II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Biaya dan Pendapatan Usahatani
2.2 Biaya dan Pendapatan Usahatani
Biaya produksi merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. (Himawati, 2006). Biaya yang dikeluarkan oleh Peternak itik pedaging yaitu dari biaya tetap dan biaya variabel.
1. Biaya tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh produski yang dihasilkan. Misalnya : gaji, sewa tempat, pajak bumi bangunan dan penyusutan peralatan. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
TFC = FC x n
Keterangan :
TFC = Total Fixed Cost (Total Biaya Tetap)
FC = Fixed Cost (Biaya Tetap)
n = banyaknya input
Sedangkan untuk biaya penyusutan yang meliputi biaya penyusutan peralatan dan pajak dapat dihitung sebagai berikut :
=Pb − Ps T
Keterangan :
D = Depresiaai (Penyusustan)
Pb = Harga beli (Rp)
Ps = Harga Jual(Rp)
T = Lama pemakaian (tahun)(Himawati,2006)
2. Biaya Variabel
Biaya variabel merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang dihasilakan (biaya operasi). Misalnya bahan mentah, komisi penjualan, upah lembur dan pakan ternak. (Himawati, 2006). Secara matematis biaya variabel dapat dirumuskan sebagai berikut :
TVC = VC x n
Keterangan :
TVC = Total Variabel Cost (Total Biaya Variabel)
VC = Variabel Cost (Biaya Variabel)
n = Banyaknya Unit
Akhirnya biaya produksi secara matematis dapat ditulis(Himawati, 2006) sebagai berikut :
TC = TFC + TVC
Keterangan :
TC = Total Cost (Total Biaya Produksi)
TFC = Total Fixed Cost (Total Biaya Tetap)
TVC = Total Variabel Cost (Total Biaya Variabel)
3. Penerimaan
Menurut Boediono (2002), yang dimaksud dengan penerimaan (revenue) adalah penerimaan produksi dari hasil penjualan outputnya. Untuk mengetahui penerimaan total diperoleh dari output produksi dikalikan dengan harga jual output. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
TR = Q x P
Keterangan :
TR = Penerimaan Total
Q = Jumlah output/produk yang dihasilkan
P = harga jual
4. Pendapatan
Pendapatan merupakan selisih penerimaan dengan semua biaya produksi.Pendapatan meliputi pendapatan kotor (penerimaan total) dan pendapatanbersih.Pendapatan kotor adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi. Menurut Rasyaf (2002), besarnya pendapatan usaha ternak itik merupakan salah satu pengukur yang penting untuk mengetahui seberapa jauh usaha peternakan itik mencapai keberhasilan. Pendapatan adalah hasil keuntungan bersih yang diterima peternak yang merupakan selisih anatara penerima dan biaya produksi.
Untuk menghitung jumlah pendapatan maka digunakan rumus sebagai berikut (Soekartawi,dkk,2003) :
π = TR – TC
Keterangan :
π =Total Pendapatan / keuntungan yang diperoleh peternak (Rp/Thn)
TR =Total Revenue/penerimaan yang diperoleh peternak (Rp/Thn)
TC =Total Cost/Biaya yang dikeluarkan peternak(Rp/Thn)
2.3 Titik Impas (Break Even Point)
Break Even Point (BEP) adalah suatu keadaan dimana perusahaan dalam
operasinya tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita kerugian atau dengan kata lain total biaya sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba dan tidak ada rugi. Hal ini bisa terjadi apabila perusahaan di dalam operasinya menggunakan biaya tetap dan biaya variabel, dan volume penjualannya hanya cukup menutupi biaya tetap dan biaya variabel. Apabila penjualan hanya cukup menutupi biaya variabel dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan menderita kerugian. Sebaliknya, perusahaan akan memperoleh keuntungan, apabila penjualan melebihi biaya variabel dan biaya tetap yang harus dikeluarkan. Adapun beberapa manfaat dari Break Even Point (BEP) antara lain sebagai berikut:
1. Alat perencanaan untuk hasilkan laba
2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, sehubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
3. Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan.
