BAB II ISU-ISU PRIORITAS DAN KEY DELIVERABLES PRESIDENSI G20
2.2 Legacy Prioritas dan Key Deliverables Presidensi Arab Saudi 2020…
4.2.2 G20 and Beyond
1. Sinergi Isu-Isu Prioritas Presidensi G20 Indonesia dengan ASEAN 2022 dan APEC 2022
a. Sinergi ASEAN 2022
Keketuaan Kamboja pada ASEAN 2022 akan mengusung tema
“ASEAN: Addressing Challenges Together”, di mana terdapat kesamaan terkait aspek togetherness dengan tema Presidensi G20 Indonesia. Pada Keketuaannya, Kamboja akan memfokuskan pendekatan pada isu politik dan keamanan terkait tantangan rivalitas geopolitik dan mengedepankan constructive engagement dengan Myanmar.
84 Pada Keketuaan Kamboja di ASEAN 2022, telah diidentifikasi 4 kelompok tantangan, yaitu:
1. COVID-19 pandemic and the urgent need to achieve speedy recovery from its impacts
Munculnya varian baru Omicron dari virus COVID-19 menyebabkan peningkatan risiko terhadap kesehatan publik.
Kondisi ini juga menyebabkan rencana pembukaan perjalanan lintas batas dan pemulihan sektor bisnis dan perekonomian memerlukan pertimbangan yang cukup matang.
2. Geopolitical rivalries between and among the superpowers as well as major powers
Perselisihan antara negara-negara superpower berdampak pada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh negara-negara anggota ASEAN. Meskipun negara-negara anggota ASEAN berkomitmen untuk tidak berpihak pada sisi manapun, namun perlu penyelesaian atas hal tersebut, terutama bagaimana sikap negara-negara anggota ASEAN terhadap dinamika perubahan tatanan ekonomi, perdagangan, teknologi, dan cyberspace.
3. Existing traditional and non-traditional security challenges Terdapat beberapa permasalahan di kawasan yang hingga kini belum dapat diselesaikan, seperti krisis di Myanmar, sengketa Laut China Selatan, hingga ancaman nuklir di Semenanjung Korea. Selain itu, terdapat berbagai permasalahan lain yang perlu disikapi bersama, yaitu perubahan iklim, internasional terorisme, transboundary issues, transnational crimes, dan sebagainya.
4. ASEAN internal and institutional challenges
Perlu menjaga persatuan antara negara-negara anggota ASEAN dalam menyikapi berbagai permasalahan yang timbul di kawasan. Selain itu, perlu adanya sikap bersama terkait perluasan keanggotaan, hingga isu-isu internasional lainnya seperti Afganistan, AUKUS, dan Laut China Selatan.
Dalam menyikapi berbagai tantangan tersebut, dalam keketuaannya di ASEAN 2022, Kamboja telah menetapkan isu-isu prioritas, yaitu:
85 1. Enhance ASEAN-values, awareness and identity
Menggunakan pendekatan untuk mengajak seluruh masyarakat dalam memperkuat nilai-nilai ASEAN, kesadaran dan identitas di antara masyarakat ASEAN melalui pendidikan, pemuda, pemberdayaan perempuan, olahraga dan budaya.
2. Promote human resource development and women empowerment
Mendukung pembangunan berkelanjutan dengan mendorong pertumbuhan sumber daya manusia dan mempromosikan kerja sama dan pemberdayaan pemuda dan perempuan ASEAN untuk memfasilitasi pembangunan sosial ekonomi jangka panjang dan kesejahteraan sosial.
3. Enhance health, well-being, and social protection for the peoples of ASEAN
Dalam mewujudkan komunitas ASEAN yang inklusif dan tangguh, ASEAN akan memperkuat kapasitas dan kapabilitasnya untuk menjawab berbagai tantangan baru, seperti bencana alam, pandemi, perubahan iklim, dan pekerja migran.
4. Strengthen ASEAN Socio-Cultural Community’s institutional capacity and effectiveness
Memperkuat kapasitas kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia ASEAN Socio-Cultural Community melalui adopsi serta penggunaan teknologi dan inovasi digital.
