• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bibliografi, Bibliometriks serta Analisis Sitiran dan Entropi

1. PENDAHULUAN

2.6. Bibliografi, Bibliometriks serta Analisis Sitiran dan Entropi

Secara harfiah, bibliografi adalah kumpulan publikasi, baik berupa buku, artikel, jurnal, disertasi, situs web, atau informasi lainnya untuk topik tertentu (University of Connecticut Libraries 2005). Dalam bibliografi, terdapat banyak informasi yang berguna bagi ilmu informasi dan perpustakaan.

Bibliometriks adalah metode penelitian yang digunakan dalam ilmu informasi dan perpustakaan (Palmquist 1997). Bibliometriks menggunakan analisis kuantitatif dan statistik untuk mendeskripsikan pola publikasi pada sebuah literatur. Sedangkan analisis sitiran adalah salah satu metode bibliometriks untuk mengungkap hubungan antar penulis maupun hasil tulisannya (Palmquist 1997). Analisis sitiran menggunakan data sitiran dalam mengevaluasi aktivitas ilmiah untuk melihat hubungan yang ada antara yang disitir dengan yang menyitir (Mutiara 2004). Hubungan tersebut dapat terjadi antar penulis, antar kelompok kerja, antar jurna l, antar bidang, bahkan antar negara. Salah satu penelitian yang

berkaitan dengan analisis sitiran dilakukan oleh Kostoff et al. (2004). Penelitian tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi pengguna hasil suatu penelitian, aplikasi, dan pengaruhnya terhadap pelaku penelitian, manager, penilai, serta penyandang dana.

Analisis entropi dalam ilmu informasi mengadopsi terminologi entropi dalam termodinamika. Entropi dalam termodinamika adalah ukuran ketidakteraturan alam semesta. Dalam sebuah sistem terisolasi, total energi yang terkandung di dalamnya tetap sama.

Akan tetapi, transformasi energi searah (irreversible) menyebabkan sistem tersebut terdegradasi. Degradasi ini adalah bentuk dari mengarahnya distribusi energi dalam sistem pada suatu pola tertentu (Dutta 1995).

Konsep entropi dalam termodinamika kemudian diadopsi dalam ilmu informasi. Dalam hal karya tulis ilmiah, sebuah jurnal dapat menjadi sumber inspirasi penulis/peneliti lain dalam berkarya. Saat suatu tulisan terbit, kondisi ini dapat dianalogikan dengan kondisi saat terjadi ketidakseimbangan distribusi energi dalam sistem termodinamika. Sitiran, merupakan ujud dari mengarahnya distribusi energi tersebut menuju suatu pola tertentu.

Mutiara (2004) memformulasikan nilai entropi untuk kasus bibliografi seperti persamaan 1 berikut ini.

(1)

dengan I = entropi probabilistik

np = jumlah total sitiran saat priori

nq = jumlah total sitiran saat posteriori

fp = frekuensi sitiran saat priori

fq = frekuensi sitiran saat posteriori

Indeks p = kondis i priori Indeks q = kondisi posteriori

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Secara umum, metode penelitian yang digunakan tersusun dalam suatu diagram alir seperti pada Gambar 13. Diagram alir tersebut memperlihatkan tahap-tahap penelitian yang dilakukan.

Gambar 13 Tata laksana penelitian

Penjelasan rinci mengenai tahapan penelitian adalah sebagai berikut.

a. Identifikasi Masalah. Tahapan ini dilakukan dengan menelaah alur kerja penelitian Mutiara (2004) seperti Gambar 14. Dalam alur kerja tersebut terdapat kesulitan dalam pengumpulan data yang berpotensi diselesaikan menggunakan grid. Selain itu, dilakukan juga telaah terhadap semua pustaka mengenai grid, OGSA-DAI, WS, dan analisis entropi.

b. Identifikasi subsistem dan pengumpulan data.

• Identifikasi susbsistem yang terlibat dalam prototipe sistem didasarkan pada alur kerja penelitian Mutiara (2004) dengan beberapa batasan. Kemudian, dibuat skema hubungan setiap susbsistem seperti diilustrasikan pada Gambar 15. Kedua subsistem yang menyediakan fasilitas integrasi data untuk mendukung perhitungan entropi. Keduanya juga tergabung dalam sebuah VO yang saling percaya.