Analisis titik impas (BEP) merupakan suatu titik kembali modal dimana pengurangan penerimaan total dengan biaya total sama denga nol (0). Sebuah perusahaan dapat dikatakan dalam keadaan impas jika setelah disusun laporan perhitungan laba rugi untuk suatu periode tertentu perusahaan tersebut tidak mendapatkan keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugian, dengan kata lain labanya sama dengan nol atau ruginya sama dengan nol. Hasil dari penjualan (sales revenue) yang diterima pada periode tertentu sama besarnya dengan
keseluruhan biaya (total cost), yang telah dikorbankan agar perusahaan tidak mmemperoleh keuntungan atau tidak menderita kerugian (Merry Beatrix, 2013).
Analisis break even point adalah suatu analisis yang bertujuan untuk menemukan titik dalam kurva biaya pendapatan yang menunjukkan biaya sama dengan pendapatan selanjutnya. “Dalam melakukan analisis peluang pokok diperlukan estimasi mengenai biaya tetap, biaya variabel, dan pendapatan. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan besar yang tetap, tidak tergantung dari volume penjualan. Biaya variabel (variabel cost) merupakan biaya yang besarnya bervariasi sesuai dengan jumlah unit yang diproduksi/dijual. Sedangkan pendapatan merupakan elemen lain dalam analisis pulang pokok yang besarnya bertambah sesuai dengan pertambahan volume penjualan”.
Analisis titik impas (Break Event Point) adalah suatu analisis yang bertujuan untuk menemukan satu titik yang menunjukkan biaya sama dengan pendapatan. Break Event Point (BEP) merupakan suatu nilai dimana hasil penjualan produksi sama dengan biaya produksi, sehingga pengeluaran sama dengan pendapatan (Herjanto, 2007).
Untuk mengetahui Break Event Point (Titik Impas) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Titik impas dalam volume produksi Daging/Ekor (Suratiyah, 2015):
BEP Produksi Daging/Ekor =
Titik impas dalam bentuk Rupiah(Rp) (Suratiyah, 2015):
BEP (Rp)
=
Dari uraian yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa analisis break even point adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui tingkat produksi maupun tingkat penjualan dimana dari tingkat produksi dan penjualan tersebut perusahaan tidak mengalami kerugian maupun mendapatkan keuntungan (impas).
2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian analisis break even point usaha ternak itik pedaging yang menggunakan konsep (grand teory), metode yang digunakan dan hasil penelitian. Dengan memahami suatu hasil penelitian terdahulu maka dapat diperoleh intisari mengenai keunggulan pada masing-masing penelitian terdahulu yang akan berdampak pada peningkatan kualitas hasil penelitian.
Tabel 2. Penelitian Terdahulu
No Penulis Metode Penelitian Hasil Penelitian 1 St. Aisyah R bahwa usaha peternakan ayam petelur mandiri memperoleh pendapatan sebesar Rp Sebesar 199.330.762 skala 5.000 ekor. Sementara bahwa usaha peternakan ayam ras petelur “UD. Tetey Permai”
memperoleh keuntungan sebesar
peternakan ayam ras petelur “UD. Tetey Permai.”.
Rp 3.117.715.583/periode dan sudah beroperasi diatas Break Even Point pada penjualan telur realisasi volume penjualan dan pendapatannya di atas batas BEP (Unit) dan BEP (rupiah).
2.6 Kerangka Pemikiran
Usaha peternakan unggas salah satunya ternak itik merupakan salah satu usaha yang mempunyai peranan usaha ternak yang dapat menggerakkan potensi yang penting dan strategi dalam bidang ekonomi di sector pertanian. Penelitian usaha ternak itik ini dilakukan di Desa Malimpung yang berpotensi untuk membangun perekonomian khususnya di Desa Malimpung Keamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.
Gambar 1. Kerangka Pikir Analisis Titik Impas Usaha Ternak Itik Pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.
Usaha Ternak Itik Pedaging
Produksi Daging Itik
Biaya Produksi (TC = TFC + TVC)
Penerimaan (TR = Q x P)
Pendapatan Usaha Ternak Itik Pedaging
Break Even Point
(Titik Impas)
III. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang yang merupakan daerah yang menjadi lokasi peternak itik.
Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2021.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang dilakukan dengan cara sampel jenuh atau sensus. Sampel jenuh merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi di gunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2014). Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Maka sampel penelitian sebanyak 2 orang (peternak besar itik pedaging) di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.