Dari berbagai isu yang diangkat pada Keketuaan Kamboja di ASEAN 2022, terdapat beberapa isu yang beririsan dengan isu-isu prioritas G20 Indonesia, seperti pembangunan berkelanjutan dan berketahanan iklim, pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta transformasi digital.
Adanya irisan-irisan isu prioritas tersebut, dapat menjadi salah satu peluang untuk menerapkan beberapa program konkrit dari Presidensi G20 Indonesia pada Keketuaan Kamboja di ASEAN 2022 terutama terkait pembangunan berkelanjutan dan berketahanan iklim, serta pemberdayaan perempuan dan pemuda.
Dalam bidang pembangunan berkelanjutan dan berketahanan iklim, dapat dilaksanakan berbagai program seperti peningkatan kapasitas
86 dalam penanganan perubahan iklim mengingat banyak negara di kawasan ASEAN yang memiliki pantai maupun kepulauan. Selain itu, dapat mendorong berbagai kerja sama dalam praktek-praktek perkebunan dan industri yang mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).
Untuk pemberdayaan perempuan dan pemuda, program-program pada Presidensi G20 Indonesia, seperti mendorong usaha perempuan dan peningkatan kualitas pendidikan, dapat diterapkan.
Di samping itu, program-program terkait transformasi digital, seperti digital ekonomi, dapat diimplementasikan untuk mendukung kemajuan digital di kawasan.
Diperlukan pendekatan yang intensif dari berbagai pihak di Indonesia untuk penerapan berbagai program-program konkrit Presidensi G20 Indonesia dalam Keketuaan Kamboja di ASEAN 2022.
Penerapan program-program konkrit tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama teknis di kawasan.
b. Sinergi APEC 2022
Pada keketuaannya di APEC 2022, Thailand telah menetapkan beberapa isu-isu prioritas, sebagai berikut:
1. Open to all Opportunities terkait fasilitasi perdagangan dan investasi, yang terdiri dari:
a. Beberapa key areas, seperti memastikan distribusi barang dan jasa yang esensial, seperti vaksin COVID-19 dan alat-alat kesehatan.
b. Memastikan keberlangsungan dan keuangan inklusif untuk UMKM, perempuan, pemuda, dan sektor informal.
c. Mendorong reformasi struktural untuk green recovery.
d. Mendorong kebijakan ekonomi yang berkontribusi pada isu-isu lingkungan hidup.
2. Connect in all Dimensions terkait menghubungkan seluruh wilayah di kawasan, yang terdiri dari:
a. Mengupayakan protokol kesehatan dalam perjalanan lintas batas di kawasan, termasuk penerimaan vaksin dan mendorong interoperabilitas.
b. Memperkuat investasi di bidang kesehatan dan ketahanan publik.
c. Membangun sektor pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
87 d. Mempercepat implementasi APEC Connectivity Blueprint.
3. Balance in all Aspects terkait mendorong inklusivitas dan pertumbuhan berkelanjutan, yang terdiri dari:
a. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
b. Mendukung UMKM dan startups, serta transformasi mereka pada penerapan praktek-praktek yang berkelanjutan.
c. Melibatkan kaum muda dalam berbagai aspek.
d. Transisi energi.
e. Mendorong kerja sama di bidang kehutanan dan perdagangan produk kehutanan yang legal.
f. Mendorong sektor perikanan yang berkelanjutan.
g. Mengembangkan roadmap ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Menjelang Keketuaan Thailand di APEC 2022 juga tengah dilakukan penyusunan APEC Internet and Digital Economy Roadmap dan diharapkan pada tahun 2022 implementasi roadmap tersebut dapat diakselerasi.
Dari berbagai isu-isu prioritas Keketuaan Thailand di APEC 2022, mayoritas beririsan dengan dengan isu-isu prioritas Presidensi G20 Indonesia, seperti isu kesehatan, pemberdayaan perempuan dan pemuda, lingkungan hidup dan ekonomi hijau, pariwisata yang berkelanjutan, pemberdayaan UMKM, transisi energi, dan digital ekonomi.