• Data yang digunakan diperoleh dari Perpustakaan PPIN – Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Gambar 15 Skema hubungan antar subsistem

2.2.3 Konfigurasi GT dan OGSA-DAI serta Disain skema dan implementasi basis data.

• Konfigurasi GT dilakukan di server1 dan server2 meliputi simpleCA

(paket Certificate Authority yang dikemas dalam paket GT). Kedua mesin juga diset untuk saling mempercayai Cetificate Authority keduanya. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan instalasi paket OGSA-DAI sebagai layanan baru dalam GT, instalasi data service dan data service reource.

• Disain skema basis data dilakukan untuk server basis data yang berbeda, masing- masing MySQL (rilis 5.0.21) dan PostgreSQL (rilis 8.1.3). Implementasi dilakukan dengan membuat basis data sesuai skema untuk masing- masing server basis data diikuti dengan proses memasukkan data.

d. Pengujian.

Pengujian dititikberatkan pada penggunaan fasilitas internal OGSA-DAI untuk mendapatkan komponen dalam formula entropi (persamaan 1). Pengujian dilakukan melalui antarmuka dengan modus Command Line Interface dan grafik. Selain itu, dilakukan pula pengujian pengaturan hak akses pengguna terhadap sumber data yang tersedia.

e. Pembahasan. Hasil tahap pengujian kemudian dievaluasi untuk tujuan perbaikan dan peningkatan fungsi pada penelitian di masa mendatang.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang akan digunakan adalah prosiding dari lokakarya dan seminar dari yang diselenggarakan di berbagai unit di lingkungan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dari beberapa prosiding yang tersedia, dipilih prosiding Lokakarya Komputasi Sains dan Teknologi Nuklir (LKSTN) serta prosiding seminar Sains dan Teknologi Nuklir pada tahun 1995 - 1997. Dari prosiding pertama, diperoleh 138 karya ilmiah, sementara dari sisanya diperoleh 123 karya ilmiah. Sedangkan, peralatan terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak. Tabel 2 berisi daftar perangkat lunak, sedangkan Tabel 3 berisi perangkat keras.

Tabel 2 Daftar perangkat lunak

No. Nama Perangkat Lunak

1 Linux OS Kernel 2.6.x (Fedora Core 4)

2 Basis data MySQL 5.0.21 dan PostgreSQL 8.1.3 3 Globus Toolkit 4.0.2

4 OGSA-DAI WSRF 2.2 5 J2SE Development Kit 1.5.0.8 6 Ant 1.6.5

7 Open Office 2.0.3

Tabel 3 Daftar perangkat keras

No. Nama Alat Spesifikasi

1 Komputer • AMD Athlon 1.7GHz, 256MB ram, 80GB HD, Realtek 10/100MBps LAN

BAB IV

DISAIN DAN IMPLEMENTASI

4.1. Pengumpulan Data

Bahan yang diperoleh dari perpustakaan PPIN-BATAN. Selain kemudahan dalam memperolehnya, alasan dipilihnya bahan tersebut adalah karena dalam tahun penerbitan tertentu, terdapat cukup banyak karya ilmiah yang dipublikasi. Acuan yang digunakan pada karya ilmiah dalam prosiding tersebut juga cukup beragam.

4.2. Disain Skema Basis Data

Skema untuk kedua basis data server seperti pada Gambar 16. Skema yang dibuat memiliki perbedaan, terutama pada kemampuan PostgreSQL yang mampu mengakomodasi jenis data array. Jenis data ini digunakan untuk menyimpan nama penulis, baik pada artikel dalam prosiding maupun referensi.

(a)

(b)

Gambar 16 Skema basis data : (a). Bibliografi dengan PostgreSQL; (b). Bibliografi dengan MySQL.

