BAB III PERSYARATAN INTERKONEKSI
C. BERLAKUNYA PERUBAHAN
C. BERLAKUNYA PERUBAHAN
Perubahan atau penggantian Perjanjian Interkoneksi eksisting menjadi Perjanjian Interkoneksi berdasarkan DPI TELKOM dan DPI Pencari Akses perlu ditindaklanjuti dengan perubahan aspek teknis seperti sistem billing dan parameter-parameter Interkoneksi. Oleh karena itu, dalam amandemen Perjanjian Interkoneksi atau dalam Perjanjian Interkoneksi yang baru, TELKOM dan Pencari Akses harus menyepakati batas waktu atau tanggal Perjanjian Interkoneksi mulai diimplementasikan.
PERJANJIAN INTERKONEKSI
PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk
2012
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal i dari iii
[halaman ini sengaja dikosongkan]
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal ii dari iii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ii BAB I - KETENTUAN UMUM ... 2 Pasal 1 - Definisi dan Istilah ... 2 Pasal 2 - Lingkup Interkoneksi ... 2 Pasal 3 – Masa Berlaku Perjanjian ... 3 BAB II KETENTUAN PARA PIHAK ... 3 Pasal 4 - Hak dan Kewajiban TELKOM ... 3 Pasal 5 - Hak dan Kewajiban MITRA ... 4 Pasal 6 - Representasi dan Jaminan ... 4 Pasal 7 - Penyediaan Informasi dan Kerahasiaan ... 5 Pasal 8 - Hak Atas Kekayaan Intelektual ... 6 Pasal 9 - Pelimpahan Hak Atas Kewajiban ... 6 Pasal 10 – Pembebasan ... 6 Pasal 11 – Tanggung jawab Atas Kelalaian ... 7 Pasal 12 – Forum Konsultasi/Koordinasi ... 7 Pasal 13 – Nota Pemberitahuan dan Wakil-wakil Para Pihak ... 7 BAB III – KETENTUAN TEKNIS DAN OPERASIONAL ... 8 Pasal 14 – Persyaratan Teknis dan Standar Interkoneksi ... 8 Pasal 15 – Penyediaan Perangkat, Link Interkoneksi dan FPI ... 8 Pasal 16 – Perkiraan Kapasitas Interkoneksi ... 8 Pasal 17– Penomoran ... 9 Pasal 18 – Identitas Nomor Pemanggil (Calling Line Identification = CLI) ... 9 Pasal 19 – Kualitas Panggilan Interkoneksi ... 9 Pasal 20 - Pemasangan Perangkat dan Uji Coba Sistem Interkoneksi ... 9 Pasal 21– Modifikasi Sistem/Sub-Sistem ... 10 Pasal 22 – Operasi dan Pemeliharaan ... 11 Pasal 23 – Perlindungan dan Keamanan Sistem ... 11 BAB IV – KETENTUAN KEUANGAN ... 11 Pasal 24 – Layanan/Jasa dan Tarif ... 11 Pasal 25 – Pembebanan Biaya, Penagihan, dan Pembayaran ... 12 Pasal 26 – Jaminan Pembayaran ... 12 BAB V – KETENTUAN LAIN-LAIN ... 13 Pasal 27 - Force Majeure ... 13 Pasal 28 – Fraud... 13 Pasal 29 - Pelanggaran Perjanjian ... 14 Pasal 30 – Sanksi ... 15 Pasal 31 – Penyelesaian Perselisihan ... 15 Pasal 32 – Berakhirnya Perjanjian ... 15 Pasal 33 - Pencabutan Tuntutan ... 16 Pasal 34 – Ketentuan Yang Dapat Dipisahkan ... 16 Pasal 35 - Peninjauan Kembali dan Penetapan Regulator ... 17 Pasal 36 – Perubahan ... 17 Pasal 37 - Struktur Naskah Perjanjian ... 18 Pasal 38 – Ketentuan Penutup ... 18 DAFTAR DOKUMEN PENDUKUNG PERJANJIAN INTERKONEKSI ... 19
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal iii dari iii
[halaman ini sengaja dikosongkan]
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 1 dari 19
PERJANJIAN KERJA SAMA (PKS)
INTERKONEKSI JARINGAN TELEKOMUNIKASI JARTAP TELKOM – (JARTAP/JARBER MITRA)
NOMOR : /HK.810/DCI-A1000000/20XX
NOMOR : ...
Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani pada hari ini [...nama hari..] tanggal [....tgl/bln/thn...], bertempat di [....kota...], antara pihak-pihak :
I. PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA (PERSERO), Tbk, suatu perusahaan penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi, yang dibentuk dan didirikan berdasarkan hukum negara Republik Indonesia, berkedudukan di Jalan Japati No. 1, Bandung 40133, dalam Perjanjian ini diwakili secara sah oleh [...nama...], Jabatan [EGM Divisi CIS], selanjutnya dalam Perjanjian ini disebut “TELKOM”, II. [PT. (MITRA)], suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan Akta Notaris [...nama notaris ...],
SH. di [ ...kota...], Nomor: [....] tanggal [...], yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI berdasarkan Surat Keputusan No. [...nomor...] tanggal [...tgl...] dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. [....] tanggal [...], dan perubahannya terakhir dengan Akta Notaris [...nama notaris ...], SH di [...
kota...], Nomor: [...] tanggal [...], berkedudukan di Jalan [...] No. [....], Kelurahan [...], [... kota...] [....kode pos...], dalam Perjanjian ini diwakili secara sah oleh [...nama...], Jabatan Direktur Utama (atau Pejabat lain yang berwenang atau diberi kewenangan berdasarkan Surat Kuasa), selanjutnya disebut “(MITRA)”.
Untuk maksud Perjanjian ini, TELKOM dan (MITRA) masing-masing disebut juga sebagai “Pihak”, dan secara bersama-sama disebut “Para Pihak”.
Dengan terlebih dahulu mempertimbangkan dan memperhatikan hal-hal berikut:
a. bahwa TELKOM adalah Penyelenggara JARTEL dan JASTEL berlisensi (pencantuman lisensi sesuai kebutuhan dalam kerja sama) :
1) Penyelenggaraan JARTAPLOK, JARTAP-JJ dan JARTAPIN, baik yang berbasis kabel (wireline) maupun nirkabel (wireless), termasuk di dalamnya sebagai penyelenggara JASPONDAS yang melekat padanya (JASPONDASLOK, JASPONDAS SLJJ dan JASPONDAS SLI) beserta fitur-fitur dan jasa-jasa turutannya serta jasa-jasa telekomunikasi nilai tambah lainnya;
2) Penyelenggaraan JARTUP (Jaringan Tetap Tertutup);
b. bahwa MITRA adalah penyelenggara JARTEL. [...jenis JARTEL (JARTAP, JARBERSEL, atau JARBERSAT)....]
dengan cakupan [...lokal, regional atau nasional...] berdasarkan ijin penyelenggaraan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Nomor [...] tahun [...], tanggal [...];
c. bahwa Para Pihak telah melakukan beberapa kali pembahasan tentang ……sebagaimana dimaksud dalam risalah rapat tanggal …….
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 2 dari 19
d. bahwa dalam rangka operasionalisasi secara komersial, MITRA bermaksud menginterkoneksikan JARTEL-nya dengan JARTAP TELKOM secara bertahap seiring dengan kesiapan operasi masing-masing lokasi dalam cakupannya;
TELKOM dan (MITRA) sepakat untuk saling mengikatkan diri dalam “Perjanjian Interkoneksi Jaringan Telekomunikasi" (selanjutnya disebut “Perjanjian”), dengan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang dirumuskan dalam pasal-pasal berikut ini :
BAB I - KETENTUAN UMUM
Pasal 1 - Definisi dan Istilah
Kecuali ditentukan lain, Para Pihak sepakat untuk mengartikan kata, dan/atau istilah-istilah yang digunakan dalam Perjanjian ini sesuai pengertian yang tercantum dalam Dokumen Pendukung E (tentang “Definisi dan Istilah”)
Pasal 2 - Lingkup Interkoneksi (1)
(1)
(1) TELKOM dan (MITRA) sepakat untuk mengadakan Interkoneksi JARTEL, termasuk di dalamnya penyaluran Panggilan Interkoneksi berbagai jenis JASTEL di antara JARTEL masing-masing Pihak.