Program-program terkait diversifikasi ekonomi, kerja sama penyediaan vaksin dan alat-alat kesehatan, peningkatan kualitas pendidikan, kerja sama dan investasi dalam pembangunan hijau, dan peningkatan kapasitas bagi pelaku usaha perempuan dapat menjadi beberapa usulan program legacy Presidensi G20 Indonesia di APEC 2022.
Terkait hal tersebut, perlu adanya upaya-upaya pendekatan kepada berbagai pihak terkait agar program-program dari Presidensi G20 Indonesia dapat diintegrasikan dengan program-program APEC 2022, sehingga cakupan program-program dapat diterapkan secara massif ke tingkat regional.
88 2. G20 dan Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023
Meskipun diskusi mengenai isu-isu prioritas Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 masih terus bergulir dan masih memerlukan berbagai masukan dari beberapa Kementerian/Lembaga terkait, namun terdapat beberapa isu yang mendapatkan perhatian dari ASEAN dan isu-isu tersebut dapat dibawa pada Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023, seperti isu kesehatan, pariwisata, pemberdayaan perempuan, dan ekonomi digital.
Beberapa isu tersebut berisisan dengan isu-isu prioritas pada Presidensi G20 Indonesia dan diharapkan dengan berbagai pendekatan kepada Kementerian/Lembaga terkait, maka isu-Iisu prioritas pada Presidensi G20 Indonesia dapat dilanjutkan dan dikembangkan pada Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 .
Di samping itu, berbagai program konkrit yang diinisiasi pada Presidensi G20 Indonesia yang beririsan dengan isu-isu yang berkembang di Keketuaan ASEAN 2023 dapat diimplementasikan di kawasan agar terdapat kesinambungan program, terutama yang berkaitan dengan isu kesehatan, pariwisata, pemberdayaan perempuan, dan ekonomi digital.
89 BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Kesimpulan
Sepanjang masa Presidensi G20, Indonesia memiliki peran yang signifikan untuk dapat menunjukkan kepemimpinan global dalam mengarahkan dan menentukan isu-isu utama yang dapat dijadikan agenda prioritas G20.
Kepemimpinan Indonesia selain diharapkan mengedepankan isu-isu yang menjadi kepentingan global, juga diharapkan dapat mengedepankan kepentingan regional khususnya menyangkut isu-isu negara berkembang serta kepentingan nasional Indonesia.
Namun, dengan keanggotaan G20 yang cukup beragam dan merepresentasikan bukan saja negara-negara industri maju, tetapi juga negara berkembang, kepemimpinan Indonesia yang efektif akan menghadapi tantangan yang tidak mudah.
Dalam putaran Presidensi G20 sebelumnya (Jepang 2019, Arab Saudi 2020, dan Italia 2021), terdapat sejumlah recurring issue yang terus dibahas, antara lain, isu lingkungan hidup, termasuk keberlangsungan iklim dan transisi energi, ekonomi digital, dan pemberdayaan masyarakat. Lebih lanjut, dalam 2 putaran G20 terakhir, pembahasan banyak terfokus pada isu kesehatan untuk penanganan pandemi COVID-19 dan pemulihan perekonomian global sebagai dampak dari pandemi.
Hadirnya pandemi global COVID-19 di awal 2020 semakin menegaskan adanya keterkaitan kritis (critical linkages) antara faktor-faktor ekonomi dan non-ekonomi yang mempengaruhi stabilitas pernon-ekonomian dunia karena menggoyahkan kapasitas institusional negara maupun organisasi-organisasi internasional.
Pandemi COVID-19 telah membuat banyak negara terpuruk dan meningkatkan kompleksitas masalah-masalah global yang dihadapi dunia. Oleh karena itu, dibutuhkan rumusan komprehensif atas isu prioritas yang akan diusulkan dalam Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 ini.
