1. RUU Tentang Persetudjuan antara Pemerintah Keradjaan Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia tentang soal2 Keuangan;
2. RUU Tentang Keanggotaan Negara Republik Indonesia didalam Bank Pembangunan Asia;
3. RUU Tentang Keanggotaan Kembali Republik Indonesia dalam Dana Moneter Internasional dan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan.
A. PENDAHULUAN :
Dengan Amanat Presiden No.1467/HK/66 tanggal 21 Oktober 1966 telah disampaikan kepada DPR GR 3 buah naskah RUU mengenai persetudjuan Pemerintah Republik Indonesia tentang soal2 keuangan, sbb :
1. RUU tentang Persetudjuan antara Pemerintah Keradjaan Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia tentang soal2 Keuangan;
2. RUU tentang Keanggotaan Negara Republik Indonesia dalam Bank Pembangunan Asia;
3. RUU tentang Keanggotaan kembali Republik Indonesia dalam Dana Moneter Internasional dan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan.
untuk dibitjarakan dalam sidang DPR GR guna mendapatkan persetudjuannja.
Berhubung dengan mendesaknja waktu dan kehendak Pemerintah agar ke 3 RUU jang sifatnja hanja meratifikasi perdjandjian2 dengan luar negeri itu dapat diselesaikan setjepat mungkin, jaitu sebelum achir bulan Oktober 1966, maka sesuai dengan pasal 39 ajat (2) Peraturan Tata Tertib DPR GR oleh Panitia Musjawarah dalam rapatnja pada tanggal 24 Oktober 1966 diambil kebidjaksanaan untuk menempuh prosedure pembitjaraan jang lebih singkat daripada prosedure jang biasa, jaitu dengan membitjarakannja dalam Golongan2, rapat Gabungan segenap Komisi2 dengan Pemerintah, Rapat kerdja Komisi D dengan Pemerintah dan achirnja rapat Pleno terbuka untuk pengesahannja.
Pembitjaraan dalam rapat Golongan2 telah diadakan pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 1966, kemudian rapat Gabungan segenap Komisi2 dengan Pemerintah pada hari Djum’at tanggal 28 Oktober 1966 siang dan malam, selandjutnja rapat kerdja Komisi D dengan Pemerintah diadakan pada hari Sabtu tanggal 29 Oktober 1966 dan Senin tanggal 31 Oktober 1966 pagi, untuk achirnja masalah tersebut dibawa kedalam rapat Pleno terbuka pada malam harinja ialah hari Senin malam tanggal 31 Oktober 1966.
B. PEMBITJARAAN DALAM RAPAT GABUNGAN SEGENAP KOMISI DPR GR DENGAN PEMERINTAH DAN KOMISI D DENGAN PEMERINTAH.
Didalam pembitjaraan2 dalam rapat Gabungan segenap Komisi2 DPR GR dengan Pemerintah dan Komisi D dengan Pemerintah telah timbul berbagai masalah jang diketengahkan oleh para anggota dan telah ditanggapi pula oleh Pemerintah.
Disamping itu oleh beberapa anggota telah diadjukan usul2 amandemen terhadap RUU tentang Keanggotaan Republik Indonesia dalam Bank Pembangunan Asia dan RUU tentang Keanggotaan kembali Republik Indonesia dalam Dana Moneter Internasional dan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan.
I. UMUM
Atas pertanjaan jang timbul dalam Komisi mengapa kredit2 jang diterima tidak merupakan cash credit jang bebas dan tidak terikat realisasinja, didjawab oleh Pemerintah bahwa tudjuan misi ke berbagai Negara itu tidak semata-mata untuk mentjari kredit, akan tetapi jang lebih penting adalah memperoleh kepertjajaan kembali dari negara2 jang dikundjungi. Pemberian kredit2 itu sudah menundjukkan adanja kepertjajaan dari negara2 tersebut.
Dinjatakan oleh Pemerintah bahwa tidak perlu dikuatirkan mengenai sjarat2 pembelian barang2 dari negara2 pemberi kredit, karena Pemerintah akan berpegang teguh pada sjarat2 jang berlaku dalam perdagangan internasional seperti soal harga, pengangkutan dan Iain2.