3.3 Jenis dan Sumber Data 3.3.1 Jenis Data
1. Data Kuantitatif adalah data yang dapat diukur berupa informasi atau penjelasan yang dihitung dengan bilangan atau dalam bentuk angka yaitu biaya yang dikeluarkann peternak itik, penerimaan, pendapatan yang didapatkan oleh peterna itik pedaging dan analisis titik impas usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten
2. Data Kualitatif adalah data yang muncul berwujud kata-kata yang dikumpulkan dalam aneka macam cara (observasi, wawancara, Intisar, dokumentasi dan pita rekaman) yang diproses sebelum siap digunakan melalui pencatatan, penyuntingan, ataupun alat tulis, tapi analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata yang diatasnya disusun kedalam kata-kata yang diperluas.
3.3.2 Sumber Data
Pada penelitian kali ini jenis data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek yang akan diteliti (informan) sedangkan untuk data sekunder yaitu data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada, pada penelitian kali ini, data primer dan sekunder diperoleh langsung dari peternak yang ada di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang
3.4 Teknik Pengumpulan Data 3.4.1 Observasi.
Observasi yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap lokasi penelitian dan aktivitas keseharian peternak.
3.4.2 Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan cara bertanya langsung untuk memperoleh informasi dari sumber yang diwawancarai.
Teknik wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya.
3.4.3 Pencacatan
Teknik ini dilakukan mengumpulkan data sekunder. Teknik ini dilakukan dapat mengambil data kemudian mencatat data tersebut dari berbagai seumber yang berkaitan dengan penelitian.
3.4.4 Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini merupakan metode bantu dalam upaya memperoleh data. Kejadian-kejadian atau peristiwa tertentu yang dapat dijadikan atau dipakai untuk menjelaskan kondisi yang di dokumentasikan oleh peneliti.
3.5 Teknik Analisis Data 1. Pendapatan
Pendapatan merupakan selisih penerimaan dengan semua biaya produksi.Pendapatan meliputi pendapatan kotor (penerimaan total) dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor adalah jumlah seluruh pendapatan secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi (Aktiva, 2016).
Pendapatan dapat dirumuskan sebagai beriku : π = TR- TC
Keterangan :
π = Pendapatan (Rp) TR = Total Penerimaan (Rp) TC = Total Biaya (Rp)
2. Analisis Break Even Point(Titik Impas)
Untuk mengetahui Break Event Point (Titik Impas) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
a. Titik impas dalam volume produksi Daging/Ekor (Suratiyah, 2015):
BEP Produksi Daging/Ekor =
b. Titik impas dalam bentuk Rupiah(Rp) (Suratiyah, 2015):
BEP (Rp)
=
3.6 Definisi Operasional
1. Peternak itik adalah seseorang yang membudidayakan itik di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang
2. Itik pedaging merupakan ternak unggas yang diternakkan dengan tujuan pengasil daging
3. Produksi adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan teran itik pedaging(Ekor)
4. Biaya adalah pengeluaran modal yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk berupa barang atau jasa.
5. Pendapatan adalah hasil dari kegiatan penjualan barang atau jasa di sebuah perusahaan dalam periode tertentu.
6. Analisis merupakan proses pemecahan suatu masalah menjadi bagian-bagian kecil sehingga lebih mudah dipahami
7. Titik impas (Break Efen Poin) merupakan suatu titik kembali modal dimana besarnya jumlah pengeluaran yang dikeluarkan untuk biaya produksi sama dengan jumlah pendapatan.
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak Geografis
Kabupaten Pinrang terletak di ujung utara bagian barat dari wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis terletak antara 3°19’13’’ - 4°10’30’’
Lintang Selatan (LS) dan 119°47’20’’- 119°47’20’’ Bujur Timur (BJ). Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Pinrang adalah sebelah utara perbatasan dengan Kabupaten Tanah Toraja, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Enrekang dan Sidenreng Rappang, sebelah selatan berbatasan dengan Kotamadya Pare-Pare dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat) dan Selat Makassar. Kabupaten Pinrang terdiri dari 12 Kecamatan dan 108 Desa/Kelurahan (39 Kelurahan dan 69 Desa) dengan total wilayah 1.961,77 Km².
