Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kebijakan tersebut dinilai merupakan langkah progresif, yang ingin memberikan pedoman pemidanaan yang proporsional, akuntabel, rasional dan berkeadilan.
M. Syarifuddin juga dipandang telah me-lakukan yudicial correction terhadap ke-bijakan formulasi yang dilakukan lemba-ga yudikatif, yang secara objektif rasional terkesan melindungi dan berpihak kepada pelaku tindak pidana korupsi yang meme-gang jabatan publik, dengan pengancam-an pidpengancam-ana ypengancam-ang lebih ringpengancam-an terhadap pe-langgaran Pasal 3 UU Tipikor.
Menurut Yos Johan Utama, kompeten-si luar biasa juga ditunjukkan oleh M. Sya-rifuddin dalam menetapkan kebijakan yang sangat visioner bagi lembaga Mahkamah Agung Republik Indonesia, yaitu dengan me-ngembangkan virtual court dalam perkara pidana. Penerapan sistem virtual court untuk perkara pidana diwujudkan dengan pener-bitan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Administrasi dan Persidangan Perkara Pidana di
Penga-dilan secara Elektronik.
Menurut rektor Undip,bukanlah langkah mudah melakukan pembaruan proses per-sidangan pidana dari konvensional ke vir-tual. Karena langkah itu tidak hanya berdi-mensi praktis, tapi juga berdiberdi-mensi yuridis (berkaitan kepastian dan kekuatan pem-buktian) dan perlindungan HAM.
Selain kedua kompetensi luar biasa ter-sebut, sepanjang kariernya di MA, Syarif-uddin juga dinilai memiliki keterlibatan da-lam pengembangan berbagai sistem apli-kasi peradilan yang menunjang misi Pem-baruan Peradilan Modern di Indonesia, se-perti aplikasi Sistem Peradilan Pidana Ter-padu (SPPT TI). “Termasuk pengembangan Sistem Informasi Perlengkapan Mahkamah Agung Republik Indonesia (SIPERMARI) dan pengembangan aplikasi Sistem Infor-masi Pengawasan (SIWAS),” tegas Prof.
Yos Johan Utama.
Seusai acara pengukuhan, sejumlah ucapan selamat mengalir kepada guru be-sar baru Prof. Dr. H. M. Syarifuddin, S.H., M.H. Salah satunya dari Wakil Ketua DPD RI, Sultan B. Najamudin.
n Para guru besar Universitas Diponegoro dan para undangan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
RAgAM 55
“Saya mengucapkan selamat dan sukses serta rasa bangga kepada Ketua Mahka-mah Agung, Bapak Profesor M. Syarifuddin, atas pengukuhan sebagai guru besar di bi-dang Ilmu Hukum Pidana di Undip. Beliau telah banyak mengembangkan pemikiran dan langkah-langkah progresif dan inovatif yang menunjukkan kapasitas dan kompe-tensinya yang luar biasa di bidang Ilmu Hu-kum Pidana di Indonesia,” ucap Sultan B.
Najamudin seperti dikutip sejumlah kantor pemberitaan.
Sultan membenarkan, Syarifuddin telah menginisiasi keluarnya pedoman pemidana-an bagi pelaku tindak pidpemidana-ana korupsi keu-angan negara melalui penerbitan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No-mor 1 Tahun 2020. Menurutnya, Perma itu peraturan yang sangat subtansial dan patut diapresiasi oleh semua pihak.
“Saya kira langkah beliau sebagai Ketua MA adalah langkah progresif yang ingin
memberikan pedoman pemidanaan yang proporsional, akuntabel, rasional, dan ber-keadilan,” ucap Sultan.
Perma Nomor 1 Tahun 2020 ditandata-ngani oleh Ketua MA, Dr. H. M. Syarifud-din, S.H., M.H., pada 8 Juli 2020 dan di-undangkan oleh Kementerian Hukum dan HAM pada 24 Juli 2020 lalu. Perma ini men-jadi panduan bagi para hakim dalam menja-tuhkan lamanya pidana penjara bagi terdak-wa korupsi yang dijerat dengan Pasal 2 atau Pasal 3 UU Tipikor.
Pedoman pemidanaan ini diterbitkan un-tuk mencegah perbedaan rentang pidana terhadap perkara yang memiliki karakter-istik serupa, supaya tak terjadi perbedaan yang mencolok antara hukuman terhadap satu koruptor dan terhadap koruptor lain-nya, padahal nilai kerugian Negara yang di-akibatkan oleh keduanya seimbang, begitu pula tingkat kesalahan mereka. **** (MMA/
D.Y.Wit/rz/vp)
n Ketua Mahkamah Agung, Dr. H. M. Syarifuddin dikukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Diponegoro oleh Rektor Undip.
n Empat Pilar dan para hakim Pengadilan AgamaTamiang Layang beserta pimpinan beberapa pengadilan agama terdekat yang menghadiri perayaan HUT ke-2 PA Tamiang Layang.
D
I depan 30 orang tamu kehormatan, termasuk sejumlah tokoh nasional dan keluarga, Prof. Dr.H. Muham-mad Syarifuddin, S.H., M.H., menyampai-kan pidato pengukuhannya berjudul Pem-baruan Sistem Pemidanaan dalam Praktik Peradilan Modern: Pendekatan Heuristika Hukum. Substansi pidato tersebut disarikan di bawah ini.Pengalaman panjang membentuk pe-mahaman bahwa penegakan hukum seja-tinya adalah seni yang memerlukan perla-kuan khusus dari aktor pelaksananya, ya-itu hakim.
Kreasi dalam penegakan hukum me-nuntut padu padan yang selaras setiap elemen di dalamnya. Penegakan hukum adalah proses memilih dan memilah, lalu menentukan bentuk akhir dan isinya. Inilah heuristika dalam hukum.
Hakim bertanggung jawab kepada Tu-han Yang Maha Esa dalam menarasikan keadilan melalui putusannya. Hakim me-rupakan satu-satunya jabatan yang diberi kewenangan untuk menjalankan sebagi-an dari kekuasasebagi-an Tuhsebagi-an, sehingga hakim dipandang sebagai jabatan yang mulia di antara jabatan-jabatan publik yang lain.
Akan tetapi, letak kemuliaan itu sesung-guhnya bukan pada kekuasaannya yang
besar, melainkan pada sikap kearifan ha-kim secara individu.
Permasalahan yang muncul dalam prak-tik di antaranya terjadinya disparitas pemi-danaan, khususnya putusan perkara tin-dak pidana korupsi yang memiliki isu hu-kum sama. Adanya kesenjangan huhu-kum- hukum-an thukum-anpa alashukum-an yhukum-ang jelas dalam pemida-naan perkara korupsi memberi gambaran masih adanya disparitas pemidanaan. Sa-lah satu yang menjadi sebab adaSa-lah sis-tem minimum dan maksimum dalam pe-midanaan kasus korupsi .
Disparitas Versus Kemandirian
Hakim harus memiliki kemandirian da-lam menjatuhkan putusan, karena keman-dirian merupakan pilar utama dalam fung-si kekuasaan kehakiman. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa disparitas me-nimbulkan ketidakadilan, sehingga harus ada mekanisme yang dapat meminimali-sasi tingkat disparitas tanpa harus meng-gerus kemandirian hakim.
Saya mencoba mengambil pemikir-an dari perspektif ypemikir-ang berbeda, dengpemikir-an mencoba mengoreksi problematika atas ketidakadilan yang ditimbulkan oleh ada-nya disparitas pemidanaan, tanpa harus melukai independensi hakim.