4.3. Konfigurasi dan Implementasi Basis Data

Server basis data yang digunakan adalah PostgreSQL rilis 8.1.3 dan MySQL rilis 5.0.21. Berikut adalah tahapan yang dilakukan dalam konfigurasi dan implementasi menggunakan basis data tersebut.

a. Konfigurasi PostgreSQL. Konfigurasi dilakukan pada kedua server dengan penggunaan yang sedikit berbeda. Pada server1, basis data

PostgreSQL digunakan sebagai server basis data untuk salah satu data bibliografi dan untuk layanan RFT. Sedangkan pada server2, digunakan

hanya untuk la yanan RFT. Dalam penelitian ini, digunakan distribusi kode sumber PostgreSQL versi 8.1.3. Akan tetapi, sebelum konfigurasi dilakukan, pengguna dalam sistem operasi untuk mengelola server basis data (diberi nama postgres) perlu ditambahkan dengan tahapan berikut.

# /usr/sbin/useradd-c “PostgreSQL” -g 501 -m -u 501 postgres

Selanjutnya, postgreSQL dikonfigurasi dengan langkah- langkah berikut.

$ ./configure $ make $ su # make install # su – postgres $ mkdir ~postgres/data $ /usr/local/pgsql/bin/initdb -D /home/postgres/data

(inisialisasi basis data server ke direktori /home/postgres/data)

$ /usr/local/pgsql/bin/postmaster -D /home/postgres/data >logfile 2>&1 & (menjalankan server PostgreSQL)

Berikutnya berturut-turut adalah membuat pengguna dengan identitas

globus untuk basis data PostgreSQL dan memasukkan data. Pengguna basis

data tersebut akan digunakan untuk menerima pendelegasian aktifitas dari pengguna grid.

$ /usr/local/pgsql/bin/createuser -A -d -P globus $ su – globus

$ /usr/local/pgsql/bin/createdb lkstn $ /usr/local/pgsql/bin/psql lkstn

b. Konfigurasi MySQL. Dalam penelitian ini, digunakan distribusi rpm untuk MySQL 5.0.21. Konfigurasi paket rpm untuk rilis 5.0.21 adalah dengan perintah rpm -ivh MySQL-*. Server MySQL langsung diaktifkan setelah

konfigurasi selesai. Sama seperti pada PostgreSQL, pada MySQL juga memerlukan pengguna globus untuk mengimplementasikan data. Nama

yang sama untuk pengguna pada kedua basis data hanya untuk tujuan kemudahan bagi penulis. Pada MySQL, pembuatan pengguna dan basis data dilakukan dengan cara berikut.

# mysql -p

mysql> use mysql;

mysql> create user 'globus'@'localhost'; mysql> set password for

'globus'@'localhost'=password('globusUser'); mysql> \q

# su – globus

$ mysql -u globus -p

mysql> create database seminar;

Terkait dengan tahapan pengujian, dibuat pula dua pengguna lain pada server basis data MySQL, masing- masing dengan hak akses terbatas ke sumber data. Pengguna dengan identitas tmp dibuat dengan hak akses penuh

ke satu tabel. Sedangkan pengguna dengan identitas tmp2 dibuat dengan hak

akses terbatas (hanya pernyataan select) pada satu tabel. Pembuatan kedua

pengguna tersebut dilakukan dengan cara yang sama seperti perintah di sebelumnya.

4.4. Konfigurasi GT (Globus Toolkit Team 2006b)

Secara umum, konfigurasi paket GT dapat dibagi dalam beberapa tahap. Berikut adalah tahap-tahap yang dilakukan di server1 dan server2.

a. Persiapan Awal. Konfigurasi dimulai dengan menyiapkan kebutuhan perangkat lunak pendukung yang dibutuhkan oleh GT. Perangkat lunak pendukung tersebut diantaranya adalah kompilator gcc, pustaka Java dan

ant, serta memastikan PATH untuk perangkat lunak pendukung serta

konfigurasi GT dalam sistem operasi. Untuk shell BASH, PATH diset dengan

perintah berikut.