(2) Sehubungan dengan Interkoneksi JARTEL dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), masing-masing Pihak wajib saling membuka seluruh Prefiks dan/atau Kode Akses yang digunakan secara sah serta diaktifkan oleh Pihak lainnya, termasuk membuka blok nomor Pelanggan dan/atau office code yang relevan sedemikian rupa sehingga setiap Pengguna/Pelanggan dari masing-masing Pihak, dengan memperhatikan syarat yang diberlakukan masing-masing Pihak terhadap Pengguna/Pelanggannya dapat:
a. memanggil dan/atau menerima panggilan dari nomor Pelanggan Pihak lainnya;
b. memanfaatkan fitur-fitur yang dapat difungsikan untuk Panggilan Interkoneksi, seperti fitur SMS, call forwarding, dan sejenisnya;
c. mengakses atau memanfaatkan berbagai jenis JASTEL yang melekat pada JARTEL Pihak lainnya, baik JASTEL tersebut diselenggarakan sendiri oleh Pihak yang bersangkutan, maupun diselenggarakan secara kerjasama dengan pihak ketiga, termasuk namun tidak terbatas pada akses ke jasa SLI, Jasa Nilai Tambah.
(3) Pemanfaatan fitur-fitur dan akses JASTEL dimaksud Pasal 2 ayat (2) huruf b dan huruf c hanya dapat dilakukan sepanjang secara teknis dan bisnis telah disepakati dan dituangkan dalam Perjanjian.
(4) Akses dari Pengguna masing-masing Pihak ke jasa-jasa yang diselenggarakan oleh Pihak lainnya selain yang tersebut dalam Pasal 2 ayat (2) dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan Para Pihak yang dituangkan dalam Perjanjian.
(5) Sepanjang tidak ada kendala teknis dan bisnis, apabila TELKOM telah mengadakan perjanjian interkoneksi dengan pihak ketiga, maka TELKOM akan membuka Interkoneksi agar antara Pengguna JARTEL (MITRA) dan Pengguna JARTEL pihak ketiga tersebut dapat saling mengadakan Panggilan Interkoneksi satu sama lain melalui JARTAP TELKOM.
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 3 dari 19
Pasal 3 – Masa Berlaku Perjanjian
(1) Perjanjian ini berlaku efektif selama [...2 atau 3...] [...(dua) atau (tiga)...] tahun terhitung mulai tanggal …… sampai dengan tanggal ….. dan dapat diperpanjang untuk setiap periode [...2 atau 3...]
[...(dua) atau (tiga)...] tahun berikutnya atau diakhir sebelum masa berlakunya berakhir berdasarkan kesepakatan Para Pihak yang dituangkan dalam bentuk Amandemen
(2) Perjanjian ini dapat dievaluasi setiap 6 (enam) bulan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan teknis dan/atau bisnis guna mendukung kelancaran kerja sama pada tahun berjalan dan/atau pengembangannya pada tahun berikutnya.
(3) Dengan berakhirnya Perjanjian, segala hak dan kewajiban masing-masing Pihak yang belum dilaksanakan sampai dengan berakhirnya Perjanjian ini, tetap harus dipenuhi oleh Pihak tersebut sesuai ketentuan-ketentuan pada Perjanjian ini.
(4) Demi mempertahankan pelayanan kepada Pengguna masing-masing Pihak, panggilan dari Pengguna salah satu Pihak ke Pengguna Pihak lainnya dapat disalurkan melalui Penyelenggara Jaringan lain yang berinterkoneksi dengan masing-masing Pihak.
(5) Dalam hal masa berlaku Perjanjian telah berakhir dan Perjanjian belum diperpanjang, masing-masing Pihak tetap dapat menyalurkan Panggilan Interkoneksi sesuai dengan ketentuan dan syarat yang ditetapkan dalam Perjanjian ini, sampai dengan dilakukannya perpanjangan dan/atau perubahan terhadap Perjanjian ini.
