HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.4 Biaya Obat Pada Pasien Rawat Inap dengan Sindroma Korner Akut Dari hasil penelitian dari 92 penderita Sindroma Koroner Akut
5.4.1 Biaya obat pada Penderita dengan Komplikasi dan Tanpa Komplikasi
Harga rata-rata yang dikeluarkan pasien dengan komplikasi gagal jantung adalah Rp. 128.980,- dan harga rata-rata pada pasien tanpa komplikasi adalah Rp. 126.600,- perhari.
Tabel 5.9 Rata-rata biaya Pasien komplikasi dan tanpa komplikasi Komplikasi Jumlah penderita Jumlah harga penggunaan obat Harga rata-rata Gagal jantung 20 Rp. 2.579.600,- Rp. 128.980,- Tidak ada 72 Rp. 9.115.000,- Rp. 126.600,- Total 92 Rp. 11.694.600,- Rp. 127.153,-
Harga minimal yang dikeluarkan pasien dan keluarga pasien untuk obat-obatan adalah sebesar Rp. 67.550,00/ hari dan maksimal yang dikeluarkan untuk biaya obat- obatan adalah Rp. 171.600,00 perhari nya. Rata – rata pasien dan keluarga menghabiskan biaya Rp. 127.153,00 per hari untuk biaya obat – obatan. Jenis obat-obatan yang dipakai dapat dilihat pada tabel 5.10 dibawah ini:
Tabel 5.10 Biaya obat-obatan pasien Sindroma Koroner Akut Jenis obat yang digunakan Lama rawatan Minimum (Rp. 67.550,00) STEMI Oksigen 2L 1 tab Aspirin 80mg 1 tab ISDN 5mg 1 tab Clopidogrel 75mg 0,5 tab Bisoprolol 5mg 1 tab Simvastatin 20mg 2 hari Maksimum (Rp. 171.600,00) STEMI dengan Gagal Jantung Oksigen 5L NaCL 0,9% 2 botol 2 tab Aspirin 80mg 1 tab ISDN 5mg 5000U UFH 1 tab Clopidogrel 75mg 1,5 tab Catopril 12,5mg 1 tab Bisoprolol 5mg 1 tab Simvastatin 20mg 1 tab Amlodipin 10mg 1 tab Furosemid 40mg 8 hari Rata-rata biaya Rp.127.150 ,00
5.5 Pembahasan
Selama tahun 2009, jumlah penderita Sindroma Koroner Akut di RSUP H. Adam Malik Medan berjumlah 92 pasien. Dichiara antonio (2001) dkk mndapatkan angka kejadian 298 penderita di Italian coronary care unit pada tahun 2001. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh adanya perbedaan faktor geografis dan gaya hidup masyarakat di negara maju yang mengakibatkan lebih banyak angka kejadian Sindroma Koroner Akut.
Pada keseluruhan penderita SKA didapati paling banyak didiagnosis dengan STEMI 49 kasus (53,3%) dari keseluruhan kasus (92 kasus), sedangkan NSTEMI 30 kasus (32,6%) dan UAP (unstable angina pectoris) 13 kasus (14,1%). Chiarella Francesco dkk (2001) di Italian Coronary Care Unit mendapat kan dari seluruh penderita 298 orang paling banyak didiagnosis dengan STEMI sebanyak 193 kasus (65%), diikuti dengan NSTEMI 90 kasus (30%) dan UAP 15 kasus (5%). Sedangkan menurut Alwi (2008) angka kejadian NSTEMI lebih sering dibandingkan dengan STEMI. Perbedaan ini mungkin karena perbedaan profil pasien, dimana pasien NSTEMI cenderung usianya lebih tua, dengan lebih banyak penyakit penyerta (komorbid), terutama diabetes dan gagal ginjal.
Pada keseluruhan kasus penderita SKA didapati laki –laki lebih banyak menderita penyakit ini, 75 kasus (81,5%) dari keseluruhan kasus (92 kasus). Sedangkan perempuan sebesar 17 kasus (18,5)%. Verheugt (2008) mengatakan wanita lebih sulit mengidap penyakit jantung koroner sampai masa menopause, dan kemudian sama rentannya dengan laki – laki.
Usia Penderita Sindroma Koroner Akut Jumlah usia terbanyak adalah pada sebaran kelompok umur 50-60 tahun, yaitu 32 orang (34,7%) dan 60-70 sebanyak 32 orang (35%). William (2007) menyebutkan kasus Sindroma Koroner Akut Umumnya terjadi pada pasien dengan usia diatas 40 tahun. Harrison (2000) mengatakan kejadian lebih sering pada pria umur 45-65 tahun dan tidak ada perbedaan dengan wanita setelah umur 65
tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya efek perlindungan estrogen (Verheugt, 2008).
Jumlah penderita Sindroma Koroner Akut yang mengalami komplikasi gagal jantung yaitu sebesar 20 kasus (21,7%). Syahriarti (2005) mendapatkan gagal jantung merupakan komplikasi yang paling sering dialami pasien – pasien dengan gangguan pembuluh darah koroner jantung.
Lama rawat inap pasien dengan Sindroma Koroner akut berkisar antara 2 sampai 8 hari dan paling banyak di rawat selama 3 hari 37 kasus (40,2%).
Rata – rata satu pasien mendapat rawat inap sekitar 3,6 hari pada satu pasien.
Mengapa terdapat perbedaan rawat inap tergantung kepada beberapa hal yang mempengaruhi seperti : keadaan ekonomi pasien, derajat berat-ringannya penyakit, komplikasi yang dialami pasien, daya tahan tubuh pasien, usia pasien serta adanya penyakit penyerta (komorbid).
