BAB IV HASIL DAN ANALISA
4.4 Analisis Ekonomi PLTBg
4.4.2 Biaya Operasional dan Pemeliharaan (O&M)
Biaya operasional dan pemeliharaan terdiri dari biaya O&M sistem digester, biaya O&M tenaga biogas handling dan O&M sistem pembangkit listrik gas engine.
1. Biaya Operasional dan Pemeliharaan Sistem Digester
Biaya operasional dan pemeliharaan sistem digester ini terdiri dri penggunaan tenaga kerja berupa operator untuk mengoperasikan perala tan, biaya keperluan operasional dan biaya spare part. Berdasarkan penelitian Analisis Pemanfaatan Sampah Organik Di Pasar Induk Kramat Jati Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Biogas., menjelaskan biaya operasional dan perawatan pada sistem digester pertahun sebesar 6,7% dari biaya investasi digester, sehingga biaya operasional dan perawatan sistem digester sebesar:
Biaya O&M Sistem Digester = 6,7%xInvestasi Digester Biaya O&M Sistem Digester = 6,7%x35.645.625.000 Biaya O&M Sistem Digester = Rp. 2.388.256.880/tahun
2. Biaya Operasional dan Pemeliharaan Pengolahan Biogas
Biaya operasional dan pemeliharaan penyimpanan biogas terdiri dari biaya tenaga kerja untuk mengoperasikan kompresor, biaya pemeliharaan, pergantian spare part dan perawatan pemurnian biogas. Berdasarkan penelitian tahun 2010
57 biaya operasional dan pemeliharaan biogas handling pertahunnya sebesar 10,2%
sehingga biaya Operasional dan Pemeliharaan Scrubber H2S dan dehumidifier beserta biogas holder, blower dan flare sebesar:
Biaya O&M Pemurnian Biogas = 10,2%x(Investasi Pemurnian + Flare) Biaya O&M Pemurnian Biogas = 10,2% x (Rp 1.425.825.000 +
Rp 1.168.751.151 + Rp 1.283.242.500) Biaya O&M Pemurnian Biogas = Rp 395.537.502/tahun
3. Biaya Operasional dan Pemelihraan Sistem Pembangkit Listrik
Terdiri dari biaya tenaga kerja dan pemeliharaan, biaya pemeliharaan meliputi minyak pelumas, filter, baterai, busi dan komponen lainya pada proses konversi listrik. Biaya perawatan sistem pembangkit listri atau gas engine ini sebesar Rp.110,4/kWh [21]. Sedangkan gas engine yang digunakan pada pembangkit listrik tenaga biogas ini sebanyak 2 unit dengan kapasitas 1200 kW, produksi listrik dalam setahun sebesar 22.044.451,44 kWh/tahun. Sehingga biaya operasional dan pemeliharaan sistem pembangkit listrik sebesar:
Biaya O&M Pemurnian Biogas = 110,4/kWh x Produksi Listrik Tahunan Biaya O&M Pemurnian Biogas = 110,4/kWh x 22.044.451,44 kWh/tahun Biaya O&M Pemurnian Biogas = Rp 2.433.707.438
Berdasarkan perhitungan biaya operasional dan pemeliharaan diatas dapat dirangkum pada Tabel 4.6 dibawah ini:
Tabel 4. 6 Biaya operasional dan pemeliharaan
No Jenis Biaya
(Rp/tahun) 1 Biaya Operasional dan Pemeliharaan Sistem Digester 2.388.256.880 2 Biaya Operasional dan Pemeliharaan Penyimpanan
Biogas
395.537.502 3 Biaya Operasional dan Pemeliharaan Sistem Pembangkit
Listrik
2.433.707.438
Total 5.217.501.820
Jadi biaya operasional dan pemeliharaan pada pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah cair kelapa sawit di PKS PTPN III Sei Silau sebesar Rp 5.217.501.820.
58 4.4.3 Biaya Produksi Biogas dan Listrik
Menentukan biaya produksi pada pembangkit listrik tenaga biogas terbagi atas dua komponen yaitu biaya produksi biogas, biaya produksi listrik dan biaya PLTBg.