# export JAVA_HOME=/usr/local/jdk1.5.0.8 # export ANT_HOME=/usr/local/ant1.6.5 # export GLOBUS_LOCATION=/opt/gt-4.0.2

Selain itu, perlu dibuat pengguna dalam sistem operasi dengan nama globus

yang akan mengelola sertifikat host dan pengguna. Konfigurasi dilakukan oleh globus, karena itu PATH untuk paket GT juga diset sebagai miliknya.

Selanjutnya adalah variabel HOSTNAME diset pada masing- masing server.

Karena asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdapat dua domain yang akan digabungkan dalam sebuah VO, pada setiap server juga dijalankan layanan Domain Name Server (DNS). Dalam penelitian ini, variabel localhost.localdomain masing- masing diset menjadi server1.mammoth.org dengan IP 25.20.5.31 dan server2.anaconda.org

dengan IP 195.20.5.31. Dalam penelitian ini, mesin server1 dan server2

menggunakan sistem operasi Fedora Core 4. Langkah konfigurasi paket GT berikut ini dilakukan pada kedua server, tetapi yang ditampilkan hanya pesan dari server1 karena alasan kesamaan. Opsi hostname juga

disesuaikan dengan server yang digunakan.

b. Membangun paket GT. Proses konfigurasi kemudian dapat dilajutkan dengan membangun paket GT. Dalam hal ini, paket GT yang digunakan telah di-precompiled untuk sistem operasi Fedora Core 4 agar dapat diimplementasikan lebih cepat. Langkah- langkah yang dijalankan dalam mambangun paket GT adalah sebagai berikut.

$ ./configure –prefix=$GLOBUS_LOCATION $ make

$ make install.

c. Konfigurasi fasilitas kemanan. Konfigurasi fasilitas keamanan berupa simpleCA sebagai Certificate Authority (CA) yang telah dikemas dalam paket GT untuk tujuan uji coba. Konfigurasi simpleCA dilakukan oleh pengguna dengan ID globus dengan perintah

$GLOBUS_LOCATION/setup/globus/setup-simple-ca

Perintah tersebut akan memaketkan distribusi simpleCA sebagai berkas

~globus/.globus/simpleCA//globus_simple_ca_cert_hash_setup- x.xx.tar.gz. Paket inilah yang nantinya saling dipertukarkan untuk

saling percaya (otentikasi bersama). Paket simpleCA kemudian disimpan di direktori ~globus/.globus/simpleCA.

Langkah selanjutnya adalah membuat kedua server percaya pada CA yang baru saja dikonfigurasi. Tahap ini dilakukan oleh pengguna dengan ID root

menggunakan perintah berikut.

# $GLOBUS_LOCATION/setup/globus_simple_hash_setup/setup-gsi - default

Opsi -default digunakan untuk simpleCA yang pertama kali dikonfigurasi

sebagai CA yang utama untuk mesin yang bersangkutan.

Proses dilanjutkan dengan meminta sertifikat untuk host dan pengguna ke CA dengan perintah

# $GLOBUS_LOCATION/bin/grid-cert-request -host server1.mammoth.org

Opsi host digunakan untuk meminta sertifikat host, sedangkan sertifikat

untuk pengguna dilakukan oleh pengguna itu sendiri. Untuk host, sertifikat ada diletakkan di direktori /etc/grid-security/certificates. Perintah grid-cert-request kemudian menghasilkan tiga berkas di direktori /etc/grid-security masing hostcert_request.pem, hostcert.pem

yang masih kosong, dan hostkey.pem. Sertifikat tersebut kemudian perlu

ditandatangani. Berikut adalah proses menandatangani sertifikat oleh

globus. Opsi –in menunjukkan asal berkas permintaan tanda tangan,

sedangkan opsi –out menunjukkan berkas sertifikat yang telah

ditandatangani.

$GLOBUS_LOCATION/bin/grid-ca-sign -in /etc/grid- security/hostcert_request.pem -out hostsigned1.pem

To sign the request

please enter the kata sandi for the CA key: The new signed certificate is at:

/home/globus/.globus/simpleCA//newcerts/01.pem

Perintah tersebut menunjukkan permintaan tanda tangan diberikan melalui berkas hostcert_request, sedangkan sertifikat yang telah ditandatangani

simpleCA dalam berkas ~globus/.globus/simpleCA//newcerts/01.pem.