Salah satu Kecamatan di Kabupaten Pinrang adalah Kecamatan Patampanua dengan luas wilayah 136.85 Km². Terdiri dari 11 Desa/Kelurahan, salah satu Desa yang ada di Kecamatan Patampanua adalah Desa Malimpung.
Malimpung adalah Desa yang ada di Kecamatan Patampanua yang penduduk desanya berada ±20 Km dari Kota Pinrang. Desa Malimpung terdiri dari 5 Dusun yaitu Dusun Malimpung, Dusun Pajalele, Dusun Palita, Dusun Cenrana, dan Dusun Pumalilling.
Adapun batas-batas wilayah Desa Malimpung adalah sebagai berikut : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Batulappa
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Paleteang 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Enrekang
Adapun kondisi iklimnya yaitu seperti yang diketahui bahwa Indonesia memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Iklim sangat menentukan keadaan petanian yang ada di Desa Malimpung. Musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober sedangkan musim hujan terjadi antara bulan November sampai dengan bulan April.
4.2 Keadaan Demografis
Adapun kondisi demografis di Desa Malimpung Kecamatan Patampunua adalah dengan jumlah penduduk berdasarkan Badan Pusat Statistik Kabupaten yaitu laki-laki 1.648 dan perempuan 1.703 dengan total keseluruhan 3351 jiwa yang dimana rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani.
4.3 Keadaan Pertanian
Sektor pertanian di Desa Malimpung mayoritas masyarakat menanam tanaman seperti Padi, Jagung, Palawija dan Sayur-sayuran. Tanaman sperkebunan seperti kakao dan buah-buahan. Selain sector pertanian, peternakan juga merupakan salah satu penyokong perekonomian desa Malimpung contohnya ternak Itik. Adapun penggunaan lahan di Desa Malimpung seperti lahan pertanian sawah terdiri atas sawah irigasi, sawah non irigasi dan sawah tadah hujan sedangkan lahan pertanian bukan sawah terdiri dari kebun dan padang rumput,
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identitas Responden
Identitas responden merupakan keterangan yang diperoleh dari responden berupa data kuisioner yang disebarkan oleh penulis yang berisikan mengenai nama, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan, pengalaman beternak dan jumlah ternak. Adapun identitas responden di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Identitas Responden di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang pekerjaan sampingan beternak, pengalaman beternak selama 5 tahun dan kepemilikan ternak sebanyak 2.000 ekor itik sedangkan untuk responden 2 yaitu Mustakin berumur 40 tahun, tingkat pendidikan SMP, pekerjaan pokok petani, pekerjaan sampingan peternak, pengalaman beternak selama 10 tahun, dan untuk kepemilikan ternak 3.000 ekor itik.
5.2 Analisis Biaya Usaha Ternak Itik Pedaging 5.2.1 Biaya Tetap Usaha Ternak Itik Pedaging
Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan dalam usaha dan tidak mempengaruhi besar dan kecilnya produksi. Besar biaya tetap usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Rata-rata Biaya Tetap Usaha Ternak Itik Pedaging Di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.
Sumber : Data Primer setelah diolah 2021
Berdasarkan Tabel 4. Menunjukkan bahwa rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan peternak responden ternak itik pedaging adalah Kandang Rp.10.500.000, Pipa PVC 6 Rp. 812.500, Pipa PVC ¾ Rp.660.000, Bak air Rp.2.400.000, Karang air Rp.87.500, Pemanas Rp.2.000.000, Terpal Rp.900.000, Mesin air Rp.1.000.000, Lampu Rp.240.000 dan BPP Rp.12.000, jadi untuk rata-rata biaya tetap usaha ternak itik pedaging yang diperoleh sebesar Rp.20.112.000
5.2.2 Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang dalam rentang waktu dan sampai batas tertentu jumlahnya berubah-ubah secara proporsional (Kuswadi,2015). Rata-rata biaya variabel peternak itik pedaging dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut :
No Uraian Total Biaya (Rp)
Sumber Data : Data Primer setelah diolah, 2021
Berdasarkan Tabel 5. Menunjukkan bahwa rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan peternak itik pedaging adalah, DOD(Day Old Duck) Rp.22.500.000, Pakan Rp.19.250.000, Obat dan Vaksin Rp.1.300.000, Tenaga Kerja Rp.110.000 dan Listrik Rp.135.000. Jadi untuk rata-rata biaya variabel usaha ternak itik pedaging yang diperoleh sebesar Rp.43.295.000
5.3 Penerimaan Usaha Ternak Itik Pedaging
Penerimaan adalah nilai yang dihasilkan dari suatu usaha. Penerimaan suatu proses roduksi dapat ditentukan dengan mengkalikan jumlah produksi dengan harga produksi tersebut (Putong, 2003). Rata-rata penerimaan usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut :
Tabel 6. Rata-rata penerimaan usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.