1. Biaya Produksi Biogas
Perhitungan biaya produksi berdasarkan penyusutan biaya investasi komponen produksi biogas selama umur proyek (20 tahun) dan biaya operasional dan pemeliharaan peralatan produksi biogas. Besarnya biaya penyusutan modal selama 20 tahun diperoleh berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan Biaya Penyusutan Modal =total biaya investasi produksi biogas
usia proyek Biaya Penyusutan Modal =Rp. 41.049.068.700
20 tahun
Biaya Penyusutan Modal = Rp. 2.052.453.440/tahun
Sedangkan untuk biaya produksi pertahun menggunakan persamaan 2.12 Biaya Produksi Pertahun = Biaya penyusutan + Biaya operasional
dan pemeliharaan produksi biogas Biaya Produksi Pertahun = Rp. 2.052.453.440 + Rp. 2.388.256.880 +
Rp. 395.537.502
Biaya Produksi Pertahun = Rp. 4.836.247.820/tahun
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui biaya produksi biogas sebesar Rp. 4.836.247.820/tahun, sedangkan jumlah produksi biogas pertahunnya sebanyak 4.698.907 Nm3/tahun. Sehingga biaya produksi biogas sebesar:
Biaya Produksi Biogas = Biaya produksi pertahun Jumlah Produksi Biaya Produksi Biogas = Rp. 4.759.966.564/tahun
4.698.907 Nm3 Tahun Biaya Produksi Biogas = Rp. 1.029,22/Nm3
2. Biaya Produksi Listrik (PLTBg)
Sedangkan biaya produksi pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah cair pada PKS PTPN III Sei Silau dihitung dengan total biaya investasi PLTBg sebesar Rp 59.731.221.200
59 Biaya Penyusutan Modal =Total Biaya Investasi PLTBg
usia proyek Biaya Penyusutan Modal =RP. 59.731.221.200
20 tahun Biaya Penyusutan Modal = Rp. 2.796.021.560
Biaya Produksi Pertahun = Biaya penyusutan + Biaya operasional dan pemeliharaan produksi PLTBg Biaya Produksi Pertahun = Rp. 2.796.021.560 + Rp. 5.217.501.820 +
Rp. 3.367.815.060
Biaya Produksi Pertahun = Rp. 11.381.338.400/tahun
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui biaya produksi dari PLTBg sebesar Rp. 11.381.338.400 /tahun, jumlah produksi biogas pertahunnya sebanyak 4.698.907,52 m3/tahun, sedangkan jumlah produksi listrik pertahunnya sebanyak 22.044.451,44 kWh/ tahun. Sehingga biaya produksi biogas sebesar:
Biaya Produksi PLTBg =Biaya produksi pertahun jumlah produksi Biaya Produksi PLTBg = Rp. 11.381.338.400/tahun
22.044.451,44 kWh/tahun Biaya Produksi PLTBg = Rp. 516,29/kWh
4.4.4 Perhitungan Pendapatan
Pendapatan pada pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah cair kelapa sawit di PT. Sumber Sawit Sejahtera ini berasal dari penjualan listrik, sedangkan sludge digunakan untuk pupuk organik di perkebunan perusahaan langsung.
Produksi energi listrik yang dihasilkan tiap tahun adalah sebesar 22.044.451,44 kWh/tahun. Energi listrik yang dihasilkan dari PLTBG dari limbah cair kelapa sawit di PKS PTPN III Sei Silau dapat dijual dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara) sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM no 27 tahun 2015 tentang penjualan energi listrik dari tenaga biogas dengan seharga Rp.1.050/kWh khusus untuk wilayah Sumatera yang terpasang pada jaringan menengah. Sehingga pendaatan dari penjualan listrik sebesar:
Penjualan listrik = Produksi listrik/tahun × Rp. 1.050/kWh
60 Penjualan listrik = 22.044.451,44 kWh/tahun × Rp. 1.050/kWh
Penjualan listrik = Rp. 23.146.674.012,00/tahun
Sehingga didapatkan pendapatan pertahun yang diperoleh dari pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah kelapa sawit di PTPN III Sei Silau sebagai berikut sebesar Rp. 23.146.674.012,00 pertahun.