Penamaan 01.pem disebabkan karena berkas sertifikat host adalah sertifikat

yang pertama kali ditandatangani simpleCA. Sertifikat yang ditandatangani kemudian akan diberi nama 02.pem, 03.pem, dan seterusnya. Selanjutnya,

hostsigned1.pem akan menggantikan berkas /etc/grid-

security/hostcert.pem yang sebelumnya masih kosong.

Sertifikat host akan dimiliki oleh root dan akan digunakan oleh layanan

seperti globus-gridftp-server. Akan tetapi, tidak semua layanan dan kontainer yang dijalankan dari root. Karenanya, perlu dibuat salinan dari

sertifikat host bagi kontainer yang akan menjalankan layanan globus. Hal

ini dilakukan dengan menyalin berkas hostcert.pem dan hostkey.pem

masing- masing menjadi containercert.pem dan containerkey.pem yang

dimiliki pengguna dengan ID globus. # cp hostcert.pem containercert.pem # cp hostkey.pem containerkey.pem # chown globus:globus container*.pem

Setelah permintaan sertifikasi host, proses dilanjutkan dengan permintaan sertifikasi oleh pengguna. Dalam hal ini, server1 menggunakan adhy,

sedangkan server2 menggunakan arya sebaga i pengguna. Permintaan

sertifikasi tersebut dilakukan dengan perintah berikut

$GLOBUS_LOCATION/bin/grid-cert-request

Perintah tersebut akan menghasilkan berkas sertifikat bagi pengguna yang disimpan di direktori ~username/.globus. Sama seperti host, pengguna juga perlu meminta tanda tangan dari simpleCA untuk sertifikatnya. Dengan otoritas globus, sertifikat pengguna ditandatagani dengan perintah berikut. $GLOBUS_LOCATION/bin/grid-ca-sign -in ~username/.globus/ usercert_request.pem -out usersigned.pem

Sertifikat yang baru saja ditandatangani, disimpan sebagai

Selain itu, sertifikat pengguna yang telah ditandatangani akan menggantikan berkas sertifikat yang sebelumnya masih kosong. Kemudian, perlu dibuat berkas grid-mapfile untuk keperluan otorisasi. Berkas teks ini berisi

variabel DN (Distinguished Name) bagi pengguna bersertifikat. Berkas tersebut diisi dengan DN seperti contoh pada server1 berikut.

"/O=Grid/OU=GlobusTest/OU=simpleCA-server1.mammoth.org/ OU=mammoth.org/CN=Arya Adhyaksa Waskita" adhy

d. Mengkonfigurasi GridFTP. GridFTP dikonfigurasi menggunakan berkas yang diberi nama /etc/xinetd.d/gridftp. Berkas ini bertujuan untuk

mengkonfigurasi server untuk layanan gridftp. Sebelumnya paket, xinetd-2.3.13-6.i386.rpm harus terlebih dahulu dikonfigurasi di kedua

server. Paket tersebut bertujuan untuk mengkombinasikan fitur daemon

tcpd dan inetd ke dalam satu paket. Berkas tersebut dijelaskan dalam

Lampiran 1. Karena ada tambahan konfigurasi layanan yang akan dijalankan dalam server, layanan xinetd perlu di-reload. Setelah itu, perlu

ditambahkan baris gsiftp 2811/tcp ke baris terakhir dari berkas /etc/services. Baris ini bertujuan untuk mengkonfigurasi port untuk

layanan gridftp dengan port 2811.

Selanjutnya, untuk menguji konfigurasi GridFTP, dilakukan dengan menyalin berkas menggunakan layanan gridftp. Pengujian dilakukan oleh pengguna bersertifikat dengan tahapan sebagai berikut.