Berangkat dari latar belakang tersebut, Indonesia memiliki 5 (lima) prioritas, yaitu mempromosikan produktivitas, meningkatkan ketahanan dan stabilitas, menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif, serta iklim dan
90 kemitraan yang memungkinkan, serta menguatkan kepemimpinan kolektif global. Kelima isu tersebut merupakan isu-isu yang dihadapi oleh banyak negara di dunia, termasuk negara-negara anggota G20, yang mengindikasikan bahwa G20 perlu menghadapi berbagai permasalahan global tersebut.
Sejalan dengan arahan Presiden RI bahwa satu fokus kunci Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 adalah isu inklusivitas, maka Indonesia diharapkan dapat mendorong upaya bersama untuk pencapaian pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, human-centered, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Terkait hal tersebut dari fokus kunci Presidensi G20 Indonesia di atas, analisa strategis ini mengidentifikasi sejumlah potensi capaian pada 4 (empat) prioritas isu yang dapat memberikan kontribusi maupun luaran konkret yang signifikan dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut pada era pasca pandemi, antara lain:
a. Kesehatan Global
Arsitektur kesehatan global perlu dilakukan penataan ulang yang inklusif dan terarah pada era pasca pandemi, sehingga memerlukan langkah strategis dan taktis. Langkah tersebut mencakup:
a. mendorong resiliensi sistem kesehatan global;
b. memperkuat dan mengharmonisasi standar protokol kesehatan global; dan c. meningkatkan transfer teknologi dan sumber daya kesehatan untuk
pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi.
Ketepatan dalam pelaksanaan langkah strategis tersebut dapat mendorong luaran konkret, antara lain:
• Pembentukan Global Health Threat Fund untuk mempersempit kesenjangan terhadap akses kesehatan.
• Akses yang merata dan universal terhadap Vaccine, Therapeutics, and Diagnostics Tools (VTD) yang aman, terjangkau, berkualitas, dan efektif untuk menghadapi COVID-19.
• Penyediaan, pengiriman dan distribusi vaksin untuk mencapai tujuan global vaksinasi, yaitu sekitar 70% pada pertengahan tahun 2022.
• Inovasi digital dan teknologi terkait kesehatan lainnya, tidak terbatas pada COVID-19.
• Harmonisasi standar protokol kesehatan dengan mempromosikan interoperabilitas terbatas antara aplikasi kesehatan digital antar negara untuk mengenali status vaksinasi, hasil pengujian, dan dokumen lainnya.
• Meningkatkan konsep safe and seamless travel demi memastikan standar kesehatan masyarakat bersama untuk perjalanan yang lancar, termasuk sertifikat vaksinasi dan interoperabilitas aplikasi digital.
91 b. Ekonomi Digital
Sektor digitalisasi merupakan salah satu sektor penting bagi upaya pemulihan ekosistem bisnis pasca pandemi. Dalam memulihkan sektor digitalisasi yang bersifat business-centered, Presidensi G20 Indonesia fokus pada implementasi aksi strategis, yaitu:
a. konektivitas dan pemulihan pasca pandemi COVID-19;
b. digital skills and literacy; dan
c. aliran data lintas batas dan data free flow with trust.
Melalui implementasi ketiga prioritas strategis tersebut, dapat dihasilkan potensi capaian konkret pada sektor ekonomi digital, a.l.:
• Roadmap Strategis Untuk Meningkatkan Liga Inovasi G20 dan G20 Innovation Network.
• Peningkatan Toolkit G20 untuk Mengukur Keterampilan dan Literasi Digital dengan menyediakan kerangka kerja untuk mengukur literasi dan keahlian digital baik dari tingkat dasar, umum, dan lanjut.
• Kerangka Kerja Dalam Mengukur Aliran Data Lintas Batas dan Aliran Bebas Data dengan Kepercayaan.
c. Transisi Energi
Transisi dari bahan bakar fosil menuju sumber energi yang bersih dan terbarukan merupakan salah satu target Presidensi G20 Indonesia. Indonesia diharapkan dapat menjadi bridge builder bagi G20 dalam memperkuat (reinforcing) komitmen kemitraan global dan dukungan pendanaan internasional bagi transisi energi. Indonesia juga perlu fokus pada implementasi aksi strategis, yaitu:
a. mengamankan aksesibilitas energi;
b. scaling up teknologi bersih dan pintar; dan c. memajukan pembiayaan energi.