BAB II KETENTUAN PARA PIHAK Pasal 4 - Hak dan Kewajiban TELKOM
(1) (1) (1) (1)
(1) Selain kewajiban-kewajiban yang tercantum pada Pasal-pasal lain dalam Perjanjian ini dan/atau Dokumen Pendukung yang relevan, TELKOM berkewajiban :
a. Melakukan proses billing Interkoneksi untuk keperluan settlement interkoneksi.
b. Membayar Biaya yang menjadi hak (MITRA), di mana untuk layanan jasa-jasa TELKOM yang digunakan oleh Pengguna (MITRA), Biaya tersebut sudah mencakup Biaya Interkoneksi, billing dan penagihan ke Pengguna serta resiko bad debt.
c. Melaksanakan hal-hal yang disepakati dalam mekanisme billing dan penagihan terkait dengan akses layanan/jasa TELKOM oleh Pengguna JARTEL (MITRA) atau akses layanan/jasa (MITRA) oleh Pengguna JARTEL TELKOM, sebagaimana tercantum dalam Dokumen Pendukung B (tentang
“Penagihan dan Pembayaran”).
d. Membayar biaya-biaya yang menjadi hak (MITRA) terkait dengan kesepakatan dalam mekanisme billing dan penagihan dimaksud.
(2) Selain hak-hak yang tercantum pada Pasal-pasal lain dalam Perjanjian ini dan/atau Dokumen Pendukung yang relevan, TELKOM berhak :
a. Menerima pembayaran Biaya Interkoneksi yang menjadi hak TELKOM.
b. Menentukan keseluruhan besaran Tarif Pungut layanan/jasa TELKOM SLI, IN, dan/atau jasa-jasa lainnya yang dikenakan kepada Pengguna JARTEL (MITRA) sepanjang TELKOM bertindak sebagai penyelenggara layanan/jasa-jasa dimaksud. Apabila TELKOM bertindak sebagai penyelenggara layanan/jasa, (MITRA) tidak berhak menambahkan suatu komponen besaran apapun terhadap tarif Pungut layanan/jasa TELKOM tersebut tanpa ada persetujuan tertulis dari TELKOM.
c. Menerima pembayaran pendapatan layanan/jasa yang menjadi hak TELKOM sebagaimana dimaksud dalam huruf b.
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 4 dari 19
d. Menerima pembayaran atas biaya-biaya yang menjadi hak TELKOM sehubungan dengan kesepakatan dalam mekanisme billing dan penagihan yang tercantum dalam Dokumen Pendukung B (tentang “Penagihan dan Pembayaran”).
Pasal 5 - Hak dan Kewajiban MITRA (1)
(1)
(1) Selain kewajiban-kewajiban yang tersirat dan tersurat pada Pasal-pasal lain dalam Perjanjian ini dan/atau Dokumen Pendukung yang relevan, MITRA berkewajiban :
a. Melakukan proses billing interkoneksi untuk keperluan settlement interkoneksi.
b. Membayar Biaya Interkoneksi yang menjadi hak TELKOM.
c. Melaksanakan hal-hal yang disepakati dalam mekanisme billing dan penagihan terkait dengan akses layanan/jasa TELKOM oleh Pengguna JARTEL MITRA atau akses layanan/jasa MITRA oleh Pengguna JARTEL TELKOM, sebagaimana tercantum dalam Dokumen Pendukung B (tentang
“Penagihan dan Pembayaran”).
d. Membayar biaya-biaya yang menjadi hak TELKOM terkait dengan kesepakatan dalam mekanisme billing dan penagihan dimaksud.
