DAFTAR PUSTAKA
II. Bidang Pekerjaan : Penebangan
1. Teknik dan Prosedur Penebangan Sesuai SOP:
Pembersihan areal sekitar tunggak dari berbagai penghalang sebelum melakukan penebangan. (ILO 2002, point 409)
Pembersihan reruntuhan yang ada di sekitar pangkal pohon yang mungkin dapat mengganggu keselamatan. (Permenaker No.1/1978 pasal 4)
Pemilihan dan pembuatan jalan yang aman untuk menyelamatkan diri. (Permenaker No.1/1978 pasal 4)
Pembuatan takik rebah dan takik balas dengan benar. Potongan bawah
(takik rebah) dilakukan dengan satu taktikan yang aman, sedalam 1/3 diameter pohon. Membuat potongan datar dari belakang takik rebah setinggi 1/3 inchi dari potongan datar takik rebah. Penahanan kayu harus dilakukan secara berhati-hati sehingga kayu hanya jatuh ke arah yang dikehendaki. (Permenaker No.1/1978 pasal 4)
2. Penentuan Arah Rebah:
Sebelum menebang pohon pekerja harus memeriksa dengan teliti untuk menentukan dari bagian manakah pemotongan harus dilakukan dari sisi yang aman (Permenaker No.1/1978 pasal 4). Hal ini termasuk mempertimbangkan kemiringan pohon, arah kecenderungan tajuk pohon, topografi/jika berlereng diarahkan ke puncak lereng, arah angin, dan arah penyaradan.
3. Zona (batas/jarak) Aman Penebangan:
Areal penebangan harus dibagi ke dalam zona-zona yang harus jelas dialokasikan bagi pekerja yang ikut dalam operasi, sehingga tidak boleh ada orang yang mendekat kepada penebang lebih dekat dari dua kali panjang pohon yang akan ditebang. Pengecualian penebang mengetahui bahwa hal tersebut aman dan orang yang mendekati penebang bermaksud untuk membantu dalam mengatasi kesulitan penebangan. (ILO 2002, point 377-378)
4. Cara Penebangan Pada Berbagai Kondisi Pohon:
Perlakuan khusus disyaratkan saat bekerja di lereng. Jika kemiringan
lereng terjal, pekerja tidak boleh berada di bawah dari yang lain. (ILO 2002, point 379)
Pada lereng curam, operasi penebangan hanya dilakukan dengan cara berdiri yang aman dan dapat dipertahankan. (ILO 2002, point 403)
5. Waktu/Kondisi Yang Baik Untuk Penebangan:
Penebangan pohon tidak boleh dilakukan apabila angin bertiup yang dapat merubah arah penebangan yang dikehendaki. (Permenaker No.1/1978 pasal 4)
Operasi penebangan harus dilakukan pada siang hari. (ILO 2002, point 402)
6. Pembagian Batang:
Para pekerja tidak boleh bekerja pada arah jatuhnya batang kayu yang sedang dipotong kecuali jika tidak bisa dihindarkan, dalam hal ini batang kayu harus dihindari atau diamankan untuk mencegah kayu tersebut menggelinding. (ILO 2002, point 429)
Jika nampaknya bilah gergaji akan macet sebelum pemotongan selesai, takik yang telah terpotong harus dibiarkan terbuka dengan menggunakan baji. (ILO 2002, point 431)
Batang kayu yang dibawah tegangan harus dipotong dengan membuat potongan pertama pada zona tekanan/kompresi. (ILO 2002, point 432)
Pemotongan harus dibuat dari sisi manapun dimana batang tidak akan
memantul ke arah operator saat batang kayu terpisah. (ILO 2002, point 433)
7. Kebutuhan Alat Kerja Sesuai Volume Pohon:
Kapak tidak boleh digunakan untuk penebangan pohon berdiameter lebih dari 10 cm karena arah jatuhnya sulit dikontrol dan beban kerja yang dihasilkan lebih tinggi dibanding jika penebangan dengan menggunakan gergaji rantai. (ILO 2002, point 381)
8. Peralatan Pendukung Penebangan (ILO 2002, point 382):
Batang pengungkit/pengungkit
Palu besar (godam) atau palu pemecah
Kait pembalik atau tali pengikat
Kapak (untuk membersihkan dan memotong cabang)
9. Pemeliharaan/Perawatan Alat Penebangan (ILO 2002, point 393-395):
Gergaji rantai harus selalu dijaga dalam kondisi bersih dan tingkat kerja yang efektif (termasuk perawatan motor, rantai, dan bilah gergaji)
Karburator harus diatur sehingga rantainya tidak bergerak saat mesin
diistirahatkan.