Presidensi G20 Indonesia dapat mengimplementasikan aksi strategis untuk memajukan transisi energi untuk meraih capaian konkret berupa Lighthouse Deliverable yaitu Achieving Global Deal to accelerate energy transitions by achieve global target on energy access, escalate viable clean technologies, and intensify energy transitions’ financing.
92 d. Pariwisata
Sektor pariwisata perlu turut dipulihkan untuk mencapai pemulihan ekonomi global secara menyeluruh. Untuk itu, beberapa badan PBB (termasuk UNWTO dan UNCTAD) menggunakan simulasi GTAP untuk memperkirakan terjadinya dampak ekonomi dari sektor pariwisata melalui 3 (tiga) skenario, yaitu:
• Skenario 1: pengurangan 75% kedatangan turis internasional di level tahun 2020 yang menyebabkan penurunan penerimaan wisatawan global sebesar USD948 miliar;
• Skenario 2: pengurangan 64% kedatangan turis internasional di level tahun 2019 yang menyebabkan penurunan penerimaan wisatawan global sebesar USD695 miliar; dan
• Skenario 3: pengurangan kedatangan turis domestik dan regional yang menyebabkan penurunan penerimaan wisatawan global sebesar USD676 miliar.
Untuk mengurangi dampak penurunan sektor pariwisata tersebut, diperlukan tindakan nyata, yaitu:
• Memastikan ketersediaan vaksinasi merata secara global;
• Memastikan kebertahanan bisnis pariwisata terhadap krisis; dan
• Memutakhirkan teknologi digital dalam bisnis pariwisata.
Tindakan nyata untuk mencapai pemulihan sektor pariwisata global juga akan dilaksanakan selama Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 melalui kolaborasi dengan negara G20 lainnya. Indonesia berfokus pada pemulihan yang berpusat pada masyarakat (A People-Centered Recovery) yang mencakup prioritas:
• Penguatan Komunitas sebagai Agen Perubahan Transformasi Pariwisata;
• Kolaborasi Inovasi dan Ekonomi Kreatif dalam Pariwisata; dan
• Safe Mobility and Seamless Travel dengan Memperhatikan Protokol Kesehatan.
Dari berbagai prioritas tersebut, Indonesia akan menghasilkan capaian konkret berupa panduan untuk memperkuat masyarakat dan UMKM di bidang pariwisata dengan beberapa isu utama yaitu:
• Peningkatan sumber daya manusia.
• Inovasi dan digitalisasi.
• Pemberdayaan perempuan dan pemuda.
• Pariwisata hijau terkait dengan perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.
• Kerangka dan tata kelola global.
93 5.2 Rekomendasi
Memperhatikan rasionalisasi berbagai data dan inputs yang dianalisa, terdapat berbagai rekomendasi umum dari analisa strategi kebijakan ini, antara lain:
a. Memberikan solusi bersama dan memainkan kepemimpinan intelektual (intellectual leadership) untuk memajukan beberapa agenda prioritas Presidensi Indonesia. Untuk beberapa isu tertentu, seperti masalah kesehatan global dan arus data, terdapat perbedaan posisi dan bahkan rivalitas antar negara anggota G20. Oleh sebab itu, perlu pendekatan dan lobi secara intensif guna mengkomunikasikan maksud dan tujuan Indonesia terhadap isu-isu tersebut, dan merumuskan posisi yang moderat untuk menemukan common ground dari berbagai posisi yang berbeda.
b. Berperan sebagai bridge builder antara negara-negara maju dan berkembang. Peran G20 baik di bidang finansial dan sherpa harus dapat tidak saja memberikan manfaat kepada negara anggota G20, namun Indonesia bersama negara-negara berkembang di G20 perlu menyuarakan suara dan kepentingan negara-negara berkembang lain di luar G20. Hal ini memastikan bahwa kepemimpinan Presidensi Indonesia sifatnya inklusif.