(2) Selain hak-hak yang tersirat dan tersurat pada Pasal-pasal lain dalam Perjanjian ini dan/atau Dokumen Pendukung yang relevan, MITRA berhak:
a. Menerima pembayaran Biaya Interkoneksi yang menjadi hak MITRA .
b. Menentukan Tarif Pungut layanan/jasa MITRA yang dikenakan kepada Pengguna JARTAP TELKOM sepanjang MITRA bertindak sebagai penyelenggara layanan/jasa dimaksud.
c. Menerima pembayaran pendapatan layanan/jasa yang menjadi hak MITRA sebagaimana dimaksud dalam huruf b.
d. Menerima pembayaran atas biaya-biaya yang menjadi hak MITRA sehubungan dengan kesepakatan dalam mekanisme billing dan penagihan yang tercantum dalam Dokumen Pendukung B (tentang “Penagihan dan Pembayaran”).
Pasal 6 - Representasi dan Jaminan (1)
(1)
(1) Masing-masing Pihak menjamin dan menyatakan bahwa Pihaknya berwenang secara penuh (baik individu yang mewakili masing-masing Pihak maupun perusahaan selaku badan hukum) untuk mengikatkan diri dalam Perjanjian ini dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban sesuai dengan ketentuan Perjanjian ini, dan bahwa masing-masing Pihak telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh kewenangan yang sah atas pengikatan dirinya dan pelaksanaan Perjanjian ini.
(2) Masing-masing Pihak menjamin bahwa Pihaknya memiliki sumber-sumber keuangan yang diperlukan untuk membiayai kewajiban-kewajiban dan melaksanakan Perjanjian ini, dan menjamin bahwa tidak ada satupun beban, tanggungan, tanggungan bersama, kewajiban atau pembatasan-pembatasan operasi atau kegiatan dari Pihak yang menyatakan jaminan ini merintangi atau mengganggu pelaksanaan kewajiban-kewajiban berdasarkan Perjanjian ini.
(3) Masing-masing Pihak menjamin bahwa tak satupun pengikatan diri dan pelaksanaan Perjanjian ini akan melanggar suatu perjanjian hutang atau perjanjian lain, serta tidak pula merupakan pelanggaran atas perjanjian tersebut dimana Pihak yang memberikan jaminan ini ada di dalamnya.
(4) Sebagai persyaratan bagi Para Pihak untuk mengikatkan diri dalam Perjanjian ini, masing-masing Pihak
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 5 dari 19
berjanji, menjamin dan menyatakan kepada Pihak lainnya bahwa :
a. Pihak yang bersangkutan beserta para pejabatnya, para komisarisnya, para karyawannya dan para agen atau perwakilannya, atau para individu atau badan yang terafiliasi dengannya baik secara langsung maupun tak langsung, dalam melaksanakan Perjanjian ini, wajib setiap saat mentaati ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
b. Perjanjian ini dibuat dan dilaksanakan secara sah oleh Pihak yang bersangkutan dan merupakan Perjanjian yang berlaku serta mengikat secara hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan tak ada satupun pengikatan dan pembuatan ataupun pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan Perjanjian ini akan bertentangan atau mengakibatkan pelanggaran hukum.
c. Pihak yang bersangkutan wajib menyampaikan laporan-laporan yang disyaratkan berdasarkan ketentuan undang-undang dan wajib membayar seluruh pajak yang jatuh tempo yang menyangkut pembayaran-pembayaran dari Perusahaan kepada Pihak lainnya.
Pasal 7 - Penyediaan Informasi dan Kerahasiaan (1)
(1)
(1) Masing-masing Pihak wajib memberikan informasi relevan yang dibutuhkan oleh Pihak lainnya untuk membangun dan melaksanakan Interkoneksi berdasarkan Perjanjian ini.
(2) Dengan tetap memegang teguh kewajiban menjaga kerahasiaan informasi, masing-masing Pihak berhak meminta kepada Pihak lainnya informasi mengenai protokol yang digunakan oleh Pihak yang bersangkutan untuk keperluan Interkoneksi dan penerusan Panggilan Interkoneksi, dan Pihak yang diminta, apabila memilikinya, wajib memberikan informasi tersebut sepanjang tidak terdapat standar internasional menyangkut protokol dimaksud.