4.5 Analisis Finansial
Pada penelitian ini metode Cash Flow digunakan untuk mengetahui rincian biaya yang harus dikeluarkan dan pendapatan yang akan didapatkan dari proyek, dan juga untuk membandingkan pengeluaran dan pendapatan setiap tahunnya selama umur perencanaan proyek yang direncanakan yaitu selama 20 tahun.
Analisa Cash Flow terbagi dua yaitu Cash Flow Benefit (aliran uang masuk) dan Cash Flow Cost (aliran uang keluar).
Perhitungan menggunakan metode Cost Benefit Analysis memiliki beberapa parameter antara lain yaitu, Cash Flow (CF), Net Present Value (NPV), dan Payback Period.
4.5.1 Cash Flow (CF)
Pada penelitian ini metode Cash Flow digunakan untuk mengetahui rincian biaya yang harus dikeluarkan dan pendapatan yang akan didapatkan dari proyek, dan juga untuk membandingkan pengeluaran dan pendapatan setiap tahunnya selama umur perencanaan proyek yang direncanakan yaitu selama 20 tahun.
Analisa Cash Flow terbagi dua yaitu Cash Flow Benefit (aliran uang masuk) dan Cash Flow Cost (aliran uang keluar).
1. Cash Flow Benefit (CFB)
Cash Flow Benefit adalah aliran uang yang masuk disetiap tahun selama sistem berjalan atau umur proyek. Aliran uang yang masuk disetiap tahun dihitung berdasarkan nilai rata-rata suku bunga yang ada pada tahun pertama pelaksanaan proyek, sehingga aliran uang yang masuk akan berbeda setiap tahun berikutnya.
Nilai suku bunga rata-rata yang digunakan sebesar 5 %, nilai ini didapatkan berdasarkan dari Bank Indonesia. Selain suku bunga, variabel lain yang diperlukan adalah benefit atau keuntungan dalam 1 tahun yang didapat, yaitu sebesar Rp.
23.146.674.012,00 /tahun.
61 Dalam perhitungan ini menurut buku ekonomi teknik yang dirujuk, variabel benefit diasumsikan merata/flat setiap tahun dengan catatan O&M dilakukan rutin sesuai yang direkomendasikan, karena O&M sangat mempengaruhi kinerja dan umur peralatan. Perhitungan Cash Flow Benefit menggunakan rumus pada persamaan (2.23). Sebagai contoh berikut perhitungan Cash Flow Benefit pada tahun ke-1 dan ke-20.
𝐶𝐹𝐵1 = Benefit(1 + 0,05)−1
𝐶𝐹𝐵1 = Rp. 23.146.674.012,00(1 + 0,05)−1 𝐶𝐹𝐵1 = Rp. 21.989.340.311,40
𝐶𝐹𝐵20 = Benefit(1 + 0,05)−20
𝐶𝐹𝐵20 = Rp. 23.146.674.012,00(1 + 0,05)−20 𝐶𝐹𝐵20 = Rp. 8.564.269.384,44
Dari hasil perhitungan dida patkan Cash Flow Benefit pada tahun ke–1 sebesar Rp. 25.287.741.358,11 dan Cash Flow Benefit tahun ke–20 sebesar Rp.8.564.269.384,44 . Berikut hasil pengolahan data berdasarkan perhitungan Cash Flow Benefit pada Tabel 4.7 di bawah ini.