c. Menyelaraskan dan meningkatkan skala (scaling up) potensi capaian Indonesia dengan berbagai inisiatif yang ada di platform atau organisasi internasional lain. G20 perlu memanfaatkan sehingga tidak perlu adanya reinventing the wheel, agar peluang untuk terciptanya kesepakatan di antara anggota G20 lebih besar.
d. Mendorong capaian kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai berbagai proyek konkret melalui forum G20. G20 diharapkan akan mengeluarkan capaian tidak hanya berupa outcome documents, namun capaian kerja sama dalam bentuk proyek konkret. Kerja sama konkret kiranya dapat melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang relevan, seperti kerja sama negara anggota G20 atau beberapa negara anggota G20, organisasi internasional dan bank pembangunan multilateral, dan aktor non-pemerintah, seperti swasta, yayasan dan filantropis.
Secara spesifik, mempertimbangkan prioritas pada G20 Leader’s Declaration 2021 (Rome Declaration),terdapat beberapa rekomendasi strategis tematik untuk mendukung capaian konkret Presidensi G20 Indonesia tahun 2022, antara lain:
94 Prioritas Presidensi G20 Indonesia
Kesehatan
1. Memaksimalkan Joint Health-Finance Task Force (JHFTF) dengan mengadopsi One Health Approach. Satuan Tugas ini adalah bentuk fasilitasi keuangan, yang dirancang secara inklusif dengan koordinasi dengan WHO, dan digerakkan oleh G20 dan melibatkan negara berpenghasilan rendah dan menengah, mitra non-G20, dan bank pembangunan multilateral, untuk memastikan pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi.
2. Mendorong pembentukan Global Health Threat Fund dibawah JHFTF yang diperlukan guna memperoleh akses merata dan universal terhadap Vaccine, Therapeutics, Diagnostics tools (VTD) yang aman, terjangkau, berkualitas, dan efektif untuk menghadapi COVID-19.
3. Mendorong penguatan komitmen G20 untuk mencapai vaksinasi global, setidaknya 70 persen pada pertengahan 2022 melalui penyediaan, pengiriman, dan distribusi vaksin untuk mencapai tujuan global vaksinasi.
4. Memperluas global manufacturing hubs di kawasan utamanya program vaksin mRNA dan inovasi digital serta teknologi terkait kesehatan lainnya.
5. Mendorong harmonisasi standar protokol kesehatan dengan mempromosikan interoperabilitas terbatas antara aplikasi kesehatan digital antar negara untuk mengenali status vaksinasi, hasil pengujian, dan dokumen lainnya.
6. Merealisasikan konsep safe and seamless travel demi memastikan standar kesehatan masyarakat bersama untuk perjalanan yang lancar, termasuk sertifikat vaksinasi dan interoperabilitas aplikasi digital.
Transformasi Digital
7. Mendorong penyediaan basis data dari para anggota G20 bagi pelaku wirausaha digital, kegiatan inkubasi bisnis, dan fasilitasi investasi.
8. Mengembangkan sarana Indeks Literasi Digital dan pelatihan literasi digital untuk melacak lintasan dan daya saing dalam meningkatkan keterampilan dan literasi digital dalam memahami kemampuan finansial digital, jejaring sosial, dan jasa broadband agar mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama di negara-negara berkembang.
9. Melakukan dialog intensif antara negara anggota G20 terkait prinsip tata kelola data dengan pengumpulan praktik terbaik terkait arus data lintas batas dari tingkat dasar, umum, dan lanjut.
95 Transisi Energi
10. Mendorong komitmen global untuk memudahkan aksesibilitas energi berkelanjutan yang diwujudkan dalam semangat “leaving no one behind”
untuk mengamankan aksesibilitas terhadap energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan dan modern bagi masyarakat global.
11. Memperkuat kerja sama dan kemitraan internasional yang multi-level dalam akses energi universal, terutama dalam sharing best practices untuk elektrifikasi bersih, dalam konteks pemulihan pasca pandemi dan transisi energi yang adil.
12. Mempromosikan energi terbarukan dan efisiensi energi yang mencakup teknologi jaringan pintar dan integrasi energi terbarukan yang lebih besar, termasuk upaya menghijaukan sektor transportasi yang memerlukan biofuel, hidrogen, amonia.
13. Melaksanakan percepatan inovasi melalui solusi inovatif yang mencakup bidang kebijakan dan teknologi serta rescaling-upscaling sumber daya manusia.
14. Memperkuat fasilitas pembiayaan inovatif seperti jaminan, blended financing, obligasi hijau, dan sukuk hijau dalam mendukung proyek hijau serta proyek energi bersih dan terbarukan untuk memajukan kemitraan global dalam pembiayaan energi.
15. Mendorong komitmen untuk mengatasi tantangan di tingkat mikro dan makro yang berkembang dalam pendanaan iklim dan pembiayaan energi bersih, seperti risiko pembiayaan dan risiko regulasi, belum tersedianya transparansi dan informasi terintegrasi, hingga masalah harga karbon, termasuk pajak perbatasan karbon.
16. Berkolaborasi dengan G20 Working Groups (WG) dan Engagement Groups (EG) untuk irisian isu terkait transisi energi, seperti dengan:
• WG Anti-Corruption (ACWG) untuk mempromosikan anti-korupsi dalam energi terbarukan;
• WG Tourism (TWG) tentang destinasi wisata pedesaan dan bahari menuju dunia bebas karbon;
• WG Trade, Investment, and Industry (TIIWG) tentang percepatan industri 4.0 bagi industrialisasi secara inklusif dan berkelanjutan;
• WG Employment (EWG) dan EG L20 tentang pengalihan pekerjaan dalam transisi energi termasuk risiko kehilangan pekerjaan dalam transisi energi;
• EG B20 tentang investasi hijau dan peran perusahaan dalam transisi energi;
• EG P20 tentang pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau; dan
• EG Y20 tentang sustainable and liveable planet.
96 Pariwisata
17. Meningkatkan dan mempersiapkan kemampuan SDM untuk sektor pariwisata pada masa pasca pandemi, dengan pengembangan kebijakan bagi penciptaan lapangan kerja baru dan bernilai tambah (added value) pada sektor pariwisata.
18. Menciptakan infrastruktur dan keterampilan yang diperlukan untuk digitalisasi, guna menghubungkan wilayah perkotaan dan pedesaan, yang pada gilirannya dapat memicu inovasi masyarakat lokal dalam ekonomi kreatif untuk meningkatkan rantai nilai pariwisata, meningkatkan daya saing UMKM dan daya tarik destinasi.
19. Memberdayakan dan mempromosikan peran perempuan dan kalangan muda di komunitas lokal dalam penyusunan kebijakan atau bisnis dan penciptaan inovasi serta peran penting pendidikan dan keterampilan untuk mempromosikan inklusi penuh bagi kedua kelompok yang sangat penting bagi ketahanan dan masa depan tersebut.
20. Mengembangkan model baru pariwisata untuk mencapai keberlanjutan (sustainability) dan net-zero growth.
21. Memformulasikan kebijakan dan tata kelola pariwisata yang holistik guna mendukung iklim investasi selaras dengan isu-isu tersebut di atas.
Beyond G20 ASEAN 2022
22. Dari berbagai isu pada Keketuaan Kamboja di ASEAN 2022, isu-isu prioritas G20 Indonesia yang menjadi irisan termasuk pembangunan berkelanjutan dan berketahanan iklim, pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta transformasi digital.
23. Peluang untuk menerapkan beberapa program konkrit dari Presidensi G20 Indonesia pada Keketuaan Kamboja di ASEAN 2022, seperti peningkatan kapasitas aksi iklim dan praktek perkebunan dan industri berbasis
23. Peluang untuk menerapkan beberapa program konkrit dari Presidensi G20 Indonesia pada Keketuaan Kamboja di ASEAN 2022, seperti peningkatan kapasitas aksi iklim dan praktek perkebunan dan industri berbasis