• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERLAKU BAGI PENDUDUK HINDU BALI DARI KABUPATEN BULELENG

Dikeluarkan oleh: Residen Bali dan Lombok dengan permusyawarahan bersama-sama Pedanda-pedanda dan Punggawa-Punggawa.

Pasal 1

(1) Apabila seseorang meninggal dunia, maka harta pening galannya setelah pelunasan hutang-hutangnya pertama-tama harus dipergunakan untuk pembiayaan Pengabenan (Upatjara Pembakaran Djenasah).

(2) Sebelum pengabenan diselenggarakan, dilarang melakukan pembagian atas harta peninggalan itu atau melepaskan (mendjual, menggadaikan, dsb), kecuali untuk keperluan tersebut.

Pasal 2

(1) Sisa harta warisan setelah dipakai untuk pembiayaan pengabenan sebelum dilakukan pembagian, harus disediakan dulu untuk keperluan-keperluan hidup dari keluarga yang ditinggalkan.

(2) Pengurusan atas harta itu dijalankan secara damai bersama-sama oleh mereka yang bersangkutan. Seorang djanda yang tidak mempunyai anak lelaki dewasa dalam pengurusan itu dibantu oleh anggota keluarga lelaki seluruh yang paling dekat dan yang paling dewasa dalam pantjar lelaki sebagai wali dari anak-anaknya.

(3) Pelepasan tanggan/penggadaian dari barang-barang itu hanya dapat dilakukan dengan persetujuan dari semua mereka yang berkepentingan dan hal itu sama sekali tidak boleh dilakukan selama diantara mereka terdapat anak-anak yang berlum dewasa.

Pasal 3

(1) Jika terhadap suatu bundel akan dilaksanakan pembagian maka tjara-tjara untuk itu diserahkan kepada pemusya warahan setjara damai dari yang bersangkutan. Pem bagian yang telah dilakukan mengenai tanah-tanah harus segera dilaporkan kepada pengurus sawah atau pamong desa bagi kepentinggan tata usaha.

(2) Apabila oleh seorang atau beberapa orang anak-anak lelaki yang sudah kawin dalam pembagian itu diminta kan perantara pemerintah maka pembagian akan diatur demikain rupa, sehingga si janda mendapat satu bagian, masing-masing anak lelaki dua bangian dan masing-masing anak perempuan setengah bagian. Bila tidak anak-anak lelaki maka setiap warisan akan jatuh kepada wanita-wanita yang masih ada seperti yang disebutkan tadi itu.

Pasal 4

Apabila sijanda kawin lagi atau salah seorang dari anak-anak perempuannya menikah maka bagian warisan itu, begitu pula mas kawin (uang pembelinjah) yang diatur untuk mereka itu dibagi antara mereka yang lainnya berhak menerima harta warisan sesuai dengan peraturan pembagian seperti yang diamksudkan dalam pasal diatas.

Pasal 5

(1) Apabila seorang janda meninggal maka anak-anaknya menyelenggarakan pengabenannya dan seterusnya bersama-sama secara damai meneruskan pengurusan harta peninggalan itu ataupun atas persetujuan bersama-sama mengadakan pembagian.

(2) Jika dalam pembagian itu dimintakan perantara peme rintah, maka masing-masing anak lelaki menerima dua bagian dan masing-masing anak perempuan setengah bagian.

(3) Dalam hal nak-anak lelaki itu belum dewasa, maka yang menguruskan harta peninggalan ialah anggota keluarga lelaki terdekat yang sedarah dan yang sudah dewasa dalam keturunan lelaki, yang akan tetapi tidak berhak melepaskan atau menggadaikan barang barang warisan tersebut kecuali untuk kepentingan pengabenan dari yang meninggal.

Pasal 6

(1) Apabila seorang anak yang kawin dari seorang janda mati maka harta warisan setengah dikurangi ongkos-ongkos pengabenan, jatuh pada anggota-anggota lain dari

keluarga itu sesuai dengan ketentuan seperti yang dimuat dalam pasal 2 dan pasal 3 tersebut diatas.

(2) Jika seorang anak lelaki yang kawin meninggal, maka keluarganya menggantikan dalam hak atas sebagian dari harta warisan si ayah dari anak lelaki itu.

