BAB III. PEMBANGUNAN DAN MASALAH LINGKUNGAN …
3.1 Berdirinya Kota Medan dan Awal Pembangunan
BAB III
PEMBANGUNAN DAN MASALAH LINGKUNGAN DI KOTA MEDAN
3.1 Berdirinya Kota Medan dan Awal Pembangunan
Awal mula berdirinya Kota Medan merupakan suatu historis yang panjang, dimulai dari dibukanya satu perkampungan sampai pada perkembangan dari perkebunan tembakau dan masa penjajahan dari Belanda dan Jepang hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia. Pertumbuhan dari masa ke masa tersebut merupakan suatu perkembangan yang menjadi awal pembangunan di Kota Medan.
Kota Medan untuk pertama kalinya dibuka pada tahun 1590-an, oleh Guru Patimpus. Guru Patimpus adalah seorang yang bersuku Karo dan beragama Islam.
Sejarah mencatat agama Islam masuk ke Sumatera Timur dalam paro kedua dari abad ke 16. Perkampungan yang dibuka oleh Guru Patimpus, posisinya terletak pada pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura (di sekitar kawasan jalan Putri Hijau sekarang), yang diberi nama Medan Putri. Kawasan tersebut merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, maka Medan Putri yang
Iskandar Arif Purba : Pengaruh Pembangunan Terhadap Kehidupan Masyarakat Di Kota Medan (Studi Deskriptif Mengenai Masalah Lingkungan di Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan), 2009.
USU Repository © 2009
merupakan cikal bakal kota Medan, dengan cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Tanah Deli (sebutan untuk Kota Medan pada masa lalu) memasuki masa kejayaannya pada tahun 1860-an sampai tahun 1870-an, yang ditandai dengan keberadaan kebun tembakau yang cukup luas di Tanah Deli. Tembakau tersebut merupakan tembakau yang sangat baik dan berkualitas tinggi, sehingga menjadi komoditi ekspor ke Eropa.
Bersamaan dengan pesatnya pembukaan lahan baru untuk perkebunan tembakau. 1890-1920 adalah era dimana gelombang kuli untuk bekerja di perkebunan tembakau swasta milik Belanda datang secara besar-besaran. Para kuli yang disebut kuli kontrak adalah kebanyakan dari Jawa. Kebanyakan dari mereka tertipu oleh bujukan para agen pencari kerja yang mengatakan kepada mereka bahwa Deli adalah tempat dimana pohon yang berdaun uang (metafor dari tembakau). Dijanjikan akan kaya raya namun kenyataannya mereka dijadikan budak. Selama puluhan tahun mereka menjalani kehidupan yang sangat tidak manusiawi, upah yang sangat rendah, dan perlakuan kasar dari majikan.
Keberadaan tembakau deli yang terkenal saat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi bangsa lain untuk menguasai kekayaan alam yang ada di Kota Medan. Ketertarikan Belanda dengan kondisi tersebut menghasilkan suatu kerja sama dan suatu perjanjian yang ditandatangani Belanda dengan Sultan Deli pada tahun 1865.
Perjanjian tersebut merupakan dasar berdirinya perusahaan De Deli Maatschappij yang disingkat Deli Mij di Labuhan. Pada tahun 1869, kantor pusat Deli Mij berpindah dari Labuhan ke Kampung Medan. Kantor baru itu dibangun
Iskandar Arif Purba : Pengaruh Pembangunan Terhadap Kehidupan Masyarakat Di Kota Medan (Studi Deskriptif Mengenai Masalah Lingkungan di Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan), 2009.
USU Repository © 2009
di pinggir sungai Deli, tepatnya di kantor PTPN II (eks PTPN IX) sekarang.
Dengan perpindahan kantor tersebut, Medan dengan cepat menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan, sekaligus menjadi daerah yang paling mendominasi perkembangan di Indonesia bagian barat. Pesatnya perkembangan perekonomian mengubah Deli menjadi pusat perdagangan yang mahsyur.
