0.60 yaitu 0.688, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh dari kuesioner merupakan data yang konsisten dan memiliki tingkat konsistensi.
Dari penelitian yang dilakukan dilapangan dengan beberapa item pertanyaan yang telah diuji didapat bahwa jawaban dari sampel yang beragam. Untuk distribusi jawaban dari setiap item dengan penyuluh sebagai fasilitator (X2) dapat dilihat pada Tabel 5.6
Tabel 5.6 Distribusi Jawaban Sampel dari Penyuluh Sebagai Fasilitator (X2) Item STS TS N S SS Total
Rata-rata
Keterangan
X2.1 0 0 0 18 20 172 4,53 Sangat Penting
X2.2 3 17 18 0 0 91 2,40 Tidak Penting
X2.3 0 0 9 25 4 147 3,87 Penting
X2.4 5 13 14 6 0 97 2,55 Tidak Penting
X2.5 0 0 2 20 16 166 4,37 Sangat Penting
X2.6 0 0 1 29 8 159 4,18 Penting
X2.7 0 0 9 22 7 150 3,95 Cukup Penting
Rata-rata keseluruhan
3,69 Penting
Sumber: Data Primer (diolah)
46
Dari Tabel 5.6 dapat dilihat bahwa distribusi jawaban dari sampel sebagai berikut:
1. Penyuluh pertanian membantu petani untuk mendapatkan saprodi (sarana produksi) yang baik untuk tanaman kopi arabika (X2.1)
Dari item X2.1 sebanyak 18 petani menjawab setuju dan 20 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,53 sehingga penyuluh berperan sangat penting pada item tersebut. Dalam hal ini petani dimudahkan oleh penyuluh pertanian untuk mendapatkan sarana produksi yang diinginkan. Contohnya bibit unggul yang digunakan petani kopi arabika.
2. Penyuluh membantu petani untuk mendapatkan modal (X2.2)
Dari item X2.2 sebanyak 3 petani menjawab sangat tidak setuju, 17 petani menjawab tidak setuju dan 18 petani menjawab netral dengan rata-rata sebesar 2,40 sehingga penyuluh tidak berperan penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh lebih memfokuskan pada teknis budidaya tanaman kopi sehingga dapat meningkatkan produktivitas kopi arabika dan para petani juga memiliki modal yang cukup untuk usaha tani yang dilakukan.
3. Penyuluh membantu petani untuk mendirikan dan mengembangkan kelompok tani (X2.3)
Dari item X2.3 sebanyak 9 petani menjawab netral, 25 petani menjawab setuju dan 4 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 3,87 sehingga penyuluh berperan penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh tidak hanya berperan untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika, namun penyuluh juga memiliki peran untuk mendirikan dan mengembangkan kelompok tani agar lebih maju untuk kedepannya.
4. Penyuluh membantu petani untuk memasarkan hasil produksi kopi arabika (X2.4)
Dari item X2.4 sebanyak 5 petani menjawab sangat tidak setuju, 13 petani menjawab tidak setuju, 14 petani menjawab netral, dan 6 petani menjawab setuju dengan rata-rata sebesar 2,55 sehingga penyuluh tidak berperan penting pada item tersebut. Dalam memasarkan hasil produksi kopi arabika penyuluh tidak terlibat langsung karena terdapat agen di desa tersebut sehingga para petani dapat menjual hasil produksi kopi arabika kepada agen dengan harga yang sesuai.
5. Penyuluh membantu petani untuk bekerja sama dengan kelompok tani lain (X2.5)
Dari item X2.5 sebanyak 2 petani menjawab netral, 20 petani menjawab setuju, dan 16 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,37 sehingga penyuluh berperan sangat penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh menjadi sebuah jembatan untuk menghubungkan kelompok tani yang satu dengan kelompok tani yang lain. Kerjasama yang digunakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan antar kelompok tani.
6. Penyuluh membantu petani untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh lembaga pemerintah atau swasta untuk pengembangan tanaman kopi arabika (X2.6)
Dari item X2.6 sebanyak 1 petani menjawab netral, 29 petani menjawab setuju, dan 8 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,18 sehingga penyuluh berperan penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh menjadi wadah untuk mengembangkan pengetahuan akan kemajuan produktivitas kopi arabika dengan cara bekerjasama dengan lembaga pemerintah ataupun swasta.
48
7. Penyuluh membantu kelompok tani melakukan kerjasama dengan lembaga pemerintah atau dinas pertanian dalam hal penyediaan bibit dan pupuk (X2.7) Dari item X2.7 sebanyak 9 petani menjawab netral, 22 petani menjawab setuju, dan 7 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 3,95 sehingga penyuluh berperan cukup penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh bekerjasama dengan lembaga pemerintah khususnya dinas pertanian mengenai penyediaan bibit kopi arabika dan pupuk.