Mengenai penggunaan kredit2 seluruhnja, oleh Pemerintah ditegaskan bahwa semuanja hanja diperuntukan untuk pembelian general commodities, pembelian spareparts dan bahan2 baku. Djadi semuanja ditudjukan untuk rehabilitasi dan stabilisasi perekonomian kita dan tidak ada kredit sedikitpun untuk projek2 baru. Kalau oleh Pemerintah jang lalu telah diadakan perdjandjian2 pemberian kredit untuk projek2 baru, maka hal itu telah berhasil diswicth untuk keperluan2 impor barang2 seperti tersebut diatas.
Mengenai perbedaan perlakuan perusahaan2 Belanda dan perusahaan2 Inggris, Amerika, Belgia dan Iain2 sebagaimana ditanjakan oleh sementara kalangan Komisi, diberi pendjelasan oleh Pemerintah bahwa perusahaan2 itu telah dinasionalisasikan dengan Undang2 pada tahun 1958, dimana ditentukan bahwa Indonesia akan membajar ganti kerugian atas perusahaan2 tersebut, sedang mengenai perusahaan2 Inggris, Amerika dll itu hanja dikuasai sadja managenentnja oleh Pemerintah tanpa Undang2 dan masih diakui hak milik mereka.
Dengan perusahaan2 non Inggris telah diadakan penjelesaian dengan tjara merubah bentuknja mendjadi production sharing, joint venture atau pembelian atas dasar kredit.
Dengan perusahaan2 Inggris berhubung dengan adanja konfrontasi dengan Malaysia jang lampau itu penjelesaiannja akan bersifat politis. Akan diusahakan agar penjelesaian dilakukan tanpa adanja claim dari Inggris. Dalam hal ini ada 3 kemungkinan : 1. Diserahkan kepada fihak Indonesia dengan pembajaran harganja setjara berangsur-ansur; 2. Dilandjutkan dengan bentuk joint venture, dan 3. Dilandjutkan dengan bentuk production sharing
II. RUU TENTANG PERSETUDJUAN ANTARA PEMERINTAH KERADJAAN BELANDA DENGAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG SOAL2 KEUANGAN
Mengenai RUU ini jang Diktumnja hanja memuat 3 Pasal, didalam pemeriksaan persiapan tidak begitu banjak menimbulkan persoalan2.
Oleh Pemerintah didjelaskan bahwa pengakuan atas claim Belanda mengenai
“outstanding financial problems” telah dibuat oleh Kabinet jang lampau dan akan diselesaikan atas dasar perikemanusiaan dan keadilan. Kabinet Ampera berpendapat bahwa djandji2 ini harus ditepati, agar dengan demikian kita dapat memperoleh kembali kepertjajaan dari dunia internasional dan berdasarkan itikad baik ini, Kabinet Ampera mendapat tugas untuk menjelesaikan masalah itu dengan menentukan bersama-sama dengan fihak Belanda djumlah uang jang termasuk dalam claim tersebut. “Outstanding financial problems” ini meliputi semua tuntutan keuangan dari masing2 fihak jang timbul sebelum tanggal 15 Agustus 1962 dan tidak meliputi hak dan kewadjiban jang timbul karena perdagangan biasa jang timbul antara kedua negara itu.
Djumlah sebesar ƒ. 600 djuta merupakan suatu “lump sum” atau djumlah jang bulat jang disetudjui oleh kedua fihak mengingat sulitnja untuk mengadakan perhitungan2 dari tiap2 claim dan djumlah ini merupakan tindakan penjelesaian jang penuh dan terachir
dari semua ”outstanding financial problems”
Tentang pembajaran Perusahaan Listrik ANIEM dan OGEM jang akan diselesaikan tersendiri dan mendjadi persoalan pula dikalangan para anggota Komisi dalam pemeriksaan persiapan tersebut, didjawab oleh Pemerintah bahwa pada tahun 1953 Perusahaan2 itu telah dipindah tangankan dengan djalan naasting atau djual beli biasa antara fihak Belanda dan fihak Indonesia dan sudah dibajar angsuran jang pertama oleh Indonesia, tetapi karena adanja “Trikora” kemudian pembajaran angsuran dihentikan.
