• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PELAKSANAAN OBSERVASI

3. Biaya Administrasi Perkara

Petugas meja I memberikan penjelasan dan menaksirkan panjar biaya perkara. Adapun perincian biaya perkara adalah :

a. Biaya administrasi : Rp. 30.000,- b. Biaya proses : Rp. 50.000,- c. Redaksi : Rp. 5.000,- d. Materai : Rp. 6.000,-

e. Biaya panggilan : (menyesuaikan dengan radius)

15Pendaftaran Online, Pengadilan Agama Kalianda (Website), Februari 15, 2021, https://www.pa-kalianda.go.id/layanan-hukum/pendaftaran-dan-biaya-perkara/pendaftaran-online-advokat.html.

37

Untuk besar biaya panggilan tergantung jarak tempat tinggal dan kondisi daerah Penggugat dan Tergugat atau Pemohon dan Termohon yang disebut dengan radius, antara lain :

a. Radius I : Rp. 75.000,- /panggilan b. Radius II : Rp. 100.000,- /panggilan c. Radius III : Rp. 125.000,- /panggilan d. Radius IV : Rp. 150.000,- /panggilan e. Radius Sulit I : Rp. 200.000,- /panggilan f. Radius Sulit II : Rp. 225.000,- /panggilan g. Radius Sulit III : Rp. 250.000,- /panggilan h. Radius Sulit IV : Rp. 400.000,- /panggilan

Penaksiran biaya panggilan tergantung banyaknya panggilan. Bila cerai gugat maka panggilan sebanyak lima kali (2 Penggugat +3 Tergugat), jika cerai talak maka panggilan sebanyak tujuh kali (3 Pemohon +4 Termohon).

Setelah menaksir panjar biaya perkara, Petugas Meja I membuat Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dalam empat rangkap :

a. Lembar pertama warna hijau untuk bank

b. Lembar kedua warna putih untuk Penggugat atau Pemohon c. Lembar ketiga warna merah untuk kasir

d. Lembar keempat warna kuning untuk arsip.

Kemudian Penggugat atau Pemohon membayar uang panjar biaya perkara yang tercantum dalam SKUM ke bank, kemudian kasir menerima bukti setor ke bank dari Penggugat atau Pemohon untuk dibukukan di Buku Jurnal Keuangan Perkara. Setelah itu kasir memberikan nomor urut perkara dan menandatangani serta memberikan cap lunas pada SKUM.

Kasir menyerahkan satu rangkap surat gugatan yang telah diberi nomor perkara beserta SKUM kepada Petugas Meja II untuk mencatat perkara tersebut di Buku Register Induk Gugatan atau Permohonan. Lalu

38

Petugas Meja II memberikan berkas perkara yang berisi surat gugatan atau permohonan beserta formulir PMH, penunjukan panitera pengganti dan jurusita pengganti, PHS kepada wakil panitera untuk disampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama Kalianda.16

4. Penomoran / Regestrasi Perkara

Setelah menaksir panjar biaya perkara, Petugas Meja I membuat Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dalam empat rangkap :

a. Lembar pertama warna hijau untuk bank

b. Lembar kedua warna putih untuk Penggugat atau Pemohon c. Lembar ketiga warna merah untuk kasir

d. Lembar keempat warna kuning untuk arsip.

Kemudian Penggugat atau Pemohon membayar uang panjar biaya perkara yang tercantum dalam SKUM ke bank, kemudian kasir menerima bukti setor ke Bank dari Penggugat atau Pemohon untuk dibukukan di Buku Jurnal Keuangan Perkara. Setelah itu kasir memberikan nomor urut perkara dan menandatangani serta memberikan cap lunas pada SKUM.

Kasir menyerahkan satu rangkap surat gugatan yang telah diberi nomor perkara beserta SKUM kepada Petugas Meja II untuk mencatat perkara tersebut di Buku Register Induk Gugatan atau Permohonan. Lalu Petugas Meja II memberikan berkas perkara yang berisi surat gugatan atau permohonan beserta formulir PMH, penunjukan panitera pengganti dan jurusita pengganti, PHS kepada wakil panitera untuk disampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama Kalianda. Buku register perkara di pengadilan agama terdiri dari :

a. Register Induk Perkara Gugatan (RI-PA1G).

b. Register Induk Perkara Permohonan (RI-PA1P).

c. Register Permohonan Banding (RI-PA2).