Orang lain yang juga mempunyai pengaruh penting dalam sejarah pembangunan di Kota Medan, yaitu Tjong A Fie, yang datang dari Canton. Tahun 1875, Tjong A Fie mengadu peruntungannya di Tanah Deli bersama abangnya Tjong Yong Hian. Dia membangun hubungan baik dengan Sultan Deli dan kaum Belanda pemilik perkebunan, sehingga kemudian dia ditunjuk sebagai “Majoor der Chineezen” atau Pemimpin komunitas China. Rumah Tjong A Fie di Kesawan rampung sekitar tahun 1900an, sebuah bangunan dengan perpaduan arsitektur dari China-Eropa dan Art Deco. Tahun 1913 dia menyumbangkan jam kota untuk gedung Balai Kota.
Medan yang tumbuh dari kota dagang berkembang sebagai pusat pemerintahan. Pada 1 Maret 1887, ibu kota Karesidenan Sumatera Timur dipindahkan dari Bengkalis ke Medan. Setelah selesainya pembangunan Istana Maimun pada 18 Mei 1891, seiring dengan itu ibu kota Kesultanan Deli resmi pindah ke Medan. Pada tahun 1907 dibuka bank pertama di Medan, yaitu De Javasche Bank (kini Bank Indonesia). Pada tahun 1915, Medan secara resmi menjadi ibu kota provinsi Sumatra Utara, dan pada tahun 1918 resmi menjadi sebuah kotapraja.
Masa pendudukan Belanda di Tanah Deli berakhir pada 1942, ketika bala tentara Jepang mendarat di tanjung Tiram, Asahan. Di masa pendudukan Jepang,
Iskandar Arif Purba : Pengaruh Pembangunan Terhadap Kehidupan Masyarakat Di Kota Medan (Studi Deskriptif Mengenai Masalah Lingkungan di Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan), 2009.
USU Repository © 2009
perekonomian rakyat Deli menjadi carut-marut. Masa keemasan Deli pun berakhir, dan kemasyuran tembakau Deli yang wangi dan sempat merajai pusat lelang tembakau dunia di Bremen, Jerman, kini tak terdengar lagi (Majalah Gatra, Edisi Khusus:2005).
Peristiwa besar yang terjadi di Indonesia pada 17 Agustus 1945, merupakan suatu keadaan yang menjadi pemicu masyarakat Kota Medan mulai membangun kembali daerahnya, namun pada 1 September 1945 terjadinya ketegangan antara masyarakat Kota Medan dengan Belanda dan sebagian tentara Jepang yang berpihak pada Belanda, menyebabkan terjadinya pertempuran di Kota Medan, yaitu Pertempuran Medan Area. Pertempuran itu menghasilkan kemerdekaan bagi masyarakat Kota Medan seutuhnya.
Pada tahun 1998, dari 4 hingga 7 Mei, Medan dilanda kerusuhan besar yang menjadi titik awal kerusuhan-kerusuhan besar yang kemudian terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Dalam kerusuhan yang terkait dengan gerakan
“Reformasi” ini, terjadi pembakaran, perusakan, maupun penjarahan yang tidak dapat dihentikan aparat keamanan.
Saat ini kota Medan telah kembali berseri. Pembangunan prasarana dan sarana umum gencar dilakukan. Meski jumlah jalan-jalan yang rusak dan berlubang masih ada, namun jika dibandingkan dengan dahulu, kondisinya sudah lebih baik. Kendala klasik yang dihadapi kota modern seperti Medan adalah kemacetan akibat jumlah kenderaan yang meningkat pesat dalam hitungan bulan, tidak mampu diimbangi dengan pertumbuhan ruas jalan yang memadai.
Iskandar Arif Purba : Pengaruh Pembangunan Terhadap Kehidupan Masyarakat Di Kota Medan (Studi Deskriptif Mengenai Masalah Lingkungan di Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan), 2009.
USU Repository © 2009
Saat ini, Medan terus berbenah dan pembangunan fisik terus berlangsung, sehingga pertumbuhan yang pesat tersebut mendorong Medan berkembang menjadi kota ketiga terbesar di Indonesia.