$ grid-proxy-init -verify -debug Files used:

proxy : /tmp/x509up_u1000

user key : /home/arya/.globus/userkey.pem user cert : /home/arya/.globus/usercert.pem Your identity: O=Grid,OU=GlobusTest,OU=simpleCA- server1.mammoth.org,OU=mammoth.org,CN=Arya Adhyaksa Waskita

Enter GRID pass phrase for this identity: Using 512 bits for private key

Creating proxy, please wait... Proxy verify OK

Saving proxy to: /tmp/x509up_u500

Your proxy is valid until Sat May 19 10:45:01 WIT 2007

$ globus-url-copy

gsiftp://server1.mammoth.org/etc/group file:///tmp/arya.copy.group

Langkah pertama, berkas proxy credential untuk pengguna disimpan sebagai /tmp/x509up_uxxx, dengan ‘xxx’ adalah nomor identitas pengguna

sistem operasi. Jika perintah diff tidak menemukan perbedaan antara

berkas asal dengan berkas tujuan, maka disimpulkan bahwa proses layanan gridftp telah berjalan baik.

e. Mengkonfigurasi layanan RFT. Untuk mengkonfigurasi RFT, pengguna dengan ID globus perlu menjalankan langkah-langkah berikut.

• Dari modus globus, dibuat basis data dengan nama rftDatabase. $ /usr/local/pgsql/bin/createdb rftDatabase

• Memasukkan konfigurasi layanan RFT yang disimpan dalam berkas

$GLOBUS_LOCATION/share/globus_wsrf_rft/rft_schema.sql ke

dalam basis data rftDatabase.

$ /usr/local/pgsql/bin/psql rftDatabase -f $

GLOBUS_LOCATION/ share/globus_wsrf_rft/rft_schema.sql • Memasukkan kata sandi globus pada sub elemen password name dalam

berkas $GLOBUS_LOCATION/etc/globus_wsrf_rft/jndi-config.xml • pindah ke modus postgres, su – postgres

• menambahkan baris: host rftDatabase "globus" "25.20.5.31/8" trust pada berkas ~postgres/data/pg_hba.conf .

f. Mengkonfigurasi kontainer GT

Kontainer GT akan dijalankan menggunakan berkas yang disimpan di

$GLOBUS_LOCATION/start-stop dan isinya diberikan dalam Lampiran 2.

Dari berkas tersebut, dijelaskan bahwa kontainer GT akan dijalankan dengan perintah $GLOBUS_LOCATION/sbin/globus-start-container- detached -p 8443. Sedangkan untuk menghentikannya digunakan

perintah $GLOBUS_LOCATION/sbin/globus-stop-container-detached.

Sedangkan untuk menjalankan berkas tersebut, digunakan berkas yang disimpan di /etc/init.d/globus-4.0.2. Berkas tersebut memberikan tiga

opsi operasi pada container GT, masing- masing adalah start, stop, dan restart. Isi berkas tersebut diberikan dalam Lampiran 3.

Untuk menjalankan berbagai layanan pada kontainer GT, digunakan perintah /etc/init.d/globus-4.0.2 start

Layanan yang telah dijalankan, disimpan dalam berkas /opt/globus- 4.0.2/var/container.log. Jika berhasil, berkas tersebut akan berisi pesan

seperti di bawah ini.

2007-05-05 03:35:32,522 INFO exec.RunQueue

[main,initialize:68] Starting state machine with 18 run queues.

2007-05-05 03:36:19,186 INFO

impl.DefaultIndexService [ServiceThread- 9,processConfigFile:107] Reading default

registration configuration from file: /opt/globus- 4.0.2/etc/globus_wsrf_mds_index /hierarchy.xml Starting SOAP server at:

https://25.20.5.31:8443/wsrf/services/ With the following services:

[1]: https://25.20.5.31:8443/wsrf/services/TriggerFactor yService [2]: https://25.20.5.31:8443/wsrf/services/DelegationTes tService [3]: https://25.20.5.31:8443/wsrf/services/SecureCounter Service [4]: https://25.20.5.31:8443/wsrf/services/IndexServiceE ntry [5]: https://25.20.5.31:8443/wsrf/services/DelegationSer vice ...

Sebelumnya, telah dikonfigurasi layanan RFT. Tetapi, karena kontainer GT belum dapat diaktifkan, layanan tersebut belum dapat diuji. Setelah kontainer GT dapat dijalankan, kita dapat menguji layanan RFT. Pengujian dilakukan dengan menggunakan berkas uji coba yang disertakan dalam distribusi GT. Berkas tersebut terletak di /opt/globus- 4.0.2/share/globus_wsrf_rft_test/ transfer.xfr. Berkas tersebut

kemudian disalin (ke dalam /tmp/rft.xfr) untuk kemudian dimodifikasi

sesuai keadaan server. Modifikasi dilakukan pada dua baris terakhir dengan dua baris berikut berikut.

gsiftp://server1.mammoth.org:2811/etc/group

gsiftp://server1.mammoth.org:2811/tmp/rftTest_Done. tmp

Maksud berkas tersebut adalah menyalin berkas /etc/group (baris ke-1) ke

berkas /tmp/rftTest_Done.tmp (baris ke-2) menggunakan layanan RFT.

Layanan RFT kemudian dipanggil dengan perintah berikut.

$ rft -h server1.mammoth.org -f /tmp/rft.xfr Number of transfers in this request: 1

Subscribed for overall status

Termination time to set: 60 minutes Overall status of transfer:

Finished/Active/Failed/Retrying/Pending 0/1/0/0/0

Overall status of transfer:

Finished/Active/Failed/Retrying/Pending 1/0/0/0/0

All Transfers are completed

Hasil tersebut menunjukkan bahwa layanan RFT telah dapat digunakan.

g. Mengkonfigurasi WS GRAM.

Beberapa layanan dalam GT membutuhkan 'sudo' untuk mengeksekusi

proses dari pengguna yang meminta layanan tersebut. Untuk itu, berkas

/etc/sudoers perlu dikonfigurasi dengan menambahkan baris berikut.

Tetapi, sebelumnya berkas tersebut perlu ditambahkan opsi writeable untuk sementara agar dapat dimodifikasi.

globus ALL=(arya) NOPASSWD: /opt/globus- 4.0.2/libexec/globus-gridmap-and-execute -g /etc/grid-security/grid-mapfile /opt/globus- 4.0.2/libexec/globus-job-manager-script.pl *

globus ALL=(arya) NOPASSWD: /opt/globus- 4.0.2/libexec/globus-gridmap-and-execute -g /etc/grid-security/grid-mapfile /opt/globus- 4.0.2/libexec/globus-gram-local-proxy-tool *

Informasi yang ditambahkan adalah identititas pengguna yang akan meminta layanan. Dengan demikian, pengguna tersebut tidak perlu memasukkan kata sandinya, ketika layanan yang diminta harus didelegasikan ke sumber daya yang lain.

h. Konfigurasi simpleCA yang saling percaya.

Setelah server1 dan server2 dikonfigurasi, langkah selanjutnya adalah

mempertukarkan paket distribusi simpleCA (~globus/.globus/simpleCA/ globus_simple_ca_cert_hash_setup-x.xx.tar.gz) masing- masing

server untuk kemudian diinstal sebagi CA tambahan. Dengan cara ini, kedua server dapat saling percaya karena.

Paket simpleCA untuk server1 dan server2 masing adalah

globus_simple_ca_9f408d32_setup-0.19.tar.gz dan

globus_simple_ca_eebc609f_setup-0.19.tar.gz. Dalam penelitian ini,

keduanya dipertukarkan menggunakan fasilitas pertukaran berkas dengan

samba.

Berikut adalah cara mengkonfigurasi paket simpleCA tambahan untuk kepentingan saling percaya. Contoh diberikan untuk kasus server1.

• Konfigurasi paket simpleCA

[globus@server1 ~]$ /opt/globus-4.0.2/sbin/gpt- build /media/samba/

globus_simple_ca_eebc609f_setup-0.19.tar.gz gpt-build ====> CHECKING BUILD DEPENDENCIES FOR globus_simple_ca _eebc609f_setup gpt-build ====> Changing to /home/globus/BUILD/globus_simple_ca _eebc609f_setup-0.19/ gpt-build ====> BUILDING globus_simple_ca_eebc609f_setup

gpt-build ====> Changing to /home/globus/BUILD

Dokumen terkait