16Pengamatan Mengenai Biaya Administrasi Perkara (Panjar Biaya Perkara), 07 februari-21 Februari 20februari-21.

39

d. Register Permohonan Kasasi (RI-PA3).

e. Register Permohonan Peninjauan Kembali (RI-PA4).

f. Register Penyitaan Badang Bergerak (RI-PA5).

g. Register Penyitaan Badang Tidak Bergerak (RI-PA6) h. Register Surat Kuasa Khusus (RI-PA7)

i. Register Eksekusi (RI-PA8) j. Register Akta Cerai (RI-PA9) k. Register Perkara Jinayah (RI-PA10) l. Register P3HP (RI-PA11)

m. Register Perkara Ekonomi Syari’ah (RI-PA12)

n. Register Itsbat Rukyat Hilal dan pemberian nasehat/ keterangan tentang perbedaan Penentuan Arah Kiblat dan Penentuan Awal Waktu Shalat (RI-PA13)

o. Register Eksekusi Putusan Arbitrase Syariah (RI-PA14) p. Register Mediasi (RI-PA15)

q. Register Mediator (RI-PA16)

Ketentuan Penggunaan buku register :

a. Buku register diberi nomor halaman, halama pertama dan terakhir ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Agama dan halaman lainnya diparaf.

b. Banyaknya halaman pada setiap buku register dinyatakan pada halaman awal dan keterangan tersebut ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Agama. Jika penuh, maka halaman awal ditulis:

“Buku Register ini merupakan lanjutan dari buku sebelumnya terdiri dari ... halaman”.

c. Buku Register Induk Perkara memuat seluruh data perkata dalam tigkat kerpata, banding, kasasi, peninjauan kembali, dan eksekusi.

40

d. Buku Register Perkara Ekonomi Syariah (RI-PA12) berfungsi sebagai buku bantu yang memuat tahapan penanganan perkara ekonomi syariah.

e. Buku register harus diganti setiap tahun dan tidak boleh digabungkan dengan tahun sebelumnya.

f. Buku register Induk Perkara Gugatan dan Buku Register Induk Perkara Permohonan ditutup setiap bulan. Nomor Urut setiap bulan dimulai dari nomor 1, sedangkan nomor perkara berlanjut untuk satu tahun.

g. Penutupan Buku Register setiap akhir bulan, ditanda tangani oleh petugas register dan dikelahui oleh panitera, dengan perincian sebagai berikut: panitera dan diketahui Ketua Pengadilan Agama, dengan perincian sebagai berikut:

1) Sisa tahun lalu : ... Perkara 2) Masuk tahun ini : ... Perkara 3) Putus tahun ini : ... Perkara 4) Sisa tahun ini : ... Perkara

i. Buku Register Permohonan Banding, Register Permohonan Kasasi, dan Register Permohonan Peninjauan Kembali ditutup setiap akhir tahun, dengan rekapitulasi sebagai berikut:

1) Sisa tahun lalu : ... Perkara 2) Masuk tahun ini : ... Perkara 3) Putus tahun ini : ... Perkara 4) Sisa akhir tahun : ... Perkara 5) Sudah dikirim : ... Perkara

41

6) Belum dikirim : ... Perkara

j. Register Mediasi, kolomnya terdiri dari : nomor urut, nomor perkara, para pihak, majelis hakim, tanggal penerapan penunjukan mediator, nama mediator, tanggal kesepakatan perdamaian, isi akta perdamaian/kesepakatan perdamaian, tanggal putusan/penetapan dan keterangan.

k. Register mediator, kolomnya teridiri dari : nomor urut, nama pendidikan, lembaga yang mengeluarkan sertifikat, nomor dan tanggal sertifikat serta keterangan.17

5. Penunjukkan Majelis Hakim (PMH)

Ketua Pengadilan Agama Kalianda menetapkan majelis hakim yang akan menyidangkan perkara selambat-lambatnya 10 hari kerja sejak perkara didaftarkan. Ketua majelis adalah hakim senior pada Pengadilan Agama Kalianda yang didasarkan pada lamanya menjadi seorang hakim.