Fungsi dari rem rantai harus diuji secara rutin
10. Jenis APD Penebangan (Pemenaker No.8/2010 pasal 3):
Pelindung kepala (dalam hal ini dapat berupa helm kerja/ILO 2002)
Pelindung mata (dalam hal ini berupa kacamata keselamatan atau googles/ILO 2002)
Pelindung pernapasan (dalam hal ini berupa masker/ILO 2002) Pelindung telinga (dalam hal ini berupa earmuff/ILO 2002)
Pelindung tangan (dalam hal ini berupa sarung tangan/ILO 2002)
Pelindung kaki (dalam hal ini berupa sepatu boot karena memiliki daya
cengkraman yang baik dan penutup bagian kaki yang aman/ILO 2002, point 651.b)
Pelindung tubuh (dalam hal ini berupa pakaian kerja yang terpasang tertutup menyelimuti tubuh dan kaki/ILO 2002
11. Pengoperasian Alat:
Untuk mengurangi resiko kesehatan yang timbul akibat pengoperasian gergaji rantai (getaran, kebisingan, gas buangan) operator sebaiknya tidak bekerja lebih dari 5 jam per hari. (ILO 2002, point 390)
Saat menyalakan gergaji rantai harus diletakkan di tanah dan jaga jarak aman dari orang lain. (ILO 2002, point 396)
Gergaji rantai harus selalu dimatikan atau gunakan rem rantai waktu dipindahkan. (ILO 2002, point 399)
12. Kick Back (Pembalikan):
Memotong dengan ujung gergaji harus dihindarkan karena hal ini dapat
menyebabkan pembalikan/kick back yang sangat sulit dikendalikan dan berbahaya. (ILO 2002, point 397)
Gergaji rantai tidak boleh dioperasikan di atas bahu karena resiko kick
back dan akibat putaran balik dari bilah gergaji. (ILO 2002, point 398)
III. Bidang Pekerjaan : Penyaradan 1. Penentuan Sistem Penyaradan:
Kondisi lokal yang spesifik memerlukan metode penyaradan yang berbeda dengan mempertimbangkan topografi (dapat dilakukan peluncuran jika topografi miring), struktur dan jenis tanah, metode pemanenan/sistem kayu panjang, kayu pendek, atau pohon utuh (ILO 2002, point 457). Hal ini termasuk memerhatikan jarak jalan sarad/jika sekitar 50 m dapat dilakukan dengan cara manual (dipikul) dan < 200 m dapat digunakan tenaga hewan (ditarik).