62 Tabel 4. 7 perhitungan Cash Flow Benefit Tabel
Tahun Cost Benefit
1 23.146.674.012,00 0,95 21.989.340.311,40
2 23.146.674.012,00 0,9 20.832.006.610,80
3 23.146.674.012,00 0,86 19.906.139.650,32 4 23.146.674.012,00 0,82 18.980.272.689,84 5 23.146.674.012,00 0,78 18.054.405.729,36 6 23.146.674.012,00 0,74 17.128.538.768,88 7 23.146.674.012,00 0,71 16.434.138.548,52 8 23.146.674.012,00 0,67 15.508.271.588,04 9 23.146.674.012,00 0,64 14.813.871.367,68 10 23.146.674.012,00 0,61 14.119.471.147,32 11 23.146.674.012,00 0,58 13.425.070.926,96 12 23.146.674.012,00 0,55 12.730.670.706,60 13 23.146.674.012,00 0,53 12.267.737.226,36
14 23.146.674.012,00 0,5 11.573.337.006,00
15 23.146.674.012,00 0,48 11.110.403.525,76 16 23.146.674.012,00 0,45 10.416.003.305,40 17 23.146.674.012,00 0,43 9.953.069.825,16 18 23.146.674.012,00 0,41 9.490.136.344,92 19 23.146.674.012,00 0,39 9.027.202.864,68 20 23.146.674.012,00 0,37 8.564.269.384,44 Total Cash Flow Benefit 286.324.357.528,44 Dari tabel diatas dapat dilihat hasil dari pengolahan data berdasarkan perhitungan Cash Flow Benefit, total aliran uang masuk selama umur proyek yaitu 20 tahun sebesar Rp. 286.324.357.528,44 dan rata-rata pendapatan pertahun sebesar Rp 14.316.217.876,42.
2. Cash Flow Cost (CFC)
Dalam penelitian ini Cash Flow Cost digunakan untuk mengetahui aliran uang yang keluar disetiap tahun, mulai dari biaya investasi awal dan biaya operasional serta perawatan, yang kemudian biaya tersebut dihitung sesuai umur perencanaan proyek yaitu selama 20 tahun. Dalam penelitian ini biaya investasi awal pada
63 proyek adalah sebesar Rp. 55.920.431.200,00 dan biaya perawatan sebesar Rp.
5.217.501.820,00/tahun. Sebelum melakukan perhitungan, terlebih dahulu harus diketahui nilai dari Present Worth Function (PWF) yang dipengaruhi oleh nilai suku bunga, dan nilai ini didapatkan dari Bank Indonesia yaitu sebesar 5%. Sebagai contoh berikut perhitungan Cash Flow Cost pada tahun ke–0 dan ke–20.
𝑃𝑊𝐹 = 1 Rp 59.731.221.200,00 dan pada tahun ke–20 sebesar Rp. 1.930.475.673,40. Untuk perhitungan lengkap setiap tahun, berikut nilai Cash Flow Cost (CFC) lengkap setiap tahun pada perencanaan proyek ini pada Tabel 4.8 dibawah ini.
64 Tabel 4. 8 Perhitungan Cash Flow Cost Tabel
Tahun Biaya Investasi
Total Cash Flow Cost 124.271.718.713,40 Dari tabel diatas dapat dilihat hasil dari pengolahan data berdasarkan perhitungan Cash Flow cost, total aliran uang keluar selama umur proyek yaitu 20 tahun sebesar Rp. 124.271.718.713,40 dan rata-rata uang keluar dalam pertahun sebesar Rp 6.213.585.935,67.
4.5.2 Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) adalah metode yang digunakan untuk mengetahui nilai bersih (netto) transaksi masa depan yang mencerminkan nilai mata uang sekarang. Metode NPV merupakan parameter yang digunakan untuk mengevaluasi
65 apakah suatu rencana investasi layak secara ekonomi atau tidak, dan kriteria kelayakan tersebut dinilai berdasarkan indikasi jika nilai NPV > 0 maka investasi tersebut menguntungkan atau layak untuk dibangun, namun jika NPV < 0 maka investasi tersebut tidak menguntungkan atau tidak layak. Perhitungan NPV merupakan hasil pengurangan antara Cash Flow Benefit (CFB) dan Cash Flow Cost (CFC). Berikut hasil perhitungan NPV pada Tabel 4.9 dibawah ini.
