• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data kuisioner, dan wawancara kepada, maka dapatlah terlihat akulturasi yang terjadi pada setiap jawaban siswa dalam bentuk dialog atau percakapan. Hal ini menunjukkan bahwa akulturasi bahasa Makassar ke dalam bahasa Indonesia cukup tinggi pengaruhnya. Oleh karena itu masalah akulturasi perlu mendapatkan perhatian khusus agar bahasa Indonesia dapat berkembang dengan baik.

Akulturasi bahasa Makassar telah terjadi baik secara tulisan maupun lisan terhadap bahasa Indonesia yang dilakukan dwibahasaan.Akulturasi ini terjadi karena seringnya pola struktur bahasa Makassar ditransfer ke dalam bahasa Indonesia.

Hasil penelitian akulturasi bahasa Makassar terhadap penggunaan bahasa Indonesia ini belum terungkap secara keseluruhan.Hal ini menunjukkan bahwa masih ada faktor-faktor penghambat atau faktor-faktor lainnya yang ada kaitannya dengan akulturasi bahasa. Untuk memperoleh data tentang faktor tersebut, tentu saja memerlukan penelitian lanjutan, akan tetapi penulis memunyai keterbatasan waktu, kesempatan, tenaga, dan dana, maka penulis hanya dapat menyajikan sebagian dari banyaknya akulturasi berbahasa.

60 A. Simpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan mengenai Analisis Pemerolehan Bahasa dan Kaitannya dengan Akulturasi Bahasa pada Guru SMPN 3 Mangarabombang dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Hasil penelitian yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa proses Pemerolehan Bahasa dan Kaitannya dengan Akulturasi Bahasa pada Guru SMPN 3 Mangarabombang adalah banyaknya guru yang menggunakan bahasa pertama (B1) atau bahasa ibu di sekolah maka dari itu terjadilah akulturasi yang diakibatkan oleh masuknya unsur bahasa Makassar ke dalam bahasa Indonesia, secara lisan kemudian direfleksikan ke dalam bahasa tertulis, hal ini menyebabkan terjadinya penyimpangan kaidah-kaidah dalam penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan, akan tetapi pada penelitian ini kata-kata yang mengalami akulturasi tidak terjadi perubahan makna

Akulturasi terjadi akibat dari penutur bahasa yang dwibahasawan (B1dan B2) dengan penerima bahasa yang hanya memiliki satu bahasa (B1). penutur bahasa dan penerima bahasa melakukan kontak bahasa yang menimbulkan akulturasi bahas karena beberapa faktor.

Terjadinya akulturasi dikarenakan adanya pengaruh morfologi dan fonologi unsur bahasa Makassar yang masuk ke dalam unsur bahasa Indonesia.

Kalau merujuk kepada kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, hal seperti

ini sangatlah tidak dibenarkan karena telah menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia itu sendiri.

Akulturasi yang terjadi pada lingkungan sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas terdapat beberapa penyimpangan kaidah-kaidah bahasa, penyimpanan kaidah-kaidah bahasa tersebut antara lain: Awalan ter- yang diganti dengan tak/ta?-, awalan na- sebagai pengganti orang ketiga, akhiran –mi biasanya mengikuti kata sifat yang artinya sudah, akhiran –pi pengganti kata nanti, akhiran –pa pengganti orang pertama tunggal, akhiran –ji sebagai penjelas kata yang diikutinya, akhiran –ko pengganti orang kedua biasanya digunakan kepada orang yang lebih muda, akhiran –na pengganti orang ketiga yang artinya sama dengan nya, akhiran –na pengganti orang ketiga, perubahan bunyi /h/, /k/, dan /t/ pada akhir kata dasar serta perubahan bunyi bahasa /n/ menjadi /ng/ dan /m/ menjadi /ng/.

Guru SMPN 3 Mangarabombang masih dominan menggunakan bahasa Makassar sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) dibandingkan menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa kedua (B2).

B. Saran

Berdasarkan hasil yang telah dicapai maka disarankan:

Bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya pada saat PPL atau P2K pada proses pembelajaran siswa sebaiknya lebih sering berkomunikasi agar bahasa Ibu yang melekat pada siswa tersebut tidak terbawa pada saat menggunakan bahasa kedua yaitu bahasa Indonesia.