2. Perencanaan Jalan Sarad:
Jaringan jalan sarad yang sesuai dengan metode penyaradan dan arah penyaradan harus direncanakan sebelum operasi dilakukan. (ILO 2002, point 459)
Untuk penyaradan secara manual, jarak harus dijaga sependek mungkin dengan menggunakan suatu arah rebah yang tepat dan jaringan jalan sarad yang cukup dekat. (ILO 2002, point 463)
Tumbuhan bawah pada jalan sarad harus dipotong serendah mungkin terhadap permukaan tanah sepanjang dapat dipraktekan dan rintangan harus dipindahkan dengan hati-hati. (ILO 2002, point 485)
Penyaradan harus disesuaikan dengan penebangan sedapat mungkin dan dimulai dari titik terjauh rute penyaradan untuk menghindari penyaradan terlalu banyak di atas cabang, batang-batang tajuk, dan limbah pemanenan lainnya. (ILO 2002, point 486)
3. Cara Penyaradan Sesuai Kondisi Areal Kerja:
Untuk penyaradan secara manual berat beban harus dikurangi seringan mungkin sesuai sortimen/ukuran kayu yang dibutuhkan. (ILO 2002, point 464)
Pada penyaradan manual, pengangkutan kayu dari bawah sikap tubuh harus tegak dengan lutut berada dalam keadaan menekuk dan pekerjaan mengangkat dilakukan dengan kekuatan tumpuan pada kaki bukan pada punggung. (Permenaker No.1/1978 pasal 10)
Untuk penyaradan dengan binatang penghela hanya dapat digunakan untuk binatang dengan kekuatan dan daya tahan yang cukup untuk mengatasi ketegangan pekerjaan penyaradan (ILO 2002, point 483) dan orang yang memandu binatang harus selalu berjalan di samping binatang atau di belakang beban apabila tali pengikat yang digunakan panjang. (ILO 2002, point 490)
4. Cara Memperkecil Kerusakan Tanah Akibat Penyaradan:
Gangguan terhadap tanah dan kerusakan pada tegakan tinggal harus diperkecil sepanjang dapat dilakukan dengan menggunakan metode penyaradan yang sesuai (ILO 2002, point 458).
Pada umumnya batang kayu harus disiapkan sebelum operasi penyaradan dengan memotongnya dalam spesifikasi yang ditentukan, untuk mengendalikan berat beban dan memperkecil kerusakan pada tegakan tinggal. (ILO 2002, point 460)
5. Waktu/Kondisi Untuk Penyaradan:
Untuk alasan keselamatan dan pertimbangan lingkungan, operasi
penyaradan harus ditunda selama cuaca buruk (ILO 2002, point 462). Hal ini termasuk hujan deras, angin kencang, dan saat panas terik.
Harus dibuat ketetapan untuk waktu istirahat yang cukup dengan interval
waktu tertentu. (ILO 2002, point 465) 6. Alat Bantu Penyaradan Manual:
Penyaradan kayu secara manual tidak boleh dilakukan tanpa penggunaan
perkakas bantu seperti kait, penjepit, atau sapi-sapi. (ILO 2002, point 466)
Sulky atau peralatan serupa harus digunakan untuk memperkecil beban kerja dalam penyaradan manual. (ILO 2002, point 468)
7. Jenis APD Penyaradan:
Pelindung kepala (dalam hal ini dapat berupa topi pengaman atau helm kerja/ILO 2002)
Pelindung tangan (dalam hal ini berupa sarung tangan/ILO 2002)
Pelindung kaki (dalam hal ini berupa sepatu boot karena memiliki daya cengkraman yang baik dan penutup bagian kaki yang aman/ILO 2002, point 651.b)
8. Ketentuan Menggunakan Peralatan Penyaradan:
Untuk penyaradan menggunakan hewan, tali kekang yang sesuai harus digunakan untuk menghindari luka-luka dan mengurangi ketegangan fisik pada binatang pada saat sedang menarik beban. (ILO 2002, point 487)
Untuk penyaradan secara manual sulky harus digunakan untuk mengurangi friksi antara beban dan landasan. (ILO 2002, point 488)
9. Cara Pemeliharaan/Perawatan Alat Penyaradan:
Penyaradan dengan menggunakan binatang harus selalu memberi makan, minum, dan istirahat yang cukup sesuai kebutuhan fisiknya (ILO 2002, point 483). Untuk mengurangi kerusakan pada sapi-sapi maupun sulky, maka penggunaan alat-alat tersebut harus digunakan sesuai dengan fungsinya.