Pasal 7

(1) Apabila serang duda atau seorang janda yang tidak mempunyai anak-anak lelaki atau anak-anak perempuan ayang belum kawin ataupun seorang wanita yang tidak pernah kawin meninggal dunia, maka harta warisan diwarisi oleh anggota-anggota keluarga lelaki sedarah yang terdekat dalam pantjar lelaki sampai derajat kedelapan, akan tetapi pemerintah berkuasa memberikan rumah dan pekarangan kepada mereka yang dianggap peling berhak atas barang-barang itu.

(2) Para ahli waris wajib pertama-tama dengan memakai harta peninggalan itu membiayai (ongkos-ongkos) pengabenan dari si mati yang dalam jangka waktu tiga tahun harus dilakukan kalau upacara itu tidak (segera) diselenggarakan, sesudah meninggalnya.

Pasal 8

(1) Jika simendiang tidak mempunyai anggota-anggota keluarga seperti yang dimaksud kan pada pasal 7 di atas itu, maka dengan permusyawarahan punggawa yang bersangkutan dan pedanda-pedanda, ditunjuk seorang untuk menyelenggarakan pengabenan, dalam hal mana harus pula diingat kepada anak-anak perempuan yang telah kawin dan seterusnya kepada anggota-anggota keluarga dalam keturunan perempuan.

(2) Setelah pembiayaan dari pengabenan tersebut, maka sisa dari harta warisan diterima oleh penyelenggara-penye lenggara pengabenan itu.

Pasal 9

Apabila seorang wanita bertingkah laku tidak baik dan meninggal pekarangan rumah keluarganya, maka sesudah mendapatkan izin dari pemerintah barang-barang yang mungkin diberikan kepadanya berasal dari harta warisan harus dicabut dari tangannya dan selanjutnya barang-barang itu diperlakukan seolah-olah dia itu meninggal dunia.

Pasal 10

(1) Seorang wanita tidak boleh melepaskan atau menggadai kan barang-barang yang diterimanya sebagai warisan tanpa izin dari ahli waris – ahli warisnya.

(2) Jika ahli waris–ahli waris itu semua wanita maka izin itu harus juga ada dari anggota-anggota keluarga lelaki se darah yang terdekat sebagai yang disebut dalam pasal 7.

Pasal 11

Tentang pengangkatan anak atau sentana peperasan adalah:

(1) Apabila seorang anak tergolong dalam kasta maupun juga yang tidak mempunyai anak laki-laki, berkehendak mengangkat seorang anak (memeras sentana) maka karena itu harus menjatuhkan pilihannya atas seorang dari anggota keluarga sedarah yang terdekat dalam keturunan lelaki sampai derajat kedelapan .

(2) Orang boleh menyimpang dari peraturan ini dengan izin sejelas-jelasnya dari anggota-anggota keluarga yang lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan anak yang ingin dijadikan sentana dibandingkan dengan mereka yang berhak melakukan pengangkatan itu, atau setelah mendapat izin dari pemerintah apabila peme rintah berpendapat bahwa cukup terdapat alasan untuk menyimpang dari peraturan seperti yang disebutkan dalam pasal ini ayat (1).

(3) Apabila tidak terdapat anggota-anggota keluarga yang sedarah sampai derajat tersebut diatas, amak pilihannya adalah bebas dengan pengertian (akan tetapi), bahwa baik didalam hal pertama maupun didalam hal yang kedua seorang tudak boleh diangkat menjadi anak sentana dengan siapa orang itu telah pernah berperkara yang diselesaikan dengan pengangkatan sumpah.

(4) Bagi tiap-tiap transaksi tentang pengangkatan anak sentana harus dibuatkan surat dikantor kepala kabupaten (controlir).

(5) Seorang anak sentana mempunyai hak dan kewajiban-kewajiban terhadap mereka yang mengangkatnya sama sebagai anak kandung, akan tetapi ia kehilangan hak-haknya atas bagian harta peninggalan di rumah keluarga nya sendiri.

Demikianlah dibuat di Singaraja Pada hari sabtu tanggal 13 oktober 1900.

YURISPRUDENSI

PUTUSAN RAAD KERTHA DI BALI

Dokumen terkait