Bagi seseorang yang bilingual atau dwibahasawan sebaiknya kedua bahasa yang kita miliki harus diketahui unsur-unsur bahasanya agar, pada saat menggunakan bahasa tersebut tidak salah dalam penempatan kaidah bahasanya, sehingga dalam penggunaan bahasa kedua atau bahasa Indonesia tidak lagi terjadi akulturasi.

Sudah sepatutnya uraian dalam tulisan ini tidak hanya sekadar kritik ilmiah bagi penulis dan pembaca, tetapi dapat memberikan hikmah dan dapat dijadikan pelajaran berharga menyikapi permasalahan dalam berbahasa.

Kiranya dalam penelitian ini merupakan motivasi bagi pembaca untuk menyadari bahwa banhyak faktor yang dapat memengaruhi kita dalam berbahasa.

Jika perlu ada baiknya kalangan mahasiswa Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia lebih memberdayakan bahasa Indonesia baik di lingkungan keluarga, masyarakat, serta lingkungan sosial lainnya seperti di sekolah- sekolah tempat kita berbagi ilmu.

Arisnawati, Nurlina. 2013. Sawerigading. Kategori Campur Kode Humor Cekakak Cekikik. (V 19), (No. 2). 227-235.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta

Chaer, Abdul. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : Rineka Cipta.

Chaer , Abdul dan Leoni Agustina. 2004. Sosiolinguistik. Jakarta : Rineka Cipta

Etik Tulianti. 2010. Alih Kode dan Campur Kode dalam Cerbung Dolanan Geni.

Skripsi. Tidak diterbitkan. Surakarta : Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret.

Fitria.2014.Interferensi Kesalahan Bahasa Makassar Kedalam Bahasa Indonesia Pada Proses Belajar Kelas X SMKT Gowa.Makassar.UNISMUH.

Http://id.Wikipedia.org/wiki/sosiolinguistik. ( 1 Mei 2015).

Http://Wikipedia.com/bilingualime. (2Mei 2015).

Hambali. 2001. Pengantar Sosiolinguistik. Makassar : UNISMUH.

Mali, Ramlah. 2010. Analisis Campur Kode dalam Ceramah Ustas Nur Maulana.

Skripsi : Unismuh Makassar.

Rahman, Has’ad. 2013. Alih Kode dan Campur Kode. http// Wikipedia.com/Alih Kode Campur Kode. (2 Mei 2015).

Salim Umar, Abdu. 2012. Analisis Alih Kode dan Campu Kode Bahasa Indonesia pada Iklan Trans 7.

Setyaningsih, Nina. 2008. Alih Kode dan Campur Kode (Online), (http://www.

Slideshare. Net / Ninazski/ Paper-sosling-nina. ( 7 Mei 2015).

Simamora, Jon. 2010. Campur Kode Bahasa Indonesia Bahasa Bajo Masyarakat Desa Kokoe Kecamatan Talagaraya Kabupaten Buton. Skripsi : Unismuh Makasaar.

Rini, lahir pada tanggal 10 Oktober 1991 di Batulanteang Desa Pattopakang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Merupakan buah kasih sayang dari Ayahanda Tada dan Ibunda Tima sebagai anak keempat dari empat bersaudara.

Pada tahun 1998, penulis memasuki jenjang pendidikan formal di SD Impres Cikoang dan berhasil menyelesaikan pada tahun 2004, kemudian pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan lanjutan tingkat pertama di SMP Negeri 3 Mangarabombang dan selesai pada tahun 2007, kemudian melanjutkan di tingkat lanjutan atas di SMAN 1 Mangarabombang dan selesai pada tahun 2010.

Setelah menempuh pendidikan tingkat menengah atas, pada tahun 2011 penulis berhasil melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Berkat rahmat Allah swt yang disertai iringan doa kedua orang tua dan saudara. Perjuangan panjang penulis yang penuh suka dan duka di dalam mengikuti pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Pemeroehan Bahasa dan Kaitannya dengan Akulturasi Bahasa pada Guru SMPN 3 Mangarabombang”

Dokumen terkait