Hasil penelitian ini menyetujui penelitian yang dilakukan Sidauruk, dkk., tahun 2016 bahwa penyuluh pertanian berperan penting sebagai fasilitator.
5.1.3 Peran Penyuluh Sebagai Motivator
Sebelum dilakukan pembahasan mengenai tolak ukur setiap pertanyaan dari kuesioner, maka harus diuji terlebih dahulu dengan uji validitas dan realibilitas menggunakan SPSS 21.
Tabel 5.7 Uji Validitas Penyuluh Sebagai Motivator (X3)
Item Pernyataan r Hitung r Tabel Keterangan
X3.1 Penyuluh mendorong petani untuk mengikuti pelatihan yang
diadakan penyuluh/dinas
pertanian tentang tanaman Kopi Arabika
0,654 0,320 Valid
X3.2 Penyuluh mendorong petani untuk meningkatkan hasil produksi Kopi Arabika
0,417 0,320 Valid
X3.3 Penyuluh mendorong petani untuk mengikuti penyuluhan tentang tanaman Kopi Arabika
0,568 0,320 Valid
X3.4 Penyuluh mendukung petani agar menggunakan bibit Kopi Arabika dan pupuk yang berkualitas
0,521 0,320 Valid
X3.5 Penyuluh mendorong petani untuk tetap bergabung dengan kelompok
X3.7 Penyuluh mendorong petani untuk mau menggunakan teknologi baru
0,532 0,320 Valid
Sumber: Data Primer (diolah)
Tabel 5.7 di atas menunjukkan bahwa nilai r hitung pada setiap item lebih besar dibandingkan dengan r Tabel (0,320) maka dapat disimpulkan bahwa semua item yang diuji dengan menggunakan uji Pearson Product Moment dinyatakan valid, sehingga tingkat kesahihan alat ukur yang digunakan pada penelitian ini dapat diterima atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur.
50
Tabel 5.8 Uji Realibilitas Penyuluh Sebagai Motivator (X3)
Sumber: Data Primer (diolah)
Tabel 5.8 di atas menunjukkan bahwa nilai Alpha (Cronbach) > 0.60 yaitu 0.638, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh dari kuesioner merupakan data yang konsisten dan memiliki tingkat konsistensi.
Dari penelitian yang dilakukan dilapangan dengan beberapa item pertanyaan yang telah diuji didapat bahwa jawaban dari sampel yang beragam. Untuk distribusi jawaban dari setiap item dengan penyuluh sebagai motivator (X3) dapat dilihat pada Tabel 5.9
Tabel 5.9 Distribusi Jawaban Sampel dari Penyuluh Sebagai Motivator (X3) Item STS TS N S SS Total
Dari Tabel 5.9 dapat dilihat bahwa distribusi jawaban dari sampel sebagai berikut:
1. Penyuluh mendorong petani untuk mengikuti pelatihan yang diadakan penyuluh/dinas pertanian tentang tanaman kopi arabika (X3.1)
Dari item X3.1 sebanyak 3 petani menjawab netral, 23 petani menjawab setuju, dan 12 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,24 sehingga
penyuluh berperan sangat penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh memberi program kerja atau pelatihan kepada kelompok tani sebagai bentuk dorongan bagi para petani.
2. Penyuluh mendorong petani untuk meningkatkan hasil produksi kopi arabika (X3.2)
Dari item X3.2 sebanyak 2 petani menjawab netral, 27 petani menjawab setuju, dan 9 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,18 sehingga penyuluh berperan penting pada item tersebut. Penyuluh mendorong petani dari berbagai kegiatan yang dilakukan petani seperti penggunaan bibit unggul dan perawatan tanaman untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika.
3. Penyuluh mendorong petani untuk mengikuti penyuluhan tentang tanaman kopi arabika (X3.4)
Dari item X3.3 sebanyak 2 petani menjawab netral, 22 petani menjawab setuju, dan 14 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,32 sehingga penyuluh berperan sangat penting pada item tersebut. Penyuluh menyediakan informasi mengenai perkembangan produktivitas kopi arabika agar petani memiliki pengetahuan.
4. Penyuluh mendukung petani agar menggunakan bibit kopi arabika dan pupuk yang berkualitas (X3.4)
Dari item X3.4 sebanyak 3 petani menjawab netral, 11 petani menjawab setuju, dan 24 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,55 sehingga penyuluh berperan sangat penting pada item tersebut. Untuk meningkatkan hasil produktivitas kopi arabika penyuluh mendukung penuh penggunaan bibit yang berkualitas dan pemupukan yang benar.