Tabel 4. 9 Perhitungan NPVTabel
Tahun Cash Flow Benefit Cash Flow Cost(Rp) Net Present Value
0 -59.731.221.200,00
1 21.989.340.311,40 4.956.626.729,00 17.032.713.582,40 2 20.832.006.610,80 4.695.751.638,00 16.136.254.972,80 3 19.906.139.650,32 4.487.051.565,20 15.419.088.085,12 4 18.980.272.689,84 4.278.351.492,40 14.701.921.197,44 5 18.054.405.729,36 4.069.651.419,60 13.984.754.309,76 6 17.128.538.768,88 3.860.951.346,80 13.267.587.422,08 7 16.434.138.548,52 3.704.426.292,20 12.729.712.256,32 8 15.508.271.588,04 3.495.726.219,40 12.012.545.368,64 9 14.813.871.367,68 3.339.201.164,80 11.474.670.202,88 10 14.119.471.147,32 3.182.676.110,20 10.936.795.037,12 11 13.425.070.926,96 3.026.151.055,60 10.398.919.871,36 12 12.730.670.706,60 2.869.626.001,00 9.861.044.705,60 13 12.267.737.226,36 2.765.275.964,60 9.502.461.261,76 14 11.573.337.006,00 2.608.750.910,00 8.964.586.096,00 15 11.110.403.525,76 2.504.400.873,60 8.606.002.652,16 16 10.416.003.305,40 2.347.875.819,00 8.068.127.486,40 17 9.953.069.825,16 2.243.525.782,60 7.709.544.042,56 18 9.490.136.344,92 2.139.175.746,20 7.350.960.598,72 19 9.027.202.864,68 2.034.825.709,80 6.992.377.154,88 20 8.564.269.384,44 1.930.475.673,40 6.633.793.711,04 Total Nilai Net Present Value (NPV) 162.052.638.815,04 Berdasarkan perhitungan didapatkan nilai NPV sebesar Rp.
162.052.638.815,04 ini artinya karena NPV = Rp. 162.052.638.815,04 > 0 dan mengindikasikan bahwa NPV > 0 maka proyek investasi dinilai layak untuk dilakukan karena dinilai menguntungkan.
66 4.5.3 Payback Period (PBP)
Payback period merupakan suatu metode yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan suatu investasi dengan cara menghitung jangka waktu pengembalian biaya investasi. Dengan kata lain payback period merupakan rentang jangka waktu yang diperlukan agar seluruh biaya investasi yang telah dikeluarkan nantinya akan didapatkan kembali seluruhnya. Didalam metode Payback Period, kriteria untuk mengetahui apakah suatu rencana investasi layak atau tidak adalah jika k ≤ n maka investasi tersebut layak untuk dibangun, namun jika k > n maka investasi tersebut kurang layak untuk dibangun (k = jangka waktu pengembalian investasi, n = umur investasi).
Dalam penelitian ini, metode payback period digunakan untuk mengevaluasi kelayakan perencanaan produksi biogas sebagai pengembangan energi listrik.
Biaya investasi awal adalah sebesar Rp 55.920.431.200,00 dan biaya perawatan sebesar Rp 5.217.501.820,00 per tahun, dengan benefit atau keuntungan pertahun sebesar Rp 14.316.217.876,42. Berikut hasil perhitungan menggunakan metode payback periode.
Berdasarkan perhitungan Finansial pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah cair diatas, dapat dirangkum dalam tabel 4.10 dibawah ini.
Tabel 4. 10 Perhitungan Finansial
NO Analisis Finansial Nilai
1 Total Cash Flow Benefit Rp. 286.324.357.528,44
2 Total Cash Flow Cost Rp. 124.271.718.713,40
3 Total Nilai Net Present Value (NPV) Rp. 162.052.638.815,04
4 Payback Period (k) 4,17 Tahun
67 4.6 RETScreen Expert
Setelah menganalisis seluruh komponen dan analisis finansial dari Pembangkit Listrik Teanga Biogas (PLTBg) Limbah cair (POME) di PKS PT.Perkebunan Nusantara III Sei Silau. Maka tahap selanjutnya yaitu membuat analisa finansial perancangan PLTBg berbahan bakar limbah cair kelapa sawit (POME) sebagai energi listrik alternatif di PKS PT.Perkebunan Nusantara III Sei Silau. Gambar 4.2 menunjukkan tampilan utama RETScreen Expert.
Gambar 4. 5 Tampilan utama RETScreen Expert
Di dalam software bantuan analisa finansial memiliki informasi fasilitas sebagai berikut, Gambar 4.3 menunjukkan faslititas RETScreen Expert.
