2.2 Kerangka Teoretis
2.2.2 Bidal-Bidal Prinsip Kesantunan
Leech (dalam Rustono 1999:70) mengemukakan bahwa prinsip kesantunan memiliki enam bidal, yaitu (1) bidal ketimbangrasaan, (2) bidal kemurahhatian, (3) bidal keperkenanan, (4) bidal kerendahhatian, (5) bidal kesetujuan, dan (6) bidal kesimpatian.
2.2.2.1 Bidal Ketimbangrasaan
Bidal ketimbangrasaan di dalam prinsip kesantunan memberikan petunjuk bahwa pihak lain di dalam tuturan hendaknya dibebani biaya seringan-ringannya tetapi dengan keuntungan sebesar-besarnya. Leech (dalam rustono 1999:71) mengatakan bahwa bidal ketimbangrasaan ini lazim diungkapkan dengan tuturan komisif. Berikut ini adalah contoh tuturan yang mengungkapkan tingkat kesopanan yang berbeda-beda.
(1) Datang ke pertemuan ilmiah itu! (2) Datanglah ke pertemuan ilmiah itu! (3) Silahkan datang ke pertemuan ilmiah itu!
(4) Sudilah kiranya datang ke pertemuan ilmiah itu!
(5) Jika tidak keberatan, sudilah datang ke pertemuan ilmiah itu!
Tingkat kesantunan terentang dari nomor yang rendah ke yang tinggi pada contoh tuturan (1) dan (5) tersebut. Tuturan yang bernomor kecil mengungkapkan tingkat kesantunan yang lebih rendah dibandingkan dengan tuturan dengan nomor yang lebih besar. Semakin besar nomor tuturan pada contoh itu semakin tinggi tingkat kesantunanya, demikian sebaliknya. Hal itu demikian karena karena tuturan dengan nomor besar, nomor (5) misalnya, membutuhkan biaya yang besar bagi diri sendiri ditandai dengan besarnya jumlah kata yang diekspresikan dan hal itu berarti memaksimalkan kerugian kepada diri sendiri dan meminimalkan biaya kepada pihak lain sebagai mitra tutur dengan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi pihal lain sebagai mitra tuturnya.
Tuturan (6) dan (7) berikut ini berbeda di dalam hal pematuhan prinsip kesantunan Leech.
(6) A : Mari saya masukkan surat Anda ke kotak pos. B : Jangan, tidak usah!
(7) A : Mari saya masukkan surat Anda ke kotak pos. B : Ni, itu baru namanya teman.
Di dalam tingkat kesantunan tuturan (6) B berbeda dari tuturan (7) B. Hal itu demikian karena tuturan (6) B meminimalkan biaya dan memaksimalkan keuntungan kepada mitra tutur. Sementara itu, tuturan (7) B sebaliknya, yaitu memaksimalkan keuntungan pada diri sendiri dan memaksimalkan kerugian kepada mitra tutur. Fenomena yang ada di dalam tuturan (6) B dan (7) B lazim
dinamakan paradoks pragmatik, yaitu suatu paradoks yang mengacu pada sikap bertentangan kedua pemeran serat di dalam percakapan (Leech 1983:111). Di antara dua tuturan itu, tuturan (6) B mematuhi paradoks pragmatik, sebaliknya tuturan (7) B melanggarnya.
2.2.2.2 Bidal Kemurahhatian
Pepatah yang dikemukakan di dalam bidal kemurahhatian adalah bahwa pihak lain di dalam tuturan hendaknya di upayakan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya sementara itu diri sendiri atau penutur hendaknya berupaya mendapatkan keuntungan yang sekecil-kecilnya. Leech (dalam Rustono 1999:72) mengatakan bahwa tuturan yang biasanya mengungkapkan bidal kemurahhatian ini adalah tuturan ekspresif dan tuturan asertif. Tuturan berikut ini merupakan contoh tuturan yang berkenaan dengan bidal kemurahhatian ini.