No Uraian Jumlah(Ekor) Harga(Rp) Nilai (Rp)
1 Daging Itik 2.500 50.000 125.000.000
Total Penerimaan 125.000.000
Sumber : Data Primer setelah diolah, 2021
Berdasarkan Tabel 6. Menunjukkan bahwa besar rata-rata penerimaan yang diperoleh oleh peternak itik pedaging dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan oleh peternak tersebut dengan harga jual yang sesuai, maka semakin besar pula penerimaan yang diperoleh peternak. Hasil pengamatan penelitian yang dilakukan di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang bahwa rata-rata penerimaan usaha ternak itik pedaging sebesar Rp.125.000.000.
5.4
Pendapatan Usaha Ternak Itik PedagingPendapatan merupakan hasil dari suatu usaha yang akan dinilai dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh, dengan cara penerimaan dikurangi biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Pendapatan adlah selisih antara total biaya yang dikeluarkan oleh pelaku usaha ternak. Hasil analisis ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang dapat dilihat pada tabel 7 sebagai berikut :
Tabel 7. Analisis Pendapatan Usaha Ternak Itik Pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang
No Uraian Jumlah Rata-rata (Rp)
1 Penerimaan 125.000.000 Sumber : Data Primer setelah diolah, 2021
Berdasarkan pada Tabel 7. Menunjukkan bahwa rata-rata total penerimaan sebesar Rp.125.000.000 dalam satu bulan terakhir dengan jumlah produksi perekor dengan harga satuan sebesar Rp.50.000/ekor. Rata-rata biaya variabel dengan total sebesar Rp.43.295.000 dan total biaya tetap sebesar Rp. 1.119.281,81 sehingga total pendapatan peternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang sebesar Rp. 80.585.718,2
5.5 Break Even Point (BEP) Usaha Ternak Itik Pedaging
Analisis titik impas atau analisis pulang pokok atau dikenal dengan nama analisis Break Even Point (BEP) dalam suatu usaha ternak itik pedaging. Break Event Point adalah suatu kondisi dimana modal telah kembali semua atau pengeluaran sama dengan penerimaan, pada saat BEP dicapai usaha tidak untung maupun rugi. BEP dapat dihitung dengan mengetahui biaya tetap, biaya produksi dan hasil penjualan, analisis BEP yang dimaksud ini untuk mengetahui berapa unit minimum yang harus dihasilkan agar usaha ternak itik pedaging tidak mengalami suatu kerugian.
Titik impas dalam Produksi Daging/Ekor (Suratiyah, 2015):
BEP Produksi Daging/ekor =
= . . ,
. .
= . . ,
.
= 34.618 / Ekor
Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat digambarkan bahwa usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua akan mengalami titik impas (BEP) pada volume produksi sebesar 34.618 ekor.
Titik impas dalam bentuk Rupiah (Rp) (Suratiyah, 2015):
BEP (Rp)
=
=
44.426.281,8.
= Rp. 17.770,51
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut digambarkan bahwa usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang akan mengalami titik impas (BEP) pada volume penjualan miniman mencapai Rp.
2.598.649, apabila volume penjualan kurang dari Rp. 2.598.649 maka usaha ternak itik pedaging akan mengalami kerugian.
Tabel 8. Analisis Break Even Point Usaha Ternak Itik Pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.