(3) Para Pihak sepakat untuk memperlakukan seluruh informasi yang saling dipertukarkan di antara keduanya sebagai sesuatu yang rahasia (“Informasi Rahasia”). Oleh karena itu, Para Pihak tidak akan mengungkapkan informasi tersebut kepada siapapun, baik sebagian maupun seluruhnya, kecuali untuk yang secara tegas diperbolehkan dalam Pasal 9 ayat (5) di bawah ini.
(4) Salah satu Pihak tidak diperbolehkan untuk mempergunakan Informasi Rahasia untuk tujuan lainnya selain untuk mengimplementasikan Perjanjian ini, termasuk diantaranya mempergunakannya untuk memperoleh keuntungan bagi siapapun, tanpa memperoleh persetujuan tertulis dari Pihak pemilik Informasi Rahasia dimaksud.
(5) Para Pihak dapat mengungkapkan Informasi Rahasia hanya kepada para pemegang saham, direksi, komisaris masing-masing Pihak, pegawai-pegawai dari masing-masing Pihak yang secara langsung berhubungan dengan penyusunan dan pengimplementasian Perjanjian ini, para penasihat dan konsultan dari masing-masing Pihak yang karena profesi dan keharusannya mengetahui Informasi Rahasia untuk tujuan mengimplementasikan dan pengkajian atas Perjanjian ini maupun kepentingan penyusunan berbagai laporan yang diwajibkan, serta kepada pejabat instansi pemerintah terkait dan pengadilan sebagai salah satu bahan pembuktian penyelesaian sengketa.
(6) Para Pihak sepakat untuk mengecualikan Informasi Rahasia yang diberikan oleh pemilik Informasi Rahasia kepada penerima Informasi Rahasia menjadi tidak bersifat rahasia lagi apabila :
a. Telah menjadi milik publik sebelum atau pada saat ditandatanganinya Perjanjian ini;
b. Diterima dari pihak ketiga yang mendapatkan informasi secara sah dari pemilik Informasi Rahasia dan tidak diwajibkan untuk dirahasiakan;
c. Telah diketahui oleh Pihak penerima Informasi Rahasia sebelum Informasi Rahasia tersebut diungkapkan;
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 6 dari 19
d. Telah diungkapkan oleh salah satu Pihak kepada Pihak lainnya tanpa adanya larangan/pembatasan untuk mengungkapkan Infomasi Rahasia tersebut;
(7) Para Pihak sepakat bahwa ketentuan mengenai kerahasiaan sebagaimana tercantum pada Pasal ini tetap berlaku untuk jangka waktu yang ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila pengaturan mengenai jangka waktu tersebut belum ada, maka disepakati selama 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal berakhirnya Perjanjian ini dikarenakan oleh sebab apapun, tanpa membatasi hak masing-masing Pihak untuk mempergunakan Informasi Rahasia miliknya.
(8) Apabila diperlukan, pada saat berakhir/diakhirinya Perjanjian ini karena sebab apapun, kedua belah Pihak dapat saling menyepakati untuk saling menyerahkan semua Informasi Rahasia yang pernah ditukarkan dan/atau diinformasikan selama masa berlakunya Perjanjian ini.
(9) Ketentuan-ketentuan di atas tidak hanya berlaku terhadap aslinya tetapi juga terhadap salinan-salinan, reproduksi-reproduksi, ringkasan-ringkasan serta bagian-bagian daripadanya.
(10) Untuk kepentingan negara, apabila diminta oleh aparat yang berwenang, masing-masing Pihak dapat memberikan Informasi Rahasia kepada instansi Pemerintah terkait dan/atau Aparat Penegak Hukum dengan pemberitahuan tertulis kepada Pihak lainnya.
(11) Apabila terjadi dugaan kebocoran kerahasiaan informasi oleh salah satu pihak, Pihak pemilik informasi berhak untuk meminta keterangan kepada Pihak lainnya.
(12) Apabila terbukti bahwa telah terjadi kebocoran informasi yang seharusnya dirahasiakan, Pihak pemilik informasi berhak meminta dan Pihak yang membocorkan wajib melakukan berbagai upaya hal-hal yang diperlukan untuk menghentikan kebocoran serta meminimalisir dampak dari kebocoran tersebut selambat-lambatnya dalam 7 (tujuh) hari kalender terhitung sejak diterimanya pemberitahuan secara resmi mengenai kebocoran tersebut dari Pihak yang memiliki informasi.