Sesudah “Trikora” berachir, Indonesia mulai membajar lagi angsurannja, bahkan sekarang hal ini termasuk hutang2 kita jang harus direschedule sesuai dengan Tokyo Meeting.
Mengenai fasilitas2 jang diberikan oleh Pemerintah Belanda, dikemukakan oleh Pemerintah bahwa untuk tahun 1966 oleh Pemerintah Belanda disediakan grant tanpa ikatan sebesar ƒ. 22 djuta dan kredit sebesar ƒ. 4 djuta. Disamping itu disediakan bank kredit sebesar ƒ. 40 djuta jang sesudah 3 tahun, kredit tersebut akan dikonsolidasikan mendjadi long term credit.
Mengenai Irian Barat, Belanda tetap bersedia menjerahkan djumlah jang didjandjikan dulu sebesar $ 30 djuta berupa grant. Djadi merupakan dana untuk Irian Barat jang penggunaannja Pemerintah menjetudjui chususnja untuk peningkatan produksi di Irian Barat, walaupun segi konsumsi tidak boleh dilupakan.
Achirnja oleh Pemerintah ditegaskan bahwa berbeda dengan Kabinet jang lalu, jang sama sekali tidak memberitahukan dan mengadjak DPR GR dalam perundingan mengenai soal ekonomi keuangan dengan Belanda, Kabinet Ampera sekarang ini berusaha keras untuk selalu bekerdja sama seerat-eratnja dengan Wakil2 Rakjat. Hal ini terbukti pula dengan pengikut sertaan wakil2 DPR GR dalam missie ke luar negeri jang baru lalu. Oleh karena itulah maka Pemerintah minta pula pengesahan atau ratifikasi dan DPR GR mengenai persetudjuan jang telah ditjapai dengan Pemerintah Belanda itu.
III. RUU TENTANG KEANGGOTAAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DIDALAM BANK PEMBANGUNAN ASIA DAN RUU TENTANG KEANGGOTAAN KEMBALI NEGARA REPUBLIK INDONESIA DALAM DANA MONETER INTERNASIONAL DAN BANK INTERNASIONAL UNTUK REKONSTRUKSI DAN PEMBANGUNAN
Mengenai pembitjaraan tentang kedua RUU tersebut banjak timbul persoalan2 disebabkan karena disatu fihak Pemerintah mengatakan bahwa sifat daripada kedua RUU ini hanjalah semata-mata ratifikasi, sedang dilain fihak kedua RUU itu memuat Pasal2 jang bersifat pengaturan pelaksanaan jang diberi pendjelasan2 pula. Disamping itu sementara anggota berpendapat bahwa perlu diperhatikan perbedaan fungsi antara IMF dan IBRD jang pada pokoknja ialah :
a. IMF mengusahakan adanja kerdja sama internasional chususnja dalam bidang moneter antara lain dengan djalan memperluas pertumbuhan jang seimbang dalam bidang perdagangan luar negeri dan memadjukan stabilitas nilai tukar mata uang masing2 negara;
b. IBRD bergerak dalam lapangan pemberian kredit pembangunan djangka pandjang.
Dengan demikian maka dianggap perlu perbedaan penampungannja dalam lembaga2 keuangan di Indonesia, ialah saluran IMF di Indonesia adalah BNI/Bank Sentral dan penjaluran IBRD di Indonesia adalah Bank Pembangunan Indonesia.
Demikian djuga dengan Bank Pembangunan Asia hubungannja di Indonesia seharusnja adalah Bank Pembangunan Indonesia sesuai dengan fungsinja sebagai bank Pembangunan. Padahal didalam kedua RUU itu jang diberi wewenang oleh Menteri
Keuangan untuk melaksanakannja adalah BNI. Berhubung dengan itu, maka oleh beberapa anggota telah dimadjukan 2 buah usul amandemen jang memuat perobahan2 atau tambahan2 Pasal2 dalam kedua RUU tersebut, jang pada pokoknja mengenai RUU tentang Keanggotaan RI dalam IMF dan IBRD oleh Bank Pembangunan Indonesia, sedang mengenai RUU tentang Keanggotaan RI didalam Bank Pembangunan Asia memuat penjalurannja di Indonesia melalui Bank Pembangunan Indonesia dan penundjukkan Presiden Direktur/Gubernur Bapindo sebagai Alternate Governor bagi Bank Pembangunan Asia.
Prinsip jang didjadikan landasan usul amandemen mendapat sambutan jang baik dari fihak Pemerintah, sekalipun perlu diperhatikan struktur dari perbankan kita. Berhubung dengan itu, maka Pemerintah bersedia untuk menerima prinsip2 itu guna didjadikan pegangan dalam peraturan2 pelaksanaan tersendiri.
Untuk menghilangkan keragu-raguan, apakah RUU ini mengatur semata-mata ratifikasi, atau djuga memuat pelaksanaannja lebih landjut, maka Pemerintah bersedia untuk menarik kembali kedua RUU jang telah diadjukan itu kemudian ditarik kembali untuk diganti dengan 2 (dua) buah RUU baru jang betul2 hanja bersifat ratifikasi persetudjuan masuknja Indonesia ke dalam kadang2 Internasional itu dan berisikan prinsip2 sbb :
1. Persetudjuan dari DPR GR bahwa Indonesia masuk kembali ke IMF, IBRD dan ADB;
2. Bahwa peraturan pelaksanaan disesuaikan dengan Article of Agreement daripada IMF, IBRD dan ADB beserta dengan Resolusi IMF No. 9 dan Resolusi IBRD No. 7;
3. Pengaturan2 selandjutnja akan diadakan dengan peraturan Pemerintah 4. Undang2 ini mulai berlaku pada hari diundangkan.
Atas usul Pemerintah tersebut Komisi D dapat menjetudjui, sehingga usul amandemen setjara formil ditarik kembali oelh fihak pengusul.
Disamping itu disetudjui oleh Pemerintah untuk menjederhanakan isi daripada konsideran sesuai dengan pelaksanaan perintah MPRS jang termuat dalam Ketetapan MPRS No. XXIII Pasal 65.
Atas pertanjaan mengenai manfaat apa bagi Indonesia untuk ikut mendjadi anggota dalam IMF, IBRD dan ADB diberi pendjelasan oleh Pemerintah sbb :
1. Keanggotaan didalam IMF dan IBRD memberi djalan jang lebih lantjar didalam hubungan ekonomi dan moneter setjara Bilateral dengan negara lain, oleh karena negara2 lain banjak jang menjandarkan diri pada rekomendasi IMF dan IBRD, apabila hendak mengadakan perdjandjian ekonomi dan moneter dengan negara lain. Hal ini terbukti dalam sikap negara2 kreditor Indonesia di Tokyo Meeting;
2. IMF dan IBRD sangat berguna, karena dapat memberikan bantuan tehnis didalam bidang2 ekonomi dan moneter kita. Pada saat ini misalnja ada beberapa team IMF dan IBRD jang membantu achli2 ekonomi Indonesia untuk membuat persiapan2 buat Paris Meeting jang akan diadakan bulan Desember j.a.d, sebagai landjutan Tokyo Meeting dan djuga untuk mentjari djalan keluar guna memetjahkan kesulitan2 ekonomi dan keuangan kita;
3. Dengan quota kita sebanjak 207 djuta dollar, Indonesia dapat membeli valuta asing dari IMF sampai plafond itu dengan mata uang rupiah menurut kurs jang ditentukan bersama oleh IMF dan Indonesia;
4. Didalam IMF terdapat IDA (International Development Agency) jang dapat memberikan soft credit jang ringan sjarat2nja buat pembangunan dan IFC (International Financing Coorperation) jang sanggup memberikan kredit pada fihak swasta dari negara2 jang mendjadi anggota IMF dan IBRD;
5. Keanggotaan ADB menundjukkan kesediaan kita untuk mendjalankan regional
cooperation atau kerdja sama dengan negara2 di daerah Asia dalam bidang ekonomi dan keuangan.