Tiga orang hakim yang menempati urutan senioritas terakhir dapat saling menjadi ketua majelis dalam perkara yang berlainan. Penetapan Majelis Hakim dicatat oleh petugas meja II dalam Buku Register Induk Perkara.18

6. Penetapan Hari Sidang (PHS)

Perkara yang sudah ditetapkan Majelis Hakimnya segera diserahkan kepada Ketua Majelis Hakim yang ditunjuk. Ketua Majelis setelah mempelajari berkas dalam waktu selambat-lambarnya 7 (tujuh) hari kerja harus sudah menetapkan hari sidang. Dalam menetapkan hari sidang, ketua Majelis harus memperhatikan jauh/dekatnya tempat tinggal para pihak yang berperkara dengan tempat persidangan.

Setiap Hakim harus mempunyai jadwal persidangan yang lengkap dan dicatat dalam buku agenda perkara masing-masing. Daftar perkara

17Pengamatan Pendaftaran Perkara di Meja I Pengadilan Agama Kalianda.

18Badan Kepegawaian Negara Direktorat Peraturan Perundang-undangan, "Undang-undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, "n.d.

42

yang akan disidangkan harus sudang ditulis oleh Panitera Pengganti pada papan pengumuman Pengadilan Agama atau Mahkamah Syari’ah sebelum persidangan dimulai sesuai nomor urut perkara. Petugas Meja II mencatat laoran Panitera Pengganti tersebut dalam Buku Register Perkara.19

7. Penunjukan Panitera Pengganti

Sesuai (Pasal 11 ayat 3 UU 48 Tahun 2009 Jo. Pasal 96 dan 97 UU Nomer 7 Tahun 1989). Penunjukan Panitera Pengganti yaitu Panitera menerima kembali berkas perkara yang telah diberi PMH dan menunjuk Panitera Pengganti yang akan mendampingi Majelis Hakim dengan suatu penetapan. Kemudian menyerahkan berkas perkara kepada Majelis Hakim melalui petugas Meja II.

8. Panggilan Sidang I

Jurusita Pengganti melakukan pemanggilan terhadap para pihak atau kuasanya secara resmi melalui Surat Panggilan (Relaas) atas perintah Ketua Majelis. Pemanggilan para pihak dilakukan 3 hari sebelum hari sidang. Apabila para pihak tidak dapat ditemui di tempatnya maka Surat Panggilan disampaikan dan diserahkan kepada Kepala Desa dengan tanda tangan untuk diteruskan kepada pihak bersangkutan. Apabila Tergugat atau Termohon ghoib maka panggilan disampaikan melalui surat kabar atau media massa.

Pada sidang pertama surat untuk Tergugat atau Termohon panggilan diberikan beserta salinan surat gugatan. Jurusita Pengganti harus memberitahukan kepada pihak Tergugat atau Termohon bahwa ia boleh mengajukan secara lisan atau tulisan yang diajukan dalam sidang.

19Pasal. 121 HIR/145 Rbg, n,d.

43 B. Ajudikasi / Persidangan

1. Sidang I

Sidang pertama yaitu upaya perdamaian, yang memberikan kesempatan kepada para pihak untuk menentukan hakim mediator baik hakim dari dalam pengadilan agama atau dari luar pengadilan agama yang akan menjalankan mediasi terhadap para pihak. Pada asasnya peradilan perdata menganut asas persidangan terbuka untuk umum, namun hal tersebut dikecualikan dalam pemeriksaan perkara perceraian, hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 80 ayat (2) UU No 7 Tahun 1989 jo Pasal 33 PP No 9 Tahun 1975 yang menyatakan. “Pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan dalam sidang tertutup. ”Proses beracara yang harus dilalui bagi mereka yang sedang berperkara di peradilan agama adalah pemeriksaan dilakukan selambat-lambatnya 30 hari sejak tanggal surat gugatan/permohonan didaftarkan. Hal ini diatur dalam Pasal 68 ayat (1) dan Pasal 131 KHI untuk perkara cerai talak, dan untuk perkara cerai gugat diatur dalam Pasal 80 ayat (1) jo Pasal 141 ayat (1) KHI.