Uraian
Nilai (Rp)
BEP Produksi Daging/Ekor 34.618
BEP(Rp) 17.770,51
Sumber : Data Primer setelah diolah 2021
Berdasarkan tabel 8. Menunjukkan bahwa analisis titik impas (BEP) usaha ternak itik pedaging dalam satu periode didapatkan BEP penjualan produksi daging sebesar 34.618 ekor sedangkan untuk BEP Rupiah (Rp) dari usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang akan terjadi nilai Break Even Point (BEP) ketika mencapai penjualan sebesar Rp.
17.770,51.
VI.
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Total produksi usaha ternak itik pedaging dengan rata-rata sebesar 2.500 ekor dengan rata-rata penerimaan Rp.125.000.000 dan rata-rata biaya pengeluaran dari peternak sebesar Rp. 44.993.581 dengan pendapatan bersih yang diterima oleh peternak sebesar Rp. 80.006.419
2. Analisis titik impas atau Break Even Point (BEP) usaha ternak itik pedaging dalam satu periode dengan jumlah ternak 2.500 didapatkan hasil BEP Daging/Ekor sebesar 34.618 sedangkan untuk BEP(Rp) 17.770,51.
6.2 Saran
Bedasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan analisis Break Even Point (BEP) usaha ternak itik pedaging di Desa Malimpung Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang dapat diajukan saran atau rekomendasi yaitu sebagai berikut :
1. Sebaiknya merencanakan hasil panen dan penjualan pada tingkatmenguntungkan, untuk itu peternak berproduksi dan melakukan penjualan diatas titik impas (BEP).
2. Untuk memperkecil BEP peternakan di Desa Ujung Baru dapat dilakukan dengan menaikan harga jual dan bertindak efisien.
3. Perlu adanya perhatian pemerintah, untuk meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan peternak, terutama dalam hal pemasaran dan patokan harga dasar ayam pedaging.
4. Untuk mahasiswa perlu melakukan pengkajian lebih tentang tatacara melakukan budidaya itik pedaging dengan baik, agar mampu memberikan masukan teori ataupun ilmu yang dimiliki kepada pelaku usaha dan dapat pula membuka peluang usaha ternak dikarenakan peluang bisnisnya sangatlah besar.
DAFTAR PUSTAKA
Aktiva, E. (2016). Kontribusi Pendapatan Usahatani Dan Non Usahatani Terhadap Pendapatan Total Keluarga Petani Padi Sawah Lebak Pinggiran Kota. Jurnal Triagro, 1(1).
Ali, Arsyadi dan Febrianti, Nanda. 2009. Performans itik pedaging (lokal x peking) fase starter pada tingkat kepadatan kandang yang berbeda di desa laboi jaya kabupaten kampar. Jurnal Peternakan Vol 6 No 1 Februari 2009 (29 – 35) ISSN 1829 – 8729. Pekanbaru
Alfikri, S.N 2013 Studi Aspek Teknis dan Finansial Pengembangan Usaha Ternak Itik Hibrida Pedaging di Peternakan Saonada Kabupaten Jombang.
Fakultas Teknologi Pertanian[Skripsi] . universitas Brawijaya. Malang Alwindra, Nasution. Analisis Keuntungan Usaha Peternakan Itik Petelur(Studi
Kasus Pada Peternakan Itik Zulkarnain Farm) Di Lubuk Minturun Kecamatan Koto Tangah, Kota Pdang 2019. Phd Thesis. Universitas Andalas.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan 2018
Boediono, (2002), Ekonomi Makro: Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No.1 Edisi 2. Yogyakarta: BPEE.
Ditjennak PKH. 2015. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.
Indonesia, Jakarta.
Herjanto, Eddy. 2007. Manajemen Operasi. Jakarta. Grasindo
Himawati, D. 2006. Analisa resiko finansial usaha peternakan ayam pedaging pada peternakan plasma kemitraan KUD Sari Bumi di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Merry Beatrix Malombeke. 2013. “Analisis Break Even Point Sebagai Dasar Perencanaan Laba Holland Bakery Manado”. Jurnal EMBA. 1(III). Hlm.
806-817
Murtidjo, Agus B. 2006. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Yogyakarta: Kanisius.
Murtidjo, B.A. 2002. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Cetakan ke-3. Penerbit
Murtidjo, B.A. 2002. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Cetakan ke-3. Penerbit