Selandjutnja dikemukakan oleh Pemerintah bahwa pada saat sekarang ini, Pemerintah sedang melaksanakan prinsip single management mengenai devisa, jaitu semua devisa harus diurus oleh BNI. Seperti djuga semua keuangan harus diurus oleh Departemen Keuangan dan persoalan perdagangan semuanja harus diurus oleh Departemen Perdagangan.
Bank Sentral hanjalah satu Lembaga jang tidak mempunjai hak policy making, lain daripada di waktu jang lampau, karena dulu Gubernur Bank Sentral adalah djuga seorang Menteri. Sekarang tidak demikian halnja.
Didalam pemeriksaan persiapan jang terachir, jaitu dalam rapat kerdja Komisi D dengan Pemerintah pada hari Senin tanggal 31 Oktober 1966 pagi, oleh fihak Pemerintah telah disampaikan pengganti RUU jang telah ditarik kembali, jaitu :
1. RUU Tentang Keanggotaan kembali Republik Indonesia dalam Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (IBRD);
2. RUU Tentang Keanggotaan Republik Indonesia dalam Bank Pembangunan Asia (ADB).
Didalam rapat kerdja jang terachir ini ternjata telah dimadjukan usul2 perobahan lagi, baik usul perobahan dari fihak Pemerintah sendiri maupun dari fihak DPR GR sbb :
a. Mengenai RUU tentang Keanggotaan RI dalam Bank Pembangunan Asia, oleh Pemerintah diusulkan untuk merobah Diktum Pasal 1, ialah menghilangkan anak kalimat terachir jang berbunji : “jang Anggaran dasarnja (Agreement Establishing The Asian Development Bank) dilampirkan pada Undang2 ini”.
Dengan demikian Pasal 1 akan berbunji : Pasal 1
“Menjetudjui keanggotaan Republik Indonesia dalam Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank)”
Alasan jang dikemukakan oleh Pemerintah ialah, bahwa rapat ADB jang pertama nanti baru akan diadakan pada tanggal 24 November 1966, dimana kemungkinan akan ada perobahan2 terdjadi mengenai Anggaran Dasarnja. Oleh karena itu, sebaiknjalah dihilangkan sadja anak kalimat jang dimaksudkan itu.
Usul ini disetudjui oleh rapat setjara bulat.
b. Mengenai kedua RUU telah diadjukan sebuah usul amandemen oleh sementara anggota Komisi D, jang maksudnja ialah untuk mengganti perkataan2 “Peraturan Pemerintah” jang tertjantum dalam Pasal 3 dari kedua RUU itu dengan perkataan
“Undang2”. Mengenai usul amandemen ini kemudian timbul usul lain sebagai perkawinan, jaitu untuk mengganti perkataan “Peraturan Pemerintah” itu dengan kata2 “Peraturan Perundangan Republik Indonesia”, usul mana achirnja disetudjui setjara bulat, baik oleh anggota Komisi maupun oleh Pemerintah.
c. Mengenai Konsideran kedua RUU, telah timbul usul jaitu dalam “Menimbang sub A” supaja ditambah kata2 “Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966”, dengan alasan bahwa disamping Ketetapan MPRS No. XXIII, Ketetapan MPRS No. XII ada djuga hubungannja dengan politik luar negeri kita jang bebas dan aktif.
Usul ini disetudjui oleh rapat setjara bulat.
IV. PENUTUP
Sebagai penutup dapat diutarakan disini bahwa walaupun waktunja sangat sempit, pemeriksaan2 persiapan, baik dalam rapat Gabungan Komisi maupun dalam Komisi D telah dilakukan dengan tjukup serius dan berkat maupun suasana saling pengertian dan saling menerima dan memberi sebagai tjiri chas bangsa Indonesia, maka achirnja dapat ditjapai persesuaian faham dan ketiga RUU, jang 2 (dua) diantaranja disusun setjara baru oleh Pemerintah, kini telah siap untuk mendapatkan kata achir dan persetudjuannja dari sidang