(8) A : Pukulanmu sangat keras. B : Saya kira biasa saja, Pak. (9) A : Pukulanmu sangat keras.
B : Siapa dulu?
Tuturan (8) B mematuhi bidal kemurahhatian, sedangkan tuturan (9) B melanggarnya. Hal itu demikian karena tuturan (8) B itu memaksimalkan keuntungan kepada pihak lain dan meminimalkan keuntungan kepada diri sendiri. Sementara itu, tuturan (9) B sebaliknya; memaksimalkan keuntungan kepada diri sendiri dan meminimalkan keuntungan kepada pihak lain. Tuturan (9) B juga melanggar paradoks pragmatik, sedangkan tuturan tuturan (8) B mematuhinya.
Dengan demikian, atas dasar prinsip kesantunan tuturan (8) B lebih santun jika dibandingkan dengan tuturan (9) B.
2.2.2.3 Bidal Keperkenanan
Bidal keperkenanan adalah petunjuk untuk meminimalkan penjelekan terhadap pihak lain dan memaksimalkan pujian kepada pihak lain. Leech (dalam Rustono 1999:73) berpendapat bahwa sebagaimana halnya dengan tuturan kemurahhatian, tuturan yang lazim digunakan selaras dengan bidal keperkenanan ini adalah tuturan ekspresif dan asertif. Tuturan (10) B berikut ini mematuhi bidal keperkenanan, sebaliknya tuturan (11) B melanggarnya.
(10) A : Mari Pak, seadanya!
B : Terlalu banyak, sampai-sampai saya susah memilihnya.
(11) A : Mari Pak seadanya!
B : Ya, segini saja nanti kan habis semua.
Tuturan (10) B mematuhi bidal keperkenanan karena penutur meminimalkan penjelekan terhadap pihak lain dan memaksimalkan pujian terhadap pihak lain itu. Sementara itu, tuturan (11) B melanggar bidal ini karena meminimalkan penjelekan kepada diri sendiri dan memaksimalkan pujian kepada diri sendiri . dengan penjelasan itu, tingkat kesantunan tuturan (10) B lebih tinggi jika dibandingkan dengan tuturan (11) B.
2.2.2.4 Bidal Kerendahhatian
Petunjuk bahwa penutur hendaknya meminimalkan pujian kepada diri sendiri dan memaksimalkan penjelekan kepada diri sendiri merupakan isi bidal kerendahhatian. Bidal ini dimaksudkan sebagai upaya merendahhatikan – bukan merendahdirikan- penutur agar tidak terkesan sombong. Leech (dalam Rustono 1999:74) berpendapat bahwa tuturan yang lazim digunakan untuk mengungkapkan bidal ini juga tuturan ekspresif dan tuturan asertif. Tuturan (12), (13), dan (14) merupakan tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan bidal kerendahhatian ini.
(12) Saya ini anak kemarin, Pak.
(13) Maaf, saya ini orang kampung.
(14) Sulit bagi saya untuk dapat meniru kehebatan Bapak.
Hal itu demikian karena tuturan-tuturan itu memaksimalkan penjelekan kepada diri sendiri dan meminimalkan pujian kepada diri sendiri. Karena sesuai dengan bidal kerendahhati ini, tuturan (12), (13), dan (14) merupakan tuturan yang santun. Di pihak lain, tuturan (15), (16), dan (17) merupakan tuturan yang melanggar prinsip kesantunan bidal kerendahhatian.
(15) Saya ini sudah makan garam.
(16) Saya bisa lebih dari kehebatan Bapak. (17) Hanya saya yang bisa seperti itu.
Tuturan (15), (16), dan (17) melanggar prinsip kesantunan karena tidak sejalan dengan bidal kerendahhatian. Tuturan-tuturan itu memaksimalkan pujian kepada
diri sendiri. Oleh karena itu, tuturan-tuturan itu merupakan tuturan yang tidak santun.
2.2.2.5 Bidal Kesetujuan
Bidal kesetujuan adalah bidal di dalam prinsip kesantunan yang memberikan petunjuk untuk meminimalkan ketidak setujuan antara diri sendiri dan pihal lain dan memaksimalkan kesetujuan antara diri sendiri dan pihak lain. Leech (dalam Rustono 1999:75) mengatakan bahwa tuturan asertif merupakan jenis tuturan yang lazim mengungkapkan bidal kesetujuan ini.
(18) A : Bagaimana kalau lemari ini kita pindah? B : Boleh
(19) A : Bagaimana kalau lemari ini kita pindah? B : Saya setuju sekali.
Tuturan 18 (B) dan (19) B merupakan tuturan yang meminimalkan ketidaksetujuan dan memaksimalkan kesetujuan antara diri sendiri sebagai penutur dengan pihak lain sebagai mitra tutur. Dibandingkan dengan tuturan 18 (B), tuturan 19 (B) lebih memaksimalkan kesetujuan. Karena itu derajat kesantunannya lebih tinggi tuturan 19 (B) dari pada tuturan 18 (B).
Karena tidak meminimalkan ketidaksetujuan dan tidak memaksimalkan kesetujuan antara diri sendiri sebagai penutur dan pihak lain sebagai mitra tutur, tuturan 20 (B) dan 21(B) berikut ini tidaklah merupakan tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan.
B : Saya tidak setuju.
(21) A : Bagaimana kalau lemari ini kita pindah? B : Jangan, sama sekali saya tidak setuju.
Kedua tuturan B itu justru memaksimalkan ketidaksetujuan dan meminimalkan kesetujuan antara diri sendiri dengan pihal lain. Jika dibandingkan dengan tuturan 20 (B), tingkat pelanggaran terhadap prinsip kesantunan tuturan 21 (B) lebih tinggi.
2.2.2.6 Bidal Kesimpatian
Bahwa penutur hendaknya meminimalkan antipati antara diri sendiri dan pihak lain dan memaksimalkan simpati antara diri sendiri dan pihak lain merupakan petunjuk bidal kesimpatian. Jika penutur menghasilkan tuturan yang meminimalkan antipati dan memaksimalkan simpati antara dirinya sendiri dengan pihal lain sebagai mitra tuturnya, penutur tersebut mematuhi prinsip kesantunan bidal kesimpatian. Jika sebaliknya, penutur itu melanggar prinsip kesantunan. Leech (dalam Rustono 1999:76) berpendapat bahwa jenis tuturan yang lazim mengungkapkan kesimpatian adalah tuturan asertif. Berikut ini merupakan tuturan yang sejalan dengan bidal kesimpatian.
(22) Saya ikut berduka cita atas meninggalnya Ibunda.
(23) Saya benar-benar ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas
meninggalnya Ibunda tercinta.
Dikatakan sejalan karena karena tuturan (22) dan (23) tersebut meminimalkan antipati dan memaksimalkan antipati antara penutur dan mitra
tuturnya. Dengan demikian, tuturan (22) dan (23) tersebut merupakan tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan bidal kesimpatian. Derajat pematuhan terhadap bidal kesimpatian oleh tuturan (23) lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang diperankan oleh tuturan (22).
Sebaliknya, tuturan 24 (B) dan 25 (B) berikut ini merupakan tuturan yang melanggar prinsip kesantunan bidal kesimpatian.
(24) A : Pak, Ibu saya meninggal
B : Semua orang akan meninggal
(25) A : Pak, Ibu saya meninggal
B : Tumben
Tuturan 24 (B) dan 25 (B) melanggar bidal kesimpatian karena tidak meminimalkan antipati dan tidak memaksimalkan simpati antara diri sendiri dan pihak lain, bahkan justru sebaliknya. Dengan demikian, kedua tuturan itu merupakan tuturan yang tidak atau kurang sopan, karena antipati yang berlebihan pada tuturan 25 (B) jika dibandingkan dengan tuturan 24 (B), derajat pelanggaran bidal kesimpatian tuturan 25 (B) lebih tinggi dari pada tuturan 24 (B)