A. Kajian Teoritik
1. Bimbingan dan Konseling Islam
a. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islam
Secara etimologis kata bimbingan merupakan terjemahan dari
bahasa inggris “guidance”. Kata “guidance” adalah kata dalam
bentuk mashdar (kata benda) yang berasal dari kata kerja “to guide”
yang artinya menunjukkan, membimbing, atau menuntun orang lain
ke jalan yang benar. Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum
dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan kepada orang
lain yang membutuhkan.
23Menurut Dra. Hallen A, mengartikan bimbingan adalah
proses pemberian bantuan secara terus-menerus dari seseorang
pembimbing, yang dipersiapkan kepada individu yang
membutuhkannya dalam rangka mengembangkan potensi yang
dimilikinya secara optimal dengan menggunakan berbagai macam
teknik bimbingan.
Bimbingan juga dapat membantu individu untuk memahami
dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, dan dapat
menyelesaikan dirinya dengan kehidupan.
24Didalam bimbingan
terdapat beberapa unsur, antara lain :
1) Bimbingan merupakan suatu proses. Kata proses menunjukkan
pada aktivitas yang secara terus-menerus; berencana, bertahap,
dan teratur atau sistematis.
2) Bimbingan mengandung makna bantuan atau pelayanan. Ini
mengandung pengertian bahwa bimbingan mengakui adanya
potensi pada setiap individu.
3) Bantuan bimbingan diperuntukkan bagi semua individu agar
dapat berkembang secara optimal dan juga dapat berkembang
sebagai pribadi yang utuh, tangguh dan kuat secara realistis.
4) Dalam melakukan layanan bimbingan harus menggunakan
teknik atau metode pendekatan yang sesuai dengan karakteristik
atau ciri khas individu yang bersifat unik. Pemilihan teknik atau
pendekatan harus disesuaikan dengan karakteristik individu
yang dibimbing.
25Menurut Mochmamad Nursalim bimbingan adalah suatu
pemberian bantuan kepada individu agar dapat memenuhi kebutuhan
seperti kebutuhan menyesuaikan diri dengan lingkungan,
mengaktualisasikan diri, berpretasi, dan lain-lain. Agar individu
mampu memenuhi kebutuhannya, diperlukan memiliki pengertahuan
24 Prayitno, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hal. 93.
dan keterampilan yang relevan.
26Dengan adanya pemberian layanan
bimbingan, mereka lebih produktif, dapat menikmati kesejahteraan
hidupnya, dan dapat memberi sumbangan yang berarti pada lembaga
tempat mereka bekerja kelak, serta masyarakat pada umumnya.
Pemberian bimbingan juga membantu mereka dalam mencapai
tugas-tugas perkembangan secara optimal.
27Pengertian konseling berasal dari kata “counseling” adalah
kata dalam bentuk mashdar dari “to counsel” secara etimologis
berarti “to give advice” atau memberikan saran atau nasihat.
Konseling juga memiliki arti memberikan nasihat; atau memberi
anjuran kepada orang lain secara tatap muka (face to face). Jadi,
counseling berarti pemberian nasihat atau penasihatan kepada orang
lain secara individual yang dilakukan dengan tatap muka (face to
face).
28Milton E. Hahn mengatakan bahwa konseling adalah suatu
proses yang terjadi dalam hubungan antara seorang individu yang
mengalami masalah yang tak dapat diatasinya, dengan seorang
petugas profesional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman
untuk membantu klien agar dapat memecahkan kesulitannya.
2926 Mochamad Nursalin, Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Erlangga, PT. Gelora Aksara Pratama, 2015), hal. 18.
27 Achmad Juntika Nurihsan, Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), hal. 8.
28 Samsul Munir, Bimbingan Dan Konseling Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hal. 10. 29 Sofyan S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 18.
ASCA (American School Counselor Association)
mengemukakan bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang
bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian
kesempatan dari konselor kepada klien, konselor menggunakan
pengetahuan dan keterampilannya untuk dapat membantu kliennya
dalam mengatasi masalah-masalahnya.
30Sedangkan Bimbingan dan Konseling Islam adalah suatu
proses pemberian bantuan yang terarah, kontinu dan sistematis
kepada setiap individu agar ia dapat mengembangkan potensi atau
fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara
menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an
dan Hadist Rasulallah ke dalam dirinya, sehingga ia dapat hidup
selaras dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist.
31Dari beberapa pendapat maka dapat disimpulkan Bimbingan
dan Konseling Islam adalah suatu proses pemberian bantuan kepada
individu dengan cara face to face antara seorang konselor dengan
klien agar dapat mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan seperti
mengaktualisasikan diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan
sesuai dengan tuntunan dalam Al-Qur’an dan Hadist.
b. Tujuan Bimbingan dan Konseling Islam
Bimbingan berarti memberikan bantuan kepada seseorang
ataupun kepada sekelompok orang dalam menentukan berbagai
30 Syamsu Yusuf, Landasan Bimbingan dan Konseling, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 8.
pilihan secara bijaksana dan dalam menentukan penyesuaian diri
terhadap tuntunan-tuntunan hidup. Secara umum dan luas, program
bimbingan dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut :
1) Membantu individu dalam mencapai kebahagiaan hidup pribadi.
2) Membantu individu dalam mencapai kehidupan yang efektif dan
produktif dalam masyarakat.
3) Membantu individu dalam mencapai hidup bersama dengan
individu-individu yang lain.
4) Membantu individu dalam mencapai harmoni antara cita-cita
dan kemampuan yang dimilikinya.
Adapun secara lebih khusus, program bimbingan
dilaksanakan dengan tujuan agar anak bimbing dapat melaksanakan
hal-hal sebagai berikut :
1) Memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam
kemajuan dirinya.
2) Memperkembangkan pengetahuan tentang dunia kerja,
kesempatan kerja, serta rasa tanggung jawab dalam memilih
suatu kesempatan kerja tertentu.
3) Memperkembangkan kemampuan untuk memilih,
mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi
pada kesempatan yang ada secara tanggung jawab.
4) Mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri
orang lain.
32c. Fungsi Bimbingan dan Konseling Islam
Adapun fungsi-fungsi bimbingan dan konseling islam adalah
sebagai berikut :
1) Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh
pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan
konseli.
2) Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang
akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya konseli dari
berbagai permasalahan yang akan mungkin timbul serta yang
dapat menganggu, menghambat, ataupun menimbulkan
kesulitan, kerugian-kerugian tertentu dalam proses
perkembangannya.
3) Fungsi pengetesan, yaitu sebagai pengobatan atau
penyembuhan. Melalui fungsi pengetesan ini pelayanan
bimbingan dan konseling akan menuntaskan atau mengatasi
berbagai macam permasalahan yang dialami oleh konseli.
Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha membantu konseli
dalam memecahkan masalah yang dihadapi baik dalam sifatnya,
jenisnya, maupun bentuknya.
4) Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yaitu bimbingan dan
konseling yang akan menghasilkan pemeliharaannya dan
berkembangnya beberapa potensi dan kondisi positif konseli.
33d. Asas-asas Bimbingan dan Konseling Islam
Asas-asas Bimbingan dan Konseling menurut Prayitno dalam
Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling adalah :
1) Asas Kerahasiaan
Yang mana seorang konselor harus menjaga kepercayaan
dari konseli yaitu Segala sesuatu yang dibicarakan konseli
kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain.
Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha
bimbingan dan konseling. Jika asas ini benar-benar
dilaksanakan, maka pemberi bimbingan akan mendapat
kepercayaan dari semua pihak, terutama konseli sehingga
mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling
sebaik baiknya. Sebaliknya, jika konselor tidak dapat memegang
asas kerahasiaan dengan baik, maka hilanglah kepercayaan dari
konseli, sehingga akibatnya pelayanan bimbingan tidak dapat
tempat di hati klien dan para calon konseli, mereka takut untuk
meminta bantuan, sebab khawatir masalah dari mereka akan
menjadi bahan gunjingan.
2) Asas Kesukarelaan
Proses Bimbingan dan Konseling harus berlangsung atas
dasar kesukarelaan, baik dari pihak si konseli, maupun dari
pihak konselor. Konseli diharapkan secara suka, rela dan dengan
tidak terpaksa untuk menyampaikan masalah yang dihadapinya,
dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan
tidak terpaksa dalam artian ikhlas untuk membantu klonseli.
3) Asas Keterbukaan
Dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling sangat
diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor
maupun keterbukaan dari konseli. Keterbukaan ini bukan hanya
sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar, akan tetapi
bersedia membuka diri untuk kepentingan memecahkan
masalah. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan
dapat berbicara dengan jujur (terus terang) sehingga dengan
keterbukaan ini proses bimbingan dan konseling dapat
dilaksanakan.
4) Asas Kemandirian
Pelayanan Bimbingan dan Konseling bertujuan
menjadikan terbimbing dapat berdiri sendiri, tidak tergantung
pada orang lain atau tergantung pada konselor. Individu yang
dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan
ciri-ciri pokok mampu :
a) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya.
b) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan
dinamis.
c) Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri.
d) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan; dan
e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi,
minat dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.
5) Asas Kegiatan
Dalam proses bimbingan dan konseling, konseli tidak
melakukan dengan sendiri akan tetapi seorang konselor harus
membangkitkan semangat klien sehingga ia mau dan giat untuk
melaksanakan kegiatan proses yang diperlukan dalam
penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam
konseling.
34e. Langkah-langkah Bimbingan dan Konseling Islam
1) Identifikasi masalah
Dari langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui
masalah beserta gejala-gejala yang nampak. Serta mencatat
masalah yang perlu mendapatkan bimbingan dan mendapatkan
bantuan yang lebih awal.
Berdasarkan pengumpulan data yang diperoleh konselor
dari hasil observasi dan wawancara langsung terhadap orang
34 Prayitno, Dasar- dasar Bimbingan dan Konseling, ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2004), hal. 114.