Gambar 4. 6 faslititas RETScreen Expert
68 Variabel yang dimasukkan dalam analisa finansial yang terdiri dari Biaya investasi unit PLTBg yang mencakup (Biaya investasi Sistem Digester, Biaya investasi Scrubber, Biaya investasi Dehumidifier, Biaya investasi Flare, Biaya investasi Gas Engine) dan Biaya operasional dan pemeliharaan yang mencakup (Biaya operasional dan pemeliharaan sistem Digester, Biaya operasional dan pemeliharaan sistem penyimpanan Biogas, Biaya operasional dan pemeliharaan sistem penbangkit Listrik), Gambar 4.4 menunjukkan Analisa Biaya RETScreen Expert.
Gambar 4. 7 Analisa Biaya RETScreen Expert
Dalam analisis finansial menggunakan RETScreen Expert yang dimana menggunakan suku bunga 5% serta dengan masa proyek selama 20 tahun.
Menghasilkan nilai Payback Period, NPV ditunjukkan pada Gambar 4.5
Gambar 4. 8 Nilai Payback Period menggunakan Aplikasi
Perhitungan Payback Period menggunakan software RETScreen Expert didapat 4,1 tahun pengembalian yang ditunjukkan dalam Gambar 4.6
69 Gambar 4. 9 Grafik perhitungan Payback Period menggunakan Aplikasi Berdasarkan perhitungan manual dan perhitungan menggunakan software RETScreen Expert mendapatkan hasil yang hampir sama, dapat terlihat di dalam perhitungan Payback Period adalah 4,1 tahun, sehingga dapat disimpulkan perhitungan menggunakan software dan manual adalah benar.
4.7 Layout Perancangan PLTBg Limbah Cair (POME)
Setelah menganalisis komponen dari Pembangkit Listrik Teanga Biogas (PLTBg) Limbah cair (POME) di PKS PT.Perkebunan Nusantara III Sei Silau.
Maka tahap selanjutnya yaitu membuat layout perancangan PLTBg limbah cair sebagai energi listrik alternatif di PKS PTPN III Sei Silau. Berikut layout perancangan PLTBg Limbah Cair (POME) ditunjukkan pada Gambar 4.9
Gambar 4. 10 Layout perancangan PLTBg
70
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisa yang sudah dilakukan maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut ini :
1. Ditinjau dari Analisa teknis proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas dari limbah cair kelapa sawit Di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Sei Silau menghasilkan produksi gas metana sebesar 4.698.907,52 m3 CH4/tahun dan produksi listrik tahunan sebesar 22.044.451,44 kWh/tahun, yang dimana harga produksi listriknya sebesar Rp. 516,29 serta dengan ketersediaan lahan yang mendukung.
Sehingga berdasarkan analisa teknik penelitian ini layak untuk terapkan Pembangunan PLTBg.
2. Ditinjau dari Analisa Ekonomi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas dari limbah cair kelapa sawit Di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Sei Silau biaya investasinya sebesar Rp.59.731.221.200, biaya operasional dan pemeliharaan didapat senilai Rp. 5.217.501.820, dan biaya pendapatan yang diperoleh senilai Rp.23.146.674.012,00. Sehingga hasil dari analisis finansial NPV selama proyek senilai Rp. 162.052.638.815,04 Serta Payback Periode yang didapat yaitu 4,17 tahun dengan masa pakai pembangkit 20 tahun. Sehingga berdaraskan analisa ekonomi penelitian ini layak untuk diterapkan Pembangunan PLTBg.
5.2 Saran
Adapun beberapa saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah :
1. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat membahas seluruh aspek kimiawi yang berada dalam proses Pembangkit Listrik Tenaga Biogas.
2. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas di PKS Sei Silau.
71
DAFTAR PUSTAKA
[1] Sunarti, S. Agus, dkk, ”Kajian Penyediaan Dan Pemanfaatan Migas, Batubara, EBT dan Listrik”, Desember 2017.
[2] (IESR), "LAPORAN STATUS ENERGI BERSIH INDONESIA," IESR (2019), Maret 2019.
[3] BADAN PUSAT STATISTIK, "Statistik Kelapa Sawit Indomesia," Katalog BPS: 5504003, 2019.
