Kakak adalah primadona di keluarga kami. Sejak kecil ia terkenal pandai, selalu mendapat peringkat satu di kelasnya. Masuk SMP, SMA, dan perguruan tinggi selalu di tempat yang terbaik. Di mana pun berada, ia tetap jadi yang nomor satu.
Berbeda dengan Kakak, aku ini hanyalah penggenap di keluarga supaya jumlahnya empat. Aku bersusah payah masuk SMP yang sama dengan Kakak. Sayangnya ketika kelulusan tiba, nilaiku tidak cukup baik untuk masuk ke SMA yang sama dengan Kakak. Aku ingat hari itu aku sangat takut masuk sekolah karena hasil ujian kami akan diumumkan, ditempel besar-besar di papan pengumuman dan diurut berdasarkan peringkat.
Walaupun tidak ada di kertas yang paling ujung, namaku ini ada di urutan 154, tinggal dua nomor lagi untuk sampai di peringkat 30 terbawah. Tidak ada alasan untukku bisa masuk SMA unggulan kota kami. Jalur prestasi pun tak bisa, karena tak seperti Kakak yang memang seri ng menjuarai aneka perlombaan hingga piala nya berbaris di ruang tamu kami, aku baru bisa
menjadi sebatas peserta.
Aku hampir-hampir tidak berani pulang. Takut Ayah dan Bunda akan kecewa dengan berita yang kubawa. Empat tahun lalu, ketika Kakak lulus SMP, pastilah semringah sekali wajah orang tuaku dan dengan lantang bisa memamerkan pada tetangga bahwa sulungnya menjadi yang terbaik di sekolah. Lacurlah hari ini mereka kubawakan berita peringkat 154. Mengucapkannya perlu waktu yang lama.
Kadang aku mempertanyakan mengapa aku ini kurang berbakat. Kadang aku mengajukan protes kepada Bunda karena kupikir Bunda pastilah tidak terlalu memperhatikan nutrisi makanan ketika mengandungku. Kadang aku salahkan Ayah yang kutebak kerap absen mengelus perut Bunda selama mengandungku. Kadang aku mengeluh pada Kakak yang kuanggap sudah mengambil lebih banyak kepandaian Ayah dan Bunda, menyisakan sedikit sekali untukku.
Walau sudah berlambat-lambat berjalan dari sekolah ke rumah—bahkan aku tidak menumpang angkutan hari itu supaya lebih lama sampainya—toh tiba juga aku di rumah. Bunda menyambutku dengan tumpeng nasi kuning. Ayah juga sudah datang dari kantor untuk istirahat makan siang. Belum selesai aku
melepas sepatu, suara motor Kakak berhenti di depan rumah kami. Semuanya berhamburan menyambutku yang datang dengan peringkat 154. Aku ingin menangis saja saking malunya.
Kalau dipikir-pikir lagi, hari itu adalah hari yang sangat berat bagi anak seusiaku. Tetapi hari itu juga, keluargaku mengajarkan sesuatu yang tidak akan kulupakan bahwa jangan membandingkan dirimu dengan orang lain hanya untuk membuatmu rendah diri.
“Dik, hasilnya sudah bagus. Bisa masuk SMA yang dekat rumah, jadi tidak perlu antar jemput nanti.” Kakak memandangi poin-poin yang jauh dari sempurna sambil tersenyum. Bunda memotongkan tumpeng dan memberikan ujung yang paling atas untukku.
Sebuah kecupan mendarat dipipiku, diikuti usapan di kepala dari Ayah. “Selamat Nak, Ayah bangga padamu” dan ucapan selamat atas kelulusanku dari Ibu dan Kakak secara bergantian. Aku masih tidak nyaman dengan nilaiku. Kakak bilang SMA yang di dekat rumah akan menerimaku/nilaiku. Bukan ide yang buruk. Walaupun bukan SMA yang disebut-sebut unggulan seperti SMA-nya dulu.
Hari itu aku bersyukur sekali karena diberikan keluarga yang sangat lapang dada. Hanya saja setelahnya dan setelahnya lagi, ternyata aku yang harus belajar
lapang dada karena banyak tetangga dan kerabat yang membuatku terus mengingat betapa aku tidak sebaik Kakak.
Sebersit rasa rendah diri yang berkembang men-jadi iri perlahan-lahan menggerogoti hatiku. Ketulusan Kakak dalam memotivasiku untuk berprestasi sulit seka-li untuk kudengar, kalah dengan suara-suara sumbang yang selalu membuat darahku mendidih.
“Dik, ayo ikut ekstrakurikuler lagi seperti wak-tu SMP. Bagus kan unwak-tuk pengembangan diri.” Kakak menasihatiku yang dilihatnya lebih banyak tiduran di rumah sambil memainkan telepon seluler. Aku diam tak menjawab, bahkan pura-pura tak mendengar. Untuk apa ikut ekstra, aku ini tidak berbakat. Main basket aku tak bisa, bela diri apa lagi. Ikut pengembangan diri di bidang mata pelajaran terlalu membosankan. Lebih baik aku mengobrol dengan teman-temanku di media sosial.
Suatu hari aku dengar Bunda sedang berbincang dengan ibu-ibu kompleks yang entah bagaimana berjalan beriringan dan berhenti di sebelah rumahku. Mungkin sedang olahraga bersama. Seperti biasa, mereka akan menanyakan tentang Kakak dan mengabaikanku sementara waktu, sampai akhirnya mungkin mereka ingin menjatuhkan perasaan Bunda yang awalnya melambung setelah mereka membanggakan anak sulungnya.
Pikiran-pikiran negatif seringkali menghantuiku dan itu menyebabkan aku makin sulit untuk bangkit dan memperbaiki diri. Aku sadar, tetapi aku tidak tahu cara nya keluar dari jeratan itu. Lambat laun, bahkan aku suka pula melihat sisi negatif orang lain. Ibu itu misalnya, yang sedang mengisahkan anaknya yang mendapat juara membaca puisi. Aku tahu, niatnya hanya menyombongkan diri. Lomba itu tidak bergengsi. Buat apa dibanggakan.
Lama-lama, bahkan Kakak tidak memiliki sisi yang cukup baik di mataku. Pencapaiannya selama ini kuanggap duri yang menusukku dari dalam. Kadang aku berpikir seandainya aku ini tidak punya kakak, pastilah Ayah dan Bunda hanya akan membicarakanku seorang.
“Dik, mau belajar menjahit tidak? Kakak sedang ada proyek dengan teman-teman, membuat aneka kerajinan dari kain perca.” ajak Kakak suatu hari. Aku teng ah terbaring di ruang keluarga, memainkan telepon genggam ku. Ah, main dengan teman-temannya, apa yang seru? Mereka itu pasti pintar seperti Kakak.
Tetapi kali ini ia tidak menyerah. Melihatku yang tanpa respons, Kakak malah mendekat dan menarik tanganku. Aku menatapnya malas, ia balas dengan tersenyum. “Ayo, mandi dan ganti bajumu. Mumpung libur, sini ikut Kakak.”
Dengan enggan, kuturuti juga maunya. Lalu dengan tetap memainkan telepon genggamku, aku pergi dengan Kakak ke sebuah tempat yang cukup jauh. Berliku-liku, walau jalannya tidak curam. Aku heran, ia main sejauh ini ternyata.
Kami sampai di depan sebuah rumah yang berwarna biru pucat. Ada papan nama sederhana di depannya. Tertulis, Panti Werdha Asmarandana. Aku terdiam. Kakak menggandeng tanganku dan mengajakku masuk.
Teman-teman kakak ada di dalam dan langsung menyambut kami dengan suka cita. Aku sudah siap untuk dibandingkan. Paling seperti tetangga-tetangga kami yang lain.
“Ah, adikmu cantik sekali. Beda denganmu,” sapa seorang Kakak yang tampak penuh dengan rasa iri.
“Kenapa kamu pakai celana model itu? Kan sudah lewat popularitasnya,” celoteh satu orang lain, yang seharusnya menggunakan kata-kata itu untuk menasihati dirinya sendiri.
Aku terheran-heran. Baru kali ini ada yang mencela Kakak di depan mataku. Aku sudah ingin marah, tapi Kakak justru tersenyum ramah dan menyapa mereka dan memperkenalkanku sebagai adiknya yang cantik dan sangat berbakat. Katanya, aku akan membantu mereka
untuk menjahitkan aneka kerajinan yang dibutuhkan Panti Werdha ini, mulai dari sarung bantal, taplak meja, bantal duduk, tutup televisi, dan lain-lain.
Teman-temannya menatap takjub padaku sambil terus melontarkan celaan kepada kakak yang dinilainya kurang terampil mengerjakan kerajinan tangan selama ini. Aku sangat heran karena setahuku kakak mengerjakan apa pun dengan sangat baik.
Lima jam berikutnya, kami bekerja bersama dan aku berhasil mengerjakan beberapa hal dengan hasil yang lumayan. Aku juga kaget melihatnya, jahitan tanganku tampak cukup rapi, dan motif yang aku pilih juga tersusun manis. Aku tidak pernah tahu kalau aku punya bakat desain. Aku melirik pekerjaan Kakak yang sederhana, tetapi tampak sangat memperhatikan detail. Dibandingkan dua orang lain yang tadi mencela Kakak, pekerjaan itu jauh lebih bagus.
Di perjalanan pulang, aku bicara pada Kakak, tentang mengapa teman-temannya seperti itu. Kakak bilang itu karena pikiran mereka dipenuhi dengan keburukan orang lain, sampai tidak bisa melihat secerca kebaikan pun.
“Jadi, kita jangan sampai begitu. Bantulah orang lain untuk melihat potensinya, bukan sebaliknya, menjatuhkan kepercayaan diri orang lain,” kata Kakak.
Aku terdiam. Sosok wanita di hadapanku ini memang layak dijadikan teladan. Lambat-lambat hatiku yang sempat membatu mulai merasa hangat. Alih-alih merasa bangga dengan pekerjaanku yang dipuji atau merasa iri dengan bagaimana tetangga melihat Kakak, aku merasa kagum pada ketegarannya.
“Tidak melambung ketika dipuji, tidak jatuh ketika dicela,” begitu Kakak mendeskripsikan apa yang sedang ia coba praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aku pikir hidup menjadi Kakak berarti terbebas dari pandangan negatif orang lain. Aku pikir hidup menjadi Kakak berarti punya segala yang diinginkan. Tetapi, ternyata lebih banyak kelebihan yang kamu miliki, lebih banyak godaan yang kamu hadapi. Ternyata, sebaik apa pun kamu, masih akan ada orang yang bisa berpikir sebaliknya tentangmu. Tetapi kalau toh itu terjadi, yang perlu kamu lakukan adalah tetap menjadi dirimu sendiri dan tidak kehilangan jati dirimu yang selalu berpikir baik.
“Dik, kita tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan orang lain kepada kita, tetapi kita bisa memilih tanggapan kita terhadap perlakuan itu. Ketika pikiran kita baik, kita akan mengucapkan hanya hal-hal yang baik. Selanjutnya,
kita akan melakukan hal-hal baik tersebut. Tidak munafik,
“Kak, sebenarnya sejak lama aku khawatir dengan gunjingan tetangga. Aku ini, seperti yang Kakak tahu, bahkan tidak bisa masuk SMA unggulan. Apa menurut Kakak aku masih bisa masuk perguruan tinggi ternama seperti Kakak nantinya?” tanyaku takut-takut.
Kakak menghentikan laju motornya, lalu berbalik menatapku. “Dik, jadikan aku teladanmu, bukan sainganmu. Kalau menurutmu jalan yang aku lalui ini sesuai dengan yang kamu inginkan dalam hidup, ikuti aku. Tetapi jika tidak, temukan sendiri jalanmu. Kakak, Ayah, dan Bunda akan selalu mendukungmu.”
Aku termenung.
Diam-diam aku menyesal sudah membuang-buang waktuku untuk pesimis pada masa depanku. Diam-diam aku menyesal sudah meletakkan kakakku sebagai sosok yang hampir kubenci karena saking irinya aku. Diam-diam aku menyesal telah membiarkan suara-suara sumbang di sekitarku, menodai kejernihan budi baik yang ditanamkan keluarga padaku.
Sebuah janji terikrar dalam hati, bertekad untuk mewujudkan versi terbaik dari diriku. Bukan untuk mengalah kan siapa pun, bukan juga untuk membuktikan pada siapa pun. Aku menjadi diriku, untuk kebaikanku sendiri. Aku mengasah diriku, untuk masa depanku sendiri. Dimulai dari berpikir, berkata, dan berbuat yang baik, seperti yang dicontohkan Kakak.
“Kak, satu lagi. Ketika orang lain tetap bicara buruk, bahkan ketika kita sudah mencoba memberikan yang terbaik, apa yang Kakak lakukan?” tanyaku.
Kakak tertawa. “Adik merasa terganggu tidak dengan orang seperti itu?”
Aku mengangguk dengan penuh semangat.
“Kalau begitu, jangan jadi seperti mereka. Kita tidak bisa memaksa mereka berhenti, tetapi kita bisa memberi contoh pada mereka, seperti apa sebenarnya memberikan komentar yang membangun dan tidak melukai orang lain”.
Lama aku diam. Kakakku panutanku, teladanku, inspirasiku dalam bertingkah laku. Terima kasih atas contoh kebijaksanaan yang diberikan. Aku menyayangimu.