(13) Apabila kewajiban dalam Pasal 7 ayat (12) tersebut tidak dilakukan, maka Pihak pemiliki informasi yang dibocorkan dapat menghentikan pelaksanaan Perjanjian ini untuk sementara waktu, sampai dengan dilaksanakannya kewajiban berdasarkan Pasal 7 ayat (12).
Pasal 8 - Hak Atas Kekayaan Intelektual (1)
(1)
(1) Para Pihak sepakat bahwa hak atas kekayaan intelektual yang timbul sehubungan dengan dan selama berlangsungnya Perjanjian ini tetap menjadi milik Pihak yang menciptakan atau memilikinya.
(2) Para Pihak sepakat bahwa Perjanjian ini tidak dibuat dengan tujuan untuk mengubah dan/atau mengalihkan hak, suatu lisensi dan/atau kekayaan intelektual apapun milik salah satu Pihak kepada Pihak lainnya.
Pasal 9 - Pelimpahan Hak Atas Kewajiban (1)
(1)
(1) Perjanjian ini berlaku dan mengikat Para Pihak yang menandatanganinya, para penggantinya, serta bagi mereka yang memperoleh keuntungan dari padanya.
(2) Salah satu Pihak tidak dapat melimpahkan hak atas kewajibannya kepada pihak ketiga kecuali disetujui secara tertulis oleh Pihak lainnya.
Pasal 10 – Pembebasan (1)
(1)
(1) Kegagalan salah satu Pihak untuk melaksanakan salah satu atau beberapa kewajiban berdasarkan
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 7 dari 19
Perjanjian ini tidak menghentikan Pihak lainnya untuk tetap melaksanakan Perjanjian dan Pihak yang tidak dapat melaksanakan kewajiban tersebut tetap harus mengupayakan terlaksananya kewajiban dan menanggung segala biaya yang timbul akibat kegagalan tersebut
(2) Tidak adanya tuntutan oleh salah satu Pihak atas suatu pelanggaran terhadap suatu ketentuan Perjanjian yang dilakukan oleh Pihak lainnya bukan merupakan pembebasan untuk tidak melaksanakan ketentuan tersebut.
Pasal 11 – Tanggung jawab Atas Kelalaian (1)
(1)
(1) Kelalaian salah satu Pihak yang secara langsung menimbulkan kerusakan pada perangkat Pihak lainnya sehingga mengakibatkan kerugian Pihak lainnya menjadi tanggung jawab Pihak yang lalai.
(2) Tanggung jawab berupa ganti rugi atas kelalaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) hanya untuk kerugian barang atau perangkat yang akan diganti penuh oleh Pihak yang lalai.
(3) Tanggung jawab sebagaimana tersebut dalam Pasal-pasal 11 ayat (1), dan ayat (2) tidak berlaku apabila kerusakan atau kerugian yang diderita oleh salah satu Pihak timbul sebagai akibat kesengajaan atau kelalaian dari pihak ketiga yang tidak terkait dengan Para Pihak.
Pasal 12 – Forum Konsultasi/Koordinasi (1)
(1)
(1) Para Pihak sepakat untuk membentuk Forum Konsultasi/Koordinasi yang akan melakukan pertemuan secara berkala untuk menyelesaikan berbagai masalah yang timbul sehubungan dengan Perjanjian ini termasuk namun tidak terbatas pada Rapat Pertemuan Teknis, yang anggotanya merupakan wakil dari masing-masing Pihak.
(2) Segala biaya yang timbul sebagai akibat dibentuknya Forum Konsultasi/ Koordinasi, termasuk biaya-biaya pertemuan, menjadi tanggung jawab masing-masing Pihak.