[4] Y.M Alkusma, “Pengembangan Potensi Energi Alternatif Dengan Pemanfaatan Limbah Cair Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Baru Terbarukan Di Kabupaten Kotawaringin Timur”,Jurnal Ilmu Lingkungan, Vol.14, No.2, 2016 [5] M. Fandy, S. Atmonobudi,dan Qamaruzzaman, “POME ke Biogas-Studi Potensi POME di Provinsi Nangroe Aceh Darusallam(NAD)”, International Conference on High Voltage Engineering and Power System, 2017
[6] M. Kismurtono, H. Julendra, E. Mahajoeno dan M. Korniawan, “Development of Enhanced Biogas Production from Palm Oil Mill Effluent (POME)”, BITEC, Bang-Na, Thailand, 14-16 September 2016
[7] A. Zulkifli, "ANALISIS KELAYAKAN POTENSI PEMBANGUNAN PLTBg POME DI WILAYAH PERKEBUNAN SAWIT," Jurnal PASTI Volume X No. 2, 192 - 207, 2016.
[8] Y. Wan, Danial,dan H. Ayong, "POTENSI PEMANFAATAN PALM OIL MILL EFLUENT(POME) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOGAS DI PKS PT. FAJAR SAUDARA KUSUMA,"
Vol 2, No 1 (2018), 2018.
[9] S. Yulianta, R. Eka,dan Suherman, “studi perbangdingan antara Metode Covered Lagoon dan Metode Digester Anaerobik untuk pengolahan POME menjadi biogas”,International Conference on Electrical, Telecommunication and Computer Engineering (ELTICOM), 2020.
[10]Erhaneli dan H. Arif, "ANALISA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOGAS (PLTBG) DENGAN PEMFAATAN PALM OIL MILL EFFLUENT," Seminar Nasional Peranan Iptek Menuju Industri Masa Depan (PIMIMD-5), 2019.
72
[11] US AID From the American People, Buku panduan Konversi POME Menjadi Biogas Pengembangan Proyek di Indonesia, amerika serikat: Winrock International, 2015.
[12]K. Abdul, A. Ira,dan W. Sari, "PENAMBAHAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT UNTUK MENINGATKAN PRODUKSI BIOGAS PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA ANAEROBIK," Vol. 14, No. 1, Juli 2014, 2014.
[13] W. Budi, H. Septian,dan S. Edhi, "DEGRADASI COD LIMBAH CAIR DARI PABRIK KELAPA SAWIT DALAM PROSES PEMBENTUKAN BIOGAS,"
Vols. Vol. 5, No. 3 2015.
[14]W. Ari, "Analisis Potensi Pembangkit Listrik Biogas Berbasis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Studi Kasus Pks PT Intan Sejati Andalan Riau," ISSN 2088 – 3676, vol. Volume (3). No (2), 2015.
[15]Sulistyo, Agung,”Analisis Pemanfaatan Sampah Organik Di Pasar Induk Kramat Jati Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Biogas.” Tesis. Fakultas Teknik Program Magister Teknik Elektro Depok Universitas Indonesia, 2010.
[16] H. Wahyu,"Studi Tekno-Ekonomi Pemurnian Biogas dari Limbah Domestik.,"
2012.
[17] N. KANIAWATI, "Manfaat Studi Kelayakan Proyek dan Analisa Aspek-Aspek Studi kelayakan Proyek," VOL 3 no.1, agustus 2001.
[18] M. Drs. M. Giatrnan, "EKONOMI TEKNIK," ISBN 979-769-045-8, 2011.
[19] Minister of Natural Resources Canada, RETScreen Software Online Manual.
1997-2005
[20] Ramadhani, Chika, “Studi kelayakan teknis dan finansial biogas power plant di industri kelapa sawit (studi kasus: pt. Bio nusantara teknologi).” 2020 [21]Akhwari Wahyu, Moh Fahrurrozi,”Studi Tekno-Ekonomi Pemurnian Biogas
dari Limbah Domestik,”VOL 6 No. 2, 2012
[22] Waskito, Didit, “Analisis Pembangkit Listrik Tenaga Biogas Dengan Pemanfaatan Kotoran Sapi Dikawasan Usaha Peternakan Sapi”, Tesis.
Fakultas Teknik Program Magister Teknik Manjemen Energi dan Ketenagalistrikan Salemba Universitas Indonesia, 2011
73
LAMPIRAN
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86