Obat – obat standard untuk Sindroma Koroner Akut yang palin banyak digunakan adalah oksigen dan ISDN (Isorbida di-nitrat), Diberikan kepada seluruh pasien (92 penderita) dengan rata-rata pemberian oksigen 3,8 liter/pasien dan ISDN 2,5 tablet/pasien baik STEMI, NSTEMI maupun UAP. Hal ini disebabkan kebanyakan pasien datang dalam keadaan kedaruratan dengan keluhan nyeri dada dimana keluhan tersebut menunjukan terganggunya pasokan oksigen ke jantung. Sehingga keadaan vital perlu di stabikan seperti meningkatkan konsentrasi oksigen dalam darah, dan pemberian vasodilator ISDN yang akan membuka pembuluh darah sehingga pasokan darah dan oksigen ke jantung lebih cepat. Pemberian infus NaCL dengan rata-rata pemberian 2,5 botol /hari/pasien dimaksudkan agar menghindari pasien kekurangan cairan dan untuk pemberian obat-obatan.
Untuk anti agregasi trombosit paling banyak di berikan Clopidogrel (75 penderita) dengan rata-rata penggunaan 1tablet
75mg/pasien dan Aspirin (58 pasien) dengan rata-rata pemberian 2 tablet 80mg/pasien dan 1,1tablet 100mg/pasien. Berdasarkan penelitian CURE (Clopidogrel in Unstable Angina to Prevent Reccurent Ischemic Events) dan CREDO (Clopidogrel for Reduction of Event During Observation), dengan pemberian Aspirin 100mg ditambah Clopidogrel dosis harian 75mg dapat menurunkan resiko Kematian, Infark Miokard, dan Stroke 20%. Ada beberapa pasien yang hanya menggunakan Clopidogrel tanpa menggunakan Aspirin, hal mungkin disebabkan oleh adanya beberapa pasien yang tidak tahan terhadap penggunaan aspirin sehingga tidak diberikan ataupun dosis nya di perkecil (Trisnohadi 2006).
Untuk penyekat beta sebanyak 53 pasien diberikan Bisoprolol, dengan rata-rata pemberian Bisoprolol 5mg 0,8 tablet/pasien. Data-data menunjukan pemberian penyekat beta (Bisoprolol) dengan dosis harian 5mg dapat memperbaiki morbiditas dan mortalitas dengan infark miokard sebesar 13%. Berbeda dengan beberapa literatur yang banyak mengindikasikan pemberian Metoprolol, hal ini tidak menjadi masalah karena berbagai macam penyekat beta telah diteliti dan menunjukkan efektivitas yang sama (Trisnohadi, 2006).
Sebanyak 71 pasien menggunakan antikoagulan UFH (unfractionated heparin), dengan rata-rata penggunaaa 4100 U/pasien. Pemberian UFH waktu singkat dengan dosis maksimum 4000-5000 U menurut 6 studi mendapatkan hasil dapat menurunkan angka kematian dan infark miokard baru sampai 33% (Sjaharuddin, 2008). Adanya pasien yang tidak diberikan heparin berkaitan dengan adanya beberapa keadaan pasien yang perlu pengawasan terhadap pemberian UFH seperti pasien anemia dan trombositopenia (Sjahruddin, 2008).
Pemberian simvastatin kepada 52 pasien dengan rata-rata pemakaian 1tablet 20mg/pasien. Dengan tujuan untuk menjaga stabilisasi plak, Plak yang sering menyumbat pembuluh darah koroner adalah berasal dari tumpukan lemak dan kolesterol, sehingga akan menyebabkan arterosklerosis (Alwi, 2006). Pemberian simvastatin dimaksudkan agar
kadar kolesterol dalam darah menurun. Pemberian Allupurinol 18 pasien,dengan rata-rata pemakaian 2tab 100mg/pasien, bertujuan untuk menurunkan kadar asam urat (uric acid) pada beberapa pasien yang miliki kadar asam urat yang tinggi.
Pemberian Obat-obatan tambahan seperti catopril 55 pasien (1,8 tablet 12,5mg/pasien. Furosemid 38 pasien dengan rata-rata pemakaian 2ampul inj/pasien dan 1,5tablet 40mg/pasien. Aprazolam 15 pasien dengan rata-rata pemberian 1,4tablet 0,5mg/pasien. Amlodipin 25 pasien dengan rata-rata penggunaan 1tablet 10mg/pasien. Diazepam 25 pasien dengan rata-rata penggunaan 1tablet 5mg/pasien, dan KSR 26 dengan rata-rata pemberian 1 tablet 500mg/pasien. Kebanyakan Digunakan pada pasien-pasien dengan komplikasi gagal jantung.
Biaya obat pasien – pasien rawat inap berkisar diantara Rp. 67.550,00 sampai Rp. 171.600,00. Rata- rata pasien dan keluarga pasien menghabiskan biaya Rp. 127.150,00 perhari untuk biaya obat-obatan. Semakin lama pasien di rawat inap semakin besar biaya yang akan di keluarkan oleh pasien dan keluarga pasien, begitu juga jika terdapat komplikasi seperti gagal jantung harga rata-rata yang dihabiskan oleh satu orang pasien adalah Rp. 129.000,00 sedangkan tanpa komplikasi rata-rata satu pasien menghabiskan Rp. 126.600,00.Hal ini disebabkan oleh dosis obat yang akan terus diberikan.