Pasal 13 – Nota Pemberitahuan dan Wakil-wakil Para Pihak (1)
(1)
(1) Untuk pelaksanaan Perjanjian ini, TELKOM dan MITRA sepakat menunjuk wakil masing-masing Pihak sebagai berikut :
TELKOM Alamat
: :
Executive General Manager Divisi CIS
Gedung Menara JAMSOSTEK Lantai 10 Jl. Gatot Subroto Kav. 38
Direktur Komersial (atau pejabat lain yang berwenang) Gedung ...
Jalan ...
Jakarta ...
Telepon : 021-...
Faksimile : 021-...
(2) Semua pemberitahuan, korespondensi, permintaan, persetujuan yang diperlukan atau
Dokumen Penawaran Interkoneksi PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
Perjanjian Interkoneksi Hal 8 dari 19
dibolehkan untuk dikirim kepada Pihak lainnya berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian ini (untuk selanjutnya disebut sebagai “Pemberitahuan”) harus dibuat dalam bahasa Indonesia dan tertulis, dikirim secara langsung atau melalui kurir (masing-masing dengan tanda terima yang ditandatangani) atau dikirim dengan faksimili dengan pengiriman laporan konfirmasi pengirim yang ditujukan ke wakil-wakil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1).
BAB III – KETENTUAN TEKNIS DAN OPERASIONAL Pasal 14 – Persyaratan Teknis dan Standar Interkoneksi
Dalam mengadakan Interkoneksi, masing-masing Pihak wajib memenuhi persyaratan teknis dan standar Interkoneksi sebagaimana tercantum dalam Dokumen Pendukung A (tentang “Perencanaan dan Operasi”).
Pasal 15 – Penyediaan Perangkat, Link Interkoneksi dan FPI (1)
(1)
(1) Interkoneksi dilaksanakan di Titik Interkoneksi yang merupakan titik pertemuan antara jaringan transmisi Interkoneksi (Link Interkoneksi) yang menghubungkan Sentral Gerbang (SG) masing-masing Pihak.
(2) Masing-masing Pihak atas biayanya sendiri wajib menyediakan Link Interkoneksi, termasuk seluruh perangkat, jaringan transmisi, interface, dan sarana penunjang yang diperlukan di sisi JARTEL–nya masing-masing hingga ke Titik Interkoneksi.
(3) Apabila MITRA tidak memiliki Link Interkoneksi yang wajib disediakan, MITRA dapat menggunakan jaringan transmisi TELKOM dengan cara sewa sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang berlaku bagi sewa jaringan telekomunikasi pada umumnya.
(4) Masing-masing Pihak wajib menyediakan FPI (Fasilitas Penting untuk Interkoneksi) untuk kepentingan Pihak lainnya yang membutuhkan FPI dimaksud, sepanjang tidak ada kendala teknis dan bisnis.
(5) Ketentuan dan syarat-syarat penggunaan FPI mengikuti ketentuan pengaturan Kapasitas Interkoneksi sebagaimana tercantum dalam Dokumen Pendukung A.6 (tentang “Pemesanan dan Penyediaan Kapasitas Interkoneksi”).
Pasal 16 – Perkiraan Kapasitas Interkoneksi (1)
(1)
(1) Para Pihak wajib untuk saling memberikan informasi mengenai perkiraan Kapasitas Interkoneksi yang dibutuhkan masing-masing Pihak dari waktu ke waktu sesuai kebutuhan berdasarkan kecenderungan trafik Interkoneksi (interconnection traffic interest).
(2) Atas dasar perkiraan kapasitas sebagaimana dimaksud Pasal 18 ayat (1), Para Pihak akan mengadakan Pertemuan Teknis guna memutuskan penambahan/ pengurangan Kapasitas Interkoneksi.
(3) Mekanisme Pertemuan Teknis tercantum dalam Dokumen Pendukung A.12 (tentang “Petunjuk Pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan Interkoneksi”).
(4) Hasil kesepakatan Pertemuan Teknis akan dituangkan dalam Berita Acara Pertemuan Teknis yang ditandatangani oleh wakil-wakil Para Pihak dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
(4) Hasil kesepakatan Pertemuan Teknis akan dituangkan dalam Berita Acara Pertemuan Teknis yang ditandatangani oleh wakil-wakil Para Pihak dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari