PASCA-PROKLAMASI KEMERDEKAAN
Pada 17 Agustus 1945, fajar kemerdekaan telah menyingsing di ufuk timur dari seluruh pelosok negeri. Berita proklamasi kemer de kaan Indonesia, yang ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Jakarta, walaupun terlambat, segera menyebar di Kota Sura baya.
Masyarakat Surabaya mendengar berita proklamasi tersebut melalui radio Jepang Hosokyoku. Walaupun dihalang-halang i oleh kempetai, berita proklamasi dapat diselundupkan oleh pemuda-pemuda yang tergabung dalam “Gerakan Pemuda Kantor”, pada malam harinya dalam siaran berbahasa Madura. Pada sore harinya, dalam ruangan Pancaran Sastra, dibacakan tulisan R. Sukarjo Wiryopranot o dalam harian Suara Asia yang berjudul “Pro Patri a” dan berisi nasihat tentang hal-hal yang harus dilakukan tiap putra Indonesia terhadap negara dan tanah airnya sesudah merdeka (Sudarno, 1993: 64 dan Abdulgani, 1975: 10). Untuk mendapatkan sedikit suasana pasca-proklamasi
27 Tentang hal ini, lihat: “Sekelumit Kenangan: Surabaya Tiga Puluh Tahun yang Lalu”, dalam Gapura (5) 1975, hlm. 6.
negara di tengah kota.indd Sec1:31
negara di tengah kota.indd Sec1:31 8/11/2011 10:10:23 AM8/11/2011 10:10:23 AM
Buku ini tidak diperjualbelikan.
32 | Negara di Tengah Kota: ...
kemerdekaan di Kota Surabaya, berikut pengalaman seorang penulis berinisial S.B. dalam majalah Gapura. Inilah kisahnya:
“Setelah peristiwa itu suasana mereka segera terasa di kota Surabay a. Ter-utama warna merah-putih tersebar di mana-mana. Saya ingat mendapat tugas dari sekolah untuk menempelkan bendera kertas merah-putih dengan tulisan hitam: Milik Republik Indonesia. Dan denga n keberanian tanpa pikir panjang, aku dengan beberapa orang teman membawa kertas dan lem masuk ke gedung-gedung yang dulu dipakai Jepang, menempel-kan kertas merah-putih itu. Tempat-tempat yang dulunya angker karena dilarang masuk oleh Jepang, kami masuki begitu saja. Kebanyakan telah dikosongkan atau sebenarnya memang lama kosong. Juga mobil-mobil yang masih dipakai orang Jepang, kami tahan dan kacanya kami tempeli, sekalipun mobil yang pakai bendera biru, hijau ataupun kuning (tanda di dalamnya ada perwira-perwira tinggi Jepang). Setelah kami tempel, mobil boleh melanjutkan perjalanan.
Perubahan suasana dari penjajahan Jepang menjadi merdeka segera terasa. Terutama sinar lampu yang bebas. Radio yang pada zaman Jepang dibatasi penerimaannya (hanya bisa menangkap siaran lokal Surabaya Ho-shookyoku), dirusak segelnya sehingga siaran luar negeri pun bisa kami tangkap. Kakakku yang pandai memperbaiki radio, segera memasang radio bebasnya dengan musik-musik Bara t.” (“Sekelumit Kenangan”
1975: 7).
Seperti lazimnya pergantian kekuasaan, maka pejabat pemerintah kota juga turut berubah. Rajamin Nasution Gelar Sutan Kumala Pontas yang pada masa pendudukan Jepang menjadi wakil wali kota, kini menjadi penguasa kota. Akan tetapi, kedatangan sekutu yang
“mengobrak-abrik” kota ini membuat penduduk dan walikota serta pejabat-pejabat pemerintahan lainnya mengungsi ke Mojokerto.
Sementara itu, pemerintahan kota dikuasai oleh tentara sekutu yang dikenal dengan Allied Military Administration Civil Affair s Branch (AMACAB). Untuk menangani penduduk yang masih tinggal di kota, maka dibentuklah “Sektor” sebagai pengganti Ku di zaman Jepang (Wijk di masa pemerintahan Gemeente Soerabaja), yang merupakan organ pemerintah terendah. Selanjutnya, penguasaan pemerintahan Kota Surabaya diserahkan dari AMACAB ke RECOMBA (Regerings
negara di tengah kota.indd Sec1:32
negara di tengah kota.indd Sec1:32 8/11/2011 10:10:23 AM8/11/2011 10:10:23 AM
Buku ini tidak diperjualbelikan.
| 33 Commissaris Bestuurs Aangelenheden) Jawa Timur (Surabay a dalam Lintasan ... 1980: 27).
Ketika tentara sekutu meninggalkan Kota Surabaya, maka peme-rintahan dikuasai kembali oleh tentara kolonial Belanda. Denga n demikian, dibentuklah Pemerintahan Sementara (Hoofd Tijdelij k Bestuur) dengan C.J.C. Becht sebagai Kepala Urusan Haminte (Kantoor voor Bevolkings Zaken). Selain itu, Becht mengajak organisasi yang ada di Kota Surabaya untuk menyusun Dewan Perwakilan Sementara Kota Besar Surabaya. Mr. Indrakoesoema diangkat sebagai wali-kota yang kemudian digantikan oleh Mr. Soerjadi. Setelah pengaku-an kedaulatpengaku-an pada akhir Desember 1949, pemerintahpengaku-an kota mengalami perubahan. Doel Arnowo yang masuk kembali ke Kota Surabaya diangkat sebagai wali kota (1950–1952)28.
Pada 14 Agustus 1950, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 16 tentang Pembentukan Daerah Kota Besar.
Undang-undang tersebut memberi kewenangan pada kota-kota besar untuk mengatur rumah tangga daerah sebagaimana disebutkan dalam pasal 4, baik urusan pembantuan maupun 14 urusan daerah.
Dengan merujuk pada undang-undang itu, Kota Besar Surabaya dibagi menjadi 36 lingkungan yang ketentuan daerah administrasi-nya sebagai instansi pemerintahan baru ditetapkan pada tanggal 5 April 1954 dengan Peraturan Daerah Kota Besar Surabaya No. 30/
DPRDS. Kemudian jumlah lingkungan menjadi 38, dan dengan UU No. 2 Tahun 1965 daerah Kota Besar Surabaya ditambah denga n 5 Kecamatan yang meliputi 103 desa. Kelima kecamatan tersebut semula merupakan daerah Kabupaten Surabaya.29 Bersamaan denga n itu, ditetapkan pula Peraturan Pemerintah No. 39 Tahu n 1950 yang
28 Doel Arnowo merupakan wali kota pertama pasca Penyerahan Kedaulatan. Agak meng herankan, wali kota yang sangat dicintai oleh rakyat Surabaya ini hanya bertugas selama 2 tahun dan namanya tidak diabadikan di tempat-tempat tertentu seperti be-berapa wali kota lainnya. ‘Kotapradja Diliputi Suasana Terharu. Selamat Djalan, Tjak Doel.’ Dalam Perdamaian, 28 Djanuari 1952.
29 “Sekali Lagi Tentang: 31 Mei, Hari Jadi Kota Surabaya”, dalam Gapura, No. 3/VIII/
Mei 1975, hlm. 9.
negara di tengah kota.indd Sec1:33
negara di tengah kota.indd Sec1:33 8/11/2011 10:10:24 AM8/11/2011 10:10:24 AM
Buku ini tidak diperjualbelikan.
34 | Negara di Tengah Kota: ...
mengatur pembentukan Dewan Perwakilan Rakya t Sementara (DPRDS). Untuk Kota Besar Surabaya, pembentukan DPRDS-nya dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 1950 dengan anggota sebanyak 25 orang yang kemudian ditambah menjadi 35 orang.
Dengan undang-undang itu pula, sebutan Kota Surabaya ber ubah menjadi Kota Besar Surabaya.30 Berdasarkan Undang-Undang No.
14 Tahun 1956, DPRD peralihan Kota Besar Surabaya dibentuk dan mengakhiri masa jabatannya bulan Mei 1958, yaitu bersamaan dengan terbentuknya DPRD sebagai Badan Perwakilan yang dipili h oleh rakyat, dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah Juncto Undang-undang No. 19/1958 tentang Pemilihan Anggota DPRD (Sekali Lagi ... 1975: 28). Seiring dengan semakin tertatanya pemerintahan, kota ini kemudian menjadi magnet bagi masyarakat yang berasal dari desa. Kondisi ini menyebabkan Surabaya menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat dan pemakaian tanah secara liar. Pada tahun 1955, jumlah penduduk yang bermukim di Kota Surabaya mencapai telah 935.688 jiwa yang berarti mengalami kenaikan hampir tiga kali lipat dari tahun 1940 (“Sekali Lagi...”, 1975: 28).[]
30 Lihat: “Sekali lagi...”, (1975:28). Keterangan lebih jauh tentang pembentukan DPRD ini, baca Sarkawi B. Husain, “Posisi dan Peran Perempuan dalam Parlemen di Jawa Timur”, dalam A. B. Lapian, dkk., (Ed.), Sejarah dan Dialog Peradaban: Persembahan 70 Tahun Prof. Dr. Taufi k Abdullah (Jakarta: Obor-LIPI, 2005), hlm. 563–580.
negara di tengah kota.indd Sec1:34
negara di tengah kota.indd Sec1:34 8/11/2011 10:10:24 AM8/11/2011 10:10:24 AM
Buku ini tidak diperjualbelikan.
| 35