Pada pemeriksaan sidang pertama yang telah ditentukan, suami istri harus hadir secara pribadi dan majelis hakim berusaha mendamaikan kedua pihak yang berperkara (Pasal 82 UU No 7 Tahun 1989). Apabila usaha tersebut tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua pihak berperkara untuk menempuh mediasi PERMA No l Tahun 2016.

Apabila upaya mediasi tetap tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan pembacaan surat gugatan/permohonan.

Meskipun demikian usaha mendamaikan tetap dilaksanakan selama pemeriksaan berlangsung. Hal ini sesuai dengan Pasal 70 jo Pasal 82 ayat (4) dan Pasal 143 KHI yang menugaskan kepada hakim untuk berupaya seecara sungguh-sungguh mendamaikan suami istri dalam perkara perceraian. Tugas mendamaikan merupakan upaya yang harus dilaksanakan hakim pada setiap sidang berlangsung sampai putusan dijatuhkan.

44 2. Sidang II

Sidang kedua yaitu sidang pembacaan Gugatan atau Permohonan, Sebelum surat gugatan dibacakan, jika perkara perceraian, hakim wajib menyatakan sidang tertutup untuk umum, sementara perkara perdata umum sidangnya selalu terbuka.

Surat Gugatan Penggugat yang diajukan ke Pengadilan Agama itu dibacakan oleh Penggugat sendiri atau salah seorang majelis hakim, dan sebelum diberikan kesempatan oleh mejelis hakim kepada tergugat memberikan tanggapan/jawabannya, pihak penggugat punya hak untuk mengubah, mencabut atau mempertahankan isi surat gugatannya tersebut.

Abala Penggugat menyatakan tetap tidak ada perubahan dan tambahan dalam gugatannya itu kemudian persidangan dilanjutkan ketahap berikutnya.

3. Sidang III

Setelah gugatan dibacakan, kemudian Tergugat diberi kesempatan mengajukan jawabannya, baik ketika sidang hari itu juga atau sidang berikutnya. Jawaban tergugat dapat dilakukan secara tertulis atau lisan (Pasal 158 ayat (1) R.Bg). Pada tahap jawaban ini, tergugat dapat pula mengajukan eksepsi (tangkisan) atau rekonpensi (gugatan balik). Dan pihak tergugat tidak perlu membayar panjar biaya perkara.

4. Sidang IV

Setelah Tergugat menyampaikan jawabannya, kemudian si penggugat diberi kesempatan untuk menanggapinya sesuai dengan pendapat penggugat. Pada tahap ini mungkin penggugat tetap mempertahankan gugatannya atau bisa pula merubah sikap dengan membenarkan jawaban/bantahan tergugat

45 5. Sidang V

Setelah penggugat menyampaikan repliknya, kemudian tergugat diberi kesempatan untuk menanggapinya/menyampaikan dupliknya.

Dalam tahap ini dapat diulang-ulangi sampai ada titik temu antara penggugat dengan tergugat. Apabila acara jawab menjawab dianggap cukup oleh hakim, dan masih ada hal-hal yang tidak disepakati oleh kedua belah pihak, maka hal ini dilanjutkan dengan acara pembuktian.

6. Sidang ke VI

Sidang ke enam yaitu pembuktian, bukti-bukti yang harus dihadirkan adalah bukti tertulis berupa KTP dan Akta Nikah para pihak an bukti surat lainnya yang dianggap penting, kemudian bukti saksi dari kedua belah pihak, masing-masing pihak menghadiri dua orang saksi yang sebelum memberikan keterangan wajib disumpah terlebih dahulu. Untuk kepentingan salah satu saksi dipersilahkan untuk keluar dan menunggu di luar ruang sidang. Dalam acara j awaban sebelum proses pembuktian, dimungkinkan adanya gugat balik (rekonpensi) sebagaimana diatur dalam Pasal 132a HIR dan 158 RBg.

Sesuai dalam Pasal 163 HIR dinyatakan : “Barangsiapa yang mengaku mempunyai hak atau yang mendasarkan pada suatu peristiwa untuk menguatkan haknya itu atau untuk menyangkal hak orang lain, harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu”. Atau dengan kata lain

“Siapa yang mendalilkan suatu hak maka dia harus membuktikan haknya itu”. Dengan demikian, yang berhak untuk membuktikan adalah Penggugat/Pemohon. Sedangkan macam-macam alat bukti sebagaimana diatur dalam Pasal 164 HIR, antara lain : Alat bukti tertulis (Pasal 137,138 dan 165-167 HIR).

a. Alat bukti saksi:

1) Pemeriksaan saksi ( Pasal 144-152 HIR).

2) Keterangan saksi (Pasal 168-172 HIR).

46

a. Alat bukti persangkaan ( Pasal 173 HIR).

b. Alat bukti pengakuan (Pasal 174, 175, dan 176 HIR).

c. Alat bukti sumpah (Pasal 155-158 HIR).

Apabila tahapan proses pembuktian telah selesai dilakukan, acara dilanjutkan dengan kesimpulan Sesudah tahap kesimpulan, majelis hakim bermusyawarah tentang apa yang akan diputuskan oleh majelis hakim

7. Siding ke VII Kesimpulan

8. Sidang Ke VIII

Sidang adalah pembacaan putusan dalam mengambil putusan, majelis berpedoman pada isi ketentuan Pasal 178 HIR:

a. Wajib mencukupkan segala alasan hukum yang tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak.

b. Wajib mengadili segala tuntutan.

c. Tidak diperkenankan untuk menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak di gugat atau melebihi apa yang di gugat.

d. Sesuai ketentuan Pasal 179 HIR bahwa putusan hakim dibacakan di dalam sidang yang terbuka untuk umum, sehingga apabila ketentuan e. ini dilanggar mengakibatkan putusan tidak sah dan tidak mempunyai

kekuatan hukum. Jika kedua belah pihak atau salah satu pihak tidak dapat hadir pada saat dibacakan putusan, maka atas perintah Ketua Majelis putusan tersebut harus diberitahukan kepada kedua belah pihak atau salah satu pihak yang tidak hadir.

Sidang ke yaitu khusus mengenai perkara Cerai Talak yaitu sidang pembacaan ikrar talak Permohonan dimuka persidangan dan menyertakan uang mut'ah, nafkah iddah dan nafkah anak yang telah ditentukan dan telah disepakati pada sidang sebelumnya.

47 9. Tata Cara Jalannya Persidangan

Pada saat persidangan akan dilaksanakan Majelis Hakim Beserta Panitera Pengganti memasuki ruang sidang. Majelis Hakim yang terdiri dari 3 orang Hakim, yang menempati posisi ditengah adalah Ketua Hakim, serta didampingi dua orang Hakim Anggota di kanan dan kirinya, sedangkan Panitera Pengganti berada di belakang kanan salah satu Hakim Anggota Kemudian mempersiapkan berkas perkara serta kemudian Hakim Anggota membuka persidangan.

Setelah Majelis Hakim siap, Panitera Pengganti memanggil masuk para pihak melalui pengeras suara dibantu oleh petugas jaga persidangan.

Kemudian para pihak memasuki ruang sidang, Penggugat atau Pemohon berada di sebelah kanan, sedangkan Tergugat atau Termohon berada di sebelah kirinya.

Pada saat hakim ketua menyatakan sidang tertutup untuk umum maka tidak diperbolehkan selain para pihak yang berperkara berada di ruang sidang. Sedangkan apabila sidang dinyatakan terbuka untuk umum,petugas jaga membuka pintu untuk mempersilahkan masuk bagi siapa yang mau menyaksikan sidang.

Untuk pembuktian alat bukti saksi maka para saksi di persilahkan memasuki mang sidang dan duduk tepat di belakang para pihak yang berpcrkara, saksi tcrdiri dari dua orang dari masing-masing pihak. Setelah memasuki ruang sidang Majelis memeriksa identitas masing-masing saksi.

Kemudian sebelum memberikan kesaksian para saksi disumpah terlebih dahulu dimuka persidangan. Sumpah yang diucapkan adalah

“bismillahirahmanirahim, Wallahi. Demi Allah saya bersumpah aka memberikan keterangan yang benar dalam perkara ini, tidak lain dari yang sebenarnya”. setelah bersumpah Ketua Majelis mempersilahka salah satu dari dua saksi untuk dimintai kesaksian, sementara salah satu saksi lainnya menunggu di luar ruang sidang.

48 10. Tata Tertib Persidangan

a. Tata Tertib Umum

Pihak pengadilan memilild panduan mengenai tata tertib yang harus ditaati oleh semua orang yang memasuki gedung Pengadilan:

1) Ketua Majelis Hakim bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan' semua pihak yang hadir di ruang sidang;

2) Semua yang hadir di ruang sidang harus mentaati semua perintah yang dikeluarkan oleh Ketua Majelis Hakim;

3) Semua orang yang hadir di ruang sidang harus selalu menunjukkan rasa honnat kepada institusi pengadilan. Jika ada satu pihak yang tidak menunjukkan rasa hormat kepada institusi pengadilan, maka Ketua Pengadilan dapat memerintahkan individu tersebut untuk dikeluarkan dari ruang sidang dan bahkan dituntut secara pidana;

4) Mengenakan pakaian yang sopan;

5) Berbicara dengan suara yang jelas ketika seorang hakim atau penasehat hukum mengajukan pertanyaan, sehingga para hakim yang lain dapat mendengar dengan jelas;

6) Memanggil seorang hakim dengan sebutan “Yang Mulia” dan seorang Penasihat Hukum dengan sebutan “Penasihat Hukum”

7) Berbagai benda berikut ini tidak diperkenankan untuk dibawa ke ruang sidang: senjata api, benda tajam, bahan peledak, peralatan atau berbagai benda yang dapat membahayakan keamanan ruang sidang;

8) Petugas keamanan dapat melakukan penggeledahan setiap orang yang dicurigai memiliki salah satu atau lebih dari berbagai benda diatas. Siapa saja yang kedapatan membawa salah satu dari benda diatas akan diminta untuk menitipkannya di tempat penitipan khusus di luar ruang sidang. Ketika yang bersangkutan hendak meninggalkan ruang sidang, petugas keamanan dapat mengembalikan berbagai benda tersebut. Bahkan, pengunjung yang

49

kedapatan membawa berbagai benda tersebut diatas ke dalam ruang sidang dapat dikenai dengan tuntutan pidana;

9) Dilarang membuat kegaduhan, baik didalam maupun diluar ruang sidang; Duduk rapi dan sopan selama persidangan;

10) Duduk rapih dan sopan selama persidangan 11) Dilarang makan dan minum di ruang sidang;

12) Dilarang merokok baik di ruang sidang maupun di dalam gedung pengadilan;

13) Wajib mematikan telepon genggam selama berada di ruang sidang;

14) Dilarang membawa anak-anak dibawah umur 12 tahun, kecuali Majelis Hakim menghendaki anak tersebut menghadiri persidangan;

15) Membuang sampah pada tempatnya;

16) Dilarang menempelkan pengumuman atau brosur dalam bentuk apapun di dalam gedung pengadilan tanpa adanya ijin tertulis dari Ketua Pengadilan;

17) Untuk melakukan rekaman baik kamera, tape recorder maupun video recorder, di mohon untuk meminta ijin telebih dahulu kepada Majelis Hakim;

Para pengunjung yang datang ke ruang sidang untuk melihat jalannya sidang perkara, tetapi bukanlah merupakan saksi atau terlibat dalam sidang perkara tersebut, diharapkan untuk mematuhi berbagai ketentuan sebagai berikut:

1) Wajib menghormati institusi Pengadilan seperti yang telah disebutkan diatas;

2) Wajib menaati semua tata tertib yang telah disebutkan diatas;

3) Dilarang berbicara dengan pengunjung yang lain selama sidang berlangsung;

4) Dilarang berbicara memberikan dukungan atau mengajukan keberatan atas keterangan yang diberikan oleh saksi selama persidangan;

50

5) Dilarang mamberikan komentar/saran/tanggapan terhadap suatu yang tajadi selama persidangan tanpa ijin Majelis Hakim;

6) Dilarang berbicara keras diluar ruang sidang yang dapat myebabkm suara masuk ke ruang sidang dan mengganggu jalannya persidangan;

7) Dilarang keluar masuk ruang persidangan untuk alasan-alasan yang tidak perlu karena akan mengganggu jalannya persidangan;

8) Pengunjung yang ingin masuk atau keluar ruang persidangan harus meminta izin kepada Majelis Hakim.

b. Tata Tertib Persidangan

Pada saat Majelis Hakim Memasuki dan Meninggalkan Ruang Sidang, semua yang hadir berdiri untuk menghormati;

1) Selama sidang berlangsung, pengunjung sidang harus duduk dengan sopan dan tertib ditempatnya masing-masing dan memelihara keteniban dalam ruang sidang;

2) Pengunjung sidang dilarang makan, minum, merokok, membaca koran, atau melakukan tindakan yang dapat mengganggu jalannya sidang (HP agar dimatikan] tidak menelpon atau menerima telepon);

3) Dalam Ruang Sidang siapapun wajib menunjukkan sikap hormat kepada Pengadilan;

4) Siapapun dilarang membawa senjata api, senjata tajam, bahan peledak, atau alat maupun benda yang dapat membahayakan keamanan sidang.

5) Segala sesuatu yang diperintahkan oleh Ketua Sidang untuk memelihara tata tertib di persidangan, wajib dilaksanakan dengan segera dan cermat.

6) Tanpa surat perintah, Petugas Keamanan Pengadilan karena tugas jabatannya dapat mengadakan penggeledahan badan untuk

51

menjamin bahwa kehadiran seseorang di ruang sidang tidak membawa senjata, bahan atau alat maupun benda yang dapat membahayakan keamanan sidang.

7) Pengambilan foto, rekaman suara, atau rekaman TV harus meminta izin terlebih dahulu kepada Hakim Ketua Sidang.

8) Siapapun di sidang pengadilan bersikap tidak sesuai dengan martabat Pengadilan dan tidak mentaati Tata Tertib Persidangan, dan setelah Hakim Ketua Sidang memberi peringatan, masih tetap melanggar Tata Tertib tersebut, maka atas perintah Hakim Ketua Sidang, yang bersangkutan dikeluarkan dari ruang sidang dan apabila pelanggaran tata tertib dimaksud bersifat suatu tindakan pidana, tidak mengurangi kemungkinan dilakukan Penuntutan terhadap pelakunya

11. Berita Acara Sidang

Panitera Pengganti harus membuat Berita Acara Sidang yang memuat tentang hari, tanggal, tempat, susunan persidangan, pihak yang hadir, dan jalannya pemeriksaan perkara dengan jelas dan lengkap. Segala sesuatu yang terjadi dipersidangan dituangkan dalam berita acara yang juda diperiksa dan dikoreksi oleh majelis hakim yang menjalankan persidangan tersebut.

Berita Acara Sidang harus sudah selesai ditandatangami paling lambat sehari sebelum sidang berikutnya. Nomor halaman Berita Acara Sidang dibuat secara bersambung dari sidang pertama hingga sidang terahir.

Berita Acara Sidang adalah suatu akta authentik yang dibuat oleh Panitera yang ikut sidang memuat keterangan-keterangan tentang segala sesuatu yang terjadi dalam pemeriksaan persidangan. Pasal 97 UU No. 50 Tahun 2009 menyebutkan: Panitera, Wakil Panitera, Panitera Muda dan

Berita Acara Sidang adalah suatu akta authentik yang dibuat oleh Panitera yang ikut sidang memuat keterangan-keterangan tentang segala sesuatu yang terjadi dalam pemeriksaan persidangan. Pasal 97 UU No. 50 Tahun 2009 menyebutkan: Panitera, Wakil Panitera, Panitera Muda dan

Dokumen terkait