52
5. Penyuluh mendorong petani untuk tetap bergabung dengan kelompok tani kopi arabika (X3.5)
Dari item X3.5 sebanyak 4 petani menjawab netral, 15 petani menjawab setuju, dan 19 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,63 sehingga penyuluh berperan sangat penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh sangat menganjurkan petani agar tetap berada di dalam kelompok tani untuk memberi pengarahan, motivasi dan pengetahuan mengenai produktivitas kopi arabika.
6. Penyuluh mendukung kegiatan-kegiatan yang di lakukan petani misalnya menggunakan pupuk untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika (X3.6) Dari item X3.6 sebanyak 4 petani menjawab netral, 23 petani menjawab setuju, dan 11 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,18 sehingga penyuluh berperan penting pada item tersebut. Dalam hal ini penyuluh menyediakan informasi mengenai penggunaan pupuk yang baik dan benar. Seperti kebutuhan pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman dan dosis untuk pemberiannya.
7. Penyuluh mendorong petani untuk mau menggunakan teknologi baru (X3.7) Dari item X3.7 sebanyak 5 petani menjawab netral, 22 petani menjawab setuju, dan 11 petani menjawab sangat setuju dengan rata-rata sebesar 4,16 sehingga penyuluh berperan penting pada item tersebut. Untuk meningkatkan produktivitas kopi arabika dan mengefisiensikan waktu yang digunakan untuk mengejar produksi, petani harus menggunakan teknologi terbaru. Seperti penggunaan traktor untuk mengolah lahan, pengaturan jarak tanam dan tumpang sari.
Hasil penelitian ini menyetujui penelitian yang dilakukan oleh Padmaswari, dkk., tahun 2018 bahwa penyuluh pertanian berperan sangat penting sebagai motivator.
5.2 Kendala-Kendala yang Dihadapi Penyuluh dalam Kegiatan Penyuluhan 5.2.1 Partisipasi Petani
Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan penyuluh pertanian, didapatkan bahwa kendala yang dihadapi penyuluh adalah petani kurang berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan dimana petani yang hadir hanya sebanyak 50%-70%.
Kemudian dalam melakukan kegiatan penyuluhan waktu yang dibutuhkan tidak tentu karena sesuai dengan materi yang disampaikan penyuluh, petani juga ingin bukti nyata terhadap apa yang telah disampaikan oleh penyuluh pertanian.
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan dirumah petani bila yang disampaikan berupa teori-teori pengetahuan dan penyuluhan diadakan di kebun petani bila materi yang disampaikan membutuhkan praktek dalam pelaksanaannya.
5.2.2 Sarana dan Prasarana Penyuluhan
Sarana dan prasarana merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan penyuluhan. Apabila tidak terdapat sarana dan prasarana maka kegiatan penyuluhan dapat terhambat dan tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan penyuluh di Desa Sait Buttu Saribu, kendala yang dihadapi adalah
1. Jalan yang dilalui memiliki banyak kerusakan sehingga hal ini menjadi hambatan bagi penyuluh untuk melakukan aktivitas penyuluhan.
2. Sarana produksi yang telah diajukan oleh penyuluh kepada dinas pertanian untuk kebutuhan petani tidak terpenuhi dengan tepat waktu.
3. Media penyampaian informasi yang digunakan penyuluh untuk kegiatan penyuluhan masih menggunakan selebaran brosur sehingga proses penyuluhan tidak berjalan dengan lancar.
54 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Peran penyuluh pertanian sebagai dinamisator dan fasilitator berada pada kategori berperan penting, sedangkan peran penyuluh sebagai motivator berada pada ketegori berperan sangat penting.
2. Kendala-kendala yang dihadapi oleh penyuluh dalam kegiatan penyuluhan yaitu petani kurang berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan serta terdapat sarana dan prasarana yang belum memadai .
6.2 Saran
1. Kepada pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan sarana dan prasarana seperti memperbaiki jalanan yang rusak agar kegiatan penyuluhan tidak terkendala lagi.
2. Kepada penyuluh untuk tetap meningkatkan perannya agar petani tetap mengikuti kegiatan penyuluhan guna meningkatkan produktivitas petani kopi arabika di desa Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun.
3. Kepada petani untuk terus aktif mengikuti kegiatan penyuluhan guna memperoleh informasi mengenai budidaya kopi arabika guna meningkatkan produktivitas petani kopi arabika.
4. Kepada peneliti selanjutnya agar menganalisis variabel lain yang mempengaruhi produktivitas.
55
DAFTAR PUSTAKA
Allen, H. F., Mustopa, M. B., Harniatun, I. 2015. Kendala Penyuluh Dalam Melaksanakan Aktivitas Penyuluhan Pada Usahatani Kopi Di Kecamatan Dempo Utara Kota Pagar Alam. Jurnal Societa Vol 4 No. 2.
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.
Rineka.
Astuti, I. W. 2015. Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dalam Peningkatan Produktivitas Pertanian Di Desa Batu Timbau Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kutai Timur. Jurnal Ilmu Pemerintahan Vol 3 no 1.
Badan Pusat Statistik. 2017. Provinsi Sumatera Utara dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik: Sumatera Utara.
Badan Pusat Statistik. 2020. Kabupaten Simalungun dalam Angka 2020.
Badan Pusat Statistik: Kabupaten Simalungun.
Bahua, M. I. 2016. Kinerja Penyuluh Pertanian. Yogyakarta, CV. Budi Utama.
Dinas Perkebunan. 2019. Provinsi Sumatera Utara Dalam Angka 2019. Dinas Perkebunan: Sumatera Utara.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2019. Statistik Perkebunan Indonesia 2018-2020.
Kopi. Jakarta Sekretariat Direktorat jenderal Pertanian.
Idrus, M. 2009. Metode Ilmu Penelitian Sosial Pendekatan Kualitatif dan Institut Pertanian Bogor. Jahi, dkk. 2006. Kinerja Penyuluh Pertanian di Beberapa Kabupaten, Provinsi Jawa Barat. Jurnal Penyuluhan. Vol. 2 No.2.
Juraemi, A. 2020. Peran Penyuluh Pertanian Lapangan Dalam Meningkatkan Produksi Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Di Kelurahan Pulau Atas Kecamatan Sambutan Kota Samarinda. Jurnal Agribisnis Komunikasi Pertanian Volume 3, Nomor 1.
Kansrini, Y., Dwi, F., Puji, W. M. Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (Ppl) Dalam Mendukung Adopsi Budidaya Tanaman Kopi Arabika Yang Baik (Good Agriculture Practices) Oleh Petani Di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Jurnal Agrica Ekstensia Vol. 14 No. 1
Manastas, L. 2013. Teknik Budidaya Tanaman Kopi. Jogjakarta, CV. Trans Idea.
Mardikanto, T. 2009. Sistem Ekonomi dan Peran Penyuluh Pertanian. Sebelas Maret. University Press. Surakarta.
Muzaifah M., Anshar P., Amhar A., Faida R., Dian H., Ismail S. 2016. Kopi Luwak (Produksi, Mutu dan Permasalahannya. Syiah Kuala University Press. Banda Aceh.
56
Padmaswari, N. P. I., Nyoman, S., I Gede, S. A. P. 2018. Peranan Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) Sebagai Fasilitator Usahatani Petani Di Subak Empas Buahan Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan. Jurnal Agribisnis dan Agrowisata Vol. 7 No. 2.
Puspadi, K. 2010. Ekonomi dan Produksi Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Ramalia. 2011. Efisiensi dan Penggunaan Faktor Produksi untuk Meningkatkan Produktivitas. Jurnal Agribisnis Vol 5 No. 1.
Rangkuti, K., Mailina, H., Wien, R. 2018. Peran Penyuluh Pertanian Dalam Pengembangan Kelompok Tani Tanaman Kopi (Caffea) (Studi Kasus: Di Desa Jongok Raya Kec. Bandar Kab. Bener Meriah). Journal of Agribusiness Science Vol 1 No. 2.
Santoso, E. B. 2018. Pengaruh Modal Usaha Dan Pengalaman Kerja Terhadap Pendapatan Petani Kopi Arabika Desa Sinaman Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun. Universitas Negeri Medan, Medan.
Sidauruk, H. F., Eri, S., Kausar. 2016. Persepsi Penyuluh Dan Petani Terhadap Pentingnya Peran Penyuluhan Perkebunan Kopi Arabika Di Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. JOM FAPERTA UR Vol 3 No. 2.
Silva, A. B. S. D. 2012. Pengaruh Kompetensi Dan Peranan Penyuluh Pertanian Terhadap Partisipasi Anggota Coperative Cafe Organik Dan Keberdayaan Petani Kopi Di Suco Estado Sub Distrik Ermera Distrik Ermera Timor Leste. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:Alfabeta
Sunandar, A. 2019. Peranan Penyuluh Pertanian Dalam Peningkatan Kompetensi Petani Padi Sawah (Oryza Sativa L.) (Studi Kasus: Gapoktan Sri Rezeki, Desa Pasar Baru, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai). Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan.
Suwarto. 2009. Berbagai Pandangan Tentang Produktivitas. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Vol. 9, No. 1
Tika, M. P. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Tubagus, M., Wirdo, Trismiaty dan Ismiasih. 2017. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Peningkatan Produktifitas Padi Di Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta Jurnal Masepi Vol 2 No 1.
Tubagus, M., Wirdo, Trismiaty dan Ismiasih. 2017. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Peningkatan Produktifitas Padi Di Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta Jurnal Masepi Vol 2 No 1.